----- Original Message -----
From: budi asali
Sent: Thursday, September 27, 2007 2:26 PM
Subject: sakramen katolik
Saya baru membaca
buku anda berjudul 'Rahasia Pribadi Allah'. Dlm buku itu anda
menyalahkan beberapa point tentang ajaran Gereja Katolik. Yang ingin tanyakan adalah pendapat anda tentang Sakramen dalam
gereja Katolik.
Budi Asali.
Dear Bapak Budi Asali,
Terima kasih sudah
membaca buku saya.
Pak Budi, buku saya
ditulis dari sudut pandang Kristen, tentu saja kami hanya mengakui sakramen
Kristen yang juga diajarkan oleh para Rasul dan benar-benar tercatat (bukan
tersirat) di dalam Alkitab.
Jika Pak Budi tidak
setuju dengan isi buku saya, tidak apa-apa, anggap saja suatu wawasan baru dari
sudut pandang Kristen.
Saya tidak pernah memaksa pembaca saya untuk mengikuti
pengajaran Apostolik dan Alkitabiah yang saya paparkan di dalam buku tersebut.
Saya tidak menyampaikan pengajaran saya sendiri atau
denominasi Gereja sendiri. Saya cuma mengajak
pembaca merenungkan misalnya seperti berikut. Adakah
tertulis di dalam Alkitab kata "Tritunggal" atau "Trinitas"
satu kali saja? Pernahkah para Rasul mengajarkan bahwa
Allah mempunya 3 pribadi secara tersurat (harfiah, tercatat) bukannya tersirat?
Tahukah kita bahwa pencetus pengajaran "Tritunggal"
adalah seorang teolog bernama Tertullianus? Teolog ini
bukanlah Nabi atau Rasul yang adalah dasar gereja (Efesus 2:19-20). Pada zaman Yesus berjalan di dunia ini, bukankah justru para teolog
(Ahli Taurat, Farisi, Saduki, para Imam) yang menolak pengajaran-Nya dan bahkan
menyalibkan-Nya? Nama dari ketiga Pribadi Allah menurut pengajaran
Tritunggal adalah: Allah Bapa, Allah Anak (Putra), dan Allah Roh Kudus. Adakah satu kali saja kata-kata "Allah Anak" atau
"Allah Roh Kudus" di dalam Alkitab? Hanya
ada "Allah Bapa" di dalam Alkitab. Adakah
pengajaran "api penyucian" di dalam Alkitab? Para Rasul menghormati Ibu Maria tetapi tidak pernah mensejajarkannya
dengan Yesus Kristus atau pun menyembahnya melalui doa-doa khusus melaluinya
atau kepadanya.
Demikian tanggapan
saya, semoga bermanfaat.
Tuhan Yesus memberkati,
Tjantana Jusman.
Saya sudah menerima jawaban bapak tentang sakramen Katolik. Terima kasih atas jawabannya.
Saya ingin tanya lagi satu hal, kalau bapak tidak
keberatan. Dalam buku bapak, bapak berulang kali berbicara tentang penebusan
yang Yesus lakukan, misalnya dalam hal 3-4,7,31,99,111,103.
Juga pada bagian kata pengantar, hal xii. Dari seringnya bapak berbicara tentang penebusan yang Yesus lakukan
ini, kelihatannya bapak adalah orang yang menekankan Injil. Tetapi
sayang bapak tidak memberitahu, apa yang lalu harus
dilakukan oleh manusia untuk bisa selamat. Mungkin karena
tujuan bapak menulis buku tersebut bukan untuk hal ini, tetapi tentang siapakah
/ bagaimanakah Allah itu. Karena itu saya harap bapak
mau menjelaskan di sini. Kita selamat kalau percaya /
beriman kepada Yesus, bukan? Tetapi bagaimana caranya
percaya? Apakah iman itu sebenarnya?
Juga saya sering mendengar ajaran tentang Predestinasi. Katanya hanya yang dipilih /
ditentukan dalam rencana Allah saja yang bisa percaya. Apa benar demikian? Juga ada ajaran yang
mengatakan bahwa seseorang bisa percaya atau tidak, itu tergantung dirinya
sendiri mau percaya atau tidak. Jadi, tiap orang punya
free will / kehendak bebas. Lalu mana yang benar?
Predestinasi atau free will?
Thanks
atas jawaban bapak,
Budi
Asali.
Dear Bapak Budi Asali,
Terima kasih atas pertanyaan Pak Budi, saya tidak keberatan.
Betul, Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan tentu saja saya
menekankan Injil karena Injil (menurut Alkitab sendiri bukan kata saya) adalah
kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma
1:16).
Sebelum kita tahu bagaimana diselamatkan, ada baiknya kita tahu terlebih
dahulu, apa itu Injil? Injil adalah kabar baik (Gospel = the good news = kabar
baik) tentang Yesus yang mati, dikuburkan, dan dibangkitkan
(lihat 1 Korintus 15:3-4).
Nah, supaya tersedia keselamatan, ada 3
hal yang Yesus lakukan tadi (mati, dikuburkan, dan dibangkitkan).
Kita adalah orang-orang Kristen (Christian = Christ-like = seperti Kristus).
Tuhan Yesus lakukan 3 hal supaya ada
keselamatan, demikian juga ada 3 hal yang harus kita lakukan supaya
diselamatkan yaitu seperti yang tertulis di dalam Kisah Para Rasul 2:38 dan Roma 6:2-4:
Pak Budi, percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus memang suatu keharusan
jika ingin diselamatkan tetapi tidaklah
cukup hanya percaya (setan-setan pun percaya hanya ada satu Allah,
lihat Yakobus 2:19) tetapi harus
disertai perbuatan ketaatan, kita diselamatkan jika percaya dan
dibaptis (Markus 16:16) dan jika
ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah maka kita harus dilahirkan kembali dari air
(baptisan air) dan dari Roh (baptisan Roh Kudus): Yohanes 3: 3-5.
Tentang bagaimana diselamatkan selengkapnya, ada di dalam buku saya yang
berjudul “Tim Penyelamat Surgawi”
dan “Tips 1 Menit Masuk Surga”,
kedua-duanya diterbitkan oleh Bethlehem.
Perhatikan bahwa apa yang saya sampaikan sampai pada surat yang kedua ini,
saya selalu memakai ayat-ayat Alkitab. Pengajaran yang kita harus ikuti adalah
pengajaran yang diajarkan para Rasul (Apostolik) dan sesuai Alkitab
(Alkitabiah). Kenapa harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Rasul? Karena para Rasul adalah dasar
gereja (keluarga Allah) seperti tercantum di Efesus 2:19-20.
Demikian juga halnya dengan pengajaran predestinasi. Apakah para Rasul
mengajarkannya dan Alkitab mencatatnya? Kalau pun ada dikatakan oleh seorang
Rasul di dalam Alkitab, tetapi apakah penafsirannya sudah benar?
Perhatikan Efesus 1:4-5 di bawah
ini:
1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus
Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
Tahukah Pak Budi bahwa setiap kata ”kita”
atau ”kami” di dalam kitab Efesus menunjuk kepada orang-orang Yahudi
sedangkan kata ”kamu” ditujukan
kepada orang-orang bangsa lain (non-Yahudi atau Kafir)? Mengapa
dibicarakan kedua pihak ini? Karena tujuan kitab Efesus adalah sebagai berikut.
Efesus 2:14. Karena Dialah damai
sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua
pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.
Sebagai contoh: Efesus 2:8-10 dan Efesus
1:12-13
2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah,
2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
2:10 Karena kita
ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan
baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia
mau, supaya kita hidup di
dalamnya.
1:12 supaya kami, yang
sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi
kemuliaan-Nya.
1:13 Di dalam Dia kamu
juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil
keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan
Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
Dalam kaitannya dengan Efesus 1:4-5,
karena kata ”kita” berarti
orang-orang Yahudi, maka yang dipilih sebelum dunia dijadikan (dalam pikiran
dan rencana Allah) adalah orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa bukannya
setiap individu sudah dipilih seperti yang dipercayai oleh pengajaran
predestinasi. Jadi pengajaran ini merupakan salah tafsir ayat Alkitab.
Justru Alkitab mengatakan: ”...setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Dan juga jelas-jelas
kehendak bebas (free-will): ”...Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia
datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan
dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17).
Demikian tanggapan saya, semoga bermanfaat.
Tuhan Yesus memberkati,
Tjantana Jusman.
Kepada
Yth Bpk Tjantana Jusman
Terima kasih atas jawaban bapak yang bukan hanya cepat
tetapi juga cukup panjang lebar. Di
bawah ini saya mengembalikan email bapak yang terakhir, dengan saya beri
komentar / pertanyaan saya disela-selanya.
Mohon tanggapan bapak, dan terima kasih sebelumnya.
Budi
Asali.
Dear Bapak Budi Asali,
Terima kasih atas pertanyaan Pak Budi, saya tidak keberatan.
Betul, Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan tentu saja saya
menekankan Injil karena Injil (menurut Alkitab sendiri bukan kata saya) adalah
kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma
1:16).
Tanggapan Budi Asali:
Pada waktu anda mengatakan bahwa Yesus adalah satu2nya
Juruselamat, apakah bapak bermaksud untuk mengatakan bahwa orang-orang yang
tidak percaya kepada Yesus semuanya akan masuk neraka, tak peduli agama apapun
yang mereka anut dan bagaimana salehnya mereka hidup?
Sebelum kita tahu bagaimana diselamatkan, ada baiknya kita tahu terlebih
dahulu, apa itu Injil? Injil adalah kabar baik (Gospel = the good news = kabar
baik) tentang Yesus yang mati, dikuburkan, dan dibangkitkan
(lihat 1 Korintus 15:3-4).
Nah, supaya tersedia keselamatan, ada 3
hal yang Yesus lakukan tadi (mati, dikuburkan, dan dibangkitkan).
Tanggapan Budi Asali:
Bukankah ’dikuburkan’ bukanlah sesuatu yang Yesus
lakukan? Maksud bapak ’Yesus lakukan’ atau ’Yesus alami’?
Kita adalah orang-orang Kristen (Christian = Christ-like = seperti
Kristus). Tuhan Yesus lakukan 3 hal
supaya ada keselamatan, demikian juga ada 3 hal yang harus kita lakukan supaya
diselamatkan yaitu seperti yang tertulis di dalam Kisah Para Rasul 2:38 dan Roma 6:2-4:
1. Bertobat (mati bagi dosa).
2. Dibaptis di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus (dikuburkan
bersama-sama dengan Dia oleh baptisan).
3. Menerima Roh Kudus (dibangktkan bersama-sama dengan Dia).
Pak Budi, percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus memang suatu keharusan
jika ingin diselamatkan tetapi tidaklah
cukup hanya percaya (setan-setan pun percaya hanya ada satu Allah,
lihat Yakobus 2:19) tetapi harus
disertai perbuatan ketaatan, kita diselamatkan jika percaya dan
dibaptis (Markus 16:16) dan jika
ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah maka kita harus dilahirkan kembali dari air
(baptisan air) dan dari Roh (baptisan Roh Kudus): Yohanes 3: 3-5.
Tanggapan Budi Asali:
Setan percaya, tetapi percaya apa? Percaya bahwa hanya
ada satu Allah saja. Tentu saja itu berbeda dengan iman kepada Yesus sebagai Tuhan
dan Juruselamat / Penebus.
Jadi, bapak percaya bahwa kita diselamatkan bukan hanya
oleh iman, tetapi oleh iman dan perbuatan baik / baptisan? Dan kalau memang
demikian, maka:
1) Bagaimana dengan banyak ayat dalam Kitab Suci
yg menunjukkan secara jelas bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman, dan sama
sekali bukan oleh perbuatan baik? Contoh:
·
Kis 15:1-11 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke
Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak
disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat
diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan
membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan
Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu
pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan
soal itu. (3) Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar
Bdk.
ay 11b dengan Ro 11:5-6 - “(5)
Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih
karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih
karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka
kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.
·
Ro 3:24,27-28 - “(24) dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan
dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. ... (27) Jika
demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada!
Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami
yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan
hukum Taurat”.
·
Ro 9:30-32 - “(30) Jika
demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang
tidak mengejar kebenaran, telah memperoleh kebenaran, yaitu kebenaran karena
iman. (31) Tetapi: bahwa
·
Gal 2:16 - “Kamu
tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum
Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus
Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan
oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang
dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.
·
Gal 3:6-11 - “(6) Secara itu jugalah Abraham percaya
kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
(7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah
anak-anak Abraham. (8) Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa
Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah
terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan
diberkati.’ (9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang
diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. (10) Karena semua
orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada
tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang
tertulis dalam kitab hukum Taurat.’ (11) Dan bahwa tidak ada orang yang
dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena:
‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’”.
·
Ef 2:8-9 - “(8)
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu
bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil
pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
·
Fil 3:7-9 - “(7) Tetapi apa
yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
(8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan
Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku
telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh
Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena
mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada
Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.
·
Bahwa perbuatan baik tidak
mempunyai andil dalam keselamatan seseorang, juga bisa terlihat dari selamatnya
penjahat yang bertobat di atas kayu salib, padahal ia
hanya percaya kepada Kristus (pada akhir hidupnya) dan boleh dikatakan tidak
mempunyai perbuatan baik.
Luk 23:42-43
- ““(42) Lalu ia
berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’ (43)
Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau
akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
2) Apakah Penebusan yang Yesus lakukan bagi kita
di atas kayu salib itu masih kurang, sehingga perlu kita tambahi dengan
perbuatan baik kita sendiri?
Bdk. dengan kata2 ’Sudah
selesai’ di atas kayu salib.
3) Penjahat yang bertobat di kayu salib tidak
pernah dibaptis, tetapi Yesus menjamin keselamatannya.
4) Gereja / jemaat Galatia didirikan oleh Paulus
dg memberitakan kepada mereka bahwa mereka diselamatkan hanya oleh iman. Tetapi
lalu orang-orang Yahudi, mengajarkan kepada mereka bahwa mereka tidak mungkin
diselamatkan oleh iman saja, tetapi juga harus disunat, dan mentaati hukum
Taurat. Karena itu Paulus menuliskan surat Galatia itu untuk meluruskan jemaat
dari penyesatan itu. Itu sebabnya dalam seluruh surat Galatia sangat ditekankan
bahwa seseorang diselamatkan bukan karena menuruti hukum Taurat, tetapi hanya
karena iman. Ia bahkan mengecam Injil yang diberikan orang-orang itu sebagai Injil
yang lain / berbeda, dan mengecam mereka sebagai ’terkutuk’ (Gal 1:6-9).
Juga, kalau bapak menganggap bahwa kita diselamatkan
karena iman dan perbuatan baik, maka saya ingin tanya satu hal ini: apakah
bapak yakin kalau detik ini bapak mati, bapak PASTI masuk surga? Kalau bapak
yakin, berdasarkan apa? Bukankah bapak tidak tahu banyaknya perbuatan baik
maupun dosa yang bapak lakukan? Dan bukankah bapak juga tidak mungkin bisa tahu
apakah perbuatan baik yang bapak lakukan itu sudah mencapai standard yang Tuhan
tentukan? Kalau bapak tidak yakin, apa gunanya mengikuti agama / kepercayaan
yang tidak memberikan keyakinan masuk surga? Dan sebagai orang yang tahu Kitab
Suci, bapak pasti tahu bahwa neraka itu sangat mengerikan. Bagaimana bapak bisa
tidur kalau ada kemungkinan besok bapak akan mati dan masuk ke tempat
mengerikan itu?
Tentang bagaimana diselamatkan selengkapnya, ada di dalam buku saya yang
berjudul “Tim Penyelamat Surgawi”
dan “Tips 1 Menit Masuk Surga”,
kedua-duanya diterbitkan oleh Bethlehem.
Perhatikan bahwa apa yang saya sampaikan sampai pada surat yang kedua ini,
saya selalu memakai ayat-ayat Alkitab. Pengajaran yang kita harus ikuti adalah
pengajaran yang diajarkan para Rasul (Apostolik) dan sesuai Alkitab
(Alkitabiah). Kenapa harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Rasul? Karena para Rasul adalah dasar
gereja (keluarga Allah) seperti tercantum di Efesus 2:19-20.
Tanggapan Budi Asali:
Semua orang mengclaim
seperti itu, tetapi penafsirannya yang menentukan. Saksi Yehuwa sangat banyak
menggunakan Alkitab, tetapi penafsirannya begitu kacau, sehingga mereka harus dianggap
sebagai bidat / sekte. Bdk. 2Pet 3:15-16.
Demikian juga halnya dengan pengajaran predestinasi. Apakah para Rasul
mengajarkannya dan Alkitab mencatatnya? Kalau pun ada dikatakan oleh seorang
Rasul di dalam Alkitab, tetapi apakah penafsirannya sudah benar?
Perhatikan Efesus 1:4-5 di bawah
ini:
1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus
Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
Tahukah Pak Budi bahwa setiap kata ”kita”
atau ”kami” di dalam kitab Efesus menunjuk kepada orang-orang Yahudi
sedangkan kata ”kamu” ditujukan
kepada orang-orang bangsa lain (non-Yahudi atau Kafir)? Mengapa
dibicarakan kedua pihak ini? Karena tujuan kitab Efesus adalah sebagai berikut.
Efesus 2:14. Karena Dialah damai
sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua
pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.
Sebagai contoh: Efesus 2:8-10 dan Efesus
1:12-13
2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah,
2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
2:10 Karena kita
ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan
baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia
mau, supaya kita hidup di
dalamnya.
1:12 supaya kami, yang
sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi
kemuliaan-Nya.
1:13 Di dalam Dia kamu
juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil
keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan
Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
Dalam kaitannya dengan Efesus 1:4-5,
karena kata ”kita” berarti
orang-orang Yahudi, maka yang dipilih sebelum dunia dijadikan (dalam pikiran
dan rencana Allah) adalah orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa bukannya
setiap individu sudah dipilih seperti yang dipercayai oleh pengajaran
predestinasi. Jadi pengajaran ini merupakan salah tafsir ayat Alkitab.
Tanggapan Budi Asali:
Saya berpendapat bahwa pada waktu
mengatakan ’kami’ /’kita’ Paulus tidak menunjuk kepada orang-orang Yahudi yang
bukan Kristen, tetapi orang-orang Yahudi yang percaya. Jadi, ini tidak mungkin
menunjuk kepada pemilihan mereka sebagai bangsa.
Juga, bagaimana dengan text-text di bawah ini?
Kis 13:48
- “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah (KJV: the
Gentiles) dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang
ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.
Ro 8:29-30
- “Sebab semua orang yang dipilihNya dari ssemula, mereka juga ditentukanNya
dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia,
AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan
mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya.
Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan
mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.
2Tes
2:12-13 - “supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan
yang suka kejahatan. Akan tetapi
kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara,
yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk
diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu
percayai”.
Ro 9:6-29
- “(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkkin gagal.
Sebab tidak semua orang yang berasal dari
Justru Alkitab mengatakan: ”...setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Dan juga jelas-jelas
kehendak bebas (free-will): ”...Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia
datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan
dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17).
Tanggapan Budi Asali:
1) Ini tidak bertentangan dengan predestinasi.
Memang hanya yang percaya yang bisa selamat, tetapi hanya yang dipilih yang bisa
percaya (Kis 13:48).
