(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3
Surabaya)
Jum’at, tgl 15 Juni 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
1) Definisi dari kata ‘doktrin’.
Webster’s
Doktrin biasanya berurusan dengan kepercayaan kita, dan ini kontras
dengan ajaran yang hanya bersifat moral / etika, yang berurusan dengan tingkah
laku kita.
2) Doktrin adalah sesuatu yang
sangat penting.
Banyak orang kristen tidak senang pada ajaran yang bersifat doktrinal
karena ajaran yang bersifat doktrinal dianggap bersifat teoritis dan tidak
berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari.
Seorang Penginjil / Pendeta menulis
Kelihatannya, Pendeta ini tidak terlalu peduli soal doktrin, dan ia
rupanya beranggapan bahwa satu-satunya yang penting adalah penginjilan (Catatan: rupanya ia tidak menyadari
bahwa kepercayaannya bahwa doktrin tidak penting, dan yang penting hanyalah
penginjilan, sebetulnya juga merupakan suatu kepercayaan doktrinal!).
Tetapi pandangan-pandangan seperti ini salah sama sekali. Doktrin adalah
sesuatu yang sangat penting. Mengapa?
a) Perlu
diingat bahwa ‘Injil’ itu sendiri adalah sesuatu yang bersifat doktrinal, dan
Injil merupakan fondasi yang paling dasari dari kekristenan, dan tanpa Injil
tidak ada orang bisa percaya kepada Kristus.
Doktrin adalah sesuatu yang sangat penting karena doktrin adalah seperti
fondasi dan tiang-tiang beton dari suatu bangunan, dan tanpa itu bangunan itu
tidak mungkin bisa kuat.
b) Ajaran
doktrinal yang salah sangat mempengaruhi hidup kita.
1. Bisa membuat orang hidup dalam
dosa.
Misalnya kalau seseorang tidak percaya pada kebangkitan orang mati, ia
akan hidup seenaknya sendiri.
1Kor 15:32 - “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya
hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka ‘marilah kita makan
dan minum, sebab besok kita mati’”.
2. Bisa
membingungkan orang kristen, bahkan menggoncangkan imannya atau menyebabkan ia
ragu-ragu apakah ia sudah beriman atau tidak.
Misalnya: ada ajaran yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh
sakit, atau harus sembuh dari segala penyakit. Lalu saudara sebagai orang
Kristen ternyata sakit dan tidak sembuh-sembuh. Ini bisa menyebabkan saudara
lalu meragukan iman saudara, padahal sebetulnya ajaran itulah yang salah.
3. Bisa menyebabkan orang kristen
menjadi gelisah, takut, kuatir.
Misalnya ajaran Arminian yang mengatakan bahwa keselamatan bisa hilang,
jelas bisa menimbulkan kekuatiran dalam diri orang kristen yang mempercayai
ajaran yang salah itu.
c) Perbedaan
antara kekristenan dan agama-agama lain, pada umumnya / hampir selalu terletak
pada perbedaan doktrinal. Dalam hal-hal yang bersifat etika / moral, sekalipun
ada perbedaan tetapi tidaklah terlalu banyak. Karena itu, kalau saudara adalah
orang kristen yang tidak senang pada doktrin, sebetulnya tidak ada bedanya bagi
saudara kalau saudara pindah ke agama lain.
d) Perbedaan
antara ajaran kristen yang alkitabiah dan injili dengan ajaran kristen yang
sesat / salah / tidak alkitabiah, seperti Saksi Yehuwa, Mormon, Liberalisme,
Unitarianisme, Roma Katolik, dsb, juga hampir seluruhnya terletak pada
perbedaan doktrin.
Tanpa pengertian yang baik tentang doktrin yang benar, maka kita dengan
mudah bisa disesatkan oleh berbagai macam ajaran sesat / salah tersebut. Tetapi
kalau kita mengerti doktrin yang benar dengan baik, maka kita akan sukar sekali
disesatkan oleh ajaran-ajaran sesat / salah itu. Karena itu doktrin adalah
sesuatu yang sangat penting, baik bagi gereja maupun bagi setiap individu
kristen.
Sekalipun pelajaran doktrinal itu penting tetapi:
a. Pengertian
doktrinal yang hanya bersifat intelektual tidak bisa menyelamatkan siapapun
juga. Yang menyelamatkan hanyalah iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat!
Dalam prakata dari buku ‘The Doctrine of God’ karya Herman
Bavinck, penterjemahnya yaitu William Hendriksen, mengutip kata-kata Bavinck
pada saat mau mati, yang berbunyi sebagai berikut:
“My learning does not help me now; neither does my
Dogmatics; faith alone saves me” (= Pengetahuanku tidak menolongku sekarang; Dogmaku
juga tidak; hanya iman yang menyelamatkan aku).
Catatan:
Dogma agak berbeda dengan doktrin. Kalau doktrin biasanya didapatkan
betul-betul dari Kitab Suci dan karena itu ada dasar Kitab Sucinya. Tetapi
dogma biasanya ditetapkan oleh otoritas gereja tanpa dasar Kitab Suci.
b. Jangan
bersikap extrim dengan hanya mau ajaran yang bersifat doktrinal saja.
Ajaran-ajaran yang praktis, yang bersifat moral / etika, tentu juga sangat
penting!
Illustrasi: biarpun daging itu adalah
makanan yang penting dan bergizi, tetapi kalau saudara hanya makan daging saja,
tidak mau makan sayur, buah, nasi dsb, maka itu tentu tidak baik. Demikian
juga, sekalipun doktrin itu penting, tetapi kalau saudara hanya belajar doktrin
saja, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidup kristen saudara. Saudara
mungkin sekali akan menjadi seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
pada jaman Yesus, yang hanya otaknya hebat, tetapi hidupnya kacau balau.
3) Doktrin bisa merupakan
pelajaran yang sangat sukar.
Memang ada doktrin yang mudah (seperti Injil), tetapi juga banyak
doktrin yang sukar (seperti doktrin Allah Tritunggal, Kristologi, Eschatologi
dsb). Ini menyebabkan pelajaran doktrinal dalam gereja menjadi semakin jarang.
Banyak hamba Tuhan yang malas menyiapkan pelajaran doktrinal karena sukarnya
pelajaran itu. Dan ada juga hamba-hamba Tuhan yang sebetulnya mau berjerih
payah untuk menyiapkan dan mengajarkan pelajaran-pelajaran doktrinal, tetapi
karena jemaat tidak bisa menerimanya (karena tak terbiasa?), maka hamba-hamba
Tuhan itu akhirnya menuruti keinginan jemaat dengan mengajarkan hal-hal yang
sederhana / praktis saja. Tetapi ini adalah sikap yang salah! Seorang hamba
Tuhan harus mengajarkan hal-hal yang dibutuhkan jemaatnya, bukan apa
yang diinginkan oleh jemaatnya.
Illustrasi: kalau saudara adalah orang
tua yang baik, tentu saudara tidak akan selalu menuruti keinginan anak saudara
pada waktu mau makan. Saudara akan memberikan (bahkan memaksakan, kalau perlu)
apa yang dibutuhkan oleh anak saudara. Mungkin mengharuskannya makan sayur,
atau minum susu, atau minum vitamin dan bahkan obat, yang baginya tentu saja
tidak enak.
Kitab Suci jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki orang kristen
mendapat pelajaran yang sederhana terus menerus. Ini terlihat misalnya dari:
a) Mat 28:19-20
- “(19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’”.
Kata ‘murid’ dan ‘ajar’ secara implicit menunjukkan bahwa harus ada peningkatan dalam
pengajaran.
b) Ibr 5:11-6:1 Yoh 16:12-13a 1Kor 3:1-2 juga menunjukkan bahwa harus
ada peningkatan pengajaran.
Ibr 5:11-6:1 - “(5:11) Tentang hal itu banyak yang harus kami
katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal
mendengarkan. (5:12) Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah
seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok
dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
(5:13) Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang
kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (5:14) Tetapi makanan keras adalah untuk
orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk
membedakan yang baik dari pada yang jahat. (6:1) Sebab itu marilah kita
tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada
perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan
dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah”.
Yoh 16:12-13a - “(12) Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu,
tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. (13a) Tetapi apabila Ia datang,
yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”.
1Kor 3:1-2 - “(1) Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak
dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan
manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. (2) Susulah yang kuberikan
kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun
kamu belum dapat menerimanya”.
1) Apakah ‘Reformed’ itu?
Jangan menyamakan / mengacau-balaukan istilah ‘Reformed’ dengan istilah
‘Reformer(s)’. Istilah ‘Reformer(s)’ menunjuk kepada tokoh-tokoh Reformasi,
seperti Martin Luther, John Knox, Zwingli, John Calvin. Sedangkan istilah
‘Reformed’ menunjuk pada aliran yang mengikuti ajaran / theologia dari John
Calvin. Karena itu ‘Reformed’ sebetulnya sama dengan ‘Calvinisme’, dan ini
merupakan salah satu aliran dalam kekristenan.
2) Apakah salah kalau seseorang
mempunyai aliran?
a) Banyak orang
kristen yang ‘alergi’ terhadap aliran, dimana mereka beranggapan bahwa orang
kristen / gereja tidak boleh mempunyai aliran, dan bahkan banyak yang
berpendapat bahwa kalau kita mempunyai aliran, kita adalah pengikut manusia.
Karena itu kalau ditanya alirannya, mereka akan menjawab ‘aliran Yesus
Kristus’, atau ‘aliran Kitab Suci’.
Jawaban seperti ini sekalipun kelihatannya saleh, tetapi ini adalah
jawaban dari orang yang tidak / kurang mengerti Kitab Suci / Theologia.
b) Ada juga
yang berpendapat bahwa aliran menyebabkan gereja terpecah-pecah.
Tetapi semua ini salah! Mengapa?
a. Harus diakui
bahwa ada orang yang memegang alirannya sedemikian rupa sehingga ia memang
mengikut manusia. Misalnya orang Calvinist yang secara membuta menganggap bahwa
Calvin benar dalam segala hal.
Tetapi hal semacam ini tidak harus terjadi. Orang yang mempunyai aliran
tidak harus menjadi pengikut manusia. Saya mengikuti theologia Calvin, karena
saya beranggapan bahwa theologia Calvin itu sesuai dengan ajaran Kristus /
Kitab Suci.
Bandingkan dengan 1Kor 11:1 dimana saudara akan melihat bahwa
Paulus menyuruh orang Korintus mengikuti dia, karena dia sendiri mengikuti
Kristus.
1Kor 11:1 - “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi
pengikut Kristus”.
Disamping itu, menjadi seorang Calvinist tidak berarti menerima segala
sesuatu yang dipercayai / diajarkan oleh Calvin. Tentu saja, kalau hal-hal
besar dalam theologia Calvin ia tolak (misalnya tentang Predestinasi atau Providence
of God), maka ia tidak bisa disebut sebagai seorang Calvinist). Tetapi bisa
saja seorang Calvinist menerima ajaran-ajaran pokok Calvinisme, tetapi dalam
persoalan yang kecil-kecil ia tidak setuju dengan ajaran Calvin.
Misalnya: saya tidak setuju dengan penafsiran Calvin tentang mengapa
Yunus marah dalam Yunus 4.
b. Harus diakui
bahwa aliran memang bisa memecah gereja; tetapi lagi-lagi hal itu sebetulnya
tidak perlu terjadi.
Kita bisa berbeda aliran, dan menyadari perbedaan itu, tetapi tetap bersatu
karena kita menyadari bahwa semua orang kristen yang sejati, dari aliran
apapun ia berasal (asal bukan aliran sesat), adalah anak Allah, sama
seperti kita.
Catatan:
saya tekankan bagian yang saya garis bawahi itu! Saya tidak mau bersatu /
dianggap satu dengan orang-orang dari sekte yang memang sesat, seperti Saksi
Yehuwa, Mormon, Unitarian, dsb.
Ingat bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa hanya orang-orang yang percaya
kepada Yesus Kristus yang adalah anak-anak Allah. Yang tidak percaya adalah
anak-anak Setan. Dan yang dianggap percaya kepada Yesus Kristus hanyalah
orang-orang yang percaya kepadaNya dengan iman yang benar!
Bertentangan dengan pandangan umum jaman sekarang yang anti aliran, saya
berpendapat bahwa orang kristen, apalagi hamba Tuhan, sebaiknya mempunyai
aliran. Mengapa? Karena kalau kita tidak mempunyai aliran, atau kita mempunyai
aliran ‘gado-gado’, maka biasanya terjadi pertentangan dalam pandangan kita
sendiri. Misalnya kalau dari 5 pokok Calvinisme, saudara hanya menerima 3,
sedangkan yang 2 saudara menerima pandangan Arminian, maka saya yakin akan
terjadi kontradiksi / ketidak-konsistenan antara 3 pokok yang saudara terima
dan 2 pokok yang saudara tolak itu.
1) Theology - doktrin tentang
Allah.
2) Anthropology - doktrin tentang
manusia.
3) Christology - doktrin tentang
Kristus.
4) Soteriology - doktrin tentang
keselamatan.
5) Ecclesiology - doktrin tentang
gereja.
6) Eschatology - doktrin tentang
akhir jaman.
-o0o-
1) Arti kata.
Kata Eschatology berasal
dari kata Yunani ESKHATON dan LOGOS.
Kata ESKHATOS berarti:
·
last (= akhir / terakhir).
·
utmost (= terjauh / tertinggi).
·
extreme (= akhir / terjauh).
Kata ini bisa digunakan
tentang tempat, pangkat / kedudukan, waktu.
Kata LOGOS berarti ‘kata’ /
‘firman’ atau ‘ucapan’ atau ‘ajaran’.
Eschatology = ajaran /
doktrin tentang akhir jaman.
2) Keingin-tahuan
manusia tentang akhir segala sesuatu.
Pertanyaan tentang
Eschatology merupakan pertanyaan yang alamiah / umum. Orang-orang biasanya
bukan hanya bertanya ‘dari
mana semua hal ini berasal?’, tetapi juga ‘semua hal ini akan menuju kemana?’.
Herman Hoeksema: “everything
in creation witnesses not only of a beginning but also of an end. ... No more
than we can ever think the earth without a beginning, no more can we conceive
of her without an end” (=
segala sesuatu dalam ciptaan menyaksikan bukan hanya suatu permulaan tetapi
juga suatu akhir. ... Sama seperti kita tidak bisa memikirkan bumi tanpa
permulaan, maka demikian juga kita tidak bisa memikirkannya tanpa suatu akhir) - ‘Reformed Dogmatics’,
hal 737,738.
Apakah memang benar bahwa
segala sesuatu dalam ciptaan ini menyaksikan suatu akhir? Saya kira ya.
Contohnya:
·
Binatang / orang yang lahir dan yang mati.
·
Tanaman yang tumbuh dan yang mati.
·
Matahari terus membakar dirinya sendiri, dan pada suatu saat pasti akan
habis / padam.
·
Herman Hoeksema mengatakan bahwa tempat / dunia ini terbatas, dan ini
akan bertabrakan dengan makin bertambahnya jumlah makhluk hidup dalam dunia
ini.
·
Adanya efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global, yang akan
menyebabkan bencana yang luar biasa bagi dunia ini.
Juga kalau kita melihat dari
segi moral, adanya dosa dan ketidak-adilan dalam dunia ini, menuntut adanya
suatu akhir dan penghakiman, tanpa mana Allah itu betul-betul tidak adil!
3) Boleh dikatakan semua agama, yang primitif sekalipun, mempunyai
doktrin tentang eschatology.
Louis Berkhof (Systematic Theology, hal 662) mengutip kata-kata seseorang yang mengatakan bahwa
kepercayaan bahwa jiwa manusia tetap ada / hidup setelah manusia itu mati
merupakan sesuatu yang hampir bersifat universal, sehingga tidak ada catatan
yang bisa dipercaya tentang adanya suatu bangsa / suku bangsa / agama yang
tidak mempercayai hal tersebut. Kepercayaan itu mempunyai bermacam-macam wujud,
seperti:
a) Kepercayaan bahwa roh orang mati itu masih
bisa berada di sekeliling kita / gentayangan di dunia ini.
b) Penyembahan terhadap nenek moyang yang telah
mati.
c) Praktek pemanggilan arwah, seperti
jailangkung, cucing, Ouija Board, dan sebagainya.
d) Kepercayaan tentang adanya dunia orang mati
dan sebagainya.
4) Doktrin ini sekalipun tidak dilupakan, tetapi tidak pernah
ditekankan, padahal ini merupakan doktrin yang penting.
Louis Berkhof mengatakan
bahwa Gereja / orang Kristen individu tak pernah tak memikirkan tentang
Eschatology dan mendapatkan penghiburan darinya, tetapi ia menambahkan bahwa
tidak pernah ada satu masa dalam sejarah Gereja Kristen dimana Eschatology
merupakan pusat pemikiran Kristen. Ia bahkan menambahkan bahwa sekarang
Eschatology merupakan ‘logi’ yang paling tidak berkembang, dan sering menempati
posisi yang rendah dengan Systematic Theology. Ia juga mengakui bahwa dalam
Theologia Reformedpun hal itu terjadi. Dan para ahli theologia Reformed
biasanya hanya membahas hal-hal tertentu dari Eschatology, dan mengabaikan
hal-hal lainnya.
Pentingnya Eschatology
ditunjukkan oleh Louis Berkhof dengan mengutip kata-kata Dr. Kuyper yang
mengatakan bahwa semua ‘logi’ yang lain meninggalkan beberapa pertanyaan yang
belum terjawab:
·
Dalam Theology / doktrin tentang Allah, pertanyaannya adalah bagaimana
Allah pada akhirnya dipermuliakan dalam pekerjaan tanganNya, dan bagaimana
rencana Allah digenapi sepenuhnya.
·
Dalam Anthropology / doktrin tentang manusia, pertanyaannya adalah
bagaimana pengaruh yang mengacaukan / mengganggu dari dosa bisa diatasi
sepenuhnya.
·
Dalam Christology / doktrin tentang Kristus, pertanyaannya adalah
bagaimana pekerjaan / karya Kristus dimahkotai dengan kemenangan yang sempurna.
·
Dalam Soteriology / doktrin tentang keselamatan, pertanyaannya adalah
bagaimana pekerjaan dari Roh Kudus pada akhirnya menghasilkan penebusan dan
pemuliaan yang sempurna dari umat Allah.
·
Dalam Ecclesiology / doktrin tentang gereja, pertanyaannya adalah
tentang pemuliaan akhir dari gereja.
Semua pertanyaan ini
mendapatkan jawabannya dalam Eschatology, yang membuat Eschatology sebagai
puncak dari semua itu.
Louis Berkhof membagi
eschatology menjadi 2, yaitu:
1) Individual eschatology.
Orang-orang yang mati
sebelum Kristus datang kedua-kalinya pindah dari jaman sekarang ke jaman yang
akan datang, yang adalah kekekalan. Hal-hal yang menyinggung kondisi dari
individu-individu antara kematian dan kebangkitan orang mati, termasuk dalam
eschatology pribadi / individu. Hal-hal yang akan dibahas adalah:
·
kematian jasmani.
·
kekekalan / ketidak-bisa-binasaan jiwa (the
immortality of the soul).
·
intermediate state (keadaan antara kematian
dan kebangkitan orang mati / kedatangan Kristus yang kedua-kalinya).
2) General eschatology.
Ini merupakan eschatology
yang bersangkutan dengan semua manusia. Hal-hal yang akan dibahas adalah:
·
tanda-tanda yang mendahului kedatangan Yesus yang kedua-kalinya.
·
kerajaan 1000 tahun.
·
rapture / pengangkatan orang suci.
·
kedatangan Kristus yang kedua-kalinya.
·
kebangkitan orang mati.
·
penghakiman terakhir.
·
‘the consummation of the
Kingdom’ (=
penyempurnaan / perwujudan Kerajaan).
·
keadaan akhir dari orang-orang yang saleh / percaya dan yang jahat /
tidak percaya.
-o0o-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 22 Juni 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
A) Dalam Kitab Suci, kematian jasmani dibicarakan dengan berbagai
cara:
1) Itu dikatakan sebagai kematian dari tubuh,
dan ini dibedakan dari kematian dari jiwa.
Mat 10:28 - “Dan janganlah kamu takut kepada mereka
yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa;
takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun
tubuh di dalam neraka”.
2) Itu dinyatakan sebagai akhir dari jiwa, atau hilangnya jiwa.
Mark 3:4 - “Kemudian kataNya kepada mereka: ‘Manakah
yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan
nyawa orang atau membunuh orang?’ Tetapi mereka itu diam saja”.
Yoh 12:25 - “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan
nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan
memeliharanya untuk hidup yang kekal”.
Yoh 13:37-38 - “(37) Kata Petrus kepadaNya: ‘Tuhan,
mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan
nyawaku bagiMu!’ (38) Jawab Yesus: ‘Nyawamu akan kauberikan bagiKu?
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah
menyangkal Aku tiga kali.’”.
Kis 15:26 - “yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan
nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus”.
Kis 20:24 - “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku
sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan
pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian
tentang Injil kasih karunia Allah”.
3) Itu digambarkan sebagai perpisahan tubuh dengan jiwa.
a) 1Raja 17:21-22 - “Lalu ia mengunjurkan badannya di atas
anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: ‘Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah
kiranya nyawa anak ini ke dalam
tubuhnya.’ TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya,
sehingga ia hidup kembali”.
Catatan: kata ‘nyawa’ diterjemahkan dari kata bahasa Ibrani NEPHESH, yang artinya
adalah ‘jiwa’.
Bahwa pada saat bangkit
nyawa / jiwa anak itu pulang kembali ke tubuhnya, membuktikan bahwa pada saat
mati terjadi perpisahan antara tujuh dan jiwa / roh.
Hal yang sama terjadi dalam
Luk 8:55 - “Maka
kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu
Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan”.
Catatan: Saya termasuk penganut Dichotomy, yang mempercayai
bahwa manusia hanya terdiri dari 2 bagian, yaitu tubuh dan jiwa / roh. Jadi,
saya tidak membedakan jiwa dan roh.
b) Maz 146:3-4 - “(3) Janganlah percaya kepada para
bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. (4) Apabila
nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah
maksud-maksudnya”.
Catatan: ay 4nya jelas menggambarkan kematian. Kata ‘nyawa’ dalam bahasa Ibrani adalah RUAKH, dan karena
itu seharusnya diterjemahkan ‘roh’. Jelas dari ay 4 ini
bahwa kematian digambarkan sebagai perpisahan dari:
·
‘roh’, yang dikatakan ‘melayang’ [RSV/NIV/NASB: ‘departs’ (= pergi)].
·
‘tubuh’, yang
dikatakan ‘kembali ke tanah’ (=
dikuburkan).
c) Pkh 12:5-7 - “(5) juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di
jalan, pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah dan nafsu
makan tak dapat dibangkitkan lagi - karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal
dan peratap-peratap berkeliaran di jalan, (6) sebelum rantai perak
diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata
air dan roda timba dirusakkan di atas sumur, (7) dan debu kembali menjadi
tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang
mengaruniakannya”.
Kata-kata yang saya
garis-bawahi itu jelas menunjuk pada kematian, sedangkan kata-kata yang saya
cetak miring menjelaskan bahwa kematian berarti bahwa roh itu kembali kepada
Allah yang mengaruniakannya, dan ini jelas menunjukkan bahwa pada saat kematian
itu terjadi, roh itu terpisah dari tubuhnya.
d) Mark 15:37 - “Lalu
berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawaNya”.
KJV: ‘and gave
up the ghost’ (= dan menyerahkan rohNya).
RSV/NIV/NASB: ‘and breathed his last’ (= dan
menghembuskan nafasNya yang terakhir).
Kata Yunani yang digunakan
dalam Mark 15:37 ini berbeda dengan kata Yunani yang digunakan dalam
ayat-ayat paralelnya (Mat 27:50
Luk 23:46 Yoh 19:30).
Dalam Mark 15:37 ini digunakan kata Yunani EXEPNEUSEN. Kata Yunani yang persis
sama sebetulnya juga digunakan dalam Mark 15:39, tetapi dalam Kitab Suci
Indonesia terjemahannya jadi berbeda. Kata EXEPNEUSEN berasal dari kata dasar
EKPNEO (‘Linguistic Key to the Greek New Testament’, hal 133), yang berarti ‘to
breathe out, to expire, to die’.
Tetapi bandingkan dengan
kata Yunani EXEPSUXEN / EKPSUCHO dalam point di atas (pembahasan tentang
Kis 5:5,10 Kis 12:23). Kalau
itu menunjukkan bahwa kematian merupakan perpisahan tubuh dengan jiwa, maka
yang ini menunjukkan bahwa kematian merupakan perpisahan tubuh dengan roh.
e) Luk 23:43,46 - “(43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan
Aku di dalam Firdaus.’ ... (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya
Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata
demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.
Bdk. Yoh 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu,
berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan
nyawaNya”.
Baik dalam
Luk 23:43,46, maupun dalam Yoh 19:20, kata ‘nyawa’ seharusnya adalah ‘roh’ (Yunani: PNEUMA).
f) Penceritaan tentang kematian Ananias dan
Safira dalam Kis 5:5,10, dan tentang kematian Herodes dalam Kis 12:23.
·
Kis 5:5,10 - ‘putuslah
nyawanya’.
KJV: ‘gave up /
yielded up the ghost’ (= menyerahkan roh).
RSV/NIV: ‘died’ (= mati).
NASB: ‘breathed his / her last’ (= menghembuskan
nafas terakhir).
·
Kis 12:23 - “ia
mati dimakan cacing-cacing”.
Kata Yunani yang dipakai
adalah EXEPSUXEN (dalam Perjanjian Baru kata ini hanya digunakan 3 x, yaitu
dalam Kis 5:5,10 Kis 12:23),
yang berasal dari kata dasar EKPSUCHO. Kata EKPSUCHO ini pasti berasal dari 2
kata Yunani yaitu EK [= from (= dari), out from (= keluar dari), away from (= jauh dari)] + PSUCHE [= soul
(= jiwa)]. Kata Yunani ini menunjukkan bahwa ‘mati’ merupakan ‘perpisahan
tubuh dengan jiwa’.
g) Kis 7:59 - “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya
Tuhan Yesus, terimalah rohku.’”.
Stefanus menyerahkan rohnya
kepada Yesus, dan ini berarti rohnya pergi ke surga. Sedangkan tubuhnya
dikuburkan (Kis 8:2). Jadi, jelas bahwa tubuh dan jiwa / rohnya terpisah
pada saat ia mati.
h) 2Kor 5:8 - “tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih
dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan”.
KJV: ‘to be absent from the body, and to be present with the Lord’ (= absen dari tubuh, dan hadir dengan Tuhan).
RSV: ‘be away from the body and at home with the Lord’ (= jauh dari
tubuh dan di rumah dengan Tuhan).
NIV: ‘to be away from the body and at home with the
Lord.’ (= jauh dari tubuh dan di rumah dengan Tuhan).
NASB: ‘to be absent from the
body and to be at home with the Lord’ (= absen dari tubuh dan ada di rumah
dengan Tuhan).
Yunani: EKDEMESAI EK TOU SOMATOS KAI ENDEMESAI PROS TON
KURION.
Perhatikan kontras antara
EKDEMESAI (= to go away from home / pergi dari rumah) dan
ENDEMESAI (= to come home / pulang ke rumah). Jadi
kematian digambarkan sebagai ‘pergi
dari rumah menjauhi tubuh’, dan ‘pulang
ke rumah kepada Tuhan’.
i) 2Kor 5:10
- “Sebab kita semua harus
menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang
patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini,
baik ataupun jahat”.
Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu, yang diterjemahkan
secara berbeda oleh Kitab Suci bahasa Inggris.
KJV: ‘in his body’ (= dalam tubuhnya).
RSV/NIV/NASB: ‘in the body’ (= dalam tubuh).
Dalam bahasa Yunani memang digunakan kata SOMA, yang artinya adalah ‘tubuh’.
Yang dimaksudkan oleh Paulus jelas adalah bahwa apa yang dihakimi nanti
hanyalah apa yang dilakukan oleh seseorang pada saat ia masih hidup. Paulus
menggambarkan ‘keadaan masih hidup’ itu dengan kata-kata ‘dalam tubuh’. Ini jelas menunjukkan bahwa pada saat mati, roh / jiwa seseorang
meninggalkan / terpisah dari tubuhnya.
j) Yak 2:26 - “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian
jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”.
Dalam ayat ini Yakobus
mengatakan bahwa ‘mati’ adalah ‘tubuh tanpa roh’. Jadi, pada saat kematian
terjadi, maka roh pasti meninggalkan tubuh.
k) 2Pet 1:14 - “Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah
tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus
Kristus, Tuhan kita”.
Dalam ayat ini Petrus
menggambarkan kematian dengan kata-kata ‘menanggalkan kemah tubuhku’, yang jelas menunjukkan
perpisahan tubuh dengan jiwa / rohnya.
l) Kematian berulangkali digambarkan sebagai ‘pergi’ / ‘kepergian’.
·
Fil 1:23 - “Aku
didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus
- itu memang jauh lebih baik”
·
Luk 9:31 - “Keduanya
menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergianNya
yang akan digenapiNya di Yerusalem”.
·
2Pet 1:15-16 - “(15)
Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu
selalu mengingat semuanya itu. (16) Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng
isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan
Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari
kebesaranNya”.
Dalam 3 text ini, kematian digambarkan sebagai ‘pergi’ / ‘kepergian’, dan tentunya
yang ‘pergi’ adalah jiwa / rohnya. Karena itu, ini
lagi-lagi menunjuk pada perpisahan tubuh dengan jiwa / roh.
m) Wah 20:4b
- “Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya
karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; ...”.
Wah 6:9 - “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai
yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah
dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki”.
Kedua ayat di atas ini menunjukkan bahwa orang-orang kristen yang mati
dibunuh terlihat hanya sebagai ‘jiwa / roh’, dan itu jelas menunjukkan
keterpisahan antara jiwa / roh mereka dengan tubuh mereka.
Dari semua ini harus
disimpulkan bahwa kematian seseorang bukan berarti bahwa orang itu musnah sama
sekali, dan tidak lagi mempunyai keberadaan.
Louis Berkhof: “In view of all this it may be said that,
according to Scripture, physical death is a termination of physical life by the
separation of body and soul. It is never an annihilation, though some sects
represent the death of the wicked as such. ... Death is not a cessation of
existence, but a severance of the natural relations of life. Life and death are
not opposed to each other as existence and non-existence, but are opposites
only as different modes of existence” (= Mengingat semua ini, bisa dikatakan bahwa, menurut
Kitab Suci, kematian jasmani merupakan suatu pengakhiran dari kehidupan fisik
oleh perpisahan tubuh dan jiwa. Itu tidak pernah merupakan suatu pemusnahan,
sekalipun beberapa sekte menggambarkan kematian dari orang-orang jahat seperti
itu. ... Kematian bukanlah suatu penghentian dari keberadaan, tetapi suatu
pemutusan dari hubungan kehidupan yang alamiah. Kehidupan dan kematian tidak
dikontraskan satu dengan yang lain seperti ‘ada’ dan ‘tidak ada’, tetapi
bertentangan hanya sebagai perwujudan yang berbeda dari keberadaan) - ‘Systematic Theology’, hal 668.
Herman Hoeksema: “although
death is the end as far as our existence in this present world is concerned, it
is not the end of man in the absolute sense of the word” (= sekalipun kematian merupakan akhir sejauh
keberadaan kita di dunia sekarang ini yang dipersoalkan, itu bukan akhir dari
manusia dalam ati mutlak dari kata itu) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 750.
B) Hubungan antara dosa dan kematian.
Ada orang-orang yang
beranggapan bahwa Adam diciptakan dalam keadaan mortal / bisa mati, dan membawa
dalam dirinya benih kematian. Jadi, seandainya ia tidak jatuh ke dalam dosa, ia
tetap akan mati.
Ini jelas salah, karena
Kitab Suci menyatakan bahwa:
1) Kematian merupakan hukuman atas dosa.
Kej 2:17 - “tetapi pohon pengetahuan tentang yang
baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau
memakannya, pastilah engkau mati.’”.
Kej 3:19 - “dengan berpeluh engkau akan mencari
makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah
engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.’”.
Ro 5:12,17 - “(12) Sebab itu, sama seperti dosa
telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut,
demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang
telah berbuat dosa. ... (17) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut
telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang
telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan
berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus”.
Ro 6:23 - “Sebab upah dosa ialah maut;
tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
1Kor 15:21 - “Sebab sama seperti maut datang karena
satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu
orang manusia”.
Yak 1:15 - “Dan apabila keinginan itu telah
dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan
maut”.
2) Kematian tidak digambarkan sebagai sesuatu
yang alamiah dalam kehidupan manusia, tetapi digambarkan sebagai sesuatu yang
asing dan bersifat bermusuhan terhadap kehidupan manusia; kematian itu
merupakan pernyataan dari kemurkaan ilahi, penghakiman / penghukuman, dan
kutuk, dan ditakuti oleh manusia, karena bukan merupakan sesuatu yang alamiah.
Bandingkan dengan ayat-ayat
di bawah ini:
Maz 90:7,11 - “(7) Sungguh, kami habis lenyap karena
murkaMu, dan karena kehangatan amarahMu kami terkejut. ... (11) Siapakah yang
mengenal kekuatan murkaMu dan takut kepada gemasMu?”.
Ro 5:16 - “Dan kasih karunia tidak berimbangan
dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah
mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak
pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran”.
Gal 3:13 - “Kristus telah menebus kita dari kutuk
hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:
‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”.
Louis Berkhof: “In strict justice God might have imposed
death on man in the fullest sense of the word immediately after his
transgression, Gen 2:17. But by His common grace He restrained the operation of
sin and death, and by is special grace in Christ Jesus He conquered these
hostile forces, Rom 5:17; 1Cor 15:45; 2Tim 1:10; Heb 2:14; Rev 1:18; 20:14.
Death now accomplishes its work fully only in the lives of those who refuse the
deliverance from it that is offered in Jesus Christ. Those who believe in
Christ are freed from the power of death, are restored to communion with God,
and are endowed with an endless life, John 3:36; 6:40; Rom 5:17,21; 8:23; 1Cor
15:26,51-57; Rev 20:14; 21:3,4.” (= Dalam keadilan yang ketat, Allah bisa menjatuhkan kematian kepada
manusia dalam arti yang paling penuh dari kata itu, segera setelah
pelanggarannya, Kej 2:17. Tetapi oleh kasih karuniaNya yang bersifat umum, Ia
mengekang / menahan pekerjaan dari dosa dan kematian, dan oleh kasih karuniaNya
yang khusus dalam Kristus Yesus, Ia mengalahkan kekuatan-kekuatan yang
bermusuhan ini, Ro 5:17; 1Kor 15:45; 2Tim 1:10; Ibr 2:14;
Wah 1:18; 20:14. Sekarang kematian menyelesaikan / menyempurnakan
pekerjaannya hanya dalam kehidupan dari mereka yang menolak pembebasan darinya
yang ditawarkan dalam Kristus Yesus. Mereka yang percaya kepada Kristus
dibebaskan dari kuasa kematian, dipulihkan pada persekutuan dengan Allah, dan
diberkati dengan kehidupan kekal, Yoh 3:36; 6:40; Ro 5:17,21; 8:23;
1Kor 15:26,51-57; Wah 20:14; 21:3,4) - ‘Systematic Theology’, hal 670.
C) Arti kematian bagi orang percaya.
Kitab Suci menyatakan
kematian / maut sebagai upah / hukuman dari dosa. Tetapi ini berlaku hanya bagi
orang-orang yang tidak percaya. Orang yang percaya kepada Kristus telah
dibenarkan, sehingga tak lagi bisa dihukum.
Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada
penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”.
Jadi, jelas bahwa bagi
orang-orang percaya, kematian (juga penderitaan) bukan lagi merupakan hukuman
dosa.
Herman Hoeksema: “the
death of believers is no longer to be considered a manifestation of the wrath
of God, an execution of justice, a punishment for sin. It is changed into
something else for them that are in Christ” (= kematian orang-orang percaya bukan lagi dianggap sebagai
perwujudan dari murka Allah, pelaksanaan keadilan, hukuman dari dosa. Itu
diubah menjadi sesuatu yang lain bagi mereka yang ada di dalam Kristus) - ‘Reformed Dogmatics’,
hal 752.
Herman Hoeksema: “even
though, judging from outward appearances, their death appears the same as that
of unbelievers, even though they too pass through the same struggle and suffer
the same agony in departing from this present world, their death is essentially
different”
[= sekalipun, dinilai dari kelihatannya dari luar, kematian mereka (orang-orang
percaya) kelihatannya
sama seperti kematian orang-orang yang tidak percaya, sekalipun mereka juga melewati pergumulan yang sama, dan
menderita penderitaan yang sama pada waktu meninggalkan dunia yang sekarang
ini, kematian mereka berbeda secara hakiki] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 754.
Tetapi mengapa orang percaya
tetap harus mati?
1) Ini perlu untuk pengudusan dari orang-orang
percaya itu.
Louis Berkhof: “the death of the believers must be regarded
as the culmination of the chastisements which God has ordained for the
sanctification of His people. ... The very thought of death, bereavements
through death, the feeling that sickness and sufferings are harbingers of
death, and the consciousness of the approach of death, - all have a beneficial
effects on the people of God. They serve to humble the proud, to mortify
carnality, to check worldliness and to foster spiritual-mindedness. ... It
completes the sanctification of the souls of believers, so that they become at
once ‘the spirits of just men made perfect,’ Heb 12:23; Rev 21:27. Death is not
the end for believers, but the beginning of a perfect life. They enter death
with the assurance that its sting has been removed, 1Cor 15:55, and that it is
for them the gateway of heaven” (= kematian dari orang-orang percaya harus dianggap sebagai puncak dari hajaran
yang ditentukan Allah bagi pengudusan umatNya. ... Pemikiran tentang kematian,
kehilangan melalui kematian, perasaan bahwa penyakit dan penderitaan merupakan
pertanda dari kematian, dan kesadaran tentang mendekatnya kematian, - semua ini
mempunyai akibat yang bermanfaat pada umat Allah. Hal-hal itu berguna untuk
memberikan kerendahan hati kepada orang-orang yang sombong, mematikan
kedagingan, mengurangi keduniawian, dan membantu perkembangan pemikiran yang
rohani. ... Itu menyempurnakan pengudusan dari jiwa-jiwa orang percaya,
sehingga mereka langsung menjadi ‘roh-roh orang benar yang disempurnakan’, Ibr
12:23; Wah 21:27. Kematian bukanlah merupakan suatu akhir bagi orang-orang
percaya, tetapi permulaan dari suatu kehidupan yang sempurna. Mereka memasuki
kematian dengan suatu kepastian / jaminan bahwa sengat dari kematian itu telah
disingkirkan, 1Kor 15:55, dan bagi mereka itu merupakan pintu gerbang surga) - ‘Systematic Theology’, hal 670-671.
Ibr 12:22-23 - “(22) Tetapi kamu sudah datang ke Bukit
Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu
malaikat, suatu kumpulan yang meriah, (23) dan kepada jemaat anak-anak sulung,
yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang,
dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna”.
Wah 21:27 - “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya
sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya
mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu”.
Ada 2 hal yang perlu
ditambahkan berkenaan dengan kata-kata Louis Berkhof di atas:
a) Berbicara tentang ‘hajaran’, perlu dicamkan bahwa ‘hukuman’ sangat berbeda dengan ‘hajaran’. Orang percaya tidak lagi bisa mendapatkan ‘hukuman’, baik di dunia ini maupun
di dunia yang akan datang. Tetapi di dunia ini mereka masih selalu menerima ‘hajaran’.
Herman Hoeksema: “there
is a great difference between punishment and chastisement. The former is the
expression of God’s just and condemning wrath. The latter is the operation of
His paternal love” (=
ada perbedaan yang besar antara hukuman dan hajaran. Yang pertama merupakan
perwujudan dari murka yang adil dan menghukum dari Allah. Yang terakhir
merupakan pekerjaan dari kasih keBapaanNya) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 753.
Ibr 12:6-11 - “(6) karena Tuhan menghajar orang yang
dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu
harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah
terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas
dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak,
tetapi anak-anak gampang. (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita
beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus
lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka
mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap
baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian
dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan
tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan
buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya”.
b) Sekalipun mengatakan bahwa kematian merupakan
puncak hajaran untuk menguduskan orang percaya, tetapi Louis Berkhof
menambahkan bahwa itu bukanlah sesuatu yang mutlak harus ada untuk menguduskan
orang percaya.
Louis Berkhof: “It cannot be said that the destruction of
the body is absolutely essential to a perfect sanctification, since that is
contradicted by the examples of Enoch and Elijah” (= Tidak bisa dikatakan bahwa penghancuran
tubuh merupakan sesuatu yang perlu secara mutlak untuk pengudusan, karena hal
itu bertentangan dengan contoh Henokh dan Elia) - ‘Systematic Theology’, hal 670.
2) Kristus sendiri mengalami kematian, dan
karena itu pengikut Kristus juga mengalaminya.
Ro 6:5 - “Sebab jika kita telah menjadi satu
dengan apa yang sama dengan kematianNya, kita juga akan menjadi satu dengan apa
yang sama dengan kebangkitanNya”.
3) Kitab Suci mengatakan bahwa tubuh kita yang
sekarang ini tidak bisa masuk surga.
1Kor 15:50 - “Saudara-saudara, inilah yang hendak
kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam
Kerajaan Allah dan bahwa yang (bisa) binasa tidak mendapat
bagian dalam apa yang tidak (bisa) binasa”.
Herman Hoeksema: “the
death of believers is a passage into eternal life” (= kematian orang-orang percaya merupakan
suatu jalan ke dalam hidup yang kekal) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 755.
D) Setiap orang ditentukan untuk mati hanya 1 x.
Ibr 9:27 - “Dan sama seperti manusia ditetapkan
untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,”.
1) Ini bertentangan dengan reinkarnasi.
Ayat ini bukan hanya
mengatakan bahwa manusia ditentukan untuk mati hanya satu kali saja, tetapi juga
menambahkan bahwa setelah itu manusia itu akan dihakimi.
Karena itu, ayat ini jelas
bertentangan dengan ajaran tentang reinkarnasi (Hindu / Buddha), yang
mengatakan bahwa manusia bisa mati dan lalu menitis kembali / dilahirkan
kembali, dan semua itu bisa terjadi ratusan kali.
2) Ada perkecualian terhadap Ibr 9:27 tersebut, yaitu:
a) Elia dan Henokh, yang tidak mengalami kematian.
b) Orang-orang percaya yang masih hidup pada
saat Kristus datang kedua-kalinya. Mereka ini juga tidak akan mengalami kematian.
1Tes 4:16-17 - “(16) Sebab pada waktu tanda diberi,
yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka
Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan
lebih dahulu bangkit; (17) sesudah itu, kita yang hidup, yang masih
tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan
di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”.
Jadi, dalam text ini
dikontraskan 2 golongan orang percaya pada saat Yesus datang kedua-kalinya.
Yang sudah mati, akan dibangkitkan dulu. Tetapi yang masih hidup, langsung
diangkat dan akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Tetapi berdasarkan
1Kor 15:50, yang mengatakan bahwa ‘daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan
Allah’,
maka harus disimpulkan bahwa orang-orang golongan ke 2 ini, sekalipun tidak
mengalami kematian, tetapi diubahkan tubuhnya menjadi tubuh kebangkitan.
c) Orang-orang yang pernah mengalami kematian tetapi lalu
dibangkitkan lagi.
Dalam Kitab Suci ada banyak
peristiwa kebangkitan, yaitu:
1. 1Raja 17:17-24 - anak janda di Sarfat yang dibangkitkan oleh Elia.
2. 2Raja 4:18-37 - anak perempuan Sunem yang dibangkitkan oleh Elisa.
3. 2Raja 13:21 - mayat yang bangkit setelah terkena tulang
Elisa.
4. Mark 5:21-43 - Anak Yairus yang dibangkitkan oleh Yesus.
5. Luk 7:11-17 - anak janda di Nain yang dibangkitkan oleh Yesus.
6. Yoh 11:1-44 - Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus.
7. Mat 27:52-53 - orang-orang kudus yang bangkit pada saat
kematian Yesus.
8. Kis 9:36-42 - Dorkas / Tabita yang dibangkitkan oleh Petrus.
9. Kis 20:8-12 - Eutikhus yang dibangkitkan oleh Paulus.
Kebangkitan orang-orang ini
berbeda dengan kebangkitan Yesus. Dalam peristiwa kebangkitan Yesus, tubuh
lamanya dibangkitkan, tetapi langsung diubahkan menjadi tubuh kebangkitan.
Karena itu sekalipun ada banyak orang bangkit sebelum Yesus, tetapi Yesus tetap
disebut sebagai yang pertama / sulung yang bangkit dari antara orang mati.
Kis 26:23 - “yaitu, bahwa Mesias harus menderita
sengsara dan bahwa Ia adalah yang
pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan
memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain.’”.
1Kor 15:20-23 - “(20) Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus
telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. (21)
Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga
kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama
seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua
orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. (23) Tetapi
tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya
pada waktu kedatanganNya”.
Kol 1:18 - “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah
yang sulung, yang pertama bangkit
dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu”.
Wah 1:5a - “dan dari Yesus Kristus, Saksi yang
setia, yang pertama bangkit
dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini”.
Tetapi semua orang di atas,
hanya bangkit dengan tubuh lamanya, tanpa mengalami perubahan menjadi tubuh
kebangkitan. Karena itu tidak bisa tidak, mereka akan mengalami kematian lagi.
Jadi, orang-orang ini mengalami kematian dua kali, dan ini merupakan
perkecualian terhadap Ibr 9:27.
Tetapi perlu juga dicatat,
bahwa selama ribuan tahun dalam sejarah Kitab Suci, hanya ada 9 peristiwa
kebangkitan orang mati (10 peristiwa, kalau kebangkitan Yesus diperhitungkan).
Jadi, ini merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi!
3) Adanya Ibr 9:27 ini menyebabkan kita
harus mempunyai sikap yang berbeda pada waktu menghadapi penyakit yang tidak
bisa disembuhkan, dan pada waktu menghadapi kematian orang yang kita cintai.
Pada waktu kita atau orang
yang kita cintai sakit berat, dan secara medis tidak bisa disembuhkan, kita
boleh meminta (tetapi bukan memaksa / menuntut) Tuhan supaya melakukan mujijat,
dan memberikan kesembuhan. Meminta seperti ini tidak bertentangan dengan firman
Tuhan yang manapun, dan kalau Tuhan menuruti permintaan seperti ini, Ia juga
tidak bertentangan dengan firman yang manapun dalam Kitab Suci.
Tetapi pada waktu kita
menghadapi kematian orang yang kita cintai, kita harus berserah pada kehendak
Tuhan. Meminta Tuhan membangkitkan orang yang kita cintai itu, sama dengan
meminta Tuhan menabrak firmanNya dalam Ibr 9:27 itu. Sekalipun Tuhan
memang membuat perkecualian, seperti dalam point c) di atas, tetapi kalau Tuhan
terus menerus membuat perkecualian, itu akan membuat Ibr 9:27 itu salah.
4) Selain perkecualian dalam point no 2) di
atas, yang boleh dikatakan tidak terlalu bisa diharapkan terjadi pada diri
kita, maka semua kita, lambat atau cepat pasti akan mengalami kematian. Apakah
saudara tua atau muda, laki-laki atau perempuan, sehat atau sakit-sakitan,
menjaga kesehatan atau sembrono dengan kesehatan saudara, saudara pasti akan
mati! Kematian ini bisa datang setiap saat, dan kalau sudah waktunya bagi
saudara untuk mati, saudara tidak akan bisa menghindari kematian.
Illustrasi: ada dongeng kuno tentang
seorang pedagang di Bagdad. Suatu hari ia suruh pelayannya pergi ke pasar.
Pelayan itu kembali dengan muka pucat ketakutan. Tuannya bertanya: ‘Ada apa?’. Pelayan itu menjawab: ‘Tuan, aku bertemu dengan maut. Maut itu
melihat aku, lalu menggerak-gerakkan tangannya secara menakutkan. Tuan, aku
takut sekali, tolong pinjami aku kuda, supaya aku bisa lari’. Tuan itu bertanya: ‘Kamu mau lari kemana?’. ‘Aku mau lari ke kota Samarra’. Tuan itu kasihan dan lalu
meminjamkan kudanya dan pelayan itu lari ke kota Samarra. Tuan itu lalu merasa
penasaran, dan ia lalu pergi ke kota untuk mencari maut itu. Waktu bertemu
dengan maut, ia lalu bertanya: ‘Hai
maut, mengapa kamu menakut-nakuti pelayanku?’. Maut menjawab: ‘O, itu pelayanmu. Aku tidak menakut-nakuti dia. Aku hanya
heran melihat dia di pasar di kota Bagdad ini, karena aku mempunyai perjanjian
untuk bertemu dengan dia malam ini di kota Samarra’.
Kalau kematian datang pada
saudara malam ini, siapkah saudara?
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 6 Juli 2007, pk
19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
Pada saat mati, atau
terpisahnya tubuh dengan jiwa, maka terjadi pembusukan terhadap tubuh. Tetapi
apa yang lalu terjadi dengan jiwa? Apakah jiwa itu musnah, atau tetap ada dan
hidup terus setelah kematian / terpisahnya jiwa dengan tubuh? Kekristenan
mempunyai keyakinan bahwa jiwa terus hidup setelah kematian atau setelah
terpisahnya jiwa itu dengan tubuh. Ini disebut dengan ‘the immortality of the soul’ (= ketidak-bisa-binasaan jiwa / kekekalan jiwa).
1) Istilah ‘immortality’.
a) Dalam arti mutlak ‘immortality’ hanya merupakan milik dari
Allah.
Louis Berkhof mengatakan
bahwa dalam arti yang paling mutlak, istilah ‘immortality’ itu hanya ditujukan kepada
Allah saja.
1Tim 6:15-16 - “(15) yaitu saat yang akan ditentukan
oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala
raja dan Tuan di atas segala tuan. (16) Dialah satu-satunya yang tidak
takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun
tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. BagiNyalah
hormat dan kuasa yang kekal! Amin”.
KJV: ‘Who only
hath immortality’ (= Yang adalah satu-satunya yang
mempunyai kekekalan / ketidak-bisa-binasaan).
Tetapi Louis Berkhof menambahkan bahwa ayat ini tidak berarti bahwa dari
antara makhluk-makhluk ciptaan Allah tidak ada satupun yang mempunyai ‘immortality’. Kata-kata Paulus dalam 1Tim 6:15-16 itu tentu tidak berarti bahwa
malaikat-malaikat tidak immortal. Arti dari ayat ini adalah bahwa Allah adalah satu-satunya ‘makhluk’
yang memiliki ‘immortality’ sebagai milik yang orisinil, kekal
dan harus ada (necessary). ‘Immortality’ apapun yang ada pada makhluk ciptaan, tergantung pada kehendak Allah,
dan diberikan kepada mereka, dan karena itu mempunyai permulaan. Tetapi ‘immortality’ pada diri Allah bebas dari semua pembatasan waktu.
b) ‘Immortality’, dalam arti keberadaan
tanpa akhir, juga adalah milik dari semua roh, termasuk jiwa / roh manusia.
Pada saat mati, jiwa manusia
tetap mempertahankan keberadaannya, kehidupannya, dan identitasnya.
Sebetulnya, ‘immortality’ juga adalah milik dari manusia sebelum kejatuhannya ke dalam dosa.
Pada saat belum ada dosa, manusia mempunyai ‘immortality’, atau tidak bisa mati,
tetapi ia mempunyai kemungkinan untuk masuk dalam keadaan bisa mati, yaitu
kalau ia berbuat dosa. Dan dalam faktanya, akhirnya manusia memang jatuh ke
dalam dosa, sehingga manusia masuk dalam keadaan bisa mati (mortal).
Tetapi setelah manusia itu
mati, maka jiwanya tidak bisa mati selama-lamanya.
2) Dasar kepercayaan terhadap ‘immortality’ dari jiwa manusia.
a) Jelas bahwa Allah itu ada dan Allah itu adil,
tetapi juga jelas bahwa dalam kehidupan ini, keadilan itu belum terlaksana. Ada
banyak kasus dimana ketidak-adilan merajalela, dan ada banyak dosa yang belum
dihukum, dan ada banyak orang benar yang menderita / ditindas sedangkan orang
jahat justru jaya, dan sebagainya. Kalau pada saat mati, jiwa musnah, dan tidak
ada kehidupan setelah kematian, maka semua keadilan ini tidak pernah
diluruskan. Itu berarti Allah tidak adil, dan itu tidak mungkin!
Louis Berkhof: “the demands of justice are not met in this
present life. ... Hence, there must be a future state of existence, in which
justice will reign supreme, and the inequalities of the present will be
adjusted” (=
tuntutan keadilan tidak dipenuhi dalam kehidupan sekarang ini. ... Karena itu,
harus ada keadaan keberadaan yang akan datang, dalam mana keadilan akan
memerintah sepenuhnya, dan ketidak-rataan / ketidak-samaan dari masa sekarang
akan disesuaikan) - ‘Systematic Theology’, hal 674.
b) Dasar Kitab Suci.
Herman Hoeksema: “Apart
from revelation, and that too, the revelation in Scripture, there is
really no proof whatsoever that the soul of man continues to exist after
physical death” (=
Terpisah dari wahyu / penyataan, dan itupun, wahyu / penyataan dalam Kitab Suci,
tidak ada bukti apapun yang sungguh-sungguh bahwa jiwa manusia terus ada
setelah kematian jasmani) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 747.
Satu hal yang perlu
diperhatikan adalah: sekilas pandang Kitab Suci tidak mengajarkan ‘immortality’ dari jiwa manusia, karena:
·
Kitab Suci mengatakan bahwa hanya Allah yang mempunyai ‘immortality’ (1Tim 6:15-16).
·
Kitab Suci tidak pernah memberikan pernyataan explicit bahwa jiwa
manusia itu ‘immortal’.
