|
Sharing : Your Breaking Point |
|
| |
|
YOUR
BREAKING POINT Dari Kristen Berkualitas Penginjil menjadi
Kristen Berkualitas Misionaris I
BREAKING POINT "I am not interested in your father's lineage.
What I am interested in is ... your breaking point". Kalimat diatas bukan berasal dari Alkitab ataupun
dari tokoh - tokoh Kristiani yang terkenal. Tetapi berasal dari Admiral
Chang, seorang Admiral bangsa Klingon, tokoh antagonis dari sebuah film
fiksi Star Trek. Dalam perang menghadapi manusia bumi, tentara bangsa
Klingon dibawah kepemimpinan Admiral Chang memberikan ujian super berat
kepada semua tentaranya, supaya yang gagal mati dan tidak menjadi beban
negara, sedangkan yang berhasil bisa menjadi pejuang yang akan membawa
Klingon menjadi penguasa tunggal jagad raya. Meskipun banyak ideologi Star Trek yang salah, saya
yakin bahwa pengarang film - film Star Trek, Gene Roddenberry yang beragama
Kristen dan dekat dengan kaum Yahudi (Captain Kirk dan Mr.Spock dimainkan
oleh artis Yahudi) mengambil banyak juga kebenaran dari Alkitab. II
PEMURNIAN UMAT TUHAN Saya percaya rekan Club Malachi sudah sangat
familiar dengan kitab Maleakhi. Bila kita ingat akan ayat - ayat berikut : Maleakhi 3: 2 Siapakah
yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap
berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni
logam dan seperti sabun tukang penatu. 3
Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak;
dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti
perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang
benar kepada TUHAN. 4
Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN
seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.
Kita sadar bahwa Tuhan selalu menerima kita apa
adanya. Tetapi kita juga harus sadar bahwa Tuhan juga selalu berusaha
memurnikan kita sehingga kita menjadi sama seperti dia. Ujian dan cobaan
bagi umat Tuhan akan datang sehingga bila bagi orang dunia hidup ini
bagaikan roda pedati, kadang diatas kadang dibawah, Tuhan akan membawa kita
lebih banyak di bawah dan sesekali diatas. Ini adalah jalan Tuhan untuk
memurnikan kita. Pemurnian ini juga dikenal dengan nama "Padang
Pasir". Semua tokoh Alkitab yang berada di pihak Tuhan dari awal sampai
pada akhirnya biasanya melewati proses "Padang Pasir" ini,
meskipun tidak semuanya dalam bentuk padang pasir jasmani. Dan tokoh - tokoh
ini misalnya adalah Abraham, Yusuf, Musa, dan tentu saja Yesus. Sedangkan
tokoh - tokoh yang tidak dapat bertahan tetap biasanya tidak pernah melalui
"Padang Pasir" ini. Misalnya adalah Adam, Saul, Salomo dan
beberapa orang lagi. Pemurnian dari Tuhan dalam hal ini akan saya
klasifikasikan menjadi dua yaitu : 1. Pemurnian karakter - dimana karakter kita diasah
dan digosok hingga menjadi seperti Kristus 2. Pemurnian rohani - dimana pola pikir kita akan Tuhan, Firman Tuhan dan dunia
diubahkan sehingga kita bisa berpikir, melihat, menyembah Tuhan dan
mengasihi Tuhan dan orang lain sebagaimana Tuhan mau. Tentu saja keduanya berhubungan dan dipisahkan
hanya dengan sehelai benang tipis. Pada segi pemurnian rohani, saya hanya akan