2) Jadi bapak percaya pd free-will? Dalam email
yang lalu bapak mengatakan percaya pd sakramen. Padahal kedua istilah ini sama
sekali tidak pernah muncul dlm Alkitab! Tetapi bapak bisa mempercayainya. Lalu
mengapa bapak tidak mempercayai Allah Tritunggal, dan salah satu alasannya
adalah karena istilah ’Tritunggal’ tidak pernah muncul dalam Alkitab? Bukankah
ini sikap yang tidak konsisten?
Demikian tanggapan saya, semoga bermanfaat.
Tuhan Yesus memberkati,
Tjantana Jusman.
Kepada
Yth Bpk Tjantana Jusman
Terima kasih atas jawaban bapak yang bukan hanya cepat
tetapi juga cukup panjang lebar. Di
bawah ini saya mengembalikan email bapak yang terakhir, dengan saya beri
komentar / pertanyaan saya disela-selanya.
Mohon tanggapan bapak, dan terima kasih sebelumnya.
Budi
Asali.
Kepada
Yth. Bpk Budi Asali,
Terima kasih atas tanggapan Pak Budi yang juga cepat dan malahan
lebih panjang lebar. Kalau saja saya dapat menjawab dengan singkat, tentunya
saya juga maunya begitu. Setelah membaca tanggapan Anda seluruhnya, Pak Budi
sudah terlalu yakin akan pengajaran predestinasi dan tritunggal, tidak
mungkin Anda meninggalkannya lagi jika tidak merendahkan hati untuk menerima
pengajaran para Rasul (Apostolik) dan yang Alkitabiah (sesuai ayat Alkitab
secara harfiah), bukan pengajaran atau penafsiran saya sendiri lho. Dan juga,
Pak Budi sudah mendapatkan argumentasi saya di dalam buku saya, untuk apa
kita berdebat? Bukankah cuma menghabiskan waktu saja? Lebih baik, baca satu
kali lagi buku saya, kalau Anda tidak setuju tidak apa-apa, saya tidak memaksa,
kalau Pak Budi mau, silakan saja buku saya itu dibuang atau dibakar karena Anda
anggap bidat atau ajaran sesat (tetapi sayangnya justru Apostolik dan
Alkitabiah), selanjutnya Anda dan saya nanti yang bertanggung jawab di hadapan
Tuhan Yesus, cukup adil bukan?
Betul, Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan tentu saja saya
menekankan Injil karena Injil (menurut Alkitab sendiri bukan kata saya) adalah
kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma
1:16).
Tanggapan Budi Asali:
Pada waktu anda mengatakan bahwa Yesus adalah satu2nya
Juruselamat, apakah bapak bermaksud untuk mengatakan bahwa orang-orang yang
tidak percaya kepada Yesus semuanya akan masuk neraka, tak peduli agama apapun
yang mereka anut dan bagaimana salehnya mereka hidup?
Tanggapan Tjantana:
Yang saya katakan adalah siapa saja yang percaya
kepada-Nya akan selamat. Menurut Pak Budi sendiri orang yang tidak percaya
sehingga tidak diselamatkan masuk ke mana? Waspadalah bahwa penentuan akhir
masuk Surga atau Neraka adalah hak prerogatif Sang Hakim Agung, Yesus Kristus
sendiri. Yang saya percayai adalah bahwa kita diselamatkan bukan oleh perbuatan
baik tetapi oleh permandian kelahiran kembali (bukankah permandian di sini
berbicara tentang pembaptisan air?) dan oleh pembaharuan yang dikerjakan
oleh Roh Kudus (Roh Kudus yang kita terima lah yang memperbaharui roh dan hati
kita). Silakan lihat Titus 3:5.
Titus 3:5 ”Pada waktu
itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah
kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”.
Sebelum kita tahu bagaimana diselamatkan, ada baiknya kita tahu terlebih
dahulu, apa itu Injil? Injil adalah kabar baik (Gospel = the good news = kabar
baik) tentang Yesus yang mati, dikuburkan, dan dibangkitkan
(lihat 1 Korintus 15:3-4).
Nah, supaya tersedia keselamatan, ada 3
hal yang Yesus lakukan tadi (mati, dikuburkan, dan dibangkitkan).
Tanggapan Budi Asali:
Bukankah ’dikuburkan’ bukanlah sesuatu yang Yesus
lakukan? Maksud bapak ’Yesus lakukan’ atau ’Yesus alami’?
Tanggapan Tjantana:
Seperti Yesus mati karena Ia menyerahkan nyawa-Nya
demikian juga ketika Ia dikuburkan, Ia membiarkan diri-Nya dikuburkan, bukankah
tubuh kemanusiaan-Nya sudah mati? Pak Budi, mungkinkah seseorang yang sudah mati (ingat dan pahami bahwa Yesus
selain ilahi, Ia juga manusia – the Dual Nature of Jesus Christ) menguburkan dirinya sendiri?
Kita adalah orang-orang Kristen (Christian = Christ-like = seperti
Kristus). Tuhan Yesus lakukan 3 hal
supaya ada keselamatan, demikian juga ada 3 hal yang harus kita lakukan supaya
diselamatkan yaitu seperti yang tertulis di dalam Kisah Para Rasul 2:38 dan Roma 6:2-4:
1. Bertobat
(mati bagi dosa).
2. Dibaptis di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus (dikuburkan
bersama-sama dengan Dia oleh baptisan).
3. Menerima
Roh Kudus (dibangktkan bersama-sama dengan Dia).
Pak Budi, percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus memang suatu keharusan
jika ingin diselamatkan tetapi tidaklah
cukup hanya percaya (setan-setan pun percaya hanya ada satu Allah,
lihat Yakobus 2:19) tetapi harus
disertai perbuatan ketaatan, kita diselamatkan jika percaya dan
dibaptis (Markus 16:16) dan jika
ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah maka kita harus dilahirkan kembali dari air
(baptisan air) dan dari Roh (baptisan Roh Kudus): Yohanes 3: 3-5.
Tanggapan Budi Asali:
Jadi, bapak percaya bahwa kita
diselamatkan bukan hanya oleh iman, tetapi oleh iman dan perbuatan baik /
baptisan? Dan kalau memang demikian, maka:
Tanggapan Tjantana:
Pak Budi, tenang dulu, jangan buru-buru menuduh atau
menghakimi. Saya tidak mengatakan tentang perbuatan baik tetapi perbuatan ketaatan. Alangkah indahnya jika
menyamakan persepsi terlebih dulu sebelum menuduh. Lihat juga jawaban saya di
atas tentang Titus 3:5. Saya juga sangat diberkati
oleh Efesus 2:8-9.
Kalau Anda tidak suka dengan perkataan “perbuatan
ketaatan” bagaimana kalau saya katakan begini saja: Percaya atau iman saja tidaklah cukup karena iman tanpa ketaatan sama juga bohong. Anggap saja sebelum Anda menikahi
isteri Anda sekarang, dulu Anda percaya bahwa ia dapat menjadi isteri
yang baik tetapi kalau Anda tidak pernah menikahinya (tanpa perbuatan),
bukankah sama juga bohong? Yang saya maksudkan dengan iman harus disertai
dengan perbuatan ketaatan adalah sebagai berikut.
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh
adalah mati, demikian jugalah iman
tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika
iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Nah, kalau begitu, puji Tuhan, saya tidak perlu menjawab
pertanyaan no. 1) Anda di bawah ini yang sangat panjang lebar.
1) Bagaimana dengan banyak ayat dalam Kitab Suci
yg menunjukkan secara jelas bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman, dan sama
sekali bukan oleh perbuatan baik? Contoh:
·
Kis 15:1-11
- ““(1) Beberapa orang datang dari
Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau
kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak
dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan
dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan
penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. (3) Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar
kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat
itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal
Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. (4)
Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan
penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan
dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi,
yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus
disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.’ (6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan
penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu lamanya
berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata
kepada mereka: ‘Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah
memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa
lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah, yang mengenal
hati manusia, telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka, sebab Ia
mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, (9) dan Ia
sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia
menyucikan hati mereka oleh iman. (10) Kalau demikian, mengapa kamu mau
mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang
tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? (11)
Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita
akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.’”.
Bdk.
ay 11b dengan Ro 11:5-6 - “(5)
Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih
karunia. (6) Tetapi jika
hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab
jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.
·
Ro 3:24,27-28 - “(24) dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan
cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. ... (27) Jika demikian, apa
dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan
berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman,
dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.
·
Ro 9:30-32
- “(30) Jika demikian, apakah yang hendak kkita katakan? Ini: bahwa
bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah memperoleh kebenaran,
yaitu kebenaran karena iman. (31) Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun
mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum
itu. (32) Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi
karena perbuatan”.
·
Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh
karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus
Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya
kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam
Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada
seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.
·
Gal 3:6-11
- ““(6) Secara itu jugalah Abraham
percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai
kebenaran. (7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka
itulah anak-anak Abraham. (8) Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui,
bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah
terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan
diberkati.’ (9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang
diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. (10) Karena semua
orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada
tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang
tertulis dalam kitab hukum Taurat.’ (11) Dan bahwa tidak ada orang yang
dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena:
‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’”.
·
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh
iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu
bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
·
Fil 3:7-9
- “(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuuntungan bagiku, sekarang kuanggap
rugi karena Kristus. (8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena
pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh
karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah,
supaya aku memperoleh Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan
kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran
karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan
berdasarkan kepercayaan”.
·
Bahwa perbuatan baik tidak mempunyai
andil dalam keselamatan seseorang, juga bisa terlihat dari selamatnya penjahat
yang bertobat di atas kayu salib, padahal ia hanya
percaya kepada Kristus (pada akhir hidupnya) dan boleh dikatakan tidak
mempunyai perbuatan baik.
Luk 23:42-43 - “(42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang
sebagai Raja.’ (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
2) Apakah Penebusan yang Yesus lakukan bagi kita
di atas kayu salib itu masih kurang, sehingga perlu kita tambahi dengan
perbuatan baik kita sendiri?
Bdk. dengan kata2 ’Sudah
selesai’ di atas kayu salib.
Tanggapan Tjantana:
Apakah saya pernah mengatakan seperti yang Anda tuduhkan?
Kenapa Anda menuduh tanpa menggali dulu tentang apa yang saya maksud dengan
”perbuatan ketaatan”? Apakah saya pernah mengatakan bahwa kita diselamatkan
oleh perbuatan baik? Tidak pernah. Lihat jawaban saya di atas.
3) Penjahat yang bertobat di kayu salib tidak
pernah dibaptis, tetapi Yesus menjamin keselamatannya.
Tanggapan
Tjantana:
Pak Budi,
jika kita bisa mentaati-Nya dalam hidup ini (sehat jasmani dan rohani) untuk
memberi diri
dibaptis, segeralah memberi diri dibaptis. Akankah Yesus memerintahkan si
penjahat
untuk turun dulu (pakunya dicabut dulu), kemudian dibaptis, lalu disalibkan
lagi (pakunya
dipasang lagi)? Pak, bukankah Tuhan Yesus juga berhak untuk tentukan
apakah si
penjahat itu selamat atau tidak selamat dengan atau tanpa baptisan pada saat
itu
dengan menimbang
keadaan saat itu? Inilah yang kita namakan kasus khusus dan tidak
berlaku
umum.
4) Gereja / jemaat Galatia didirikan oleh Paulus
dg memberitakan kepada mereka bahwa mereka diselamatkan hanya oleh iman. Tetapi
lalu orang-orang Yahudi, mengajarkan kepada mereka bahwa mereka tidak mungkin
diselamatkan oleh iman saja, tetapi juga harus disunat, dan mentaati hukum
Taurat. Karena itu Paulus menuliskan surat Galatia itu untuk meluruskan jemaat
dari penyesatan itu. Itu sebabnya dalam seluruh surat Galatia sangat ditekankan
bahwa seseorang diselamatkan bukan karena menuruti hukum Taurat, tetapi hanya
karena iman. Ia bahkan mengecam Injil yang diberikan orang-orang itu sebagai
Injil yang lain / berbeda, dan mengecam mereka sebagai ’terkutuk’ (Gal 1:6-9).
Juga, kalau bapak menganggap bahwa kita diselamatkan
karena iman dan perbuatan baik, maka saya ingin tanya satu hal ini: apakah
bapak yakin kalau detik ini bapak mati, bapak PASTI masuk surga? Kalau bapak
yakin, berdasarkan apa? Bukankah bapak tidak tahu banyaknya perbuatan baik
maupun dosa yang bapak lakukan? Dan bukankah bapak juga tidak mungkin bisa tahu
apakah perbuatan baik yang bapak lakukan itu sudah mencapai standard yang Tuhan
tentukan? Kalau bapak tidak yakin, apa gunanya mengikuti agama / kepercayaan
yang tidak memberikan keyakinan masuk surga? Dan sebagai orang yang tahu Kitab
Suci, bapak pasti tahu bahwa neraka itu sangat mengerikan. Bagaimana bapak bisa
tidur kalau ada kemungkinan besok bapak akan mati dan masuk ke tempat
mengerikan itu?
Tanggapan Tjantana:
Pertanyaan Anda yang nomor 4) dikarenakan salah tuduh,
kita diselamatkan oleh iman dan iman yang disertai oleh perbuatan ketaatan (sekali
lagi bukan perbuatan baik semata) seperti yang Anda tuduhkan.
Pak Budi, saya yakin kalau saya mati pada detik ini, saya
masuk ke Surga karena iman saya disertai perbuatan ketaatan, saya sudah mengikuti perintah-perintah
Tuhan Yesus (bertobat, dibaptis, dan terima Roh Kudus, terus hidup dalam
kebenaran dan kekudusan) dan setiap hari saya berdoa pertobatan kalau-kalau
saya berdosa baik yang disengaja atau pun yang tidak disengaja. Pak, setiap
hari saya tidur sangat nyenyak dan teramat yakin kalau saya sampai dipanggil
Tuhan Yesus, saya bertemu Dia muka dengan muka. Pak Budi, apakah Anda yakin
kalau mati pada detik ini juga Anda masuk Surga? Apakah setiap hari Anda bisa
tidur nyenyak atau terbangun-bangun ketakutan karena tidak yakin akan
keselamatan Anda? Atau mungkin ada kekuatiran karena pada hari ini, Anda baru
berdoa kepada Allah Bapa saja tapi belum kepada Allah Anak dan lupa berdoa kepada
Allah Roh Kudus? Padahal di dalam Alkitab tidak pernah ada tersebut Allah Anak
atau Allah Roh Kudus, cuma ada Allah Bapa.
Perhatikan bahwa apa yang saya sampaikan sampai pada surat yang kedua ini,
saya selalu memakai ayat-ayat Alkitab. Pengajaran yang kita harus ikuti adalah
pengajaran yang diajarkan para Rasul (Apostolik) dan sesuai Alkitab
(Alkitabiah). Kenapa harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Rasul? Karena para Rasul adalah dasar
gereja (keluarga Allah) seperti tercantum di Efesus 2:19-20.
Tanggapan Budi Asali:
Semua orang mengclaim seperti itu, tetapi penafsirannya
yang menentukan. Saksi Yehuwa sangat banyak menggunakan Alkitab, tetapi
penafsirannya begitu kacau, sehingga mereka harus dianggap sebagai bidat /
sekte. Bdk. 2Pet 3:15-16.
Tanggapan Tjantana:
Karena itu kita harus memakai penafsiran para Rasul dan mengikuti
pengajaran para Rasul (Apostolik) dan yang Alkitabiah (ayat demi ayat
mengajarkannya secara konsisten, tersurat, tercatat, dan bukan tersirat) dan
jika memungkinkan, pengamatan langsung
(melalui apa yang tertulis di dalam Alkitab) atas apa yang dilakukan para
Rasul sebagai teladan. Misalnya jika mereka membaptis (pada jemaat mula-mula)
dalam Nama Tuhan Yesus, maka inilah yang kita lakukan bukannya di dalam Nama
Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus. Yang
tersirat terbuka kepada penafsiran sendiri-sendiri. Saksi Yehova jadi kacau
karena tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat; bagi mereka,
Yesus adalah jelmaan malaikat Mikhael. Kami Pentakosta (yang percaya bahwa
hanya ada 1 Pribadi Allah dengan 3 peranan utama sebagai Bapa, Anak, dan Roh
Kudus) jelas-jelas percaya kepada Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu kenapa kami dicap ‘sesat’ hanya
karena tidak percaya kepada tritunggal (yang jelas-jelas tidak Apostolik dan
Alkitabiah)?
Demikian juga halnya dengan pengajaran predestinasi. Apakah para Rasul mengajarkannya dan
Alkitab mencatatnya? Kalau pun ada dikatakan oleh seorang Rasul di dalam
Alkitab, tetapi apakah penafsirannya sudah benar?
Perhatikan Efesus 1:4-5 di bawah
ini:
1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus
Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
Tahukah Pak Budi bahwa setiap kata ”kita”
atau ”kami” di dalam kitab Efesus menunjuk kepada orang-orang Yahudi
sedangkan kata ”kamu” ditujukan
kepada orang-orang bangsa lain (non-Yahudi atau Kafir)? Mengapa
dibicarakan kedua pihak ini? Karena tujuan kitab Efesus adalah sebagai berikut.
Efesus 2:14. Karena Dialah damai
sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua
pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.
Sebagai contoh: Efesus 2:8-10 dan Efesus
1:12-13
2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah,
2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
2:10 Karena kita
ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan
baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
1:12 supaya kami, yang
sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi
kemuliaan-Nya.
1:13 Di dalam Dia kamu
juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil
keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan
Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
Dalam kaitannya dengan Efesus 1:4-5,
karena kata ”kita” berarti orang-orang
Yahudi, maka yang dipilih sebelum dunia dijadikan (dalam pikiran dan rencana
Allah) adalah orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa bukannya setiap
individu sudah dipilih seperti yang dipercayai oleh pengajaran
predestinasi. Jadi pengajaran ini merupakan salah tafsir ayat Alkitab.
Tanggapan Budi Asali:
Saya berpendapat bahwa pada waktu mengatakan
’kami’ /’kita’ Paulus tidak menunjuk kepada orang-orang Yahudi yang bukan
Kristen, tetapi orang-orang Yahudi yang percaya. Jadi, ini tidak mungkin
menunjuk kepada pemilihan mereka sebagai bangsa.
Tanggapan Tjantana:
Pak Budi, yang sudah dipilih sebelum dunia
dijadikan (dalam pikiran atau rencana Allah) adalah orang-orang Yahudi sebagai
suatu bangsa karena dari bangsa Yahudi lah muncul Juruselamat. Jika Anda tidak
setuju dan bersikukuh, tidak apa-apa, tetaplah dengan pengajaran predestinasi
Anda, yang penting saya sudah mencoba untuk menjelaskannya. Saya tidak dapat
memaksa seseorang yang sudah sangat yakin dengan kepercayaan yang dipegangnya,
silakan tinggal dilanjutkan saja. Jika
dalam hal Efesus 1:4-5 saja persepsi kita sudah berbeda, untuk apa saya memberi
jawaban atas serentetan ayat-ayat yang Anda berikan di bawah ini, bukankah
hanya menghabiskan waktu saja dan tokh akhirnya terjadi perbedaan persepsi
juga?
Juga, bagaimana dengan text-text di bawah ini?
Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak
mengenal Allah (KJV: the Gentiles) dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua
orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.
Ro 8:29-30
- “Sebab semua orang yang dipilihNya dari ssemula, mereka juga ditentukanNya
dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia,
AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu
juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya.
Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.
2Tes 2:12-13 - “supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan
kebenaran dan yang suka kejahatan. Akan tetapi kami harus selalu mengucap
syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah
dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan
kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.