Ini menyebabkan sekte-sekte
sesat seperti Saksi Yehuwa sering menantang orang Kristen untuk menunjukkan
satu ayat yang menunjukkan bahwa jiwa manusia itu ‘immortal’.
Tetapi sama seperti dalam
kasus Allah Tritunggal, dimana tidak ada satu ayatpun yang mengajarkan seluruh
doktrin ini, maka dalam kasus ini, sekalipun tidak ada satupun ayat yang secara
explicit menyebutkan bahwa jiwa manusia itu immortal, tetapi itu tidak berarti
bahwa pandangan itu tidak benar. Dalam banyak ayat Kitab Suci ditunjukkan bahwa
jiwa manusia tetap hidup setelah kematian.
1. Dalam Perjanjian Lama.
Perjanjian Baru memberikan
lebih banyak ayat yang menunjukkan immortal dari jiwa dibandingkan dengan
Perjanjian Lama. Mengapa? Karena 2Tim 1:10 mengatakan: “dan yang sekarang dinyatakan oleh
kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan
kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak
dapat binasa”.
KJV: ‘and hath
brought life and immortality to
light through the gospel’ (= dan telah
membawa hidup dan ketidak-bisa-binasaan
kepada terang melalui injil).
Jadi, kedatangan Yesus yang
pertama / Injil menyatakan immortality / ketidak-bisa-binasaan
itu. Karena itu tidak aneh kalau sebelum kedatangan, kematian dan kebangkitan
Yesus Kristus, yaitu dalam jaman Perjanjian Lama, ajaran ini tidak banyak
diberikan.
Tetapi itu tidak berarti
bahwa dalam Perjanjian Lama ajaran itu sama sekali tidak ada. Sekarang
perhatikan hal-hal / ayat-ayat di bawah ini:
a. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa
Allah.
Kej 1:26-27 - “(26) Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan
manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan
di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan
atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’ (27) Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya
dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka”.
Karena itu, manusia pasti
memiliki kekekalan / immortality.
b. Perjanjian Lama mengajarkan bahwa orang mati
akan pergi ke SHEOL.
Arti dari SHEOL akan dibahas
dalam pelajaran-pelajaran yang akan datang, tetapi apapun arti dari SHEOL,
perginya orang mati ke SHEOL tetap menunjukkan bahwa jiwa manusia itu tetap ada
setelah mati.
·
Ul 32:22 - “Sebab api telah dinyalakan oleh murkaKu, dan bernyala-nyala
sampai ke bagian dunia orang mati (SHEOL) yang paling bawah; api itu
memakan bumi dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung”.
·
Maz 9:18 - “Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati (SHEOL), ya, segala bangsa yang melupakan Allah”.
Catatan: kata-kata ‘akan kembali’ dalam KJV diterjemahkan ‘shall be turned into’ (= akan dibelokkan ke dalam).
·
Maz 49:15 - “Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia
orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur,
perawakan mereka hancur, dunia orang mati (SHEOL) menjadi tempat kediaman mereka”.
Jelas bahwa orang-orang yang
masuk ke dunia orang mati itu tetap ada, dan jelas juga bahwa keadaan mereka
tidak menyenangkan.
Dan ayat-ayat di bawah ini
menunjukkan bahwa seseorang hanya masuk ke tempat dengan kebahagiaan yang
sempurna, kalau ia dibebaskan dari dunia orang mati (SHEOL) itu.
¨
Maz 89:49 - “Siapakah orang yang hidup dan yang tidak
mengalami kematian, yang dapat meluputkan nyawanya dari kuasa dunia orang
mati (SHEOL)? Sela”.
¨
Hos 13:14 - “Akan Kubebaskankah mereka dari kuasa dunia
orang mati, akan Kutebuskah mereka dari pada maut? Di manakah penyakit
samparmu, hai maut, di manakah tenaga pembinasamu, hai dunia orang mati (SHEOL)? MataKu tertutup bagi belas kasihan”.
Louis Berkhof: “Man enters upon the state of perfect bliss
only by a deliverance from SHEOL. In this deliverance we reach the real core of
the Old Testament hope of a blessed immortality. This is clearly taught in
several passages, such as Ps. 16:10; 49:14,15” (= Manusia masuk ke dalam keadaan
kebahagiaan yang sempurna hanya oleh pembebasan dari SHEOL. Dalam pembebasan
ini kita mencapai inti sesungguhnya dari pengharapan Perjanjian Lama tentang
suatu kekekalan yang diberkati. Ini diajarkan secara jelas dari beberapa text
seperti Maz 16:10; 49:15-16) - ‘Systematic
Theology’, hal
675.
Maz 16:9-11 - “(9) Sebab itu hatiku bersukacita dan
jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; (10) sebab
Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati
(SHEOL), dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan.
(11) Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapanMu ada sukacita
berlimpah-limpah, di tangan kananMu ada nikmat senantiasa”.
Maz 49:16 - “Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku
dari cengkeraman dunia orang mati (SHEOL),
sebab Ia akan menarik aku. Sela”.
c. Dalam Perjanjian Lama ada ajaran tentang
kebangkitan orang mati.
1. Kel 3:6a - “Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham,
Allah Ishak dan Allah Yakub.’”.
Sekalipun ayat ini tidak
secara explicit mengajarkan kebangkitan orang mati, tetapi Yesus menafsirkan
ayat ini secara implicit untuk menghasilkan ajaran tentang adanya kebangkitan
orang mati itu.
Mat 22:32 - “Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan
Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.’”.
Maksudnya, tidak mungkin
Allah menyebutkan dirinya sebagai ‘Allah
dari Abraham, Ishak dan Yakub’ seandainya Abraham, Ishak dan Yakub, yang saat itu sudah mati,
tidak lagi mempunyai keberadaan. Bahwa Allah menyebut diriNya sebagai ‘Allah dari Abraham, Ishak dan Yakub’ jelas menunjukkan bahwa
sekalipun mereka sudah mati, tetapi mereka tetap mempunyai keberadaan. Jiwa
mereka tetap hidup selama-lamanya.
2. Yes 26:19 - “Ya, TUHAN, orang-orangMu yang mati akan hidup pula,
mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di
dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun
terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali”.
Bagian yang saya beri garis bawah ganda diterjemahkan KJV sebagai
berikut: ‘the earth
shall cast out the dead’ (= bumi akan mengeluarkan orang
mati).
3. Dan 12:2 - “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di
dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang
kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal”.
Catatan:
·
bagian yang saya beri garis bawah
tunggal salah terjemahan.
NIV: ‘Multitudes who sleep in the dust of the earth’ (= Orang
banyak yang tidur dalam debu dari bumi).
·
kata-kata ‘akan
bangun’
jelas menunjuk pada kebangkitan orang mati.
d. Ada banyak ayat Perjanjian Lama yang
menunjukkan bahwa orang-orang benar yang mati menikmati persekutuan dengan
Allah.
Maz 16:9-11 - “(9) Sebab itu hatiku bersukacita dan
jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; (10) sebab
Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan
Orang KudusMu melihat kebinasaan. (11) Engkau memberitahukan kepadaku jalan
kehidupan; di hadapanMu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kananMu ada
nikmat senantiasa”.
Maz 17:15 - “Tetapi aku, dalam kebenaran akan
kupandang wajahMu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupaMu”.
Maz 73:24-26 - “(24) Dengan nasihatMu Engkau menuntun
aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. (25) Siapa
gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang
kuingini di bumi. (26) Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung
batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”.
Ayub 19:26-27 - “(26) Juga sesudah kulit tubuhku sangat
rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, (27) yang aku sendiri
akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikanNya dan bukan orang
lain. Hati sanubariku merana karena rindu”.
e. Pkh 3:10-11 - “(10) Aku telah melihat pekerjaan yang
diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. (11) Ia
membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi
manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai
akhir”.
KJV: ‘the world’ (= dunia).
RSV/NIV/NASB: ‘eternity’ (= kekekalan).
2. Dalam Perjanjian Baru.
a. Dalam Perjanjian Baru jelas dikatakan bahwa
jiwa orang mati tetap ada, dan ini berlaku untuk orang percaya / orang benar
maupun untuk orang yang tidak percaya / orang jahat.
Mat 10:28 - “Dan janganlah kamu takut kepada mereka
yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah
terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam
neraka”.
Mat 11:21-24 - “(21) ‘Celakalah engkau Khorazim!
Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi
mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka
bertobat dan berkabung. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari
penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada
tanggunganmu. (23) Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke
langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika
di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota
itu tentu masih berdiri sampai hari ini. (24) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada
hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada
tanggunganmu.’”.
Mat 12:41 - “Pada waktu penghakiman, orang-orang
Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab
orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan
sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”.
Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di
dalam Firdaus.’”.
Yoh 11:25-26 - “(25) Jawab Yesus: ‘Akulah kebangkitan
dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
(26) dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati
selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?’”.
Yoh 14:2-3 - “(2) Di rumah BapaKu banyak tempat
tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi
ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke
situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa
kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada”.
Ro 2:5-11 - “(5) Tetapi oleh kekerasan hatimu yang
tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu
mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. (6) Ia akan membalas
setiap orang menurut perbuatannya, (7) yaitu hidup kekal kepada mereka yang
dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan,
(8) tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang
tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. (9) Penderitaan
dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat,
pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, (10) tetapi kemuliaan,
kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik,
pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. (11) Sebab Allah tidak
memandang bulu”.
2Kor 5:1,10 - “(1) Karena kami tahu, bahwa jika kemah
tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu
tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang
tidak dibuat oleh tangan manusia. ... (10) Sebab kita semua harus menghadap
takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut
diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun
jahat”.
b. Dalam Perjanjian Baru diajarkan doktrin tentang kebangkitan orang
mati.
Bagi orang-orang percaya,
maka tubuh dibangkitkan dan bersama dengan jiwa masuk ke dalam kehidupan yang
sempurna dalam persekutuan dengan Allah. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak
percaya, kebangkitan juga berarti suatu keberadaan yang diperbaharui dari
tubuh, tetapi ini hampir tidak bisa disebut kehidupan. Kitab Suci bahkan
menyebutnya sebagai kematian kekal.
Luk 20:35-36 - “(35) tetapi mereka yang dianggap layak
untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari
antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. (36) Sebab mereka tidak
dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah
anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan”.
Yoh 5:25,28-29 - “(25) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara
Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup. ... (28) Janganlah kamu
heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam
kuburan akan mendengar suaraNya, (29) dan mereka yang telah berbuat baik akan
keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat
jahat akan bangkit untuk dihukum”.
Kis 24:15 - “Aku menaruh pengharapan kepada Allah,
sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik
orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar”.
1Kor 15:12-55 - “(12) Jadi, bilamana kami beritakan,
bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di
antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? (13) Kalau
tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. (14)
Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami
dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. (15) Lebih dari pada itu kami ternyata
berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah
membangkitkan Kristus - padahal Ia tidak membangkitkanNya, kalau andaikata
benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. (16) Sebab jika benar orang mati
tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. (17) Dan jika Kristus
tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam
dosamu. (18) Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. (19)
Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka
kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. (20) Tetapi
yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati,
sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. (21) Sebab sama
seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang
mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama seperti semua orang
mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan
dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. (23) Tetapi
tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu
mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya. (24) Kemudian tiba
kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah
Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. (25) Karena Ia
harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuhNya
di bawah kakiNya. (26) Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. (27)
Sebab segala sesuatu telah ditaklukkanNya di bawah kakiNya. Tetapi kalau
dikatakan, bahwa ‘segala sesuatu telah ditaklukkan’, maka teranglah, bahwa Ia
sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak
termasuk di dalamnya. (28) Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di
bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diriNya di bawah
Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawahNya, supaya Allah menjadi
semua di dalam semua. (29) Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan
orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak
dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah
meninggal? (30) Dan kami juga - mengapakah kami setiap saat membawa diri kami
ke dalam bahaya? (31) Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan
maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan,
bahwa hal ini benar. (32) Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya
hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka ‘marilah kita makan
dan minum, sebab besok kita mati’. (33) Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang
buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (34) Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan
jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini
kukatakan, supaya kamu merasa malu. (35) Tetapi mungkin ada orang yang
bertanya: ‘Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka
akan datang kembali?’ (36) Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan,
tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. (37) Dan yang engkau
taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak
berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. (38) Tetapi Allah memberikan
kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendakiNya: Ia memberikan kepada
tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. (39) Bukan semua daging sama: daging manusia
lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada
daging ikan. (40) Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan
tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. (41) Kemuliaan matahari
lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan
bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan
bintang yang lain. (42) Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati.
Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. (43)
Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam
kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. (44) Yang ditaburkan adalah tubuh
alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka
ada pula tubuh rohaniah. (45) Seperti ada tertulis: ‘Manusia pertama, Adam
menjadi makhluk yang hidup’, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang
menghidupkan. (46) Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi
yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. (47) Manusia pertama
berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.
(48) Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan
makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. (49) Sama
seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan
memakai rupa dari yang sorgawi. (50) Saudara-saudara, inilah yang hendak
kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam
Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak
binasa. (51) Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak
akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, (52) dalam sekejap mata,
pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang
mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua
akan diubah. (53) Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak
dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.
(54) Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa
dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan
genaplah firman Tuhan yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan. (55)
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?’”.
1Tes 4:16 - “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu
pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan
sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih
dahulu bangkit”.
Wah 20:12-15 - “(12) Dan aku melihat orang-orang mati,
besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan
dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati
dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam
kitab-kitab itu. (13) Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya,
dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya,
dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. (14) Lalu maut dan
kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang
kedua: lautan api. (15) Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis
di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.
c. Dalam Perjanjian Baru juga diajarkan bahwa
setelah kematian, maka orang-orang percaya itu akan mendapatkan kehidupan yang diberkati
dalam persekutuan dengan Allah.
Mat 13:43 - “Pada waktu itulah orang-orang benar akan
bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga,
hendaklah ia mendengar!’”.
Mat 25:34 - “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka
yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah
Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”.
Ro 2:7,10 - “(7) yaitu hidup kekal kepada mereka yang
dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan,
... (10) tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua
orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani”.
Fil 1:21,23 - “(21) Karena bagiku hidup adalah Kristus
dan mati adalah keuntungan. ... (23) Aku didesak dari dua pihak: aku ingin
pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik”.
2Tim 4:8 - “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota
kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada
hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang
merindukan kedatanganNya”.
Wah 21:4 - “Dan Ia akan menghapus segala air mata
dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi
perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama
itu telah berlalu.’”.
Wah 22:3,4 - “(3) Maka tidak akan ada lagi laknat.
Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hambaNya akan
beribadah kepadaNya, (4) dan mereka akan melihat wajahNya, dan namaNya akan
tertulis di dahi mereka”.
3) Keberatan terhadap kepercayaan tentang immortality of
the soul (=
kekekalan / ketidak-bisa-binasaan jiwa).
Pikiran / jiwa tidak
mempunyai keberadaan / substansi yang tersendiri, tetapi sekedar merupakan
hasil / fungsi dari aktivitas otak. Pada waktu tubuh hancur, otak juga hancur,
sehingga otomatis pikiran / jiwa juga hilang / musnah.
Jawaban terhadap keberatan
ini:
Sekalipun pikiran memang
merupakan fungsi dari otak, itu tidak berarti bahwa pada saat otak hancur maka
pikiran / jiwa itu musnah. Jadi, itu juga tidak berarti bahwa kita harus tidak
mempercayai immortality dari jiwa.
Illustrasi: kaca berwarna atau prisma,
bisa meneruskan sinar sedemikian rupa sehingga menentukan arah dan warna dari
sinar itu. Tetapi kaca / prisma dan sinar tetap mempunyai keberadaannya
sendiri-sendiri. Demikian juga otak meneruskan pikiran, tetapi otak dan pikiran
/ jiwa mempunyai keberadaannya sendiri-sendiri.
Yang jelas Kitab Suci tidak
mengajarkan bahwa pada saat mati, otak / jiwa juga musnah. Bandingkan dengan
cerita tentang Lazarus dan orang kaya, yang setelah matipun bisa berpikir,
mempunyai keinginan, dan bahkan bisa bercakap-cakap (Luk 16:19-31).
4) Penerapan.
Mengingat bahwa hidup di
dunia ini hanya sementara, sedangkan setelah itu jiwa hidup selama-lamanya,
bukankah kita harus hidup sedemikian rupa sehingga berguna untuk hidup yang
akan datang, bukan hidup di dunia ini?
1Tim 4:8 - “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah
[KJV/RSV/NIV/NASB:
‘godliness’ (= kesalehan)] itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik
untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang”.
Mat 16:26 - “Apa gunanya seorang memperoleh
seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat
diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.
Luk 16:9 - “Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah
persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu
tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.’”.
Amsal 11:4 - “Pada hari kemurkaan harta tidak
berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut”.
Amsal 27:24 - “Karena harta benda tidaklah abadi.
Apakah mahkota tetap turun-temurun?”.
Kedua ayat terakhir ini
perlu dicamkan oleh orang-orang yang hidup untuk uang. Sekalipun uang memang
penting, tetapi ada saat dimana uang sama sekali tidak berguna. Bandingkan
dengan kutipan di bawah ini.
What money cannot buy (= Apa yang uang tidak bisa beli).
“Money
will buy a bed but not sleep; books but not brains; food but not appetite;
finery but not beauty; a house but not a home; medicine but not health;
luxuries but not culture; amusements but not happiness; religion but not
salvation; a passport to everywhere but heaven” (= Uang bisa membeli ranjang
tetapi tidak bisa membeli tidur; buku-buku tetapi tidak otak; makanan tetapi
tidak nafsu makan; pakaian bagus / perhiasan tetapi tidak kecantikan; rumah
tetapi tidak suasana rumah yang menyenangkan; obat tetapi tidak kesehatan;
barang-barang lux / kemewahan tetapi tidak kebudayaan; hiburan tetapi tidak
kebahagiaan; agama tetapi tidak keselamatan; sebuah paspor kemana saja kecuali
ke surga).
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 13 Juli 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
Intermediate state adalah
keadaan di antara kematian seseorang dan kebangkitannya dari antara orang mati,
atau keadaan di antara kematian seseorang dan kedatangan Kristus yang
kedua-kalinya. Ada bermacam-macam pandangan tentang apa yang terjadi dengan
orang-orang mati pada intermediate state.
1) Doktrin Gereja Roma Katolik tentang keadaan dan tempat dari jiwa
setelah kematian.
a) Limbus Patrum dan Limbus
Infantum.
1. Kata bahasa
Latin LIMBUS (= tepi / pinggiran) digunakan pada abad pertengahan untuk
menunjuk pada 2 tempat yang mereka anggap ada di tepi / pinggiran neraka
(tetapi api neraka tidak mencapainya), yaitu Limbus Patrum dan Limbus Infantum.
2. Yang pertama,
yaitu Limbus Patrum, oleh Gereja Roma Katolik dianggap sebagai tempat penahanan
orang-orang kudus jaman Perjanjian Lama sampai kebangkitan Kristus dari antara
orang mati. Mereka percaya bahwa sebelum Kristus betul-betul melakukan
penebusan dosa umat manusia, surga belum terbuka, sehingga orang-orang kudus
jaman Perjanjian Lama ditahan di Limbus Patrum ini. Pada waktu Kristus mati,
mereka menganggap bahwa Kristus turun ke tempat ini, melepaskan mereka dari
tempat penahanan ini, dan membawa mereka ke surga.
3. Sedangkan yang
kedua, yaitu Limbus Infantum, merupakan tempat dari bayi-bayi yang mati tanpa
dibaptiskan, tak peduli bayi itu adalah bayi dari orang-orang kafir atau
Kristen.
Berdasarkan Yoh 3:5 mereka beranggapan bahwa bayi-bayi ini tidak bisa
masuk surga.
Yoh 3:5 - “Jawab Yesus: ‘Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat
masuk ke dalam Kerajaan Allah”.
Catatan: mereka menafsirkan bahwa kata ‘air’ menunjuk pada baptisan; menurut saya ini jelas merupakan penafsiran yang
salah.
Herman Hoeksema: “It is the Roman Catholic doctrine that without the sacrament of baptism,
administered by the church, no one can enter into the kingdom of heaven” (=
Merupakan doktrin Roma Katolik bahwa tanpa sakramen baptisan, yang dilakukan
oleh gereja, tidak seorangpun bisa masuk ke dalam kerajaan surga) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 763.
Louis Berkhof: “while they are excluded from heaven, they
are consigned to a place on the outskirts of hell, where its terrible fires do
not reach. They remain in this place forever with any hope of deliverance. ... they
suffer no positive punishment, no ‘pain of sense,’ but are simply excluded from
the blessings of heaven. They know and love God by the use of their natural
powers, and have full natural happiness” (= sementara mereka dilarang masuk ke
surga, mereka dibuang ke suatu tempat pada pinggiran dari neraka, dimana apinya
yang mengerikan itu tidak mencapainya. Mereka tinggal di tempat ini
selama-lamanya tanpa pengharapan untuk dibebaskan. ... mereka tidak menderita
hukuman yang bersifat positif, tidak ada rasa sakit, tetapi hanya dikeluarkan
dari berkat-berkat surga. Mereka mengenal dan mengasihi Allah oleh penggunaan
kekuatan alamiah mereka, dan mempunyai kebahagiaan alamiah yang penuh) - ‘Systematic Theology’, hal 687-688.
b) Purgatory / api penyucian (Katolik).
Setelah kematian, Gereja
Roma Katolik menganggap bahwa manusia terbagi dalam 3 golongan:
1. Ada orang-orang yang langsung masuk ke
neraka, yaitu:
·
Orang yang tidak dibaptis / tidak berhubungan dengan gereja.
Tetapi kelihatannya dalam
hal ini mereka belakangan melakukan perubahan doktrin, karena sekarang mereka
percaya bahwa orang-orang non kristen / orang-orang yang tidak percaya kepada
Kristuspun, bisa masuk surga!
·
Orang yang sudah dibaptis tetapi yang lalu melakukan mortal sin
(= dosa besar / mematikan).
2. Ada orang-orang yang langsung masuk surga,
yaitu orang percaya yang sempurna (orang suci, martyr).
Contoh: Rasul Paulus
(Fil 1:21,23).
Lucunya, Herman Hoeksema
mengatakan (hal 764) bahwa menurut Gereja Roma Katolik, siapa-siapa yang
termasuk dalam golongan orang suci (Santa / Santo) ditentukan oleh gereja di
dunia ini.
3. Ada orang-orang yang akan pergi ke api
penyucian, yaitu orang percaya yang tidak sempurna, dan ini merupakan
kondisi dari orang-orang percaya pada umumnya!
Gereja Roma Katolik mempercayai
bahwa jiwa orang-orang yang kurang sempurna ini harus mengalami suatu proses
penyucian sebelum mereka bisa masuk surga. Jadi, mereka masuk api penyucian
dulu.
Hal-hal yang perlu diketahui
tentang ajaran Gereja Roma Katolik berkenaan dengan api penyucian:
a. Api penyucian bukanlah tempat pencobaan /
ujian, tetapi tempat dimana jiwa-jiwa yang nantinya pasti akan masuk surga,
tetapi belum siap untuk hal itu, disucikan dan dipersiapkan supaya bisa masuk
surga.
b. Lamanya seseorang berada dalam api penyucian
itu, dan juga tingkat penderitaan / rasa sakit yang ia alami, tergantung dari
tingkat penyucian yang ia butuhkan.
c. Penderitaan dalam api penyucian.
Dalam api penyucian itu
jiwa-jiwa ini terpisah dari Allah, dan betul-betul mengalami rasa sakit.
Penderitaan dalam api penyucian ini sangat hebat, tidak berbeda dengan dalam
neraka.
Loraine Boettner dalam
bukunya ‘Roman Catholicism’, hal 220, mengutip Bellarmine, seorang ahli
theologia Roma Katolik yang terkemuka, sebagai berikut:
·
“The
pains of purgatory are very severe, surpassing anything endured in this life” (= Rasa sakit dari api penyucian itu
sangat hebat, melebihi apapun yang dialami / dirasakan dalam hidup ini).
·
“According
to the Holy Fathers of the Church, the fire of purgatory does not differ from
the fire of hell, except in point of duration. ‘It is the same fire,’ says St.
Thomas Aquinas, ‘that torments the reprobate in hell, and the just in
purgatory. The least pain in purgatory,’ he says, ‘surpasses the greatest
suffering in this life.’ Nothing but the eternal duration makes the fire of
hell more terrible than that of purgatory” (= Menurut Bapa-bapa kudus dari Gereja, api dari api
penyucian tidak berbeda dengan api dari neraka, kecuali dalam hal lamanya /
waktunya. ‘Itu adalah api yang sama’, kata orang suci yang bernama Thomas
Aquinas, ‘yang menyiksa orang jahat /
orang yang ditetapkan untuk binasa dalam neraka, dan orang benar dalam
api penyucian. Rasa sakit yang paling kecil di api penyucian’, katanya,
‘melebihi penderitaan yang paling besar dalam hidup ini’. Tidak ada sesuatu
apapun kecuali lamanya yang kekal yang membuat api neraka lebih mengerikan /
dahsyat dari pada api dari api penyucian).
d. Lamanya seseorang berada dalam api penyucian.
Loraine Boettner mengutip
Bellarmine dari bukunya yang lain dimana ia berkata:
“There is absolutely
no doubt that the pains in some cases endure for entire centuries” (= Sama sekali tidak ada keraguan bahwa
dalam kasus-kasus tertentu rasa sakit itu berlangsung untuk berabad-abad).
Louis Berkhof bahkan
mengatakan bahwa menurut Gereja Roma Katolik adalah mungkin bahwa seseorang
harus terus berada dalam api penyucian sampai penghakiman akhir jaman! Herman
Hoeksema juga mengatakan hal yang sama.
Herman Hoeksema: “This
may be a very short period, or may last till the day of judgment” (= Ini bisa merupakan suatu periode yang
sangat singkat, atau bisa berlangsung terus sampai hari penghakiman) - ‘Reformed Dogmatics’,
hal 764.
e. Hak Paus dan pastor atas api penyucian.
Paus dianggap mempunyai
kekuasaan atas api penyucian. Merupakan hak istimewa dari Paus untuk memberkan
pengampunan, meringankan penderitaan dalam api penyucian, atau bahkan
mengakhirinya. Pastor, sebagai wakil Paus, mempunyai hak yang terbatas.
Bagaimana Paus bisa
mengurangi atau mengakhiri masa penyucian dalam api penyucian ini? Roma Katolik
percaya akan adanya saints / orang-orang suci. Mereka ini adalah
orang-orang yang dianggap telah melakukan perbuatan baik lebih dari yang
diperlukan untuk masuk surga. Kelebihan perbuatan baik itu lalu ‘ditabung’, dan
Paus berhak memberikan ‘tabungan’ itu kepada orang dalam api penyucian,
sehingga mereka lalu dibebaskan dari api penyucian dan masuk ke surga. Ini
disebut dengan istilah indulgence (= pengampunan dosa).
f. Lamanya seseorang berada dalam api penyucian
bisa diperpendek, dan tingkat penderitaan seseorang dalam api penyucian bisa
dikurangi, oleh:
·
doa-doa dan perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang yang masih hidup.
·
Pemberian uang (baik oleh orang yang mati itu pada waktu ia masih
hidup, maupun oleh keluarganya setelah ia mati).
Loraine Boettner berkata: “The
doctrine of purgatory has sometimes been referred to as ‘the gold mine of the
priesthood’ since it is the source of such lucrative income”
(= Doktrin api penyucian kadang-kadang disebut sebagai ‘tambang emas keimaman’
karena itu merupakan sumber penghasilan yang menguntungkan) - ‘Roman Catholicism’,
hal 222.
·
Pengadaan misa.
Untuk melaksanakan misa ini
ada ‘ongkos’ yang harus dibayar! Besar kecilnya misa dipengaruhi oleh besar
kecilnya ongkos, padahal besar kecilnya misa ini mempengaruhi ‘masa penyucian’.
Loraine Boettner berkata: “The Irish have a
saying: ‘High money, high mass; low money, low mass; no money, no mass’” (= Orang Irlandia mempunyai pepatah:
‘Uang besar, misa besar; uang kecil, misa kecil; tidak ada uang, tidak ada
misa’) - ‘Roman
Catholicism’, hal 185.
·
Doa pastor.
·
Surat pengampunan dosa (letter of indulgence).
Beberapa hal yang perlu
diketahui tentang surat pengampunan dosa:
¨ Surat pengampunan dosa ini
mulai ada pada tahun 1190.
¨ Menjelang Reformasi (1517)
surat pengampunan dosa ini dijual. Seorang yang bernama Tetzel, pada waktu
menjual surat pengampunan dosa ini berkata: “The moment the coin
in the collection box rings, that moment the soul from purgatory springs” (= Pada saat koin berdenting di kotak
kolekte, saat itu jiwa meloncat dari api penyucian) - Dr. Albert Freundt, ‘History
of Modern Christianity’, hal 28.
Tetzel ini dengan begitu
tidak tahu malu berkata bahwa ia menyelamatkan lebih banyak jiwa dari api
penyucian dari pada apa yang dilakukan oleh Petrus melalui khotbahnya!
¨ Ini direstui oleh Council of
Trent pada tahun 1593.
g. Dasar Kitab Suci yang digunakan oleh Gereja
Roma Katolik untuk mengajarkan / mempercayai doktrin api penyucian ini:
·
2Makabe 12:38-45 - “(38)
Kemudian Yudas mengumpulkan bala tentaranya dan pergilah ia ke kota Adulam.
Mereka tiba pada hari yang ke tujuh. Maka mereka menyucikan diri menurut adat
dan merayakan hari Sabat di situ. (39) Pada hari berikutnya waktu hal itu
menjadi perlu pergilah anak buah Yudas untuk membawa pulang jenazah orang-orang
yang gugur dengan maksud untuk bersama dengan kaum kerabat mereka mengebumikan
jenazah-jenazah itu di pekuburan nenek moyang. (40) Astaga, pada tiap-tiap
orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari
berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh
hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu
gugur. (41) Lalu semua memuliakan tindakan TUHAN, Hakim yang adil, yang
menyatakan apa yang tersembunyi. (42) Merekapun lalu mohon dan minta, semoga
dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur
memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh
karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi
oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. (43) Kemudian dikumpulkannya uang
ditengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke
Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu
perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan.
(44) Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan
bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagipula
Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang
meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari
sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang
yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka”.
Bagaimana text seperti ini,
yang sama sekali tidak berbicara tentang api penyucian, bisa dijadikan dasar
dari doktrin tentang api penyucian? Orang Roma Katolik berkata begini: Kalau
orang-orang yang mati itu ada di surga ataupun neraka, maka tentu sia-sia
mendoakan mereka. Bahwa mereka didoakan, itu menunjukkan bahwa mereka tidak
berada di surga maupun di neraka, tetapi di api penyucian!
Jawab:
*
Ini termasuk dalam Apocrypha / Deuterokanonika, dan Apocrypha /
Deuterokanonika tidak kita akui sebagai Kitab Suci / Firman Tuhan.
Dalam 2Makabe ini terlihat
dengan jelas pertentangan antara ajaran Kitab Suci dan Apocrypha /
Deuterokanonika, karena kitab Apocrypha / Deuterokanonika ini memuji tindakan
mendoakan orang mati (ay 42-44), bahkan yang mati dalam dosa!
Kitab Suci tidak pernah
menyuruh mendoakan orang yang sudah mati! Bahkan dalam 1Yoh 5:16 dikatakan
sebagai berikut: “Kalau
ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan
maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberi hidup kepadanya,
yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang
mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa”.
Ayat ini mengatakan bahwa kalau ada seorang yang melakukan dosa yang
membawa maut (mungkin yang dimaksud adalah dosa menghujat Roh Kudus yang
tidak bisa diampuni - bdk. Mat 12:31-32), maka sekalipun orang itu masih
hidup, kita tidak perlu berdoa untuk orang itu. Lalu bagaimana mungkin sekarang
kita harus berdoa untuk orang yang sudah ada di dalam maut / sudah mati?
Jadi, ayat ini jelas
menunjukkan bahwa Kitab Suci melarang doa untuk orang yang sudah mati!
*
2Makabe 12:38-45 tidak berkata apa-apa tentang api penyucian. Andaikatapun
doa untuk orang-orang yang telah mati itu menunjukkan bahwa mereka tidak ada di
surga ataupun neraka, lalu apa dasarnya mengatakan bahwa mereka ada di ‘api
penyucian’?
*
Mengapa dari text seperti itu mereka menyimpulkan bahwa ada tempat di
antara surga dan neraka? Mengapa tidak ditafsirkan bahwa Yudas dalam 2Makabe
itu yang memberikan ajaran sesat / melakukan praktek yang sesat? Juga,
seandainya ada tempat di antara surga dan neraka, dari mana tahu-tahu bisa
disimpulkan bahwa tempat itu adalah ‘api penyucian’? Text itu sama sekali tidak
menunjukkan apa-apa tentang hal itu.
*
Menurut ajaran Roma Katolik sendiri orang-orang yang mempunyai jimat
seperti dalam 2Makabe itu, akan langsung masuk neraka, karena ini termasuk mortal
sin (= dosa besar / mematikan).
Louis Berkhof mengatakan
bahwa penggunaan text Makabe ini tidak cocok dengan ajaran Gereja Roma Katolik
sendiri, karena dalam 2Makabe itu orang-orang mati yang didoakan itu mempunyai
jimat, dan dengan demikian melakukan penyembahan berhala / mempunyai allah
lain, sehingga jelas mereka melakukan mortal sin. Menurut ajaran Gereja Roma
Katolik sendiri, orang-orang seperti itu seharusnya masuk neraka, bukan masuk
api penyucian.
·
4 text Kitab Suci yaitu:
*
Yes 4:4 - “apabila
TUHAN telah membersihkan kekotoran puteri Sion dan menghapuskan
segala noda darah Yerusalem dari tengah-tengahnya dengan roh yang
mengadili dan yang membakar”.
*
Mikha 7:8-9 - “(8)
Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan
bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku. (9) Aku
akan memikul kemarahan TUHAN, sebab aku telah berdosa kepadaNya, sampai Ia
memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam
terang, sehingga aku mengalami keadilanNya”.
*
Zakh 9:11 - “Mengenai
engkau, oleh karena darah perjanjianKu dengan engkau, Aku akan melepaskan
orang-orang tahananmu dari lobang yang tidak berair”.
*
Mal 3:2-3 - “(2)
Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat
tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni
logam dan seperti sabun tukang penatu. (3) Ia akan duduk seperti orang yang
memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan
mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang
mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN”.
Jawab:
Keempat text di atas saya
jadikan satu kelompok karena semuanya ditafsirkan out of context / keluar dari
kontextnya. Kalau kita membaca kontextnya jelaslah bahwa ayat-ayat ini sama
sekali tidak berbicara tentang orang mati, tetapi tentang orang hidup. Kalau
mau jelas, baca sendiri kontext dari ayat-ayat tersebut.
Yes 4:2-6 - “(2) Pada waktu itu tunas yang
ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah
menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput. (3)
Dan orang yang tertinggal di Sion dan yang tersisa di Yerusalem akan disebut
kudus, yakni setiap orang di Yerusalem yang tercatat untuk beroleh hidup, (4)
apabila TUHAN telah membersihkan kekotoran puteri Sion dan menghapuskan segala
noda darah Yerusalem dari tengah-tengahnya dengan roh yang mengadili dan yang
membakar. (5) Maka TUHAN akan menjadikan di atas seluruh wilayah gunung
Sion dan di atas setiap pertemuan yang diadakan di situ segumpal awan pada
waktu siang dan segumpal asap serta sinar api yang menyala-nyala pada waktu
malam, sebab di atas semuanya itu akan ada kemuliaan TUHAN sebagai tudung (6)
dan sebagai pondok tempat bernaung pada waktu siang terhadap panas terik dan
sebagai perlindungan dan persembunyian terhadap angin ribut dan hujan”.
Mikha 7:7-10 - “(7) Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu
TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan
mendengarkan aku! (8) Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun
aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan
menjadi terangku. (9) Aku akan memikul kemarahan TUHAN, sebab aku telah berdosa
kepadaNya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku,
membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilanNya. (10)
Musuhku akan melihatnya dan dengan malu ia akan menutupi mukanya, dia yang
berkata kepadaku: ‘Di mana TUHAN, Allahmu?’ Mataku akan memandangi dia;
sekarang ia diinjak-injak seperti lumpur di jalan”.
Zakh 9:11-12 - “(11) Mengenai engkau, oleh karena
darah perjanjianKu dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang tahananmu
dari lobang yang tidak berair. (12) Kembalilah ke kota bentengmu, hai orang
tahanan yang penuh harapan! Pada hari ini juga Aku memberitahukan: Aku akan
memberi ganti kepadamu dua kali lipat!”.
Mal 3:2-4 - “(2) Siapakah yang dapat tahan akan
hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia
menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun
tukang penatu. (3) Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan
perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan
seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban
yang benar kepada TUHAN. (4) Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan
menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti
tahun-tahun yang sudah-sudah”.
Catatan: bagian yang saya garis bawahi adalah bagian-bagian
yang dikutip / digunakan oleh Gereja Roma Katolik untuk mendukung ajaran tentang
api penyucian. Tetapi kalau dibaca seluruh kontext, terlihat dengan jelas bahwa
bagian-bagian itu berbicara tentang orang-orang yang masih hidup, bukan tentang
orang-orang yang sudah mati. Karena itu tidak mungkin bagian-bagian itu
berbicara tentang api penyucian.
·
Mat 12:32 - “Apabila
seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi
jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di
dunia yang akan datangpun tidak”.
Gereja Roma Katolik menafsirkan
bahwa kata-kata ‘di
dunia yang akan datangpun tidak’ menunjukkan bahwa dalam kasus dosa menghujat Roh
Kudus ini memang di dunia yang akan datangpun tidak ada pengampunan. Tetapi
dalam kasus dosa yang lain, ada pengampunan di dunia yang akan datang. Dan ini
menunjuk pada api penyucian.
Jawab:
Ayat ini sama sekali tidak
berarti bahwa dalam kasus dosa lain, di dunia yang akan datang bisa ada
pengampunan. Ajaran seperti itu bertentangan dengan seluruh Kitab Suci, yang
bukan saja tidak pernah mengajarkan seperti itu, tetapi malahan mengajarkan
sebaliknya.
Dan kalaupun di dunia yang
akan datang ada pengampunan untuk dosa-dosa lain, lalu dari mana mereka
menyimpulkan adanya tempat yang disebut api penyucian itu?
·
1Kor 3:13-15 - “(13)
sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan
menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan
masing-masing orang akan diuji oleh api itu. (14) Jika pekerjaan yang dibangun
seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. (15) Jika pekerjaannya terbakar, ia
akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti
dari dalam api”.
Jawab:
*
Dalam text di atas ‘api’ itu jelas bersifat simbolis (bukan
hurufiah); sedangkan ‘api’ dalam api penyucian merupakan api yang
hurufiah.
*
Dalam text di atas api itu menguji; tetapi dalam api penyucian
apinya menghukum.
*
Dalam text di atas api itu ditujukan pada pekerjaan / pelayanan
seseorang; dalam api penyucian apinya ditujukan kepada orangnya sendiri!
·
1Kor 15:29 - “Jika
tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi
(Yunani: HUPER)
orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau
dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?”.
Jawab:
Adam Clarke menganggap ayat
ini sebagai ayat tersukar dalam Perjanjian Baru, dan Albert Barnes menyebutkan
ayat ini sebagai ayat yang tafsirannya paling bervariasi dalam Perjanjian Baru.
Macam-macam penafsiran
tentang ayat ini:
*
Dalam ayat ini Paulus menunjuk pada praktek baptisan terhadap seseorang
sebagai wakil dari orang yang sudah mati, yang tidak sempat dibaptis.
Dasar dari penafsiran ini
adalah: kata ‘bagi’ dalam bahasa Yunaninya
adalah HUPER, yang artinya adalah ‘for’ (= bagi / untuk), ‘in behalf
of’ / ‘for the sake of’ (= demi), ‘in place of’
/ ‘instead
of’ (=
sebagai pengganti dari). Jadi, jelaslah bahwa orang itu dibaptis sebagai
pengganti orang lain, yang sudah mati.
Praktek ini ada dalam
golongan Marcionite pada abad ke 2 dan juga dalam golongan Cerinthians yang
lebih awal lagi. Mungkin praktek ini ada di Korintus pada abad I, dan Paulus
menggunakan hal ini untuk menunjukkan bahwa adanya praktek semacam ini secara
tidak langsung menunjukkan bahwa merekapun percaya akan adanya kebangkitan
orang mati.
Catatan: ini tidak berarti bahwa
Paulus menyetujui atau membenarkan praktek ini!
*
Ayat ini menunjuk pada praktek untuk membaptis seseorang di atas
kuburan para martir, untuk menyatakan iman pada kebangkitan orang mati.
Dasar penafsiran ini: kata
HUPER bisa diterjemahkan ‘over’ / ‘above’ (= di atas).
*
Calvin beranggapan bahwa kata HUPER bisa diartikan ‘as’ (=
seperti / sebagai) dan karena itu ia menganggap bahwa ayat ini menunjuk pada
praktek baptisan terhadap orang yang sakit dan hampir mati.
*
Ada yang beranggapan bahwa kata-kata ‘orang mati’ menunjuk pada ‘tubuh kita yang fana ini’.
*
Ada juga yang beranggapan bahwa kata-kata ‘orang mati’ menunjuk kepada Kristus.
*
Ada lagi penafsir yang bukannya menafsirkan kata ‘HUPER’ atau kata ‘orang mati’, tetapi menafsirkan kata ‘baptis’. Dalam Mark 10:38 dan
Luk 12:50 kata ‘baptisan’ diartikan secara simbolis
dan menunjuk pada ‘penderitaan’.
Jadi ayat ini artinya: apa
faedahnya orang mau menderita bagi orang mati (secara rohani)? Penafsiran ini
membuat ay 29 ini searah dengan ay 30-32.
Apapun arti dari ayat ini,
yang jelas, Paulus menggunakannya sebagai argumentasi untuk mendukung adanya
kebangkitan orang mati (itu memang merupakan penekanan Paulus dalam seluruh
1Kor 15). Karena itu, jelas bahwa ayat ini sama sekali tidak berurusan dengan
api penyucian.
·
Yudas 22-23: “(22)
Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, (23) selamatkanlah
mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas
kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah
pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa”.
Jawab:
Kata-kata yang saya garis
bawahi itu sama sekali tidak berarti bahwa kita harus melepaskan orang-orang
yang sudah mati dari api penyucian. Artinya adalah: kita harus berusaha supaya
orang-orang (yang masih hidup, bukan yang sudah mati) tidak masuk ke neraka.
Caranya? Jelas dengan memberitakan Injil kepada mereka!
Louis Berkhof: “It is perfectly evident, however, that
these passages can be made to support the doctrine of purgatory only by a very
forced exegesis. The doctrine finds absolutely no support in Scripture” (= Tetapi sangat jelas bahwa text-text ini
bisa dijadikan dasar untuk mendukung doktrin api penyucian hanya dengan
exegesis yang sangat dipaksakan. Doktrin ini secara mutlak tidak mempunyai dukungan
dalam Kitab Suci) - ‘Systematic Theology’, hal 687.
Louis Berkhof menambahkan
bahwa doktrin api penyucian ini juga berlandaskan pada ajaran-ajaran lain yang
sebagai tidak Alkitabiah seperti:
¨ Gereja / Paus mempunyai
kuasa yang mutlak dalam menyelamatkan seseorang dari api penyucian.
¨ Manusia bisa hidup
sedemikian rupa sehingga melampaui tingkat kesucian yang dituntut oleh Allah
(karena adanya orang-orang yang langsung masuk surga, tanpa melalui api
penyucian, dan ini terjadi karena mereka melampaui tingkat kesucian yang
dituntut oleh Allah). Ini bertentangan dengan banyak ayat, seperti Yes 64:6,
yang mengatakan bahwa ‘segala
kesalehan kami seperti kain kotor’.
¨ Perbuatan baik kita
betul-betul berjasa dalam penyelamatan diri kita sendiri. Ini bertentangan
dengan Ef 2:8-9 dan banyak ayat lain yang menekankan keselamatan karena
iman saja, sama sekali bukan karena perbuatan baik.
¨ Tidak cukupnya penebusan
yang dilakukan oleh Kristus bagi dosa-dosa kita sehingga harus kita tambahi
sendiri. Ini bertentangan dengan kata-kata ‘Sudah selesai’ di atas kayu salib (Yoh 19:30).
Doktrin tentang api
penyucian ini juga bertentangan dengan cerita dalam Kitab Suci tentang penjahat
yang bertobat di kayu salib, yang oleh Yesus dikatakan masuk Firdaus / surga
(Luk 23:43), bukan neraka ataupun api penyucian. Padahal ia jelas bukan
termasuk orang percaya yang sempurna! Bahkan hampir bisa dikatakan bahwa orang
ini tidak pernah berbuat baik. Mungkin satu-satunya perbuatan baik yang ia
lakukan adalah menegur penjahat satunya yang mengolok-olok Yesus
(Luk 23:39-41). Ia bahkan belum sempat dibaptis ataupun pergi ke gereja.
Menurut ajaran Roma Katolik, orang seperti ini bukan masuk api penyucian,
tetapi langsung masuk neraka. Tetapi Yesus berkata kepada penjahat ini bahwa
hari itu juga ia akan bersama Yesus di Firdaus / surga (Luk 23:43).
Cerita ini secara jelas
menunjukkan betapa hebatnya kuasa dari penebusan dosa yang Yesus lakukan bagi
kita! Bagaimanapun hebatnya dan banyaknya dosa saudara, hanya dengan percaya
kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, saudara akan diampuni, dan dijamin
pasti masuk surga!
Dan jelas bahwa cerita ini
juga menunjukkan secara meyakinkan bahwa doktrin Katolik tentang keselamatan,
api penyucian dsb, adalah ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci / ajaran
Yesus sendiri!
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 20 Juli 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
2) Sleep of the soul.
a) Ada ajaran yang disebut sebagai ‘the doctrine of the sleep of the soul’ (= doktrin tentang jiwa
yang tidur), atau disebut juga sebagai ‘Psychopannychy’. Mereka mengatakan bahwa
sekalipun setelah kematian jiwa itu tetap ada, tetapi jiwa itu tidak mempunyai
kesadaran, atau jiwa itu tertidur. Penganut-penganut dari ajaran ini dalam jaman sekarang adalah
Saksi Yehuwa dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Mungkin Saksi Yehuwa
mendapatkan doktrin ini dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
b) Dasar dari ajaran ini dan jawabannya:
1. Banyak orang beranggapan bahwa
setelah kematian, jiwa tidak mempunyai kesadaran, karena mereka menganggap
bahwa kesadaran dari jiwa tergantung pada otak, dan karena itu tidak bisa terus
berfungsi setelah tubuh dan otak dihancurkan (Louis Berkhof, hal 688).
Jawab:
Louis Berkhof mengatakan
bahwa sekalipun dalam hidup ini kesadaran jiwa tergantung pada otak, itu tidak
berarti bahwa jiwa tidak bisa mempunyai kesadaran dengan cara lain / tanpa
otak.
2. Kitab Suci sering menggambarkan ‘mati’
sebagai ‘tidur’, seperti dalam:
·
Mat 9:24 - “berkatalah
Ia: ‘Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.’ Tetapi mereka
menertawakan Dia”.
·
Yoh 11:11-15 - “(11)
Demikianlah perkataanNya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: ‘Lazarus,
saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia
dari tidurnya.’ (12) Maka kata murid-murid itu kepadaNya: ‘Tuhan, jikalau ia
tertidur, ia akan sembuh.’ (13) Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti
mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.
(14) Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: ‘Lazarus sudah mati; (15)
tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik
bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.’”.
·
Kis 7:60 - “Sambil
berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa
ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia”.
KJV: ‘And when
he had said this, he fell asleep’ (= Dan pada waktu
ia telah mengetakan ini, ia jatuh tertidur).
·
1Kor 15:51 - “Sesungguhnya
aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya,
tetapi kita semuanya akan diubah”.
KJV: ‘We shall
not all sleep’ (= Kita tidak semuanya akan tertidur).
·
1Tes 4:13 - “Selanjutnya
kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka
yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain
yang tidak mempunyai pengharapan”.
KJV: ‘concerning
them which are asleep’ (= mengenai mereka yang tertidur).
Mereka beranggapan bahwa ini
tidak mungkin menunjuk pada tidurnya tubuh, tetapi pasti pada tidurnya jiwa.
Jawab:
Kitab Suci
memang menggambarkan mati sebagai tidur:
a. Karena adanya kemiripan antara mati dan
tidur.
b. Untuk menunjukkan bahwa mereka yang mati akan
‘bangun’ / ‘bangkit kembali’.
Tetapi Kitab Suci jelas
tidak memaksudkan bahwa pada saat mati jiwa seseorang tertidur.
3. Ayat-ayat Kitab Suci tertentu mengatakan
bahwa orang-orang mati itu tidak sadar. Contoh:
·
Maz 6:6 - “Sebab
di dalam maut tidaklah orang ingat kepadaMu; siapakah yang akan bersyukur
kepadaMu di dalam dunia orang mati?”.
·
Maz 30:10 - “
‘Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang
kubur? Dapatkah debu bersyukur kepadaMu dan memberitakan kesetiaanMu?”.
·
Maz 88:11-13 - “(11)
Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk
bersyukur kepadaMu? Sela (12) Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan
kesetiaanMu di tempat kebinasaan? (13) Diketahui orangkah keajaiban-keajaibanMu
dalam kegelapan, dan keadilanMu di negeri segala lupa?”.
·
Maz 115:17-18 - “(17)
Bukan orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN, dan bukan semua orang yang turun
ke tempat sunyi, (18) tetapi kita, kita akan memuji TUHAN, sekarang ini dan
sampai selama-lamanya. Haleluya!”.
·
Maz 146:4 - “Apabila
nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah
maksud-maksudnya”.
·
Pkh 9:10 - “Segala
sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,
karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia
orang mati, ke mana engkau akan pergi”.
·
Yes 38:18-19 - “(18)
Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepadaMu, dan maut tidak
dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak
menanti-nanti akan kesetiaanMu. (19) Tetapi hanyalah orang yang hidup, dialah
yang mengucap syukur kepadaMu, seperti aku pada hari ini; seorang bapa
memberitahukan kesetiaanMu kepada anak-anaknya”.
Jawab:
Text-text Kitab Suci yang
seolah-olah menunjukkan bahwa orang-orang mati tidak mempunyai kesadaran,
hanyalah dimaksudkan untuk mengajarkan bahwa setelah mati seseorang tidak bisa
ambil bagian dalam aktivitas dalam dunia ini (Louis Berkhof, hal 688).
4. Tidak ada orang-orang yang dibangkitkan dari
antara orang mati yang menceritakan pengalaman mereka pada saat mati. Ini
dijadikan bukti untuk mengatakan bahwa pada saat mereka mati, mereka tertidur /
tidak sadar.
Jawab:
Tidak adanya orang yang
dibangkitkan dari kematian yang bersaksi tentang pengalaman mereka pada saat
mati, tidak bisa dijadikan bukti karena ini hanya merupakan ‘argument from silence’ (= argumentasi dari ke-diam-an). Bisa saja itu
terjadi karena mereka tidak dijinkan untuk menceritakan pengalaman mereka
(Louis Berkhof, hal 689-690).
Bdk. 2Kor 12:4 - “ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia
mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia”.
Ada penafsir-penafsir yang
beranggapan bahwa kata-kata yang saya garis-bawahi itu artinya adalah bahwa
Paulus tak boleh mengucapkan / menceritakan kata-kata itu.
Kalau Paulus bisa
mendapatkan pengalaman diangkat ke surga / Firdaus, tetapi tidak boleh
menceritakan kata-kata yang ia dengar di sana, maka juga merupakan sesuatu yang
memungkinkan bahwa orang-orang yang dibangkitkan dari antara orang mati, juga
tidak boleh menceritakan pengalaman mereka selama mereka mati.
5. Herman Hoeksema (hal 765) memberikan
ayat-ayat lain yang digunakan untuk mendukung doktrin dari jiwa yang tidur ini,
yaitu:
a. Maz 17:15 - “Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajahMu, dan pada
waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupaMu”.
Mereka menafsirkan bahwa
kata-kata ‘pada waktu aku
bangun’
menunjukkan bahwa tadinya ia / jiwa itu tertidur.
Jawaban saya: ini jelas salah, karena
kata-kata ‘pada waktu aku
bangun’
menunjukkan saat pada waktu ia masuk surga atau bangun dari kematian /
dibangkitkan.
b. Maz 16:10 - “sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang
mati (SHEOL), dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan”.
KJV: ‘For thou wilt not leave my soul in hell; neither
wilt thou suffer thine Holy One to see corruption’ (= Karena Engkau tidak akan meninggalkan jiwaku di neraka; juga
Engkau tidak akan membiarkan Orang KudusMu melihat pembusukan).
Mereka mengatakan bahwa ayat
ini mengatakan bahwa jiwa Daud ada di SHEOL / neraka sampai hari kebangkitan.
Tetapi tidak mungkin Daud mengalami penderitaan di dalam neraka, dan karena itu
ia pasti tidak mempunyai kesadaran sampai hari kebangkitan.
Jawaban saya:
Ini juga merupakan penafsiran yang
salah, dan didasarkan pada penterjemahan / penafsiran KJV yang salah. Ayat ini
dikutip dalam Kis 2:25-28 dan Kis 13:35-37 dan diterapkan kepada
Kristus! Dan perhatikan terjemahan dari NASB untuk Maz 16:10 ini.
NASB: ‘For Thou wilt
not abandon my soul to Sheol; Neither wilt Thou allow Thy Holy
One to undergo decay’ (= Karena Engkau tidak akan meninggalkan
jiwaku pada / di Sheol; juga Engkau tidak akan mengijinkan Orang KudusMu
untuk mengalami pembusukan).
