|
Kesaksian Hidup - Sharon Rose |
|
| |

|
Mungkin seperti kebanyakan anak-anak yang dilahirkan
dalam keluarga Kristen, saya pun dididik secara Kristen dari kecil.
Kebiasaan untuk pergi ke gereja sudah ada dalam keluarga sejak usia dini.
Tetapi untunglah kedua orang tua saya tidak pernah memaksakan sesuatu apapun
kepada kami anak-anaknya. Mereka selalu berusaha membuat kami mengerti jika
kami harus atau dilarang melakukan sesuatu.
Berawal dari kedatangan saya ke Belanda untuk belajar, keingintahuan untuk mencari Tuhan pun bertumbuh. Di Indonesia, walaupun aktif ‘melayani’ di gereja lokal, saya tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Saya tahu siapa Yesus, bahkan menerima Dia sebagai Tuhan saya, tetapi tidak ada relasi dalam hidup saya. Saya tidak mengenal siapa Yesus, Allah Bapa, saya tidak menyadari adanya Roh Kudus. Di Belanda, sempat saya bertanya-tanya apakah Tuhan
benar-benar ada dan bagaimanakah Dia? Tahun 1992 saya bergabung dengan
sebuah persekutuan doa dan di situ saya mulai melihat adanya kuasa Roh
Kudus, karunia roh, penyembahan, dlsb. Itu pula untuk pertama kalinya saya
menyaksikan orang yang rebah ketika didoakan. Untunglah saya orang yang
cukup cuek, walaupun tidak mengerti dan heran, saya berprinsip: mau orang
jatuh, mau teriak-teriak, yang penting saya ingin ketemu Tuhan. Keinginan
sederhana itu rupanya Tuhan penuhi. Kasus pertama yang Tuhan buka dalam hidup saya adalah
pada retret tahun 1995, mengenai masa kecil saya. Saya tidak tahu waktu itu
bahwa saya kecewa dengan orang tua saya, karena waktu kecil banyak
ditinggal-tinggal. Walaupun saya mengerti
dengan pikiran saya bahwa mereka tidak pernah bermaksud menyakiti saya,
namun secara jiwa saya terluka. Itu Tuhan bukakan dan Dia minta saya menulis
surat ke ibu saya menceritakan segalanya. Dengan argumentasi-argumentasi
yang logis, saya menerangkan kepada Tuhan bahwa mana mungkin ibu saya
mengerti?? (Rupanya saya lebih logis daripada Tuhan.. J)
Benar juga, ternyata ibu saya baru pertama kalinya menyadari bahwa ada
luka-luka pada saya yang cukup dalam, namun beliau (dan saya) mengira itu
sudah berlalu. Walaupun pertumbuhan yang perlahan-lahan, awal tahun
1998 sebelum retret Eropa, saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup
saya. Saya merasa bahwa kehidupan saya dengan Tuhan sudah ‘mentok’,
terutama dalam doa dan penyembahan. Saya ingin lebih dan itu saya minta
pada-Nya. Nah.. orang bilang: Be
careful for what you’re praying for. Karena tahun itulah awal saya
dipulihkan hingga saat ini. Sejak Agustus 1998 saya mengikuti ISWM (Indonesian
School of World Mission) dengan berbagai macam mata kuliah. Yang pertama
adalah mata kuliah konseling pribadi. Di situ kami murid-murid diberi check list tentang hal-hal yang jahat di mata Allah yang pernah kami
lakukan (a.l. dari Gal. 5:19-21) yang belum pernah dibereskan (mengaku dosa,
minta ampun dan menutup pintu masuk). Satu hal khusus yang Tuhan ingatkan
waktu itu kepada saya adalah penyimpangan yang saya miliki, yaitu suka
menyakiti diri sendiri. Walaupun saya sudah ‘bebas’ selama beberapa
bulan, dosa ini tidak pernah saya akui secara verbal. Di sana saya mengaku
dan saya beriman saya sudah dibebaskan. Ternyata proses pemulihan berjalan terus-menerus. Tahun
1999 di bulan April, saya mengikuti semester berikutnya dan kali ini
dibukakan tentang luka yang saya alami dengan seorang saudara seiman yang
berpengaruh begitu besar dalam hidup saya. Di situlah saya tahu apa rasanya
dimanipulasi, dikuasai, bahkan seperti diperkosa secara fisik. Di situ pula
saya depresi berminggu-minggu karena menganggap Tuhan tidak adil. Bagaimana
mungkin, saat ketika saya sedang getol-getolnya mencari Dia, Dia mengizinkan saya diperlakukan sedemikian parah, padahal Dia tahu
apa dampaknya dalam hidup saya! Saya merasa jijik dengan diri sendiri dan
marah mengapa saya membiarkan diri saya diperlakukan demikian? Namun Tuhan
baik (AMIN! J).