Ro 9:6-29 - “(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab
tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, (7) dan juga
tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang
berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ (8) Artinya: bukan anak-anak
menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut
keturunan yang benar. (9) Sebab firman ini mengandung janji: ‘Pada waktu
seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.’
(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang
lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa
leluhur kita. (11) Sebab waktu
anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, -
supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan
perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak
yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku
mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak
adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh
belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah
hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ (16) Jadi hal itu tidak tergantung
pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. (17)
Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan
engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya
namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan
kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan
hati siapa yang dikehendakiNya. (19) Sekarang
kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya?
Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka
kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya:
‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak
mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu
benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai
guna tujuan yang biasa? (22) Jadi, kalau untuk menunjukkan
murkaNya dan menyatakan kuasaNya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda
kemurkaanNya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan - (23) justru untuk
menyatakan kekayaan kemuliaanNya atas benda-benda belas kasihanNya yang
telah dipersiapkanNya untuk kemuliaan, (24) yaitu kita, yang telah
dipanggilNya bukan hanya dari antara
orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, (25) seperti
yang difirmankanNya juga dalam kitab nabi Hosea: ‘Yang bukan umatKu akan
Kusebut: umatKu dan yang bukan kekasih: kekasih.’ (26) Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: ‘Kamu ini
bukanlah umatKu,’ di sana akan dikatakan kepada mereka: ‘Anak-anak Allah yang
hidup.’ (27) Dan Yesaya berseru tentang Israel: ‘Sekalipun jumlah anak Israel
seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan. (28) Sebab apa
yang telah difirmankanNya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan
segera.’ (29) Dan seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya: ‘Seandainya Tuhan
semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti
Sodom dan sama seperti Gomora.’”.
Justru Alkitab mengatakan: ”...setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Dan juga jelas-jelas
kehendak bebas (free-will): ”...Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia
datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan
dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17).
Tanggapan Budi Asali:
1) Ini tidak bertentangan dengan predestinasi.
Memang hanya yang percaya yang bisa selamat, tetapi hanya yang dipilih yang
bisa percaya (Kis 13:48).
2)
Tanggapan Tjantana:
1) Pak Budi, Yohanes 3:16 tidak mengatakan:
”...setiap orang yang dipilih yang
percaya kepada-Nya tidak binasa...” dan Wahyu
22:17 tidak mengatakan: ”...Dan siapa yang
dipilih untuk haus, hendaklah ia datang...”, maaf jadi agak lucu
kedengarannya ya, ha ha ha. Apakah Tuhan Yesus mati di atas kayu salib hanya
untuk yang sudah Ia pilih untuk percaya atau untuk semua umat manusia yang mau
percaya kepada-Nya? Kalau begitu Tuhan Yesus itu pilih kasih dong. Jika Tuhan Yesus memang pilih kasih
seperti itu, lebih baik Ia memilih orang-orang Yahudi sebanyak-banyaknya untuk
percaya dan diselamatkan, buat apa pilih kita dari bangsa lain? Semoga saja Anda termasuk yang sudah
dipilih-Nya (untuk percaya) sebelum dunia dijadikan karena saya rasa-rasanya
tidak memenuhi syarat untuk dipilih-Nya. Tetapi puji Tuhan, karena kasih
karunia-Nya saya tergabung ke dalam golongan orang-orang percaya. Haleluya!
2) Pak Budi, kata ”freewill”
memang tidak ada di dalam Alkitab, tapi ada kata-kata ”setiap orang yang percaya” (secara sederhana berarti tidak percaya
juga boleh, tapi binasa) ”barangsiapa
yang mau” (Wahyu 22:17) dan juga
ada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat di dalam kitab Kejadian sehingga
manusia bisa memilih untuk taat atau tidak taat.
Kata ”sakramen” memang tidak
ada di dalam Alkitab tapi misalnya tentang Perjamuan Kudus ada perkataan Tuhan
Yesus, ”...perbuatlah ini menjadi
peringatan akan Aku” (1 Korintus
11:24) dan ”...perbuatlah ini,
setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1 Korintus 11:25).
Rupanya Pak Budi tidak sedang
tulus untuk mencari kebenaran tetapi mau menjebak saya, wah ada udang di balik
batu neh. Sedangkan kata ”tritunggal” atau ”trinitas” memang jelas-jelas tidak
ada dalam Alkitab dan memang tidak ada kata-kata yang misalnya jelas-jelas
menyatakannya, misalnya: ”Allah punya tiga Pribadi”; ”Ketiga Pribadi
Allah”; ”Tuhan adalah tiga-tiganya” atau ”Nama-Nya adalah
tiga-tiganya” (lihat Zakharia 14:9
”Maka TUHAN akan menjadi Raja atas
seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya
dan nama-Nya satu-satunya”)
atau ”ketiganya yang esa” (wah yang ini sih cuma ada di lagu penutupan
’doxology’). Tidak ada ”Allah tritunggal”, yang ada ”TUHAN itu Allah kita,
TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4).
Pak Budi, terserah dan silakan terus ajarkan pengajaran Tertullianus
(tritunggal) jika Anda mau, tetapi saya akan terus sampaikan pengajaran yang
Apostolik dan Alkitabiah bahwa hanya ada
satu Pribadi Allah dengan tiga peranan utama sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Pak, lebih baik Anda belum mengetahui apa-apa tentang hal-hal yang saya
sudah sampaikan, daripada setelah Anda mengetahuinya, tetapi tidak melakukan
apa-apa sehingga tanggung jawab akan Tuhan Yesus tuntut dari Anda.
Kepada
Yth Bpk Tjantana Jusman
Terima kasih atas jawaban bapak yang bukan hanya cepat
tetapi juga cukup panjang lebar. Di
bawah ini saya mengembalikan email bapak yang terakhir, dengan saya beri
komentar / pertanyaan saya disela-selanya.
Mohon tanggapan bapak, dan terima kasih sebelumnya.
Budi
Asali.
Kepada
Yth. Bpk Budi Asali,
Terima kasih atas tanggapan Pak Budi yang juga cepat dan malahan
lebih panjang lebar. Kalau saja saya dapat menjawab dengan singkat, tentunya
saya juga maunya begitu. Setelah membaca tanggapan Anda seluruhnya, Pak Budi
sudah terlalu yakin akan pengajaran predestinasi dan tritunggal, tidak
mungkin Anda meninggalkannya lagi jika tidak merendahkan hati untuk menerima
pengajaran para Rasul (Apostolik) dan yang Alkitabiah (sesuai ayat Alkitab
secara harfiah), bukan pengajaran atau penafsiran saya sendiri lho. Dan juga,
Pak Budi sudah mendapatkan argumentasi saya di dalam buku saya, untuk apa
kita berdebat? Bukankah cuma menghabiskan waktu saja? Lebih baik, baca satu
kali lagi buku saya, kalau Anda tidak setuju tidak apa-apa, saya tidak memaksa,
kalau Pak Budi mau, silakan saja buku saya itu dibuang atau dibakar karena Anda
anggap bidat atau ajaran sesat (tetapi sayangnya justru Apostolik dan
Alkitabiah), selanjutnya Anda dan saya nanti yang bertanggung jawab di hadapan
Tuhan Yesus, cukup adil bukan?
Tanggapan Budi Asali:
Saya seringkali mengubah pandangan saya kalau saya
menemukan tulisan yang mempunyai argumentasi yang kuat yang tidak bisa saya
bantah. Jadi, bukan persoalan kerendahan hati, tetapi persoalan apakah ajaran
itu sesuai dengan Alkitab dan ditafsirkan dengan benar atau tidak.
Yang saya ingin tahu adalah sebaliknya, yaitu apakah anda
cukup rendah hati untuk mengubah pandangan anda, kalau saya bisa membuktikan
kesalahan, dan bahkan kesesatan, ajaran anda?
Anda mengatakan ’terlalu yakin’. Apakah ’terlalu yakin’
itu salah, kalau yang diyakini memang merupakan sesuatu yang benar?
Kelihatannya, anda segan berdebat dengan saya. Apakah
anda berpendapat bahwa berdebat merupakan sesuatu yang salah? Paulus berdebat,
demikian juga Stefanus, pada saat ia kepenuhan Roh Kudus. Jadi, itu tak harus
salah.
Saya ingin anda baca ayat ini: 1Pet 3:15 – ”Dan siap
sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap
orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada
padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat”.
Sekarang saya meminta pertanggungan jawab tentang ajaran
anda, dan ayat Kitab Suci ini mengharuskan anda memberikannya. Maukah anda
tunduk pada Firman Tuhan ini?
Saya berdebat dengan anda, supaya kalau mungkin saya bisa
mempertobatkan anda dari pandangan sesat anda. Saya adalah hamba Tuhan, dan itu
panggilan saya. Apakah tidak mungkin saya, dengan pertolongan Roh Kudus,
mengubah pandangan anda? Atau anda sendiri juga sudah ’terlalu yakin’ dengan
pandangan Sabelianisme anda?
Kalaupun setelah berdebat saya tak berhasil
mempertobatkan anda, saya tak menganggap itu sebagai buang waktu, tenaga
ataupun pikiran. Firman yang saya beritakan, atau mempertobatkan anda, atau
akan menghakimi anda pada hari penghakiman.
Betul, Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan tentu saja saya
menekankan Injil karena Injil (menurut Alkitab sendiri bukan kata saya) adalah
kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma
1:16).
Tanggapan Budi Asali:
Pada waktu anda mengatakan bahwa Yesus adalah satu2nya
Juruselamat, apakah bapak bermaksud untuk mengatakan bahwa orang-orang yang
tidak percaya kepada Yesus semuanya akan masuk neraka, tak peduli agama apapun
yang mereka anut dan bagaimana salehnya mereka hidup?
Tanggapan Tjantana:
Yang saya katakan adalah siapa saja yang percaya
kepada-Nya akan selamat. Menurut Pak Budi sendiri orang yang tidak percaya
sehingga tidak diselamatkan masuk ke mana?
Tanggapan Budi Asali:
Saya hanya bertanya kan? Kalau anda mengatakan orang yang
tak percaya Kristus semua akan masuk neraka, saya setuju dengan anda. Saya
yakin bahwa Yesus secara mutlak adalah satu2nya jalan ke surga!
Waspadalah bahwa penentuan akhir masuk Surga atau Neraka
adalah hak prerogatif Sang Hakim Agung, Yesus Kristus sendiri.
Tanggapan Budi Asali:
Ya, tetapi jangan lupa bahwa Ia sudah memberi persyaratan
untuk masuk surga, yaitu harus beriman kepadaNya. Jadi, bukan menghakimi kalau
kita mengatakan bahwa orang-orang yang tidak percaya kepadaNya akan masuk ke
neraka!
Yang saya percayai adalah bahwa kita diselamatkan bukan
oleh perbuatan baik tetapi oleh permandian kelahiran kembali (bukankah
permandian di sini berbicara tentang pembaptisan air?) dan oleh pembaharuan
yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Roh Kudus yang kita terima lah yang memperbaharui
roh dan hati kita). Silakan lihat Titus 3:5.
Titus 3:5 ”Pada waktu
itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah
kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”.
Tanggapan Budi Asali:
Perhatikan terjemahan KJV di bawah ini.
KJV: ‘Not by works
of righteousness which we have done, but according to his mercy he saved us, by
the washing of regeneration, and renewing of the Holy Ghost’ (= ).
Saya tak ingin mempersoalkan apa arti bagian itu, tetapi
dilihat dari terjemahan KJV jelas itu tak menunjuk pada baptisan. Jadi, jangan
hanya menggunakan Kitab Suci Indonesia yang memang banyak salahnya.
Sebelum kita tahu bagaimana diselamatkan, ada baiknya kita tahu terlebih
dahulu, apa itu Injil? Injil adalah kabar baik (Gospel = the good news = kabar
baik) tentang Yesus yang mati, dikuburkan, dan dibangkitkan
(lihat 1 Korintus 15:3-4).
Nah, supaya tersedia keselamatan, ada 3
hal yang Yesus lakukan tadi (mati, dikuburkan, dan dibangkitkan).
Tanggapan Budi Asali:
Bukankah ’dikuburkan’ bukanlah sesuatu yang Yesus
lakukan? Maksud bapak ’Yesus lakukan’ atau ’Yesus alami’?
Tanggapan Tjantana:
Seperti Yesus mati karena Ia menyerahkan nyawa-Nya
demikian juga ketika Ia dikuburkan, Ia membiarkan diri-Nya dikuburkan, bukankah
tubuh kemanusiaan-Nya sudah mati? Pak Budi, mungkinkah seseorang yang sudah mati (ingat dan pahami bahwa Yesus
selain ilahi, Ia juga manusia – the Dual Nature of Jesus Christ) menguburkan dirinya sendiri?
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak ingin terlalu mempermasalahkan hal
ini, karena ini bagi saya tak penting. Saya hanya memberi komentar tentang hal
ini secara sambil lalu saja.
Kita adalah orang-orang Kristen (Christian = Christ-like = seperti
Kristus). Tuhan Yesus lakukan 3 hal
supaya ada keselamatan, demikian juga ada 3 hal yang harus kita lakukan supaya
diselamatkan yaitu seperti yang tertulis di dalam Kisah Para Rasul 2:38 dan Roma 6:2-4:
Pak Budi, percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus memang suatu keharusan
jika ingin diselamatkan tetapi tidaklah
cukup hanya percaya (setan-setan pun percaya hanya ada satu Allah,
lihat Yakobus 2:19) tetapi harus
disertai perbuatan ketaatan, kita diselamatkan jika percaya dan
dibaptis (Markus 16:16) dan jika
ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah maka kita harus dilahirkan kembali dari air
(baptisan air) dan dari Roh (baptisan Roh Kudus): Yohanes 3: 3-5.
Tanggapan Budi Asali:
Jadi, bapak percaya bahwa kita
diselamatkan bukan hanya oleh iman, tetapi oleh iman dan perbuatan baik /
baptisan? Dan kalau memang demikian, maka:
Tanggapan Tjantana:
Pak Budi, tenang dulu, jangan buru-buru menuduh atau
menghakimi. Saya tidak mengatakan tentang perbuatan baik tetapi perbuatan ketaatan. Alangkah indahnya jika
menyamakan persepsi terlebih dulu sebelum menuduh. Lihat juga jawaban saya di
atas tentang Titus 3:5. Saya juga sangat diberkati
oleh Efesus 2:8-9.
Tanggapan Budi Asali:
Jangan mengatakan saya menuduh / menghakimi.
Saya kan cuma bertanya? Dan pertanyaan itu saya kira wajar, karena anda
mengatakan di atas bahwa ’percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus memang suatu keharusan jika ingin
diselamatkan tetapi tidaklah cukup
hanya percaya (setan-setan pun percaya hanya ada satu Allah, lihat Yakobus 2:19) tetapi harus disertai perbuatan
ketaatan, kita diselamatkan jika percaya dan dibaptis (Markus 16:16)’.
Bagi saya, kata2 anda artinya adalah seseorang
diselamatkan oleh iman + sesuatu (baptisan, perbuatan baik). Tetapi saya ingin
memastikan apakah itu memang merupakan pandangan anda, dan karena itu saya
menanyakannya.
Kalau Anda tidak suka dengan perkataan “perbuatan
ketaatan” bagaimana kalau saya katakan begini saja: Percaya atau iman saja tidaklah cukup karena iman tanpa ketaatan sama juga bohong. Anggap saja sebelum Anda menikahi
isteri Anda sekarang, dulu Anda percaya bahwa ia dapat menjadi isteri
yang baik tetapi kalau Anda tidak pernah menikahinya (tanpa perbuatan),
bukankah sama juga bohong? Yang saya maksudkan dengan iman harus disertai
dengan perbuatan ketaatan adalah sebagai berikut.
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh
adalah mati, demikian jugalah iman
tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika
iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Nah, kalau begitu, puji Tuhan, saya tidak perlu menjawab
pertanyaan no. 1) Anda di bawah ini yang sangat panjang lebar.
1) Bagaimana dengan banyak ayat dalam Kitab Suci
yg menunjukkan secara jelas bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman, dan sama
sekali bukan oleh perbuatan baik? Contoh:
·
Kis 15:1-11
- ““(1) Beberapa orang datang dari
Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau
kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak
dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan
dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan
penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. (3) Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar
kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat
itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal
Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. (4)
Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan
penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan
dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi,
yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus
disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.’ (6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan
penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu lamanya
berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata
kepada mereka: ‘Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah
memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa
lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah, yang mengenal
hati manusia, telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka, sebab Ia
mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, (9) dan Ia
sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia
menyucikan hati mereka oleh iman. (10) Kalau demikian, mengapa kamu mau
mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang
tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? (11)
Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita
akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.’”.
Bdk.
ay 11b dengan Ro 11:5-6 - “(5)
Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih
karunia. (6) Tetapi jika
hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab
jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.
·
Ro 3:24,27-28 - “(24) dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan
cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. ... (27) Jika demikian, apa
dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan
berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman,
dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.
·
Ro 9:30-32
- “(30) Jika demikian, apakah yang hendak kkita katakan? Ini: bahwa
bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah memperoleh kebenaran,
yaitu kebenaran karena iman. (31) Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun
mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum
itu. (32) Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi
karena perbuatan”.
·
Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh
karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus
Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya
kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam
Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak
ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.
·
Gal 3:6-11
- ““(6) Secara itu jugalah Abraham
percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai
kebenaran. (7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka
itulah anak-anak Abraham. (8) Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui,
bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah
terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan
diberkati.’ (9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang
diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. (10) Karena semua
orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada
tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang
tertulis dalam kitab hukum Taurat.’ (11) Dan bahwa tidak ada orang yang
dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena:
‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’”.
·
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh
iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu
bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
·
Fil 3:7-9
- “(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuuntungan bagiku, sekarang kuanggap
rugi karena Kristus. (8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena
pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh
karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah,
supaya aku memperoleh Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan
kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran
karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan
berdasarkan kepercayaan”.
·
Bahwa perbuatan baik tidak mempunyai
andil dalam keselamatan seseorang, juga bisa terlihat dari selamatnya penjahat
yang bertobat di atas kayu salib, padahal ia hanya
percaya kepada Kristus (pada akhir hidupnya) dan boleh dikatakan tidak
mempunyai perbuatan baik.
Luk 23:42-43 - “(42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang
sebagai Raja.’ (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
2) Apakah Penebusan yang Yesus lakukan bagi kita
di atas kayu salib itu masih kurang, sehingga perlu kita tambahi dengan
perbuatan baik kita sendiri?
Bdk. dengan kata2 ’Sudah
selesai’ di atas kayu salib.
Tanggapan Tjantana:
Apakah saya pernah mengatakan seperti yang Anda tuduhkan?
Kenapa Anda menuduh tanpa menggali dulu tentang apa yang saya maksud dengan
”perbuatan ketaatan”? Apakah saya pernah mengatakan bahwa kita diselamatkan
oleh perbuatan baik? Tidak pernah. Lihat jawaban saya di atas.
Tanggapan Budi Asali:
Kalau perbuatan baik merupakan bukti iman, saya setuju.
Tetapi pemutlakan / pengharusan baptisan, seperti dalam kalangan gereja
Katolik, sebetulnya sudah merupakan ajaran keselamatan karena iman + perbuatan
baik. Bukankah ’menyerahkan diri untuk dibaptis’ merupakan perbuatan kita?
3) Penjahat yang bertobat di kayu salib tidak
pernah dibaptis, tetapi Yesus menjamin keselamatannya.