Kata SHEOL di sini harus
diartikan bukan sebagai ‘neraka’ seperti dalam KJV, tetapi
sebagai ‘kuburan’ seperti dalam NIV.
NIV: ‘because you will
not abandon me to the grave, nor will you let your Holy One see decay’ (= karena
Engkau tidak akan meninggalkan aku pada / di kuburan, ataupun
akan membiarkan Orang KudusMu melihat pembusukan).
Herman Hoeksema menafsirkan
secara agak berbeda. Ia mengatakan bahwa kata SHEOL di sini menunjuk pada ‘keadaan kematian’ (hal 765-766).
Arti yang manapun yang kita
pilih, tak terlalu berbeda. Jadi, arti Maz 16:10 adalah: Kristus tidak
dibiarkan untuk terus ada dalam kuburan / dalam keadaan kematian, juga Ia tidak
dibiarkan membusuk (karena Ia dibangkitkan pada hari ke 3).
Catatan: terjemahan Kitab Suci Indonesia untuk
Maz 16:10 ini juga salah. Kata-kata ‘Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati’ dan ‘tidak membiarkan Orang KudusMu melihat
kebinasaan’ adalah salah. Kristus bukannya tidak diserahkan ke dunia orang mati.
Juga Kristus bukannya tidak melihat kebinasaan. Faktanya Kristus memang mati!
Tetapi Ia tidak ditinggalkan dalam dunia orang mati / kuburan. Ia tidak
dibiarkan mati terus / selama-lamanya. Ia juga tidak mengalami pembusukan.
Mengapa? Karena hari yang ke 3 Ia bangkit dari antara orang mati.
c) Argumentasi yang menentang ajaran ini:
1. Cerita tentang Lazarus dan orang kaya
menunjukkan bahwa setelah kematian orang tetap mempunyai kesadaran, dan bahkan
bisa berkomunikasi (Luk 16:19-31).
Dan dari fakta bahwa 5
saudara dari orang kaya itu masih hidup, jelas menunjukkan bahwa peristiwa ini
terjadi sebelum kedatangan Yesus yang kedua-kalinya.
2. Paulus mengatakan bahwa kalau mati, ia akan
pulang ke rumah bersama Tuhan, dan itu merupakan sesuatu yang sangat ia
inginkan.
2Kor 5:8 - “tetapi hati kami tabah, dan terlebih
suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan”.
NASB: ‘to be at home with
the Lord’ (= ada di rumah bersama Tuhan).
NIV: ‘at home with the
Lord’ (= di rumah bersama Tuhan).
Literal / hurufiah: ‘to
come home to the Lord’ (= pulang ke rumah kepada Tuhan).
Fil 1:23 - “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin
pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik”.
Pasti ia tidak akan
mengatakan kata-kata dalam kedua ayat tersebut di atas, kalau setelah mati
jiwanya tidak mempunyai kesadaran.
3. Kitab Suci mengatakan bahwa setelah kematian
kita disempurnakan (Ibr 12:23), dan ini secara implicit menunjukkan adanya
kesadaran.
Ibr 12:23 - “dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang
namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan
kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna”.
4. Kitab Suci mengatakan bahwa roh-roh orang
benar berteriak menuntut pembalasan terhadap penganiaya-penganiaya gereja
(Wah 6:9-10), dan ini tidak mungkin kalau roh-roh / jiwa-jiwa itu tidak
sadar.
Wah 6:9-10 - “(9) Dan ketika Anak Domba itu membuka
meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah
dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.
(10) Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Berapa lamakah lagi, ya
Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan
darah kami kepada mereka yang diam di bumi?’”.
Catatan: jangan menafsirkan bahwa orang-orang ini mempunyai
dendam pada saat mereka sudah ada di surga. Ini bukan soal dendam, tetapi soal
keinginan mereka melihat keadilan dan kebenaran ditegakkan.
Bdk. 1Kor 13:4-6 - “(4) Kasih itu sabar; kasih itu
murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (5)
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. (6) Ia tidak
bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran”.
5. Kitab Suci mengatakan bahwa jiwa-jiwa dari para martir memerintah
bersama Kristus (Wah 20:4), dan ini lagi-lagi tidak mungkin kalau jiwa-jiwa itu
tidak sadar.
Wah 20:4 - “Lalu aku melihat takhta-takhta dan
orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk
menghakimi. Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya
karena kesaksian tentang Yesus dan karena firman Allah; yang tidak menyembah
binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan
tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja
bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun”.
3) Annihilation (= Pemusnahan).
a) Louis Berkhof (hal 690) mengatakan bahwa
ajaran ini mempunyai beberapa bentuk:
1. Manusia diciptakan sebagai mahluk yang immortal, tetapi kalau ia terus hidup dalam dosa, maka Allah mencabut immortality itu, dan setelah mati ia akhirnya dimusnahkan sehingga tidak mempunyai
keberadaan lagi, atau setelah mati ia tidak mempunyai kesadaran untuk
selama-lamanya, dan ini sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan non-existence (tak mempunyai keberadaan).
2. Manusia sebetulnya tidak mempunyai immortality, tetapi bagi yang percaya kepada Kristus lalu diberikan immortality itu. Sedangkan orang yang tidak percaya akhirnya musnah atau
kehilangan kesadaran secara total untuk selama-lamanya.
3. Ada juga yang mempercayai bahwa orang-orang
jahat akan mengalami hukuman dalam kehidupan yang akan datang, tetapi hanya
bersifat sementara, dan sesudah itu mereka dimusnahkan.
b) Dasar Kitab Suci mereka dan jawabannya:
1. Kitab Suci mengatakan bahwa hanya Allah yang mempunyai
immortality / ketidak-bisa-binasaan.
1Tim 6:16 - “Dialah satu-satunya yang tidak takluk
kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak
pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. BagiNyalah
hormat dan kuasa yang kekal! Amin”.
KJV: ‘Who only
hath immortality’ (= Yang adalah satu-satunya yang
mempunyai kekekalan / ketidak-bisa-binasaan).
Ini sudah dibahas dalam
pelajaran yang lalu, dan tidak akan saya ulang di sini.
2. Kitab Suci tidak pernah mengatakan adanya immortality dari jiwa manusia secara umum, tetapi hanya bagi orang-orang percaya
saja.
Yoh 10:27-28 - “(27) Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu
dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan Aku memberikan hidup
yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai
selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu”.
Yoh 17:3 - “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa
mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus
Kristus yang telah Engkau utus”.
Ro 2:7 - “yaitu hidup kekal kepada mereka yang
dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan”.
Ro 6:22-23 - “(22) Tetapi sekarang, setelah kamu
dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah
yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang
kekal. (23) Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang
kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
Gal 6:8 - “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya,
ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh,
ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu”.
Jawab:
Kitab Suci memang berbicara
tentang pemberian hidup kekal kepada orang-orang percaya, tetapi ini tidak
berarti bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa orang-orang yang tidak percaya akan
musnah.
3. Kitab Suci mengancam orang-orang berdosa
dengan kehancuran / kematian, yang ditafsirkan sebagai pemusnahan.
Mat 7:13 - “Masuklah melalui pintu yang sesak itu,
karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan,
dan banyak orang yang masuk melaluinya”.
Mat 10:28 - “Dan janganlah kamu takut kepada mereka
yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah
terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di
dalam neraka”.
Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan
dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal”.
Ro 6:23 - “Sebab upah dosa ialah maut;
tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
Ro 8:13 - “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu
akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu,
kamu akan hidup”.
2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman
kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan
kekuatanNya”.
Jawab:
Kata-kata ‘mati’, ‘hancur’,
‘dihancurkan’, ‘binasa’, ‘dibinasakan’, ‘maut’ dsb, kalau ditujukan kepada
manusia tidak pernah boleh diartikan sebagai ‘dimusnahkan’.
Bandingkan dengan:
·
Wah 21:8 - “Tetapi
orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji,
orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah
berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan
yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.
Para Saksi Yehuwa mengatakan
bahwa yang dimaksud dengan neraka adalah kematian yang kedua (musnah),
sedangkan kita berpendapat bahwa kematian yang kedua berarti masuk neraka
selama-lamanya.
·
2Tes 1:9 - “Mereka
ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat
Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya”.
Ayat ini menunjukkan bahwa ‘hukuman kebinasaan selama-lamanya’ itu maksudnya ‘dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari
kemuliaan kekuatanNya’. Kalau manusia itu dimusnahkan, apanya yang dijauhkan dari hadirat
Tuhan?
c) Argumentasi-argumentasi yang menentang pandangan ini.
1. Kitab Suci mengajarkan bahwa orang-orang
percaya maupun orang-orang yang tidak percaya akan terus ada selama-lamanya.
Pkh 12:7 - “dan debu kembali menjadi tanah seperti
semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”.
Mat 25:46 - “Dan mereka ini akan masuk ke tempat
siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.’”.
Ro 2:8,10 - “(8) tetapi murka dan geram kepada mereka
yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan
taat kepada kelaliman. ... (10) tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai
sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang
Yahudi, dan juga orang Yunani”.
2. Kitab Suci mengajarkan adanya tingkat-tingkat
hukuman yang berbeda bagi orang-orang yang tidak percaya, dan ini memang sesuai
dengan keadilan Allah yang menghukum setiap orang sesuai dengan dosanya.
Mat 11:20-24 - “(20) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota
yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan
mujizat-mujizatNya: (21) ‘Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida!
Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di
tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. (22) Tetapi Aku
berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih
ringan dari pada tanggunganmu. (23) Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan
dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang
mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di
tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. (24) Tetapi
Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih
ringan dari pada tanggunganmu.’”.
Luk 12:47-48 - “(47) Adapun hamba yang tahu akan
kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan
apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. (48) Tetapi
barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus
mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang
kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa
yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.’”.
Tingkat-tingkat hukuman itu
tidak mungkin ada kalau mereka dimusnahkan, dan pemusnahan seperti ini ini
tidak bisa menunjukkan keadilan Allah.
3. Annihilation / pemusnahan bukanlah
hukuman.
a. Tidak ada yang perlu ditakuti dari
pemusnahan, dan ini akan mendorong orang-orang untuk berbuat jahat.
1Kor 15:32b - “Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka
‘marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati’”.
b. Bagi orang-orang yang lelah / bosan hidup,
pemusnahan bahkan lebih merupakan berkat dari pada hukuman.
4. Kitab Suci secara sangat jelas mengajarkan
adanya hukuman kekal bagi orang-orang yang tidak percaya.
Misalnya:
·
Mat 25:41,46 - “(41) Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu
orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia
untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. ... (46a) Dan mereka ini akan masuk ke
tempat siksaan yang kekal, ...”.
·
Wah 14:11 - “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai
selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu
mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah
menerima tanda namanya”.
·
Wah 20:10 - “dan Iblis, yang menyesatkan mereka,
dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi
palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.
Sedangkan hukuman yang hanya
bersifat sementara, jelas bertentangan dengan:
¨
kata-kata ‘api
yang tidak terpadamkan’ (Mat 3:12b
Mark 9:43b,48).
¨
kata-kata ‘api
yang kekal’ (Mat 25:41 Yudas 7).
¨
kata-kata ‘siksaan
yang kekal’ (Mat 25:46).
¨
kata-kata ‘siang
malam tidak henti-hentinya’ (Wah 14:11).
¨
kata-kata ‘siang
malam sampai selama-lamanya’ (Wah 20:10).
¨
kata-kata ‘ulat-ulatnya
tidak akan mati’ (Mark 9:44,46,48).
¨
tidak bisanya orang kaya menyeberang ke surga karena adanya jurang yang
tidak terseberangi.
Luk 16:26 - “Selain dari pada itu di antara kami dan
engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi
dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak
dapat menyeberang”.
William G.T. Shedd: “Had
Christ intended to teach that future punishment is remedial and temporary, he
would have compared it to a dying worm, and not to an undying worm; to a fire
that is quenched, and not to an unquenchable fire”
(= Andaikata Kristus bermaksud untuk mengajar bahwa hukuman yang akan datang
itu bersifat memperbaiki dan sementara, Ia akan membandingkannya dengan ulat
yang bisa mati, dan bukannya dengan ulat yang tidak bisa mati; dengan api yang
bisa padam, dan bukannya dengan api yang tidak dapat dipadamkan) - ‘Shedd’s Dogmatic
Theology’, vol II, hal 681.
Jawaban dari Gereja Masehi
Advent Hari Ketujuh:
Penafsiran mereka tentang
kata ‘kekal’ / ‘selama-lamanya’:
Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh: “Perjanjian Baru menggunakan istilah
‘kekal’ dan ‘selama-lamanya’. Istilah ini merupakan terjemahan dari Yunani
AIONIOS, diterapkan kepada Tuhan dan juga kepada manusia. Untuk menghindarkan
salah pengertian, seseorang harus mengingat bahwa AIONIOS adalah istilah
relatif; maknanya ditentukan oleh obyek yang diterangkannya. Jadi, apabila
Kitab Suci menggunakan kata AIONIOS (‘selama-lamanya,’ ‘kekal’) mengenai Allah,
itu berarti bahwa Ia memiliki eksistensi yang baka - karena Tuhan itu abadi.
Tetapi apabila kata ini digunakan untuk manusia yang fana atau makhluk yang
dapat binasa, maka yang dimaksudkannya ialah selama orang itu hidup atau benda
itu masih ada. ... Apabila hal itu berkaitan dengan Tuhan, maka maknanya
adalah mutlak - karena Tuhan itu kekal; apabila itu berkaitan dengan manusia
yang fana, maka maknanya terbatas” - ‘Apa Yang Anda Perlu Ketahui Tentang 27 Uraian
Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal 427,428.
Tanggapan saya:
a) Apa dasarnya untuk membedakan istilah itu
pada saat diterapkan kepada Allah dan kepada manusia? Memang tidak diragukan
bahwa kata ‘kekal’ atau ‘selama-lamanya’ sering digunakan dalam arti
yang terbatas. Tetapi menurut saya, yang menentukan adalah kontext, bukan
apakah kata itu diterapkan kepada Allah atau manusia.
b) Bagaimana kalau istilah itu diterapkan kepada
api, setan dsb?
c) Mengapa kalau orang percaya dikatakan
mendapat hidup kekal kok dianggap betul-betul kekal? Mengapa dibedakan
penafsiran kata kekal itu untuk ‘hukuman / siksaan kekal’ dan untuk ‘hidup
kekal’?
Catatan: Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memang
menafsirkan bahwa pada waktu Kitab Suci mengatakan bahwa orang percaya
mendapatkan hidup kekal, maka kata ‘kekal’ betul-betul berarti kekal
secara mutlak.
Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh: “Yang dimaksudkan-Nya dengan ‘kehidupan
yang kekal (yang akan dinikmati orang yang benar) akan berlangsung dari
abad-abad kekekalan, yang abadi dan tidak berkesudahan” - ‘Apa Yang Anda Perlu
Ketahui Tentang 27 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal 427.
Padahal dalam kutipan di
atas mereka berkata bahwa kalau kata itu ditujukan untuk manusia, maka
artinya adalah kekal yang terbatas. Bukankah ini menunjukkan bahwa kata-kata
mereka saling bertentangan?
Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh: “Yudas 7, sekadar contoh, mengatakan
bahwa Sodom dan Gomora menderita ‘siksaan api kekal.’ Namun demikian kota-kota
itu toh tidak terbakar sampai sekarang ini. Petrus mengatakan bahwa api itu
membakar kota tersebut menjadi debu, menghukum mereka dengan kebinasaan (2Ptr
2:6). ‘Api kekal’ membakar sampai tidak ada lagi yang tersisa, dan sesudah itu
padam (lihat juga Yer 17:27; 2Taw 36:19). Begitu pula Kristus mengirimkan orang
jahat masuk ke dalam ‘api kekal’ (Mat 25:41), api itu akan membakar orang jahat
dengan ‘api yang tidak terpadamkan’ (Mat 3:12). Api itu padam bila tidak ada
lagi sesuatu yang akan dibakarnya” - ‘Apa Yang Anda Perlu Ketahui Tentang 27 Uraian
Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal 427.
Yudas 7 - “sama seperti Sodom dan Gomora dan
kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan
mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api
kekal sebagai peringatan kepada semua orang”.
2Pet 2:6 - “dan jikalau Allah membinasakan kota
Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan
menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa
kemudian”.
Tanggapan saya:
Tentang Yudas 7 dan
2Pet 2:6 ada perbedaan. Yang 2Pet 2:6 memang menunjuk pada
penghancuran Sodom dan Gomora dengan hujan api dan belerang. Tetapi yang Yudas
6 menunjuk pada masuknya orang-orang Sodom dan Gomora ke dalam neraka. Jadi, ‘api kekal’ dalam Yudas 6 betul-betul
menunjuk pada api yang kekal.
Yer 17:27 - “Tetapi apabila kamu tidak mendengarkan
perintahKu untuk menguduskan hari Sabat dan untuk tidak masuk mengangkut
barang-barang melalui pintu-pintu gerbang Yerusalem pada hari Sabat, maka di
pintu-pintu gerbangnya Aku akan menyalakan api, yang akan memakan habis
puri-puri Yerusalem, dan yang tidak akan
terpadamkan.’”.
Tanggapan saya:
a) Bandingkan dengan
terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris.
KJV: ‘and it
shall not be quenched’ (= dan itu tidak akan dipadamkan).
RSV: ‘and shall
not be quenched’ (= dan tidak akan dipadamkan).
NIV: ‘an unquenchable fire’ (= suatu
api yang tidak bisa dipadamkan).
NASB: ‘and not be
quenched’ (= dan tidak akan dipadamkan).
Dalam bahasa Ibraninya
kata-katanya hanyalah ‘tidak
akan dipadamkan’, bukannya ‘tidak
bisa padam’
seperti dalam terjemahan NIV. Api yang tidak dipadamkan memang bisa saja padam
sendiri. Ini berbeda dengan ungkapan dalam Perjanjian Baru tentang api neraka
yang dikatakan ‘tidak
bisa padam’.
Mat 3:12b - “...
debu jerami itu akan dibakarnya dengan api yang tidak terpadamkan”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘unquenchable fire’ (= api yang tidak bisa dipadamkan).
Bandingkan dengan ayat paralelnya dalam Luk 3:17 yang juga
menggunakan kata yang sama.
b) Kitab Suci jelas mengatakan api yang tidak
bisa padam, dan ulat yang tidak bisa mati (Mark 9:43-48 Mat 3:12), tetapi Gereja Masehi Advent
Hari Ketujuh menafsirkan bahwa apinya akan padam kalau sudah tak ada lagi
sesuatu yang dibakar.
Mark 9:43-48 - “(43) Dan jika tanganmu menyesatkan
engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan
kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam
api yang tak terpadamkan; (44) [di tempat itu ulatnya
tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (45) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena
lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh
kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; (46) [di
tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (47) Dan jika matamu menyesatkan engkau,
cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan
bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, (48) di
mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”.
Catatan: sekalipun ay 44 dan ay 46 diletakkan
dalam tanda kurung tegak, yang menunjukkan bahwa ayat-ayat itu diragukan
keasliannya, tetapi ay 48, yang bunyinya boleh dikatakan persis sama,
tidak berada dalam tanda kurung tegak.
Mat 3:12b - “...
debu jerami itu akan dibakarnya dengan api yang tidak terpadamkan”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘unquenchable fire’ (= api yang tidak bisa dipadamkan).
Contoh lain yang mereka
berikan adalah Yes 34:9-10 (‘Apa Yang Anda Perlu Ketahui Tentang 27 Uraian
Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal 428).
Yes 34:9-10 - “(9) Sungai-sungai Edom akan berubah
menjadi ter, dan tanahnya menjadi belerang; negerinya akan menjadi ter yang menyala-nyala.
(10) Siang dan malam negeri itu tidak akan padam-padam, asapnya
naik untuk selama-lamanya. Negeri itu akan menjadi reruntuhan turun-temurun,
tidak ada orang yang melintasinya untuk seterusnya”.
Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh: “Edom telah dibinasakan, akan tetapi
tidak terus menyala sampai sekarang. Kata ‘selama-lamanya’ di sini digunakan
untuk menyatakan sampai kehancuran itu sempurna betul” - ‘Apa Yang Anda Perlu
Ketahui Tentang 27 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal 428.
Mereka lalu mengutip
Kel 21:6 1Sam 1:22
Yun 2:6 Filemon 15 Maz 92:7 dimana kata ‘selama-lamanya’ digunakan dalam arti
terbatas.
·
Kel 21:6 - “maka
haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau
ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak
itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup”.
KJV: ‘for ever’ (= selama-lamanya).
·
1Sam 1:22 - “Tetapi
Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: ‘Nanti apabila anak itu
cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN
dan tinggal di sana seumur hidupnya.’”.
KJV: ‘for ever’ (= selama-lamanya).
·
Yun 2:6 - “di
dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di
belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku
dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku”.
·
Filemon 15 - “Sebab
mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat
menerimanya untuk selama-lamanya”.
·
Maz 92:8 - “Apabila
orang-orang fasik bertunas seperti tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang yang
melakukan kejahatan berkembang, ialah supaya mereka dipunahkan untuk
selama-lamanya”.
Tanggapan saya:
Seperti sudah saya katakan
di atas, memang tidak diragukan bahwa kata ‘kekal’ atau ‘selama-lamanya’ sering digunakan dalam arti
yang terbatas, seperti dalam ayat-ayat yang mereka gunakan di atas ini. Yang
menentukan apakah kata ‘kekal’ atau ‘selama-lamanya’ itu harus diartikan dalam
arti mutlak atau dalam arti terbatas, adalah kontext dari ayat itu.
Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh: “Sekali orang jahat - Setan,
malaikat-malaikat jahat umat yang tidak bertobat - dibinasakan oleh api, baik
akar maupun cabangnya, maka tidak ada guna lagi maut maupun hades (baca bab
25). Ini juga akan dibinasakan Tuhan selama-lamanya (Why 20:14)” - ‘Apa Yang Anda Perlu
Ketahui Tentang 27 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal 428.
Wah 20:14 - “Lalu maut dan kerajaan maut (Yunani:
HADES) itu dilemparkanlah
ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api”.
Tanggapan saya:
HADES dalam Wah 20:14
mungkin berarti kuburan / keadaan kematian, bukan neraka! Dan ayat itu hanya
berarti bahwa setelah saat itu tidak ada lagi kematian. Yang ada hanyalah
kematian yang kedua, dan ini berbeda dengan kematian yang dimusnahkan itu.
Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh: “Oleh karena itu, Alkitab menjelaskan
dengan tandas, bahwa hukuman, bukan penghukuman, yang kekal - adalah kematian
yang kedua. Setelah hukuman ini tidak akan ada lagi kebangkitan; efeknya adalah
kekal” -
‘Apa Yang Anda Perlu Ketahui Tentang 27 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal
428.
Tanggapan saya:
Saya tidak mengerti mengapa
mereka membedakan ‘hukuman’ dan ‘penghukuman’. Tetapi yang saya tekankan
adalah bagian akhir dari kutipan di atas.
Kitab Suci menggunakan
istilah ‘siksaan yang
kekal’ dan ‘disiksa
siang malam sampai selama-lamanya’, dsb, dan ini tidak mungkin diartikan bahwa mereka
sekedar dimusnahkan, dan efeknya kekal, sehingga tak ada lagi kebangkitan.
Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh: “Apabila Kristus berbicara mengenai
‘siksaan yang kekal’ maka yang dimaksudkan-Nya bukanlah hukuman yang kekal. ... hukuman (bagi orang
jahat) akan abadi juga - yang dimaksudkan bukanlah ketahanan yang abadi dengan
kesadaran yang sempurna dan bersifat final. Tamatnya orang-orang yang mengalami
siksa kematian yang kedua itu. Kematian ini untuk selama-lamanya, karena dari
situ tidak akan ada lagi dan tidak akan dapat lagi kebangkitan yang bagaimanapun.
Apabila Alkitab berbicara darihal ‘kelepasan yang kekal’ (Ibr 9:12) dan
‘hukuman kekal’ (Ibr 6:2), yang ditunjukkannya ialah akibat yang kekal dari
penebusan dan penghakiman - bukanlah proses yang berkelanjutan tidak ada
akhirnya dari penebusan dan penghakiman. Dengan cara yang sama, apabila yang
dibicarakan mengenai hukuman yang abadi dan kekal, yang dimaksudkannya ialah
hasil akhir dan bukan proses penghukuman itu. Kematian orang jahat itu
merupakan kematian yang akhir dan selama-lamanya” - ‘Apa Yang Anda Perlu
Ketahui Tentang 27 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal 427.
Ibr 9:12 - “dan Ia telah masuk satu kali untuk
selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba
jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Dan dengan
itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal”.
Ibr 6:2 - “yaitu ajaran tentang pelbagai
pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman
kekal”.
Tanggapan saya:
a) Kata-kata mereka ini jelas tidak cocok dengan:
·
Wah 14:11 - “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai
selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa,
yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang
telah menerima tanda namanya”.
KJV: ‘they have no rest day nor night’ (= mereka tidak mendapat
istirahat pagi atau malam).
·
Wah 20:10 - “dan Iblis, yang menyesatkan mereka,
dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi
palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.
b) Pengontrasan mereka tentang Ibr 9:12 dan
Ibr 6:2 justru salah. Seharusnya diperhatikan bahwa kalau Ibr 9:12
mengatakan bahwa orang-orang percaya mendapatkan ‘kelepasan yang kekal’, itu berarti mereka tidak mungkin dihukum
sampai selama-lamanya. Di sini kata ‘selama-lamanya’ / ‘kekal’ digunakan dalam arti mutlak, bukan dalam
arti terbatas. Maka demikian juga dengan kata ‘kekal’ dalam Ibr 6:2.
Gereja Masehi Advent Hari
Ketujuh: “Pandangan mengenai sifat Tuhan
diputarbalikkan karena perbuatan jemaat ini, dan doktrin purgatori (api
penyucian) dan siksaan yang kekal telah membuat orang menolak kekristenan” - ‘Apa Yang Anda Perlu
Ketahui Tentang 27 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah’, hal 191.
Tanggapan saya:
a) Mereka bicara tanpa dasar apapun. Mana
buktinya bahwa ajaran tentang siksaan kekal menyebabkan orang menolak
kekristenan?
b) Doktrin tentang api penyucian (yang sifatnya
sementara) justru sesuai / mirip dengan ajaran mereka tentang siksaan terbatas.
Mengapa mereka menyerang doktrin ini? Apakah itu bukannya menampar muka mereka
sendiri? Saya sendiri menolak kedua ajaran ini.
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 3 Agustus 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
4) Tempat penantian (SHEOL / HADES).
a) Pandangan populer tentang arti dari SHEOL /
HADES.
Banyak orang menganggap
SHEOL / HADES sebagai tempat netral, bukan surga maupun neraka, dan bukan
merupakan tempat dimana diberikan pahala ataupun hukuman.
Ada yang mengatakan bahwa
tempat ini terbagi menjadi 2 bagian, untuk orang jahat dan orang baik, tetapi
ada juga yang mengatakan bahwa tidak ada pembagian seperti itu.
Ada juga yang beranggapan
bahwa orang percaya yang masuk ke HADES mengalami kebahagiaan di sana,
sedangkan orang yang tidak percaya mengalami penderitaan di sana. Tetapi
tingkat kebahagiaan dan penderitaan itu berbeda dengan yang akan mereka alami
di surga / neraka nanti. Dabney mengatakan bahwa yang terakhir ini merupakan
pandangan Yahudi (‘Lectures in Systematic Theology’, hal 823-824).
b) Dasar pandangan ini:
1. Anggapan dari banyak orang Kristen bahwa
orang baru masuk ke surga / neraka setelah penghakiman akhir jaman,
mengharuskan mereka untuk mempercayai adanya suatu tempat netral / sementara,
sampai Yesus datang untuk kedua-kalinya.
William G. T. Shedd: “the
assumption that the real happiness, or the final misery of the departed, does
not begin till after the general judgment and the resurrection of the body, appeared
to necessitate the belief in an intermediate state, in which the soul was
supposed to remain, from the moment of its separation from the body to the last
catastrophe”
(= anggapan / asumsi bahwa kebahagiaan yang sejati, atau kesengsaraan akhir
dari orang-orang mati, tidak dimulai sampai setelah penghakiman umum danm
kebangkitan tubuh, kelihatannya mengharuskan kepercayaan pada intermediate
state, dalam mana jiwa dianggap tetap tinggal, dari saat keterpisahannya dengan
tubuh sampai pada peristiwa puncak yang terakhir) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 598.
Tanggapan saya:
Nanti akan saudara lihat
[pada point 5) di bawah dimana saya menjelaskan pandangan Reformed tentang intermediate state] bahwa masuk surga dan neraka tidak baru terjadi setelah kedatangan
Kristus yang kedua-kalinya / penghakiman akhir jaman, tetapi segera terjadi
pada saat seseorang mati. Pandangan ini mempunyai argumentasi yang sangat kuat,
dan menurut saya bahkan ‘tak terbantah’. Karena itu asumsi di atas harus
dibuang!
2. Dasar Kitab Suci.
·
Kej 37:35 - “Sekalian
anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak
dihiburkan, serta katanya: ‘Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun
mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!’ Demikianlah Yusuf ditangisi
oleh ayahnya”.
·
Kej 42:38 - “Tetapi
jawabnya: ‘Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab
kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan
di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang
ubanan ini turun ke dunia orang mati karena dukacita.’”.
·
1Sam 28:11,14,19 - “(11)
Sesudah itu bertanyalah perempuan itu: ‘Siapakah yang harus kupanggil supaya
muncul kepadamu?’ Jawabnya: ‘Panggillah Samuel supaya muncul kepadaku.’ ...
(14) Kemudian bertanyalah ia kepada perempuan itu: ‘Bagaimana rupanya?’
Jawabnya: ‘Ada seorang tua muncul, berselubungkan jubah.’ Maka tahulah Saul,
bahwa itulah Samuel, lalu berlututlah ia dengan mukanya sampai ke tanah dan
sujud menyembah. ... (19) Juga orang Israel bersama-sama dengan engkau akan
diserahkan TUHAN ke dalam tangan orang Filistin, dan besok engkau serta
anak-anakmu sudah ada bersama-sama dengan daku. Juga tentara Israel akan
diserahkan TUHAN ke dalam tangan orang Filistin.’”.
Banyak orang berpendapat
bahwa ini betul-betul adalah roh Samuel. Dan roh Samuel itu berkata kepada Saul
bahwa besok Saul dan anak-anaknya akan bersama-sama dengan dia. Padahal Samuel
dan Yonatan adalah orang beriman / saleh, sedangkan Saul adalah orang yang
tidak beriman. Bahwa mereka semua akan bersama-sama setelah mati, dianggap
sebagai dasar untuk mengatakan bahwa semua orang mati akan berkumpul di suatu
tempat yang netral.
·
Zakh 9:11 - “Mengenai
engkau, oleh karena darah perjanjianKu dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang
tahananmu dari lobang yang tidak berair”.
·
Maz 6:6 - “Sebab
di dalam maut tidaklah orang ingat kepadaMu; siapakah yang akan bersyukur
kepadaMu di dalam dunia orang mati?”.
·
Maz 88:11 - “Apakah
Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk
bersyukur kepadaMu? Sela”.
·
Maz 115:17 - “Bukan
orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN, dan bukan semua orang yang turun ke
tempat sunyi”.
KJV: ‘The dead
praise not the LORD, neither any that go down into silence’ (= orang mati tidak memuji TUHAN, demikian juga orang-orang yang turun
ke tempat sunyi).
Tanggapan saya tentang
ayat-ayat ini:
Dalam ayat pertama dan kedua
kata SHEOL menunjuk pada kuburan. Dalam ayat ketiga roh Samuel itu hanyalah
setan yang menyamar, jadi tak semua kata-katanya tak bisa dipercaya. Ayat
keempat sama sekali tidak berbicara tentang orang yang sudah mati, tetapi orang
yang masih hidup (lihat / baca sendiri kontext ayat itu). Sedangkan ayat ke 5-7
sama sekali tidak menunjukkan bahwa semua orang mati akan menuju suatu tempat
yang netral.
Kesimpulan: ayat-ayat dasar dari
pandangan ini sangat tidak kuat.
c) Theologia Reformed menolak pandangan populer
tentang adanya tempat penantian ini.
Sekalipun pandangan di atas
sekarang ini secara luas diterima sebagai suatu pandangan yang Alkitabiah,
tetapi Louis Berkhof berkata sebagai berikut: “it plainly contradicts the Scriptural representation that the righteous
at once enter glory and the wicked at once descend into the place of eternal
punishment” (= itu
secara jelas bertentangan dengan gambaran Kitab Suci bahwa orang benar segera /
langsung masuk ke dalam kemuliaan dan orang jahat segera / langsung turun ke
tempat hukuman kekal) - ‘Systematic Theology’, hal 682.
d) Beberapa keberatan terhadap pandangan populer tentang adanya
tempat penantian ini:
1. Kalau semua orang mati akan menuju tempat
netral seperti itu, bagaimana mungkin beberapa ayat dalam Kitab Suci
menggunakan istilah SHEOL / HADES sebagai suatu peringatan / tempat hukuman?
Contoh:
·
Maz 9:18 - “Orang-orang
fasik akan kembali (berbelok) ke dunia orang mati (SHEOL), ya, segala bangsa yang melupakan Allah”.
·
Amsal 5:5 - “Kakinya
turun menuju maut, langkahnya menuju dunia orang mati (SHEOL)”.
·
Amsal 7:27 - “Rumahnya
adalah jalan ke dunia orang mati (SHEOL), yang menurun ke ruangan-ruangan maut”.
·
Amsal 9:18 - “Tetapi
orang itu tidak tahu, bahwa di sana ada arwah-arwah dan bahwa orang-orang yang
diundangnya ada di dalam dunia orang mati (SHEOL)”.
·
Amsal 15:24 - “Jalan
kehidupan orang berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang
mati (SHEOL) di bawah”.
·
Amsal 23:14 - “Engkau
memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia
orang mati (SHEOL)”.
·
Mat 11:23 - “Dan
engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau
akan diturunkan sampai ke dunia orang mati (HADES)! Karena jika di Sodom terjadi
mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih
berdiri sampai hari ini”.
·
Luk 16:23 - “Orang
kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam
maut (HADES) ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan
Lazarus duduk di pangkuannya”.
2. Kalau SHEOL / HADES itu merupakan tempat
netral, bagaimana mungkin ada ayat yang mengatakan bahwa murka Allah bernyala-nyala
di sana?
Ul 32:22 - “Sebab api telah dinyalakan oleh
murkaKu, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati (SHEOL) yang paling bawah; api itu memakan bumi
dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung”.
3. Bagaimana mungkin kata SHEOL bisa digunakan
sebagai kata yang sama artinya dengan kata ABADDON, yang berarti ‘destruction’ (= penghancuran / kebinasaan)?
Contoh:
·
Ayub 26:6 - “Dunia
orang mati (SHEOL) terbuka di hadapan Allah, tempat kebinasaanpun tidak
ada tutupnya”.
·
Amsal 15:11 - “Dunia
orang mati (SHEOL) dan kebinasaan terbuka di hadapan TUHAN, lebih-lebih
hati anak manusia!”.
·
Amsal 27:20 - “Dunia
orang mati (SHEOL) dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata
manusia tak akan puas”.
4. Bagaimana mungkin kata Yunani HADES digambarkan
sebagai bermusuhan dengan kerajaan Kristus / Gereja?
Mat 16:18 - “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau
adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat (gereja) Ku dan alam maut (Yunani:
HADES) tidak akan
menguasainya”.
5. Bagaimana mungkin Kitab Suci menggambarkan
bahwa orang-orang percaya / saleh, mengharapkan kebahagiaan / sukacita pada
saat mati?
a. Dalam Perjanjian Lama:
·
Bil 23:10 - “Siapakah
yang menghitung debu Yakub dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan
Israel? Sekiranya aku mati seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya
ajalku seperti ajal mereka!’”.
·
Maz 16:9,11 - “(9)
Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan
diam dengan tenteram; ... (11) Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan;
di hadapanMu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kananMu ada nikmat
senantiasa”.
·
Maz 73:24,26 - “(24)
Dengan nasihatMu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke
dalam kemuliaan. ... (26) Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung
batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”.
·
Yes 57:1-2 - “(1)
Orang benar binasa, dan tidak ada seorangpun yang memperhatikannya; orang-orang
saleh tercabut nyawanya, dan tidak ada seorangpun yang mengindahkannya;
sungguh, karena merajalelanya kejahatan, tercabutlah nyawa orang benar (2) dan
ia masuk ke tempat damai; orang-orang yang hidup dengan lurus hati mendapat
perhentian di atas tempat tidurnya”.
b. Dalam Perjanjian Baru:
·
Luk 16:25 - “Tetapi
Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik
sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat
hiburan dan engkau sangat menderita”.
·
Luk 23:43 - “Kata
Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan
ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.
·
2Kor 5:1,8 - “(1)
Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah
telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat
kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. ... (8) tetapi
hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap
pada Tuhan”.
·
Fil 1:21,23 - “(21)
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. ... (23)
Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan
Kristus - itu memang jauh lebih baik”.
·
Wah 6:9,11 - “(9)
Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah
mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena
kesaksian yang mereka miliki. ... (11) Dan kepada mereka masing-masing
diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka
harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan
pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka”.
·
Wah 14:13 - “Dan
aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: ‘Berbahagialah orang-orang
mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.’ ‘Sungguh,’ kata Roh,
‘supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala
perbuatan mereka menyertai mereka.’”.
6. Kalau SHEOL diartikan sebagai tempat netral,
maka Perjanjian Lama tidak mempunyai kata untuk ‘neraka’; padahal Perjanjian
Lama mempunyai kata untuk ‘surga’, yaitu SHAMAYIM. Dan kadang-kadang SHEOL
dikontraskan dengan SHAMAYIM itu.
Contoh:
·
Ayub 11:8 - “Tingginya
seperti langit - apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia
orang mati - apa yang dapat kauketahui?”.
·
Maz 139:8 - “Jika
aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku
di dunia orang mati, di situpun Engkau”.
·
Amos 9:2 - “Sekalipun
mereka menembus sampai ke dunia orang mati, tanganKu akan mengambil
mereka dari sana; sekalipun mereka naik ke langit, Aku akan menurunkan
mereka dari sana”.
6. Dalam Perjanjian Baru kata HADES juga
dikontraskan dengan ‘surga’ / ‘langit’.
Luk 10:15 - “Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan
dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia
orang mati!”. Bdk. Mat 11:23.
e) Arti yang benar dari kata SHEOL / HADES.
Kalau kita mempelajari semua
ayat-ayat yang menggunakan kata SHEOL / HADES, maka dapat disimpulkan bahwa kata
SHEOL / HADES itu tidak selalu mempunyai arti yang sama.
Ini terlihat dari beberapa
Kitab Suci yang menterjemahkan kata-kata itu secara berbeda di tempat yang
berbeda. Misalnya:
·
KJV kadang-kadang menterjemahkan sebagai ‘grave’ (= kuburan), seperti dalam
Kej 37:35; dan kadang-kadang sebagai ‘hell’ (= neraka), seperti dalam
Ul 32:22; dan kadang-kadang sebagai ‘pit’ (= lubang), seperti dalam
Ayub 17:16.
·
Kitab Suci bahasa Inggris yang lain, ada yang tetap mempertahankan kata
SHEOL / HADES itu, dan hanya mentransliterasikan ke dalam huruf-huruf Latin.
·
Kitab Suci Indonesia pada umumnya menterjemahkan sebagai ‘dunia orang mati’, seperti dalam 1Sam 2:6;
tetapi dalam beberapa ayat menterjemahkannya sebagai ‘alam maut’, seperti dalam
Luk 16:23; dan sebagai ‘kerajaan
maut’,
seperti dalam Wah 6:8 Wah 20:13.
Louis Berkhof mengatakan
bahwa SHEOL / HADES mempunyai beberapa kemungkinan arti, yaitu:
1. Kadang-kadang kata SHEOL / HADES itu tidak
menunjuk pada suatu tempat, tetapi pada suatu keadaan kematian.
2. Kalau menunjuk pada suatu tempat, maka SHEOL
/ HADES mempunyai 2 kemungkinan, yaitu:
a. Kuburan.
b. Neraka.
Tetapi kalau saya melihat
contoh-contoh ayat yang diberikan oleh Louis Berkhof, kelihatannya sukar
membedakan antara ‘keadaan kematian’ dan ‘kuburan’.
Ini diakui oleh Louis
Berkhof sendiri, karena ia berkata: “There are also several passages in which SHEOL and HADES seem to
designate ‘the grave.’ It is not always easy to determine, however, whether the
words refer to ‘the grave’ or to ‘the state of the dead.’” (= Ada juga beberapa text dimana SHEOL dan
HADES kelihatannya menunjuk pada ‘kuburan’. Tetapi tidak selalu mudah untuk
menentukan, apakah kata itu menunjuk pada ‘kuburan’ atau pada ‘keadaan dari
orang mati’) - ‘Systematic Theology’, hal 686.
Karena itu bagi saya lebih
baik untuk membedakan arti dari SHEOL / HADES hanya dalam 2 arti saja, yaitu:
1. Kuburan / keadaan kematian.
Secara umum, rumusnya adalah sebagai berikut: kalau ayatnya
menunjukkan bahwa semua orang akan ke sana, maka harus dipilih arti ini. Juga
kalau ayatnya menunjukkan bahwa orang benar / orang percaya pergi ke sana /
akan ke sana, maka harus dipilih arti ini.
Contoh:
·
Kej 42:38 - “Tetapi
jawabnya: ‘Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab
kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan
di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang
ubanan ini turun ke dunia orang mati karena dukacita.’”.
·
Ayub 7:9 - “Sebagaimana
awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia
orang mati tidak akan muncul kembali”.
·
1Sam 2:6 - “TUHAN
mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan
mengangkat dari sana”.
·
1Raja 2:6,9 - “(6)
Maka bertindaklah dengan bijaksana dan janganlah biarkan yang ubanan itu turun
dengan selamat ke dalam dunia orang mati. ... (9) Sekarang janganlah
bebaskan dia dari hukuman, sebab engkau seorang yang bijaksana dan tahu apa
yang harus kaulakukan kepadanya untuk membuat yang ubanan itu turun dengan
berdarah ke dalam dunia orang mati.’”.
·
Ayub 14:13 - “Ah,
kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang mati, melindungi
aku, sampai murkaMu surut; dan menetapkan waktu bagiku, kemudian mengingat aku
pula!”.
·
Ayub 17:13-14 - “(13)
Apabila aku mengharapkan dunia orang mati sebagai rumahku, menyediakan
tempat tidurku di dalam kegelapan, (14) dan berkata kepada liang kubur: Engkau
ayahku, kepada berenga: Ibuku dan saudara perempuanku”.
·
Maz 88:3-4 - “(3)
Biarlah doaku datang ke hadapanMu, sendengkanlah telingaMu kepada teriakku; (4)
sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang
mati”.
·
Maz 89:49 - “Siapakah
orang yang hidup dan yang tidak mengalami kematian, yang dapat meluputkan
nyawanya dari kuasa dunia orang mati? Sela”.
·
Pkh 9:10 - “Segala
sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga,
karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia
orang mati, ke mana engkau akan pergi”.
·
Yes 38:10,18 - “(10)
Aku ini berkata: Dalam pertengahan umurku aku harus pergi, ke pintu gerbang dunia
orang mati aku dipanggil untuk selebihnya dari hidupku. ... (18) Sebab dunia
orang mati tidak dapat mengucap syukur kepadaMu, dan maut tidak dapat
memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti
akan kesetiaanMu”.
·
Hos 13:14 - “Akan
Kubebaskankah mereka dari kuasa dunia orang mati, akan Kutebuskah mereka
dari pada maut? Di manakah penyakit samparmu, hai maut, di manakah tenaga
pembinasamu, hai dunia orang mati? MataKu tertutup bagi belas kasihan”.
·
Kis 2:27,31 - “(27)
sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan
tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan. ... (31) Karena itu
ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias,
ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati,
dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan”.
Dalam Kitab Suci Indonesia,
sama seperti Maz 16:10 dari mana ayat ini dikutip, ayat ini salah
terjemahan. Bandingkan dengan terjemahan bahasa Inggris di bawah ini.
NIV: ‘(27) because
you will not abandon me to the grave, nor will you let your Holy
One see decay. ... (31) Seeing what was ahead, he spoke of the
resurrection of the Christ, that he was not abandoned to the grave, nor
did his body see decay’ [= (27) sebab Engkau tidak meninggalkan
/ membiarkan aku di kuburan, atau membiarkan Orang KudusMu mengalami pembusukan.
... (31) Melihat apa yang ada di depan, ia berbicara tentang kebangkitan
Mesias, bahwa Ia tidak ditinggalkan dalam kuburan, dan tubuhNya tidak mengalami
pembusukan].
Catatan: jelas bahwa ayat ini bicara tentang Yesus, dan
jelas bahwa Yesus mengalami kematian, tetapi Ia tidak dibiarkan /
ditinggalkan di sana (artinya tidak mati untuk selama-lamanya). Jadi, saya
lebih memilih terjemahan NIV yang menggunakan kata ‘abandon’ (= membiarkan /
meninggalkan), dari pada Kitab Suci Indonesia yang menterjemahkan ‘menyerahkan’.
Juga pada waktu dikatakan
bahwa daging / tubuhNya tidak mengalami ‘kebinasaan’. Kalau kata ‘kebinasaan’ diartikan sebagai ‘kematian’ maka jelas bahwa
kata-kata itu salah. Karena itu, saya lebih setuju dengan NIV, yang
menterjemahkan ‘decay’ (= pembusukan). Yesus
memang mati / binasa, tetapi tubuhNya tidak mengalami pembusukan. Alasan
pertama, karena adanya pemberian rempah-rempah dsb, dan alasan kedua, karena Ia
bangkit pada hari ke 3.
·
Wah 6:8 - “Dan
aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang
menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut (HADES) mengikutinya. Dan kepada mereka
diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan
dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi”.
·
Wah 20:13 - “Maka
laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan
maut (HADES) menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan
mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya”.
2. Neraka.
Secara umum, rumusnya adalah sebagai berikut: kalau ayatnya
menunjukkan bahwa pergi ke tempat itu merupakan suatu yang tidak enak atau
bahwa tempat itu merupakan suatu ancaman terhadap orang-orang jahat / orang
yang tidak percaya, maka harus dipilih arti ini.
Louis Berkhof: “The warning and threatening contained in
these passages is lost altogether, is SHEOL is conceived of as a neutral place
whither all go” (=
Peringatan dan ancaman yang ada dalam text-text itu hilang sama sekali, jika
SHEOL dipahami sebagai suatu tempat netral kemana semua orang pergi) - ‘Systematic Theology’, hal 685.
Contoh:
·
Maz 9:18 - “Orang-orang
fasik akan kembali (berbelok) ke dunia orang mati, ya, segala bangsa yang
melupakan Allah”.
·
Maz 49:15 - “Seperti
domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut;
mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati
menjadi tempat kediaman mereka”.
·
Maz 55:16 - “Biarlah
maut menyergap mereka, biarlah mereka turun hidup-hidup ke dalam dunia orang
mati! Sebab kejahatan ada di kediaman mereka, ya dalam batin mereka”.
·
Amsal 15:24 - “Jalan
kehidupan orang berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang
mati di bawah”.
·
Luk 16:23 - “Orang
kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam
maut (HADES) ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan
Lazarus duduk di pangkuannya”.
Karena kata SHEOL / HADES tidak selalu mempunyai arti yang
sama, maka kontext harus menentukan arti mana yang diambil. Dan kalau salah
mengambil arti, maka jelas bisa memunculkan ajaran yang salah atau bahkan
sesat. Juga dari penjelasan tentang arti kata SHEOL / HADES di atas ini, jelas
bahwa kata itu tidak pernah digunakan dalam arti ‘tempat penantian’.
f) Penginjilan dalam dunia orang mati.
Sebagian (tidak semua!) orang yang mempercayai
adanya tempat penantian, mempunyai pandangan sesat yang cukup populer, yaitu bahwa dalam intermediate state / di tempat penantian itu akan ada kesempatan kedua. Artinya adalah
bahwa jiwa / roh (yang belum percaya Yesus) yang telah masuk ke tempat
penantian itu akan diinjili lagi, dan mereka bisa bertobat / percaya kepada
Yesus di sana dan diselamatkan.
Pandangan ini sesat, tetapi cukup populer, bahkan dalam kalangan
orang-orang yang sebetulnya cukup nggenah. Pandangan ini bukan hanya sesat,
tetapi sangat membahayakan, karena bisa menyebabkan orang merasa tidak perlu
memberitakan Injil, dan juga menyebabkan seseorang menunda pertobatan, karena
semua itu toh bisa dilakukan setelah mati. Karena itu, saya menyediakan satu point
khusus di sini untuk membahas pandangan ini secara panjang lebar.
Catatan: pandangan ini berbeda dengan ajaran /
praktek penginjilan terhadap orang mati yang diajarkan / dilakukan oleh
Andereas Samudera, karena dia menganggap bahwa jiwa / roh dari orang mati itu
bisa gentayangan di dunia ini, dan merasuk orang yang masih hidup, dan
menimbulkan problem dalam diri orang hidup yang dirasuknya itu. Dan jiwa / roh
yang merasuk ini bisa diinjili dan bisa bertobat / percaya Yesus. Dan kalau
jiwa / roh itu mau percaya Yesus, maka ia akan masuk surga, dan meninggalkan
orang hidup yang tadi dirasuknya itu sehingga orang itu akan terbebas dari
problemnya. Ajaran ini lebih sesat lagi dari yang di atas. Kalau mau tahu lebih
banyak tentang ajaran ini bacalah buku saya yang berjudul ‘Penginjilan
terhadap orang mati’, jilid 1 dan 2.
1. Orang-orang
yang mempercayai adanya penginjilan dalam dunia orang mati ini biasanya
mempunyai dasar anggapan sebagai berikut:
a. Keadaan kekal
dari manusia baru tercapai pada saat Yesus datang kedua-kalinya / penghakiman
akhir jaman, bukan pada saat orang itu mati.
b. Keputusan yang
dilakukan seseorang pada masa intermediate state ini akan menentukan apakah ia akan
selamat atau tidak.
c. Tentang siapa
yang akan mendapatkan kesempatan kedua ini, tidak ada keseragaman pandangan.
Ada yang mengatakan:
·
orang-orang yang mati pada saat masih
bayi.
·
hanya orang-orang yang selama
hidupnya belum pernah mendengar Injil.
·
orang-orang yang sudah pernah
mendengar Injil, tetapi tidak pernah dengan sungguh-sungguh memikirkan hal itu.
·
semua orang.
d. Tentang siapa
yang memberitakan Injil dan bagaimana caranya, juga tidak ada keseragaman
pandangan.
2. Dasar pandangan adanya
penginjilan terhadap orang mati ini dan jawabannya.
a. Tidak adil
kalau ada orang yang harus masuk neraka tanpa pernah mendengar Injil.
Jawab:
Allah tidak pernah mempunyai kewajiban untuk membuat setiap orang
mendengar Injil. Kalau kita bisa mendengar Injil, itu karena kasih karunia
Allah, dan Ia tidak wajib memberikan kasih karuniaNya kepada seadanya orang.
Allah tidak wajib berlaku sama rata terhadap semua orang.
Bdk. Mat 20:13-15 - “(13) Tetapi tuan itu menjawab seorang dari
mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah
kita telah sepakat sedinar sehari? (14) Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau
memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. (15) Tidakkah
aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah
engkau, karena aku murah hati?”.
Jadi, Allah tetap adil kalau ia membuang orang-orang berdosa ke neraka
tanpa memberi mereka kesempatan untuk mendengar Injil. Kepada orang-orang yang
diselamatkan, Allah memberikan kemurahan / belas kasihan, sedangkan kepada
orang-orang yang dibinasakan, Allah memberikan keadilan. Tidak ada orang
yang mendapatkan ketidak-adilan.
b. Text-text Kitab Suci, khususnya
1Pet 3:18-20 dan 1Pet 4:6.
1Pet 3:18-20 - “(18) Sebab juga Kristus telah mati sekali
untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar,
supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaanNya
sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, (19) dan di dalam
Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,
(20) yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada
Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan
bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh
air bah itu”.
1Pet 4:6 - “Itulah sebabnya maka Injil telah
diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua
manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak
Allah”.
Kedua text ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa antara kematian dan
kebangkitanNya, Kristus turun ke SHEOL / HADES, dan memberitakan Injil di sana.
Jawab:
·
Kedua text di atas termasuk dalam
golongan ayat-ayat tersukar dalam seluruh Kitab Suci, dan ini terlihat dari
banyaknya penafsiran yang berbeda-beda / saling bertentangan tentang text-text
ini. Kalau suatu ajaran hanya mempunyai dasar ayat-ayat yang sukar
seperti ini, maka ajaran itu perlu diragukan.
·
Kalaupun text-text ini digunakan
untuk mengatakan bahwa orang-orang di
SHEOL / HADES bisa mendengar Injil, jelas bahwa itu hanya berlaku untuk
orang-orang jaman Perjanjian Lama, bahkan orang-orang pada jaman Nuh
(ay 20).
·
Arti text-text ini menurut saya:
*
1Pet 3:18-20 menunjukkan bahwa
orang-orang itu diinjili oleh Yesus melalui Nuh, dan itu terjadi pada
saat mereka masih hidup. Mereka disebut ‘roh-roh
yang di dalam penjara’, karena pada saat Petrus menuliskan
suratnya ini, mereka sudah mati dan sudah ada di dalam neraka.
