![]() |
Produk Rumahku Lebih Baik Daripada Produk“Dari hobi jadi hoki” kutipan tersebut dapat menggambarkan ekonomi kreatif. Ekonomi merupakan sebuah kegiatan dalam menciptakan suatu inovasi yang baru, yang mana dari kreativitas itu sendiri, dapat dijadikan sebagai sarana berbisnis yang bisa menghasilkan uang. Kreativitas yang dibuat dapat menumbuhkan rasa kecintaan masyarakat lokal dalam membeli suatu produk dalam negeri, apalagi produk mereka telah tembus ke pasar dunia, dan mendapat respon yang besar oleh masyarakat dunia juga. Songket misalnya, kerajinan asli palembang ini telah menembus pasar dunia, yang mana banyak negara, seperti Malaysia, Singapura, hingga Australia. Tak tanggung-tanggung uang yang didapat dari pameran-pameran yang diadakan oleh negara sahabat mencapai ratusan juta rupiah. Selain songket, kreativitas ekonomi yang merupakan inovasi terbaru dari masyarakat palembang adalah sate biji karet, atau yang biasa disebut sate Palembang. Songket merupakan salah satu produk lokal hasil kerajinan rakyat Palembang. Produk lokal yang mempunyai kualitas yang cukup bagus dan merupakan salah satu bentuk penjelmaan dari ekonomi kreatif. Songket juga memiliki nilai dan corak yang khas, sehingga harga dari satu buah songket, yang dibuat dari benang emas asli, dihargai sekitar Rp15.000.000,00 atau lebih. Sayangnya, saat ini masyarakat lebih suka menggunakan produk luar negeri dengan alasan menggunakan produk luar negeri lebih meningkatkan prestise dan mempunyai kualitas yang lebih bagus. Hal tersebut terbukti yakni sekitar 42 % warga Indonesia menggunakan produk luar negeri (menurut data dari kementrian). Padahal apabila masyarakat menggunakan terlalu banyak produk luar negeri akan membuat kondisi ekonomi di Indonesia semakin memburuk karena akan terjadi penurunan anggaran pendapatan negara. Dan disadari atau tidak disadari memberikian efek negatif terhadap pembangunan negara oleh pemerintah karena adanya keterbatasan dana. Adanya penurunan permintaaan konsumen terhadap produk lokal memaksa perusahaan dalam negeri mencari ide-ide baru sehingga dibutuhkannya ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif adalah sebuah kegiatan yang membutuhkan suatu keahlian tertentu, yang akan menciptakan sesuatu yang baru, dan memiliki nilai tambah yang khas, sehingga dari kegiatan tersebut dapat menciptakan lapangan kerja baru, bagi para pencari kerja. Hal tersebut senada dengan pendapat Dr. I G. W. Murjana Yasa, SE., M. Si, bahwa Ekonomi kreatif adalah kegiatan pemenuhan kebutuhan yang didasarkan pada intelektual, keahlian, talenta, dan gagasannya yang orisinal. Ahli ekonomi Paul Romer , ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang ditekankan di kebanyakan model-model ekonomi. Menurut Ir. Suparwoko, MURP Ph.D. (Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia) Ekonomi kreatif adalah Kreatifitas merupakan modal utama dalam menghadapi tantangan global. Bentuk-bentuk ekonomi kreatif selalu tampil dengan nilai tambah yang khas, menciptakan “pasar”nya sendiri, dan berhasil menyerap tenaga kerja serta pemasukan ekonomis. Suatu produk yang berasa dari Ekonomi kreatif, memiliki ciri-ciri yang memberikan corak tersendiri dari sebuah kreativitas. Seperti halnya, memilki siklus hidup yang singkat, yang mana suatu kreativitas siklus yang mudah hilang akibat dari kebosanan konsumen, resiko dalam sebuah Ekonomi kreatif juga terlalu besar, persaingan yang cukup tinggi, karena adanya sebuah inovasi baru yang diciptakan oleh orang lain, sehingga mereka juga berusaha untuk membuat sesuatu yang sama dengan ide yang kita buat. Tentunya hal ini membuat orang yang pertama kali menemukan ide tersebut, merasa idenya telah tersaingi dan mungkin penciptaan ide yang sama diambil oleh orang lain. Sehingga, perlunya upaya perlindungan hak cipta dalam sebuah kreativitas seseorang, yang mana akan menjamin ide atau inovasi orang tersebut sehingga ide atau inovasi mereka tidak akan pernah diambil oleh orang lain, apalagi orang yang berasal dari bangsa lain. Adapun indikator dari sebuah Ekonomi kreatif didapat dari proses melihat, membaca, mendengar, hingga bertata laku. Sumber imajinatif dari sebuah kreativitas, yakni siklus hidup manusia, adat dan budaya, persaingan, hingga perlombaan. Sehingga imajinasi pemikiran yang paling mendalam kemudian dapat direalisasikan kedalam bentuk yang nyata, misalnya kerajinan, perikanan, arsitektur, dan lain-lain. Tentunya hal diatas harus dilakukan melaui sistem yang sistematis (kreatif), secara terencana dan terukur, terkait dengan produk apa, waktu (pentahapan), tempat, bagaimana melakukan?, siapa