Tanggapan
Tjantana:
Pak Budi,
jika kita bisa mentaati-Nya dalam hidup ini (sehat jasmani dan rohani) untuk
memberi diri
dibaptis, segeralah memberi diri dibaptis. Akankah Yesus memerintahkan si
penjahat
untuk turun dulu (pakunya dicabut dulu), kemudian dibaptis, lalu disalibkan
lagi (pakunya
dipasang lagi)? Pak, bukankah Tuhan Yesus juga berhak untuk tentukan
apakah si
penjahat itu selamat atau tidak selamat dengan atau tanpa baptisan pada saat
itu
dengan menimbang
keadaan saat itu? Inilah yang kita namakan kasus khusus dan tidak
berlaku
umum.
Tanggapan Budi Asali:
Kalau baptisan merupakan sesuatu yang mutlak bagi
keselamatan, dan Tuhan memang ingin menyelamatkan dia, maka Ia akan memberinya
jalan untuk bisa dibaptis, entah bagaimana caranya!
Tentu saya setuju bahwa orang percaya harus mau dibaptis.
Tetapi itu berbeda dengan mengatakan bahwa baptisan itu punya andil dalam
penyelamatan kita. Itu tetap merupakan bukti iman, bukan syarat keselamatan. Ingat
bahwa kasus ’khusus’ itu banyak sekali terjadi. Kalau terus ada perkecualian,
maka itu bisa menjadi umum!
4) Gereja / jemaat Galatia didirikan oleh Paulus
dg memberitakan kepada mereka bahwa mereka diselamatkan hanya oleh iman. Tetapi
lalu orang-orang Yahudi, mengajarkan kepada mereka bahwa mereka tidak mungkin
diselamatkan oleh iman saja, tetapi juga harus disunat, dan mentaati hukum
Taurat. Karena itu Paulus menuliskan surat Galatia itu untuk meluruskan jemaat
dari penyesatan itu. Itu sebabnya dalam seluruh surat Galatia sangat ditekankan
bahwa seseorang diselamatkan bukan karena menuruti hukum Taurat, tetapi hanya
karena iman. Ia bahkan mengecam Injil yang diberikan orang-orang itu sebagai
Injil yang lain / berbeda, dan mengecam mereka sebagai ’terkutuk’ (Gal 1:6-9).
Juga, kalau bapak menganggap bahwa kita diselamatkan
karena iman dan perbuatan baik, maka saya ingin tanya satu hal ini: apakah
bapak yakin kalau detik ini bapak mati, bapak PASTI masuk surga? Kalau bapak
yakin, berdasarkan apa? Bukankah bapak tidak tahu banyaknya perbuatan baik
maupun dosa yang bapak lakukan? Dan bukankah bapak juga tidak mungkin bisa tahu
apakah perbuatan baik yang bapak lakukan itu sudah mencapai standard yang Tuhan
tentukan? Kalau bapak tidak yakin, apa gunanya mengikuti agama / kepercayaan
yang tidak memberikan keyakinan masuk surga? Dan sebagai orang yang tahu Kitab
Suci, bapak pasti tahu bahwa neraka itu sangat mengerikan. Bagaimana bapak bisa
tidur kalau ada kemungkinan besok bapak akan mati dan masuk ke tempat
mengerikan itu?
Tanggapan Tjantana:
Pertanyaan Anda yang nomor 4) dikarenakan salah tuduh,
kita diselamatkan oleh iman dan iman yang disertai oleh perbuatan ketaatan (sekali
lagi bukan perbuatan baik semata) seperti yang Anda tuduhkan.
Pak Budi, saya yakin kalau saya mati pada detik ini, saya
masuk ke Surga karena iman saya disertai perbuatan ketaatan, saya sudah mengikuti perintah-perintah
Tuhan Yesus (bertobat, dibaptis, dan terima Roh Kudus, terus hidup dalam
kebenaran dan kekudusan) dan setiap hari saya berdoa pertobatan kalau-kalau
saya berdosa baik yang disengaja atau pun yang tidak disengaja. Pak, setiap
hari saya tidur sangat nyenyak dan teramat yakin kalau saya sampai dipanggil
Tuhan Yesus, saya bertemu Dia muka dengan muka. Pak Budi, apakah Anda yakin
kalau mati pada detik ini juga Anda masuk Surga? Apakah setiap hari Anda bisa
tidur nyenyak atau terbangun-bangun ketakutan karena tidak yakin akan keselamatan
Anda? Atau mungkin ada kekuatiran karena pada hari ini, Anda baru berdoa kepada
Allah Bapa saja tapi belum kepada Allah Anak dan lupa berdoa kepada Allah Roh
Kudus? Padahal di dalam Alkitab tidak pernah ada tersebut Allah Anak atau Allah
Roh Kudus, cuma ada Allah Bapa.
Tanggapan Budi Asali:
Orang yang mengaku Kristen tetapi tak yakin
keselamatannya, menurut saya bukan Kristen. Tetapi orang yang yakin
keselamatannya belum tentu Kristen. Orang bisa saya yakin, karena ia punya
keyakinan yang dari setan. Ini bukan tuduhan, hanya analisa. Juga Kitab Suci
mengatakan bahwa ada jalan yang disangka orang lurus tetapi ujungnya menuju
kepada maut.
Saya yakin mutlak akan keselamatan saya. Saya memang
mempunyai insomnia, tetapi itu tak ada hubungannya dengan ’takut masuk neraka’.
Kata2 anda di atas ’Atau mungkin ada kekuatiran karena
pada hari ini, Anda baru berdoa kepada Allah Bapa saja tapi belum kepada Allah
Anak dan lupa berdoa kepada Allah Roh Kudus? Padahal di dalam Alkitab tidak
pernah ada tersebut Allah Anak atau Allah Roh Kudus, cuma ada Allah Bapa’ menunjukkan:
a) Ketidak-mengertian anda tentang doktrin Allah
Tritunggal. Saya bukan percaya 3 Allah! Berdoa kepada yang manapun dari Mereka
tak jadi soal. Tak pernah ada keharusan berdoa kepada ketiga2nya setiap hari!
b) Anda memang punya kepercayaan keselamatan
karena perbuatan baik. Kalau tidak, mengapa ’tidak berdoa’ atau ’lupa berdoa’
lalu menyebabkan harus kuatir akan keselamatan?
Lagi2 anda mempermasalahkan bahwa istilah itu tak ada
dalam Alkitab. Anda sendiri mempercayai sakramen dan free will yang juga tak
ada istilahnya dalam Kitab Suci. Saya mau beri anda 1 milyar kalau anda bisa
menemukan istilahnya dalam Kitab Suci (kecuali kalau itu salah terjemahan).
Istilahnya tak ada, tetapi ajarannya ada. Itu yang
penting! Istilah Anak dan Roh Kudus ada, dan kita sama2 percaya bahwa Anak dan
Roh Kudus adalah Allah. Lalu apa salahnya kalau disebut Allah Anak, dan Allah
Roh Kudus?
Perhatikan bahwa apa yang saya sampaikan sampai pada surat yang kedua ini,
saya selalu memakai ayat-ayat Alkitab. Pengajaran yang kita harus ikuti adalah
pengajaran yang diajarkan para Rasul (Apostolik) dan sesuai Alkitab
(Alkitabiah). Kenapa harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Rasul? Karena para Rasul adalah dasar
gereja (keluarga Allah) seperti tercantum di Efesus 2:19-20.
Tanggapan Budi Asali:
Semua orang mengclaim seperti itu, tetapi penafsirannya
yang menentukan. Saksi Yehuwa sangat banyak menggunakan Alkitab, tetapi
penafsirannya begitu kacau, sehingga mereka harus dianggap sebagai bidat /
sekte. Bdk. 2Pet 3:15-16.
Tanggapan Tjantana:
Karena itu kita harus memakai penafsiran para Rasul dan mengikuti
pengajaran para Rasul (Apostolik) dan yang Alkitabiah (ayat demi ayat
mengajarkannya secara konsisten, tersurat, tercatat, dan bukan tersirat) dan
jika memungkinkan, pengamatan langsung
(melalui apa yang tertulis di dalam Alkitab) atas apa yang dilakukan para
Rasul sebagai teladan. Misalnya jika mereka membaptis (pada jemaat mula-mula)
dalam Nama Tuhan Yesus, maka inilah yang kita lakukan bukannya di dalam Nama
Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus. Yang
tersirat terbuka kepada penafsiran sendiri-sendiri. Saksi Yehova jadi kacau
karena tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat; bagi mereka,
Yesus adalah jelmaan malaikat Mikhael. Kami Pentakosta (yang percaya bahwa
hanya ada 1 Pribadi Allah dengan 3 peranan utama sebagai Bapa, Anak, dan Roh
Kudus) jelas-jelas percaya kepada Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu kenapa kami dicap ‘sesat’ hanya
karena tidak percaya kepada tritunggal (yang jelas-jelas tidak Apostolik dan
Alkitabiah)?
Tanggapan Budi Asali:
Sama saja. Orang bisa saja menyangka
ia sudah menggunakan penafsiran rasul2, tetapi sebetulnya tidak. Ajaran yg
tersuratpun hrs ditafsirkan bersama2 ayat2 lain yg berhubungan.
Anda tak mau ajaran yg hanya
tersirat? Dlm Mat 22:31-32 Yesus sendiri memberikan pengajaran secara implicit.
Apakah anda melarang orang Kristen merokok? Kalau ya, dg ayat explicit yg mana?
Justru ajaran anda ttg baptisan
sangat tidak saya setujui. Yesus mengajar untuk membaptis dlm nama Bapa, Anak,
dan RK, tetapi anda justru mengajar hrs dlm nama Tuhan Yesus Kristus. Tetapi
ttg doa, Yesus mengajar hrs berdoa dlm namaNya / nama Yesus (Yoh 16:24), tetapi
anda justru mengajar hrs berdoa dlm nama Bapa, Anak, dan RK (hal 64 dr buku
anda). Itukah yg anda katakan sbg alkitabiah?
Pd waktu kata2 Yesus dlm Mat 28:19
itu kelihatannya bertentangan dengan praktek pembaptisan dlm Kisah Rasul,
mengapa bukan ayat2 dlm Kisah Rasulnya yg ditafsirkan secara berbeda? Misalnya
dg mengatakan bahwa kata ‘nama’ di sana berarti ‘atas perintah / otoritas’ dr
Yesus.
Demikian juga halnya dengan pengajaran predestinasi. Apakah para Rasul mengajarkannya dan
Alkitab mencatatnya? Kalau pun ada dikatakan oleh seorang Rasul di dalam
Alkitab, tetapi apakah penafsirannya sudah benar?
Perhatikan Efesus 1:4-5 di bawah
ini:
1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus
Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
Tahukah Pak Budi bahwa setiap kata ”kita”
atau ”kami” di dalam kitab Efesus menunjuk kepada orang-orang Yahudi
sedangkan kata ”kamu” ditujukan kepada
orang-orang bangsa lain (non-Yahudi atau Kafir)? Mengapa dibicarakan
kedua pihak ini? Karena tujuan kitab Efesus adalah sebagai berikut.
Efesus 2:14. Karena Dialah damai
sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua
pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.
Sebagai contoh: Efesus 2:8-10 dan Efesus
1:12-13
2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah,
2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
2:10 Karena kita
ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan
baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
1:12 supaya kami, yang
sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi
kemuliaan-Nya.
1:13 Di dalam Dia kamu
juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil
keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan
Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
Dalam kaitannya dengan Efesus 1:4-5,
karena kata ”kita” berarti
orang-orang Yahudi, maka yang dipilih sebelum dunia dijadikan (dalam pikiran
dan rencana Allah) adalah orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa bukannya
setiap individu sudah dipilih seperti yang dipercayai oleh pengajaran
predestinasi. Jadi pengajaran ini merupakan salah tafsir ayat Alkitab.
Tanggapan Budi Asali:
Saya berpendapat bahwa pada waktu mengatakan
’kami’ /’kita’ Paulus tidak menunjuk kepada orang-orang Yahudi yang bukan
Kristen, tetapi orang-orang Yahudi yang percaya. Jadi, ini tidak mungkin
menunjuk kepada pemilihan mereka sebagai bangsa.
Tanggapan Tjantana:
Pak Budi, yang sudah dipilih sebelum dunia
dijadikan (dalam pikiran atau rencana Allah) adalah orang-orang Yahudi sebagai
suatu bangsa karena dari bangsa Yahudi lah muncul Juruselamat. Jika Anda tidak
setuju dan bersikukuh, tidak apa-apa, tetaplah dengan pengajaran predestinasi
Anda, yang penting saya sudah mencoba untuk menjelaskannya. Saya tidak dapat
memaksa seseorang yang sudah sangat yakin dengan kepercayaan yang dipegangnya,
silakan tinggal dilanjutkan saja. Jika
dalam hal Efesus 1:4-5 saja persepsi kita sudah berbeda, untuk apa saya memberi
jawaban atas serentetan ayat-ayat yang Anda berikan di bawah ini, bukankah
hanya menghabiskan waktu saja dan tokh akhirnya terjadi perbedaan persepsi
juga?
Tanggapan Budi Asali:
Hanya beberapa ayat ini anda anggap banyak? Tahukah anda
berapa ayat yang dipakai oleh Saksi Yehuwa untuk menyangkal keilahian Kristus /
Roh Kudus? Saya menggunakan waktu 2 thn untuk membahas ayat2 mereka!
Kalau ajaran anda memang benar, anda harus bisa
menjelaskan ayat2 yang saya berikan itu sehingga artinya menjadi sesuai dengan
pandangan anda. Kalau tidak, berarti pandangan anda bertentangan dengan ayat2
ini.
Juga, bagaimana dengan text-text di bawah ini?
Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak
mengenal Allah (KJV: the Gentiles) dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua
orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.
Ro 8:29-30
- “Sebab semua orang yang dipilihNya dari ssemula, mereka juga ditentukanNya
dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia,
AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu
juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya.
Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.
2Tes 2:12-13 - “supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan
kebenaran dan yang suka kejahatan. Akan tetapi kami harus selalu mengucap
syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah
dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan
kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.
Ro 9:6-29 - “(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab
tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, (7) dan juga
tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang
berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ (8) Artinya: bukan anak-anak
menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut
keturunan yang benar. (9) Sebab firman ini mengandung janji: ‘Pada waktu
seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.’
(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang
lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa
leluhur kita. (11) Sebab waktu
anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, -
supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan
perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak
yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku
mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak
adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh
belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah
hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ (16) Jadi hal itu tidak tergantung
pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. (17)
Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan
engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya
namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan
kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan
hati siapa yang dikehendakiNya. (19) Sekarang
kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya?
Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka
kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya:
‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak
mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu
benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai
guna tujuan yang biasa? (22) Jadi, kalau untuk menunjukkan
murkaNya dan menyatakan kuasaNya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda
kemurkaanNya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan - (23) justru untuk
menyatakan kekayaan kemuliaanNya atas benda-benda belas kasihanNya yang
telah dipersiapkanNya untuk kemuliaan, (24) yaitu kita, yang telah
dipanggilNya bukan hanya dari antara
orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, (25) seperti
yang difirmankanNya juga dalam kitab nabi Hosea: ‘Yang bukan umatKu akan
Kusebut: umatKu dan yang bukan kekasih: kekasih.’ (26) Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: ‘Kamu ini
bukanlah umatKu,’ di sana akan dikatakan kepada mereka: ‘Anak-anak Allah yang
hidup.’ (27) Dan Yesaya berseru tentang Israel: ‘Sekalipun jumlah anak Israel
seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan. (28) Sebab apa
yang telah difirmankanNya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan
segera.’ (29) Dan seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya: ‘Seandainya Tuhan
semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti
Sodom dan sama seperti Gomora.’”.
Justru Alkitab mengatakan: ”...setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Dan juga jelas-jelas
kehendak bebas (free-will): ”...Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia
datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan
dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17).
Tanggapan Budi Asali:
1) Ini tidak bertentangan dengan predestinasi.
Memang hanya yang percaya yang bisa selamat, tetapi hanya yang dipilih yang
bisa percaya (Kis 13:48).
2)
Tanggapan Tjantana:
3) Pak Budi, Yohanes 3:16 tidak mengatakan:
”...setiap orang yang dipilih yang
percaya kepada-Nya tidak binasa...” dan Wahyu
22:17 tidak mengatakan: ”...Dan siapa yang
dipilih untuk haus, hendaklah ia datang...”, maaf jadi agak lucu
kedengarannya ya, ha ha ha. Apakah Tuhan Yesus mati di atas kayu salib hanya
untuk yang sudah Ia pilih untuk percaya atau untuk semua umat manusia yang mau
percaya kepada-Nya? Kalau begitu Tuhan Yesus itu pilih kasih dong. Jika Tuhan Yesus memang pilih kasih
seperti itu, lebih baik Ia memilih orang-orang Yahudi sebanyak-banyaknya untuk
percaya dan diselamatkan, buat apa pilih kita dari bangsa lain? Semoga saja Anda termasuk yang sudah
dipilih-Nya (untuk percaya) sebelum dunia dijadikan karena saya rasa-rasanya
tidak memenuhi syarat untuk dipilih-Nya. Tetapi puji Tuhan, karena kasih
karunia-Nya saya tergabung ke dalam golongan orang-orang percaya. Haleluya!
Tanggapan Budi Asali:
Apakah hak anda untuk
menuntut Allah memberi dengan sama rata? Memang doktrin Predestinasi seolah2
menunjukkan Allah tidak adil. Karena itu baca Ro 9:14. Munculnya pertanyaan
’apakah Allah tidak adil?’ justru membuktikan bahwa dalam text itu Paulus
memang mengajarkan doktrin predestinasi ini.
Saya tak merasa perlu untuk
membahas hal ini panjang lebar. Kalau mau saya bisa kirimkan buku saya tentang
Predestinasi kepada anda. Dan kalau anda bisa membantahnya saya akan ikut
pandangan anda. Saat ini saya lebih tertarik untuk membahas pandangan
Sabelianisme anda.
Terus terang, saya sama
sekali tidak yakin bahwa anda adalah orang percaya! Siapapun menolak Allah
Tritunggal, sama dengan menolak Firman Tuhan. Dan Yesus berkata bahwa yang
termasuk dombaNya akan mendengarkan suaraNya! Yoh 10:27!
4) Pak Budi, kata ”freewill”
memang tidak ada di dalam Alkitab, tapi ada kata-kata ”setiap orang yang percaya” (secara sederhana berarti tidak percaya
juga boleh, tapi binasa) ”barangsiapa
yang mau” (Wahyu 22:17) dan juga
ada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat di dalam kitab Kejadian sehingga
manusia bisa memilih untuk taat atau tidak taat.
Tanggapan Budi Asali:
Yang bebas orangnya atau kehendaknya?
Orangnya bukan? Lalu mengapa istilahnya free will?
Juga, kalau anda mengatakan
bahwa keselamatan tergantung orangnya, lalu bagaimana anda menafsirkan Yoh
6:44,65 – ”(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia
tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada
akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan
kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak
mengaruniakannya kepadanya."”. Juga 1Kor 12:3b – ” tidak ada seorangpun,
yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus”.
Kata ”sakramen” memang tidak
ada di dalam Alkitab tapi misalnya tentang Perjamuan Kudus ada perkataan Tuhan
Yesus, ”...perbuatlah ini menjadi
peringatan akan Aku” (1 Korintus
11:24) dan ”...perbuatlah ini,
setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1 Korintus 11:25).