membahas sedikit sekali karena kita sebagai umat Tuhan yang hidup di jaman
ini sangat berbahagia sudah menerima banyak sekali penyingkapan kebenaran
Firman Tuhan. Pemurnian rohani didapat melalui banyak sekali membaca
Alkitab, berdoa dan menyembah Tuhan. Intinya, persekutuan pribadi dengan
Tuhan. III
PEMURNIAN KARAKTER Yang ingin saya bagikan hari ini adalah mengenai
pemurnian karakter. Dalam hal ini saya ingin membagikan pengalaman saya
dalam melayani Tuhan. Hal kedua yang paling menyakitkan saat saya memulai
karir (maaf memakai kata karir) pelayanan saya adalah proses penghilangan
harga diri yang luar biasa. Dan saat ini semua terjadi, ayat - ayat yang anda
baca seakan tidak berguna lagi. Saya tidak mengatakan bahwa Alkitab menjadi
tidak penting. Tetapi dalam proses mengubah Firman Tuhan yang tertulis
menjadi sebuah pengalaman, hubungan pribadi dengan Tuhan dalam bentuk doa -
doalah yang menjadi bagian terpenting. Karena pada saat itu kita membutuhkan
Roh Kudus untuk menerangkan dan membantu menerapkan ayat - ayat yang sudah
kita baca menjadi sebuah kebenaran dalam hidup kita. Dan seringkali orang yang gagal dalam pemurnian
karakter bukanlah karena kurang ayat, tetapi karena gagal menerima ayat -
ayat Firman Tuhan sebagai kebenaran yang nilainya lebih tinggi dari
kebenaran pribadi kita. Dan kebenaran Firman Tuhan hanya bisa menjadi
kebenaran pribadi bila sudah pernah kita alami sendiri. Firman Tuhan yang
sudah menjadi kebenaran pribadi inilah yang kita sebut dengan
"Rhema". Saya memulai pelayanan saya ketika saya dan rekan
saya Michael bergabung dengan sebuah organisasi bernama YWAM (Youth With A
Mission) di Selandia Baru. A. MASALAH RASIAL Pada misi pertama saya, saya ditempatkan di sebuah
team yang diketuai Lloyd Belcher, eks pecandu narkoba asal Hongkong. Pria
Inggris yang fasih berbahasa Mandarin dan Canton ini diselamatkan oleh
pelayanan Jacky Pullinger. Wakilnya adalah seorang pria, cowboy New Zealand
asli. Lloyd dan pria ini sama - sama orang yang keras. Lloyd pernah beberapa
kali dipenjara karena kasus narkoba, sedangkan pria ini adalah ... well,
cowboy. Jadi masalah saya dengan pria ini bukan karena saya punya masalah
dengan orang yang keras atau orang yang memiliki otoritas. Dalam setiap hal
yang saya lakukan, saya bisa menangkap dari orang itu ucapan dan tindakan
yang menyalahkan saya. Bahkan ketika saya mengeluarkan kata - kata sia -sia
saya mendapatkan teguran yang keras dari beliau. Meskipun teguran itu benar,
teguran itu seringkali diucapkan dengan penuh kebencian. Akhirnya saya sadar
bahwa itu bukan karena saya bersalah melainkan karena sentimen rasial
belaka. Dan memang ketika kami akan mulai berdoa dan menyembah Tuhan beliau
minta maaf, karena di YWAM memang wajib berbuat demikian. Saya harus belajar
menerima lalu mengasihi orang ini meskipun orang ini tidak menyukai apalagi
mengasihi saya. Dan memang Tuhan itu adalah Allah yang ajaib. Menjelang
selesainya misi kami, kami melihat sebuah kursi yang menggunakan sebuah
sokbreker dan lengan ayun, persis konstruksi sebuah motor besar (superbike).