*
1Pet 4:6 persamaan dengan
1Pet 3:18-20, tetapi juga merupakan kebalikan / kontrasnya. ama dengan
dalam 1Pet 3:18-20, orang-orang ini juga diinjili pada saat mereka masih hidup. Mereka disebut ‘orang-orang mati’, karena pada saat surat ini ditulis, mereka sudah mati. Tetapi berbeda /
kontras dengan dalam 1Pet 3:18-20 dimana orang-orang itu menolak pemberitaan
Injil itu, maka dalam 1Pet 4:6 itu orang-orang itu menerima pemberitaan Injil
itu dan mereka diselamatkan.
Catatan: kalau saudara mau membaca pembahasan
lengkap / mendetail tentang penafsiran dari kedua text sukar di
atas, bacalah buku saya yang berjudul ‘Penginjilan terhadap
orang mati’, jilid 2.
c. Text-text yang
menunjukkan bahwa hanya ketidak-percayaan seseorang, atau penolakan seseorang
terhadap Kristuslah yang menyebabkan ia masuk neraka.
Yoh 3:18,36 - “(18) Barangsiapa percaya kepadaNya, ia
tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah
hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. ... (36)
Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi
barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan
murka Allah tetap ada di atasnya.’”.
Yoh 8:24 - “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa
kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah
Dia, kamu akan mati dalam dosamu.’”.
2Tes 2:12 - “supaya dihukum semua orang yang tidak
percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan”.
Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang
yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang
sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka
akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan
belerang; inilah kematian yang kedua.’”.
Jawab: Louis Berkhof mengatakan (hal 693) bahwa
text-text ini hanya menunjukkan bahwa iman kepada Kristus merupakan jalan
keselamatan, tetapi tidak menunjukkan bahwa penolakan terhadap Kristus
merupakan satu-satunya dasar penghukuman. Dosalah yang merupakan dasar mengapa
seseorang layak menerima hukuman, apakah itu dosa yang dilakukan orang itu
sendiri (actual sins), atau bahkan dosa asal.
Louis Berkhof: “Man is lost by nature, and even original
sin, as well as actual sins, makes him worthy of condemnation. The rejection of
Christ is undoubtedly a great sin, but is never represented as the only sin
that leads to destruction” (= Manusia terhilang secara alamiah, dan bahkan dosa asal, maupun dosa
sungguh-sungguh / yang dilakukan orang itu sendiri, membuatnya layak untuk
penghukuman. Tak diragukan bahwa penolakan terhadap Kristus merupakan dosa yang
besar, tetapi itu tidak pernah digambarkan sebagai satu-satunya dosa yang
membimbing pada kehancuran) - ‘Systematic Theology’, hal
693.
3. Hal-hal lain yang menunjukkan
ketidak-mungkinan pandangan ini.
a. Nasib
seseorang ditentukan berdasarkan apa yang ia lakukan dalam hidupnya di dunia
ini, bukan berdasarkan apa yang ia lakukan dalam intermediate state.
2Kor 5:10 - “Sebab
kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang
memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam
hidupnya ini, baik ataupun jahat”.
Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu, yang diterjemahkan
secara berbeda oleh Kitab Suci bahasa Inggris.
KJV: ‘in his body’ (= dalam tubuhnya).
RSV/NIV/NASB: ‘in the body’ (= dalam tubuh).
Dalam bahasa Yunani memang digunakan kata SOMA, yang artinya adalah ‘tubuh’.
Ini ayat yang
sangat jelas dan kuat dalam persoalan ini. Penghakiman Kristus nanti tergantung
hanya pada apa yang dilakukan seseorang dalam hidupnya / dalam tubuhnya,
bukan pada apa yang dilakukannya setelah ia mati / ada di luar tubuhnya.
Jadi, seandainya
orang mati itu bisa diinjili, dan seandainya orang mati itu bisa
bertobat dan percaya kepada Yesus, maka pertobatannya / imannya itu tetap tidak
akan diperhitungkan dalam penghakiman akhir jaman. Yang diperhitungkan hanyalah
tindakan-tindakannya selama ia berada dalam tubuhnya.
Louis Berkhof: “It (Scripture) also invariably represents
the coming final judgment as determined by the things that were done in the
flesh, and never speaks of this as dependent in any way on what occurred in the
intermediate state” [= Itu
(Kitab
Suci) juga selalu
menggambarkan bahwa penghakiman terakhir nanti ditentukan oleh hal-hal yang
dilakukan dalam daging, dan tidak pernah berbicara bahwa hal ini tergantung
dengan cara apapun pada apa yang terjadi pada intermediate state (saat antara
kematian seseorang dan kedatangan Yesus yang kedua-kalinya)] - ‘Systematic
Theology’, hal 693.
Hal ini terlihat
dengan jelas dari cerita tentang Lazarus dan orang kaya dalam Luk 16:19-31.
Dalam cerita itu jelas sekali bahwa orang kaya itu menyesal, tetapi penyesalan
itu sama sekali tidak berguna, karena itu merupakan tindakan yang terjadi
setelah kematiannya / di luar tubuh!
Illustrasi: kalau seseorang menghadapi ujian,
maka ia mempunyai waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi
ujian tersebut. Kalau ternyata ia menyia-nyiakan kesempatan itu, dan baru
menyesal akan kemalasannya dan mulai rajin belajar setelah ujian, maka
penyesalan dan kerajinannya itu tidak akan mempengaruhi nilai ujiannya, karena
semua itu terjadi setelah ujian. Apa yang mempengaruhi nilai ujiannya hanyalah
apa yang ia lakukan sebelum ujian!
‘Masa belajar’ bagi kita adalah hidup yang sekarang ini. Apapun yang kita lakukan dalam
hidup ini mempengaruhi hidup yang akan datang. Tetapi apapun yang kita lakukan
setelah kita mati, tidak akan mempengaruhi ‘nilai ujian’ kita!
William Hendriksen: “it will become clear that the one great
truth here emphasized is that once a person has died, his soul having been
separated from his body, his condition, whether blessed or doomed, is fixed
forever. There is no such thing as a ‘second’ chance” (= akan menjadi jelas bahwa satu kebenaran
besar / agung yang ditekankan di sini adalah bahwa sekali seseorang telah mati,
setelah jiwanya terpisah dari tubuhnya, kondisinya, apakah diberkati atau
dikutuk, tetap selama-lamanya. Tidak ada hal yang disebut ‘kesempatan kedua’) - hal 785.
b. Kitab Suci
menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil akan masuk
neraka.
·
Yeh 3:18 - “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau
tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang
jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat
itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan
jawab atas nyawanya dari padamu”.
·
Ro 2:12 - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum
Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah
hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.
Kalau orang yang tidak mempunyai hukum Taurat dikatakan ‘akan binasa tanpa hukum Taurat’, artinya ia tidak akan dihakimi berdasarkan hukum Taurat, tetapi
dihakimi berdasarkan suara hati / hati nurani mereka (bdk. Ro 2:14-15),
tetapi mereka tetap akan binasa. Maka bisalah disimpulkan bahwa orang yang
tidak mempunyai Injil atau tidak pernah mendengar Injil akan binasa tanpa
Injil, artinya mereka tidak akan dihakimi berdasarkan Injil, tetapi mereka
tetap akan binasa.
·
Ro 10:13-14 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada
nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru
kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya
kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar
tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.
Text ini memberikan suatu rangkaian: orang yang berseru kepada Tuhan akan
selamat, tetapi bagaimana bisa berseru kalau tidak percaya, dan bagaimana bisa
percaya kalau tidak pernah mendengar, dan bagaimana bisa mendengar kalau tidak
ada yang memberitakan? Kalau rangkaian ini dibalik, maka akan didapatkan: kalau
tidak ada yang memberitakan, maka orangnya tidak bisa mendengar. Kalau orangnya
tidak mendengar, ia tidak bisa percaya. Kalau ia tidak percaya, ia tidak bisa berseru.
Dan kalau ia tidak berseru maka ia tidak bisa selamat. Jadi kalau tidak ada
yang memberitakan Injil kepadanya, ia tidak bisa selamat!
Jadi, semua ayat-ayat di atas ini menunjukkan bahwa orang yang tidak
pernah mendengar Injil akan mati dalam dosanya / masuk neraka.
c. Ada ayat-ayat
Kitab Suci yang jelas menunjukkan ketidak-mungkinan bagi seseorang untuk
mendengar Injil setelah mati.
Maz 88:11-13 - “(11)
Apakah Kaulakukan keajaiban
bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepadaMu? Sela.
(12) Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaanMu di tempat
kebinasaan? (13) Diketahui orangkah keajaiban-keajaibanMu dalam kegelapan,
dan keadilanMu di negeri segala lupa?”.
Yes 38:18-19 - “(18)
Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepadaMu, dan maut tidak
dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak
menanti-nanti akan kesetiaanMu. (19) Tetapi hanyalah orang yang hidup,
dialah yang mengucap syukur kepadaMu, seperti aku pada hari ini; seorang bapa
memberitahukan kesetiaanMu kepada anak-anaknya”.
d. Kepercayaan
bahwa orang mati masih bisa diinjili dan bisa bertobat / percaya kepada Kristus
menghancurkan semangat penginjilan.
Kalau setelah mati orang masih bisa diinjili, apalagi kalau setelah mati
orang diinjili oleh Yesus sendiri, untuk apa sekarang kita / orang-orang
kristen memberitakan Injil? Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan
ayat-ayat Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa rasul-rasul dan orang Kristen
abad pertama mati-matian memberitakan Injil, bahkan pada saat mereka diancam
dengan hukuman mati, yang menunjukkan betapa urgentnya / mendesaknya
pemberitaan Injil itu.
e. Kitab Suci
mengatakan bahwa setelah kematian hanya ada penghakiman, tidak ada kesempatan
mendengar Injil / bertobat lagi.
Ibr 9:27 - “Dan sama seperti manusia ditetapkan
untuk mati hanya satu kali saja, dan
sesudah itu dihakimi”.
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 10 Agustus
2007, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
5) Pandangan Reformed: orang mati langsung masuk surga atau neraka.
a) Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa surga dan
neraka bukan sekedar merupakan suatu kondisi, tetapi juga merupakan suatu tempat
/ lokasi.
Bdk. Yoh 14:2-3 - “(2) Di rumah BapaKu banyak tempat
tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi
ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi
ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan
membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada,
kamupun berada”.
Dalam Yoh 14:2-3 versi
Kitab Suci Indonesia, kata ‘tempat’ muncul 5 x, dan ini
menunjukkan bahwa surga betul-betul merupakan suatu tempat (dan konsekwensinya,
demikian juga dengan neraka). Mengatakan bahwa surga dan neraka bukanlah ‘suatu
lokasi’ tetapi hanya ‘suatu kondisi’ menunjukkan suatu kebodohan dan sikap
tidak peduli pada Kitab Suci! Ini sebetulnya bukan pandangan khas dari orang-orang
Reformed, tetapi merupakan pandangan dari semua orang Kristen yang waras
otaknya!
Pulpit Commentary: “Heaven
is a definite locality. Jesus is there in his glorified body”
(= Surga adalah suatu tempat tertentu. Yesus ada di sana dalam tubuhNya yang
telah dimuliakan) - hal 232.
Herman Hoeksema: “This
ascension must be conceived as consisting definitely in a change of place. In
His human nature Christ departed from the earth and went into heaven both in
body and soul. After His ascension He is according to His human nature no
longer on earth, but in heaven only” (= Kenaikan
ini harus dipahami sebagai perubahan tempat. Dalam hakekat manusiaNya,
Kristus meninggalkan bumi dan pergi ke surga baik tubuh dan jiwaNya. Setelah
kenaikanNya maka menurut hakekat manusiaNya Ia tidak lagi di bumi tetapi hanya
di surga) -
‘Reformed Dogmatics’, hal 420.
Herman Hoeksema: “Heaven
is a definite place, and not merely a condition”
(= Surga adalah tempat yang tertentu, dan bukan semata-mata merupakan
suatu kondisi / keadaan) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 422.
Tentang ‘ascension’ /
‘kenaikan Kristus ke surga’, Charles Hodge berkata sebagai berikut:
“It was a local transfer of his person from one
place to another; from earth to heaven. Heaven is therefore a place. ... If
Christ has a true body, it must occupy a definite portion of space. And where
Christ is, there is the Christian’s heaven”
(= Itu merupakan perpindahan tempat dari pribadiNya dari satu tempat
ke tempat lain; dari bumi ke surga. Karena itu, surga adalah suatu
tempat. ... Jika Kristus mempunyai tubuh yang sungguh-sungguh, tubuh itu
harus menempati suatu ruangan / tempat tertentu. Dan dimana Kristus ada, di
situlah surga orang kristen) - ‘Systematic
Theology’, Vol II, hal 630, 631.
b) Pandangan Reformed tentang intermediate state adalah: pada saat seseorang mati, jiwa / rohnya akan langsung masuk ke
surga / neraka, tetapi tubuhnya harus menunggu kedatangan Yesus yang
kedua-kalinya, pada saat mana tubuh itu akan dibangkitkan, dan dipersatukan
kembali dengan jiwa / rohnya.
Westminster Confession of Faith Chapter XXXII, no 1: “The bodies of men, after death, return to dust, and
see corruption: but their souls, which neither die nor sleep, having an
immortal subsistence, immediately return to God who gave them: the
souls of the righteous, being then made perfect in holiness, are received into
the highest heavens, where they behold the face of God, in light and glory,
waiting for the full redemption of their bodies. And the souls of the wicked
are cast into hell, where they remain in torments and utter darkness, reserved
to the judgment of the great day. Beside these two places, for souls
separated from their bodies, the Scripture acknowledgeth none” (= Tubuh-tubuh manusia, setelah kematian, kembali
menjadi debu, dan mengalami pembusukan: tetapi jiwa-jiwa mereka, yang tidak
mati ataupun tidur, karena mempunyai keberadaan yang tidak bisa mati, langsung
kembali kepada Allah yang memberikan jiwa-jiwa itu: jiwa-jiwa dari orang
benar, pada saat itu disempurnakan dalam kekudusan, diterima ke dalam surga
yang tertinggi, dimana mereka memandang wajah Allah, dalam terang dan
kemuliaan, menunggu penebusan penuh dari tubuh-tubuh mereka. Dan jiwa-jiwa
orang jahat dibuang ke dalam neraka, dimana mereka tinggal dalam penyiksaan dan
kegelapan total, disimpan untuk penghakiman pada hari besar. Disamping kedua
tempat ini, untuk jiwa-jiwa yang terpisah dari tubuh-tubuh mereka, Kitab Suci
tidak mengakui adanya tempat yang lain).
Calvin (tentang 2Kor 5:8): “nothing
is better than to quit the body, that we may attain near intercourse with God,
and may truly and openly enjoy his presence” (= tidak ada yang lebih baik dari pada meninggalkan tubuh,
supaya kita bisa mencapai hubungan yang dekat dengan Allah, dan bisa dengan
sungguh-sungguh dan terbuka menikmati kehadiranNya) - hal 222.
Louis Berkhof: “The usual position of the Reformed Churches
is that the souls of believers immediately after death enter upon the glories
of heaven. ... If the righteous enter upon their eternal state at once, the
presumption is that this is true of the wicked as well” (= Posisi yang umum dari Gereja Reformed
adalah bahwa jiwa-jiwa dari orang-orang percaya setelah kematian segera /
langsung masuk kepada kemuliaan dari surga. ... Jika orang benar segera masuk
ke dalam keadaan kekal mereka, maka harus dianggap bahwa ini juga benar untuk
orang jahat) - ‘Systematic Theology’, hal 679,680.
R. L. Dabney: “We
have asserted it, as the doctrine of the Bible, that the souls of believers do
pass immediately into glory” (= Kami telah menegaskan
hal itu, sebagai doktrin dari Alkitab, bahwa jiwa-jiwa dari orang-orang percaya
langsung masuk ke dalam kemuliaan) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal
823.
Charles Hodge: “The
soul of the believer does not cease to exist at death. It does not sink into a
state of unconsciousness. It does not go into purgatory; but, being made
perfect in holiness, it does immediately pass into glory. As soon as it is
absent from the body, it is present with the Lord”
(= Jiwa dari orang percaya tidak musnah / berhenti mempunyai keberadaan pada
saat kematian. Jiwa itu tidak tenggelam / terbenam ke dalam keadaan tidak
sadar. Jiwa itu tidak pergi ke api penyucian; tetapi, setelah disempurnakan
dalam kekudusan, jiwa itu langsung masuk ke dalam kemuliaan. Begitu jiwa itu
absen dari tubuh, jiwa itu hadir bersama Tuhan) - ‘I & II Corinthians’, hal 488-489.
W. G. T. Shedd: “there
is no essential difference between Paradise and Heaven. ... there is no
essential difference between Hades and Hell”
(= tidak ada perbedaan yang hakiki antara Firdaus dan surga. ... tidak ada
perbedaan yang hakiki antara Hades dengan neraka) - ‘Shedd’s Dogmatic
Theology’, vol II, hal 594.
W. G. T. Shedd: “The
substance of the Reformed view, then, is, that the intermediate state for the
saved is Heaven without the body, and the final state for the saved is Heaven
with the body; that the intermediate state for the lost is Hell without the
body, and the final state for the lost is Hell with the body. In the Reformed,
or Calvinistic eschatology, there is no intermediate Hades between Heaven and
Hell, which the good and evil inhabit in common. When this earthly existence is
ended, the only specific places and states are Heaven and Hell. Paradise is a
part of Heaven; Hades is a part of Hell”
(= Maka, hakekat dari pandangan Reformed adalah bahwa keadaan antara
kematian dan kebangkitan untuk orang yang diselamatkan adalah Surga tanpa tubuh,
dan keadaan akhir untuk orang yang diselamatkan adalah Surga dengan tubuh;
bahwa keadaan antara kematian dan kebangkitan untuk orang yang terhilang
adalah Neraka tanpa tubuh, dan keadaan akhir untuk orang yang terhilang
adalah Neraka dengan tubuh. Dalam doktrin tentang akhir jaman Reformed atau
Calvinisme, tidak ada Hades di antara Surga dan Neraka, dimana orang baik dan
orang jahat tinggal bersama-sama. Pada waktu keberadaan duniawi ini
berakhir, satu-satunya tempat dan keadaan adalah Surga dan Neraka. Firdaus
adalah suatu bagian dari Surga; Hades adalah suatu bagian dari Neraka) - ‘Shedd’s Dogmatic
Theology’, vol II, hal 594-595.
Herman Hoeksema: “immediately
after death the state and condition of both the godly and the ungodly are
decided forever, and that the former enter into a state of conscious glory,
while the latter descend into the pit of hell” (= segera setelah kematian keadaan
dan kondisi dari baik orang saleh dan orang jahat ditentukan selama-lamanya,
dan yang pertama masuk ke dalam keadaan kemuliaan yang disadari, sementara yang
terakhir turun ke dalam lubang neraka) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 771.
Louis Berkhof: “The Bible sheds very little direct light on
this subject. The only passage that can really come into consideration here is
the parable of the rich man and Lazarus in Luke 16, where HADES denotes hell,
the place of eternal torment. In addition to this direct proof there is also an
inferential proof. If the righteous enter upon their eternal state at once, the
presumption is that this is true of the wicked as well” (= Alkitab memberikan sangat sedikit terang
langsung pada subyek ini. Satu-satunya text yang bisa betul-betul
dipertimbangkan di sini adalah perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus dalam
Luk 16, dimana HADES menunjuk kepada neraka, tempat penyiksaan kekal. Sebagai
tambahan pada bukti langsung ini juga ada bukti tak langsung. Jika orang benar
masuk ke dalam keadaan kekal mereka secara langsung / dengan segera,
maka kita juga harus menganggap bahwa ini juga benar bagi orang jahat) - ‘Systematic Theology’, hal 680.
R. L. Dabney: “It is the glory of the gospel, that it
gives a victory over death. Over the true man, the being who feels, and hopes
and fears, it has no dominion. The body alone falls under its stroke; but when
it does so, it is unconscious of that stroke. Whatever there may be in the
grave, with its gloom and worm, that is repulsive to man; with all that the
true EGO has no part. While the worms destroy the unconscious flesh, the
conscious spirit has soared away to the light and rest of its Saviour’s bosom” (= Merupakan kemuliaan dari injil, bahwa
injil itu memberikan kemenangan atas kematian. Atas / terhadap orang benar,
makhluk yang mempunyai perasaan, dan yang berharap dan mempunyai rasa takut,
kematian tidak berkuasa. Hanya tubuh yang jatuh ke bawah serangannya; tetapi
ketika itu terjadi, tubuh itu tidak sadar akan serangan itu. Apapun yang ada
dalam kubur, dengan kesuraman dan ulatnya, yang merupakan hal yang menjijikkan
bagi manusia; dengan semua itu EGO / diri orang itu sendiri tidak mempunyai
bagian. Sementara ulat-ulat menghancurkan daging yang tidak mempunyai
kesadaran, roh yang sadar telah melayang kepada terang dan beristirahat di
dada sang Juruselamatnya) - ‘Lectures in
Systematic Theology’, hal 829.
Bdk. Pkh 12:7 - “dan debu kembali menjadi tanah seperti
semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”.
c) Dasar dari pandangan Reformed ini.
1. Paulus percaya bahwa begitu ia mati, ia langsung masuk surga.
a. 2Kor 5:1 - “Karena
kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar (artinya:
jika kita mati - bdk. Yes 38:12), Allah telah menyediakan suatu
tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang
tidak dibuat oleh tangan manusia”.
NIV/NASB: ‘we have
a building from God’.
Perhatikan kata ‘have’
yang ada dalam ‘present tense’ (= bentuk sekarang), bukan ‘future tense’
(= bentuk yang akan datang). Ini menunjukkan bahwa begitu kita mati, kita
langsung mendapatkan rumah itu.
Charles Hodge: “The
present tense, EKHOMEN, is used because the one event immediately follows the
other; there is no perceptible interval between the dissolution of the earthly
tabernacle and entering on the heavenly house. As soon as the soul leaves the
body it is in heaven. ... The soul therefore at death enters a house
whose builder is God” (= Present tense,
EKHOMEN, digunakan karena peristiwa yang satu langsung mengikuti yang lain; di
sana tidak ada selang waktu yang terlihat di antara hancurnya kemah duniawi dan
masuknya ke rumah surgawi. Begitu jiwa meninggalkan tubuh, jiwa itu ada
di surga. ... Karena itu pada saat mati, jiwa memasuki rumah yang pembangunnya
adalah Allah) - ‘I & II Corinthians’, hal 489.
b. 2Kor 5:8b: ‘terlebih
suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan’.
NASB: ‘to be at home with
the Lord’ (= ada di rumah bersama Tuhan).
NIV: ‘at home with the
Lord’ (= di rumah bersama Tuhan).
Literal / hurufiah: ‘to
come home to the Lord’ (= pulang ke rumah kepada Tuhan).
Jadi ini menunjukkan bahwa
bagi Paulus ‘mati’ sama dengan ‘pulang ke rumah Bapa’ dan ini menunjukkan bahwa
begitu seorang kristen mati ia langsung masuk surga.
c. Fil 1:23 - “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin
pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik”.
Kata ‘pergi’ di sini jelas menunjuk kepada ‘mati’. Jadi Paulus berkata kalau ia mati, ia diam
bersama-sama dengan Kristus. Ini pasti sama dengan masuk surga.
2. Yesus
menjanjikan bahwa penjahat yang bertobat di kayu salib akan masuk ke Firdaus (=
surga) pada hari itu juga.
Luk 23:43 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di
dalam Firdaus.’”.
Charles Hodge: “There can, therefore, be no doubt that
paradise is heaven, and consequently when Christ promised the dying thief that
he should that day be in paradise, he promised that he should be in heaven. ...
The fathers made a distinction between paradise and heaven which is not found
in the Scriptures” (=
Karena itu, tidak bisa ada keraguan bahwa firdaus adalah surga, dan karena itu
pada waktu Kristus menjanjikan pencuri / penjahat yang sekarat itu bahwa hari itu
ia akan berada di firdaus, Ia menjanjikan bahwa ia akan berada di surga.
Bapa-bapa gereja membuat perbedaan antara firdaus dan surga, dan perbedaan ini
merupakan sesuatu yang tidak ditemukan dalam Kitab Suci) - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 727-728.
Louis Berkhof: “In the light of 2Cor. 12:3,4 ‘paradise’ can
only be a designation of heaven” (= Dalam terang dari 2Kor 12:3,4 ‘Firdaus’ hanya bisa menunjuk pada
surga) - ‘Systematic Theology’, hal 679.
2Kor 12:2-4 - “(2) Aku tahu tentang seorang Kristen; empat
belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar
tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke
tingkat yang ketiga dari sorga. (3) Aku juga tahu tentang orang itu, -
entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang
mengetahuinya - (4) ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar
kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia”.
3. Doa Stefanus
pada saat mau mati menunjukkan bahwa ia mempunyai kepercayaan bahwa pada saat
mati, ia langsung masuk surga.
Kis 7:59 - “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa,
katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’”.
4. Beberapa ayat
dalam kitab Wahyu menunjukkan adanya orang-orang yang sudah masuk surga padahal
itu terjadi sebelum kebangkitan orang mati (Dabney, hal 828,829).
Wah 4:4 - “Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh
empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang
memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka”.
Wah 5:8 - “(8) Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu,
tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan
Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas,
penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus”.
Wah 6:9,11 - “(9) Dan ketika Anak Domba itu membuka
meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang
telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka
miliki. ... (11) Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah
putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat
sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan
saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka”.
5. Langsung masuk
surga pada waktu mati ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang percaya jaman
Perjanjian Baru, tetapi juga untuk orang-orang percaya jaman Perjanjian Lama.
Louis Berkhof: “In connection with this clear
representation of the New Testament, it has been suggested that the New Testament
believers were privileged above those of the Old Testament by receiving
immediate access to the bliss of heaven. But the question may well be asked,
What basis is there for assuming such a distinction?” (= Sehubungan dengan penggambaran yang
jelas dari Perjanjian Baru ini, telah diusulkan bahwa orang-orang percaya
Perjanjian Baru diberi hak lebih dari orang-orang percaya Perjanjian Lama
dengan langsung masuk ke dalam kebahagiaan surga. Tetapi bisa dipertanyakan:
Apa dasarnya untuk menganggap adanya perbedaan seperti itu?) - ‘Systematic Theology’, hal 683.
Dari kutipan ini jelas bahwa Berkhof mempercayai bahwa bukan hanya orang
percaya jaman Perjanjian Baru yang langsung masuk ke surga pada saat mati,
tetapi juga orang percaya jaman Perjanjian Lama.
Dasar Kitab Suci untuk pandangan ini:
a. Elia dan
Henokh dikatakan naik ke surga / diangkat (2Raja 2:1,11 Kej 5:24
Ibr 11:5). Abraham dikatakan ada di surga (Luk 16:22). Tidak
ada alasan untuk membedakan orang-orang ini dengan orang-orang percaya
Perjanjian Lama yang lain. Disamping itu, Lazarus juga langsung masuk surga
(Luk 16:22), dan perlu dicamkan bahwa sebetulnya secara teologis cerita
ini masih termasuk dalam Perjanjian Lama, karena Yesus belum mati dan bangkit.
b. Bil 23:10
- “Siapakah yang menghitung
debu Yakub dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan Israel? Sekiranya
aku mati seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal
mereka!”.
Bahwa Bileam bisa menginginkan kematian orang jujur, itu menunjukkan
bahwa orang jujur itu pasti langsung masuk surga pada saat mati.
c. Maz 17:15
- “Tetapi aku, dalam
kebenaran akan kupandang wajahMu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi
puas dengan rupaMu”.
Banyak penafsir menafsirkan bahwa kata ‘bangun’ di sini menunjuk
pada kematian, dimana orangnya akan ‘bangun di surga’ dan ia merasa puas dengan rupa /
wajah Tuhan.
d. Maz 49:14-16
- “(14) Inilah jalannya
orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri, ajal orang-orang yang gemar
akan perkataannya sendiri. Sela (15) Seperti domba mereka meluncur ke dalam
dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur,
perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka. (16) Tetapi
Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan
menarik aku. Sela”.
KJV: ‘But God will redeem my soul from the power of the grave: for he
shall receive me. Selah.’ (= Tetapi Allah akan menebus jiwaku dari
kuasa kubur: karena Ia akan menerima aku. Sela).
e. Maz 73:24,26
- “(24) Dengan nasihatMu
Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.
... (26) Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap (= pada saat aku mati), gunung batuku dan
bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”.
f. Amsal 14:32 - “Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya,
tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya”.
KJV: ‘The wicked is driven away in his wickedness: but the
righteous hath hope in his death’ (= Orang jahat diusir dalam
kejahatannya: tetapi orang benar mempunyai pengharapan dalam kematiannya).
g. Amsal 15:24
- “Jalan kehidupan orang
berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang mati di bawah”.
6. Cerita tentang
Lazarus dan orang kaya (Luk 16:19-31), bukan hanya menunjukkan bahwa orang
percaya langsung masuk surga pada saat mati, tetapi juga menunjukkan bahwa
orang tidak percaya juga akan langsung masuk neraka pada saat mati.
Bacalah cerita ini dan saudara akan melihat bahwa sekalipun orang kaya
itu masih mempunyai 5 saudara yang masih hidup, yang menandakan bahwa Yesus
belum datang untuk keduakalinya, tetapi ia sendiri sudah masuk ke alam maut
/ Hades (ay 23), yang digambarkan sebagai tempat penderitaan dengan nyala
api (ay 23-25), sehingga jelas menunjuk pada neraka. Sedangkan Lazarus ada
‘di pangkuan’ (seharusnya ‘di dada’) Abraham, yang jelas menunjuk pada surga.
William G. T. Shedd (vol II, hal 599) membuktikan bahwa ‘dada
Abraham’ menunjuk pada surga dengan cara yang
menarik. Ia menunjuk pada Mat 8:11 - “Aku berkata kepadamu:
Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama
dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga”.
Terjemahan hurufiah seharusnya adalah seperti dalam NASB.
NASB: ‘many shall come
from east and west, and recline at the table with Abraham, and Isaac,
and Jacob, in the kingdom of heaven’ (= banyak orang akan datang dari timur
dan barat, dan bersandar / berbaring di meja dengan Abraham, dan Ishak,
dan Yakub, di dalam Kerajaan sorga).
Memang ini cara orang-orang Yahudi makan, khususnya kalau mereka makan
dalam Perjamuan Paskah. Mereka duduk miring ke kiri sehingga kepala bisa
bersandar pada dada dari orang di sebelah kirinya. Karena itu, pada perjamuan
terakhir yang dilakukan Yesus dan murid-muridNya, Yohanes yang berada di kanan
Yesus bisa bertanya kepada Yesus (bdk. Yoh 13:23-25).
Semua ini menunjukkan bahwa keberadaan di dada Abraham menunjuk pada
keberadaan di surga.
A. H. Strong: “Here many unanswerable questions may
be asked: Had the rich man a body before the resurrection, or is this
representation of a body only figuration? Did the soul still feel the body from
which it was temporarily separated, or have souls in the intermediate state
temporary bodies? However we may answer these questions, it is certain that the
rich man suffers, while probation still lasts for his brethren on earth” (= Di sini bisa
ditanyakan banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab: apakah orang kaya itu
mempunyai suatu tubuh sebelum kebangkitan orang mati, atau apakah gambaran
tentang suatu tubuh ini hanya merupakan suatu kiasan? Apakah jiwa tetap
merasakan tubuhnya dari mana jiwa itu dipisahkan sementara, atau apakah jiwa
dalam intermediate
state mempunyai tubuh sementara? Bagaimanapun kita menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini, adalah jelas bahwa orang kaya itu menderita,
sementara masa percobaan masih berlangsung bagi saudara-saudaranya di bumi /
dunia) - ‘Systematic
Theology’, hal 999-1000.
Catatan: Strong menyoroti kata-kata ‘lidah’ dan ‘ujung jari’ dalam Luk 16:24, yang seolah-olah menunjukkan bahwa baik Lazarus
maupun orang kaya itu mempunyai tubuh. Juga istilah ‘dada Abraham’ dalam Luk 16:22,23 seolah-olah menunjukkan bahwa Abraham mempunyai
tubuh.
Luk 16:22-24 - “(22) Kemudian matilah orang miskin itu,
lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan (dada) Abraham. (23) Orang kaya
itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut
ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuan
(dada)nya.
(24) Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus,
supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku,
sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini”.
Kata-kata Strong selanjutnya di bawah ini merupakan jawab atas
pertanyaan-pertanyaan yang ia berikan di atas.
A. H. Strong: “In the parable of the rich man and
Lazarus, the body is buried, yet still the torments of the souls are described
as physical. Jesus here accommodates his teaching to the conceptions of his
time, or, better still, uses material figures to express spiritual realities” (= Dalam
perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus, tubuh dikuburkan, tetapi tetap
siksaan terhadap jiwa digambarkan sebagai bersifat fisik. Di sini Yesus
menyesuaikan ajaranNya dengan konsep-konsep dari jamanNya, atau lebih tepat,
menggunakan kiasan yang bersifat materi untuk menyatakan kenyataan / fakta
rohani) - ‘Systematic
Theology’, hal 1000.
Catatan: ada pro dan kontra apakah cerita tentang
Lazarus dan orang kaya itu merupakan suatu perumpamaan, atau cerita
sungguh-sungguh. Saya menganggap itu bukan perumpamaan, tetapi cerita yang
sungguh-sungguh.
7. Yudas 1:7
- “sama seperti Sodom dan
Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan
percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung
siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”.
Perhatikan bahwa di sini digunakan kata-kata ‘telah menanggung’ bukan ‘akan
menanggung’. Dalam bahasa Yunani digunakan kata
HUPECHOUSAI, yang merupakan suatu ‘present participle’, sehingga bisa
diartikan ‘sedang
mengalami / menanggung’.
Jadi, pada saat Yudas menulis surat ini (abad pertama Masehi),
orang-orang Sodom dan Gomora itu sedang menanggung / mengalami siksaan
api kekal, dan istilah ‘api kekal’ ini jelas bukan menunjuk pada hujan api dan belerang yang menghancurkan
Sodom, tetapi menunjuk pada neraka. Dengan demikian jelaslah bahwa orang jahat
bukannya baru akan dimasukkan ke neraka pada saat Yesus datang untuk
keduakalinya, tetapi langsung pada saat mereka mati.
8. Dalam
Wah 20:10 dikatakan: “dan
Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang,
yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai
selama-lamanya”.
Bdk. Wah 19:20 - “Maka tertangkaplah binatang itu dan
bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di
depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima
tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya
dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang”.
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari ayat-ayat ini:
a. Pada waktu
Iblis dimasukkan ke neraka dalam Wah 20:10, ternyata neraka itu tidak kosong,
tetapi binatang dan nabi palsu itu sudah ada di sana, karena mereka sudah
dilemparkan ke sana dalam Wah 19:20. Saya tidak ingin mempersoalkan kata ‘binatang’ itu
menunjuk kepada siapa, tetapi saya hanya ingin menekankan bahwa sudah ada
manusia di neraka sebelum Iblis dibuang ke sana pada akhir jaman.
b. Iblis baru
akan masuk ke neraka pada akhir jaman / kedatangan Yesus yang keduakalinya!
Sekarang ini Iblis / setan tidak ada di neraka ataupun di Hades tetapi ada di
dunia untuk menggoda manusia (bdk. Mat 8:29b - ‘Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami
sebelum waktunya?’).
Karena itu jangan percaya orang-orang yang mengatakan
mengalami mujijat dibawa ke neraka, dan melihat setan ada di sana, menyiksa
orang-orang yang masuk ke neraka. Kitab Suci jelas menyatakan bahwa pada saat
ini setan belum masuk neraka, dan kalau nanti pada akhir jaman ia masuk ke
neraka, maka ia akan disiksa, bukan menyiksa!
Ada ayat yang seolah-olah menunjukkan bahwa setan sekarang sudah di
neraka, yaitu 2Pet 2:4
- “Sebab
jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi
melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam
gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman”.
Untuk menafsirkan ayat ini
ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
·
Kata ‘neraka’ di sini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani
TARTARUS yang hanya dipergunakan 1 x ini saja dalam Kitab Suci. Karena itu
sukar diketahui artinya secara pasti.
·
Bagian ini tidak boleh ditafsirkan seakan-akan setan sudah masuk
neraka, karena ini akan bertentangan dengan Mat 8:29 Mat 25:41 Wah 20:10 yang menunjukkan secara jelas
bahwa saat ini setan belum waktunya masuk neraka. Itu baru akan terjadi pada
kedatangan Yesus yang kedua-kalinya.
·
Disamping itu, kalau ditafsirkan bahwa setan sudah masuk ke neraka,
maka itu akan bertentangan dengan 2Pet 2:4 itu sendiri, yang pada bagian
akhirnya berbunyi: ‘dan
dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan
mereka sampai hari penghakiman’.
Jadi, mungkin bagian ini
hanya menunjukkan kepastian bahwa setan akan masuk neraka.
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 24 Agustus
2007, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
d) Setelah
seseorang masuk ke surga / neraka, maka tidak bisa ada perubahan tempat.
Yang saya maksudkan dengan tidak bisa ada perubahan tempat, adalah bahwa
orang yang masuk ke surga tidak bisa tahu-tahu pindah ke neraka, dan orang yang
masuk ke neraka tidak bisa pindah ke surga.
Apa dasar dari pandangan ini?
1. Luk 16:26
- “Selain dari pada itu di
antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka
yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ
kepada kami tidak dapat menyeberang”.
William Hendriksen: “it will become clear that the one great
truth here emphasized is that once a person has died, his soul having been
separated from his body, his condition, whether blessed or doomed, is fixed
forever. There is no such thing as a ‘second chance’” (= akan menjadi jelas bahwa satu kebenaran
besar / agung yang ditekankan di sini adalah bahwa sekali seseorang telah mati,
setelah jiwanya terpisah dari tubuhnya, kondisinya, apakah diberkati atau
dikutuk, tetap selama-lamanya. Tidak ada hal yang disebut ‘kesempatan kedua’) - hal 785.
Louis Berkhof: “Scripture represents the state of the
unbelievers after death as a fixed state. The most important passage that comes
into consideration here is Luke 16:19-31” (= Kitab Suci menggambarkan keadaan
orang-orang yang tidak percaya setelah kematian sebagai suatu keadaan yang
tetap. Text yang paling penting untuk dipertimbangkan dalam persoalan ini
adalah Luk 16:19-31) - ‘Systematic Theology’, hal
693.
2. Yudas 13 - “Mereka
bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka
bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia
kekelaman untuk selama-lamanya”.
3. 2Tes 1:9
- “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari
kemuliaan kekuatanNya”.
4. Kitab Suci
mengatakan bahwa orang yang percaya mendapatkan ‘hidup yang kekal’, sedangkan orang yang tidak percaya mendapatkan ‘hukuman yang kekal’. Kalau bisa pindah, tentu tidak akan disebutkan sebagai ‘kekal’.
Bahwa hukuman di neraka
bersifat kekal / tidak ada akhirnya digambarkan oleh:
·
‘api
yang tidak terpadamkan’ (Mat 3:12b
Mark 9:43b,48).
·
‘api
yang kekal’ (Mat 25:41 Yudas 7).
·
‘siksaan
yang kekal’ (Mat 25:46).
·
‘ulat-ulatnya
tidak akan mati’ (Mark 9:44,46,48).
·
‘siang
malam tidak henti-hentinya’ (Wah 14:11).
·
‘siang
malam sampai selama-lamanya’ (Wah 20:10).
William G.T. Shedd: “Had
Christ intended to teach that future punishment is remedial and temporary, he
would have compared it to a dying worm, and not to an undying worm; to a fire
that is quenched, and not to an unquenchable fire”
(= Andaikata Kristus bermaksud untuk mengajar bahwa hukuman yang akan datang
itu bersifat memperbaiki dan bersifat sementara, Ia akan membandingkannya
dengan ulat yang bisa mati, dan bukannya dengan ulat yang tidak bisa mati;
dengan api yang bisa padam, dan bukannya dengan api yang tidak dapat
dipadamkan)
- ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 681.
Saya ingin memberikan beberapa kutipan kata-kata Spurgeon dari khotbahnya
tentang Luk 16:26 yang diberi judul ‘The Bridgeless Gulf’ (= Jurang
pemisah yang tidak mempunyai jembatan).
Charles Haddon Spurgeon: “Human ingenuity has done very much to
bridge great gulfs. Scarcely has the world afforded a river so wide that its
floods could not be overleaped; or a torrent so furious that it could not be
made to pass under the yoke. High above the foam of Columbia’s glorious
cataract, man has hung aloft his slender but substantial road of iron, and the
shriek of the locomotive is heard above the roar of Niagara. This very week I
saw the first chains which span the deep rift through which the Bristol Avon
finds its way at Clifton; man has thrown his suspension bridge across the
chasm, and men will soon travel where only that which hath wings could a little
while ago have found a way. There is, however, one gulf which no human skill or
engineering ever shall be able to bridge; there is one chasm which no wing
shall ever be able to cross; it is the gulf which divide the world of joy in
which the righteous triumph, from that land of sorrow in which the wicked feel
the smart of Jehovah’s sword. ... there is a great gulf fixed, so that there
can be no passage from the one world to the other” (= Kepandaian manusia telah menjembatani
banyak jurang besar. Hampir tidak ada sungai yang begitu lebar yang tidak bisa
diseberangi; atau aliran air yang deras yang tidak bisa dilalui. Di atas air
terjun Kolumbia, manusia telah menggantung jalan dari besi, dan bunyi lokomotif
terdengar di atas gemuruh Niagara. Minggu yang baru lalu ini saya melihat
rantai pertama membentang antara Bristol Avon dan Clifton; manusia telah
membuat jembatan menyeberangi jurang itu, sehingga manusia segera bisa
menyeberangi jurang yang dulunya hanya bisa diseberangi oleh burung yang
bersayap. Tetapi ada satu jurang yang tidak pernah bisa diseberangi oleh kepandaian
dan teknologi manusia; ada satu jurang yang tidak pernah bisa diseberangi oleh
sayap manapun; itu adalah jurang yang memisahkan dunia sukacita dalam mana
orang-orang benar menang; dari tanah kesedihan dalam mana orang-orang jahat
merasakan tajamnya pedang Yehovah. ... disana terbentang suatu jurang yang
besar sehingga tidak bisa ada jalan dari satu dunia ke dunia yang lain) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol
III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 414.
Charles Haddon Spurgeon: “The lost spirits in hell are shut in for
ever” (= Roh-roh
yang terhilang dalam neraka dikurung untuk selama-lamanya) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol
III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 418.
Charles Haddon Spurgeon: “You do not like the house of God; you shall
be shut out of it. You do not love the Sabbath; you are shut out from the
eternal Sabbath” (=
Engkau tidak menyukai rumah Allah; engkau akan dihalangi untuk memasukinya.
Engkau tidak mencintai Sabat; engkau dihalangi untuk memasuki Sabat yang kekal) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol
III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 419-420.
Catatan:
kata-kata ini berhubungan dengan Ibr 4:1-11.
Charles Haddon Spurgeon: “As nothing can come from hell to heaven, so
nothing heavenly can ever come to hell. ... Nay, Lazarus is not permitted to
dip the tip of his finger in water to administer the cooling drop to the
fire-tormented tongue. Not a drop of heavenly water can ever cross that chasm.
See then, sinner, heaven is rest, perfect rest - but there is no rest in hell;
it is labour in the fire, but no ease, no peace, no sleep, no calm, no quiet;
everlasting storm; eternal hurricane; unceasing tempest. In the worst disease,
there are some respites: spasms of agony, but then pauses of repose. There is
no pause in hell’s torments” (= Sebagaimana tidak ada apapun yang bisa datang dari neraka ke surga,
demikian juga tidak ada apapun yang bisa datang dari surga ke neraka. ...
Tidak, Lazarus tidak diijinkan untuk mencelupkan ujung jarinya dalam air untuk
memberikan tetesan penyejuk kepada lidah yang disiksa oleh api. Tidak setetes
air surgawipun bisa menyeberangi jurang itu. Maka, lihatlah orang berdosa,
surga adalah istirahat, istirahat yang sempurna - tetapi tidak ada istirahat di
neraka; itu merupakan pekerjaan berat dalam api, tetapi tidak ada kesenangan,
tidak ada damai, tidak ada tidur, tidak ada ketenangan; yang ada adalah angin
topan selama-lamanya, badai yang kekal, angin ribut yang tidak henti-hentinya.
Dalam penyakit yang terburuk, ada istirahat, kekejangan dari penderitaan,
tetapi lalu istirahat yang tenang. Tetapi tidak ada istirahat dalam siksaan
neraka) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life
and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 421.
Charles Haddon Spurgeon: “Heaven is the place of sweet communion with
God ... There is no communion with God in hell. There are prayers, but they are
unheard; there are tears, but they are unaccepted; there are cries for pity,
but they are all an abomination unto the Lord” (= Surga adalah tempat persekutuan yang
manis dengan Allah ... Tidak ada persekutuan dengan Allah dalam neraka. Di sana
ada doa-doa, tetapi mereka tidak dijawab; ada air mata, tetapi tidak diterima;
ada jeritan untuk belas kasihan, tetapi semuanya merupakan sesuatu yang
menjijikkan bagi Tuhan) - ‘A Treasury of Spurgeon on the
Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The Parables of Our Lord’, hal
421.
Charles Haddon Spurgeon: “heaven’s blessings cannot cross from the
celestial regions to the infernal prison-house. No, it is sorrow without
relief, misery without hope, and here is the pang of it - it is death without
end” (=
berkat-berkat surgawi tidak bisa menyeberang dari daerah surgawi ke rumah
penjara neraka. Tidak, itu adalah kesedihan tanpa keringanan, kesengsaraan
tanpa pengharapan, dan inilah kepedihannya - itu adalah kematian tanpa akhir) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol
III, ‘The Parables of Our Lord’, hal 422.
Charles Haddon Spurgeon: “There is only one thing that I know of in
which heaven is like hell - it is eternal. ‘The wrath to come, the wrath to
come, the wrath to come,’ for ever and for ever spending itself, and yet never
being spent” (=
Hanya ada satu hal yang saya ketahui dimana surga itu seperti neraka, yaitu
bahwa itu bersifat kekal. ‘Murka yang akan datang, murka yang akan datang,
murka yang akan datang’ untuk selama-lamanya dan selama-lamanya menghabiskan
dirinya sendiri, tetapi tidak pernah habis) - ‘A
Treasury of Spurgeon on the Life and Work of Our Lord’, Vol III, ‘The
Parables of Our Lord’, hal 422.
Kalau ada
saudara yang belum sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, renungkanlah
kata-kata Spurgeon yang mengerikan ini, dan cepatlah datang kepada Kristus
sebelum terlambat!
e) Keberatan terhadap pandangan ini dan jawabannya.
Ada beberapa keberatan
tentang pandangan Reformed bahwa orang akan langsung masuk surga / neraka pada
saat mati.
1. Ada satu ayat yang kelihatannya menunjukkan
bahwa orang jahat tidak langsung masuk ke neraka pada saat mati, yaitu
2Pet 2:9 - “maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari
pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari
penghakiman”.
Ayat ini kelihatannya menunjukkan bahwa orang-orang jahat itu tidak
langsung dihukum, tetapi disimpan dulu, dan baru dihukum / disiksa setelah hari
penghakiman.
Jawaban saya:
Perhatikan komentar Calvin tentang 2Pet 2:9 ini.
Calvin: “By
this clause he shews that God so regulates his judgments as to bear with the
wicked for a time, but not to leave them unpunished. Thus he corrects too much
haste, by which we are wont to be carried headlong, especially when the
atrocity of wickedness grievously wounds us, for we then wish God to fulminate
without delay; when he does not do so, he seems no longer to be the judge of
the world. Lest, then, this temporary impunity of wickedness should disturb us,
Peter reminds us that a day of judgment has been appointed by the Lord; and
that, therefore, the wicked shall by no means escape punishment, though it be
not immediately inflicted. There is an emphasis in the word ‘reserve,’ as
though he had said, that they shall not escape the hand of God, but be held
bound as it were by hidden chains, that they may at a certain time be drawn
forth to judgment. ... he bids us to rely on the expectation of the last
judgment, so that in hope and patience we may fight till the end of life”
[= Dengan kalimat ini (yang saya garis bawahi) ia
menunjukkan bahwa Allah begitu mengatur penghakimanNya sehingga bersabar
terhadap orang jahat untuk sementara waktu, tetapi tidak akan membiarkan mereka
tidak dihukum. Demikianlah ia membetulkan ketergesa-gesaan, dengan mana kita
biasa terbawa, khususnya pada waktu kekejaman / kekejian dari kejahatan melukai
/ menyakiti kita secara menyedihkan, karena pada saat itu kita berharap Allah
mengguntur tanpa penundaan; dan pada waktu Ia tidak berbuat demikian, Ia
kelihatannya bukan lagi Hakim dunia ini. Supaya kebebasan sementara dari
hukuman kejahatan ini tidak mengganggu kita, Petrus mengingatkan kita bahwa
suatu hari penghakiman telah ditetapkan oleh Tuhan; dan karena itu orang jahat
tidak bakal akan lolos dari penghukuman., sekalipun penghukuman itu tidak
langsung diberikan. Ada penekanan pada kata ‘menyimpan’, seolah-olah ia berkata
bahwa mereka tidak akan lolos dari tangan Allah, tetapi seakan-akan diikat
dengan rantai yang tersembunyi, sehingga pada saat tertentu mereka bisa ditarik
kepada penghakiman. ... ia meminta kita untuk bersandar pada pengharapan
tentang penghakiman akhir sehingga dalam pengharapan dan kesabaran kita bisa
bertempur sampai mati] - hal 400.
Dari kata-kata Calvin ini kelihatannya ia memaksudkan bahwa Tuhan
menyimpan orang-orang jahat itu bukan pada saat mereka mati atau setelah mereka
mati, tetapi pada saat mereka hidup. Perhatikan bahwa:
a. Ayat itu tidak
mengatakan bahwa orang-orang jahat itu sudah mati.
b. Ay 9a
membicarakan tentang orang-orang saleh itu dalam keadaan hidup (karena
mereka dicobai), dan karena itu jelas bahwa ay 9b juga membicarakan orang-orang
jahat itu dalam keadaan hidup.
Kesimpulan: 2Pet 2:9 tidak menentang
pandangan bahwa orang jahat yang mati akan langsung masuk neraka.
2. Kalau orang
langsung masuk ke surga / neraka pada saat mati, apa gunanya penghakiman akhir
jaman?
Jawaban saya:
Pada saat seseorang mati, terjadi penghakiman pribadi terhadap dirinya,
sedangkan pada akhir jaman / kedatangan Kristus yang kedua-kalinya tetap ada
penghakiman yang bersifat umum di hadapan semua malaikat dan manusia.
Louis Berkhof: “It is sometimes represented as if man’s
eternal destiny depends upon a trial at the last day, but this is evidently a
mistake. The day of judgment is not necessary to reach a decision respecting
the reward or punishment of each man, but only for the solemn announcement of
the sentence, and for the revelation of the justice of God in the presence of
men and angels” (=
Kadang-kadang digambarkan seakan-akan nasib kekal manusia tergantung pada
penghakiman pada hari terakhir, tetapi ini jelas merupakan suatu kesalahan.
Hari penghakiman tidak dibutuhkan untuk mencapai suatu keputusan mengenai
pahala atau hukuman setiap orang, tetapi hanya untuk pengumuman keputusan yang
khidmat, dan untuk menyatakan keadilan Allah di hadapan manusia dan malaikat) - ‘Systematic Theology’, hal 689.
Louis Berkhof: “Some regard the final judgment as entirely
unnecessary, because each man’s destiny is determined at the time of his death.
... the underlying assumption on which this argument proceeds, namely, that the
final judgment is for the purpose of ascertaining what should be the future
state of man, is entirely erroneous. It will serve the purpose rather of
displaying before all rational creatures the declarative glory of God in a
formal, forensic act, which magnifies on the one hand His holiness and
righteousness, and on the other hand, His grace and mercy. Moreover, it should
be borne in mind that the judgment at the last day will differ from that at the
death of each individual in more than one respect. It will not be secret, but
public; it will not pertain to the soul only, but also to the body; it will not
have reference to a single individual, but to all men” (= Sebagian orang menganggap bahwa
penghakiman akhir sama sekali tidak perlu, karena nasib setiap orang ditentukan
pada saat kematiannya. ... anggapan yang mendasari argumentasi ini, yaitu bahwa
penghakiman akhir itu tujuannya untuk memastikan keadaan yang akan datang dari
manusia, adalah sepenuhnya salah. Penghakiman akhir itu tujuannya adalah
menunjukkan di hadapan semua makhluk rasionil kemuliaan yang dinyatakan dari
Allah dalam suatu tindakan formil / resmi dan bersifat hukum / pengadilan, yang
di satu sisi memuliakan kekudusan dan kebenaranNya, dan di sini lain kasih
karunia dan belas kasihanNya. Selain itu, harus dicamkan bahwa penghakiman pada
hari terakhir berbeda dengan penghakiman pada kematian dari setiap individu
dalam lebih dari satu hal. Itu tidak akan terjadi secara rahasia, tetapi
bersifat umum; itu tidak berkenaan dengan jiwa saja, tetapi juga dengan tubuh;
itu tidak berhubungan dengan satu individu saja, tetapi dengan semua manusia) - ‘Systematic Theology’, hal 731.
R. L. Dabney: “It might seem that the purposes of God’s
righteousness and government might, at first view, be sufficiently satisfied by
a final distribution of rewards and punishment, to men, as they successively
passed out of this life. But His declarative glory requires not only this, but
a more formal, forensic act, by which His righteous, holy, and merciful dealing
shall be collectively displayed before the Universe” (= Pada pandangan pertama, bisa terlihat
bahwa tujuan / rencana dari kebenaran dan pemerintahan Allah dipuaskan secara
cukup oleh pembagian akhir dari pahala dan hukuman kepada manusia, pada saat
mereka secara berturut-turut meninggalkan kehidupan ini. Tetapi kemuliaanNya
yang bersifat menyatakan / menerangkan tidak hanya membutuhkan hal ini, tetapi
suatu tindakan penghakiman / pengadilan yang lebih formil, dengan mana
penangananNya yang benar, kudus, dan penuh belas kasihan akan ditunjukkan secara
bersama-sama di hadapan alam semesta) - ‘Lectures in
Systematic Theology’, hal 842.