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak tanya tentang
Perjamuan Kudus, tetapi tentang Sakramen. Anda menggunakan istilah yang tak ada
dalam Kitab Suci. Tetapi menyalahkan kami yang menggunakan istilah ’Tritunggal’
karena istilah itu tak ada dalam Kitab Suci. Masih tak mau mengaku bahwa
serangan anda ini menunjukkan ketidak-konsistenan?
Rupanya Pak Budi tidak sedang
tulus untuk mencari kebenaran tetapi mau menjebak saya, wah ada udang di balik
batu neh. Sedangkan kata ”tritunggal” atau ”trinitas” memang jelas-jelas tidak
ada dalam Alkitab dan memang tidak ada kata-kata yang misalnya jelas-jelas
menyatakannya, misalnya: ”Allah punya tiga Pribadi”; ”Ketiga Pribadi
Allah”; ”Tuhan adalah tiga-tiganya” atau ”Nama-Nya adalah
tiga-tiganya” (lihat Zakharia 14:9
”Maka TUHAN akan menjadi Raja atas
seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya
dan nama-Nya satu-satunya”)
atau ”ketiganya yang esa” (wah yang ini sih cuma ada di lagu penutupan
’doxology’). Tidak ada ”Allah tritunggal”, yang ada ”TUHAN itu Allah kita,
TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4).
Tanggapan Budi Asali:
Terus terang, pertanyaan
saya tentang sakramen / free will memang hanya merupakan taktik saya. Apakah
ini salah? Nabi Natan juga ’menjebak’ Daud supaya Daud sadar akan kesalahannya
(2Sam 12:1-dst). Jadi, tidak salah cara seperti itu bukan? Saya gunakan taktik,
sama dengan Natan gunakan taktik. Bedanya Daud sadar dan bertobat, anda tidak!
Tentang ayat2 yang
menunjukkan ketunggalan Allah, anda tak perlu menunjukkan kepada saya. Saya
tahu dan percaya ayat2 itu, karena tanpa ayat2 itu saya akan menjadi Tritheisme
(kepercayaan thdp 3 Allah).
Bahwa Bapa, Anak dan Roh
Kudus adalah Allah, anda sudah percaya, jadi saya juga tak perlu membuktikannya
kepada anda.
Tetapi bahwa Bapa, Anak dan
Roh Kudus adalah 1 pribadi atau 3 pribadi, itu yang menjadi perbedaan kita,
bukan?
Sekarang, kalau Bapa, Anak
dan Roh Kudus itu memang hanya 1 pribadi, tolong jelaskan hal2 ini:
a) Bagaimana mereka bisa saling
mengutus? Kalau ajaran anda benar, Allah itu sama seperti saya, yang bisa
menjadi ayah (bagi anak saya), suami (bagi istri saya), dan guru / dosen (bagi
murid2 saya). Bisakah saya sebagai suami mengutus saya sebagai dosen, dsb?
Tetapi Bapa mengutus Anak (jangan bilang Anak diutus sebagai manusia! Ia diutus
untuk menjadi manusia / turun ke dalam dunia! Gal 4:4-5 Yoh 3:17
Yoh 6:38 Yoh 8:42 Yoh 10:36
Yoh 17:18 Ro 8:3 1Yoh 4:9), dan Bapa dan Anak mengutus Roh
Kudus (Yoh 14:26 Yoh 15:26 Yoh 16:7
1Pet 1:12).
b) Bagaimana mereka bisa bicara
satu thdp yang lain. Bisakah saya sebagai dosen bicara kepada saya sebagai
ayah? Bisa, kalau saya gila! Tetapi Roh Kudus berbicara kepada Allah (Ro 8:26)!
c) Adanya
penggunaan kata bentuk jamak untuk Allah atau dalam hubungannya dengan Allah:
1. Kata ganti orang
bentuk jamak.
Contoh: Kej 1:26 3:22 11:7.
Tetapi ini tidak mungkin, sebab kalau dalam Kej 1:26
diartikan bahwa ‘Kita’ itu menunjuk kepada Allah dan para malaikat, maka
haruslah disimpulkan bahwa:
a. manusia juga diciptakan menurut gambar dan
rupa malaikat.
b. Allah
mengajak para malaikat untuk bersama-sama menciptakan manusia, sehingga kalau
Allah adalah pencipta / creator, maka
malaikat adalah co-creator (= rekan
pencipta).
Disamping itu, kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak
untuk menyatakan Allah, keluar sekaligus dalam satu
ayat, yaitu dalam Yes 6:8 yang dalam versi NASB menterjemahkan: “Whom
shall I send and who will go for Us?” (= Siapa yang akan Kuutus dan siapa yang mau pergi untuk Kami?).
Catatan: Dalam
Yes 6:8 ini, Kitab Suci bahasa Indonesia (baik
terjemahan lama maupun baru) salah terjemahan!
2. Kata kerja dalam
bentuk jamak.
Contoh:
·
Kej 20:13 -
kata-kata ‘menyuruh aku mengembara’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja
bentuk jamak.
·
Kej 35:7 - kata
‘menyatakan’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak.
·
2Sam 7:23 - kata
‘pergi’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak.
·
Maz 58:12 - kata
‘memberi keadilan’ dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak (sebetulnya
ini bukan kata kerja tetapi participle).
Padahal dalam ayat-ayat di atas ini,
subyeknya adalah kata ‘ELOHIM’ yang digunakan untuk menyatakan Allah yang esa.
3. Kata-kata bentuk
jamak lainnya seperti dalam:
·
Pengkhotbah 12:1 -
kata ‘pencipta’ (creator), dalam
bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak, sehingga seharusnya terjemahannya
adalah ‘creators’ (=
pencipta-pencipta).
·
Maz 149:2 -
kata-kata ‘yang menjadikannya’, dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak.
·
Yos 24:19 - dalam
bahasa Ibraninya, kata ‘kudus’ ada dalam bentuk jamak, tetapi kata ‘cemburu’
ada dalam bentuk tunggal.
Jadi, kalau dalam Yes 6:8 digunakan kata ganti orang
bentuk tunggal dan jamak untuk menunjuk kepada Allah, maka di sini digunakan
kata sifat bentuk tunggal dan jamak terhadap diri Allah.
d) Beberapa
ayat dalam Kitab Suci membedakan Allah yang satu dengan Allah yang lain
(seakan-akan ada lebih dari satu Allah).
·
Maz 45:7-8.
Karena dalam ayat ini Kitab Suci
Psalm 45:6-7 (NASB): “Thy throne, O God, is forever and ever ... Therefore God,
Thy God has anointed Thee” (= TahtaMu, Ya Allah, kekal
selama-lamanya. Karena itu, Allah, AllahMu telah
mengurapi Engkau).
Bandingkan dengan Ibr 1:8-9.
·
Maz 110:1.
Juga untuk ayat ini perhatikan terjemahan
NASB di bawah ini.
Psalm 110:1 (NASB): “The
LORD says to my Lord ...” (= TUHAN berkata kepada Tuhanku).
Bandingkan dengan Mat 22:44-45.
·
Hos 1:7 (NASB):
“But I will have compassion on the
house of Judah and deliver them by the LORD their God, and will not
deliver them by bow, sword, battle, horses, or horseman” (= Tetapi Aku
akan berbelaskasihan kepada kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka dengan /
oleh TUHAN Allah mereka, dan tidak akan menyelamatkan mereka oleh / dengan
busur, pedang, pertempuran, kuda-kuda, atau penunggang-penunggang kuda).
·
Kej 19:24 -
“Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas
·
Amsal 8 berbicara
tentang ‘hikmat Allah’. Kalau dilihat dari istilahnya, yaitu ‘hikmat Allah’ [the wisdom of God (= hikmat dari
/ milik Allah)], maka jelas bahwa ‘hikmat Allah’ ini tidak sama
dengan Allah.
Tetapi Amsal 8 ini lalu
mempersonifikasikan ‘hikmat Allah’ itu dan menunjukkannya sebagai seorang
pribadi yang bersifat kekal (Yesus). Dengan kata lain, hikmat Allah itu juga adalah Allah (bdk.
1Kor 1:24 - “Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah”).
·
Penampilan dari
Malaikat TUHAN (Kej 16:2-13 22:11,16
31:11,13 48:15,16 Kel 3:2,4,5
Hak 13:20-22).
Sama seperti istilah ‘hikmat Allah’ di atas, maka istilah ‘Malaikat
TUHAN’ ini juga menunjukkan bahwa ‘Malaikat TUHAN’ (the Angel of the LORD) ini tidak sama
dengan Allah.
Tetapi, sekalipun dalam bagian-bagian tertentu Malaikat
TUHAN itu disebut sebagai Malaikat TUHAN, dalam bagian-bagian lain Ia juga disebut sebagai Allah / TUHAN sendiri.
Contoh:
*
dalam Kej 16:7 - disebut sebagai Malaikat TUHAN.
*
dalam Kej 16:13 - disebut sebagai TUHAN sendiri.
*
dalam Kej 22:11 - disebut sebagai Malaikat TUHAN.
*
dalam Kej 22:12 - disebut sebagai Allah sendiri.
Juga, dalam Kel 23:20-23, malaikat TUHAN ini mempunyai kuasa
untuk mengampuni dosa.
Semua ini menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN
itu adalah Allah / TUHAN sendiri.
e) Lalu bagaimana dengan ayat2 ini?
·
Yoh 10:30 - ”Aku dan Bapa adalah satu.’”.
Terjemahan hurufiahnya: ’I and
the Father, we are one’!
·
Yoh 14:23 - ” Jawab Yesus: ’Jika
seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia
dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”.
·
Mat 28:19 – ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.
Terjemahan hurufiah bagian yang
saya garis-bawahi adalah ’in the name of the Father, and of the
Son, and of the Holy Spirit’. Mengapa kata2 ’of the’ diulang terus? Tak
menunjukkan 3 pribadi? Tetapi kata ’name’ ada dalam bentuk tunggal. Ini
menunjukkan ketiga pribadi itu dalah satu, karena hakekatnya hanya satu.
·
Yoh 14:1 – ”’Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah,
percayalah juga kepadaKu”. Kalau Yesus adalah Bapa, untuk apa percaya
kepada Bapa dan kepada Yesus? Bukankah salah satu sudah cukup?
Pak Budi, terserah dan silakan terus ajarkan pengajaran Tertullianus
(tritunggal) jika Anda mau, tetapi saya akan terus sampaikan pengajaran yang
Apostolik dan Alkitabiah bahwa hanya ada
satu Pribadi Allah dengan tiga peranan utama sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Pak, lebih baik Anda belum mengetahui apa-apa tentang hal-hal yang saya
sudah sampaikan, daripada setelah Anda mengetahuinya, tetapi tidak melakukan
apa-apa sehingga tanggung jawab akan Tuhan Yesus tuntut dari Anda.
Tanggapan Budi Asali:
Secara sama saya sampaikan ’ancaman’ kepada anda. Saya
sudah memberikan bukti2 kepada anda bahwa Allah mempunyai 3 pribadi, bukan 3
perwujudan! Kalau anda sudah membacanya, mengertinya, dan tidak bisa
membantahnya, tetapi tetap berkeras dengan pandangan anda, maka anda adalah
orang yang tegar tengkuk. Dan untuk itu anda harus bertanggung jawab!
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Kepada
Yth Bpk Tjantana Jusman
Terima kasih atas jawaban bapak yang bukan hanya cepat
tetapi juga cukup panjang lebar. Di
bawah ini saya mengembalikan email bapak yang terakhir, dengan saya beri
komentar / pertanyaan saya disela-selanya.
Mohon tanggapan bapak, dan terima kasih sebelumnya.
Budi Asali.
Kepada Yth. Bpk Budi Asali,
Terima kasih atas tanggapan Pak Budi yang juga cepat dan malahan
lebih panjang lebar. Kalau saja saya dapat menjawab dengan singkat, tentunya
saya juga maunya begitu. Setelah membaca tanggapan Anda seluruhnya, Pak Budi
sudah terlalu yakin akan pengajaran predestinasi dan tritunggal, tidak
mungkin Anda meninggalkannya lagi jika tidak merendahkan hati untuk menerima
pengajaran para Rasul (Apostolik) dan yang Alkitabiah (sesuai ayat Alkitab
secara harfiah), bukan pengajaran atau penafsiran saya sendiri lho. Dan juga,
Pak Budi sudah mendapatkan argumentasi saya di dalam buku saya, untuk apa
kita berdebat? Bukankah cuma menghabiskan waktu saja? Lebih baik, baca satu
kali lagi buku saya, kalau Anda tidak setuju tidak apa-apa, saya tidak memaksa,
kalau Pak Budi mau, silakan saja buku saya itu dibuang atau dibakar karena Anda
anggap bidat atau ajaran sesat (tetapi sayangnya justru Apostolik dan
Alkitabiah), selanjutnya Anda dan saya nanti yang bertanggung jawab di hadapan
Tuhan Yesus, cukup adil bukan?
Tanggapan Budi Asali:
Saya seringkali mengubah pandangan saya kalau saya
menemukan tulisan yang mempunyai argumentasi yang kuat yang tidak bisa saya
bantah. Jadi, bukan persoalan kerendahan hati, tetapi persoalan apakah ajaran
itu sesuai dengan Alkitab dan ditafsirkan dengan benar atau tidak.
Yang saya ingin tahu adalah sebaliknya, yaitu apakah anda
cukup rendah hati untuk mengubah pandangan anda, kalau saya bisa membuktikan
kesalahan, dan bahkan kesesatan, ajaran anda?
Tanggapan Tjantana:
Kalau Anda bisa membuktikan kesalahan dan kesesatan saya,
saya akan dengan rendah hati menerimanya tetapi rasa-rasanya kok saya malahan
jadi semakin yakin dengan apa yang saya pegang
sebagai kebenaran yaitu Allah itu esa dan yang namanya esa, ya satu pribadi, mana mungkin Allah yang esa kok tiga
pribadi? Orang yang sederhana saja (tidak usah sampai M.Div) dapat
mengerti akan hal ini. Pak, Firman Tuhan itu bukan hanya untuk para teolog,
kalau begitu kasihan dong, wong deso, ora iso ngerti. Teolog seperti Anda lah
yang membuatnya rumit. Mungkinkah orang-orang desa ini termasuk yang tidak
dipilih untuk percaya (sesuai teori predestinasi Anda)? Kasihan sekali mereka
ini dan takdir mereka buruk sekali ya, sudah miskin tidak terpilih lagi.
Anda mengatakan ’terlalu yakin’. Apakah ’terlalu yakin’
itu salah, kalau yang diyakini memang merupakan sesuatu yang benar?
Kelihatannya, anda segan berdebat dengan saya. Apakah
anda berpendapat bahwa berdebat merupakan sesuatu yang salah? Paulus berdebat,
demikian juga Stefanus, pada saat ia kepenuhan Roh Kudus. Jadi, itu tak harus
salah.
Tanggapan Tjantana:
Bagaimana Anda yakin akan kebenaran
yang Anda pegang kalau di dalam Alkitab tidak
pernah dinyatakan misalnya bahwa Allah kita punya 3 Pribadi; Allah
itu tiga pribadi; ketiga Pribadi Allah; Allah itu tiga-tiganya,
nama-Nya adalah tiga-tiganya, ketiganya yang esa, atau yang
mirip-mirip dengan pernyataan-pernyataan seperti ini? Pengajaran tritunggal Anda itu
semuanya tersirat saja, kok bisa-bisanya Anda mau mengikutinya. Anda khan dari
kaum akademisi, selidiki dulu siapa pencetus tritunggal, bukankah Tertullianus
di tahun 196 M? Kalau anda tetap mau ikut dia, silakan, saya tidak melarang
kok. Di Konsili Nicea pada tahun 325M yang kumpul sekitar 300 uskup dan Kaisar
Konstantinus, merekalah yang mengesahkan doktrin tritunggal, padahal mereka
adalah cikal bakal Roma Katolik. Doktrin
tritunggal adalah doktrin Roma Katolik, Anda ini orang Kristen atau Katolik
ya?
Silakan lihat lampiran email ini yang merupakan cuplikan buku saya yang lain
berjudul ”Tanggapan Manis Tanggapan
Seru” (buku ini tidak dijual di toko buku karena ada membahas kepercayaan
lain, untuk kalangan sendiri) halaman 20-22. Pengajaran tritunggal adalah warisan Roma Katolik dan menjadikan Allah sebagai tiga Tuhan,
sangat berbahaya, sadarlah sebelum terlambat.
Pak Budi, Anda begitu mengesankan sampai-sampai saya
segan dengan anda, aduh takut saya dibuatnya, sampai merinding nih bulu kuduk
saya. Tapi sebenarnya sih, yang lebih tepat saya enggan untuk berdebat bukannya
segan, ketahuilah bahwa cuma Tuhan Yesus yang saya
segani.
Pak, adakah seseorang dimenangkan kepada suatu pengajaran
hanya karena ia kalah berdebat atau karena pihak yang satunya menang berdebat?
Inilah yang saya maksudkan percuma saja
berdebat. Kalau Anda boleh terlalu yakin dengan pengajaran manusia
(tritunggal), silakan lanjut. Saya pun berhak untuk terlalu yakin dengan
Keesaan Tuhan dan saya akan terus mengajarkannya sampai saya mati. Tinggal
nanti kita berdua masing-masing bertanggung jawab kepada-Nya, bukankah ini cukup
adil? Anda sepertinya kok memaksa saya untuk percaya kepada pengajaran tritunggal padahal saya
tidak memaksakan pengajaran Tuhan itu
esa kepada Anda.
Saya ingin anda baca ayat ini: 1Pet 3:15 – ”Dan siap
sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap
orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada
padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat”.
Sekarang saya meminta pertanggungan jawab tentang ajaran
anda, dan ayat Kitab Suci ini mengharuskan anda memberikannya. Maukah anda
tunduk pada Firman Tuhan ini?
Saya berdebat dengan anda, supaya kalau mungkin saya bisa
mempertobatkan anda dari pandangan sesat anda. Saya adalah hamba Tuhan, dan itu
panggilan saya. Apakah tidak mungkin saya, dengan pertolongan Roh Kudus,
mengubah pandangan anda? Atau anda sendiri juga sudah ’terlalu yakin’ dengan
pandangan Sabelianisme anda?
Kalaupun setelah berdebat saya tak berhasil
mempertobatkan anda, saya tak menganggap itu sebagai buang waktu, tenaga
ataupun pikiran. Firman yang saya beritakan, atau mempertobatkan anda, atau
akan menghakimi anda pada hari penghakiman.
Tanggapan Tjantana:
Wow, ternyata Tuhan Yesus sungguh luar biasa penuh kasih
dan pengertian dengan saya, Dia yang adalah Tuhan saja tidak memaksa
pertanggungan jawab dari saya tetapi Anda menuntutnya? Ya, Anda adalah hamba
Tuhan tritunggal dan saya hamba Tuhan yang esa. Kalau memang Anda benar-benar tulus,
silakan saja doakan saya supaya Roh Kudus menjamah dan menobatkan saya dan saya
juga mendoakan hal yang sama buat Anda, adil bukan?
Tidakkah Pak Budi mengerti bahwa buku saya (Rahasia Pribadi Allah dan VCD Rahasia Tuhan) adalah
bentuk pertanggungan jawab saya akan apa yang saya percayai? Anda yang
bergelar M. Div tentunya gemar membaca, cari saja argumentasi saya di dalam
buku saya tersebut, kalau Anda tidak setuju, silakan dibuang atau dibakar, itu
hak Anda.