Karena bagi saya itu adalah barang yang aneh, saya menjerit, lihat kursi
dengan monoshock swing arm. Rupanya orang ini juga pencinta superbike. Maka
kamipun merasa punya common ground dan mulai bersahabat. Ironis bahwa
Kristus gagal menjadi common ground kami dan Tuhan mengirimkan "kursi
aneh" untuk mendamaikan kami. Ada lagi anak - anak suku Maori yang mengerjakan
bible study dengan bahasa Maori. Saya bingung juga karena masalah ras antara
maori, pakeha (bule) dan asian cukup sensitif di Selandia Baru. Tetapi
kemudian setelah saya atas pimpinan Roh Kudus mengkomentari jawaban mereka
dengan bahasa jawa yang mereka tidak tahu artinya, mereka sadar bahwa lebih
penting dari kebanggaan ras adalah kesatuan di dalam tubuh Kristus. Masalah rasial di YWAM ini tetap saya alami dengan
beberapa orang yang berbeda sampai saya meninggalkan YWAM. Terutama dari
seorang wanita berkebangsaan swiss. Beliau berasal dari sebuah lingkungan
dimana orang berwarna tidak layak untuk hidup. Jadi untuk saya menjadi
seorang Kristen bagi beliau sangatlah tidak masuk akal. Ini adalah bukti
bahwa YWAM bukanlah kumpulan orang yang sempurna. Tetapi ini juga bukti
bahwa Tuhan memakai YWAM dan semua orang yang tergabung di dalamnya untuk
saling bergesekan dan bertumbuh di dalam karakter Kristus. Dan masalah - masalah rasialis saya rasa masih
sangat valid dibicarakan di gereja - gereja Indonesia. Pdt. Erastus Sabdono
M.Th pernah membahas masalah ini, terutama mengenai kepemimpinan gereja yang
cenderung menguntungkan pelayan Tuhan sesuku bangsa. B.
HIDUP SECARA KOMUNAL Hal lain yang saya alami di YWAM adalah hidup
secara komunal. Saya harus belajar untuk tidur sekamar dengan belasan,
kadang puluhan orang lainnya. Cukup sulit karena sejak lahir saya dibesarkan
dengan sangat mengagungkan privacy. Saya tidur di samping Llyod yang celana
jeansnya tidak pernah diganti. Bayangkan bau yang dihasilkan. Daniel, rekan
lainnya, terlalu amat sangat cerewet bahkan untuk ukuran wanita. Bahkan di
Atlanta kami mandi di dalam sebuah kamar shower dimana 40 pria mandi dalam
keadaan telanjang bulat. Sebuah pengalaman baru yang cukup mengguncang saya.
Di YWAM Selandia Baru juga ada peraturan bahwa tugas membersihkan (baik
dapur, kamar maupun WC) adalah tugas pria. Banyak anak "borju"
yang tidak kuat membersihkan WC, apalagi WC wanita. Sedangkan banyak anak
wanita yang hampir - hampir tidak kuat ketika harus mencuci pakaian dalam
pria. Pakaian yang sudah bersih "dipajang" di ruang utama untuk
diambil sendiri oleh pemiliknya. Saya perhatikan beberapa wanita malu - malu
sehingga harus mengambilnya di malam hari ketika semua orang sudah tidur. Hidup secara komunal memang sangat penting bagi
umat Tuhan yang ingin serius melayani Tuhan dan bertumbuh secara rohani.
Gereja mula - mula menerapkan sistem ini pula. Demikian juga hamba - hamba
Tuhan terutama di desa, yang siap menerima tamu di rumah mereka dengan
mengorbankan dipan mereka untuk para tamu sementara mereka tidur di tikar.
Hanya dengan berani membongkar tembok "privacy" kitalah hidup kita
akan benar - benar menjadi seperti Alkitab yang terbuka yang siap dibaca
semua orang. C.
SELF DISCIPLINE Hidup dengan disiplin tinggi juga menjadi masalah
bagi beberapa orang. Saya mempunyai masalah dengan ini dalam beberapa misi
pertama saya. Jam 6 pagi kami semua dibangunkan untuk olah raga pagi. Jam 6
pagi serasa jam 4 pagi di Indonesia, karena Matahari baru terbit pukul 8
pagi. Dan olah raga ? Yang benar saja ... he he he. Tetapi karena itulah saya mampu untuk "tidak
pernah terlambat untuk acara penting" meskipun saya tidak memiliki
alarm clock sekalipun. Saya rasa ini masih valid dibicarakan di gereja -
gereja Indonesia dimana para pengerja gereja seringkali bertindak seenaknya
terutama saat tidak diawasi. Sementara ada juga gereja lain yang bukannya
mendorong self disiplin malah menerapkan sistem dunia seperti potong gaji
bagi pengerja yang terlambat hadir. D.