Herman Hoeksema: “there is an individual, preliminary judgment immediately after death,
that will be executed in the damnation of the wicked and in the intermediate
glory of the saints with Christ. ... there will be a final judgment of all men
and angels in the end of time” (= di sana ada penghakiman
individu dan bersifat pendahuluan segera setelah kematian, yang akan
dilaksanakan dalam penghukuman orang jahat dan dalam ‘kemuliaan antara’ dari
orang-orang kudus bersama dengan Kristus. ... akan ada penghakiman akhir dari
semua manusia dan malaikat pada akhir jaman) - ‘Reformed
Dogmatics’, hal 855.
Catatan: kelihatannya istilah ‘the intermediate glory’ (= kemuliaan antara) ia gunakan dalam arti bahwa kemuliaan ini merupakan
kemuliaan yang diterima orang-orang percaya di surga sebelum penghakiman akhir
jaman.
William G. T. Shedd: “According to Scripture, there is a private judgment at death, and a
public judgment at the last day” (= Menurut Kitab Suci,
akan ada suatu penghakiman pribadi pada saat kematian, dan suatu penghakiman
umum pada hari terakhir) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 660.
Kelihatannya dasar Kitab Suci yang digunakan hanyalah bahwa orang-orang
sudah masuk surga / neraka pada saat mereka mati, dan ini tidak mungkin kalau
tidak ada penghakiman yang bersifat individuil. Tetapi Shedd memberikan
beberapa ayat sebagai dasar, yaitu:
·
Pkh 12:7 - “dan
debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang
mengaruniakannya”.
Ayat ini mengatakan bahwa pada saat mati, roh akan kembali kepada Allah.
Untuk apa? Jelas untuk menerima penghakiman (pribadi).
·
Ibr 9:27 - “Dan
sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah
itu dihakimi”.
Ayat ini tidak menunjukkan adanya hal-hal lain yang terjadi di antara
kematian dan penghakiman. Jadi, ini membicarakan penghakiman pribadi yang
terjadi segera setelah kematian seseorang.
Dan Shedd menambahkan (hal 660) bahwa penghakiman pribadi itu hasilnya
akan sama dengan penghakiman pada akhir jaman.
William G. T. Shedd: “The private judgment at death and the public judgment at the last day
coincide, because in the intermediate state there is no alteration of moral
character, and consequently no alteration of the sentence passed at death” (=
Penghakiman pribadi pada saat kematian dan penghakiman umum pada hari terakhir
akan sama, karena dalam intermediate state tidak ada perubahan karakter moral,
dan karena itu tidak ada perubahan dalam hal hukuman yang diberikan pada saat
kematian) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 660.
Saya setuju dengan Shedd, tetapi berkenaan dengan alasannya saya ingin
menambahkan sesuatu. Jelas bahwa hukuman yang diberikan dalam pengadilan
pribadi pada saat kematian itu akan sama dengan hukuman yang diberikan pada
akhir jaman dalam pengadilan umum, karena seperti yang telah kita pelajari di
depan, apa yang dilakukan seseorang dalam intermediate state tidak
diperhitungkan dalam pengadilan akhir jaman. Kita diadili hanya berdasarkan apa
yang kita lakukan selama kita hidup di dunia ini (2Kor 5:10).
John Murray: “Scripture offers no evidence that there will be a reversal of moral and
spiritual conditions during the intermediate state. Men are to be judged at the
last according to the things done in the body” (=
Kitab Suci tidak memberikan bukti bahwa akan ada perubahan kondisi moral dan
rohani dalam intermediate
state. Manusia dihakimi pada akhirnya menurut
hal-hal yang dilakukan di dalam tubuh) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol 2, hal 402.
3. Kalau
orang-orang sudah masuk surga / neraka langsung setelah mati, mengapa pada
penghakiman akhir jaman ada orang-orang yang terkejut / merasakan suatu surprise terhadap penghakiman tersebut?
Mat 7:21-23 - “(21) Bukan setiap orang yang berseru
kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang
melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang
akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan
mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga?
(23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku
tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat
kejahatan!’”.
Mat 25:37,39,44 - “(37) Maka orang-orang benar itu akan
menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami
memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? ... (39)
Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi
Engkau? ... (44) Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah
kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang
atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?”.
Jawaban saya:
Louis Berkhof: “The surprise of which some of the passages
give evidence pertains to the ground on which the judgment rests rather than to
the judgment itself” (=
Surprise / kejutan yang ditunjukkan oleh beberapa text berkenaan dengan dasar
pada mana penghakiman itu diberikan dan bukan dengan penghakiman itu sendiri) - ‘Systematic Theology’, hal 689.
Jadi, mungkin pada penghakiman pribadi pada saat kematian itu hanya
diberikan hukuman dan pahala, tetapi tidak diberikan dasarnya. Lalu pada
penghakiman umum pada akhir jaman, baru diberikan dasar pemberian pahala dan
hukuman itu. Ini memungkinkan, karena kalau kita melihat pada kitab Wahyu,
dibukanya kitab terjadi pada penghakiman akhir jaman.
Wah 20:12 - “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan
kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga
sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi
menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam
kitab-kitab itu”.
‘Kitab-kitab’ itu kelihatannya merupakan simbol dari pengetahuan Allah tentang
kehidupan manusia, baik tentang perbuatan baik maupun dosa dari manusia.
4. Penghakiman
kelihatannya diberikan pada akhir jaman.
Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
·
Yoh 5:28-29 - “(28)
Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang
yang di dalam kuburan akan mendengar suaraNya, (29) dan mereka yang telah
berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang
telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”.
·
2Kor 5:10 - “Sebab
kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang
memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam
hidupnya ini, baik ataupun jahat”.
·
Wah 20:12 - “Dan
aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu.
Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab
kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan
apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu”.
Jawaban saya:
Ini memang membicarakan pengadilan pada akhir jaman, yang tetap kita akui
keberadaannya, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak ada pengadilan pribadi pada
saat kematian. Jadi, pandangan Reformed yang mempercayai bahwa seseorang akan
langsung masuk surga / neraka pada saat kematian tidak menolak adanya
penghakiman pada akhir jaman.
-o0o-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 7 September
2007, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
1) Perbedaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam menggambarkan
kedatangan Kristus yang kedua-kalinya.
a) Dalam Perjanjian Lama nabi-nabi tidak
membedakan secara jelas kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan Kristus
yang kedua-kalinya, dan bahkan mencampur-adukkannya.
Misalnya:
1. Yoel 2:28-32 - “(28) ‘Kemudian dari pada itu akan
terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia, maka
anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan
mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. (29)
Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan RohKu pada
hari-hari itu. (30) Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi:
darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. (31) Matahari akan berubah menjadi
gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat
dan dahsyat itu. (32) Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan
diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan,
seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN
akan termasuk orang-orang yang terlepas.”.
2. Mal 3:17-4:6 - “(3:17) Mereka akan menjadi milik
kesayanganKu sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku
akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani
dia. (3:18) Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan
orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak
beribadah kepadaNya. (4:1) Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti
perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi
seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN
semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka. (4:2) Tetapi
kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan
kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti
anak lembu lepas kandang. (4:3) Kamu akan menginjak-injak orang-orang fasik,
sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan
itu, firman TUHAN semesta alam. (4:4) Ingatlah kepada Taurat yang telah
Kuperintahkan kepada Musa, hambaKu, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada
seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum. (4:5) Sesungguhnya
Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar
dan dahsyat itu. (4:6) Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada
anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang
memukul bumi sehingga musnah”.
Anthony A. Hoekema: “the
Old Testament prophets intermingled items relating to the first coming of
Christ with items relating to Christ’s second coming. Not until New Testament
times would it be revealed that what was thought of in Old Testament days as
one coming of the Messiah would be fulfilled in two stages; a first and a
second coming. What was therefore not clear to the Old Testament prophets was
made clear in the New Testament era” (= nabi-nabi Perjanjian Lama mencampur-adukkan hal-hal yang
berhubungan dengan kedatangan Kristus yang pertama dengan hal-hal yang
berhubungan dengan kedatangan Kristus yang kedua-kalinya. Sampai jaman
Perjanjian Baru barulah dinyatakan bahwa apa yang dipikirkan dalam jaman
Perjanjian Lama sebagai satu kedatangan dari Mesias akan digenapi dalam dua
tahap; kedatangan pertama dan kedatangan kedua. Karena itu, apa yang tidak
jelas bagi nabi-nabi Perjanjian Lama dibuat menjadi jelas dalam jaman
Perjanjian Baru) - ‘The Bible and The Future’, hal 12.
b) Tetapi dalam Perjanjian Baru, Yesus dan
rasul-rasul berbicara secara jelas tentang kedatangan Kristus yang
kedua-kalinya.
Contoh:
1. Mat 24:29-31 - “(29) ‘Segera sesudah siksaan pada masa
itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang
akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. (30) Pada
waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi
akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas
awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya. (31) Dan Ia
akan menyuruh keluar malaikat-malaikatNya dengan meniup sangkakala yang dahsyat
bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihanNya dari keempat
penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain”.
2. Mat 25:31-32 - “(31) ‘Apabila Anak Manusia datang
dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan
bersemayam di atas takhta kemuliaanNya. (32) Lalu semua bangsa akan dikumpulkan
di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama
seperti gembala memisahkan domba dari kambing”.
3. Mat 26:64 - “Jawab Yesus: ‘Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku
berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di
sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.’”.
4. Kis 1:11 - “dan berkata kepada mereka: ‘Hai orang-orang Galilea,
mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke
sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama
seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.’”.
5. Fil 3:20 - “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ
juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat”.
6. 1Tes 4:15-16 - “(15) Ini kami katakan kepadamu dengan
firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan,
sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. (16) Sebab pada
waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala
Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang
mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit”.
7. 2Tes 1:7-10 - “(7) dan untuk memberikan kelegaan kepada
kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam
sorga menyatakan diriNya bersama-sama dengan malaikat-malaikatNya, dalam
kuasaNya, di dalam api yang bernyala-nyala, (8) dan mengadakan pembalasan
terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus,
Tuhan kita. (9) Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya,
dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya, (10) apabila Ia
datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudusNya dan untuk
dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa
kepadamu telah kamu percayai”.
8. Ibr 9:28 - “demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan
diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan
diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan
kepada mereka, yang menantikan Dia”.
2) Istilah-istilah yang digunakan untuk menunjuk pada kedatangan
Kristus yang kedua-kalinya.
a) APOKALUPSIS [= revelation / unveiling (= penyataan / penyingkapan)], yang menunjuk pada penyingkiran segala
sesuatu yang sekarang ini menghalangi kita untuk melihat Kristus.
Kata ini digunakan dalam:
1. 1Kor 1:7 - “Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun
sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”.
2. 2Tes 1:7 - “dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas,
dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan
diriNya bersama-sama dengan malaikat-malaikatNya, dalam kuasaNya, di dalam api
yang bernyala-nyala”.
3. 1Pet 1:7,13 - “(7) Maksud semuanya itu ialah untuk
membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas
yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh
puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan
diriNya. ... (13) Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah
pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada
waktu penyataan Yesus Kristus”.
4. 1Pet 4:13 - “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu
dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan
bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaanNya”.
b) EPIPHANEIA [= appearance / manifestation (= penampilan / manifestasi)], yang merupakan suatu istilah yang
menunjuk pada datangnya Kristus dari latar belakang yang tersembunyi.
Kata ini digunakan dalam:
1. 2Tes 2:8 - “pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan
dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan
memusnahkannya, kalau Ia datang kembali”.
NASB: ‘by the appearance
of His coming’ (= oleh pemunculan / penampilan
kedatanganNya).
2. 1Tim 6:14 - “Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak
bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diriNya”.
NIV/NASB: ‘the appearing’ (= pemunculan / penampilan).
3. 2Tim 4:1,8 - “(1) Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi
orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu
demi penyataanNya dan demi KerajaanNya: ... (8) Sekarang telah tersedia
bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang
adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua
orang yang merindukan kedatanganNya”.
NIV/NASB menterjemahkan ‘appearing’ (= pemunculan / penampilan), baik untuk ay 1 maupun untuk ay 8.
4. Tit 2:13 - “dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh
bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat
kita Yesus Kristus”.
NIV/NASB: ‘appearing’ (= pemunculan / penampilan).
c) PAROUSIA [= presence (= kehadiran)], yang
menunjuk pada kedatangan yang mendahului kehadiran, atau kedatangan yang
menyebabkan kehadiran.
Kata ini digunakan dalam:
1. Mat 24:3,27,37 - “(3) Ketika Yesus duduk di atas Bukit
Zaitun, datanglah murid-muridNya kepadaNya untuk bercakap-cakap sendirian
dengan Dia. Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi
dan apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia?’ ... (27) Sebab
sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan melontarkan cahayanya sampai
ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia. ... (37)
‘Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan
Anak Manusia”.
2. 1Kor 15:23 - “Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai
buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya”.
3. 1Tes 2:19 - “Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau
mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatanganNya,
kalau bukan kamu?”.
4. 1Tes 3:13 - “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan
kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan
kita, dengan semua orang kudusNya”.
5. 1Tes 4:15 - “Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang
hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak
akan mendahului mereka yang telah meninggal”.
6. 1Tes 5:23 - “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya
dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan
Yesus Kristus, Tuhan kita”.
7. 2Tes 2:1,8 - “(1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan
terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, ... (8) pada
waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus
akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia
datang kembali”.
NASB: ‘by the appearance of
His coming’ (= oleh pemunculan / penampilan kedatanganNya).
Catatan: dalam ayat ini, kata PAROUSIA dan
EPIPHANEIA muncul kedua-duanya.
8. Yak 5:7-8 - “(7) Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan
Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia
sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. (8) Kamu juga
harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan
sudah dekat!”.
9. 2Pet 1:16 - “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol
manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan
kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari
kebesaranNya”.
10. 2Pet 3:4,12 - “(4) Kata mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatanganNya
itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti
semula, pada waktu dunia diciptakan.’ ... (12) yaitu kamu yang menantikan dan
mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa
dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya”.
11. 1Yoh 2:28 - “Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus,
supaya apabila Ia menyatakan diriNya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak
usah malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya”.
3) Kedatangan Kristus yang kedua-kalinya merupakan satu peristiwa.
Louis Berkhof: “On the basis of Scripture it should be
maintained that the second coming of the Lord will be a single event” (= Berdasarkan Kitab Suci harus
dipertahankan bahwa kedatangan Tuhan yang kedua akan merupakan satu peristiwa) - ‘Systematic Theology’, hal 696.
Bdk. Ibr 9:28 - “demikian pula Kristus hanya satu kali
saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia
akan menyatakan diriNya sekali lagi
tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang
menantikan Dia”.
Kalangan Dispensationalisme mengatakan tentang
kedatangan Kristus yang kedua-kalinya yang terdiri dari 2 bagian, yang mereka
katakan sebagai 2 aspek dari satu kedatangan (Catatan: saya sebut saja sebagai kedatangan yang ke 2a dan ke 2b; ini
istilah saya sendiri).
a) Kedatangan Kristus yang ke 2a, mereka sebut
PAROUSIA [= presence (= kehadiran)], dan:
1. Bisa terjadi kapan saja, dan tidak didahului oleh tanda-tanda
apapun.
2. Kristus hanya datang di awan-awan dan tidak sampai ‘mendarat’ di
bumi.
3. Pada saat itu mereka yang telah mati dalam
Tuhan (sebagai orang percaya) akan dibangkitkan, sedangkan orang percaya yang
masih hidup akan diangkat (ini yang disebut sebagai rapture / pengangkatan). Dan kedua
kelompok ini akan bersama-sama bertemu dengan Tuhan Yesus di angkasa. Karena
itu kedatangan ini disebut kedatangan untuk para orang kudusNya.
4. Herman Hoeksema menambahkan (hal 774) bahwa
menurut pandangan Dispensationalisme, kedatangan ke 2a ini terjadi secara
diam-diam / rahasia. Orang-orang yang tertinggal di bumi akan heran karena
hilangnya orang-orang percaya (yang diangkat / mengalami rapture).
Dasar Kitab Suci yang
digunakan: 1Tes 4:15-17 - “(15)
Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih
tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului
mereka yang telah meninggal. (16) Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada
waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan
sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan
lebih dahulu bangkit; (17) sesudah itu, kita yang hidup, yang masih
tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan
di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”.
b) Mereka mengatakan bahwa kedatangan Kristus
yang ke 2a ini disusul dengan suatu selang waktu selama 7 tahun, dimana akan
terjadi hal-hal ini:
1. Dunia akan diinjili.
Mat 24:14 - “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan
di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba
kesudahannya.’”.
2. Israel akan bertobat.
Ro 11:26 - “Dengan jalan demikian seluruh Israel
akan diselamatkan, seperti ada tertulis: ‘Dari Sion akan datang Penebus, Ia
akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub”.
3. Terjadi masa kesukaran besar (the great tribulation), dan juga penyesatan besar-besaran (the great apostasy).
Mat 24:21-22 - “(21) Sebab pada masa itu akan terjadi
siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai
sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak
dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan
tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat”.
4. Anti Kristus akan dinyatakan.
2Tes 2:8-10 - “(8) pada waktu itulah si pendurhaka baru
akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas
mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. (9) Kedatangan si
pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan
ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya
jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan
mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka”.
c) Lalu mereka juga mengajarkan bahwa setelah
masa 7 tahun itu maka terjadi kedatangan Kristus yang ke 2b, yang mereka sebut
APOKALUPSIS [= revelation / unveiling (= penyataan / penyingkapan)], atau ‘hari Tuhan’ (the day of the Lord), dimana:
1. Pada saat ini Kristus akan datang bersama / dengan
orang-orang kudusNya.
1Tes 3:13 - “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya
tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan
Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudusNya”.
2. Kristus datang sampai ‘mendarat’ di bumi, bukan
hanya di awan-awan seperti pada kedatangan yang ke 2a.
3. Kedatangan ini didahului oleh beberapa
peristiwa yang sudah dinubuatkan.
4. Setelah kedatangan ini Kristus lalu melakukan
penghakiman (Mat 25:31-46 - nubuat / perumpamaan tentang pemisahan domba
dan kambing pada penghakiman akhir jaman), dan mendirikan / memimpin ke dalam
kerajaan 1000 tahun.
Louis Berkhof mengatakan
(hal 695), bahwa karena kedua kedatangan ini dalam kenyataannya betul-betul
merupakan 2 peristiwa, yang dipisahkan oleh selang waktu 7 tahun, yang
masing-masing mempunyai tujuannya sendiri-sendiri, maka keduanya tidak bisa
dianggap sebagai SATU peristiwa kedatangan. Karena itu, Louis Berkhof
beranggapan bahwa pada hakekatnya pandangan Dispensationalisme ini mempercayai
3 x kedatangan Yesus, dan ini jelas sekali bertentangan dengan Kitab Suci.
Juga Louis Berkhof
mengatakan (hal 696) bahwa pandangan Dispensationalisme itu, yang menganggap
kedatangan ke 2a sebagai PAROUSIA dan kedatangan ke 2b sebagai APOKALUPSIS,
adalah pandangan yang salah karena:
a. Dalam 2Tes 2:1,2,8 istilah PAROUSIA [= presence (= kehadiran)] dan ‘hari Tuhan’ / ‘the day of
the Lord’
digunakan secara interchangeable (bisa dibolak-balik).
2Tes 2:1,2,8 - “(1) Tentang kedatangan (Yunani:
PAROUSIAS) Tuhan kita
Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu,
saudara-saudara, (2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh
ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami,
seolah-olah ‘hari Tuhan’ telah tiba. ... (8) pada waktu itulah si
pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya
dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang (Yunani:
PAROUSIAS) kembali”.
b. Menurut 2Tes 1:7,10, APOKALUPSIS [= revelation / unveiling (= penyataan / penyingkapan)] yang
disebutkan dalam ay 7, terjadi pada waktu yang bersamaan dengan ‘hari itu’, yang yang membawa
pemuliaan kepada orang-orang kudus yang dibicarakan dalam ay 10, yang juga
jelas merupakan PAROUSIA [= presence (= kehadiran)].
2Tes 1:7,10 - “(7) dan untuk memberikan kelegaan kepada
kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam
sorga menyatakan (Yunani: APOKALUPSEI) diriNya bersama-sama dengan
malaikat-malaikatNya, dalam kuasaNya, di dalam api yang bernyala-nyala, ...
(10) apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara
orang-orang kudusNya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab
kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai”.
Catatan: baik NIV maupun NASB menterjemahkan kata ‘di antara’ dalam ay 10 dengan
kata ‘in’ (= dalam). Jadi, ay 10 menunjukkan Yesus
dimuliakan dalam orang-orang kudusNya.
c. Mat 24:29-31 menggambarkan kedatangan
Tuhan, pada saat mana orang-orang pilihan dikumpulkan bersama-sama, terjadi
segera setelah masa kesukaran besar (the great
tribulation),
sementara dalam pandangan Dispensationalisme, hal itu terjadi sebelumnya.
Mat 24:29-31 - “(29) ‘Segera sesudah siksaan pada
masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan
bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan
goncang. (30) Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit
dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia
itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan
kemuliaanNya. (31) Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikatNya dengan
meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan
orang-orang pilihanNya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang
satu ke ujung langit yang lain”.
Catatan: Louis Berkhof mengatakan bahwa jelas bahwa dalam
sepanjang Mat 24 Yesus membicarakan kedatanganNya yang kedua-kalinya,
karena Ia menggunakan kata Yunani PAROUSIA itu dalam Mat 24:3,37,39.
Karena itu jelas bahwa dalam Mat 24:30 ini Ia juga membicarakan kedatangan yang
sama, dan Mat 24:29 menunjukkan bahwa kedatangan itu adalah terjadi segera
setelah masa kesukaran itu.
d. Pandangan Dispensationalisme ini mengatakan
bahwa Gereja tidak akan mengalami masa kesukaran besar (the great tribulation) yang terjadi bersama-sama dengan penyesatan /
kemurtadan besar-besaran (the great apostasy), karena Gereja sudah
diangkat ke surga. Tetapi ini tidak cocok dengan gambaran Kitab Suci tentang
hal itu, karena Kitab Suci menggambarkan bahwa Gereja akan mengalami
kedua-duanya, dan ini terlihat dalam ayat-ayat ini:
1. Mat 24:21-22 - “(21) Sebab pada masa itu akan terjadi
siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai
sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak
dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan
tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat”.
Ayat ini jelas menunjukkan
bahwa pada saat itu terjadi masa kesukaran besar (the great
tribulation)
yang menyebabkan penyesatan / kemurtadan besar-besaran (the great apostasy). Dan pada saat semua itu terjadi, Gereja (orang-orang pilihan) juga
mengalaminya (sekalipun mereka tidak akan sesat / murtad).
2. Luk 21:36 - “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu
beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu
tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.’”.
Ayat ini juga menunjukkan
bahwa Gereja mengalami penyesatan / kemurtadan besar-besaran (the great apostasy) itu, karena Gereja disuruh berdoa untuk menghadapi saat itu.
3. 2Tes 2:3 - “Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara
yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad
dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa”.
Lagi-lagi jelas bahwa Gereja
mengalami penyesatan / kemurtadan besar-besaran (the great
apostasy)
itu.
4. 1Tim 4:1-3 - “(1) Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu
kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan
ajaran setan-setan (2) oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya
memakai cap mereka. (3) Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan
makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang
yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran”.
Text ini menunjukkan bahwa
pada masa penyesatan / kemurtadan besar-besaran (the great
apostasy)
itu ada orang-orang percaya (yang jelas masih hidup di dunia).
5. 2Tim 3:1-5 - “(1) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang
masa yang sukar. (2) Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi
hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi
pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima
kasih, tidak mempedulikan agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai,
suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang
baik, (4) suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih
menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. (5) Secara lahiriah mereka
menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri
kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”.
Text ini mengatakan bahwa
akan terjadi masa yang sukar / masa kesukaran besar (the great tribulation), dan juga penyesatan / kemurtadan besar-besaran (the great apostasy). Dan orang Kristen disuruh menjauhi orang-orang sesat seperti itu.
Jadi jelas bahwa Gereja mengalami semua itu!
6. Wah 7:14 - “Maka kataku kepadanya: ‘Tuanku, tuan mengetahuinya.’ Lalu
ia berkata kepadaku: ‘Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari
kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya
putih di dalam darah Anak Domba”.
Text ini menggambarkan orang
Kristen di surga, dan orang-orang itu digambarkan sebagai orang-orang yang
keluar dari kesusahan yang besar. Itu berarti mereka telah mengalami masa
kesukaran besar (the great tribulation) itu!
Herman Hoeksema mengatakan
bahwa pandangan Dispensationalisme yang mengatakan bahwa Gereja tidak akan
mengalami masa kesukaran besar (the great tribulation) karena sudah diangkat
merupakan suatu ajaran yang berbahaya karena akan menyebabkan orang-orang
kristen tidak menyiapkan diri menghadapi masa kesukaran besar (the great tribulation) itu.
e. Herman Hoeksema menambahkan bahwa ajaran
tentang kedatangan ke 2a yang bersifat diam-diam / rahasia itu bertentangan
dengan 1Tes 4:16 - “Sebab
pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan
sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka
yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit”.
f. Hal lain lagi yang diserang oleh Herman
Hoeksema (hal 774) adalah bahwa ajaran Dispensationalisme yang mengatakan bahwa
orang-orang percaya yang telah diangkat ke surga itu akan kembali ke bumi /
dunia setelah 7 tahun. Menurut Herman Hoeksema ini bertentangan dengan
1Tes 4:17 - “sesudah
itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan
mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan
Tuhan”.
Catatan: Herman
Hoeksema (hal 772,773) menambahkan lagi satu
kesalahan dalam pandangan Dispensationalisme, yaitu bahwa mereka juga
membedakan adanya 2 kebangkitan orang mati. Yang pertama adalah
kebangkitan dari orang-orang percaya pada saat kedatangan Kristus yang ke 2a,
dan yang kedua adalah kebangkitan orang yang tidak percaya setelah kerajaan
1000 tahun berakhir. Ini didasarkan pada 1Tes 4:14-17 - “(14) Karena jikalau kita percaya, bahwa
Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang
telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
(15) Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih
tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang
telah meninggal. (16) Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu
malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun
dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;
(17) sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat
bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah
kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”.
Herman Hoeksema mengatakan bahwa text ini tidak
membicarakan kebangkitan orang percaya (pada kedatangan ke 2a) sebagai kontras
dari kebangkitan orang yang tidak percaya (setelah kerajaan 1000 tahun). Text
ini membicarakan orang benar yang masih hidup dan mengkontraskannya dengan
orang benar yang sudah mati. Text ini sama sekali tidak membicarakan
kebangkitan orang yang tidak percaya. Text ini juga tidak berbicara tentang
kebangkitan yang pertama (dikontraskan dengan kebangkitan kedua yang akan
datang). Text ini hanya mengatakan bahwa kebangkitan orang percaya yang mati
akan terjadi lebih dulu dari pengangkatan dari orang percaya yang masih hidup.
Selain itu ajaran tentang adanya 2
kebangkitan yang terpisah dalam Dispensationalisme itu bertentangan dengan
Yoh 5:28-29, yang jelas berbicara tentang adanya satu kebangkitan yang
bersifat umum, baik untuk orang percaya maupun orang yang tidak percaya.
Yoh 5:28-29 - “(28) Janganlah kamu heran akan hal itu,
sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar
suaraNya, (29) dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk
hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk
dihukum”.
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 14 September
2007, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
4) Apakah Kristus akan segera datang kembali, dan apakah Ia bisa
datang kapan saja?
Memang ada ayat-ayat yang
kelihatannya menunjukkan bahwa kedatangan Kristus yang kedua-kalinya akan
terjadi segera / kapan saja, seperti:
·
Mat 24:42 - “Karena
itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”.
·
Mat 24:48-51 - “(48)
Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: (49) Tuanku
tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan
minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, (49) maka tuan hamba itu akan datang
pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya,
(50) dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik.
Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.’”.
·
Mat 25:13 - “Karena
itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.’”.
·
Ibr 10:37 - “‘Sebab
sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang,
sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatanganNya”.
·
Wah 16:15 - “‘Lihatlah,
Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan
yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan
jangan kelihatan kemaluannya.’”.
·
Wah 22:7 - “‘Sesungguhnya
Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan
nubuat kitab ini!’”.
Tetapi penafsiran ayat-ayat
di atas harus dilakukan dengan memperhatikan fakta bahwa sampai sekarang sudah
2000 tahun berlalu dan Yesus belum datang untuk kedua-kalinya. Juga harus
diperhatikan ayat-ayat lain seperti:
¨ Mat 24:5-14,21-22,29-31
- “(5) Sebab banyak
orang akan datang dengan memakai namaKu dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka
akan menyesatkan banyak orang. (6) Kamu akan mendengar deru perang atau
kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab
semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. (7) Sebab bangsa
akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan
dan gempa bumi di berbagai tempat. (8) Akan tetapi semuanya itu barulah
permulaan penderitaan menjelang zaman baru. (9) Pada waktu itu kamu akan
diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa
oleh karena namaKu, (10) dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling
menyerahkan dan saling membenci. (11) Banyak nabi palsu akan muncul dan
menyesatkan banyak orang. (12) Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka
kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. (13) Tetapi orang yang bertahan
sampai pada kesudahannya akan selamat. (14) Dan Injil Kerajaan ini akan
diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah
itu barulah tiba kesudahannya.’ ... (21) Sebab pada masa itu akan terjadi
siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai
sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak
dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan
tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. ... (29)
‘Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan
bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan
kuasa-kuasa langit akan goncang. (30) Pada waktu itu akan tampak tanda Anak
Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan
melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala
kekuasaan dan kemuliaanNya. (31) Dan Ia akan menyuruh keluar
malaikat-malaikatNya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka
akan mengumpulkan orang-orang pilihanNya dari keempat penjuru bumi, dari ujung
langit yang satu ke ujung langit yang lain”.
Catatan: Kebanyakan, atau mungkin semua, ahli theologia
Reformed, beranggapan bahwa Mat 24 ini mendapatkan penggenapan awal /
sebagian pada peristiwa penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M., tetapi akan
mendapatkan penggenapan lanjutan yang lebih sempurna / lengkap / penuh pada
akhir jaman (menjelang kedatangan Kristus yang kedua-kalinya).
¨ 2Tes 2:2-4 - “(2) supaya kamu jangan lekas bingung dan
gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan
dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. (3) Janganlah kamu memberi dirimu
disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu
haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka,
yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang
disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau
menyatakan diri sebagai Allah”.
¨ Mat 25:19 - “Lama sesudah itu pulanglah tuan
hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka”.
¨ Luk 19:11 - “Untuk mereka yang mendengarkan Dia di
situ, Yesus melanjutkan perkataanNya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah
dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera
kelihatan”.
Karena adanya orang-orang
yang menyangka seperti itu, lalu Yesus menceritakan perumpamaan tentang uang
mina dalam Luk 19:12-27.
¨ Mat 25:5 - “Tetapi karena mempelai itu lama tidak
datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur”.
¨ 2Pet 3:3-9 - “(3) Yang terutama harus kamu ketahui
ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan
ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. (4) Kata
mereka: ‘Di manakah janji tentang kedatanganNya itu? Sebab sejak bapa-bapa
leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia
diciptakan.’ (5) Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah
langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh
air, (6) dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan
oleh air bah. (7) Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang
terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan
orang-orang fasik. (8) Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang
satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama
seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. (9) Tuhan
tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai
kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan
ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”.
2Pet 3:8 merupakan
kunci untuk mengharmoniskan. Kalau dikatakan bahwa Yesus akan segera datang,
itu dari sudut pandang ilahi, dan bagi Dia satu hari sama seperti 1000 tahun
dan 1000 tahun seperti satu hari, yang berarti bahwa Ia tidak terbatas waktu.
Tetapi dari sudut pandang manusia, Yesus tidak akan segera datang. Kitab Suci
mengatakan bahwa ada hal-hal yang harus terjadi sebelum kedatangan Kristus yang
kedua-kalinya, dan karena itu kedatangan Kristus yang kedua-kalinya itu tidak
bisa terjadi segera / kapan saja. Memang kalau hal-hal itu sudah terjadi, maka
kedatangan Kristus yang kedua-kalinya itu bisa terjadi kapan saja. Tetapi kalau
hal-hal itu belum terjadi, maka kedatangan Kristus yang kedua-kalinya itu tidak
mungkin bisa terjadi.
5) Tanda-tanda yang harus mendahului kedatangan Kristus yang
kedua-kalinya.
a) Tanda-tanda yang membuktikan / menunjukkan kasih karunia Allah.
1. Pemberitaan Injil ke seluruh dunia / kepada semua bangsa.
a. Dasar Kitab Suci.
Mat 24:14 - “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan
di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba
kesudahannya.’”.
Ro 11:25 - “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu
jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini:
Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari
bangsa-bangsa lain telah masuk”.
b. Arti dari pemberitaan Injil ke seluruh dunia / segala bangsa.
Ini tidak boleh diartikan
bahwa setiap individu di dunia harus sudah mendengar Injil, tetapi sebaliknya,
adanya 1 misionaris di setiap negara / bangsa tidak bisa dijadikan alasan untuk
mengatakan bahwa syarat ini sudah terpenuhi. Jadi, semua bangsa harus sudah
mendengar Injil dalam arti bahwa dalam negara / bangsa itu Injil sudah tersebar
secara umum, sehingga bangsa itu mendapat kesempatan untuk menerima
ataupun menolak Kristus.
Dalam arti seperti ini boleh
dikatakan tidak mungkin kita bisa tahu apakah tanda yang satu ini sudah terjadi
atau belum. Allah yang mengetahui hal itu, bukan kita.
c. Pandangan Dispensationalisme dalam hal ini.
Louis Berkhof mengatakan
(hal 698) bahwa dalam persoalan ini ajaran Dispensationalisme tidak mempercayai
bahwa penginjilan terhadap dunia harus terjadi lebih dulu sebelum Kristus
datang kembali (kedatangan ke 2a). Menurut mereka, penginjilan itu justru akan
dimulai setelah kedatangan Kristus yang ke 2a itu.
Lalu bagaimana mereka
menafsirkan Mat 24:14?
·
Mereka mengatakan bahwa Injil yang dimaksudkan dalam Mat 24:14 ini,
bukan Injil kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus, tetapi Injil kerajaan, dan
kedua hal itu berbeda. Injil kerajaan hanya merupakan kabar baik bahwa kerajaan
itu sudah dekat.
·
Setelah kedatangan Kristus yang ke 2a, Gereja diangkat dari bumi /
dunia ini, dan bersama itu penghunian oleh Roh Kudus juga telah hilang. Ini
berarti kondisi Perjanjian Lama dipulihkan. Pada saat itulah Injil dengan mana
Yesus memulai pelayananNya (Injil kerajaan), akan diberitakan lagi.
·
Injil kerajaan itu akan diberitakan:
*
Oleh orang-orang yang dipertobatkan oleh pengangkatan Gereja.
*
Belakangan, oleh Israel yang bertobat.
*
Seorang utusan khusus.
Khususnya dalam masa
kesukaran besar (the great tribulation) Injil akan diberitakan
oleh sisa Israel, yang termasuk orang-orang percaya.
·
Pemberitaan ini akan sangat efektif, jauh lebih efektif dari
pemberitaan Injil kasih karunia Allah. Pada masa inilah terjadi pertobatan dari
144.000 dan orang banyak yang tak terhitung jumlahnya dalam Wah 7.
Dengan cara inilah nubuat
Yesus dalam Mat 24:14 itu tergenapi.
Komentar Louis Berkhof
tentang ajaran Dispensationalisme di atas ini.
Louis Berkhof: “The distinction between a twofold gospel
and a twofold second coming of the Lord is an untenable one. The gospel of the
grace of God in Jesus Christ is the only gospel that saves and that gives
entrance to the Kingdom of God” (= Pembedaan 2 macam Injil dan 2 macam kedatangan Tuhan yang
kedua-kalinya, merupakan sesuatu yang tidak bisa dipertahankan. Injil dari
kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus adalah satu-satunya Injil yang
menyelamatkan dan memberikan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah) - ‘Systematic Theology’, hal 698.
Louis Berkhof juga
menambahkan bahwa merupakan sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab bahwa
pengembalian ke kondisi Perjanjian Lama, termasuk absennya Gereja dan
penghunian Roh Kudus, akan lebih efektif dari pemberitaan Injil kasih karunia
Allah dalam Yesus Kristus dan karunia Roh Kudus.
d. Ini mengharuskan orang Kristen untuk lebih
rajin / tekun / bersungguh-sungguh dalam memberitakan Injil!
Charles Hodge: “This ingathering of the heathen is the
special work of the Church. It is a missionary work. It was so understood by
the Apostles. Their two great duties were the propagation and defence of the
truth” (=
Pengumpulan dari orang-orang kafir merupakan pekerjaan khusus dari Gereja. Itu
merupakan suatu pekerjaan yang bersifat misionaris. Itu dimengerti demikian
oleh Rasul-rasul. Dua kewajiban besar / agung mereka adalah penyebaran dan
pembelaan dari kebenaran) - ‘Systematic Theology’, vol
III, hal 803.
Dengan memberitakan Injil,
boleh dikatakan kita ‘mempercepat’ kedatangan Kristus yang kedua-kalinya.
2Pet 3:12a - “yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat
kedatangan hari Allah”.
Memang ada yang menafsirkan
bahwa kata-kata ini hanya berarti ‘sangat
menginginkan kedatangan hari Allah’. Tetapi ada juga yang menafsirkan ‘mempercepat kedatangan hari Allah’.
Jamieson, Fausset & Brown (tentang 2Pet 3:12): “‘Hasting unto.’ ... The
Greek may mean ‘hastening onward the day of God;’ not that God’s time is
changeable, but God appoints us as instruments of accomplishing those events
which must be first before the day can come. By praying for His coming, furthering
the preaching of the Gospel for a witness to all nations, and bringing in
those whom ‘the long-suffering of God’ waits to save, we hasten the coming of
the day of God” (= ‘Mempercepat’. ... Kata Yunaninya bisa
berarti ‘mempercepat kedatangan hari Allah’; bukan bahwa waktu Allah itu bisa
berubah, tetapi Allah menetapkan kita sebagai alat-alat untuk mengerjakan
peristiwa-peristiwa yang harus terjadi lebih dulu sebelum hari itu bisa datang.
Dengan berdoa untuk kedatanganNya, melanjutkan / memajukan pemberitaan Injil
sebagai suatu kesaksian bagi semua bangsa, dan membawa masuk mereka yang
ditunggu untuk diselamatkan oleh ‘kepanjangsabaran Allah’, kita mempercepat
kedatangan hari Allah).
Pulpit Commentary (tentang
2Pet 3:12):
“Here the translation ‘hastening’ is most appropriate. ...
St. Peter seems to represent Christians as ‘hastening the coming (literally,
‘presence’) of the day of God’ by ... helping to spread the knowledge of the
gospel (Matt. 24:14)”
[= Di sini penterjemahan ‘mempercepat’ adalah yang paling tepat. ... Santo
Petrus kelihatannya menggambarkan orang-orang kristen sebagai ‘mempercepat
kedatangan (secara hurufiah, ‘kehadiran’) hari Allah’ dengan ... membantu
menyebarkan pengetahuan Injil (Mat 24:14)] - hal 69.
e. Injil yang dimaksudkan adalah Injil yang
sungguh-sungguh, bukan ‘Injil yang lain / berbeda’. Kitab Suci memang
mengatakan adanya Injil yang seperti itu, yaitu dalam:
·
Gal 1:6-9 - “(6)
Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih
karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, (7)
yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang
bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. (8) Tetapi sekalipun kami atau
seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang
berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.
(9) Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi:
jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda
dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia”.
·
2Kor 11:4 - “Sebab
kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain
dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang
lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada
yang telah kamu terima”.
Sekarang, ada banyak gereja
yang memberitakan ‘Injil yang lain / berbeda’, yaitu Injil yang sudah
diselewengkan, seperti:
¨ Social Gospel (= Injil sosial), dimana
penekan penginjilannya adalah pada bantuan sosial, bukan pada pemberitaan
Injil. Ini banyak terdapat dalam gereja-gereja Protestan yang liberal. Mereka
mempunyai komisi Pekabaran Injil, tetapi apa yang dilakukan oleh komisi
Pekabaran Injil tersebut hanyalah mendatangi panti asuhan, tempat yang terkena
bencana alam, dsb, dimana mereka lalu membagi-bagikan uang, makanan, pakaian,
dan lalu pulang. Perlu diingat bahwa fungsi gereja bukanlah menjadi semacam
sinterklaas, tetapi sebagai pemberita Injil / Firman Tuhan! Juga perlu diingat
bahwa orang-orang yang dilayani dengan pelayanan seperti itu, sekalipun mereka
merasa senang karena mendapatkan pertolongan yang bersifat jasmani dan
sementara, tetapi pada akhirnya tetap akan masuk ke neraka, karena tidak percaya
kepada Kristus, yang tidak pernah diberitakan kepada mereka!
¨ Yesus ditekankan sebagai
dokter, pelaku mujijat, pemberi berkat jasmani / kekayaan, tetapi tidak sebagai
Tuhan dan Juruselamat. Ini banyak terdapat dalam gereja Pentakosta /
Kharismatik.
Ingat bahwa nama ‘Yesus’
berarti ‘Juruselamat dosa’, dan karena itu, dalam memberitakan Injil, itulah
yang harus ditekankan.
Mat 1:21 - “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan
engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan
umatNya dari dosa mereka.’”.
Bagian yang saya
garis-bawahi menunjukkan alasan mengapa Ia dinamakan ‘Yesus’.
2. Keselamatan / pertobatan Israel (yang termasuk orang pilihan).
Sebetulnya Perjanjian Lama
juga berbicara / menubuatkan tentang akan terjadinya pertobatan dari Israel.
Zakh 12:10 - “‘Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan
roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan
memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti
orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang
menangisi anak sulung.”.
Zakh 13:1 - “‘Pada waktu itu akan terbuka suatu
sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan
kecemaran”.
Tetapi text yang paling
diperdebatkan dalam persoalan ini adalah text Perjanjian Baru di bawah ini.
Ro 11:25-29 - “(25) Sebab, saudara-saudara, supaya kamu
jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini:
Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa
lain telah masuk. (26) Dengan jalan demikian seluruh Israel akan
diselamatkan, seperti ada tertulis: ‘Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan
menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. (27) Dan inilah perjanjianKu
dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.’ (28) Mengenai Injil
mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka
adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. (29) Sebab Allah tidak menyesali
kasih karunia dan panggilanNya”.
Louis Berkhof mengatakan
(hal 699) bahwa orang-orang yang menganut Premillenialisme menggunakan
text-text ini untuk mengatakan bahwa akan terjadi pemulihan terhadap Israel
sebagai bangsa dan juga pertobatan Israel, dan ini akan terjadi persis sebelum,
atau pada saat pemerintahan 1000 tahun dari Yesus Kristus.
Louis Berkhof menhatakan
bahwa ada beberapa alasan untuk menolak penafsiran ini, yaitu:
a. Adanya text-text Kitab Suci yang menunjukkan
secara jelas tentang perlawanan dari orang-orang Yahudi terhadap kekristenan,
dan tentang kepastian bahwa mereka kehilangan kedudukan mereka sebagai
anak-anak Kerajaan.
Mat 8:11-12 - “(11) Aku berkata kepadamu: Banyak orang
akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham,
Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, (12) sedangkan anak-anak Kerajaan
itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan
terdapat ratap dan kertak gigi.’”.
Mat 21:28-46 - “(28) ‘Tetapi apakah pendapatmu tentang
ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan
berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. (29) Jawab
anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. (30) Lalu orang itu pergi kepada
anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak
mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. (31) Siapakah di antara kedua
orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: ‘Yang terakhir.’
Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut
cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam
Kerajaan Allah. (32) Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran
kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut
cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu
melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya
kepadanya.’ (33) ‘Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang
tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali
lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu.
Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke
negeri lain. (34) Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya
kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.
(35) Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka
memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan
batu. (36) Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih
banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti
kawan-kawan mereka. (37) Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka,
katanya: Anakku akan mereka segani. (38) Tetapi ketika penggarap-penggarap
itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah
ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. (39)
Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu
membunuhnya. (40) Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang
akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?’ (41) Kata mereka kepadaNya:
‘Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan
disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya
kepadanya pada waktunya.’ (42) Kata Yesus kepada mereka: ‘Belum pernahkah kamu
baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah
menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib
di mata kita. (43) Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah
akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan
menghasilkan buah Kerajaan itu. (44) [Dan
barangsiapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu
itu, ia akan remuk.]’
(45) Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar
perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang
dimaksudkanNya. (46) Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka
takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi”.
Mat 22:1-14 - “(1) Lalu Yesus berbicara pula dalam
perumpamaan kepada mereka: (2) ‘Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang
mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. (3) Ia menyuruh hamba-hambanya
memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi
orang-orang itu tidak mau datang. (4) Ia menyuruh pula hamba-hamba lain,
pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya
hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih;
semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. (5) Tetapi
orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke
ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, (6) dan yang lain menangkap
hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. (7) Maka murkalah raja
itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu
dan membakar kota mereka. (8) Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya:
Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak
layak untuk itu. (9) Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan
dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
(10) Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang
dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga
penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. (11) Ketika raja itu masuk
untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian
pesta. (12) Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari
dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. (13) Lalu
kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan
campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan
terdapat ratap dan kertak gigi. (14) Sebab banyak yang dipanggil, tetapi
sedikit yang dipilih.’”.
b. Penafsiran dari Ro 11:26 harus disesuaikan kontextnya, yaitu Ro
9-11.
Louis Berkhof mengatakan
bahwa penafsiran dari Ro 11:26, yang banyak dipakai orang-orang kristen
tertentu sebagai dasar pandangan bahwa seluruh Israel akan bertobat, harus
ditafsirkan sesuai dengan kontextnya, yaitu Ro 9-11. Dalam Ro 9-11 itu
Paulus sebetulnya mendiskusikan pertanyaan, bagaimana janji Allah kepada Israel
bisa diharmoniskan dengan penolakan sebagian besar orang Israel. Paulus
pertama-tama menunjukkan dalam Ro 9-10 bahwa janji itu berlaku bukan bagi
Israel secara daging, tetapi kepada Israel rohani. Dan selanjutnya, Paulus
mengatakan bahwa Allah tetap mempunyai orang-orang pilihanNya dalam kalangan
bangsa Israel, dan di antara mereka tetap ada suatu sisa menurut pilihan kasih
karunia (Ro 11:1-10). Dan bahkan pengerasan terhadap Israel bukanlah tujuan
akhir Allah, tetapi merupakan cara untuk membawa keselamatan kepada orang-orang
non Yahudi. Ini akan menyebabkan kecemburuan orang-orang Yahudi. Louis Berkhof
mengatakan bahwa pengerasan terhadap Israel bukan pengerasan total, tetapi
hanyalah pengerasan sebagian (Ro 11:25b), karena dalam setiap jaman
selalu ada orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus / menerima Yesus. Allah
akan terus mengumpulkan orang-orang pilihanNya dari kalangan orang-orang Yahudi
sampai seluruh orang-orang pilihan dalam kalangan non Yahudi diselamatkan, dan
dengan demikian ‘seluruh
Israel’ (Ro
11:26), artinya jumlah yang penuh dari orang-orang Israel yang sesungguhnya,
akan diselamatkan.
Jadi, istilah ‘seluruh Israel’ tidak menunjuk kepada
seluruh bangsa Israel, tetapi Israel rohani, atau orang-orang pilihan dari
kalangan orang Israel.
Bdk. Ro 11:26 - “Dengan jalan demikian seluruh Israel
akan diselamatkan, seperti ada tertulis: ‘Dari Sion akan datang Penebus, Ia
akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub”.
Catatan: Herman Hoeksema (hal 788-793) memberikan penguraian
panjang lebar tentang Ro 11:26, dan ia akhirnya sampai pada kesimpulan
yang sama seperti Louis Berkhof. Kata-kata ‘seluruh Israel’ ia tafsirkan menunjuk kepada orang-orang pilihan
dari kalangan Israel / Yahudi.
c. Anthony A. Hoekema menambahkan (hal 144)
bahwa kalau pertobatan bangsa Israel hanya akan terjadi pada akhir jaman, maka
itu hanya berlaku untuk generasi dari bangsa Israel yang hidup pada saat itu,
dan ini hanya merupakan sebagian kecil dari ‘seluruh Israel’ dan karena itu tidak cocok untuk disebut sebagai ‘seluruh Israel’!
d. Anthony A. Hoekema juga mengatakan (hal
144-145) bahwa Ro 11:26a mengatakan “Dengan jalan demikian seluruh Israel akan
diselamatkan”.
Anthony A. Hoekema: “The
text does not say, ‘And then all Israel will be saved.’ If Paul had wished to
convey this thought, he could have used a word which means ‘then’ (like TOTE or
EPEITA). But he used the word HOUTOS, which describes not temporal succession
but manner, and which means ‘thus,’ ‘so,’ or ‘in this way.’ In other words,
Paul is not saying, ‘Israel has experienced hardening in part until the full
number of the Gentiles has come in, and then (after this has happened)
all Israel will be saved.’ But he is saying, ‘Israel has experienced a
hardening in part until the full number of the Gentiles has come in, and in
this way all Israel will be saved.’” [= Textnya tidak mengatakan, ‘Dan lalu seluruh Israel akan
diselamatkan’. Seandainya Paulus ingin menyampaikan pemikiran ini, ia bisa
menggunakan suatu kata yang berarti ‘lalu’ (seperti TOTE dan EPEITA). Tetapi ia
menggunakan kata HOUTOS, yang tidak menggambarkan penggantian yang berhubungan
dengan waktu tetapi cara, dan yang berarti ‘’demikianlah’, ‘begitulah’, atau
‘dengan cara ini’. Dengan kata lain, Paulus bukan berkata, ‘Israel telah
mengalami pengerasan sebagian sampai jumlah yang penuh dari orang-orang non
Yahudi telah masuk, dan lalu (setelah hal ini telah terjadi) seluruh
Israel akan diselamatkan’. Tetapi ia mengatakan, ‘Israel telah mengalami
pengerasan sebagian sampai jumlah yang penuh dari orang-orang non Yahudi telah
masuk, dan dengan cara ini seluruh Israel akan diselamatkan’] - ‘The Bible and The Future’, hal 144-145.
Jadi, Anthony A. Hoekema
menafsirkan (hal 145) bahwa yang dimaksudkan oleh Paulus adalah sebagai
berikut: Ia sudah mengajarkan bahwa melalui ketidak-percayaan Israel,
keselamatan sampai kepada bangsa-bangsa lain. Dan ini menyebabkan kecemburuan
Israel. Semua ini sudah terjadi, dan tetap terjadi, dan masih akan terjadi
terus.
Jadi, Allah menggenapi
janjiNya kepada Israel dengan cara sebagai berikut: sekalipun Israel dikeraskan
dalam ketidak-percayaan, tetapi yang dikeraskan itu hanyalah sebagian dari
Israel, bukan seluruh Israel. Dengan kata lain, Israel akan terus berbalik
kepada Tuhan sampai kedatangan Kristus yang kedua-kalinya, sementara pada saat
yang sama orang-orang non Yahudi juga akan dikumpulkan. Dan dengan cara ini
maka seluruh Israel akan diselamatkan.
Ada pandangan yang lain,
yang menganggap bahwa istilah ‘seluruh
Israel’
dalam Ro 11:26 menunjuk kepada ‘semua
orang-orang pilihan dari Israel + non Israel’. Pandangan ini dianut antara lain oleh
Calvin.
Anthony A. Hoekema
mengatakan (hal 144) bahwa keberatan terhadap pandangan ini adalah bahwa dalam
Ro 9-11 istilah ‘Israel’ muncul 11 x. Dan selain
dalam Ro 11:26 itu, istilah ini selalu menunjuk kepada ‘bangsa Israel / Yahudi’, dan mengkontraskannya
dengan ‘bangsa-bangsa
non Israel / Yahudi’. Jadi, tak ada alasan untuk menganggap bahwa dalam Ro 11:26
istilah itu menunjuk kepada ‘bangsa
Israel / Yahudi + non Israel / Yahudi’.
Anthony A. Hoekema lalu
menyimpulkan:
·
Dengan penafsiran seperti itu, kita tidak akan bisa mengetahui kapan
tanda ini betul-betul sudah tergenapi (karena kita tidak tahu jumlah
orang-orang pilihan baik dari kalangan Israel maupun non Israel), dan karena
itu kita juga tidak bisa menentukan kapan Yesus akan datang kedua-kalinya.
·
Gereja harus tetap memikirkan penginjilan terhadap Israel.
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 21 September
2007, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
b) Tanda-tanda yang menunjukkan permusuhan terhadap Allah.
1. Masa kesukaran besar (the great tribulation).
Mat 24:9,15-21 - “(9) Pada waktu itu kamu akan
diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa
oleh karena namaKu, ... (15) ‘Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji
berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel -
para pembaca hendaklah memperhatikannya - (16) maka orang-orang yang di Yudea
haruslah melarikan diri ke pegunungan. (17) Orang yang sedang di peranginan di
atas rumah janganlah ia turun untuk mengambil barang-barang dari rumahnya, (18)
dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil
pakaiannya. (19) Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi
pada masa itu. (20) Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan
jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat. (21) Sebab pada masa
itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak
awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi”.