Betul, Tuhan Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan tentu saja saya
menekankan Injil karena Injil (menurut Alkitab sendiri bukan kata saya) adalah
kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma
1:16).
Tanggapan Budi Asali:
Pada waktu anda mengatakan bahwa Yesus adalah satu2nya
Juruselamat, apakah bapak bermaksud untuk mengatakan bahwa orang-orang yang
tidak percaya kepada Yesus semuanya akan masuk neraka, tak peduli agama apapun
yang mereka anut dan bagaimana salehnya mereka hidup?
Tanggapan Tjantana:
Yang saya katakan adalah siapa saja yang percaya
kepada-Nya akan selamat. Menurut Pak Budi sendiri orang yang tidak percaya
sehingga tidak diselamatkan masuk ke mana?
Tanggapan Budi Asali:
Saya hanya bertanya kan? Kalau anda mengatakan orang yang
tak percaya Kristus semua akan masuk neraka, saya setuju dengan anda. Saya
yakin bahwa Yesus secara mutlak adalah satu2nya jalan ke surga!
Waspadalah bahwa penentuan akhir masuk Surga atau Neraka
adalah hak prerogatif Sang Hakim Agung, Yesus Kristus sendiri.
Tanggapan Budi Asali:
Ya, tetapi jangan lupa bahwa Ia sudah memberi persyaratan
untuk masuk surga, yaitu harus beriman kepadaNya. Jadi, bukan menghakimi kalau
kita mengatakan bahwa orang-orang yang tidak percaya kepadaNya akan masuk ke
neraka!
Yang saya percayai adalah bahwa kita diselamatkan bukan
oleh perbuatan baik tetapi oleh permandian kelahiran kembali (bukankah
permandian di sini berbicara tentang pembaptisan air?) dan oleh pembaharuan
yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Roh Kudus yang kita terima lah yang memperbaharui
roh dan hati kita). Silakan lihat Titus 3:5.
Titus 3:5 ”Pada waktu
itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah
kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”.
Tanggapan Budi Asali:
Perhatikan terjemahan KJV di bawah ini.
KJV: ‘Not by works of righteousness which we have
done, but according to his mercy he saved us, by the washing of regeneration,
and renewing of the Holy Ghost’ (= ).
Saya tak
ingin mempersoalkan apa arti bagian itu, tetapi
dilihat dari terjemahan KJV jelas itu tak menunjuk pada baptisan. Jadi, jangan hanya menggunakan Kitab Suci
Tanggapan
Tjantana:
Kalau
begitu menurut Anda “the washing of regeneration” itu apa
kalau bukan menunjuk kepada baptisan? Cuci-cuci atau
mandi-mandi saja? Wah, saya jadi bingung nih.
Sudah jelas bahwa kalau kita mau masuk ke dalam Kerajaan Allah kita ini harus
dilahirkan dari air (baptisan air) dan Roh (baptisan Roh Kudus), lihat Yohanes 3:3-5. Markus 16:16 juga berkata bahwa kita diselamatkan jika percaya
dan dibaptis.
Sebelum kita tahu bagaimana diselamatkan, ada baiknya kita tahu terlebih dahulu, apa itu Injil? Injil adalah kabar baik (Gospel = the good news = kabar baik) tentang Yesus yang mati, dikuburkan, dan dibangkitkan (lihat 1 Korintus 15:3-4).
Nah, supaya tersedia keselamatan, ada 3 hal yang Yesus lakukan tadi (mati, dikuburkan, dan dibangkitkan).
Tanggapan
Budi Asali:
Bukankah ’dikuburkan’ bukanlah sesuatu yang Yesus lakukan? Maksud bapak ’Yesus lakukan’ atau ’Yesus
alami’?
Tanggapan
Tjantana:
Seperti
Yesus mati karena Ia menyerahkan nyawa-Nya demikian
juga ketika Ia dikuburkan, Ia membiarkan diri-Nya dikuburkan, bukankah tubuh
kemanusiaan-Nya sudah mati? Pak Budi, mungkinkah
seseorang yang sudah mati (ingat dan pahami bahwa Yesus selain ilahi, Ia juga manusia – the Dual Nature of Jesus Christ) menguburkan dirinya sendiri?
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak ingin terlalu mempermasalahkan hal
ini, karena ini bagi saya tak penting. Saya hanya memberi komentar tentang hal
ini secara sambil lalu saja.
Tanggapan Tjantana:
Anehnya sudah tahu tidak penting, tapi kok ditanya ke
saya (lihat saja sendiri pertanyaan Anda di atas)? Ini berarti Anda suka mengada-ada,
betul?
Kita adalah orang-orang Kristen (Christian = Christ-like = seperti
Kristus). Tuhan Yesus lakukan 3 hal
supaya ada keselamatan, demikian juga ada 3 hal yang harus kita lakukan supaya
diselamatkan yaitu seperti yang tertulis di dalam Kisah Para Rasul 2:38 dan Roma 6:2-4:
Pak Budi, percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus memang suatu keharusan
jika ingin diselamatkan tetapi tidaklah
cukup hanya percaya (setan-setan pun percaya hanya ada satu Allah,
lihat Yakobus 2:19) tetapi harus
disertai perbuatan ketaatan, kita diselamatkan jika percaya dan
dibaptis (Markus 16:16) dan jika
ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah maka kita harus dilahirkan kembali dari air
(baptisan air) dan dari Roh (baptisan Roh Kudus): Yohanes 3: 3-5.
Tanggapan Budi Asali:
Jadi, bapak percaya bahwa kita diselamatkan bukan hanya
oleh iman, tetapi oleh iman dan perbuatan baik / baptisan? Dan kalau memang
demikian, maka:
Tanggapan Tjantana:
Pak Budi, tenang dulu, jangan buru-buru menuduh atau
menghakimi. Saya tidak mengatakan tentang perbuatan baik tetapi perbuatan ketaatan. Alangkah indahnya jika
menyamakan persepsi terlebih dulu sebelum menuduh. Lihat juga jawaban saya di
atas tentang Titus 3:5. Saya juga sangat diberkati
oleh Efesus 2:8-9.
Tanggapan Budi Asali:
Jangan mengatakan saya menuduh / menghakimi.
Saya kan cuma bertanya? Dan pertanyaan itu saya kira wajar, karena anda
mengatakan di atas bahwa ’percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus memang suatu keharusan jika ingin
diselamatkan tetapi tidaklah cukup
hanya percaya (setan-setan pun percaya hanya ada satu Allah, lihat Yakobus 2:19) tetapi harus disertai perbuatan
ketaatan, kita diselamatkan jika percaya dan dibaptis (Markus 16:16)’.
Bagi saya, kata2 anda artinya adalah seseorang
diselamatkan oleh iman + sesuatu (baptisan, perbuatan baik). Tetapi saya ingin
memastikan apakah itu memang merupakan pandangan anda, dan karena itu saya
menanyakannya.
Tanggapan Tjantana:
Tidak menghakimi bagaimana? Apakah Anda mau menarik kembali apa yang
Anda tuliskan di atas? Memang Anda bertanya, tetapi saya belum memberi
jawab khan? Lalu Anda langsung saja menyimpulkan sambil mengatakan: ”Kalau memang demikian, maka ...”. Wah, Anda ini rumit sekali ya. Yang
saya maksudkan adalah perbuatan ketaatan
(lihat Yakobus 2:17 dan ayat 26)
bukannya perbuatan baik.
Kalau Anda tidak suka dengan perkataan “perbuatan
ketaatan” bagaimana kalau saya katakan begini saja: Percaya atau iman saja tidaklah cukup karena iman tanpa ketaatan sama juga bohong. Anggap saja sebelum Anda menikahi
isteri Anda sekarang, dulu Anda percaya bahwa ia dapat menjadi isteri
yang baik tetapi kalau Anda tidak pernah menikahinya (tanpa perbuatan),
bukankah sama juga bohong? Yang saya maksudkan dengan iman harus disertai
dengan perbuatan ketaatan adalah sebagai berikut.
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh
adalah mati, demikian jugalah iman
tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika
iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Nah, kalau begitu, puji Tuhan, saya tidak perlu menjawab
pertanyaan no. 1) Anda di bawah ini yang sangat panjang lebar.
1) Bagaimana dengan banyak ayat dalam Kitab Suci
yg menunjukkan secara jelas bahwa kita diselamatkan hanya oleh iman, dan sama
sekali bukan oleh perbuatan baik? Contoh:
·
Kis 15:1-11
- ““(1) Beberapa orang datang dari
Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau
kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak
dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan
dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan
Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan
penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. (3) Mereka diantarkan
oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan
Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan
orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati
saudara-saudara di situ. (4) Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat
dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala
sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang
dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata:
‘Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum
Musa.’ (6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan
soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran
mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: ‘Hai
saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari
antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar
berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah, yang mengenal hati manusia,
telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh
Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, (9) dan Ia sama sekali tidak
mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati
mereka oleh iman. (10) Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah
dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat
dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? (11) Sebaliknya,
kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh
keselamatan sama seperti mereka juga.’”.
Bdk. ay 11b dengan Ro 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal
suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih
karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka
kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.
·
Ro 3:24,27-28 - “(24) dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan
cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. ... (27) Jika demikian, apa
dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan
berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman,
dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.
·
Ro 9:30-32
- “(30) Jika demikian, apakah yang hendak kkita katakan? Ini: bahwa
bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah memperoleh kebenaran,
yaitu kebenaran karena iman. (31) Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar
hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. (32)
Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena
perbuatan”.
·
Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh
karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus
Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya
kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam
Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak
ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.
·
Gal 3:6-11
- ““(6) Secara itu jugalah Abraham
percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai
kebenaran. (7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka
itulah anak-anak Abraham. (8) Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui,
bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah
terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan
diberkati.’ (9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang
diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. (10) Karena semua
orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada
tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang
tertulis dalam kitab hukum Taurat.’ (11) Dan bahwa tidak ada orang yang
dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena:
‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’”.
·
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh
iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu
bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
·
Fil 3:7-9
- “(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuuntungan bagiku, sekarang kuanggap
rugi karena Kristus. (8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena
pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh
karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah,
supaya aku memperoleh Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan
kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran
karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan
berdasarkan kepercayaan”.
·
Bahwa perbuatan
baik tidak mempunyai andil dalam keselamatan seseorang, juga bisa terlihat dari
selamatnya penjahat yang bertobat di atas kayu salib, padahal ia hanya percaya
kepada Kristus (pada akhir hidupnya) dan boleh dikatakan tidak mempunyai
perbuatan baik.
Luk 23:42-43 - “(42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang
sebagai Raja.’ (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
2) Apakah Penebusan yang Yesus lakukan bagi kita
di atas kayu salib itu masih kurang, sehingga perlu kita tambahi dengan
perbuatan baik kita sendiri?
Bdk. dengan kata2 ’Sudah
selesai’ di atas kayu salib.
Tanggapan Tjantana:
Apakah saya pernah mengatakan seperti yang Anda tuduhkan?
Kenapa Anda menuduh tanpa menggali dulu tentang apa yang saya maksud dengan
”perbuatan ketaatan”? Apakah saya pernah mengatakan bahwa kita diselamatkan
oleh perbuatan baik? Tidak pernah. Lihat jawaban saya di atas.
Tanggapan Budi Asali:
Kalau perbuatan baik merupakan bukti iman, saya setuju.
Tetapi pemutlakan / pengharusan baptisan, seperti dalam kalangan gereja
Katolik, sebetulnya sudah merupakan ajaran keselamatan karena iman + perbuatan
baik. Bukankah ’menyerahkan diri untuk dibaptis’ merupakan perbuatan kita?
Tanggapan Tjantana:
Betul, memberi diri dibaptis adalah perbuatan kita karena
mentaati atau mengikuti perintah Tuhan Yesus, inilah yang saya maksudkan dengan
perbuatan ketaatan.
3) Penjahat yang bertobat di kayu salib tidak
pernah dibaptis, tetapi Yesus menjamin keselamatannya.
Tanggapan
Tjantana:
Pak Budi,
jika kita bisa mentaati-Nya dalam hidup ini (sehat jasmani dan rohani) untuk
memberi diri
dibaptis, segeralah memberi diri dibaptis. Akankah Yesus memerintahkan si
penjahat
untuk turun dulu (pakunya dicabut dulu), kemudian dibaptis, lalu disalibkan
lagi (pakunya
dipasang lagi)? Pak, bukankah Tuhan Yesus juga berhak untuk tentukan
apakah si
penjahat itu selamat atau tidak selamat dengan atau tanpa baptisan pada saat
itu
dengan menimbang
keadaan saat itu? Inilah yang kita namakan kasus khusus dan tidak
berlaku
umum.
Tanggapan Budi Asali:
Kalau baptisan merupakan sesuatu
yang mutlak bagi keselamatan, dan Tuhan memang ingin menyelamatkan dia, maka Ia
akan memberinya jalan untuk bisa dibaptis, entah bagaimana caranya!
Tentu saya setuju bahwa orang
percaya harus mau dibaptis. Tetapi itu berbeda dengan mengatakan bahwa baptisan
itu punya andil dalam penyelamatan kita. Itu tetap merupakan bukti iman, bukan
syarat keselamatan. Ingat bahwa kasus ’khusus’ itu banyak sekali terjadi. Kalau
terus ada perkecualian, maka itu bisa menjadi umum!
Tanggapan Tjantana:
Kalau baptisan tidak punya andil
dalam keselamatan kita, kenapa Ia memerintahkan kita untuk memberi diri kita
dibaptis (Amanat Agung)? Kenapa juga Petrus memerintahkan orang-orang Yahudi pada hari Pentakosta
untuk dibaptis (Kis. 2:38)? Kalau
memang baptisan tidak ada andil dalam keselamatan, buat apa si sida-sida
Etiopia capek-capek dibaptis oleh Filipus (padahal susah cari air di padang
gurun)?
Siapa bilang kasus khusus banyak
terjadi? Seberapa banyak orang yang disalib
lalu sebelum mati bertobat? Seberapa banyak orang yang benar-benar mau
dibaptis tetapi karena alasan kesehatan (sakit parah atau tidak memungkinkan
untuk dibaptis) tidak jadi dibaptis atau dilarang oleh anggota keluarganya
untuk dibaptis?
Ada berapa ratus juta (bahkan lebih dari 1 milyar) orang
Kristen yang dibaptis seperti praktik pada umumnya? Untuk apa menjadikan
kasus khusus menjadi praktik umum padahal yang jelas-jelas berlaku umum bagi
semua orang percaya sudah dinyatakan di dalam Alkitab?
4) Gereja / jemaat Galatia didirikan oleh Paulus
dg memberitakan kepada mereka bahwa mereka diselamatkan hanya oleh iman. Tetapi
lalu orang-orang Yahudi, mengajarkan kepada mereka bahwa mereka tidak mungkin
diselamatkan oleh iman saja, tetapi juga harus disunat, dan mentaati hukum
Taurat. Karena
itu Paulus menuliskan surat Galatia itu untuk meluruskan jemaat dari penyesatan
itu. Itu sebabnya dalam seluruh surat Galatia sangat ditekankan bahwa seseorang
diselamatkan bukan karena menuruti hukum Taurat, tetapi hanya karena iman. Ia
bahkan mengecam Injil yang diberikan orang-orang itu sebagai Injil yang lain /
berbeda, dan mengecam mereka sebagai ’terkutuk’ (Gal 1:6-9).
Juga, kalau bapak menganggap bahwa kita diselamatkan
karena iman dan perbuatan baik, maka saya ingin tanya satu hal ini: apakah
bapak yakin kalau detik ini bapak mati, bapak PASTI masuk surga? Kalau bapak
yakin, berdasarkan apa? Bukankah bapak tidak tahu banyaknya perbuatan baik
maupun dosa yang bapak lakukan? Dan bukankah bapak juga tidak mungkin bisa tahu
apakah perbuatan baik yang bapak lakukan itu sudah mencapai standard yang Tuhan
tentukan? Kalau bapak tidak yakin, apa gunanya mengikuti agama / kepercayaan
yang tidak memberikan keyakinan masuk surga? Dan sebagai orang yang tahu Kitab
Suci, bapak pasti tahu bahwa neraka itu sangat mengerikan. Bagaimana bapak bisa
tidur kalau ada kemungkinan besok bapak akan mati dan masuk ke tempat
mengerikan itu?
Tanggapan Tjantana:
Pertanyaan Anda yang nomor 4) dikarenakan salah tuduh,
kita diselamatkan oleh iman dan iman yang disertai oleh perbuatan ketaatan (sekali
lagi bukan perbuatan baik semata) seperti yang Anda tuduhkan.
Pak Budi, saya yakin kalau saya mati pada detik ini, saya
masuk ke Surga karena iman saya disertai perbuatan ketaatan, saya sudah mengikuti perintah-perintah
Tuhan Yesus (bertobat, dibaptis, dan terima Roh Kudus, terus hidup dalam
kebenaran dan kekudusan) dan setiap hari saya berdoa pertobatan kalau-kalau
saya berdosa baik yang disengaja atau pun yang tidak disengaja. Pak, setiap
hari saya tidur sangat nyenyak dan teramat yakin kalau saya sampai dipanggil
Tuhan Yesus, saya bertemu Dia muka dengan muka. Pak Budi, apakah Anda yakin
kalau mati pada detik ini juga Anda masuk Surga? Apakah setiap hari Anda bisa
tidur nyenyak atau terbangun-bangun ketakutan karena tidak yakin akan
keselamatan Anda? Atau mungkin ada kekuatiran karena pada hari ini, Anda baru
berdoa kepada Allah Bapa saja tapi belum kepada Allah Anak dan lupa berdoa
kepada Allah Roh Kudus? Padahal di dalam Alkitab tidak pernah ada tersebut
Allah Anak atau Allah Roh Kudus, cuma ada Allah Bapa.
Tanggapan Budi Asali:
Orang yang mengaku Kristen tetapi tak yakin
keselamatannya, menurut saya bukan Kristen. Tetapi orang yang yakin
keselamatannya belum tentu Kristen. Orang bisa saya yakin, karena ia punya
keyakinan yang dari setan. Ini bukan tuduhan, hanya analisa. Juga Kitab Suci
mengatakan bahwa ada jalan yang disangka orang lurus tetapi ujungnya menuju
kepada maut.
Saya yakin mutlak akan keselamatan saya. Saya memang
mempunyai insomnia, tetapi itu tak ada hubungannya dengan ’takut masuk neraka’.
Tanggapan Tjantana:
Kalau begitu hal yang sama saya katakan kepada Anda juga
yang katanya yakin akan keselamatan tetapi ujungnya kebinasaan, bagaimana?
Cukup adil? Tapi sebenarnya sih saya
berharap bahwa Anda juga diselamatkan dan kita bisa bertemu di Surga.
Pak, insomnia Anda disebabkan oleh kerumitan pikiran Anda dan adanya
sesuatu yang belum terpuaskan dalam hidup Anda? Ngomong-ngomong, pendeta
kok ngak bisa tidur ya? Raja Daud yang sedang dikepung musuh saja bisa tidur
(setelah berdoa) dan keesokan harinya mendapat kekuatan baru. KDL dong, maksud
saya Kasihan Deh Loe. Maaf, bercanda lho!