Ia tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Puncak pemulihan tersebut adalah Agustus 1999, semester
ketiga saya mengikuti ISWM. Sementara
itu sudah sejak November 1998 ketika diadakan doa pelepasan masal di gereja
saya (dilayani oleh Ibu Elizabeth Brookshaw) berbulan-bulan saya jatuh
bangun dalam kebiasaan yang tidak bisa saya lepas: menyakiti diri sendiri.
Saya frustasi, marah, benci, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saya banyak
menulis surat kepada gembala saya (Puji Tuhan Dia menepatkan mereka di sini!
J)
memohon bantuan. Itupun sesudah saya menyadari keseriusan keterikatan saya,
ketika suatu kali saya sudah hampir membayar orang untuk abuse saya. Tuhan memang baik… kadang-kadang perlu dipojokkan
dahulu baru menyerah… J
Dengan seizin mereka pula, saya meminta bantuan seorang psikolog yang juga
gembala sidang di Amerika. Saya mengenalnya karena dia salah satu guru yang
mengajar di ISWM. Melalui email saya banyak berkonsultasi dan Tuhan
perlahan-lahan memulihkan saya. Oktober tahun lalu baru saya bisa memberikan
hati saya sepenuhnya kepada Tuhan, karena saya tahu Dia tidak pernah akan
mengecewakan saya. Saya juga tahu, bahwa walaupun banyak hal jahat yang
terjadi dalam hidup saya, Dia tidak
pernah meninggalkan saya. Dia ada bersama saya dalam setiap kejadian
yang menyakitkan, memeluk dan menangis bersama saya. Bukan
pilihan-Nya saya mengalami semua itu, tetapi Ia sanggup mengubah segala yang jahat menjadi kebaikan (Rom. 8:28). God
is not the Creator of evil, but He is the Master of all. Therefore He is able
to change evil into goodness, even into something beautiful. Sekarang saya melihat bagaimana tangan Tuhan bekerja
dengan penuh kasih. Bagaimana Allah Bapa mengubah hati saya yang keras,
tidak berperasaan (karena sejak kecil saya matikan perasaan saya), penuh
kebencian, menjadi hati yang mau menerima Dia dan mau dibentuk-Nya.
Bagaimana tidak? Dia menyatakan secara pribadi betapa sayangnya Dia kepada
saya. Ketika Oktober 1999 saya nyaris berhenti menjadi Kristen (buat apa
ikut Tuhan kalau tidak bisa percayakan hati saya, bahwa Dia tidak
akan pernah menyakiti saya?) Dia mendatangi saya dan saya melihat
bagaimana Dia mengangkat saya, meletakkan saya di pangkuan-Nya dan sambil
membelai kepala saya Dia bertanya, “My child, why is it so difficult for
you to trust Me?” Saat itulah saya tahu bahwa Dia benar-benar sayang saya
dan saya menyerah. J God is good.
|
|
About
Galaxy WEB | Advertising Info
| Submit
a Page
| |