Mark 13:9-20 - “(9) Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu
akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan
kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku,
sebagai kesaksian bagi mereka. (10) Tetapi Injil harus diberitakan dahulu
kepada semua bangsa. (11) Dan jika kamu digiring dan diserahkan,
janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa
yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang
berkata-kata, melainkan Roh Kudus. (12) Seorang saudara akan menyerahkan
saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan
anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.
(13) Kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu. Tetapi orang yang
bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat.’ (14) ‘Apabila kamu melihat Pembinasa
keji berdiri di tempat yang tidak sepatutnya - para pembaca hendaklah
memperhatikannya - maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke
pegunungan. (15) Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia
turun dan masuk untuk mengambil sesuatu dari rumahnya, (16) dan orang yang
sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya. (17)
Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu.
(18) Berdoalah, supaya semuanya itu jangan terjadi pada musim dingin. (19)
Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan seperti yang belum pernah terjadi
sejak awal dunia, yang diciptakan Allah, sampai sekarang dan yang tidak akan
terjadi lagi. (20) Dan sekiranya Tuhan tidak mempersingkat waktunya, maka
dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena
orang-orang pilihan yang telah dipilihNya, Tuhan mempersingkat waktunya”.
Luk 21:12-24 - “(12) Tetapi sebelum semuanya itu kamu
akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan
penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan
penguasa-penguasa oleh karena namaKu. (13) Hal itu akan menjadi kesempatan
bagimu untuk bersaksi. (14) Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu
jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. (15) Sebab Aku sendiri akan
memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau
dibantah lawan-lawanmu. (16) Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu,
saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di
antara kamu akan dibunuh (17) dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena
namaKu. (18) Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. (19)
Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.’ (20) ‘Apabila kamu
melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa
keruntuhannya sudah dekat. (21) Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea
harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota
harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke
dalam kota, (22) sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada
tertulis. (23) Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi
pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan
murka atas bangsa ini, (24) dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa
sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh
bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa
itu.’”.
Yang menjadi problem adalah
bahwa Mat 24 / Mark 13 / Luk 21 merupakan suatu text yang sangat
sukar penafsirannya. Untuk melihat itu, perhatikan beberapa komentar yang
penting dari Anthony A. Hoekema tentang penafsiran dari Mat 24:3-51 / Mark
13:3-37 / Luk 21:5-36.
Anthony A. Hoekema: “This
is, however, a very difficult passage to interpret. What makes it so difficult
is that some parts of the discourse obviously refer to the destruction of
Jerusalem which lies in the near future, whereas other parts of it refer to the
events which will accompany the Parousia at the end of the age” [= Tetapi ini merupakan suatu text yang
sangat sukar untuk ditafsirkan. Apa yang membuatnya begitu sukar adalah bahwa
beberapa bagian dari percakapan / pelajaran itu jelas menunjuk pada kehancuran
Yerusalem yang terletak di masa depan yang dekat, sementara bagian-bagian lain
dari percakapan / pelajaran itu menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang akan
menyertai PAROUSIA (= kehadiran / kedatangan) pada akhir jaman] - ‘The Bible and The Future’, hal 148.
Sekarang perhatikan awal
dari percakapan / pelajaran dalam Mat 24 tersebut.
Mat 24:1-3 - “(1) Sesudah itu Yesus keluar dari Bait
Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-muridNya dan menunjuk kepada
bangunan-bangunan Bait Allah. (2) Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu melihat
semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini
akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.’ (3)
Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-muridNya kepadaNya
untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: ‘Katakanlah kepada
kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatanganMu dan
tanda kesudahan dunia?’”.
Anthony A. Hoekema
mengatakan (hal 148) bahwa pertanyaan dari para murid memang berkenaan dengan 2
topik. Alasannya:
a. Kata-kata “bilamanakah itu akan terjadi” jelas berhubungan dengan
kata-kata Yesus bahwa Bait Allah akan diruntuhkan, dan karena itu, pertanyaan
ini berhubungan dengan kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M.
b. Kata-kata “apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia” jelas berhubungan dengan
kedatangan Kristus yang kedua-kalinya / akhir jaman.
Jadi, karena pertanyaannya
memang terdiri dari 2 topik, tidak aneh kalau dalam jawaban Yesus kedua hal itu
(kehancuran Yerusalem dan akhir jaman) juga tercakup kedua-duanya.
Anthony A. Hoekema: “As
we read the discourse, however, we find that aspects of these two topics are
intermingled; matters concerning the destruction of Jerusalem (epitomized by
the destruction of the temple) are mingled together with matters which concern
the end of the world - so much so that it is sometimes hard to determine
whether Jesus is referring to the one or the other or perhaps to both.
Obviously the method of teaching used here by Jesus is that of prophetic
foreshortening, in which events far removed in time and events in the near
future are spoken of as if they were very close together” [= Tetapi pada waktu kita membaca
percakapan / pelajaran itu, kita mendapati bahwa kedua topik ini
dicampur-aduk; hal-hal mengenai kehancuran Yerusalem (dilambangkan oleh
kehancuran Bait Allah) dicampur-aduk dengan hal-hal yang berkenaan dengan akhir
dunia ini - sedemikian banyak sehingga kadang-kadang sukar untuk menentukan
apakah Yesus menunjuk pada yang satu atau yang lain atau mungkin pada keduanya.
Jelas bahwa metode pengajaran yang digunakan di sini oleh Yesus adalah metode
penyingkatan masa depan yang bersifat nubuatan, dalam mana peristiwa-peristiwa
yang berada jauh di depan dan peristiwa-peristiwa yang ada di masa depan yang
dekat dibicarakan seakan-akan mereka sangat dekat] - ‘The Bible and The Future’, hal 148.
Catatan: ini cara yang sama seperti yang digunakan nabi-nabi
Perjanjian Lama pada waktu menggambarkan / menubuatkan tentang kedatangan
Kristus yang pertama dan kedatangan Kristus yang kedua, yang kelihatannya bukan
hanya tidak dibedakan, tetapi bahkan dicampur-adukkan.
Mat 24:4-44 - “(4) Jawab Yesus kepada mereka:
‘Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! (5) Sebab banyak
orang akan datang dengan memakai namaKu dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka
akan menyesatkan banyak orang. (6) Kamu akan mendengar deru perang atau
kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab
semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. (7) Sebab bangsa akan
bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan
gempa bumi di berbagai tempat. (8) Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan
penderitaan menjelang zaman baru. (9) Pada waktu itu kamu akan diserahkan
supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena
namaKu, (10) dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan
dan saling membenci. (11) Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak
orang. (12) Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan
orang akan menjadi dingin. (13) Tetapi orang yang bertahan sampai pada
kesudahannya akan selamat. (14) Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di
seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.’
(15) ‘Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus,
menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel - para pembaca hendaklah
memperhatikannya - (16) maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri
ke pegunungan. (17) Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia
turun untuk mengambil barang-barang dari rumahnya, (18) dan orang yang sedang
di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya. (19) Celakalah
ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu. (20)
Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin
dan jangan pada hari Sabat. (21) Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan
yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang
dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak
dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan
tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. (23) Pada
waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau
Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. (24) Sebab Mesias-mesias palsu dan
nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat
dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang
pilihan juga. (25) Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu.
(26) Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihat, Ia ada di padang gurun,
janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah
kamu percaya. (27) Sebab sama seperti kilat memancar dari sebelah timur dan
melontarkan cahayanya sampai ke barat, demikian pulalah kelak kedatangan Anak
Manusia. (28) Di mana ada bangkai, di situ burung nazar berkerumun.’ (29) ‘Segera
sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak
bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa
langit akan goncang. (30) Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di
langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak
Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan
kemuliaanNya. (31) Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikatNya dengan
meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan
orang-orang pilihanNya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu
ke ujung langit yang lain. (32) Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang
pohon ara: Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu,
bahwa musim panas sudah dekat. (33) Demikian juga, jika kamu melihat semuanya
ini, ketahuilah, bahwa waktunya sudah dekat, sudah di ambang pintu. (34) Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum
semuanya ini terjadi. (35) Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu
tidak akan berlalu. (36) Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang
tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.’
(37) ‘Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada
kedatangan Anak Manusia. (38) Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air
bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke
dalam bahtera, (39) dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu
datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada
kedatangan Anak Manusia. (40) Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang,
yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; (41) kalau ada dua
orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang
lain akan ditinggalkan. (42) Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu
pada hari mana Tuhanmu datang. (43) Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu
pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga,
dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. (44) Sebab itu, hendaklah kamu
juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.’”.
Catatan: yang saya beri garis bawah tunggal kelihatannya
menunjuk pada kehancuran Yerusalem, sedangkan yang saya beri garis bawah ganda
kelihatannya menunjuk pada akhir jaman, sedangkan yang lain membingungkan,
karena bisa menunjuk pada kehancuran Yerusalem ataupun pada akhir jaman atau
keduanya.
Anthony A. Hoekema: “The
destruction of Jerusalem which lies in the near future is a type of the end of
the world; hence the intermingling. The passage, therefore, deals neither
exclusively with the destruction of Jerusalem nor exclusively with the end of
the world; it deals with both - sometimes with the latter in terms of the
former. ... In this discourse Jesus seems to be describing events
associated with his Second Coming in terms of the people of Israel and of the
life in Judea. These details, however, should not be interpreted with strict
literalness”
(= Kehancuran Yerusalem yang terletak di masa depan yang dekat merupakan type dari akhir dunia; dan karena itu
keduanya dicampur-aduk. Karena itu, text tersebut tidak hanya membicarakan
kehancuran Yerusalem ataupun akhir dunia ini; itu membicarakan keduanya - kadang-kadang
membicarakan yang terakhir dengan istilah-istilah dari yang terdahulu. ...
Dalam pembicaraan / pelajaran ini Yesus kelihatannya menggambarkan
peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan kedatanganNya yang kedua-kalinya
dengan istilah-istilah tentang bangsa Israel dan kehidupan di Yudea.
Tetapi, detail-detail ini tidak boleh ditafsirkan dengan penghurufiahan yang
ketat) - ‘The Bible and The Future’, hal 149.
Anthony A. Hoekema: “Though
the tribulation, persecution, suffering, and trials here predicted are
described in terms which concern Palestine and the Jews, they must not
be interpreted as having to do only with the Jews. Jesus was describing future
events in terms which would be understandable to his hearers, in terms which
had local ethnic and geographic color. We are not warranted, however, in
applying these predictions only to the Jews, or in restricting their occurrence
only to Palestine”
(= Sekalipun kesukaran, penganiayaan, penderitaan, dan ujian yang diramalkan di
sini digambarkan dengan menggunakan istilah-istilah yang berkenaan dengan
Palestina dan Yerusalem, hal-hal itu tidak boleh ditafsirkan sebagai
berkenaan hanya dengan orang-orang Yahudi. Yesus sedang menggambarkan
peristiwa-peristiwa di masa depan dengan menggunakan istilah-istilah yang bisa
dimengerti bagi para pendengarNya, dengan menggunakan istilah-istilah yang
mempunyai warna bangsa dan geografik setempat) - ‘The Bible and The Future’, hal 149.
Yang dimaksud dengan
penggunaan istilah-istilah tentang bangsa Israel dan kehidupan di Yudea dan
berkenaan dengan Palestina dan Yerusalem, adalah bagian-bagian di bawah ini.
Mat 24:9,15-20 - “(9) Pada waktu itu kamu akan diserahkan
supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena namaKu,
... (15) ‘Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus,
menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel - para pembaca hendaklah
memperhatikannya - (16) maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan
diri ke pegunungan. (17) Orang yang sedang di peranginan di atas rumah
janganlah ia turun untuk mengambil barang-barang dari rumahnya, (18) dan orang
yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya. (19)
Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu.
(20) Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim
dingin dan jangan pada hari Sabat”.
Anthony A. Hoekema: “We
conclude, then, that the sign of tribulation is not restricted to the end-time,
but characterizes the entire age between Christ’s two comings. ... On the basis
of Jesus’ words in Matthew 24:21-30, however, it would appear that there will
also be a final, climactic, tribulation just before Christ returns” (= Maka kami menyimpulkan bahwa tanda
masa kesukaran besar ini tidaklah dibatasi pada akhir jaman, tetapi menjadi
ciri / karakter dari seluruh jaman di antara dua kedatangan Kristus. ... Tetapi
berdasarkan kata-kata Yesus dalam Mat 24:21-30, kelihatannya juga akan ada
suatu kesukaran terakhir yang merupakan klimax, persis sebelum Kristus kembali) - ‘The Bible and The Future’, hal 150-151.
Louis Berkhof mengatakan
bahwa tidak diragukan bahwa kata-kata Yesus dalam Mat 24 ini mendapatkan
‘penggenapan sebagian’ dalam peristiwa kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M.,
tetapi kata-kata Yesus ini akan mendapatkan ‘penggenapan lebih lanjut /
sepenuhnya’ di masa yang akan datang dimana akan terjadi masa kesukaran yang
jauh melebihi apapun yang pernah dialami / pernah terjadi (Mat 24:21 Mark 13:19).
Anthony A. Hoekema: “The
sign of tribulation, like the other signs of times already discussed, does not
enable us to date the Second Coming of Christ with exactness. The people of God
must suffer tribulation throughout this era; when the final, intensified form
of this tribulation will occur is hard to say” (= Tanda kesukaran, seperti tanda-tanda
jaman yang lain yang sudah dibicarakan, tidak memampukan kita untuk mengetahui
kapan persisnya kedatangan Kristus yang kedua-kalinya itu akan terjadi. Umat
Allah harus menderita kesukaran dalam sepanjang jaman ini; kapan bentuk
kesukaran terakhir dan yang meningkat itu akan terjadi sukar untuk dikatakan) - ‘The Bible and The Future’, hal 151.
Anthony A. Hoekema: “In
any event, this sign should put us all on guard. When Christians suffer tribulation
or persecution, this is to be recognized as a sign of the approaching return of
Christ. The question is, Is our faith strong enough to withstand tribulation?” (= Bagaimanapun juga, tanda ini harus
membuat kita semua berjaga-jaga. Pada waktu orang-orang kristen menderita
kesukaran atau penganiayaan, ini harus dikenali sebagai suatu tanda dari
mendekatnya kembalinya Kristus. Pertanyaannya, Apakah iman kita cukup kuat
untuk menahan kesukaran?) - ‘The Bible and The Future’, hal 151.
Penerapan: kalau sekarang, hanya pada waktu mengalami
kesukaran yang relatif kecil saja iman kita sudah goncang, dan kita sudah
mundur dari Tuhan, bagaimana kalau nanti masa kesukaran besar (the great tribulation) itu terjadi?
2. Masa penyesatan / kemurtadan besar (the great apostasy).
a. Terjadinya masa penyesatan / kemurtadan besar
(the great apostasy) bisa disebabkan karena terjadinya masa
kesukaran besar (the great tribulation), tetapi juga karena
munculnya banyak nabi-nabi palsu, dan Mesias / Kristus palsu, yang akan menyesatkan
banyak orang dengan mujijat-mujijat palsu mereka.
Mat 24:9-10,24 - “(9) Pada waktu itu kamu akan diserahkan
supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena
namaKu, (10) dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan
dan saling membenci. ... (24) Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu
akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan
mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang
pilihan juga”.
Anthony A. Hoekema: “Since,
as we have seen, Jesus in this discourse speaks both of the impending
destruction of Jerusalem and of the end-time - often of the latter in terms of
the former - we may conclude that these words describe apostasies associated with
both of the events just mentioned” (= Karena, seperti yang telah kita lihat, Yesus dalam
pembicaraan ini berbicara baik tentang kehancuran Yerusalem yang
mendatang maupun tentang akhir jaman - sering tentang yang terakhir
dengan menggunakan istilah-istilah tentang yang terdahulu - kita bisa
menyimpulkan bahwa kata-kata ini menggambarkan kemurtadan berhubungan dengan
kedua peristiwa yang baru dibicarakan) - ‘The Bible and The Future’, hal 152.
b. Tentang masa penyesatan / kemurtadan besar (the great apostasy) itu, Paulus membicarakannya dalam:
·
2Tes 2:3 - “Janganlah
kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga!
Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan
dahulu manusia durhaka, yang harus binasa”.
·
1Tim 4:1 - “Tetapi
Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang
akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan”.
·
2Tim 3:1-5 - “(1)
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. (2)
Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan
membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan
berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan
agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang,
tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (4) suka mengkhianat,
tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada
menuruti Allah. (5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi
pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”.
Paulus pasti sudah melihat
kemurtadan itu pada jamannya, tetapi jelas bahwa ia menunjukkan bahwa akan
datang suatu kemurtadan yang jauh lebih besar pada akhir jaman.
c. Orang-orang yang disesatkan / murtad adalah
orang-orang dari kalangan Kristen, tetapi bukan orang kristen yang sejati.
Sedangkan orang kristen yang sejati akan dijaga oleh Tuhan sehingga tidak akan
disesatkan. Itu bisa terlihat dari banyak ayat seperti:
·
Mat 24:24 - “Sebab
Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan
tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan
orang-orang pilihan juga”.
Kata-kata
‘sekiranya mungkin’ menunjukkan bahwa hal itu
tidak mungkin terjadi. Mengapa tidak mungkin? Bukan karena kehebatan dari
orang-orang pilihan / orang-orang kristen itu sendiri, tetapi karena campur
tangan dari Tuhan.
Bdk. Mat 24:21-22 - “(21) Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan
yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang
dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak
dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan
tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat”.
·
Yoh 8:31 - “Maka
kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu
tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu”.
·
Yoh 10:27-29 - “(27)
Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka
mengikut Aku, (28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka
pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut
mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih
besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari
tangan Bapa”.
·
1Yoh 2:18-19 - “(18)
Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu
dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak
antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang
terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak
sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk
pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu
terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh
termasuk pada kita”.
Ayat-ayat di atas ini
menjamin bahwa tidak akan ada orang kristen yang sejati yang murtad, dan
sekaligus menjamin bahwa keselamatan tidak bisa hilang!
d. Penyesatan dan kemurtadan itu ada sejak abad
pertama, tetapi menjelang kedatangan Kristus yang kedua-kalinya akan terjadi
penyesatan dan kemurtadan dengan intensitas yang sangat meningkat.
Anthony A. Hoekema: “In
the New Testament, however, we find predictions both of a continuing or
recurring apostasy from the true worship of God throughout the history of the
church and of a final apostasy which will precede the Parousia” (= Tetapi dalam Perjanjian Baru, kita
mendapati ramalan-ramalan tentang kemurtadan yang terus menerus dan berulang
dari penyembahan yang benar terhadap Allah dalam sepanjang sejarah gereja dan
tentang kemurtadan akhir yang akan mendahului Parousia) - ‘The Bible and The Future’, hal 152.
Anthony A. Hoekema
berpendapat bahwa yang Paulus maksudkan dengan 1Tim 4:1 dan
2Tim 3:1-5 di atas terjadi pada sepanjang jaman antara kedatangan Kristus
yang pertama dan kedatangan Kristus yang kedua-kalinya. Dan memang pada abad
pertama itu saja jelas sudah tercatat adanya kemurtadan dalam Kitab Suci,
seperti dalam Ibr 6:6 Ibr 10:29 2Pet 2:20
1Yoh 2:19 dan sebagainya.
Tetapi tentang
2Tes 2:3-dst itu ia berpendapat bahwa Paulus betul-betul berbicara tentang
masa penyesatan / kemurtadan besar (the great apostasy) yang terjadi menjelang
kedatangan Kristus yang kedua-kalinya.
Ini merupakan sesuatu yang
‘mengerikan’, karena kalau saat ini saja sudah begitu banyak ajaran sesat, nabi
palsu, mujijat-mujijat palsu, dan juga sudah ada begitu banyak orang-orang yang
sesat / murtad, bagaimana keadaan gereja kalau semua ini meningkat?
e. Ini menyebabkan tidak mungkin bagi kita untuk
bisa meramalkan kedatangan Kristus yang kedua-kalinya dengan persis dari tanda
ini.
Anthony A. Hoekema: “As
in the case of the other signs of the times, neither is this a sign which
enables us to date Christ’s Second Coming with exactness. Certainly there has
been apostasy in the church since New Testament times; undeniably there is
apostasy in the church now. ... Yet who is to say exactly when or how the final
apostasy will come? It may come very soon, or it may still be years away - we
must be always ready, praying for grace that we may continue to stand fast in
the faith”
(= Seperti dalam kasus dari tanda-tanda jaman yang lain, tanda inipun tidak
memampukan kita untuk mengetahui saat kedatangan Kristus yang kedua-kalinya
dengan tepat. Pasti sudah ada penyesatan / kemurtadan dalam gereja sejak jaman
Perjanjian Baru; dan tidak bisa disangkal juga ada penyesatan / kemurtadan
dalam gereja saat ini. ... Tetapi siapa yang bisa mengatakan dengan tepat kapan
atau bagaimana penyesatan / kemurtadan akhir itu akan datang? Itu bisa datang
segera, atau masih bertahun-tahun lagi - kita harus selalu siap sedia, berdoa
untuk kasih karunia supaya kita bisa terus berdiri teguh dalam iman) - ‘The Bible and The Future’, hal 153-154.
3. Kedatangan sang Anti Kristus.
a. Definisi dari ‘Anti Kristus’.
William E. Cox: “According
to Greek lexicons ‘anti’ not only means to oppose Christ, it also means ‘for,
instead of’ Christ (the anointed One). When antichrist comes he will claim that
he is the Messiah and that this is his (Messiah’s) second advent. He will
oppose Christ while acting as Christ” [= Menurut lexicon-lexicon bahasa Yunani kata ‘anti’ tidak
hanya berarti menentang Kristus, itu juga berarti ‘menggantikan, sebagai ganti’
Kristus (Orang yang diurapi). Pada saat Anti Kristus datang ia akan mengclaim
bahwa ia adalah sang Mesias dan bahwa ini adalah kedatanganNya (dari Mesias)
yang kedua. Ia akan menentang Kristus sementara bertindak sebagai / seperti
Kristus]
- ‘Biblical Studies in Final Things’, hal 109.
b. Ayat-ayat Kitab Suci yang membicarakan Anti Kristus.
·
Dalam Perjanjian Lama sebetulnya sudah ada ayat-ayat yang membicarakan
Anti Kristus, yaitu:
*
Dan 7:8,23-26 - “(8)
Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu
tanduk lain yang kecil, sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu
tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut
yang menyombong. ... (23) Maka demikianlah katanya: Binatang yang keempat itu
ialah kerajaan yang keempat yang akan ada di bumi, yang akan berbeda dengan
segala kerajaan dan akan menelan seluruh bumi, menginjak-injaknya dan
meremukkannya. (24) Kesepuluh tanduk itu ialah kesepuluh raja yang muncul dari
kerajaan itu. Sesudah mereka, akan muncul seorang raja; dia berbeda dengan
raja-raja yang dahulu dan akan merendahkan tiga raja. (25) Ia akan mengucapkan
perkataan yang menentang Yang Mahatinggi, dan akan menganiaya orang-orang kudus
milik Yang Mahatinggi; ia berusaha untuk mengubah waktu dan hukum, dan mereka
akan diserahkan ke dalam tangannya selama satu masa dan dua masa dan setengah
masa. (26) Lalu Majelis Pengadilan akan duduk, dan kekuasaan akan dicabut dari
padanya untuk dimusnahkan dan dihancurkan sampai lenyap”.
*
Dan 11:35-39 - “(35)
Sebagian dari orang-orang bijaksana itu akan jatuh, supaya dengan demikian
diadakan pengujian, penyaringan dan pemurnian di antara mereka, sampai pada
akhir zaman; sebab akhir zaman itu belum mencapai waktu yang telah ditetapkan.
(36) Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan
membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi
segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia
akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan
terjadi. (37) Juga para allah nenek moyangnya tidak akan diindahkannya; baik
pujaan orang-orang perempuan maupun allah manapun juga tidak akan
diindahkannya, sebab terhadap semuanya itu ia akan membesarkan diri. (38)
Tetapi sebagai ganti semuanya itu ia akan menghormati dewa benteng-benteng:
dewa yang tidak dikenal oleh nenek moyangnya akan dihormatinya dengan membawa
emas dan perak dan permata dan barang-barang yang berharga. (39) Dan ia akan
bertindak terhadap benteng-benteng yang diperkuat dengan pertolongan dewa asing
itu. Siapa yang mengakui dewa ini akan dilimpahi kehormatan; ia akan membuat
mereka menjadi berkuasa atas banyak orang dan kepada mereka akan dibagikannya tanah
sebagai upah”.
Sekalipun kedua nubuat ini
sudah digenapi dalam diri raja Syria / Aram yang bernama Antiochus Epiphanes,
tetapi Anthony A. Hoekema mengatakan (hal 154-155) bahwa kebanyakan
penafsir menganggap bahwa kedua nubuat ini juga merupakan penggambaran dari
sang Anti Kristus yang dibicarakan dalam Perjanjian Baru. Ia bahkan mengatakan
bahwa ada penafsir Reformed, yaitu E. J. Young yang menganggap bahwa
Dan 11:36 sama sekali tidak menunjuk kepada Antiochus Epiphanes, tetapi
semata-mata kepada sang Anti Kristus.
Bahwa nubuat Daniel ini
mempunyai penggenapan lain setelah digenapi dalam diri Antiochus Epiphanes
merupakan sesuatu yang jelas dari kata-kata Yesus dalam Mat 24:15-16 - “(15) ‘Jadi apabila kamu melihat
Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh
nabi Daniel - para pembaca hendaklah memperhatikannya - (16) maka
orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan”.
Pada saat Yesus mengucapkan
kata-kata ini, peristiwa Antiochus Epiphanes itu sudah terjadi, dan itu
membuktikan bahwa nubuat Daniel itu pasti mempunyai penggenapan lanjutan / yang
lebih jauh dari pada sekedar dalam diri Antiochus Epiphanes. Penggenapan yang
kedua jelas terjadi pada diri Titus yang menghancurkan Yerusalem pada tahun 70
M. dan karena kita telah mempelajari bahwa kata-kata Yesus dalam Mat 24 itu
mencakup kehancuran Yerusalem maupun akhir jaman, maka kita bisa mengharapkan
akan adanya penggenapan ketiga dari nubuat Daniel itu, yaitu dalam diri sang
Anti Kristus.
Anthony A. Hoekema: “both
Antiochus Epiphanes and Titus were types of the antichrist who is to come” (= baik Antiochus Epiphanes maupun Titus
merupakan TYPE-TYPE dari Anti Kristus yang akan datang) - ‘The Bible and The Future’, hal 156.
·
Istilah ‘Anti Kristus’ muncul hanya dalam surat Yohanes, yaitu dalam:
*
1Yoh 2:18,22 - “(18)
Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu
dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak
antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang
terakhir. ... (22) Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa
Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal
baik Bapa maupun Anak”.
*
1Yoh 4:3 - “dan
setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah
roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan
sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.
*
2Yoh 7 - “Sebab
banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa
Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan
antikristus”.
Istilah ‘Anti Kristus’ ini
menunjuk kepada orang-orang yang menyamar sebagai Kristus tetapi sebetulnya
menentang Kristus. Dan dari kata-kata Yohanes ini, khususnya dalam 1Yoh 2:18,
kelihatannya sekalipun pada jamannya sudah ada banyak anti Kristus, tetapi
mereka semua hanyalah semacam pendahulu, dan masih akan datang seorang Anti
Kristus yang tertinggi (The Anti Christ).
Anthony A. Hoekema: “We
can thus expect to continue to find antichristian powers and persons in every
era of the church of Jesus Christ until his Second Coming. This sign of the
times, therefore, like the others, is one that marks the entire era of the
church between Christ’s two comings, and one that has relevance for the church
today. We must be constantly on our guard against antichrists, and against
antichristian teachings and practices” (= Maka kita bisa mengharapkan untuk terus menerus
mendapati kekuatan-kekuatan dan pribadi-pribadi yang anti Kristen dalam setiap
jaman dari gereja Yesus Kristus sampai kedatanganNya yang kedua-kalinya. Karena
itu, tanda jaman ini, sama seperti yang lainnya, adalah tanda yang menandai
seluruh jaman dari gereja di antara dua kedatangan Kristus, dan merupakan tanda
yang berhubungan dengan gereja pada saat ini. Kita harus selalu berjaga-jaga
terhadap Anti Kristus - Anti Kristus, dan terhadap ajaran-ajaran dan
praktek-praktek anti Kristen) - ‘The Bible and The Future’, hal 158.
·
Dalam bagian Kitab Suci lain (selain surat Yohanes), sekalipun istilah
‘Anti Kristus’ itu tidak digunakan, tetapi ajaran tentang Anti Kristus itu
jelas ada. Mari kita perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
*
Mat 24:5,24 - “(5)
Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaKu dan berkata: Akulah Mesias,
dan mereka akan menyesatkan banyak orang. ... (24) Sebab Mesias-mesias palsu
dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang
dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan
orang-orang pilihan juga”.
*
2Tes 2:3-12 - “(3)
Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun
juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah
dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan
yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai
Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.
(5) Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu,
ketika aku masih bersama-sama dengan kamu? (6) Dan sekarang kamu tahu apa yang
menahan dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah
ditentukan baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja,
tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah
disingkirkan, (8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan
dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan
memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. (9) Kedatangan si pendurhaka
itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib,
tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya
jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan
mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya
Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan
dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan
yang suka kejahatan”.
Catatan: Perhatikan kata-kata dalam ay 4 yang saya beri garis
bawah ganda, dan perhatikan kemiripannya dengan kata-kata dalam Dan 11:36 di
atas.
Anthony A. Hoekema
menganggap bahwa text dalam 2Tes 2 ini merupakan ajaran Perjanjian Baru
yang paling jelas tentang sang Anti Kristus.
Anthony A. Hoekema: “Needless
to say, this demand to be worshipped on the part of the man of lawlessness will
involve severe persecution for God’s true people, who will refuse this demand.
This will then be the ‘great tribulation’ predicted by our Lord. In other
words, the climactic intensification of the tribulation which is one of the
signs of the times will coincide with the appearance of the man of lawlessness” (= Tak perlu dikatakan, tuntutan untuk
disembah dari manusia durhaka ini akan melibatkan penganiayaan yang hebat bagi
umat Allah yang sungguh-sungguh, yang akan menolak tuntutan ini. Maka ini akan
merupakan ‘masa kesukaran besar’ yang telah dinubuatkan oleh Tuhan kita. Dengan
kata lain, klimax dari peningkatan kesukaran yang merupakan salah satu tanda
jaman akan bertepatan dengan pemunculan dari manusia durhaka) - ‘The Bible and The Future’, hal 160.
*
Wah 13:1-18 - “(1)
Lalu aku melihat seekor binatang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan
berkepala tujuh; di atas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada
kepalanya tertulis nama-nama hujat. (2) Binatang yang kulihat itu serupa dengan
macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa.
Dan naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya
yang besar. (3) Maka tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena
luka yang membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu
sembuh. Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu. (4) Dan mereka
menyembah naga itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan
mereka menyembah binatang itu, sambil berkata: ‘Siapakah yang sama seperti
binatang ini? Dan siapakah yang dapat berperang melawan dia?’ (5) Dan kepada
binatang itu diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; kepadanya
diberikan juga kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya. (6) Lalu
ia membuka mulutnya untuk menghujat Allah, menghujat namaNya dan kemah
kediamanNya dan semua mereka yang diam di sorga. (7) Dan ia diperkenankan untuk
berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya
diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. (8) Dan semua
orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya
tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba,
yang telah disembelih. (9) Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (10)
Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan
untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di
sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus. (11) Dan aku melihat seekor
binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba
dan ia berbicara seperti seekor naga. (12) Dan seluruh kuasa binatang yang
pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan
semua penghuninya menyembah binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh.
(13) Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api
dari langit ke bumi di depan mata semua orang. (14) Ia menyesatkan mereka yang
diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk
dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam
di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka
oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. (15) Dan kepadanya diberikan kuasa
untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu
berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak
menyembah patung binatang itu, dibunuh. (16) Dan ia menyebabkan, sehingga
kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba,
diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, (17) dan tidak seorangpun
yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu,
yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. (18) Yang penting di sini ialah
hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang
itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah
enam ratus enam puluh enam”.
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 5 Oktober 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
c. Siapakah Anti Kristus itu?
Dari semua ayat-ayat Kitab
Suci di atas bisa disimpulkan bahwa:
·
Anti Kristus itu sudah ada pada jaman rasul Paulus dan Yohanes.
·
Anti Kristus itu akan mencapai kekuatan puncaknya pada saat-saat
mendekati akhir jaman.
·
Daniel menggambarkan Anti Kristus itu dalam dunia politik, Paulus
menggambarkannya dalam dunia Gereja, dan Yohanes dalam keduanya.
·
Mungkin kekuatan Anti Kristus itu akhirnya akan terkonsentrasi dalam
seorang pribadi, perwujudan dari semua kejahatan.
Hal ini, yaitu apakah akan
muncul seorang pribadi yang merupakan sang Anti Kristus, sangat diperdebatkan.
Sebagian orang menganggap bahwa Anti Kristus itu bukan pribadi, tetapi hanya
merupakan penggambaran dari orang-orang jahat dan prinsip-prinsip yang
menentang kekristenan, yang terus-menerus menentang Allah dan KerajaanNya dalam
sepanjang jaman, kadang-kadang melemah dan kadang-kadang menguat, tetapi
mendekati akhir jaman akan sangat menguat. Tetapi sebagian lain menganggap
bahwa sang Anti Kristus itu nanti pasti adalah seorang pribadi. Pandangan kedua
ini lebih umum, dan menurut Louis Berkhof pandangan kedua inilah yang merupakan
pandangan yang Alkitabiah.
Alasannya:
*
penggambaran Anti Kristus dalam kitab Daniel itu kelihatannya menunjuk
kepada satu pribadi.
*
Paulus, dalam 2Tes 2:3, menyebut sang Anti Kristus itu dengan sebutan ‘the man of sin’ (= manusia dosa / durhaka) dan ‘the son of
perdition’ (=
anak kebinasaan / neraka), dan seluruh kontext menunjukkan bahwa sang Anti
Kristus itu adalah seorang pribadi.
2Tes 2:3 - “Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan
orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah
datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang
harus binasa”.
KJV: ‘and that
man of sin be revealed, the son of perdition’ (= dan bahwa manusia dosa / durhaka dinyatakan, anak
kebinasaan / neraka).
*
sekalipun rasul Yohanes berbicara tentang banyak Anti Kristus yang
sudah muncul pada jamannya, ia tetap berbicara tentang akan datangnya ‘seorang Anti Kristus’ (1Yoh 2:18).
*
dalam kitab Wahyu, binatang yang dibicarakan oleh Yohanes dalam
Wah 13 itu, terlihat sebagai seorang pribadi, yang akhirnya dimasukkan ke
neraka.
Wah 19:20 - “Maka tertangkaplah binatang itu
dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di
depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima
tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya
dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang”.
Wah 20:10 - “dan Iblis, yang menyesatkan mereka,
dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan
nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.
*
karena Kristus adalah seorang pribadi, maka adalah sesuatu yang wajar
kalau sang Anti Kristus itu juga adalah seorang pribadi.
William E. Cox: “Antichrist
might be defined as a demonic-human adversary of Christ who will appear before
the second advent as the last oppressor and persecutor of Christians” (= Anti Kristus bisa didefinisikan
sebagai musuh Kristus yang merupakan manusia-setan, yang akan muncul sebelum
kedatangan yang kedua-kalinya sebagai penindas dan penganiaya terakhir dari
orang-orang kristen) - ‘Biblical Studies in Final Things’, hal 108.
Louis Berkhof mengatakan
(hal 702) bahwa dalam sejarah ada banyak pandangan tentang siapa sang Anti
Kristus itu.
¨
Dalam Gereja mula-mula ada anggapan bahwa Anti Kristus itu adalah
seorang Yahudi, yang berpura-pura menjadi Mesias / Kristus, dan memerintah di
Yerusalem.
¨
Banyak penafsir menganggap bahwa Paulus memaksudkan seorang kaisar
Romawi sebagai Anti Kristus.
¨
Juga ada penafsir-penafsir yang menganggap, berdasarkan Wah 13:18,
bahwa rasul Yohanes memaksudkan kaisar Nero sebagai Anti Kristus.
¨
Pada jaman Reformasi banyak orang Kristen Protestan yang beranggapan
bahwa kepausan Roma, adalah Anti Kristus itu. Bahkan ada yang beranggapan bahwa
Paus-Paus tertentu adalah Anti Kristus itu.
Anthony A. Hoekema
menambahkan (hal 161) bahwa ada orang-orang yang menganggap Stalin dan Hitler
sebagai Anti Kristus.
Anthony A. Hoekema: “when
people in the past identified certain individuals as the antichrist, they were
not entirely wrong, since there have been manifestations of antichristian
thought and action throughout the history of the church. Previously, we have
noted that there have been precursors or forerunners of the antichrist, and
that there will continue to be such. ... every age will provide its own
particular form of antichristian activity. But we look for an intensification
of this sign in the appearance of the antichrist shortly before Christ’s
return”
(= pada waktu orang-orang di masa lampau mengidentifikasi orang-orang tertentu
sebagai sang Anti Kristus, mereka tidak sepenuhnya salah, karena memang sudah
ada manifestasi-manifestasi dari pemikiran dan tindakan anti Kristen dalam
sepanjang sejarah Gereja. Sebelumnya, kita telah memperhatikan bahwa sudah ada
pelopor-pelopor dan pendahulu-pendahulu dari sang Anti Kristus, dan akan terus
ada orang-orang seperti itu. ... setiap jaman akan menyediakan bentuk khusus
dari aktivitas anti Kristennya sendiri. Tetapi kita mencari suatu penguatan /
peningkatan dari tanda ini dalam pemunculan dari sang Anti Kristus sebelum
kembalinya Kristus) - ‘The Bible and The Future’, hal 161-162.
Anthony A. Hoekema: “This
sign, too, does not enable us to date the return of Christ with precision. We
simply do not know how the final antichrist will rise or what form his
appearance will take”
(= Tanda ini, juga, tidak memampukan kita untuk menentukan kembalinya Kristus
dengan tepat. Kita tidak tahu bagaimana sang Anti Kristus yang terakhir akan
muncul atau apa bentuk pemunculannya) - ‘The Bible and The Future’, hal 162.
d. Pembahasan Wah 13.
Catatan: ini bukan exposisi lengkap. Yang saya bahas hanya
hal-hal yang berhubungan dengan Anti Kristus, penyaniayaan yang dilakukannya,
dan sikap orang Kristen terhadap hal itu.
William Hendriksen: “This
is, perhaps, the most difficult paragraph in the entire book of Revelation. The
main ideas are clear; the details are obscure” (= Mungkin ini merupakan pasal yang
paling sukar dari seluruh kitab Wahyu. Gagasan-gagasan utamanya jelas; tetapi detail-detailnya kabur) - ‘More Than Conquerors’, hal 148.
Wah 13:1-10 - “(1) Lalu aku melihat seekor
binatang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; di atas
tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama
hujat. (2) Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya
seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga itu memberikan
kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar. (3) Maka
tampaklah kepadaku satu dari kepala-kepalanya seperti kena luka yang
membahayakan hidupnya, tetapi luka yang membahayakan hidupnya itu sembuh.
Seluruh dunia heran, lalu mengikut binatang itu. (4) Dan mereka menyembah naga
itu, karena ia memberikan kekuasaan kepada binatang itu. Dan mereka menyembah
binatang itu, sambil berkata: ‘Siapakah yang sama seperti binatang ini? Dan
siapakah yang dapat berperang melawan dia?’ (5) Dan kepada binatang itu
diberikan mulut, yang penuh kesombongan dan hujat; kepadanya diberikan juga
kuasa untuk melakukannya empat puluh dua bulan lamanya. (6) Lalu ia membuka
mulutnya untuk menghujat Allah, menghujat namaNya dan kemah kediamanNya dan
semua mereka yang diam di sorga. (7) Dan ia diperkenankan untuk berperang
melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya
diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa. (8) Dan semua
orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya
tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba,
yang telah disembelih. (9) Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (10)
Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan
untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di
sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus”.
·
Penafsiran Herman Hoeksema (‘Behold He Cometh’, hal 452-dst) tentang
Wah 13:1-10.
Herman Hoeksema mengatakan
(hal 454) bahwa binatang yang keluar dari dalam laut itu adalah sang Anti
Kristus.
Herman Hoeksema menafsirkan
‘laut’ itu sebagai orang-orang / bangsa-bangsa yang hidup di dunia di bawah
kuasa dosa. Alasannya:
Yes 57:20 - “Tetapi orang-orang fasik adalah
seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan
arusnya menimbulkan sampah dan lumpur”.
Wah 17:15 - “Lalu ia berkata kepadaku: ‘Semua air
yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah
bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa”.
Binatang itu digambarkan
sebagai monster berkepala 7 dan bertanduk 10. Di atas tanduk-tanduknya ada 10
mahkota, dan pada kepalanya ada nama-nama hujat. Herman Hoeksema mengatakan
bahwa penggambaran binatang itu jelas merupakan sesuatu yang bersifat simbolis.
Binatang / monster itu berhubungan dengan binatang-binatang dalam Dan 7.
Herman Hoeksema menyimpulkan
bahwa binatang atau monster dalam Wah 13 itu menyimbolkan kuasa politik
dunia yang sangat besar, bersama-sama dengan pemerintahnya sebagai kepala. Ini
bukan hanya satu negara / bangsa dengan pemerintahnya, tetapi gabungan dari
banyak negara / bangsa. Herman Hoeksema mengatakan bahwa bekas luka yang
membahayakan, tetapi yang telah sembuh menunjuk pada jaman pembangunan menara
Babel (Kej 11), yang sebetulnya merupakan suatu usaha untuk mempersatukan
bangsa-bangsa di dunia. Tetapi pada saat itu usaha itu digagalkan oleh Tuhan
yang mengacaukan bahasa-bahasa mereka. Ini digambarkan dengan luka yang
membahayakan jiwa binatang itu. Tetapi luka itu sekarang telah sembuh, dalam
arti apa yang tadi gagal dilakukan dalam Kej 11, sekarang menjadi kenyataan.
Jangan membayangkan bahwa
negara-negara / bangsa-bangsa akan mempunyai keinginan untuk bebas dari kuasa
binatang itu. Sebaliknyalah yang benar. Sang Anti Kristus itu sangat menarik,
dan seluruh dunia akan senang dengan pemerintahannya (ay 3b-4). Tetapi ada 1
kelompok yang tidak senang, yaitu orang-orang kristen yang sejati (ay 8).
Naga (setan / Iblis)
memberikan kuasa kepada binatang itu (ay 4). Ia anti Allah, Anti Kristus, dan
anti Kristen (ay 5-7). Dan ia diijinkan memerangi orang-orang kudus dan
mengalahkan mereka (ay 7). Ini menunjukkan bahwa Gereja harus mengalami
masa kesukaran besar (the great tribulation). Tetapi ada satu
penghiburan di sini, yaitu bahwa biarpun kuasa binatang itu sangat besar,
tetapi kuasa itu didapatkan dari setan, yang dirinya sendiri mempunyai kuasa
yang terbatas. Jadi, sang Anti Kristus, biarpun sangat berkuasa, tidak
mempunyai kuasa yang tidak terbatas. Kristusnya sendiri tetap jauh melebihinya!
·
Penafsiran William Hendriksen tentang Wah 13:1-10.
Mirip dengan penafsiran
Herman Hoeksema, William Hendriksen mengatakan bahwa ‘laut’ menggambarkan bangsa-bangsa dan
pemerintah-pemerintah mereka, dan ini ia dasarkan pada:
Yes 17:12 - “Wahai! Ributnya banyak bangsa-bangsa,
mereka ribut seperti ombak laut menderu! Gaduhnya suku-suku bangsa,
mereka gaduh seperti gaduhnya air yang hebat!”.
Wah 17:15 - “Lalu ia berkata kepadaku: ‘Semua air
yang telah kaulihat, di mana wanita pelacur itu duduk, adalah
bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa”.
Binatang ini menyimbolkan
kuasa menganiaya dari setan yang diwujudkan dalam semua bangsa dan pemerintahan
dalam dunia sepanjang sejarah. Sekalipun bentuknya bisa berbeda-beda, tetapi
hakekatnya tetap sama, yaitu pemerintahan duniawi yang diarahkan menentang
Gereja.
Binatang ini mempunyai
kemiripan dan perbedaan dengan penggambaran tentang naga dalam Wah 12:3 - “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di
langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh
dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota”.
Jadi, binatang maupun naga /
setan itu sama-sama berkepala 7 dan bertanduk 10, tetapi bedanya adalah bahwa
binatang itu mahkotanya ada pada tanduk-tanduknya, sedangkan naga itu mahkotanya
ada pada kepala-kepalanya. Perbedaan ini menurut dia menunjukkan bahwa naga,
atau Setan, itulah yang memerintah / berkuasa. Rencananya dilaksanakan oleh
pemerintah-pemerintah yang anti Kristen dari dunia ini.
William Hendriksen
menganggap bahwa bekas luka yang membahayakan itu menunjuk pada matinya kaisar
Nero, yang tadinya menganiaya gereja habis-habisan. Pada waktu ia mati (dengan
cara bunuh diri), maka kekaisaran Romawi mendapat luka yang membahayakan itu.
Tetapi lalu muncul kaisar Domitian, dan penganiayaan terhadap orang Kristen
dilanjutkan. Ini digambarkan oleh sembuhnya luka itu.
Tentang ay 8-10, William
Hendriksen berkata: “Let believers wait patiently for this
time of severest tribulation, knowing that all things are included in God’s
decree; ... It is not Satan but God who rules supreme” (= Hendaklah orang-orang percaya
menunggu dengan sabar untuk waktu / masa kesukaran yang paling hebat ini,
karena mengetahui bahwa segala sesuatu tercakup dalam penetapan Allah; ...
Bukan Setan / Iblis, tetapi Allahlah yang adalah pemerintah tertinggi) - hal 147.
·
Penafsiran William Barclay tentang Wah 13:1-10.
Binatang yang keluar dari
laut itu menunjuk pada kekaisaran Romawi, dan sama seperti Herman Hoeksema,
Barclay menghubungkan Wah 13 ini dengan Dan 7.
Binatang itu mempunyai 7
kepala dan 10 tanduk. Ini menggambarkan penguasa-penguasa dan kaisar-kaisar
Roma. Ada 7 kaisar yang dimaksud, yaitu Tiberius (14-37 M), Caligula (37-41 M),
Claudius (41-54 M), Nero (55-68 M), Vespasian (69-79 M), Titus (79-81 M), Domitian
(81-96 M). Barclay menganggap bahwa ke 7 kaisar ini adalah ke 7 kepala dari
binatang ini. Lalu apa arti dari 10 tanduk? Barclay mengatakan bahwa setelah
kematian Nero ada waktu yang pendek dimana terjadi kekacauan. Dalam 18 bulan
ada 3 orang yang berbeda yang menguasai kekaisaran. Mereka adalah Galba, Otho
dan Vitellius. Mereka tidak termasuk dalam daftar 7 kepala, tetapi mereka
termasuk dalam daftar 10 tanduk.
Lalu Barclay menganggap
bahwa nama-nama hujat yang ada pada kepala binatang itu menunjuk pada
gelar-gelar dari para kaisar itu. Setiap kaisar disebut DIVUS atau SEBASTOS,
yang artinya ‘ilahi’. Sering nama ‘God’ / ‘Allah’ atau ‘Son of God’ / ‘Anak Allah’ diberikan kepada kaisar-kaisar itu, dan Nero menyebut
dirinya sendiri ‘Juruselamat dunia’. Juga ada kaisar-kaisar yang menyebut
dirinya ‘Lord’ / ‘Tuhan’. Ini semua jelas merupakan suatu
penghujatan.
Lalu bagaimana pandangan
Barclay tentang luka yang membahayakan yang ada pada salah satu kepala, tetapi
yang sudah sembuh itu? Ia menganggap itu menunjuk kepada Nero, yang telah mati,
tetapi lalu ‘hidup kembali’.
Barclay: “Here
is symbolized the Nero redivivus, or Nero resurrected, legend which the
Christians fused with the idea of Antichrist. ... the Antichrist whom John
expected was the resurrected Nero” (= Di sini disimbolkan Nero redivivus, atau Nero
dibangkitkan, legenda yang digabungkan
dengan gagasan tentang Anti Kristus. ... sang Anti Kristus yang
diharapkan oleh Yohanes adalah Nero yang dibangkitkan) - hal 90,92.
Tentang ay 10, Barclay
mengatakan: “The idea there is that there is no escaping the decree of
God”
(= Gagasan di sini adalah bahwa tidak ada kemungkinan untuk lolos dari
ketetapan Allah) - hal 97.
·
Penafsiran Homer Hailey tentang Wah 13:1-10.
Ia mengatakan bahwa ‘laut’ menyimbolkan masyarakat-masyarakat /
bangsa-bangsa dengan pergolakan mereka, dari mana kekaisaran-kekaisaran dunia
muncul.
Binatang ini bertanduk 10
menyimbolkan kekuasaan yang penuh, dan berkepala 7 menyimbolkan kepandaian dan
hikmat yang lengkap. Sedangkan mahkota menunjukkan bahwa ia memerintah.
Kemiripannya dengan gambaran
naga dalam Wah 12:3 menunjukkan bahwa binatang ini sepenuhnya seperti
setan; ia mempunyai sifat dan kwalitet dari setan.
Pada kepalanya ada nama-nama
hujat menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menghormati Allah dan semua yang
keramat / kudus. Seluruh kepandaian, hikmat dan kehendaknya, diarahkan
menentang Allah. Contohnya adalah gelar-gelar ilahi yang digunakan
kaisar-kaisar Romawi terhadap dirinya sendiri.
Binatang ini menyimbolkan
semua oposisi yang anti Allah yang kekerasan yang dibawa terhadap umat Allah.
Tentang luka membahayakan
pada kepala tetapi yang sembuh, ia menafsirkan sama seperti penafsiran Barclay,
bahwa ini menunjuk pada matinya Nero, dan munculnya Domitian, sehingga
seakan-akan Nero hidup kembali.
Orang-orang non kristen akan
mengikuti / menyembah binatang itu. Mereka menolak Kristus yang telah
disembelih dan mati dan bangkit lagi, tetapi mereka sekarang menyembah /
mengikuti binatang, yang kena luka yang membahayakan hidupnya, tetapi yang lalu
sembuh!
Tetapi orang-orang kristen
yang sejati, tidak akan mengikutinya (ay 3b,4,8). Ini akan menyebabkan
mereka dianiaya, dan bahkan dibunuh (ay 7). Pada saat itu, orang Kristen
tidak boleh melawan dengan kekerasan (bdk. Mat 26:52 Ro 13:2
1Pet 2:13), tetapi melawannya dengan senjata rohani
(ay 10b bdk. 2Kor 10:3-5 Ef 6:10-18 1Yoh 5:4). Dan perlu diingat bahwa hal
tersebut tidak mungkin bisa dihindarkan (ay 10).
Mat 26:52 - “Maka kata Yesus kepadanya: ‘Masukkan
pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang,
akan binasa oleh pedang”.
Ro 13:2 - “Sebab itu barangsiapa melawan
pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan
mendatangkan hukuman atas dirinya”.
1Pet 2:13 - “Tunduklah, karena Allah, kepada semua
lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi”.
2Kor 10:3-5 - “(3) Memang kami masih hidup di dunia,
tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, (4) karena senjata kami dalam
perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi
dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. (5) Kami
mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh
keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala
pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus”.
Ef 6:10-18 - “(10) Akhirnya, hendaklah kamu kuat di
dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. (11) Kenakanlah seluruh perlengkapan
senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; (12)
karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan
pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu
dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (13) Sebab itu ambillah
seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan
pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala
sesuatu. (14) Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan
berbajuzirahkan keadilan, (15) kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan
Injil damai sejahtera; (16) dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman,
sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si
jahat, (17) dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman
Allah, (18) dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam
Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak
putus-putusnya untuk segala orang Kudus”.
1Yoh 5:4 - “sebab semua yang lahir dari Allah,
mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”.
·
Penafsiran Leon Morris (Tyndale) tentang Wah 13:1-10.
Leon Morris mengatakan bahwa
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa pada akhir jaman akan muncul kuasa kejahatan
secara khusus (1Yoh 2:18 2Tes 2:3). Dan
dalam kitab Wahyu ini Yohanes menyatakan hal itu dalam bentuk ‘binatang yang
keluar dari laut’ ini. Ia berhubungan sangat dekat dengan setan dan boleh
dikatakan merupakan inkarnasi dari setan. Banyak penafsir modern yang
menghubungkan binatang ini dengan kekaisaran Romawi, tetapi Leon Morris
menganggap ini terlalu sederhana. Memang dalam kekaisaran Romawi ada
manifestasi awal dari kejahatan tetapi pada akhir jaman ini akan diwujudkan
sepenuhnya dalam diri sang Anti Kristus.
Leon Morris menganggap bahwa
‘laut’ dihubungkan dengan kejahatan.
Ia juga mengatakan bahwa
text ini sangat sedikit bicara tentang ‘naga’ / setan (ay 4), dan ini
menunjukkan cara kerja setan. Ia selalu ada di latar belakang, dan tidak
bekerja secara terang-terangan, tetapi melalui manusia.
Tentang siapa binatang itu,
Leon Morris mengambil tafsiran William Hendriksen, yang mengatakan bahwa
binatang itu adalah pemerintahan duniawi yang menentang Gereja.
Leon Morris menekankan bahwa
binatang itu diberi kuasa untuk melakukan hal itu 42 bulan lamanya. Ini
menunjukkan bahwa Allah membatasi dia, dan ia hanya bisa mempunyai kuasa selama
Allah mengijinkannya.
Leon Morris (Tyndale): “Even
the horrible and irresistible beast can exercise authority only during the time
God permits. The saints are encouraged by the thought that the duration of
their suffering has already been determined by God. It is not the beast who
decides this point”
(= Bahkan binatang yang mengerikan dan tidak bisa ditahan ini bisa menjalankan
otoritas hanya selama waktu yang diijinkan oleh Allah. Orang-orang kudus
dikuatkan / diberi semangat oleh pemikiran bahwa waktu dari penderitaan mereka
telah ditentukan oleh Allah) - hal 168.