Kata2 anda di atas ’Atau mungkin ada kekuatiran karena
pada hari ini, Anda baru berdoa kepada Allah Bapa saja tapi belum kepada Allah
Anak dan lupa berdoa kepada Allah Roh Kudus? Padahal di dalam Alkitab tidak
pernah ada tersebut Allah Anak atau Allah Roh Kudus, cuma ada Allah Bapa’ menunjukkan:
a) Ketidak-mengertian anda tentang doktrin Allah
Tritunggal. Saya bukan percaya 3 Allah! Berdoa kepada yang manapun dari Mereka
tak jadi soal. Tak pernah ada keharusan berdoa kepada ketiga2nya setiap hari!
b) Anda memang punya kepercayaan keselamatan
karena perbuatan baik. Kalau tidak, mengapa ’tidak berdoa’ atau ’lupa berdoa’
lalu menyebabkan harus kuatir akan keselamatan?
Lagi2 anda mempermasalahkan bahwa istilah itu tak ada
dalam Alkitab. Anda sendiri mempercayai sakramen dan free will yang juga tak
ada istilahnya dalam Kitab Suci. Saya mau beri anda 1 milyar kalau anda bisa
menemukan istilahnya dalam Kitab Suci (kecuali kalau itu salah terjemahan).
Istilahnya tak ada, tetapi ajarannya ada. Itu yang
penting! Istilah Anak dan Roh Kudus ada, dan kita sama2 percaya bahwa Anak dan
Roh Kudus adalah Allah. Lalu apa salahnya kalau disebut Allah Anak, dan Allah
Roh Kudus?
Tanggapan Tjantana:
a) Memang saya tidak akan pernah
mengerti doktrin tritunggal yang tidak diajarkan oleh para Rasul dan tidak
Alkitabiah. Anda bilang tidak percaya tiga Allah tetapi Anda percaya bahwa Allah punya tiga pribadi dan masing-masing punya
nama sendiri-sendiri: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, bukankah
dengan demikian Anda menjadikan Allah yang esa menjadi 3 Allah?
b) Wah, yang punya insomnia sehingga tidak bisa tidur
nyenyak itu saya atau Anda ya? Carilah keseluruhan kebenaran
tentang Pribadi Allah dan keselamatan, barulah Anda bisa tidur nyenyak, dan
tiba-tiba insomnia hilang begitu saja.
Saya melakukan sakramen karena ada pernyataan tertulisnya
di dalam Alkitab (1 Korintus 11:24 dan
sekali lagi di ayat 25) demikian juga halnya dengan freewill (Yohanes 3:16 dan Wahyu 22:17), tetapi
tentang tritunggal, mana pernyataan yang tertulisnya dan cukup yang sederhana saja seperti: Allah kita punya 3 Pribadi; Allah itu tiga pribadi; ketiga
Pribadi Allah; Allah itu tiga-tiganya, nama-Nya adalah
tiga-tiganya, atau ketiganya yang esa? Mana? Tidak ada, bukan? Kenapa Anda masih saja mau mengikuti tradisi gereja Roma Katolik?
Apalagi menyangkut Nama Allah, tidak pernah disebut barang satu kali pun Allah Anak atau Allah Roh
Kudus? Memang tidak ada yang demikian karena Nama Bapa adalah Yesus, Nama
Anak, jelas Yesus, dan Nama Roh Kudus adalah Yesus. Sederhana bukan? Buat apa
repot-repot?
Perhatikan bahwa apa yang saya sampaikan sampai pada surat yang kedua ini,
saya selalu memakai ayat-ayat Alkitab. Pengajaran yang kita harus ikuti adalah
pengajaran yang diajarkan para Rasul (Apostolik) dan sesuai Alkitab
(Alkitabiah). Kenapa harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para Rasul? Karena para Rasul adalah dasar
gereja (keluarga Allah) seperti tercantum di Efesus 2:19-20.
Tanggapan Budi Asali:
Semua orang mengclaim seperti itu, tetapi penafsirannya
yang menentukan. Saksi Yehuwa sangat banyak menggunakan Alkitab, tetapi
penafsirannya begitu kacau, sehingga mereka harus dianggap sebagai bidat /
sekte. Bdk. 2Pet 3:15-16.
Tanggapan Tjantana:
Karena itu kita harus memakai penafsiran para Rasul dan mengikuti
pengajaran para Rasul (Apostolik) dan yang Alkitabiah (ayat demi ayat
mengajarkannya secara konsisten, tersurat, tercatat, dan bukan tersirat) dan
jika memungkinkan, pengamatan langsung
(melalui apa yang tertulis di dalam Alkitab) atas apa yang dilakukan para
Rasul sebagai teladan. Misalnya jika mereka membaptis (pada jemaat mula-mula)
dalam Nama Tuhan Yesus, maka inilah yang kita lakukan bukannya di dalam Nama
Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus. Yang
tersirat terbuka kepada penafsiran sendiri-sendiri. Saksi Yehova jadi kacau
karena tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat; bagi mereka,
Yesus adalah jelmaan malaikat Mikhael. Kami Pentakosta (yang percaya bahwa
hanya ada 1 Pribadi Allah dengan 3 peranan utama sebagai Bapa, Anak, dan Roh
Kudus) jelas-jelas percaya kepada Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu kenapa kami dicap ‘sesat’ hanya karena
tidak percaya kepada tritunggal (yang jelas-jelas tidak Apostolik dan
Alkitabiah)?
Tanggapan Budi Asali:
Sama saja. Orang bisa saja menyangka
ia sudah menggunakan penafsiran rasul2, tetapi sebetulnya tidak. Ajaran yg tersuratpun hrs
ditafsirkan bersama2 ayat2 lain yg berhubungan.
Anda tak mau ajaran yg hanya tersirat? Dlm Mat 22:31-32
Yesus sendiri memberikan pengajaran secara implicit. Apakah anda melarang orang
Kristen merokok? Kalau ya, dg ayat explicit yg mana?
Justru ajaran anda ttg baptisan sangat tidak saya
setujui. Yesus mengajar untuk membaptis dlm nama Bapa, Anak, dan RK, tetapi
anda justru mengajar hrs dlm nama Tuhan Yesus Kristus. Tetapi ttg doa, Yesus
mengajar hrs berdoa dlm namaNya / nama Yesus (Yoh 16:24), tetapi anda justru
mengajar hrs berdoa dlm nama Bapa, Anak, dan RK (hal 64 dr buku anda). Itukah
yg anda katakan sbg alkitabiah?
Pd waktu kata2 Yesus dlm Mat 28:19 itu kelihatannya
bertentangan dengan praktek pembaptisan dlm Kisah Rasul, mengapa bukan ayat2
dlm Kisah Rasulnya yg ditafsirkan secara berbeda? Misalnya dg mengatakan bahwa
kata ‘nama’ di sana berarti ‘atas perintah / otoritas’ dr Yesus.
Tanggapan Tjantana:
Dari email sebelumnya saya juga sudah bilang, kalau anda
tidak setuju dengan apa yang saya sampaikan, tidak apa-apa kok, tetapi kenapa
anda merasa dapat membelokkan saya dari apa yang sudah saya percayai?
Anda ini
sudah benar-benar membaca buku saya (Rahasia Pribadi Allah) apa belum? Saya tidak pernah mengajarkan berdoa di dalam nama Bapa,
Anak, dan Roh Kudus. Anda kok bisanya cuma menuduh terus ya? Secara logika saja, kalau saya
mengajarkan berdoa secara demikian berarti saya setuju dengan tritunggal yang jelas-jelas
saya tentang habis-habisan.
Sampai detik ini pun Anda belum mengerti bahwa apa yang
saya ikuti adalah apa yang benar-benar dilakukan oleh para Rasul dengan
pengamatan akan apa yang mereka lakukan ketika mereka membaptis. Tidak pernah sekali pun mereka membaptis
dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.
Saya cuma penerus Rasul karena itu tidak mau menafsirkan
dengan penafsiran sendiri, kalau Anda mau memakai penafsiran terbalik, silakan
saja. Tapi yang jelas tidak ada yang mau ikut Anda yang juga cuma penerus
Rasul.
Demikian juga halnya dengan pengajaran predestinasi. Apakah para Rasul
mengajarkannya dan Alkitab mencatatnya? Kalau pun ada dikatakan oleh seorang
Rasul di dalam Alkitab, tetapi apakah penafsirannya sudah benar?
Perhatikan Efesus 1:4-5 di bawah
ini:
1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus
Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
Tahukah Pak Budi bahwa setiap kata ”kita”
atau ”kami” di dalam kitab Efesus menunjuk kepada orang-orang Yahudi
sedangkan kata ”kamu” ditujukan
kepada orang-orang bangsa lain (non-Yahudi atau Kafir)? Mengapa
dibicarakan kedua pihak ini? Karena tujuan kitab Efesus adalah sebagai berikut.
Efesus 2:14. Karena Dialah damai
sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua
pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.
Sebagai contoh: Efesus 2:8-10 dan Efesus
1:12-13
2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah,
2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
2:10 Karena kita
ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan
baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
1:12 supaya kami, yang
sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi
kemuliaan-Nya.
1:13 Di dalam Dia kamu
juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil
keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan
Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
Dalam kaitannya dengan Efesus 1:4-5,
karena kata ”kita” berarti
orang-orang Yahudi, maka yang dipilih sebelum dunia dijadikan (dalam pikiran
dan rencana Allah) adalah orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa bukannya
setiap individu sudah dipilih seperti yang dipercayai oleh pengajaran
predestinasi. Jadi pengajaran ini merupakan salah tafsir ayat Alkitab.
Tanggapan Budi Asali:
Saya berpendapat bahwa pada waktu mengatakan
’kami’ /’kita’ Paulus tidak menunjuk kepada orang-orang Yahudi yang bukan
Kristen, tetapi orang-orang Yahudi yang percaya. Jadi, ini tidak mungkin
menunjuk kepada pemilihan mereka sebagai bangsa.
Tanggapan Tjantana:
Pak Budi, yang sudah dipilih sebelum dunia
dijadikan (dalam pikiran atau rencana Allah) adalah orang-orang Yahudi sebagai
suatu bangsa karena dari bangsa Yahudi lah muncul Juruselamat. Jika Anda tidak
setuju dan bersikukuh, tidak apa-apa, tetaplah dengan pengajaran predestinasi
Anda, yang penting saya sudah mencoba untuk menjelaskannya. Saya tidak dapat
memaksa seseorang yang sudah sangat yakin dengan kepercayaan yang dipegangnya,
silakan tinggal dilanjutkan saja. Jika
dalam hal Efesus 1:4-5 saja persepsi kita sudah berbeda, untuk apa saya memberi
jawaban atas serentetan ayat-ayat yang Anda berikan di bawah ini, bukankah
hanya menghabiskan waktu saja dan tokh akhirnya terjadi perbedaan persepsi
juga?
Tanggapan Budi Asali:
Hanya beberapa ayat ini anda anggap banyak? Tahukah anda
berapa ayat yang dipakai oleh Saksi Yehuwa untuk menyangkal keilahian Kristus /
Roh Kudus? Saya menggunakan waktu 2 thn untuk membahas ayat2 mereka!
Kalau ajaran anda memang benar, anda harus bisa
menjelaskan ayat2 yang saya berikan itu sehingga artinya menjadi sesuai dengan
pandangan anda. Kalau tidak, berarti pandangan anda bertentangan dengan ayat2
ini.
Tanggapan Tjantana:
Buat apa
banyak-banyak ayat tetapi salah tafsir semuanya (seperti Saksi Yehova yang
pakai banyak ayat tapi sesuka sendiri)? Anda sukanya perintah-perintah dan
mengancam ya? Terserah saya dong mau menanggapi yang mana, Anda juga menanggapi
jawaban saya semau Anda dan tidak memberikan pandangan atas ayat-ayat yang saya
pakai. Dan Pak Budi, maaf, saya tidak tertarik dengan teori predestinasi Anda yang ngawur, kok Tuhan Yesus itu pilih
kasih ya? Tuhan Yesus adalah
Juruselamat bagi semua umat manusia yang mau percaya kepada-Nya. Siapakah Anda sehingga Ia
memilih Anda untuk percaya sedangkan yang lainnya tidak dipilih untuk percaya?
Anda egois sekali.
Juga, bagaimana dengan text-text di bawah ini?
Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak
mengenal Allah (KJV: the Gentiles) dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua
orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.
Ro 8:29-30 - “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka
juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya,
supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka
yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang
dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya,
mereka itu juga dimuliakanNya”.
2Tes 2:12-13 - “supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan
kebenaran dan yang suka kejahatan. Akan tetapi kami harus selalu mengucap
syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah
dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan
kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.
Ro 9:6-29 - “(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab
tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, (7) dan juga
tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang
berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ (8) Artinya: bukan anak-anak
menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut
keturunan yang benar. (9) Sebab firman ini mengandung janji: ‘Pada waktu
seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.’
(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang
lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa
leluhur kita. (11) Sebab waktu
anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, -
supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan
perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak
yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku
mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak
adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh
belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah
hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ (16) Jadi hal itu tidak tergantung
pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. (17)
Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan
engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya
namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan
kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang
dikehendakiNya. (19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian,
apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’
(20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang
dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku
demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya,
untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang
mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? (22) Jadi,
kalau untuk menunjukkan murkaNya dan menyatakan kuasaNya, Allah menaruh
kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaanNya, yang telah disiapkan
untuk kebinasaan - (23) justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaanNya atas benda-benda
belas kasihanNya yang telah dipersiapkanNya untuk kemuliaan, (24) yaitu
kita, yang telah dipanggilNya bukan hanya
dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain,
(25) seperti yang difirmankanNya juga dalam kitab nabi Hosea: ‘Yang bukan
umatKu akan Kusebut: umatKu dan yang bukan kekasih: kekasih.’ (26) Dan di
tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka: ‘Kamu ini bukanlah umatKu,’ di
sana akan dikatakan kepada mereka: ‘Anak-anak Allah yang hidup.’ (27) Dan
Yesaya berseru tentang Israel: ‘Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di
laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan. (28) Sebab apa yang telah
difirmankanNya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.’ (29)
Dan seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya: ‘Seandainya Tuhan semesta alam
tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti Sodom dan
sama seperti Gomora.’”.
Justru Alkitab mengatakan: ”...setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Dan juga jelas-jelas
kehendak bebas (free-will): ”...Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia
datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan
dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17).
Tanggapan Budi Asali:
1) Ini tidak bertentangan dengan predestinasi.
Memang hanya yang percaya yang bisa selamat, tetapi hanya yang dipilih yang
bisa percaya (Kis 13:48).
2)
Tanggapan Tjantana:
5) Pak Budi, Yohanes 3:16 tidak mengatakan:
”...setiap orang yang dipilih yang
percaya kepada-Nya tidak binasa...” dan Wahyu
22:17 tidak mengatakan: ”...Dan siapa yang
dipilih untuk haus, hendaklah ia datang...”, maaf jadi agak lucu
kedengarannya ya, ha ha ha. Apakah Tuhan Yesus mati di atas kayu salib hanya
untuk yang sudah Ia pilih untuk percaya atau untuk semua umat manusia yang mau
percaya kepada-Nya? Kalau begitu Tuhan Yesus itu pilih kasih dong. Jika Tuhan Yesus memang pilih kasih
seperti itu, lebih baik Ia memilih orang-orang Yahudi sebanyak-banyaknya untuk
percaya dan diselamatkan, buat apa pilih kita dari bangsa lain? Semoga saja Anda termasuk yang sudah
dipilih-Nya (untuk percaya) sebelum dunia dijadikan karena saya rasa-rasanya
tidak memenuhi syarat untuk dipilih-Nya. Tetapi puji Tuhan, karena kasih
karunia-Nya saya tergabung ke dalam golongan orang-orang percaya. Haleluya!
Tanggapan Budi Asali:
Apakah hak anda untuk
menuntut Allah memberi dengan sama rata? Memang doktrin Predestinasi seolah2
menunjukkan Allah tidak adil. Karena itu baca Ro 9:14. Munculnya pertanyaan
’apakah Allah tidak adil?’ justru membuktikan bahwa dalam text itu Paulus
memang mengajarkan doktrin predestinasi ini.
Saya tak merasa perlu untuk
membahas hal ini panjang lebar. Kalau mau saya bisa kirimkan buku saya
tentang Predestinasi kepada anda. Dan kalau anda bisa membantahnya saya akan
ikut pandangan anda. Saat ini saya lebih tertarik untuk membahas pandangan
Sabelianisme anda.
Terus terang, saya sama
sekali tidak yakin bahwa anda adalah orang percaya! Siapapun menolak Allah
Tritunggal, sama dengan menolak Firman Tuhan. Dan Yesus berkata bahwa yang
termasuk dombaNya akan mendengarkan suaraNya! Yoh 10:27!
Tanggapan Tjantana:
Bukan seolah-olah lagi Pak,
tapi Anda jelas-jelas menjadikan-Nya tidak adil dan pilih kasih, apa hak Anda
menjadikan-Nya seegois Anda?
Wow, lagi-lagi Anda ini
bisanya cuma menghakimi bahwa saya bukan
orang percaya, bagaimana mungkin saya bisa ditobatkan Anda? Kalau begitu
boro-boro saya tertarik atas karangan Anda. Apa hak Anda menentukan saya orang
percaya atau bukan? Bukankah itu hak prerogatif Tuhan Yesus? Apakah Anda menyamakan diri Anda seperti
Dia hanya karena Anda pendeta dan M.Div?
6) Pak Budi, kata ”freewill”
memang tidak ada di dalam Alkitab, tapi ada kata-kata ”setiap orang yang percaya” (secara sederhana berarti tidak percaya
juga boleh, tapi binasa) ”barangsiapa
yang mau” (Wahyu 22:17) dan juga
ada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat di dalam kitab Kejadian sehingga
manusia bisa memilih untuk taat atau tidak taat.
Tanggapan Budi Asali:
Yang bebas orangnya atau
kehendaknya? Orangnya bukan? Lalu mengapa istilahnya free will?
Juga, kalau anda mengatakan
bahwa keselamatan tergantung orangnya, lalu bagaimana anda menafsirkan Yoh
6:44,65 – ”(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia
tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada
akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan
kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak
mengaruniakannya kepadanya."”. Juga 1Kor 12:3b – ” tidak ada
seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh
Roh Kudus”.
Tanggapan Tjantana:
Apakah Anda dapat memisahkan
kehendak seseorang dari orangnya? Wah, Anda ini rumit sekali ya?
Pak, kita bertobat itu karena
jamahan Roh Kudus dan kasih karunia-Nya kepada kita tetapi Ia tidak memaksa,
kalau kita menanggapi barulah keselamatan itu bagi kita. Dan hal ini berlaku
untuk semua orang bukan hanya orang-orang yang terpilih untuk percaya seperti
diri Anda.
Kata ”sakramen” memang tidak
ada di dalam Alkitab tapi misalnya tentang Perjamuan Kudus ada perkataan Tuhan
Yesus, ”...perbuatlah ini menjadi
peringatan akan Aku” (1 Korintus
11:24) dan ”...perbuatlah ini,
setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” (1 Korintus 11:25).
Tanggapan Budi Asali:
Saya tak tanya tentang
Perjamuan Kudus, tetapi tentang Sakramen. Anda menggunakan istilah yang tak ada
dalam Kitab Suci. Tetapi menyalahkan kami yang menggunakan istilah ’Tritunggal’
karena istilah itu tak ada dalam Kitab Suci. Masih tak mau mengaku bahwa
serangan anda ini menunjukkan ketidak-konsistenan?
Tanggapan Tjantana:
Pak, sekali lagi, apakah
ada ayat Alkitab yang jelas-jelas menyatakan tentang tritunggal seperti: Allah kita
punya 3 Pribadi; Allah
itu tiga pribadi; ketiga Pribadi Allah; Allah itu tiga-tiganya,
nama-Nya adalah tiga-tiganya, atau ketiganya yang esa? Sedangkan tentang sakramen ada pernyataan yang sangat
jelas (1 Korintus 11:24 dan 25).
