Amanda mirella
Aku tersentak saat mendengar pintu kamarku yang digedor keras.
Konsentrasiku dalam menulis artikel pun buyar.
Dengan kesal kubuka pintu kamar. Tampak wajah polos Amanda menatapku sambil tersenyum.
�Gue gak bolot!!! Ganggu orang kerja aja sih!� dampratku.
�Aa�ada telepon buat Mirell. Manda panggil-panggil daritadi Mirell gak nyahut sih,
� ujar Amanda tanpa menggubris omelanku.
Aku hanya bisa gigit jari, percuma marah-marah.
Kutinggalkan Amanda yang masih melongo di depan pintu kamarku.
Namanya Marissa Amanda, usianya bulan ini genap dua puluh tahun.
Dua tahun lebih tua dariku. Tapi kelakuannya lebih mirip bocah lima tahun.
Amanda memang bukan gadis sempurna. Ia mengalami keterbelakangan mental.
Namun keluargaku sangat menyayanginya kecuali aku, adiknya sendiri.
Waktu kecil aku satu sekolah dengan Amanda. Dua tahun berturut-turut Amanda tidak naik kelas.
Ia tetap setia menjadi penghuni kelas I SD. Waktu itu kami belum menyadari kalau Amanda cacat mental.
Teman-temanku malah mengira Amanda anak yang bodoh. Tak jarang aku diejek karena memiliki kakak yang bodoh.
Setelah rajin mengunjungi psikolog barulah kedua orang tuaku sadar kalau putri sulungnya mengalami cacat mental.
Saat itu pula aku merasa dikutuk oleh Tuhan, karena memiliki kakak yang idiot. Perasaan itupun terus berlanjut hingga sekarang.
|
|