Leon Morris juga menyoroti
kata ‘diperkenankan’ (ay 7). Leon Morris
mengatakan bahwa dalam bahasa Inggris digunakan kata ‘was given’ (= diberikan) muncul 4 x dalam ay 5-7, dan ini menunjukkan bahwa “even
the antichrist can function only by divine permission” (= bahkan sang Anti Kristus bisa bekerja
hanya oleh ijin ilahi) - hal 169.
Leon Morris juga menyoroti
kata-kata ‘kepadanya
diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa’. Ia mengatakan bahwa di
sini ada yang lebih dari penganiayaan pada jaman kaisar Nero, karena yang itu
tidak bersifat universal.
Leon Morris juga menekankan
kata-kata ‘setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak
dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba’ (ay 8), dan lalu mengatakan
sebagai berikut: “But
the significant thing is that their names are not written in the book of life. John
wants his little handful of persecuted Christians to see that the thing that
matters is the sovereignty of God, not the power of evil. When a man’s name
is written in the book of life he will not be forgotten. His place is secure” (= Tetapi hal yang penting adalah bahwa
nama-nama mereka tidak tertulis dalam kitab kehidupan. Yohanes ingin sedikit
orang-orang kristen yang dianiaya itu melihat bahwa hal yang berarti adalah
kedaulatan Allah, bukan kuasa jahat. Kalau nama seseorang tertulis dalam
kitab kehidupan, ia tidak akan dilupakan. Tempat / kedudukannya adalah aman /
pasti) - hal 169.
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Rabu, tgl 14 November 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
Wah 13:11-18 - “(11) Dan aku melihat seekor
binatang lain keluar dari dalam bumi dan bertanduk dua sama seperti anak domba
dan ia berbicara seperti seekor naga. (12) Dan seluruh kuasa binatang yang
pertama itu dijalankannya di depan matanya. Ia menyebabkan seluruh bumi dan
semua penghuninya menyembah binatang pertama, yang luka parahnya telah sembuh.
(13) Dan ia mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, bahkan ia menurunkan api
dari langit ke bumi di depan mata semua orang. (14) Ia menyesatkan mereka yang
diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk
dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam
di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka
oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. (15) Dan kepadanya diberikan kuasa
untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu
berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak
menyembah patung binatang itu, dibunuh. (16) Dan ia menyebabkan, sehingga
kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba,
diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, (17) dan tidak seorangpun
yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu,
yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. (18) Yang penting di sini ialah
hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang
itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah
enam ratus enam puluh enam”.
·
Penafsiran Herman Hoeksema (‘Behold He Cometh’, hal 452-dst) tentang
Wah 13:11-18.
Mulai ay 11 diceritakan
tentang binatang yang kedua. Jelas ada hubungan yang pasti antara kedua
binatang ini. Keduanya bersama-sama membentuk gambaran dari kuasa Anti Kristus
yang penuh dan lengkap. Binatang pertama dalam aspek politik, binatang kedua
dalam aspek agama / religius.
Ini mirip dengan pandangan
Matthew Poole (hal 985) yang mengatakan bahwa penulis-penulis Protestan pada
umumnya menganggap binatang kedua ini sebagai sang Anti Kristus sendiri.
Binatang kedua muncul dari
dalam bumi. Jadi, berbeda dengan binatang pertama yang muncul dari laut yang
bergelora, maka binatang kedua ini muncul dari dalam bumi yang lebih tenang.
Binatang kedua ini kelihatan
seperti domba, menunjukkan bahwa ia kelihatan seperti orang Kristen. Tetapi
pada waktu berbicara ia seperti naga (ay 11), menunjukkan bahwa ia mengajarkan
ajaran sesat. Bdk. Mat 7:15 - “‘Waspadalah
terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti
domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas”.
Jadi, berbeda dengan
binatang pertama yang menindas dengan menggunakan kekuasaan politik, maka
binatang kedua ini menggunakan kata-kata / tipuan / ajaran sesat. Ia tidak
memaksa, tetapi meyakinkan. Ia juga menggunakan tanda-tanda dan mujijat-mujijat
(ay 13-15).
Tentang ay 13 yang
mengatakan bahwa binatang itu akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat, Matthew
Poole mengatakan: “Prophets were to be judged true or false
not from any signs or wonders which they did, but from the doctrine they
taught”
(= Nabi-nabi harus dinilai benar atau palsu bukan dari tanda-tanda dan
mujijat-mujijat apapun yang mereka lakukan, tetapi dari doktrin / ajaran yang
mereka ajarkan) - hal 985.
Tuhan memberikan nabi-nabi dan
rasul-rasul kemampuan untuk melakukan mujijat-mujijat (sekalipun tak semua
mereka bisa melakukan mujijat, bdk. Yoh 10:41), untuk membuktikan kebenaran
ajaran mereka.
Bdk. 2Kor 12:12 - “Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa
aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala
kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa”.
Dan setan, yang memang
adalah seorang pemalsu ulung, juga memperlengkapi nabi-nabi palsunya / Anti
Kristusnya dengan kemampuan untuk melakukan mujijat-mujijat palsu!
Jadi, jelas bahwa binatang
kedua ini melambangkan nabi palsu. Bandingkan dengan 2 ayat di bawah ini:
*
Wah 19:20 - “Maka
tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang
telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia
menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah
menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang
menyala-nyala oleh belerang”.
*
Wah 20:10 - “dan
Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang,
yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam
sampai selama-lamanya”.
Dalam kedua text ini jelas
bahwa yang dimaksud dengan ‘binatang’ adalah ‘binatang pertama’ dalam Wah 13, dan yang
dimaksud dengan ‘nabi
palsu’
adalah ‘binatang
kedua’
dalam Wah 13.
Herman Hoeksema menganggap
bahwa binatang kedua ini tidak menunjuk kepada satu pribadi, tetapi pada semua
kuasa dari gabungan filsafat, ilmu pengetahuan, dan agama. Jadi, pada masa yang
akan datang akan muncul suatu agama baru, yang bersifat universal. Semua agama,
pengakuan iman, aliran, sekte akan bergabung menjadi satu. Saya tidak setuju
dengan penafsiran Herman Hoeksema dalam hal ini, dan saya lebih setuju dengan
tafsiran dari William R. Newell (hal 198), yang mengatakan bahwa kedua binatang
ini pasti adalah ‘orang’. Alasannya: keduanya nanti dibuang ke dalam neraka
(Wah 19:20 20:10), dan karena itu
mereka pasti adalah orang.
Herman Hoeksema menganggap
(hal 472) bahwa kalau dikatakan bahwa binatang kedua ini akan melakukan
tanda-tanda dan mujijat-mujijat yang hebat, itu bukan benar-benar
mujijat-mujijat. Menurut saya, penafsirannya di sini ini aneh, dan tidak masuk
akal. Kalau Kristus betul-betul melakukan mujijat-mujijat yang hebat, apakah
mungkin Mesias palsu / sang Anti Kristus tidak betul-betul melakukan
mujijat-mujijat yang hebat?
Anehnya, tentang ay 14b
dimana binatang kedua itu menyuruh mendirikan patung untuk menghormati binatang
pertama, Herman Hoeksema menganggapnya sebagai sesuatu yang hurufiah. Ia tidak
tahu bagaimana binatang kedua bisa menghidupkan patung itu dan menyebabkannya
berbicara.
Lalu tentang ay 15-17
Herman Hoeksema mengatakan bahwa orang-orang yang mau menyembah patung itu akan
diberi tanda, tetapi ia tak tahu apa tanda itu.
·
Penafsiran William Hendriksen tentang Wah 13:11-18.
William Hendriksen: “Two
beasts are described. The first is a monster of indescribable horror. The
second has a harmless appearance and for that very reason is even more
dangerous than the first. The first beast comes up out of the sea. The second
arises from the land. The first is Satan’s hand. The second is the devil’s
mind. The first represents the persecuting power of Satan operating in and
through the nations of this world and their governments. The second symbolizes
the false religions and philosophies of this world” (= Dua binatang digambarkan. Binatang
pertama adalah monster yang sangat menakutkan. Binatang kedua mempunyai
penampilan yang tidak berbahaya, dan karena alasan itu ia bahkan lebih
berbahaya dari binatang yang pertama. Binatang pertama keluar dari laut.
Binatang kedua muncul dari tanah / bumi. Binatang pertama adalah tangan
Iblis. Binatang kedua adalah pikiran Iblis. Binatang pertama mewakili kuasa
Iblis yang menganiaya yang bekerja di dalam dan melalui bangsa-bangsa dari
dunia ini dan pemerintahan mereka. Binatang kedua menyimbolkan agama-agama
palsu dan filsafat-filsafat dari dunia ini) - ‘More Than Conquerors’, hal 144.
William Hendriksen: “we
immediately feel that this monster is the devil’s imitation of the true Lamb of
God”
(= kita langsung merasakan bahwa monster ini adalah tiruan setan tentang Anak
Domba yang benar dari Allah) - ‘More Than Conquerors’, hal 148 (footnote).
William Hendriksen
mengatakan bahwa tanda itu diberikan pada dahi dan tangan kanannya
(ay 16b). Ini ia artikan secara simbolis, bukan hurufiah. Pada dahi
menyimbolkan pikiran / kepercayaan orang itu, dan pada tangan kanannya
menyimbolkan tindakan-tindakan orang itu. Jadi, dari pikiran, kata-kata,
tulisan, dan tindakan seseorang, bisa terlihat bahwa ia anti Kristen. Apapun
tanda itu, yang jelas, dengan adanya tanda itu, akan bisa dibedakan siapa yang
Kristen dan siapa yang bukan. Dan orang Kristen, yang tidak mempunyai tanda itu
tidak bisa melakukan bisnis, membeli kebutuhan hidupnya, dan sebagainya. Mereka
dikucilkan, diejek, dianiaya dan bahkan dibunuh! Pada saat ini terjadi masa
kesukaran besar (the great tribulation) dan sekaligus masa
penyesatan / kemurtadan besar (the great apostasy). Banyak orang Kristen
(KTP) yang murtad. Dan untuk orang kristen yang sejatipun, mereka akan murtad, seandainya
waktunya tidak dipersingkat oleh Tuhan.
Bdk. Mat 24:21-24 - “(21) Sebab pada masa itu akan terjadi
siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai
sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak
dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan
tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. (23)
Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau
Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. (24) Sebab Mesias-mesias palsu dan
nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat
dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan
orang-orang pilihan juga”.
Ini menunjukkan hebatnya
penderitaan orang-orang kristen pada saat itu.
·
Penafsiran Homer Hailey tentang Wah 13:11-18.
Homer Hailey: “A
second beast of the same genus as the first arises to serve the purpose of the
dragon; ... It could be said that the one was to serve as his right hand and
the other as his left”
(= Seekor binatang kedua dari jenis yang sama seperti binatang yang pertama
muncul untuk melayani tujuan dari sang naga; ... Bisa dikatakan bahwa yang satu
melayani sebagai tangan kanannya dan yang lain sebagai tangan kirinya) - ‘Revelation’, hal 292.
Homer Hailey: “This
second beast has the ouward appearance of a docile, probably inoffensive
creature, having two horns like a lamb” (= Binatang yang kedua ini mempunyai penampilan luar dari
makhluk yang jinak, mungkin tidak mengganggu, mempunyai dua tanduk seperti
seekor anak domba) - ‘Revelation’, hal 292.
Kalau dikatakan bahwa
binatang kedua ini berbicara seperti seekor naga, maka artinya bukan bahwa
kata-katanya menakutkan, tetapi bahwa kata-katanya dusta, karena setan memang
bapa segala dusta (Yoh 8:44).
Homer Hailey: “Later
references to him as ‘the false prophet’ (16:13; 19:20; 20:10) indicate that
this beast represents some aspect of false religion, one of the devil’s means
of deceiving and seducing people” [= Keterangan-keterangan belakangan menunjukkan dia sebagai
‘sang nabi palsu’ (16:13; 19:20; 20:10) menunjukkan bahwa binatang ini
menggambarkan / mewakili beberapa aspek dari agama palsu, salah satu cara Iblis
untuk menipu dan membujuk / menggoda manusia] - ‘Revelation’, hal 292.
Bandingkan dengan:
*
Mat 7:15 - “‘Waspadalah
terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba,
tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas”.
*
2Kor 11:14-15 - “(14)
Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat
Terang. (15) Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya
menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal
dengan perbuatan mereka”.
Homer Hailey: “To
the people of John’s day, this beast represented paganism, or the sacerdotal
system of paganism, in one of its most repulsive forms - emperor worship.
However, a representation of this form of paganism probably does not exhaust
its significance, for its spirit is reflected in all forms of false worship
which followed, including the papacy and many other systems of false religion” (= Bagi orang-orang pada jaman Yohanes,
binatang ini menggambarkan kekafiran, atau sistim imamat dari kekafiran, dalam
salah satu bentuk yang paling menjijikkan - penyembahan kaisar. Tetapi
penggambaran dari bentuk kekafiran ini bukanlah satu-satunya arti, karena roh /
semangatnya digambarkan dalam semua bentuk dari penyembahan palsu yang
berikutnya, termasuk kepausan dan banyak sistim agama-agama palsu yang lain) - ‘Revelation’, hal 293.
·
Penafsiran Leon Morris tentang Wah 13:11-18.
Leon Morris (Tyndale): “His
origin in the familiar earth makes him less mysterious than the first which
came from the sea”
(= Asal usulnya dari bumi yang akrab / familiar membuatnya kurang misterius
dari binatang pertama yang keluar dari laut) - hal 171.
Penafsiran Leon Morris
tentang kata-kata ‘dari
dalam laut’
dan ‘dari dalam bumi’ tak terlalu berbeda dengan
penafsiran Herman Hoeksema di atas, dan bagi saya rasanya terlalu abstrak. Ada
penafsiran lain tentang hal ini yang diberikan oleh Pulpit Commentary, hal 334,
yang mengatakan bahwa Yohanes bermaksud untuk menunjukkan sifat universal dari
pencobaan yang menyerang orang-orang kristen. Dunia hanya terbagi atas darat /
bumi dan laut. Satu binatang keluar dari dalam laut dan satunya dari dalam
bumi, menunjukkan bahwa serangan terhadap orang-orang kristen ada di seluruh
dunia!
Leon Morris (Tyndale): “He
is less fearsome than the first” (= Ia kurang menakutkan dibandingkan binatang pertama) - hal 171.
Leon Morris (Tyndale): “‘Like
a lamb’ may indicate a parody of true religion, which is further brought out
later when this beast is described as ‘the false prophet’ (16:13 19:20
20:10)”
[= ‘Seperti anak domba’ mungkin menunjukkan suatu tiruan dari agama yang benar,
yang belakangan ditunjukkan lebih jauh pada waktu binatang ini digambarkan
sebagai ‘sang nabi palsu’ (16:13 19:20 20:10)] - hal 171.
Leon Morris (Tyndale): “‘great
wonders’ (SEMEIA). This noun is sometimes used in Revelation of the visions
John sees (12:1,3 15:1), but a number of
times also for miracles. In this sense it always denotes miracles wrought by
evil powers (so here and in verse 14, 16:14, 19:20), a sharp contrast with the
Fourth Gospel where it is a characteristic word for the miracles of Jesus.
Perhaps this is a further example of the parodying of the good. The term
indicates that the miracles are not aimless wonders. They have deep
significance and are part of Satan’s plan (cf. Mk. 13:22, 2Thes. 2:9). An
example is the making of ‘fire come down from heaven.’ This is not said to have
destroyed the beast’s enemies or the like. It is apparently simply meant to arouse
admiration”
[= ‘tanda-tanda yang dahsyat’ (SEMEIA). Kata benda ini kadang-kadang digunakan
dalam kitab Wahyu tentang penglihatan yang dilihat oleh Yohanes (12:1,3 15:1), tetapi banyak kali juga digunakan
untuk mujijat-mujijat. Dalam arti ini kata itu selalu menunjuk pada
mujijat-mujijat yang dilakukan oleh kuasa-kuasa jahat (demikianlah di sini dan
dalam ay 14, 16:14, 19:20), suatu kontras yang tajam dengan Injil yang keempat
dimana itu merupakan suatu kata yang khas untuk mujijat-mujijat Yesus. Mungkin
ini merupakan suatu contoh lebih lanjut dari peniruan hal-hal yang baik /
benar. Istilah ini menunjukkan bahwa mujijat-mujijat bukanlah tanda-tanda yang
tidak mempunyai tujuan. Mereka mempunyai arti yang dalam dan merupakan bagian
dari rencana Iblis (bdk. Mark 13:22, 2Tes 2:9). Contohnya adalah
‘menurunkan api dari langit’. Ini tidak dikatakan untuk menghancurkan
musuh-musuh dari binatang itu atau sejenisnya. Itu kelihatannya hanya
dimaksudkan untuk membangkitkan kekaguman] - hal 171.
Mark 13:22
- “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka
akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya
mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan”.
2Tes 2:9
- “Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai
rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu”.
Leon Morris (Tyndale): “‘Them
that dwell on the earth’ in this book seems to mean unregenerate mankind ...
The beast can deceive only unbelievers. There is an important spiritual truth
here. If a man serves God with all his heart he will not be taken in by the
empty miracles of the deceiver. But if he turns from God he predisposes himself
to believe the lies of the second beast” (= ‘Mereka yang diam di bumi’ dalam kitab ini kelihatannya
berarti umat manusia yang tidak percaya ... Binatang ini bisa menipu hanya
orang-orang yang tidak percaya. Ada suatu kebenaran penting di sini. Jika
seseorang melayani / menyembah Allah dengan segenap hatinya ia tidak akan
ditipu oleh mujijat-mujijat kosong dari sang penipu. Tetapi jika ia berbalik
dari Allah ia memberikan kecenderungan kepada dirinya sendiri untuk mempercayai
dusta-dusta dari binatang kedua) - hal 172.
Bdk. 2Tes 2:9-12 - “(9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah
pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan
mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap
orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi
kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya
Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya
akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan
kebenaran dan yang suka kejahatan”.
Ay 15: “Dan kepadanya
diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga
patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua
orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh”.
Leon Morris mengatakan bahwa
kalau kalimat ini ditinjau secara gramatika, maka patung yang dihidupkan itulah
yang membunuh orang-orang yang tidak mau menyembahnya. Tetapi ia juga
mengatakan bahwa mungkin di sini ada suatu pergantian subyek, sehingga artinya
menjadi: binatang kedua itulah yang membunuh orang-orang yang tak mau menyembah
patung binatang pertama. Menurut saya tak terlalu jadi soal siapa yang
membunuh. Yang menjadi penekanan adalah bahwa orang-orang yang menolak untuk
menyembah patung itu akan dibunuh.
Leon Morris (Tyndale): “The
choice of right hand or forehead is presumably for conspicuousness. It could
not be hidden. ... The precise significance of the mark is uncertain. ... no
one could engage in trade without the mark. ... It points to a total
prohibition, which would make it impossible for people without the mark to get
even necessities like food. It is thus impossible for those who oppose the
beast even to live”
(= Pemilihan tentang tangan kanan atau dahi mungkin menunjuk pada sesuatu yang
menyolok. Itu tidak bisa disembunyikan. ... Arti yang persis dari tanda itu
tidak pasti. ... tak seorangpun bisa ikut serta dalam perdagangan tanpa tanda
itu. ... Ini menunjuk pada suatu larangan total, yang membuat mustahil bagi
orang-orang tanpa tanda itu bahkan untuk mendapatkan kebutuhan hidup seperti
makanan. Begitu tidak mungkin bagi mereka yang menentang binatang itu bahkan
untuk hidup)
- hal 172-173.
William R. Newell: “Satan’s
Steel trap: ‘Worship My Christ, or Starve!’” (= Jebakan / jerat baja dari Iblis: ‘Sembahlah Kristusku,
atau mati kelaparanlah!’) - hal 192.
Ada 2 hal yang perlu
diperhatikan:
*
tidak bisa mendapatkan makanan ini tidak mungkin diartikan secara
mutlak, karena kalau demikian, akan bertentangan dengan Mat 6:33 - “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.
*
bukankah ay 15 mengatakan bahwa orang-orang yang tak mau menyembah
patung binatang itu dibunuh? Lalu mengapa ay 16-17 mengatakan orang-orang yang
tak mempunyai tanda itu tak bisa membeli atau menjual? William Barclay (hal 98)
mengatakan bahwa hukuman mati itu tak selalu dilaksanakan, tetapi kalaupun
seorang Kristen tidak dihukum mati pada waktu ia menolak untuk menyembah patung
binatang itu, ia tidak akan bisa membeli atau menjual. Jadi, ia akan bangkrut
secara ekonomi.
William Barclay: “It
remains true that the world knows how to bring pressure to bear on those who
will not accept its standards. Often still a man has to choose between material
success and loyalty to Jesus Christ” (= Tetap merupakan sesuatu yang benar bahwa dunia tahu
bagaimana memberi tekanan untuk dipikul kepada mereka yang tidak mau menerima
standardnya. Tetap sering seseorang harus memilih antara kesuksesan secara
materi dan kesetiaan kepada Yesus Kristus) - hal 98.
·
Penafsiran Lenski tentang Wah 13:11-18.
Lenski: “The
dragon stood on the sand of the sea, where the sea and the earth meet, and thus
he has one beast on one side of him, the second on his other side. They are
almost like two arms”
(= Sang naga berdiri di pantai laut, dimana laut dan tanah bertemu, dan dengan
demikian ia mempunyai satu binatang di sisinya dan binatang yang kedua di
sisinya yang lain. Mereka hampir seperti 2 lengan) - hal 403.
Bdk. Wah 12:18 - “Dan ia tinggal berdiri di pantai laut”.
KJV (Rev 13:1): ‘And I stood upon the sand of the sea’ (= Dan aku
berdiri di tanah di pantai).
RSV (Rev 12:17b): ‘And he stood on the sand of the sea’ (= Dan ia
berdiri di tanah di pantai).
NASB (Rev 13:1): ‘And he stood on the sand of the seashore’ (= Dan ia berdiri di tanah di pantai).
NIV (Rev 13:1): ‘And the dragon stood on the shore of the sea’ (= Dan sang naga berdiri di pantai laut).
NIV memberikan footnote /
catatan kaki yang menyatakan bahwa ada manuscripts yang mengatakan ‘And I ...’
(dan aku ...) seperti dalam KJV.
Lenski: “This
wild beast has an innocent, harmless appearance. ... It is not at all like the
other wild beast which appears as a monstrosity with its many heads and many
horns, ... But despite its lamblike little horns this second beast kept
speaking ‘as a dragon,’ ... ‘Like to a lamb’ and ‘as a dragon,’ state the resemblance
in a general though decidedly unmistakable way since we know that Christ is the
Lamb of God and that Satan is the dragon ...” (= Binatang liar ini mempunyai
penampilan yang tidak berdosa, tidak berbahaya. ... Ia sama sekali tidak
seperti binatang liar yang satunya yang kelihatan sebagai monster dengan banyak
kepala dan banyak tanduk, ... Tetapi sekalipun kelihatan seperti anak domba
dengan tanduk yang kecil, binatang kedua ini tetap berbicara ‘seperti seekor
naga’, ... ‘Seperti anak domba’ dan ‘seperti naga’ menyatakan
kemiripan-kemiripan itu dengan suatu cara yang umum tetapi tidak bisa salah,
karena kita tahu bahwa Kristus adalah Anak Domba Allah dan Iblis adalah sang
naga) - hal
403.
·
Penafsiran tentang bilangan 666 dalam Wah 13:18.
Wah 13:18 -
“Yang
penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung
bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan
bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam”.
Catatan: untuk
ay 18 ini ada manuscripts yang menuliskan bukan ‘666’ tetapi ‘616’, tetapi
ini pada umumnya tidak dipercaya.
Apa artinya bilangan ‘666’?
Herman Hoeksema mengatakan bahwa ada suatu metode penafsiran yang sangat
populer tentang hal ini, disebut dengan istilah GEMATRIA, yang dimulai oleh
seorang bapak gereja kuno, yang bernama Irenaeus. Ia mengatakan bahwa
huruf-huruf dari bahasa Yunani digunakan sebagai bilangan.
Memang dalam
bahasa Ibrani maupun Yunani, setiap huruf dalam abjad mempunyai angka
equivalen.
George Eldon Ladd: “Neither
the Greek nor Hebrew tongues used a system of numbers. Instead of numbers, the
letters of the alphabet stood for numbers; e.g. A=1, B=2, C=3, etc.” (= Baik bahasa Yunani maupun bahasa
Ibrani tidak menggunakan suatu sistim bilangan / angka. Sebagai ganti dari
bilangan / angka, huruf-huruf dari alfabet digunakan sebagai bilangan / angka;
misalnya A=1, B=2, C=3, dst) - ‘Revelation’, hal 186.
Dalam bahasa Ibrani, abjad
dan angka-angka equivalennya adalah sebagai berikut:
x - ahleph - 1
b - beth / veth - 2
g - geemel - 3
d - dahleth - 4
h - heh - 5
v - vaw / waw - 6
z - zahyin - 7
H - kheth - 8
F - teht - 9
y - yodh - 10
k - kahf - 20
l - lahmed - 30
m - mem - 40
n - nun - 50
s - sahmekh - 60
f - ahyin - 70
p - peh / feh - 80
c - tsahdee - 90
q - kofh - 100
r - resh - 200
w - sheen - 300
W - seen - 300
t - taw - 400
Catatan: w (sheen) dianggap sama dengan W
(seen).
Dalam bahasa Yunani, abjad
dan angka-angka equivalennya adalah sebagai berikut:
a -
Alpha - 1
b -
Beta - 2
g - Gamma - 3
d -
Delta - 4
e -
Epsilon - 5
z -
Zeta - 6
h - Eta - 7
q -
Theta - 8
i -
Iota - 9
k -
Kappa - 10
l -
Lambda - 20
m - Mu - 30
n - Nu - 40
c - Xi - 50
o -
Omicron - 60
p - Pi - 70
r -
Rho - 80
s -
Sigma - 90
t -
Tau - 100
u -
Upsilon - 200
f -
Phi - 300
x - Chi - 400
y - Psi - 500
w -
Omega - 600
Sedangkan dalam bahasa
Latin, abjad dan angka equivalennya adalah sebagai berikut:
a - 1
b - 2
c - 3
d - 4
e - 5
f - 6
g - 7
h - 8
i - 9
j - 10
k - 20
l - 30
m - 40
n - 50
o - 60
p - 70
q - 80
r - 90
s - 100
t - 200
u - 300
v - 400
w - 500
x - 600
y - 700
z - 800
Leon Morris (Tyndale): “The
problem then is to find a name which gives a total of 666 when the numbers
signifed by its letters are added together” (= Maka problemnya adalah mendapatkann suatu nama yang
memberikan jumlah 666 pada waktu angka-angka yang ditunjuk oleh huruf-huruf
dari nama itu dijumlahkan) - hal 174.
Barclay memberikan
contoh-contoh berdasarkan angka equivalen dari abjad Latin, seperti:
*
Kata LATEINOS (= Latin) ® L=30; A=1; T=300 (bukan
200?); E=5; I=10 (bukan 9?); N=50; O=70 (bukan 60?); S=200 (bukan 100?), dan
jumlahnya = 666. Dan karena itu binatang itu dianggap menunjuk pada Kerajaan
orang-orang Latin, atau kekaisaran Romawi.
*
Kata TEITAN ® T=300 (bukan 200?); E=5;
I=10 (bukan 9?); T=300 (bukan 200?); A=1; N=50, dan jumlahnya = 666.
Barclay: “Teitan
could be made to yield two meanings. First, in Greek mythology the Titans were
the great rebels against God. Second, the family name of Vespasian and Titus
and Domitian was Titus, and possibly they could be called the Titans” (= TEITAN bisa mempunyai dua arti.
Pertama, dalam mitologi Yunani orang-orang Titan adalah pemberontak-pemberontak
terhadap Allah. Kedua, nama keluarga dari Vespasian dan Titus dan Domitian
adalah Titus, dan mungkin mereka bisa disebut ‘the Titans’) - hal 101.
*
Kata ARNOUME ® A=1; R=100 (bukan 90?);
N=50; O=70 (bukan 60?); U=400 (bukan 300?); M=40; E=5, dan jumlahnya = 666.
Barclay: “It
is just possible that ARNOUME could be a form of the Greek word ARNOUMAI, ‘I
deny.’ In this case the number would stand for the denial of the name of
Christ”
(= Juga mungkin bahwa ARNOUME merupakan suatu bentuk dari kata Yunani ARNOUMAI,
‘Aku menyangkal’. Dalam hal ini bilangan / angka itu berarti penyangkalan
terhadap nama Kristus) - hal 101.
Catatan: Jelas bukan abjad Latin biasa yang digunakan,
karena tak cocok. Apakah pada jaman itu abjad Latinnya berbeda? Atau
urut-urutannya berbeda? Saya tidak tahu, dan saya tidak bisa menemukan buku
tafsiran / encyclopedia yang menjelaskan hal ini.
Lenski menganggap (hal
416-417) bahwa bilangan 666 sengaja diubah menjadi 616, untuk menyesuaikan
dengan nama Caligula, yang namanya sebenarnya adalah Cajus Caesar [dalam
Yunani: Gaioj Kaisar (GAIOS KAISAR)]. Kalau huruf-huruf dari
namanya dijumlahkan maka didapatkan bilangan 616. Tetapi dalam hal ini saya
juga tidak mengerti bagaimana huruf-huruf dari nama tersebut dijumlahkan bisa
didapat 616. Dalam perhitungan saya, jumlahnya hanya 354 (3+1+9+60+90 +
10+1+9+90+1+80).
Barclay menceritakan tentang
seseorang yang pada masa perang dunia II, menghitung nama HITLER dengan asumsi
bahwa A = 100, B = 101, C= 102 dst, mendapatkan bilangan 666.
a - 100
b - 101
c - 102
d - 103
e - 104
f - 105
g - 106
h - 107
i - 108
j - 109
k - 110
l - 111
m - 112
n - 113
o - 114
p - 115
q - 116
r - 117
s - 118
t - 119
u - 120
v - 121
w - 122
x - 123
y - 124
z - 125
HITLER = 107 + 108 + 119 +
111 + 104 + 117 = 666.
Barclay: “The
suggestion as to the meaning of 666 are endless. ... everyone has twisted it to
fit his own arch-enemy; and so 666 has been taken to mean the Pope, John Knox,
Martin Luther, Napoleon and many another” (= Usul berkenaan dengan arti dari 666 tak ada akhirnya.
... setiap orang telah membengkokkannya untuk mencocokkan dengan musuh
bebuyutannya; dan dengan demikian 666 telah diartikan sebagai Paus, John Knox,
Martin Luther, Napoleon, dan banyak yang lain) - hal 100.
Barclay menganggap semua
usul-usul di atas itu tidak meyakinkan. Ia yakin bahwa yang dimaksud dengan 666
adalah Kaisar Nero (nama ‘Nero’ bisa dieja ‘Neron’).
Barclay: “None
of these suggestions is convincing. The chapter itself gives us by far the best
clue. There recurs again and again the mention of the head that was wounded to
death and then restored. We have already seen that that head symbolizes the
Nero redivivus legend. We might well, therefore, act on the assumption that the
number has something to do with Nero. Many ancient manuscripts give the number
as 616. If we take Nero in Latin and give it its numerical equivalent, we get:
N=50; E=5; R=500; O=60; N=50. The total is 666; and the name can equally well
be spelled without the final N which would give the number 616. In Hebrew the
letters of Nero Caesar also add up to 666.” (= Tidak ada dari usul-usul ini yang meyakinkan. Pasal itu
sendiri memberikan kepada kita petunjuk yang terbaik. Di sana muncul
berulang-ulang penyebutan tentang kepala yang terluka sehingga membahayakan
hidupnya, tetapi yang lalu sembuh. Kita telah melihat bahwa kepala itu
menyimbolkan legenda tentang Nero yang bangkit kembali. Karena itu, kita bisa
bertindak berdasarkan anggapan bahwa bilangan ini berhubungan dengan Nero.
Banyak manuscripts kuno memberikan bilangan 616. Jika kita mengambil nama Nero
dalam bahasa Latin dan memberikan angka equivalennya, kita mendapatkan N=50;
E=5; R=500; O=60; N=50. Jumlahnya adalah 666; dan nama itu bisa dengan sama
baiknya dieja tanpa huruf N yang terakhir yang akan memberikan bilangan 616.
Dalam bahasa Ibrani huruf-huruf dari Kaisar Nero juga berjumlah 666) - hal 101-102.
Catatan: lagi-lagi saya tidak mengerti dari mana R kok bisa
= 500.
Bruce M. Metzger menduga
bahwa perubahan dari 666 menjadi 616 itu disengaja karena melihat bahwa bentuk
Yunani dari ‘Kaisar Neron’ kalau ditulis dalam huruf-huruf Ibrani berjumlah
666, sedangkan bentuk Latinnya, ‘Kaisar Nero’, berjumlah 616 (‘A Textual Commentary on the Greek New Testament’, hal 750)
Barclay: “There
is little doubt that the number of the beast stands for Nero; and that John is
forecasting the coming of Antichrist in the form of Nero, the incarnation of
all evil, returning to this world” (= Hanya sedikit keraguan bahwa bilangan dari binatang itu
berarti Nero; dan bahwa Yohanes sedang meramalkan kedatangan Anti Kristus dalam
bentuk Nero, inkarnasi dari semua kejahatan, kembali ke dunia ini) - hal 102.
Pulpit Commentary (hal 337)
memberikan penjelasan yang lebih jelas bagaimana bilangan 666 bisa cocok dengan
nama Nero. Ia mengatakan bahwa kalau ‘kaisar Neron’, ditulis dalam bahasa Ibrani
maka didapatkan rsq Nvrn, yang kalau angka equivalennya dijumlahkan
(dari belakang ke depan) adalah: 50+200+6+50 + 100+60+200 = 666.
Catatan:
*
Untuk nama ‘kaisar Nero / Neron’, pada waktu ditulis dalam bahasa
Ibrani, semua huruf hidup dihilangkan, karena bahasa Ibrani tidak mempunyai
huruf hidup.
*
Sebetulnya ada sedikit modifikasi terhadap kata-kata ‘kaisar Neron’
itu, karena tulisan Ibraninya sebenarnya adalah rsyq Nvrn.
Jadi ada huruf Ibrani y
(yod) yang dibuang [lihat Robert H. Mounce (NICNT) hal 264 (footnote) dan Leon
Morris (Tyndale) hal 174].
Saya kira, penafsiran dengan
metode GEMATRIA ini, dimana kita harus mencari nama orang yang jumlah dari
angka equivalennya sama dengan 666, merupakan metode penafsiran yang salah.
Perhatikan kata-kata dari William Hendriksen dan Pulpit Commentary di bawah
ini.
William Hendriksen: “The
attempts to arrive at an interpretation by adding the numerical values in the
name Nero, Plato and so on, lead to nothing just because they lead to
everything”
(= Usaha-usaha untuk sampai pada suatu penafsiran dengan menjumlahkan
angka-angka dalam nama Nero, Plato, dsb, tidak membawa kemana-mana justru
karena mereka membawa kepada segala sesuatu) - ‘More Than Conquerors’, hal 151 (footnote).
Pulpit Commentary: “There
are three rules by the help of which I believe an ingenious man could find the
required sum in any given name. First, if the proper name by itself will not
yield it, add a title; secondly, if the sum cannot be found in Greek, try
Hebrew, or even Latin; thirdly, do not be too particular about the spelling” (= Ada tiga peraturan dengan pertolongan
mana saya percaya seorang yang banyak akal bisa mendapatkan jumlah yang
diinginkan dalam nama apapun yang diberikan. Pertama, jika nama itu sendiri
tidak sesuai, tambahkan suatu gelar; kedua, jika jumlah itu tidak bisa
didapatkan dalam bahasa Yunani, cobalah bahasa Ibrani, atau bahkan bahasa
Latin; ketiga, jangan terlalu teliti tentang ejaan) - hal 337.
Bilangan 666 dibandingkan
dengan 777 dan dengan nama ‘Yesus’ yang berjumlah 888.
Leon Morris (Tyndale): “If
we take the sum of the values represented by the letters of the name IESOUS,
the Greek name of ‘Jesus’, it comes to 888. Each digit is one more than seven,
the perfect number. But 666 yields the opposite phenomenon, for each digit
falls short. The number may be meant to indicate not an individual, but a
persistent falling short. All the more is this likely to be correct if we
translate ‘it is the number of man’ rather ‘a man’. John will then be saying
that unregenerate man is persistently evil. He bears the mark of the beast in
all he does. Civilization without Christ is necessarily under the dominion of
the evil one”
(= Jika kita mengambil jumlah dari nilai-nilai yang digambarkan oleh
huruf-huruf dari nama IESOUS, nama Yunani dari ‘Yesus’, hasilnya adalah 888.
Setiap digit lebih satu angka dari 7, bilangan yang sempurna. Tetapi 666
menghasilkan fenomena yang sebaliknya, karena setiap digit kurang satu.
Bilangan itu bisa dimaksudkan untuk menunjuk bukan pada seorang individu,
tetapi suatu kekurangan yang terus menerus. Lebih-lebih lagi ini memungkinkan
untuk benar jika kita menterjemahkan ‘bilangan itu adalah bilangan manusia’ dan
bukannya ‘seorang manusia’. Jadi, Yohanes mengatakan bahwa orang yang tidak
percaya akan terus menerus jahat. Ia membawa tanda dari binatang itu dalam
semua yang ia lakukan. Kebudayaan tanpa Kristus pasti berada di bawah kekuasaan
si jahat) -
hal 174.
Lagi-lagi saya tidak
mengerti bagaimana menghitungnya kok bisa menjadi 888. Menurut perhitungan saya
nama IESOUS = 9 + 7 + 90 + 60 + 200 + 90 = 456.
George Eldon Ladd mengatakan
(hal 186) bahwa IESOUS = 10 + 8 + 200 + 70 + 400 + 200 = 888. Tetapi bagaimana
bisa berbeda dengan angka equivalen yang saya berikan di atas, saya tidak tahu.
Lenski: “666,
three times falling short of the divine 7. In other words, not 777, but
competing with 777, seeking to obliterate 777, but doing so abortively, its
failure being as complete as was its expansion by puffing itself up from 6 to
666”
(= 666, 3 x kekurangan dari bilangan ilahi 7. Dengan kata lain, bukan 777,
tetapi bersaing dengan 777, berusaha untuk menghapuskan 777, tetapi
melakukannya dengan begitu gagal, kegagalannya begitu sempurna / lengkap sama
seperti perluasan / pengembangannya dengan menggembungkan / menyombongkan
dirinya sendiri dari 6 menjadi 666) - hal 412.
Lenski: “Those
who stamped with ‘666’ are marked as being outside of God’s and Christ’s
kingdom, as being the property of the monster beast, as being the slaves of the
antichristian power that is symbolized by this monstrosity and is thus revealed
as what it really is. The mark they bear, this ‘666,’ is that of complete, and
not merely of partial, opposition of Christ; it marks them as being at war with
Christ, yet at the same time as being doomed to the completest defeat” (= Mereka yang dicap dengan ‘666’
ditandai sebagai berada di luar kerajaan Allah dan Kristus, sebagai milik dari
binatang monster itu, sebagai budak-budak / hamba-hamba dari kuasa Anti Kristus
yang disimbolkan oleh makhluk yang berbentuk monster ini, dan dengan demikian
dinyatakan sebagaimana adanya. Tanda yang mereka miliki, ‘666’ ini, merupakan
oposisi lengkap / sempurna, bukan hanya sebagian, terhadap Kristus; itu
menandai mereka sebagai berperang melawan Kristus, tetapi pada saat yang sama
sebagai ditentukan pada kekalahan yang paling lengkap / sempurna) - hal 412.
Penafsiran Herman Hoeksema
tentang bilangan 666: Ia berkata bahwa 6 merupakan bilangan dari makhluk
ciptaan, karena Allah menciptakan alam semesta / seluruh ciptaan dalam 6 hari.
Tetapi seluruh minggu bukan terdiri dari 6 hari, tetapi 7 hari. Dan hari ke 7
merupakan hari yang dikuduskan untuk digunakan bagi Tuhan untuk kemuliaanNya.
Bahwa di sini digunakan bilangan 6, bukan 7, menunjukkan bahwa ini hanya
membicarakan tentang ciptaan, tetapi tanpa Allah dan tanpa pelayanan / ibadah
kepada Allah, dan juga tanpa usaha untuk memuliakan Allah.
Herman Hoeksema: “The
world with all its fulness, with all its powers, but without God, under the
influence of sin, - that is the symbolism of the number six. Ten ... is the
number that denotes a complete measure of anything according to the decree of
God, ... Ten times six would denote the world and all its fulness, without God,
developed according to the measure of God’s plan. And ten times ten times six
denotes that same development in the highest degree, coming to its fullest
consummation” (=
Dunia dengan seluruh kepenuhannya, dengan seluruh kekuasaannya, tetapi tanpa
Allah, di bawah pengaruh dosa, - itulah yang disimbolkan oleh bilangan 6. 10
... adalah bilangan yang menunjukkan suatu ukuran yang lengkap / sempurna dari
apapun menurut ketetapan Allah, ... 10 x 6 menunjukkan dunia dengan seluruh
kepenuhannya, tanpa Allah, berkembang menurut ukuran rencana Allah. Dan 10 x 10
x 6 menunjukkan perkembangan yang sama dalam tingkat yang tertinggi, mencapai
puncaknya yang paling penuh) - ‘Behold He Cometh’, hal 475-476.
Herman Hoeksema: “The
idea, therefore, is not very difficult. God has created a world, in order that
this world should glorify Him and be consecrated to Him. But that world tore
itself loose from Him, refused to glorify Him; and man now developed the
kingdom of the world without God. ... And that kingdom we have in this
antichristian beast. These beasts represent the highest development of the
sovereignty of man apart from God, developing all the powers of creation
without God and under the devil. It is the climax of development of the Man of
Sin. It is the kingdom of man, of the creature, without God, without the seven”
(= Karena itu,
gagasan / artinya tidak terlalu sukar. Allah telah menciptakan suatu dunia,
supaya dunia ini memuliakan Dia dan dikuduskan bagiNya. Tetapi dunia itu
merobek dirinya sendiri lepas dari Dia, menolak untuk memuliakan Dia; dan
manusia sekarang mengembangkan kerajaan dunia tanpa Allah. ... Dan kerajaan itu
kita dapatkan dalam binatang Anti Kristus ini. Binatang-binatang ini
menggambarkan perkembangan yang tertinggi dari kedaulatan manusia terpisah dari
Allah, mengembangkan semua kuasa-kuasa dari penciptaan tanpa Allah dan di bawah
setan. Itu merupakan klimax dari perkembangan dari manusia durhaka. Itu adalah
kerajaan manusia, dari makhluk ciptaan, tanpa Allah, tanpa sang tujuh) - ‘Behold He Cometh’,
hal 476.
William Hendriksen: “Six,
moreover is not seven and never reaches seven. It always fails to attain to
perfection; that is, it never becomes seven. Six means missing the mark, or
failure. Seven means perfection or victory. Rejoice, O Church of God! The
victory is on your side. The number of the beast is 666, that is, failure upon
failure upon failure! It is the number of man, for the beast glories in man;
and must fail!”
(= 6, lebih-lebih bukan 7 dan tidak pernah mencapai 7. Itu selalu gagal untuk
mencapai kesempurnaan; artinya, itu tidak pernah menjadi 7. 6 berarti gagal
mencapai target, atau kegagalan. 7 berarti kesempurnaan atau kemenangan.
Bersukacitalah, O Gereja Allah! Kemenangan ada di pihakmu. Bilangan dari
binatang itu adalah 666, yaitu, kegagalan di atas kegagalan di atas kegagalan!
Itu adalah bilangan dari manusia, karena binatang itu bermegah dalam manusia;
dan pasti gagal!) - ‘More Than Conquerors’, hal 151.
George Eldon Ladd: “The most we can say is that if the number of the beast is a prophecy of
a future situation, no one yet has solved the meaning of the number, but its
meaning will be plain when the time comes” (= Yang terbaik yang bisa kita katakan
adalah bahwa bilangan dari binatang itu merupakan suatu nubuat dari suatu
situasi yang akan datang, tak seorangpun telah memecahkan arti dari bilangan
itu, tetapi artinya akan menjadi jelas pada saat waktunya tiba) - hal 187.
-o0o-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Rabu, tgl 21 November 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
e. Pembahasan 2Tes 2:1-12.
2Tes 2:1-12 - “(1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus
Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara,
(2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun
oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan
telah tiba. (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang
bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan
haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan
yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai
Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. (5)
Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu, ketika
aku masih bersama-sama dengan kamu? (6) Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan
dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan
baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi
sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan,
(8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan
Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia
datang kembali. (9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan
akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,
(10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa
karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan
mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang
menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang
tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan”.
Ay 1-2: “(1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus
Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara,
(2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun
oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan
telah tiba”.
Apa sebabnya Paulus
mengatakan hal ini? Karena surat 1Tes menyebabkan jemaat Tesalonika menganggap
bahwa hari Tuhan akan segera tiba. Dalam surat 1Tes Paulus berbicara tentang
hari Tuhan / hari kedatangan Yesus yang kedua-kalinya.
1Tes 4:13-5:8 - “(4:13) Selanjutnya kami tidak mau,
saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal,
supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai
pengharapan. (4:14) Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan
telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam
Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. (4:15) Ini kami katakan
kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai
kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah
meninggal. (4:16) Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu
malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun
dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; (4:17)
sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama
dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan
selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. (4:18) Karena itu hiburkanlah seorang
akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini. (5:1) Tetapi tentang zaman dan
masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, (5:2) karena kamu
sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
(5:3) Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman - maka tiba-tiba
mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa
oleh sakit bersalin - mereka pasti tidak akan luput. (5:4) Tetapi kamu,
saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu
tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, (5:5) karena kamu semua adalah
anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau
orang-orang kegelapan. (5:6) Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti
orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. (5:7) Sebab mereka yang tidur,
tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. (5:8) Tetapi kita,
yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih,
dan berketopongkan pengharapan keselamatan”.
Matthew Henry mengatakan
bahwa rupanya hal ini menyebabkan orang-orang Tesalonika mengira bahwa Kristus
akan segera datang kedua-kalinya. Juga rupanya juga muncul orang-orang
yang mengaku mendapatkan petunjuk dari Roh Kudus atau dari Paulus sendiri
tentang kedatangan Kristus itu. Itu sebabnya ia menulis surat 2Tes, khususnya
2Tes 2:1-2 - “(1)
Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia
kami minta kepadamu, saudara-saudara, (2) supaya kamu jangan lekas bingung dan
gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan
dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba”.
KJV: ‘the day of
Christ is at hand’ (= hari Kristus sudah dekat).
RSV: ‘the day of
the Lord has come’ (= hari Tuhan sudah tiba).
Dari sini jelas terlihat
bahwa pemberitaan Firman Tuhan sebaik apapun, bahkan dari seorang rasul seperti
Paulus, bisa menimbulkan tanggapan yang salah dan bahkan penyesatan.
Matthew Henry: “We
have a subtle adversary, who watches all opportunities to do mischief, and will
sometimes promote errors even by means of the words of scripture” (= Kita mempunyai seorang musuh yang
licik / cerdik, yang mengamati semua kesempatan-kesempatan untuk melakukan
kejahatan / kerusakan, dan kadang-kadang akan memajukan / mengembangkan
kesalahan-kesalahan bahkan dengan menggunakan kata-kata / firman dari Kitab
Suci).
Bdk. Mat 4:5-6 - “(5) Kemudian Iblis membawaNya ke Kota
Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, (6) lalu berkata kepadaNya:
‘Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu ke bawah, sebab ada tertulis:
Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya dan mereka akan
menatang Engkau di atas tangannya, supaya kakiMu jangan terantuk kepada batu.’”.
Dalam Mat 4:6 ini,
Iblis mengutip ayat Kitab Suci, dari Maz 91:11-12, tetapi menafsirkannya
secara salah, dan menggunakannya untuk mencobai Yesus! Jadi:
·
Jangan terlalu cepat percaya pada suatu ajaran, hanya karena
pengajarnya memberikan dasar Kitab Suci. Harus diperhatikan apakah dasar Kitab
Sucinya ditafsirkan secara benar atau tidak. Untuk itu semua orang Kristen
memang harus belajar Hermeneutics / ilmu penafsiran Kitab Suci.
·
Banyaklah membaca dan belajar Kitab Suci, supaya otak saudara dipenuhi
ayat-ayat Kitab Suci, yang bisa saudara gunakan untuk menyensor / mengecheck
ajaran yang saudara terima / dengar.
Kesalahan tafsir dari jemaat
Tesalonika ini menyebabkan Paulus menulis bagian ini untuk meluruskan hal itu.
Dan Matthew Henry juga mengatakan bahwa dari fakta bahwa Paulus segera
menanggapi hal itu untuk meluruskannya, dapat disimpulkan bahwa hamba Tuhan
juga harus melakukan hal itu.
Selain kesalahan tafsir
tentang 1Tes, rupanya ada juga hal-hal lain yang menyebabkan jemaat Tesalonika
menganggap Yesus akan segera datang. Hal-hal itu adalah (ay 2):
¨
Ilham roh. Ini mungkin menunjukkan bahwa ada orang-orang yang
berpura-pura mendapatkan ilham dari Roh Kudus, menyampaikan nubuat seolah-olah
nubuat itu datang dari Tuhan, bahwa hari Tuhan sudah dekat.
¨
Pemberitaan. Nabi-nabi palsu itu juga melakukan pengajaran tentang hal
ini.
¨
Surat yang dikatakan dari kami. Kata-kata ‘surat dari kami’
kelihatannya menunjukkan ada pemalsuan. Orang-orang tertentu mengatakan
mendapatkan surat dari Paulus, atau menulis surat yang lalu mereka katakan
berasal dari Paulus. Karena itu dalam 2Tes 3:17 Paulus memberi tahu bagaimana
mengenali keaslian suratnya.
2Tes 3:17 - “Salam dari padaku, Paulus. Salam ini
kutulis dengan tanganku sendiri. Inilah tanda dalam setiap surat: beginilah
tulisanku”.
Memang sejak jaman dulu
sudah banyak pemalsuan seperti ini, dan karena itu muncul kitab-kitab seperti
Injil Barnabas, Injil Yudas, dan sebagainya.
Penerapan: banyak orang kurang ajar yang sengaja memfitnah
hamba Tuhan, dengan mengatakan bahwa pendeta itu mengajar begini, padahal
sebenarnya tidak.
Contoh: banyak orang
mengatakan bahwa Budi Asali mengajarkan Hyper-Calvinisme!
Tetapi sering juga hal itu
terjadi bukan karena mereka memfitnah secara sengaja, tetapi karena mereka
salah menafsirkan ajaran pendeta itu, atau salah dalam menyampaikan ajaran
pendeta tersebut.
Apa yang diakibatkan oleh
pemikiran / pengertian yang salah ini?
Ay 2: “supaya kamu jangan lekas bingung dan
gelisah”.
KJV: ‘ye be not
soon shaken in mind, or be troubled’ (= jangan engkau
digoncangkan dalam pikiran, atau dikacaukan).
Memang ajaran sesat / salah
bisa membuat seseorang menjadi bingung dan kacau dalam pikiran / hatinya.
Contoh:
*
keharusan berbahasa roh bagi orang yang sudah mempunyai Roh Kudus
menimbulkan kebingungan bagi orang yang sekalipun sudah percaya Kristus tetapi
belum menerima bahasa Roh.
*
ajaran yang mengatakan bahwa keselamatan bisa hilang pasti
membingungkan / membuat takut / kuatir orang-orang kristen yang mempercayai
ajaran ini. Adalah sangat aneh kalau seseorang tahu betapa mengerikannya neraka
itu, dan ia percaya bahwa adalah mungkin baginya untuk murtad dan lalu masuk ke
neraka, tetapi ia tidak takut / kuatir.
*
ajaran / nubuat tentang kedatangan Kristus yang kedua-kalinya juga
sudah banyak kali menimbulkan kebingungan, kekuatiran, dan bahkan
tindakan-tindakan yang salah.
Albert Barnes mengatakan
bahwa dalam satu tahun, yaitu tahun 1843, ada 17 orang yang masuk rumah sakit
jiwa di Worcester, yang telah menjadi kacau pikirannya / gila karena
mengharapkan Tuhan Yesus akan segera datang.
Ay 3-4: “(3) Janganlah kamu memberi dirimu
disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu
haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka,
yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang
disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau
menyatakan diri sebagai Allah”.
·
“Janganlah
kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga!”.
Matthew Henry mengatakan bahwa
ada banyak cara yang bisa digunakan oleh penyesat-penyesat / nabi-nabi palsu
untuk menyesatkan orang-orang. Ada yang berpura-pura mendapatkan wahyu yang
baru, ada juga yang tetap menggunakan Kitab Suci tetapi menafsirkannya secara
salah, dan ada yang melakukan pemalsuan terhadap ajaran dari nabi-nabi asli.
Albert Barnes mengatakan
bahwa jaman sekarang ada banyak nabi palsu / penyesat yang mengclaim telah
mendapatkan hikmat yang luar biasa untuk menafsirkan Kitab Suci.
Contoh: drg. Yusak yang mengaku
diajar langsung oleh Tuhan sendiri selama 40 hari tentang arti dari seluruh
Kitab Suci.
Karena itu kita sebagai
orang-orang kristen harus sangat waspada supaya tidak ada yang bisa menyesatkan
kita.
·
“Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad
dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa”.
KJV: ‘except
there come a falling away first, and that man of sin be revealed,
the son of perdition’ (= kecuali datang
lebih dahulu kemurtadan, dan manusia dosa dinyatakan, anak kebinasaan
/ kehancuran / neraka).