Rupanya Pak Budi tidak sedang
tulus untuk mencari kebenaran tetapi mau menjebak saya, wah ada udang di balik
batu neh. Sedangkan kata ”tritunggal” atau ”trinitas” memang jelas-jelas tidak
ada dalam Alkitab dan memang tidak ada kata-kata yang misalnya jelas-jelas
menyatakannya, misalnya: ”Allah punya tiga Pribadi”; ”Ketiga Pribadi
Allah”; ”Tuhan adalah tiga-tiganya” atau ”Nama-Nya adalah
tiga-tiganya” (lihat Zakharia 14:9
”Maka TUHAN akan menjadi Raja atas
seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya
dan nama-Nya satu-satunya”)
atau ”ketiganya yang esa” (wah yang ini sih cuma ada di lagu penutupan
’doxology’). Tidak ada ”Allah tritunggal”, yang ada ”TUHAN itu Allah kita,
TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4).
Tanggapan Budi Asali:
Terus terang, pertanyaan
saya tentang sakramen / free will memang hanya merupakan taktik saya. Apakah
ini salah? Nabi Natan juga ’menjebak’ Daud supaya Daud sadar akan kesalahannya
(2Sam 12:1-dst). Jadi, tidak salah cara seperti itu bukan? Saya gunakan taktik,
sama dengan Natan gunakan taktik. Bedanya Daud sadar dan bertobat, anda tidak!
Tj: Selamat jadi nabi ya
Pak Budi. Sekali lagi Anda menghakimi saya sebagai pihak yang bersalah.
Jangan-jangan Anda yang membutuhkan nabi tjantana, ha ha ha.
Tentang ayat2 yang
menunjukkan ketunggalan Allah, anda tak perlu menunjukkan kepada saya. Saya
tahu dan percaya ayat2 itu, karena tanpa ayat2 itu saya akan menjadi Tritheisme
(kepercayaan thdp 3 Allah).
Tj: Sadarkah Anda bahwa
dengan mempercayai tritunggal sama saja dengan mempercayai tritheisme, inilah
tipu muslihat iblis, seperti kebenaran padahal bukan kebenaran sama sekali. Satu Allah tapi tiga pribadi, tiga pribadi
berarti tiga Allah, bagaimana mungkin tiga pribadi tetapi satu pribadi?
Bahwa Bapa, Anak dan Roh
Kudus adalah Allah, anda sudah percaya, jadi saya juga tak perlu membuktikannya
kepada anda.
Tj: Pak, tanya dulu ke
saya, baru menyimpulkan, oke? Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah ketiga peranan/manifestasi
Allah.
Tetapi bahwa Bapa, Anak dan
Roh Kudus adalah 1 pribadi atau 3 pribadi, itu yang menjadi perbedaan kita,
bukan?
Tj: Bukankah Anda sudah
tahu akan hal ini di dalam buku saya? Kenapa tanya lagi?
Sekarang, kalau Bapa, Anak
dan Roh Kudus itu memang hanya 1 pribadi, tolong jelaskan hal2 ini:
c) Bagaimana mereka bisa saling
mengutus? Kalau ajaran anda benar, Allah itu sama seperti saya, yang bisa
menjadi ayah (bagi anak saya), suami (bagi istri saya), dan guru / dosen (bagi
murid2 saya). Bisakah saya sebagai suami mengutus saya sebagai dosen, dsb?
Tetapi Bapa mengutus Anak (jangan bilang Anak diutus sebagai manusia! Ia diutus
untuk menjadi manusia / turun ke dalam dunia! Gal 4:4-5 Yoh 3:17
Yoh 6:38 Yoh 8:42 Yoh 10:36
Yoh 17:18 Ro 8:3 1Yoh 4:9), dan Bapa dan Anak mengutus Roh
Kudus (Yoh 14:26 Yoh 15:26 Yoh 16:7
1Pet 1:12). Tj: Pahami dulu dua
sifat alami dari Tuhan Yesus di halaman 30-37 (Rahasia Pribadi Allah), buat
apa saya beberkan lagi kalau memang anda sudah punya bukunya? Pak, setiap
manusia yang dilahirkan ke dunia ini adalah anak, nah Yesus adalah Anak Allah.
Allah cuma mengutus manifestasi-Nya yang lain ke dunia ini. Kenapa Allah harus
mengambil rupa manusia ke dunia ini? Karena tidak ada seorang pun yang sanggup
jadi Juruselamat karena semua orang sudah berdosa.
d) Bagaimana mereka bisa bicara
satu thdp yang lain. Bisakah saya sebagai dosen bicara kepada saya sebagai
ayah? Bisa, kalau saya gila! Tetapi Roh Kudus berbicara kepada Allah (Ro 8:26)!
Tj: Sekali lagi, pahami dulu dua sifat alami daripada Tuhan Yesus.
Hanya Yesus Kristus mempunyai dua sifat alami, 100% manusia, 100% Allah, Nah,
seperti setiap manusia berdoa kepada Bapa, demikian juga kemanusiaan Yesus
perlu berbicara kepada Bapa. Jangan Anda
menyamakan Anda yang cuma manusia dengan Tuhan Yesus yang adalah manusia
sekaligus adalah Allah Pencipta langit dan bumi, bedanya sangat jauh
Pak. Kalau Anda mau terus menerus pakai logika, bagaimana suatu peranan
berbicara kepada peranan yang lainnya, sama saja dengan bagaimana cara Anda
menjelaskan secara logika kelahiran Yesus tanpa perbuatan laki-laki?
c) Adanya penggunaan kata bentuk jamak untuk
Allah atau dalam hubungannya dengan Allah:
1. Kata
ganti orang bentuk jamak.
Contoh: Kej 1:26 3:22 11:7.
Tetapi ini tidak mungkin, sebab kalau dalam Kej 1:26
diartikan bahwa ‘Kita’ itu menunjuk kepada Allah dan para malaikat, maka
haruslah disimpulkan bahwa:
a. manusia
juga diciptakan menurut gambar dan rupa malaikat.
b. Allah mengajak para malaikat untuk
bersama-sama menciptakan manusia, sehingga kalau Allah adalah pencipta / creator, maka malaikat adalah co-creator (= rekan pencipta).
Disamping itu, kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak
untuk menyatakan Allah, keluar sekaligus dalam satu
ayat, yaitu dalam Yes 6:8 yang dalam versi NASB menterjemahkan: “Whom
shall I send and who will go for Us?” (= Siapa yang akan Kuutus dan
siapa yang mau pergi untuk Kami?).
Catatan: Dalam Yes 6:8 ini, Kitab
Suci bahasa Indonesia (baik terjemahan lama maupun baru) salah terjemahan!
2. Kata
kerja dalam bentuk jamak.
Contoh:
·
Kej 20:13 - kata-kata ‘menyuruh aku mengembara’ dalam bahasa Ibraninya
adalah kata kerja bentuk jamak.
·
Kej 35:7 - kata ‘menyatakan’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja
bentuk jamak.
·
2Sam 7:23 - kata ‘pergi’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja
bentuk jamak.
·
Maz 58:12 - kata ‘memberi keadilan’ dalam bahasa Ibraninya ada dalam
bentuk jamak (sebetulnya ini bukan kata kerja tetapi participle).
Padahal dalam ayat-ayat di atas ini,
subyeknya adalah kata ‘ELOHIM’ yang digunakan untuk menyatakan Allah yang esa.
3. Kata-kata
bentuk jamak lainnya seperti dalam:
·
Pengkhotbah 12:1 - kata ‘pencipta’ (creator), dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak, sehingga
seharusnya terjemahannya adalah ‘creators’
(= pencipta-pencipta).
·
Maz 149:2 - kata-kata ‘yang menjadikannya’, dalam bahasa Ibraninya
ada dalam bentuk jamak.
·
Yos 24:19 - dalam bahasa Ibraninya, kata ‘kudus’ ada dalam bentuk
jamak, tetapi kata ‘cemburu’ ada dalam bentuk tunggal.
Jadi, kalau dalam Yes 6:8
digunakan kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk menunjuk kepada
Allah, maka di sini digunakan kata sifat bentuk tunggal dan jamak terhadap diri
Allah.
Tj: Pak, bukankah saya sudah cukup panjang lebar membahas
tentang kata ’kita’ di dalam buku saya? Apakah saya harus menuliskannya lagi di
sini (sebanyak 7 halaman buku)? Silakan lihat saja hal 75-81. Kenapa Pak Budi,
tidak menanggapi saja pendapat-pendapat saya di buku saya satu per satu,
malahan memberikan pendapat Anda yang jelas-jelas akan saya jawab sama seperti
yang tertulis di dalam buku saya tersebut.
d) Beberapa ayat dalam Kitab Suci membedakan
Allah yang satu dengan Allah yang lain (seakan-akan ada lebih dari satu Allah).
·
Maz 45:7-8.
Karena dalam ayat ini Kitab Suci
Psalm 45:6-7 (NASB): “Thy throne, O God, is forever and ever ... Therefore God,
Thy God has anointed Thee” (= TahtaMu, Ya Allah, kekal
selama-lamanya. Karena itu, Allah, AllahMu telah
mengurapi Engkau).
Bandingkan dengan Ibr 1:8-9. Tj: Ini adalah nubuatan, dan apa
salahnya satu manifestasi dari Allah berbicara kepada satu manifestasi yang
lainnya dari Allah, ngomong-ngomong di mana Allah Roh Kudus ya?
·
Maz 110:1.
Juga untuk ayat ini perhatikan
terjemahan NASB di bawah ini.
Psalm 110:1 (NASB): “The
LORD says to my Lord ...” (= TUHAN berkata kepada Tuhanku).
Bandingkan dengan Mat 22:44-45. Tj: Ini juga nubuatan dan jawaban saya seperti di atas,
semuanya ini cuma tersirat tergantung penafsiran, mana ayat yang benar-benar menyatakan
ketiga pribadi Allah?
·
Hos 1:7 (NASB): “But I
will have compassion on the house of Judah and deliver them by the LORD
their God, and will not deliver them by bow, sword, battle, horses, or
horseman” (= Tetapi Aku akan berbelaskasihan kepada kaum Yehuda dan
menyelamatkan mereka dengan / oleh TUHAN Allah mereka, dan tidak akan
menyelamatkan mereka oleh / dengan busur, pedang, pertempuran, kuda-kuda, atau
penunggang-penunggang kuda). Tj: Saya tidak
melihat ada 2 pribadi di sini, anda melihatnya? Wah, beda persepsi lagi nih.
·
Kej 19:24 - “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api
atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit”. Tj: Apakah di sini ditunjukkan ada 2 pribadi, saya
tidak melihatnya tuh. Inilah yang saya maksudkan, pakai banyak ayat, tetapi
sebenarnya pemakaiannya tidak tepat.
·
Amsal 8 berbicara tentang ‘hikmat Allah’. Kalau dilihat dari
istilahnya, yaitu ‘hikmat Allah’ [the
wisdom of God (= hikmat dari / milik Allah)], maka jelas bahwa
‘hikmat Allah’ ini tidak sama dengan Allah.
Tetapi Amsal 8 ini lalu
mempersonifikasikan ‘hikmat Allah’ itu dan menunjukkannya sebagai seorang
pribadi yang bersifat kekal (Yesus). Dengan kata lain, hikmat Allah itu juga
adalah Allah (bdk. 1Kor 1:24 - “Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat
Allah”). Tj: Ya, sekali lagi cuma tersirat, lalu
mana si pribadi yang ketiga, Allah Roh Kudus?
·
Penampilan dari Malaikat TUHAN (Kej 16:2-13 22:11,16 31:11,13 48:15,16
Kel 3:2,4,5 Hak 13:20-22).
Sama seperti istilah ‘hikmat Allah’ di
atas, maka istilah ‘Malaikat TUHAN’ ini juga menunjukkan bahwa ‘Malaikat
TUHAN’ (the Angel of the LORD)
ini tidak sama dengan Allah.
Tetapi, sekalipun dalam bagian-bagian
tertentu Malaikat TUHAN itu disebut sebagai Malaikat TUHAN, dalam bagian-bagian
lain Ia juga disebut sebagai Allah / TUHAN sendiri.
Contoh:
*
dalam Kej 16:7 - disebut sebagai Malaikat TUHAN.
*
dalam Kej 16:13 - disebut sebagai TUHAN sendiri.
*
dalam Kej 22:11 - disebut sebagai Malaikat TUHAN.
*
dalam Kej 22:12 - disebut sebagai Allah sendiri.
Juga, dalam Kel 23:20-23, malaikat
TUHAN ini mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa.
Semua ini menunjukkan bahwa Malaikat
TUHAN itu adalah Allah / TUHAN sendiri. Tj: Tahukah Anda
bahwa Allah di dalam ayat-ayat yang Anda pakai sedang mengambil manifestasi sementara sebagai seorang
Malaikat? Kalau tidak, bagaimana Ia yang kudus bisa bertemu dengan manusia yang
tidak kudus? Istilah teologinya ”theophany”
(atau teofani, perwujudan sementara
dari Allah). Ketika Allah menemui Musa, Ia mengambil rupa sementara sebagai
semak duri yang terbakar, apakah kita sekalian saja menyebut-Nya Allah Semak Duri? Jadi lucu ya!
e) Lalu bagaimana dengan ayat2 ini?
·
Yoh 10:30 - ”Aku dan Bapa adalah satu.’”.
Terjemahan hurufiahnya: ’I and the Father, we are one’!
Tj: Di sini jelas-jelas ada 2 peranan
Allah (sebagai Bapa dan Anak), yang
jelas-jelas satu adalah Pribadi-Nya, sangat sederhana bukan?
·
Yoh 14:23 - ” Jawab Yesus: ’Jika
seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia
dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”. Tj: Kami dalam hal ini kedua manifestasi/peranan Allah
karena yang mengasihi Bapa tentu saja mengasihi Anak (Yesus) yang adalah
manifestasi-Nya dalam rupa manusia.
·
Mat 28:19 – ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.
Terjemahan hurufiah bagian yang saya
garis-bawahi adalah ’in the name of the Father, and of the Son,
and of the Holy Spirit’. Mengapa kata2 ’of the’ diulang terus? Tak
menunjukkan 3 pribadi? Tetapi kata ’name’ ada dalam
bentuk tunggal. Ini menunjukkan ketiga pribadi itu dalah satu, karena hakekatnya hanya
satu. Tj: Makanya
di dalam buku saya, saya sudah mengatakan bahwa di dalam Mat 28:19 adanya penekanan
kepada satu nama bukan kepada 3 pribadi (ayat ini sama sekali bukan
berbicara tentang 3 pribadi tetapi tentang satu nama). Tersirat tiga
pribadi padahal penekanannya kepada nama Yesus (seperti yang anda sendiri
katakan). Kenapa penekanan pada satu nama? Karena nama Bapa adalah Yesus (Yoh. 5:43 dan Yoh. 17:6), nama Anak
jelas Yesus, dan nama Roh Kudus juga Yesus. Karena itu Amanat Agung dalam kitab
Injil lainnya (Markus dan Lukas) berbicara tentang Nama-Nya atau Nama-Ku. Karena
itu para Rasul juga menafsirkan bahwa
mereka membaptis dalam satu nama,
yaitu Yesus Kristus, bukannya dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tidak
pernah sekali pun para Rasul di jemaat mula-mula membaptis dalam nama Bapa,
Anak, dan Roh Kudus. Bukankah hal ini sudah sangat jelas?
·
Yoh 14:1 – ”’Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah,
percayalah juga kepadaKu”. Kalau Yesus adalah Bapa, untuk apa percaya
kepada Bapa dan kepada Yesus? Bukankah salah satu sudah cukup? Tj: Pak, waktu Yesus mengatakan ayat ini, Ia masih
dalam wujud manusia bukan? Dia mengatakan demikian supaya murid-murid-Nya paham
bahwa Yesus adalah Bapa yang mengambil wujud manusia. Lagipula apa salahnya
jika Ia mengatakan demikian, apakah hal ini otomatis berarti ada 2 pribadi?
Bukan 2 pribadi tetapi dua manifestasi Allah sebagai Bapa dan sebagai Anak.
Bukankah Yesus mengatakan: Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa
(Yohanes 14:9)? Karena ada 2 manifestasi Allah di sini (Bapa dan
Anak) tetapi Pribadi-Nya tetap satu sehingga kalau sudah melihat
manifestasi fisik-Nya berarti sudah melihat Bapa, apakah Anda paham?
Pak Budi, terserah dan silakan terus ajarkan pengajaran Tertullianus
(tritunggal) jika Anda mau, tetapi saya akan terus sampaikan pengajaran yang
Apostolik dan Alkitabiah bahwa hanya ada
satu Pribadi Allah dengan tiga peranan utama sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Pak, lebih baik Anda belum mengetahui apa-apa tentang hal-hal yang saya
sudah sampaikan, daripada setelah Anda mengetahuinya, tetapi tidak melakukan
apa-apa sehingga tanggung jawab akan Tuhan Yesus tuntut dari Anda.
Tanggapan Budi Asali:
Secara sama saya sampaikan ’ancaman’
kepada anda. Saya sudah memberikan bukti2 kepada anda bahwa Allah mempunyai 3
pribadi, bukan 3 perwujudan! Kalau anda sudah membacanya, mengertinya, dan
tidak bisa membantahnya, tetapi tetap berkeras dengan pandangan anda, maka anda
adalah orang yang tegar tengkuk. Dan untuk itu anda harus bertanggung jawab!
Tanggapan Tjantana:
Pak, saya cuma memperingatkan,
bukannya mengancam Anda. Maaf pak, buktinya
mana ayat-ayat yang jelas-jelas menyatakan bahwa Allah punya tiga pribadi? Ayat-ayat yang Anda berikan
kepada saya di atas, cuma tersirat
semata,
sadarkah anda? Tidak pernah ada ayat-ayat yang menyatakan misalnya: Allah kita punya 3 Pribadi; Allah itu tiga pribadi; ketiga
Pribadi Allah; Allah itu tiga-tiganya, nama-Nya adalah
tiga-tiganya, atau ketiganya yang esa atau yang sejenisnya? Justru setelah Anda baca tanggapan saya di atas dan kalau anda masih saja
berpegang pada pengajaran tritunggal, berarti siapa yang tegar tengkuk? Saya tidak mengatakan Anda saja yang bertanggung jawab kepada
Tuhan tetapi Anda dan saya
bertanggung jawab kepada-Nya, adil bukan?
Pak Budi, setelah email yang saya kirim ini, saya memutuskan untuk tidak
membaca tanggapan anda lagi dan saya akan langsung menghapusnya (delete) karena
hanya menghabiskan waktu saja. Lebih baik Anda dan saya melanjutkan pengajaran
yang kita masing-masing percayai sebagai kebenaran. Oke?
Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Pdt. Budi Asali, M. Div. yang sudah membuat saya semakin yakin akan apa yang selama ini saya pegang sebagai
kebenaran akan Pribadi Allah. Semoga Bpk Budi cepat sembuh dari insomnia
dan Tuhan Yesus memberkati Bapak dan keluarga dan pelayanan Bapak. Amin.
Dari tjantana jusman, hamba dari satu-satunya Allah yang
Perkasa.
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
Jawaban dari Pdt. Budi Asali, M. Div. akan segera menyusul, tak peduli pengecut sesat itu mengatakan tak akan membacanya. Jawaban akan disusulkan ke dalam website ini.