LEADERSHIP & KERENDAHAN HATI Masalah dengan "leadership" juga pernah
saya alami. Ketika itu orang - orang di team saya seakan berbicara dengan
berbisik - bisik. Ketika saya bertanya kepada ketua team apa yang sebenarnya
terjadi, saya dibentak dengan keras dan dimarahi. Saya dituduh sok penting,
dan ingin mencampuri urusan orang lain. Sesi itu ditutup dengan sebuah
kalimat "you are not that important". Saya ingat saya kemudian
duduk di bawah pohon dan menangis. Michael kebetulan ada satu team dengan
saya dan menghibur saya. Dia tahu bahwa rekan - rekan team berikut ketua
team salah besar dengan menyembunyikan masalah - masalah dari kami, dan
menyalah - artikan saya. Tetapi saya kemudian sadar bahwa setelah cukup lama
melayani bersama dengan YWAM, setelah nama saya cukup dikenal dan dihormati,
tiba saatnya bagi Tuhan untuk kembali merendahkan saya. Jadi saya terima
teguran Tuhan itu. Rupanya setelah itupun ketua team saya mendatangi saya
dengan sogokan sebuah hotdog, lalu kami sharing mengenai sulitnya memimpin
sebuah team, dan melayani diluar kasih karunia Tuhan. Rupanya ketua team itu
sebagai anak sulung presiden YWAM untuk asia pasifik merasa dibebankan untuk
menggantikan ayahnya kelak. Padahal beliau merasa dipanggil menjadi guru TK.
Kamipun berdoa bersama dan hubungan kami dipulihkan kembali. Saya rasa masalah leadership dan kerendahan hati
perlu dibicarakan lebih banyak lagi di gereja - gereja di Indonesia. Baik
jemaat maupun pemimpin perlu sadar bahwa yang membedakan keduanya bukanlah
pangkat, jabatan, kedewasaan rohani atau malah urapan sekalipun. Tetapi
untuk memimpin dan dipimpin memerlukan
kedewasaan dan kerendahan hati dan terutama kasih yang sama baik antara
pemimpin dan jemaat / pengerja. E.
TUHAN SEBAGAI SUMBER BERKAT Dan akhirnya, mengenai uang. Ini sudah sangat
sering saya bagikan, tetapi akan saya bagikan lagi untuk menguatkan rekan
semua. Saat itu team kami akan berangkat ke Cook Islands dan butuh biaya
besar. Meskipun sudah ditentukan per orang harus bayar berapa, ketua team
kami saat itu yaitu Robert Liebert berkeputusan bahwa semua harus berangkat
atau tidak ada yang berangkat. Kebetulan yang uangnya masih belum ada adalah
dua orang anak berkebangsaan Pasifik. Maka selentingan rasialis mulai
terdengar lagi. Intinya, para anak - anak swiss berpikir kalau "orang
hitam" pada malas ya salah sendiri, tinggal saja. Untunglah sebagai
orang Belanda, Robert sangat jujur dan cuek sehingga anak - anak swiss itu
yang akhirnya sebel sendiri. Pada suatu hari kami harus "manggung"
di sebuah gereja yang boleh dibilang terbesar di kota Auckland. Harapan kami
mulai naik, siapa tahu ..... sisanya bisa isi sendiri he he he ..... Tetapi
kami rupanya lupa bahwa semakin orang Kristen diberkati, biasanya semakin
pelit. Dan gereja yang mayoritas orang kaya dan jemaatnya seribu orang ini
tidak memberikan kami apa - apa. Jadi rupanya gereja besar di mana - mana
sama saja he he he .... Lalu malamnya kami diundang makan malam di sebuah
persekutuan keluarga Samoa. Anak - anak kebanyakan protes karena orang Samoa
adalah orang - orang yang bisa dibilang miskin. Dan lagi kalau saya tidak
menyalah artikan mereka, ya masalah rasial lagi. Tetapi Robert tetap
berkeputusan semua berangkat atau semua tidak berangkat ke makan malam itu.