NIV: ‘for that day will not come until the rebellion
occurs and the man of lawlessness is revealed, the man doomed to
destruction’ (= karena hari itu tidak akan datang sampai
pemberontakan terjadi dan manusia tanpa hukum dinyatakan, orang
yang ditentukan untuk kehancuran).
NASB: ‘for it will not come
unless the apostasy comes first, and the man of lawlessness is
revealed, the son of destruction’ (= karena itu tidak akan datang
kecuali kemurtadan datang dulu, dan manusia tanpa hukum dinyatakan,
anak kehancuran).
Dengan mengatakan ‘sebab sebelum Hari itu haruslah datang
dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka’, Paulus ingin meluruskan
pandangan salah yang mengatakan bahwa Kristus sudah datang atau akan segera
datang. Ia mengatakan bahwa Kristus tidak mungkin bisa datang kedua-kalinya
sebelum:
¨
Terjadi kemurtadan / masa kemurtadan besar.
Adam Clarke mengatakan bahwa
istilah murtad menunjukkan bahwa seseorang meninggalkan ajaran-ajaran dasari
dari Kristen, baik itu meninggalkan Kristen secara total (lalu pindah ke agama
lain), ataupun terjadi kerusakan kepercayaan berkenaan dengan ajaran dasar
sehingga seluruh kepercayaan itu tidak memungkinkan untuk menyelamatkannya.
¨
‘manusia durhaka / tanpa hukum’ / ‘anak kebinasaan / neraka /
kehancuran’ dinyatakan.
*
Arti dari istilah yang aneh ini.
Matthew Henry: “He
is called the man of sin, to denote his egregious wickedness; not only is he
addicted to, and practises, wickedness himself, but he also promotes,
countenances, and commands sin and wickedness in others; and he is the son of
perdition, because he himself is devoted to certain destruction, and is the
instrument of destroying many others both in soul and body” (= Ia disebut manusia dosa / durhaka,
untuk menunjukkan kejahatannya yang menyolok; bukan hanya bahwa ia kecanduan
pada kejahatan dan mempraktekkannya sendiri, tetapi ia juga memajukan,
menyetujui, dan memerintahkan dosa dan kejahatan dalam diri orang-orang lain;
dan ia adalah anak kehancuran / kebinasaan, karena ia sendiri disediakan untuk
kehancuran, dan merupakan alat untuk menghancurkan banyak orang lain baik dalam
jiwa maupun tubuh).
Istilah ‘the son of perdition’ (= anak kebinasaan / neraka), selain ditujukan
kepada sang Anti Kristus di tempat ini, hanya diterapkan kepada Yudas Iskariot
dalam Yoh 17:12.
Yoh 17:12 - “Selama Aku bersama mereka, Aku
memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan
kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang
binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya
genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”.
KJV: ‘but the
son of perdition’ (= kecuali anak kebinasaan /
kehancuran / neraka).
*
Boleh dikatakan semua penafsir mengarahkan istilah ini kepada sang Anti
Kristus.
Wycliffe Bible
Commentary: “In the NT only John uses the
term ‘antichrist’ (1 Jn 2:18,22; 4:3; 2 Jn 7), but there can be no doubt as to
whom Paul had in mind” [= Dalam Perjanjian Baru hanya Yohanes menggunakan istilah ‘Anti
Kristus’ (1Yoh 2:18,22; 4:3; 2Yoh 7), tetapi tidak ada keraguan siapa
yang ada dalam pikiran Paulus].
A. T. Robertson: “He seems to be the Antichrist of 1 John
2:18. The terrible phrase, ‘the son of perdition,’ is applied ... here to the
lawless one (ho anomos), 2 Thes
2:8, who is not Satan, but some one definite person who is doing the work of
Satan” [= Ia
kelihatannya adalah sang Anti Kristus dari 1Yoh 2:18. Istilah yang
mengerikan ‘anak kehancuran’, diterapkan ... di sini kepada orang tanpa hukum
(HO ANOMOS), 2Tes 2:8, yang bukanlah setan, tetapi seseorang tertentu yang
melakukan pekerjaan setan].
*
Kebanyakan penafsir Protestan menganggap bahwa Gereja Roma Katolik
merupakan penggenapan dari nubuat ini. Ada yang menganggapnya sebagai
penggenapan penuh, ada yang menganggapnya sebagai penggenapan sebagian.
·
“yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang
disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau
menyatakan diri sebagai Allah”.
¨ Istilah-istilah dalam ay 4
tentang sang Anti Kristus inilah yang menyebabkan banyak orang Protestan yang
menganggap bahwa sang Anti Kristus itu adalah Gereja Roma Katolik / Paus /
ke-Paus-an.
Calvin:
“every one that has learned from Scripture what are the
things that more especially belong to God, and will, on the other hand, observe
what the Pope claims for himself - though he were but a boy of ten years of age
- will have no great difficulty in recogniizing Antichrist </div3><div3
type="Scripture" title="2 Thessalonians 2:5-8">
” (= setiap orang yang telah belajar dari
Kitab Suci tentang hal-hal apa yang secara khusus adalah milik Allah, dan pada
saat yang sama memperhatikan apa yang diclaim oleh Paus bagi dirinya sendiri -
sekalipun ia adalah seorang anak berusia 10 tahun - tidak akan mendapatkan
problem dalam mengenali Anti Kristus).
Apa hubungannya kata-kata
dalam ay 4 ini dengan Gereja Roma Katolik / kepausan?
Barnes’ Notes: “The following expressions, applied to the
Pope of Rome by Catholic writers, without any rebuke from the papacy, will show
how entirely applicable this is to the pretended Head of the Church. He has
been styled ‘Our Lord God the Pope; another God upon earth; king of kings and
lord of lords. The same is the dominion of God and the Pope. To believe that
our Lord God the Pope might not decree as he decreed is heresy. The power of
the Pope is greater than all created power, and extends itself to things
celestial, terrestrial, and infernal. The Pope doeth whatsoever he listeth,
even things unlawful, and is more than God;’ see the authority for these
extraordinary declarations in Dr. Newton book on the Prophecies, Dissertations
xxii.” (=
Ungkapan-ungkapan berikut, diterapkan kepada Paus dari Roma oleh
penulis-penulis Katolik, tanpa teguran dari kepausan, akan menunjukkan betapa
hal ini cocok sepenuhnya dengan orang-orang yang berpura-pura menjadi Kepala
dari Gereja. Ia telah disebut ‘Tuhan Allah kami sang Paus; Allah yang lain
di bumi; raja atas segala raja dan tuhan atas semua tuhan. Kekuasaan Allah sama
dengan kekuasaan Paus. Mempercayai bahwa Tuhan Allah kita sang Paus tidak boleh
menetapkan seperti ia menetapkan merupakan bidat / kesesatan. Kuasa dari sang
Paus lebih besar dari semua kuasa yang diciptakan, dan memperluas dirinya
sendiri pada hal-hal yang berkenaan dengan surga, bumi, dan neraka. Sang Paus
melakukan apapun kemana ia condong, bahkan hal-hal yang tidak diperbolehkan
oleh hukum, dan adalah lebih dari Allah’; lihat otoritas dari
pernyataan-pernyataan yang luar biasa ini dalam buku Dr. Newton tentang
Nubuat-nubuat, Dissertations
xxii).
Matthew Henry: “the
antichrist here mentioned is some usurper of God’s authority in the Christian
church, who claims divine honours; and to whom can this better apply than to
the bishops of Rome, to whom the most blasphemous titles have been given, as
Dominus Deus noster papa - Our Lord God the pope; Deus alter in terr - Another
God on earth; Idem est dominium Dei et papae - The dominion of God and the pope
is the same?”
(= sang Anti Kristus yang disebutkan di sini adalah seorang perebut kuasa dari
otoritas Allah dalam Gereja Kristen, yang mengclaim kehormatan ilahi; dan bagi
siapa ini bisa diterapkan dengan lebih baik dari pada uskup-uskup Roma, kepada
siapa gelar-gelar yang paling bersifat menghujat telah diberikan, seperti Dominus Deus noster papa - Tuhan Allah
kami sang Paus; Deus alter in terr
- Allah yang lain di bumi; Idem est
dominium Dei et papae - Kekuasaan Allah dan Paus adalah sama?).
Perhatikan kepercayaan Roma
Katolik tentang Paus dalam New York Catechism ini: “The
pope takes place of Jesus Christ on earth ... By divine right the pope has
supreme and full power in faith and morals over each and every pastor and his
flock. He is the true vicar of Christ. He is the infallible ruler, the founder
of dogmas, the author of and the judge of councils; the universal ruler of
truth, the arbiter of the world, the supreme judge of heaven and earth, the
judge of all, being judged by no one, God himself on earth”
(= Paus menggantikan Yesus Kristus di bumi ... Oleh hak ilahi Paus mempunyai
kuasa tertinggi dan penuh dalam iman dan moral atas setiap gembala dan domba
gembalaannya. Ia adalah wakil yang benar / sejati dari Kristus. Ia adalah
pemerintah / pemimpin yang tidak bisa salah, pendiri dari dogma-dogma,
pengarang / sumber dan hakim dari sidang-sidang gereja, pemimpin kebenaran di
seluruh dunia, penengah / wasit dunia ini, hakim tertinggi dari surga dan bumi,
hakim dari semua, tidak dihakimi oleh siapapun, Allah sendiri di bumi ini) - Loraine Boettner, ‘Roman
Catholicism’, hal 127.
Loraine Boettner lalu
menambahkan:
“Thus
the Roman Catholics holds that the pope, as the vicar of Christ on earth, is
the ruler of the world, supreme not only over the Roman Church itself but over
all kings, presidents, and civil rulers, indeed over all peoples and nations”
[= Demikianlah orang Roma Katolik beranggapan bahwa Paus, sebagai wakil Kristus
di bumi, adalah pemerintah dunia, mempunyai kedudukan / otoritas tertinggi
bukan hanya atas gereja Roma (Katolik) sendiri tetapi atas semua raja,
presiden, dan pemerintah sipil, bahkan atas semua orang dan bangsa] - ‘Roman Catholicism’,
hal 127-128.
¨ Tetapi ada juga yang
menganggap, seperti Jamieson, Fausset & Brown, bahwa Gereja Roma Katolik /
kepausan tidak mungkin merupakan penggenapan utama dari nubuat ini. Jadi Gereja
Roma Katolik / kepausan bukanlah sang Anti Kristus itu sendiri, tetapi hanya
merupakan pendahulu darinya.
Saya sendiri berpendapat
bahwa paling-paling Gereja Roma Katolik hanya bisa disebut sebagai penggenapan
sebagian dari nubuat ini, atau merupakan pendahulu dari sang Anti Kristus itu.
Alasannya:
*
Sudah lewat ratusan / lebih dari 1000 tahun sejak adanya Gereja Roma
Katolik, tetapi Kristus tetap belum datang.
*
Dalam ay 9 maupun Wah 13:13-14, dikatakan bahwa kedatangan
sang Anti Kristus itu akan disertai dengan mujijat-mujijat palsu, dan ini tidak
ada dalam Gereja Roma Katolik.
Ay 9: “Kedatangan si pendurhaka itu adalah
pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan
mujizat-mujizat palsu”.
Wah 13:13-14 - “(13) Dan ia mengadakan tanda-tanda yang
dahsyat, bahkan ia menurunkan api dari langit ke bumi di depan mata semua
orang. (14) Ia menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang
telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia
menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk
menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu”.
c) Kalau ada orang Katolik yang marah karena
penafsiran ini, perlu mereka ketahui bahwa salah seorang Paus mereka berbicara
dengan nada serupa.
Jamieson, Fausset & Brown: “Gregory the Great declared against the
patriarch of Constantinople, that whosoever should call himself ‘Universal
Bishop’ would be ‘the forerunner of Antichrist.’ The Papacy fulfilled this” (=
Gregory yang Agung menyatakan terhadap kepala-kepala / bapa-bapa dari
Konstantinople, bahwa siapapun yang menyebut dirinya sendiri ‘Uskup Universal’
merupakan ‘pendahulu dari Anti Kristus’. Kepausan menggenapi hal ini).
Catatan:
·
Gelar ‘Uskup Universal’ sama saja dengan gelar ‘Paus’.
·
Gregory the Great adalah seorang ‘Paus’ pada tahun 590-604, yang
menolak gelar Paus itu waktu diberikan kepadanya oleh Kaisar pada saat itu.
Tetapi Paus yang menggantikan dia, yaitu Boniface III, menerima gelar itu pada
tahun 607. Jadi, ini berarti bahwa menurut Gregory yang Agung, Boniface III dan
Paus-Paus lain setelahnya, adalah pendahulu-pendahulu dari sang Anti Kristus.
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Rabu, tgl 28 November 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
2Tes 2:1-12 - “(1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus
Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara,
(2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun
oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan
telah tiba. (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang
bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan
haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan
yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai
Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. (5)
Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu, ketika
aku masih bersama-sama dengan kamu? (6) Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan
dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan
baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi
sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan,
(8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan
Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia
datang kembali. (9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan
akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,
(10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa
karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan
mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang
menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang
tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan”.
Ay 5: “Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah
kerapkali kukatakan kepadamu, ketika aku masih bersama-sama dengan kamu?”.
·
William Hendriksen mengatakan bahwa ini merupakan suatu teguran halus.
Seandainya mereka lebih memperhatikan ajaran / kata-kata Paulus, maka mereka
tidak akan mempunyai pengertian yang salah seperti ini!
·
Paulus telah berulangkali memberi tahu mereka tentang hal ini.
Baik KJV maupun RSV
menterjemahkan ‘I told you’, tetapi William Hendriksen
mengatakan bahwa seharusnya diterjemahkan ‘I used to
tell’
(seperti dalam terjemahan NIV), yang menunjukkan bahwa pada masa lalu itu
Paulus telah berulangkali mengajarkan hal ini.
Wycliffe Bible
Commentary: “‘I told you.’ The imperfect
tense indicates that more than once Paul had discussed these events” (= ‘Aku memberi tahu kamu’.
Tensa imperfect menunjukkan bahwa Paulus mendiskusikan peristiwa-peristiwa ini
lebih dari sekali).
Jadi dalam hal ini
terjemahan Kitab Suci Indonesia lebih benar (‘hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu’).
·
Jadi, rupanya sekalipun dulu sudah diajarkan, dan bahkan sering
diajarkan, mereka lupa / mengabaikan sebagian ajaran itu, dan ini menyebabkan
mereka lalu mempunyai pandangan yang salah.
Calvin mengatakan bahwa hal
ini menunjukkan betapa mudah lupanya manusia tentang hal-hal yang berhubungan
dengan keselamatan kekal (hal-hal rohani).
Ini mengajar kita untuk
sangat berhati-hati dan berkonsentrasi penuh dalam mendengar ajaran, dan juga
untuk memperhatikan semua, tanpa mengabaikan apapun juga.
Bandingkan dengan:
*
Yos 1:8 - “Janganlah
engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan
malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di
dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan
beruntung”.
*
Yos 1:13 - “‘Ingatlah
kepada perkataan yang dipesankan Musa, hamba TUHAN itu, kepadamu, yakni:
TUHAN, Allahmu, mengaruniakan keamanan kepadamu dan memberikan kepadamu negeri
ini”.
*
Maz 119:52 - “Aku
ingat kepada hukum-hukumMu yang dari dahulu kala, ya TUHAN, maka
terhiburlah aku”.
*
Amsal 4:5 - “Perolehlah
hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari
perkataan mulutku”.
*
Mal 4:4 - “Ingatlah
kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hambaKu, di gunung
Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan
hukum-hukum”.
*
Yoh 2:19-22 - “(19)
Jawab Yesus kepada mereka: ‘Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan
mendirikannya kembali.’ (20) Lalu kata orang Yahudi kepadaNya: ‘Empat puluh
enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam
tiga hari?’ (21) Tetapi yang dimaksudkanNya dengan Bait Allah ialah tubuhNya
sendiri. (22) Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat
oleh murid-muridNya bahwa hal itu telah dikatakanNya, dan merekapun
percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus”.
*
Yoh 15:20 - “Ingatlah
apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari
pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya
kamu; jikalau mereka telah menuruti firmanKu, mereka juga akan menuruti
perkataanmu”.
*
Yoh 16:4a - “Tetapi
semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat,
bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.’”.
*
Yak 1:22-25 - “(22)
Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja;
sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (23) Sebab jika seorang
hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang
sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. (24) Baru saja
ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.
(25) Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang
memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar
untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia
oleh perbuatannya”.
Ay 6-8: “(6) Dan sekarang kamu tahu
apa yang menahan dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu
yang telah ditentukan baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah
mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya
itu telah disingkirkan, (8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan
menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya
dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali”.
·
‘Sekarang’ (ay 6).
Perhatikan kata ‘sekarang’. William Hendriksen
mempersoalkan, apakah kata ‘sekarang’ itu berhubungan dengan
kata-kata ‘kamu tahu’ atau dengan kata-kata ‘menahan dia’.
William Hendriksen lebih
setuju kalau kata ‘sekarang’ dihubungkan dengan kata ‘menahan dia’.
RSV: ‘And you
know what is restraining him now so that he may be revealed in his time’ (= Dan kamu tahu apa yang menahan dia sekarang, sehingga ia akan
dinyatakan pada waktunya). NASB»RSV.
Alasannya, kalimat ini
memang mengkontraskan antara ‘sekarang
masih ada yang menahan dia’ dan ‘ia
baru akan menyatakan diri pada waktu yang ditentukan baginya’
(nanti).
Tetapi Pulpit Commentary
menafsirkan sebaliknya, dan menghubungkan kata ‘sekarang’ itu dengan ‘kamu tahu’ seperti dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia dan
KJV.
KJV: ‘And now
ye know what withholdeth that he might be revealed in his time’ (= Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan sehingga ia bisa
dinyatakan pada waktnya). NIV»KJV.
Pulpit Commentary memberikan kemungkinan penafsiran yang lain, yaitu kata
‘sekarang’ itu hanya dianggap sebagai partikel
penghubung, dan karena itu dalam penterjemahan boleh dihapuskan.
Saya lebih setuju dengan William Hendriksen.
·
‘kamu
tahu’ (ay
6).
Jemaat Tesalonika tahu /
mengerti apa yang Paulus maksudkan, tetapi kita tidak, karena ada hal-hal yang
mereka tahu yang sekarang ini tidak kita ketahui.
·
‘apa
yang menahan dia .... sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya
itu telah disingkirkan, ...’ (ay 6,7).
Kata ‘dia’ pasti menunjuk kepada sang Anti Kristus,
tetapi kata-kata ‘yang
menahan dia’
menunjuk kepada apa / siapa? Mengapa saya menyebut ‘apa / siapa’? Ini menunjuk
kepada ‘sesuatu’ atau ‘seseorang’? Sebetulnya menunjuk kepada
kedua-duanya, karena ay 6 menunjuk pada ‘sesuatu’, tetapi
ay 7 menunjuk kepada ‘seseorang’.
Wycliffe Bible
Commentary: “the change from neuter (v.
6) to masculine (v. 7) suggests that the restrainer can be spoken of as a thing
or person” [= perubahan dari jenis kelamin netral (ay 6) menjadi jenis
kelamin maskulin / laki-laki (ay 7) menunjukkan bahwa si penahan itu bisa
dibicarakan sebagai sesuatu atau seseorang].
Ay 6: “apa yang menahan dia”. Kata ‘apa’ menunjuk pada ‘sesuatu’.
Ay 7: “Kalau yang menahannya telah
disingkirkan”.
Ini kurang tepat terjemahannya.
KJV: ‘until he
be taken out of the way’ (= sampai ia disingkirkan).
Kata ‘he’ / ‘ia’ menunjuk kepada ‘seseorang’.
Ada bermacam-macam
penafsiran tentang apa / siapa yang menahan sehingga sang Anti Kristus itu
belum menyatakan diri.
¨
Ada yang menganggap ini menunjuk kepada Roh Kudus. Dan nanti Roh Kudus
disingkirkan. Kapan itu terjadi? Setelah gereja mengalami rapture / pengangkatan. Baru pada saat itu sang Anti Kristus itu akan
menyatakan diri. Ini pandangan dari Dispensationalisme, dan menurut saya ini
pasti salah, karena seharusnya orang-orang kristen akan mengalami masa dari
sang Anti Kristus itu.
Wycliffe Bible
Commentary: “Dispensationalist
interpreters (e. g., C. I. Scofield, L. S. Chafer, and J. Walvoord) have
identified the restrainer as the Holy Spirit, a view supported by the fact that
the Spirit may be described in both neuter and masculine genders. Removal of
the Spirit takes place when the Church, his temple, is raptured (1 Thes
4:13-17). However, why would Paul speak of the Spirit in such veiled terms?
Furthermore, how can the revelation of Antichrist be a sign to the church that
has already been raptured?” (= Penafsir-penafsir Dispensationalisme (misalnya, C. I. Scofield,
L. S. Chafer, dan J. Walvoord) mengenali sang penahan itu sebagai Roh Kudus,
suatu pandangan yang didukung oleh fakta bahwa Roh Kudus bisa digambarkan baik
oleh jenis kelamin netral maupun maskulin / laki-laki. Penyingkiran Roh Kudus
terjadi pada waktu Gereja, BaitNya, diangkat (1Tes 4:13-17). Tetapi, mengapa
Paulus berbicara tentang Roh dengan istilah-istilah yang begitu terselubung?
Selanjutnya, bagaimana penyataan dari sang Anti Kristus bisa merupakan suatu
tanda bagi gereja yang telah diangkat?].
¨
Calvin menganggap itu menunjuk pada Injil. Saya tak setuju dengan
penafsiran ini, karena kalau ini benar, kapan saatnya Injil itu akan
disingkirkan?
¨
Ada juga yang menganggap ini menunjuk pada pemerintahan Romawi. Tetapi
karena Romawi sudah hancur selama ratusan tahun dan sang Anti Kristus belum
juga menyatakan diri, maka pandangan ini lalu dimodifikasi, dan diartikan
sebagai ‘seadanya pemerintahan di dunia’. Ini mungkin merupakan penafsiran yang
paling populer.
William Hendriksen
memberikan banyak alasan yang mendukung bahwa ‘yang menahan’ itu adalah pemerintah, seperti:
*
Ini merupakan pandangan umum dari bapa-bapa gereja.
*
Merupakan sesuatu yang cocok kalau ‘the man of lawlessness’ (= orang yang tanpa hukum / tak peduli hukum)
ditahan oleh pemerintah / hukum. Catatan:
istilah ‘lawlessness’ (= tanpa hukum) itu muncul
beberapa kali dalam sepanjang 2Tes 2:1-12, yaitu pada ay 3,7,8.
*
Merupakan sesuatu yang cocok kalau dalam ay 6 Paulus menyebutnya
sebagai ‘sesuatu’, dan dalam ay 7 sebagai ‘seseorang’. Pemerintahan adalah
‘sesuatu’, sedangkan pimpinan pemerintahan itu adalah ‘seseorang’.
*
Dalam Ro 13:1-5 Paulus berkata: “(1) Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di
atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan
pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. (2) Sebab itu
barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang
melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. (3) Sebab jika seorang
berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat
jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang
baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. (4) Karena pemerintah adalah
hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah
akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah
adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.
(5) Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan
Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita”.
Kata-kata ini cocok dengan
penafsiran ini, karena dalam Ro 13 ini Paulus menyatakan bahwa pemerintah
adalah hamba Allah untuk kebaikan kita, dan juga untuk menentang / menahan
kejahatan.
*
Pada waktu kekaisaran Romawi jatuh, pemerintahan tidak hilang.
Dimana-mana di dunia ini tetap ada pemerintahan.
*
Ada penafsir yang memberikan tambahan argumentasi yang menarik.
Geoffrey B. Wilson: “Not
only would it have been dangerous for Paul to have spoken more plainly of the
removal of Roman rule, but the intervening centuries since the disappearance of
that Empire have also proved that his vague allusion to the Restrainer was far
more appropriate than any specific reference to the contemporary scene. Not was
this accidental, for like all prophets inspired of God, the apostle spoke
better than he knew at the time” (= Bukan hanya berbahaya bagi Paulus untuk berbicara dengan
lebih jelas tentang penyingkiran dari pemerintahan Romawi, tetapi abad-abad
yang telah berlalu sejak musnahnya kekaisaran itu juga telah membuktikan bahwa
ibarat / kiasannya yang samar-samar terhadap sang Penahan itu jauh lebih tepat
dari pada petunjuk yang spesifik pada suasana pada jamannya. Juga hal ini
bukanlah suatu kebetulan, karena seperti semua nabi-nabi yang diilhami oleh
Allah, sang rasul berbicara lebih baik dari pada yang ia ketahui pada saat itu) - hal 102.
Catatan: sekalipun Paulus memaksudkan seadanya pemerintahan,
tetapi pada saat itu di sana, pemerintahan yang sah adalah kekaisaran Romawi,
dan karena itu merupakan sesuatu yang berbahaya bagi Paulus untuk mengatakan
hal itu secara terang-terangan.
Tetapi Geoffrey B. Wilson
juga menambahkan (pada bagian akhir kutipan di atas itu) bahwa bukan suatu
kebetulan kalau Paulus berbicara secara samar-samar. Mungkin ia menduga kekaisaran
Romawi, tetapi seandainya ia berbicara terang-terangan dan menunjuk pada
kekaisaran Romawi, maka nubuat itu akan meleset. Jadi, Tuhan memang membimbing
dia dalam menulis, dan tulisannya mempunyai arti lebih dari yang ia sendiri
ketahui. Ini tidak berbeda dengan nabi-nabi yang bernubuat. Nubuat mereka
mempunyai arti lebih tinggi dari yang mereka ketahui. Bandingkan dengan:
1Pet 1:10-12 - “(10) Keselamatan itulah yang diselidiki
dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia
yang diuntukkan bagimu. (11) Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang
bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu
Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan
menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. (12)
Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka
sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan
sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang
diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang
ingin diketahui oleh malaikat-malaikat”.
Mat 13:16-17 - “(16) Tetapi berbahagialah matamu karena
melihat dan telingamu karena mendengar. (17) Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak
melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya”.
Dari ayat-ayat di atas ini
jelas bahwa pada waktu nabi-nabi bernubuat, mereka tidak mengerti seluruh
kata-kata mereka sendiri.
Yoh 11:47-53 - “(47) Lalu imam-imam kepala dan
orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata:
‘Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. (48)
Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya dan
orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa
kita.’ (49) Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada
tahun itu, berkata kepada mereka: ‘Kamu tidak tahu apa-apa, (50) dan kamu tidak
insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari
pada seluruh bangsa kita ini binasa.’ (51) Hal itu dikatakannya bukan dari
dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa
Yesus akan mati untuk bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi
juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.
(53) Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia”.
Jelas bahwa kata-kata Kayafas
mempunyai arti lebih tinggi dari yang ia ketahui / pikirkan.
Saya sendiri mengambil
pandangan ini. Yang menahan sehingga munculnya sang Anti Kristus itu tertunda,
adalah pemerintah.
·
‘secara
rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja’ (ay 7).
Sekarang kedurhakaan itu
telah mulai bekerja, tetapi tetap akan muncul sang Anti Kristus itu. Ini sesuai
dengan kata-kata rasul Yohanes dalam:
*
1Yoh 4:3 - “dan
setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu
adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang
dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.
*
2Yoh 7 - “Sebab
banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak
mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si
penyesat dan antikristus”.
*
1Yoh 2:18 - “Anak-anakku,
waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang
antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus.
Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir”.
Kalau sekarang saja ajaran
sesat dan nabi palsu sudah begitu banyak, sedangkan ini hanya dilakukan oleh
pendahulu-pendahulu dari sang Anti Kristus, bisakah dibayangkan apa yang
terjadi pada saat sang Anti Kristus itu sendiri muncul? Karena itu, rajin dan
tekunlah dalam belajar Firman Tuhan!
·
“sehingga
ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan baginya.
... Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, pada waktu itulah si
pendurhaka baru akan menyatakan dirinya” (ay 6,7,8).
Kalau ‘sang penahan’ itu
memang menunjuk kepada pemerintahan, lalu kapan pemerintahan disingkirkan? Pada
saat anak buah setan menjadi penguasa dunia / bangsa-bangsa. Setelah itu maka
muncullah sang Anti Kristus itu. Ini cocok dengan Wah 13:1-18 yang sudah kita
bahas di atas.
Sesuatu yang menghibur di
sini, adalah kata-kata ‘pada
waktu yang telah ditentukan baginya’ (ay 6).
Sebetulnya kata-kata ‘telah ditentukan baginya’ terlalu kuat terjemahannya.
KJV/RSV: ‘in his time’ (= pada waktunya).
Tetapi secara implicit ini
memang menunjukkan bahwa waktu itu ditentukan oleh Allah, dan ini menunjukkan
bahwa Allahlah yang berkuasa dan mengontrol segala sesuatu! Jadi, bagaimanapun
kepinginnya setan memunculkan sang Anti Kristus itu itu cepat-cepat, kalau
waktu / belum sampai, itu tidak akan terjadi. Artinya, setan maupun sang Anti
Kristusnya ada di bawah kontrol Allah sepenuhnya!
William Hendriksen: “This,
of course happens under God’s direction. Hence, for the time being, the worst
Satan can do is to promote the spirit of lawlessness. But this does not satisfy
him. It is as if he and his man of sin bide their time. At the divinely decreed
moment (‘the appropriate season’) when, as a punishment for man’s willingness
to cooperate with this spirit, the ‘some one’ and ‘something’ that now holds
back is removed, Satan will begin to carry out his plans” [= Ini tentu terjadi di bawah pengarahan
dari Allah. Karena itu, pada saat sekarang ini, yang paling buruk yang bisa
dilakukan oleh Iblis adalah memajukan roh / semangat dari manusia tanpa hukum.
Tetapi ini tidak memuaskan dia. Seolah-olah ia dan manusia-tanpa-hukum-nya itu
menunggu waktu mereka. Pada saat yang ditentukan oleh Allah (pada waktu yang
tepat) pada saat, sebagai suatu penghukuman bagi kemauan manusia untuk bekerja
sama dengan roh ini, ‘seseorang’ dan ‘sesuatu’ yang sekarang ini menahannya
disingkirkan, Iblis akan mulai melaksanakan rencana-rencananya] - hal 183.
Geoffrey B. Wilson: “the
purpose of the prophecy is not to provide believers with a time-table. It is to
let them see that not even Satan’s final master-stroke is an independent
development. Indeed it assures them that nothing is beyond the control of the
sovereign God who makes all things work together for the good of His people
(Rom. 8:28)”
[= tujuan dari nubuat ini bukanlah menyediakan orang-orang percaya dengan suatu
jadwal waktu. Tujuannya adalah supaya mereka melihat bahwa bahkan pencobaan /
pukulan Iblis yang terahir bukanlah suatu perkembangan yang bebas / tak
tergantung. Sebaliknya itu menjamin mereka bahwa tidak ada yang berada di luar
kontrol dari Allah yang berdaulat yang membuat segala sesuatu berkerja
bersama-sama untuk kebaikan umatNya (Ro 8:28)] - hal 102.
·
‘pada
waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus
akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang
kembali’
(ay 8).
Geoffrey B. Wilson
mengatakan bahwa tanpa berhenti untuk mengatakan apakah selang waktunya akan
panjang atau pendek, Paulus langsung menyatakan bahwa kekalahan yang sempurna
dari sang Anti Kristus terjadi pada saat Tuhan Yesus datang. Karena memang sang
rasul tidak ingin membicarakan khronology dari manusia tanpa hukum itu. Yang ia
ingin bicarakan dan tekankan adalah kemenangan mutlak dari Tuhan Yesus pada
saat Ia datang kedua-kalinya. Tujuannya supaya orang-orang kristen sabar dalam
penderitaan dan berharap pada hal itu.
‘Pertarungan’ Tuhan Yesus
melawan sang Anti Kristus itu bukanlah suatu pertarungan yang hebat dan lama.
Itu merupakan suatu pertarungan yang sama sekali tidak seimbang. Tuhan Yesus
akan menang dengan sangat mudah dan dengan sangat cepat. Dari mana terlihat hal
ini?
*
Perhatikan kata-kata ‘Tuhan
Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya’.
Ada yang menafsirkan bahwa kata ‘nafas mulutNYa’ menunjuk pada Firman
Tuhan. Tetapi ada yang menafsirkan secara hurufiah.
A. T. Robertson: “It is a powerful picture how the mere
breath of the Lord will destroy this arch-enemy” (= Merupakan suatu gambaran yang sangat
kuat bagaimana semata-mata nafas dari Tuhan akan menghancurkan sang musuh
bebuyutan).
Pulpit Commentary: “With
the spirit (or, breath) of his mouth. Various interpretations have been given
to this clause. Some refer it to the Word of God, and others to the Holy
Spirit, and suppose that the conversion of the world is here predicted; but
this is evidently an erroneous interpretation, as the doom of antichrist is
here announced. Others refer the term to a cry or word, and think that the
sentence of condemnation pronounced by the Lord Jesus on the wicked is intended.
But the words are to be taken literally as a description of the power and
irresistible might of Christ at his coming - that the mere breath of his mouth
is sufficient to consume the wicked (comp. Isa 11:4, ‘He shall smite the
earth with the rod of his mouth, and with the breath of his lips shall he slay
the wicked’).” [= Dengan roh (atau, nafas) dari
mulutNya. Bermacam-macam penafsiran telah diberikan kepada anak kalimat ini.
Sebagian mengarahkan kepada Firman Allah, dan yang lain kepada Roh Kudus, dan
menduga bahwa pertobatan dari dunia diramalkan di sini; tetapi ini jelas
merupakan penafsiran yang salah, karena ajal dari sang Anti Kristus yang
diumumkan di sini. Yang lain mengarahkan istilah ini pada teriakan atau firman,
dan berpikir bahwa yang dimaksudkan adalah kalimat penghukuman yang diucapkan
oleh Tuhan Yesus terhadap orang jahat. Tetapi kata-kata ini harus diartikan
secara hurufiah sebagai suatu penggambaran dari kuasa dan kekuatan dari Kristus
pada kedatanganNya - sehingga semata-mata nafas dari mulutNya cukup untuk
menghancurkan orang jahat (bdk. Yes 11:4 -
‘Ia akan menghajar bumi dengan
perkataanNya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutNya Ia akan membunuh
orang fasik’).].
*
Perhatikan kata-kata ‘dan
akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali’.
NASB: ‘and bring to an end by the appearance of His coming’ (= dan mengakhiri dengan penampilan dari kedatanganNya).
Untuk kata ‘appearance’ (= penampilan) digunakan kata Yunani EPIPHANEIA, dan untuk kata ‘coming’ (= kedatangan) digunakan kata Yunani PAROUSIA.
Pulpit Commentary: “the meaning is that the mere appearance
of Christ’s presence will annihilate the wicked”
(= artinya adalah bahwa semata-mata pemunculan / penampilan dari kehadiran
Kristus akan memusnahkan orang jahat).
Memang ini hanya sang Anti
Kristus, bukan setan sendiri. Tetapi setan sendiri waktu konfrontasi dengan
Yesus bukan main takutnya, dan terlihat bahwa ia memang bukan tandingan Yesus.
Bdk. Mat 8:28-32.
Bandingkan dengan malaikat
pada waktu menghadapi setan dalam Daniel 10, bahkan bandingkan dengan Mikhael
waktu hadapi setan.
Dan 10:12-14 - “(12) Lalu katanya kepadaku: ‘Janganlah
takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau
berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan
Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu itu. (13) Pemimpin kerajaan
orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian
Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku,
dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia. (14)
Lalu aku datang untuk membuat engkau mengerti apa yang akan terjadi pada
bangsamu pada hari-hari yang terakhir; sebab penglihatan ini juga mengenai
hari-hari itu.’”.
Yudas 9 - “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael,
ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa,
tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata:
‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’”.
Karena itu, pandangan Saksi
Yehuwa / Unitarianisme bahwa Yesus adalah malaikat Mikhael merupakan suatu
kegilaan yang tidak Alkitabiah.
Kesimpulan: sekarang sudah banyak
antikristus-antikristus, tetapi akan datang sang Anti Kristus. Sekarang ia
belum datang karena masih ada yang menahannya. Tetapi pada waktu Tuhan, yang
menahannya akan disingkirkan dan pada saat itulah sang Anti Kristus itu akan
menyatakan dirinya. Kita tidak tahu berapa selang waktunya, tetapi yang jelas
setelah sang Anti Kristus itu menyatakan diri, maka Tuhan Yesus sendiri akan datang
kedua-kalinya, dan pada saat itu dengan mudah Ia akan menghancurkan sang Anti
Kristus itu. Karena itu, pada saat kita mengalami penderitaan gara-gara sang
Anti Kristus itu, kita harus tetap sabar, dan berharap pada kedatangan Yesus
yang kedua-kalinya!
-bersambung-
(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Rabu, tgl 5 Desember 2007,
pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
2Tes 2:1-12 - <“(1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, (2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. (5) Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu, ketika aku masih bersama-sama dengan kamu? (6) Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, (8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. (9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan”.
KJV: ‘(1) Now we beseech you, brethren, by the coming
of our Lord Jesus Christ, and [by] our gathering together unto him, (2)
That ye be not soon shaken in mind, or be troubled, neither by spirit,
nor by word, nor by letter as from us, as that the day of Christ is at hand.
(3)
Let no man deceive you by any means: for [that day shall not come],
except there come a falling away first, and that man of sin be revealed, the
son of perdition; (4) Who opposeth and
exalteth himself above all that is called God, or that is worshipped; so that
he as God sitteth in the temple of God, shewing himself that he is God.
(5) Remember ye not, that, when I was
yet with you, I told you these things? (6)
And now ye know what withholdeth that he might be revealed in his time.
(7) For the mystery of iniquity doth
already work: only he who now letteth [will let], until he be taken out of the
way. (8) And then shall that Wicked be
revealed, whom the Lord shall consume with the spirit of his mouth, and shall
destroy with the brightness of his coming: (9)
[Even him], whose coming is after the working of Satan with all power
and signs and lying wonders, (10) And
with all deceivableness of unrighteousness in them that perish; because they
received not the love of the truth, that they might be saved. (11) And for this cause God shall send them
strong delusion, that they should believe a lie: (12) That they all might be damned who believed
not the truth, but had pleasure in unrighteousness’ (= ).
Anthony A. Hoekema sampai
hal 162 - tentang perang, gempa bumi dan kelaparan.
Herman Hoeksema selesai
sampai hal 476.
William Hendriksen selesai
sampai hal 151.
c) Tanda-tanda yang menunjukkan penghakiman / penghukuman ilahi.
1. Perang.
2. Gempa bumi.
3. Kelaparan.
4. Tanda-tanda di langit pada benda-benda angkasa.
Mat 24:29-30 - “”.
Mark 1324-25 - “”.
Luk 21:25-26 - “”.
Yang memusingkan adalah: tanda-tanda ini merupakan hal-hal yang sudah banyak terjadi, sehingga sukar untuk menentukan apakah yang sedang terjadi betul-betul merupakan tanda dari akhir jaman tersebut. Dikatakan bahwa menjelang akhir jaman tanda-tanda ini akan meningkat dalam jumlah / banyaknya dan intensitasnya. Tetapi pada saat hal-hal itu meningkat dalam jumlah dan intensitasnya, kita tetap tidak akan tahu apakah itu memang tanda akhir jaman, ataukah tanda-tanda itu masih akan meningkat lagi sebelum akhir jaman tiba.
Catatan: di antara tanda-tanda kedatangan Kristus yang kedua-kalinya ini jelas ada hal-hal yang sangat tidak menyenangkan bagi orang-orang percaya, seperti adanya masa kesukaran besar (the great tribulation), nabi-nabi palsu, mujijat-mujijat palsu, dan khususnya sang Anti Kristus itu sendiri. etapi Anthony A. Hoekema (‘The Bible and The Future’, hal 135) mengatakan bahwa tanda-tanda yang tidak menyenangkan itu bisa menjadi hal-hal yang menyenangkan bagi orang-orang percaya, kalau mereka memandangnya secara benar. Pada waktu nubuat-nubuat berkenaan dengan hal-hal itu terjadi, mereka bisa mengingat bahwa itu telah dinubuatkan, dan karena itu terjadinya hal-hal itu menunjukkan bahwa semua itu ada dalam kontrol dari Allah sendiri. Semua itu bukan saja tak bisa mengalahkan tujuan / rencana Allah yang kekal, tetapi bahkan menggenapinya. Juga bahwa tanda-tanda itu menunjukkan bahwa Kristus sedang dalam perjalanan untuk datang kedua-kalinya.
Anthony A. Hoekema: “believers pay attention to them. When they do so, the signs become for them joyful tidings: indications that the Lord is on the throne, and that his return is near. Even when he sees the unpleasant signs, therefore (like apostasy, false prophets and false Christ, persecution and tribulation), the believer is not discouraged. For he knows that antichristian forces are always under God’s control, and can never defeat God’s ultimate purpose. He knows, too, that even these unpleasant signs are to be expected, and are indications that Christ’s return is on the way” (= ) - ‘The Bible and The Future’, hal 135.
6) Beberapa kesalahan yang umum berkenaan dengan tanda-tanda akhir jaman ini.
a) Menganggap bahwa tanda-tanda ini hanya berkenaan dengan saat-saat menjelang kedatangan Kristus yang kedua-kalinya.
Anthony A. Hoekema: “One such mistaken understanding is to think of the signs of times as referring exclusively to the end-time, as if they had to do only with the period immediately preceding the Parousia and had nothing to do with the centuries preceding the Parousia” (= ) - ‘The Bible and The Future’, hal 130.
b) Menganggap bahwa tanda-tanda ini haruslah berupa sesuatu yang betul-betul bersifat spektakuler.
Anthony A. Hoekema: “Another mistaken understanding of these signs is to think of them only in terms of abnormal, spectacular, or catastrophic events. ... Instead of looking for spectacular signs, therefore God’s people should be on the alert to discern the signs of Christ’s return primarily in the nonspectacular processes of history” (= ) - ‘The Bible and The Future’, hal 130,131.
c) Meramalkan saat kedatangan Kristus yang kedua-kalinya berdasarkan sudah terjadinya tanda-tanda tersebut.
Anthony A. Hoekema: “A third wrong understanding of the signs of the times is to attempt to use them as a way of dating the exact time of Christ’s return. Such attempts have been made throughout Christian history” (= ) - ‘The Bible and The Future’, hal 131.
Anthony A. Hoekema: “Christ himself, however, condemned all such attempts when he told us that no one knows the day or the hour of his return, not even the Son (Mark 13:32 Mat 24:36). If Christ himself did not know the day, who are we that we should try to know more than Christ? The signs of the times tell us about the certainty of the Second Coming, but do not divulge its precise date” (= ) - ‘The Bible and The Future’, hal 131.
Bdk. Mat 24:36,44 - “(36) Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.’ ... (44) Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.’”.
Catatan:
· kata-kata ‘Anakpun tidak’ harus diartikan bahwa sebagai manusia Yesus tidak tahu hari Tuhan. Tetapi sebagai Allah Ia maha tahu, sehingga tidak mungkin Ia tidak tahu hari Tuhan.
· perhatikan kata-kata ‘pada saat yang tidak mau duga’ dalam Mat 24:44 itu! Jadi, kalau ada orang-orang menduga bahwa Kristus akan datang kembali pada suatu tanggal / saat tertentu, justru itu menunjukkan Kristus tidak mungkin datang pada saat itu!
d) Membuat / meramalkan urut-urutan yang pasti tentang terjadinya tanda-tanda akhir jaman itu.
Anthony A. Hoekema: “A fourth wrong use of the signs culminates in the attempt to construct an exact timetable of future happenings. This attempts has been characteristic of many eschatologically oriented sectarian movements; it continues to be characteristic of certain types of dispensationalism” (= ) - ‘The Bible and The Future’, hal 131-132.
Di sini diperlukan sikap hati-hati dalam menafsirkan nubuat; dalam hal ini, khususnya yang berhubungan dengan kedatangan Kristus yang kedua-kalinya.
Charles Hodge (‘Systematic Theology’, vol III, hal 790-792) memberikan suatu pengajaran tentang penafsiran nubuat yang sangat penting diperhatikan.
Ia mengatakan bahwa nubuat diberikan supaya kita mengerti tentang hal-hal tertentu yang akan datang, tetapi dengan suatu cara yang berbeda dengan kalau kita menafsirkan cerita-cerita sejarah tentang hal-hal pada masa lampau.
Charles Hodge: “Prophecy is very different from history. It is not intended to give us a knowledge of the future, analogous to that which history gives us of the past. This truth is often overlooked. We see interpreters undertaking to give detailed expositions of the prophecies of Isaiah, of Ezekiel, of Daniel, and of the Apocalypse, relating to the future, with the same confidence with which they would record the history of the recent past. Such interpretations have always been falsified by the event” (= ) - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 790.
Dalam persoalan nubuat, hal itu diberikan hanya supaya orang-orang tahu dengan pasti bahwa nubuat itu akan terjadi, dan mereka bersiap-siap untuk hal itu.
Charles Hodge: “In prophecy, instruction is subordinate to moral impression. The occurrence of important events is so predicted as to produce in the minds of the people of God faith that they will certainly come to pass. Enough is made known of their nature, and of the time and mode of their occurrence, to awaken attention, desire, or apprehension, as the case may be; and to secure proper effort on the past of those concerned to be prepared for what is to come to pass” (= ) - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 790-791.
Sebelum nubuat itu terjadi, biasanya ada banyak penafsiran yang berbeda-beda, dan bahkan penafsiran-penafsiran yang salah, berkenaan dengan nubuat itu. Tetapi pada saat nubuat itu terjadi, orang akan tahu dengan pasti bahwa peristiwa itu merupakan penggenapan sebenarnya dari nubuat itu.
Contohnya adalah nubuat-nubuat tentang kedatangan Kristus yang pertama. Jauh sebelum Kristus datang untuk pertama kalinya, jelas sudah dinubuatkan bahwa Mesias / seorang Penebus akan datang, dan Ia adalah seorang Raja, Imam dan Nabi, dan bahwa Ia akan membebaskan umatNya dari dosa, dan dari bencana / kejahatan (evil), dan bahwa Ia akan mendirikan Kerajaan yang akan menguasai kerajaan-kerajaan di dunia ini, menundukkan bangsa-bangsa dan sebagainya. Juga bahwa Ia akan menjadikan umatNya bahagia dan diberkati. Juga dinubuatkan bahwa Elia akan datang kembali, untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan / Mesias itu.
Nubuat-nubuat ini membuat bangsa Israel / orang-orang Yahudi mengarahkan pikiran mereka ke depan, mendoakan hal itu dan mengharap-harapkan kedatangan Mesias itu. Tidak ada seorangpun dari mereka yang menafsirkan kedatangan Kristus yang pertama itu dengan benar. Mereka bahkan salah menafsirkannya. Tetapi pada waktu kedatangan Kristus yang pertama itu betul-betul terjadi, kita tahu bahwa itu pasti merupakan penggenapan dari nubuat-nubuat itu.
Kristus memang adalah Raja yang mempunyai kerajaan, tetapi secara rohani, bukan seperti yang mereka harapkan / perkirakan. Kristus memang adalah Imam, tetapi Ia juga adalah Korbannya, dan tak ada yang menduga seperti ini. Ia membebaskan umatNya, tetapi bukan seperti yang mereka harapkan (dari penjajahan Romawi dsb). Ia memang menundukkan bangsa-bangsa, tetapi bukan dengan kekerasan / pedang, tetapi dengan kebenaran dan kasih (Injil). Elia memang datang untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, tetapi ia datang dalam diri Yohanes Pembaptis, suatu cara yang tak pernah dipikirkan siapapun.
Charles Hodge: “It follows, from what has been said, that prophecy makes a general impression with regard to future events, which is reliable and salutary, while the details remain in obscurity” (= ) - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 791.
Charles Hodge: “The
utter failure of the Old Testament Church in interpreting the prophecies
relating to the first advent of Christ, should teach us to be modest and
diffident in explaining those which relate to his second coming. We should be
satisfied with the great truths which those prophecies unfold, and leave the
details to be explained by the event” (= ) - ‘Systematic Theology’, vol
III, hal 791-792.
Ini perlu diterapkan dalam menentukan sang Anti Kristus, masa kesukaran besar (the great tribulation), kemurtadan besar, pertobatan seluruh Israel, tanda-tanda di langit, dan sebagainya.
Anthony A. Hoekema: “We are confident that all predictions about Christ’s return and the end of the world will be fulfilled, but we do not know exactly how they will be fulfilled” (= ) - ‘The Bible and The Future’, hal 133.
7) Kedatangan Kristus yang kedua-kalinya itu sendiri.
a) Itu bersifat pribadi dan bisa terlihat (personal dan visible).
1. Jangan campur-adukkan kedatangan Kristus yang kedua-kalinya dengan kedatangan Kristus yang lain, seperti dalam:
· Mat 16:28 - “”.
· Yoh 14:18-19 - “”.
· Yoh 14:22-23 - “”.
· Wah 2:16 - “”.
2. Kita tidak mempercayai kedatangan Kristus yang kedua-kalinya secara rohani, yang tak terlihat dan sebagainya, seperti yang diajarkan oleh banyak orang sesat, dengan Saksi Yehuwa / Charles Taze Russell sebagai contoh utama.
3. Bahwa kedatangan Kristus yang kedua-kalinya bersifat pribadi dan bisa terlihat, dinyatakan oleh banyak ayat Kitab Suci, seperti:
· Mat 24:30 - “”.
· Mat 26:64 - “”.
· Luk 21:27 - “”.
· Kis 1:11 - “”.
· Wah 1:7 - “”.
4. Hal-hal lain berkenaan dengan kedatangan Kristus yang kedua-kalinya mengharuskan penafsiran bahwa kedatangan Kristus yang kedua-kalinya itu bersifat pribadi dan bisa terlihat. Hal-hal lain apa?
· Ia dikatakan datang di awan-awan, dengan segala kuasa dan kemuliaannya, disertai para malaikat dan dimuliakan di antara orang-orang kudusNya (Mat 16:27 Mat 24:30 Mat 26:64 2Tes 1:10)
· Semua orang (yang tak percaya) akan ketakutan, bersembunyi, dan meminta bukit-bukit / gunung-gunung rubuh menimpa mereka (Wah 6:15-17).
Louis Berkhof sampai hal 703.
Herman Hoeksema sampai hal 816.
Hodge sampai hal 814.
Shedd sampai
‘resurrection’ (ini belum) - hal 647.
Dabney sampai hal
829. Dabney hal 830 dst tahu-tahu bicarakan kebangkitan orang mati,
penghakiman, dan sebagainya.
Tentang teori
tentang adanya 2 kebangkitan orang mati, lihat Shedd vol II, hal 642-645.
Tetapi Hodge juga punya
pandangan tambahan sebagai berikut: “after the second coming of Christ, and the resurrection
of the dead, the state of the soul will be still more exalted and blessed” (=
setelah kedatangan Kristus yang kedua-kalinya, dan kebangkitan orang mati,
keadaan dari jiwa itu akan lebih ditinggikan / dimuliakan dan diberkati lagi) - ‘Systematic Theology’, vol
III, hal 724.
Apakah ini
benar? Masukkan ini dalam bagian yang membicarakan ‘Surga’.
Louis Berkhof: “Dr. Kuyper correctly points out that every other locus left some question unanswered, to which eschatology should supply the answer. In theology, it is the question, how God is finally perfectly glorified in the work of His hands, and how the counsel of God is fully realized; in anthropology the question, how the disrupting influence of sin is completely overcome; in christology the question, how the work of Christ is crowned with perfect victory; in soteriology the question, how the work of the Holy Spirit at last issues in the complete redemption and glorification of the people of God; and in ecclesiology, the question of the final apotheosis of the Church. All these questions must find their answer in the last locus of dogmatics, making it the real capstone of dogmatic theology” (= ) - ‘Systematic Theology’, hal 665.
Herman Hoeksema: “By the doctrine of the last things, therefore, we strictly understand the final consummation and realization of the counsel of God, which along the way of sin and grace, death and the curse, as well as the wonder of salvation in Christ, is finally realized in the eternal kingdom and the everlasting covenant of God, where the tabernacle of God will be with men” (= ) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 744.
Herman Hoeksema: “the consummation of all things presupposes a willing and decreeing God, Who is before all things, and Who made all things according to His own counsel unto a definite end and purpose, and Who by that counsel controls and guides all things unto the end He had in mind. Without the presupposition of this counsel of a personal God the world can have no purpose and no destination unto which it was called into being. And without an all-ruling providence, according to which God controls all things according to His good pleasure, there cannot possibly be any definite line or stability in the development of all things, and there is no guarantee that they will attain to the purpose unto which they were called into being” (= ) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 737.
Herman Hoeksema: “behind and before all things stands the decreeing God, Who performs all His good pleasure. In that counsel of God the end of all things was proposed before the beginning. The counsel of the intelligent and willing God proposed for all things a teloj, a purpose, and end, a destination. To that end and purpose all things are adapted, and unto that end all things hasten with infallible certainty under the almighty control and direction of the living God” (= ) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 738.
Herman Hoeksema: “The name Eschatology, which is derived from e]sxatoj (ESKHATOS) and legein (LEGEIN), in itself denotes only that which must still take place in order to bring to an end all that has reference to the present world. It does not refer to the eternal things whatsoever. It refers indeed to the end of the world and to the things that immediately precede the end and that must lead to the end; but it does not apply to the new and eternal creation of God; where the tabernacle of God will be with men” (= ) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 729.
Berkhof tak percaya seadanya bayi mati masuk surga.
Louis Berkhof: “Man is lost by nature, and even original
sin, as well as actual sins, makes him worthy of condemnation” (= ) - ‘Systematic Theology’, hal
693.
Louis Berkhof: “There is no Scripture evidence on which we
can base the hope that adult Gentiles, or even Gentile children that have not
yet come to years of discretion, will be saved” (= ) - ‘Systematic Theology’, hal
693.