Dan berhubung tidak ada alasan yang valid untuk tidak berangkat, kami semua
berangkat. Dan setelah makan malam dan sharing, mereka mengeluarkan sebuah
amplop dan diedarkan ke seluruh orang Samoa yang hadir, lalu diberikan
kepada kami. Dan rupanya inilah ajaran Tuhan bagi kami semua. Kami menerima
sejumlah uang yang sangat fenomenal sehingga semua kami bisa berangkat ke
Cook Islands. Seringkali kita mengharapkan pihak - pihak tertentu
untuk memberkati kita secara fisik. Seringkali kita lupa bahwa (a) kitapun
wajib memberkati, dan (b) Tuhanlah yang sebenarnya memberikan kita berkat
baik untuk kita nikmati ataupun untuk memberkati orang lain. Malah ada
seorang rekan hamba Tuhan yang pernah berkata, bila kita mulai kurang
diberkati, perhatikan, jangan - jangan Tuhan menegur kita karena kita mulai
kurang memberkati. Saya setuju dengan pendapat ini. IV.
TUHAN TERTARIK DENGAN BREAKING POINT KITA Berkali - kali dalam menghadapi semua masalah
diatas, saya dihadapkan pada breaking point saya. Saya seringkali merasa
seperti harus berjuang sendirian dan seakan siap untuk murtad. Tetapi
melalui sebuah kotbah oleh Ev. Iin Cipto saya dibukakan bahwa justru pada
saat itulah mata Tuhan sedang berkonsentrasi kepada saya. Kotbah beliau
mengatakan bahwa :
Apa breaking point anda ? Masalah rasialkah ?
Masalah kerendahan hati ? Ataukah masalah uang ? Dalam segala hal ini Tuhan
tertarik untuk menguji dan membongkar hidup anda supaya anda didapati murni. Mengapa penginjil dunia banyak yang berjatuhan di
dalam berbagai dosa, baik dosa sex, uang maupun dosa - dosa lainnya. Mengapa
kita jarang sekali mendengar seorang missionaris terjatuh dalam berbagai
macam dosa ? Karena missionaris mengalami "padang pasir" sementara
banyak penginjil tidak. Tidak cukup untuk kita menjadi penerima jawatan,
baik itu rasul, nabi, penginjil, pengajar, dan gembala. Tetapi kita semua
harus menjadi pengemban misi. Karena orang bisa berhenti bekerja sesuai
dengan jawatannya. Tetapi seorang missionaris tidak bisa berhenti bekerja
sampai misi itu diselesaikannya. V.
KESIMPULAN Akhirnya saya ingin menguatkan rekan semua bahwa
benar, Yesus pun "interested in your breaking point". Tetapi tidak
seperti Admiral Chang, Yesus tidak berniat untuk menghancurkan kita, tetapi
untuk memurnikan kita supaya hidup kita menjadi penyembahan yang berkenan di
hati Tuhan. Bertahanlah bila anda dicoba seakan melebihi
kekuatan anda. Anda akan hancur, benar. Tetapi tidak akan rusak. Karena
kehancuran anda adalah awal kebangunan Allah di dalam diri anda. Anda akan
segera keluar sebagai pemenang, bahkan lebih dari pemenang. Amin !!! "Welcome to the Christian School of Hard
Knocks"* In Him, * Fort Knox adalah Akademi Militer paling bergengsi
di Amerika. ** Bagi para kritikus Kristen, saya sengaja
menggunakan ucapan Admiral Chang untuk menggoda anda. ^-^
|
|
About
Galaxy WEB | Advertising Info
| Submit
a Page
| |