melakukan?, dan akhirnya indikator pencapaian. Kebanggaan terhadap ekonomi kreatif Salah satu bentuk ekonomi kreatif dalam bentuk tekstil yang berada di wilayah kota Palembang yaitu songket. Dikatakan ekonomi kreatif, dikarenakan songket memiliki nilai kebudayaan yang tinggi, dan corak yang khas, disertai dengan berbagai motif, seperti salak nanas, lepus,nago besaung, dan ombak. Songket juga memiliki unsur folosopis yang sangat kental dengan unsur kerajaan,yakni zaman kerajaan palembang(1455-1659), dan kesultanan palembang darussalam(1659-1823) yang pada umumnya, dipakai oleh raja-raja atau sultan dan kerabat keraton sebagai pakaian kerajaan. Pemakaian songket pada umumnya juga digunakan masyarakat Palembang sebagai keradong atau sejenis selendang songket yang dipakai sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk pelaksanaanmarhaban (peresmian nama anak dan pencukuran rambut atau ucapan selamat datang kepada warga baru dunia). Songket juga pada umumnya dipengaruhi oleh kepercayaan islam yangmana perubahan motif dari motif naga ( yang dipercayai sebagai kepercayaan Cina), hingga penggambaran naga , Nago besaung( salah satu motif songket ) menjadi pola simetris, hingga pola naga nyaris tak tampak. Selanjutnya songket juga dipengaruhi oleh kekuasaan, dalam hal ini, warna cerah yang terdapat pada songket, melambangkan pembentukan jatidiri baru Palembang setelah melepaskan diri dari pengaruh politik , dan ideologi mataram. Sesungguhnya, nilai filosopis yang lahir dari makna (budaya) benda itulah yang terpancar dari songket mengejawentahkan sebagai kekuatan dalam setiap aksen dan detail motifnya. Hal ini juga yang membuat songket sebagai salah satu produk dalam negeri yang memiliki nilai kreativitas yang tinggi dan nilai filosopis yang luar biasa. Panggil saja Ibu Hj Rumaini, SE., salah satu pengusaha kain songket yang sudah lama menekuni pekerjaannya sebagai pemilik sekaligus pembuat kain songket dalam berbagai jenis yang terbilang sukses di Palembang. “Rumah kain”, toko yang ia dirikan bertempat di Jl. Maluku IV B2, Perum Ogan Permata Indah(OPI), Jakabaring palembang ini menjual berbagai hasil kerajinan tekstil buatan ibu Rumaini sendiri, misalnya kain Songket,Tajung,Jumputan, dan lain-lain. Dari penjualan hasil kerajinan ini, Hj. Rumaini mampu meraup untung pendapatan yang cukup besar, dalam penjualan kain songket sekitar Rp15.000.000,00/ bulan. Pemasaran dari kain songket ini hanya untuk wilayah palembang saja, karena ia berpendapat bahwa, tumbuhkan dulu rasa bangga daerah lokal sebelum masyarakat diluar Palembang. Usaha “Rumah kain” milik ibu Rumaini, SE., ini tergolong menguntungkan, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam berwirausaha.[1] Salah satu bentuk ekonomi kreatif selanjutnya dalam bentuk kuliner yakni sate biji karet, sate khas Palembang. Inovasi yang ditemukan oleh Ahmad Daud Alamsyah, salah satu mahasiswa fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya. Ide yang didapat ini bermula dari kegemarannya memakan sate-sate pada umumnya, lalu suatu hari timbul di benaknya untuk menciptakan sate khas palembang. Hingga akhirnya ia mendapatkan ide untuk menciptakan sate yang bahan bakunya bukan berasal dari daging, melainkan biji karet, biji tumbuhan yang banyak ditemukan ditempat lain di seluruh daerah sumatera selatan . yangmana berkat dari inovasi yang tergolong baru dan unik inilah, mereka mendapatkan penghargaan Eagle Awards pada tahun 2010, dan mendapatkan uang tunai sebesar Rp200.000.000,00 dari (instansi terkait). Dengan mendengar sate biji karet itu sendiri membuat masyarakat berpikir bahwa, itu merupakan hal yang baru dan mungkin patut dicoba, karena ide tersebut dapat di aplikasikan ke suatu aksi yang nyata, yakni membuat bisnis rumah makan sate biji karet.[2] Berbagai fakta diatas menunjukkan bahwa kretif itu relatif, semua orang dapat berkreativitas, dan dengan kreativitas itu sendiri dapat menciptakan sesuatu yang baru, dan juga menguntungkan. Dalam hal ini di aplikasikan ke dalam bentuk ekonomi kreatif dalam bentuk tekstil dan kuliner. Manfaatnya jelas, selain untuk kepentingan sendiri, dengan mendapatkan keuntungan yang besar, ekonomi yang kreatif juga dapat menumbuhkan rasa cinta masyarakat lokal terhadap produk dalam negeri. Dengan memberikan kualitas yang bagus dan juga tahan lama, mampu meningkatkan rasa ketertarikan yang lebih terhadap daya beli produk dalam negeri. Jadi cintailah produk dalam negeri. [1] Wawancara via dengan narasumber Hj. Rumaini, SE. Tanggal 20 oktober 2011 [2] Wawancara via telepon dengan Ahmad Daud Alamsyah via telepon, tanggal 18 oktober 2011 DAFTAR PUSTAKA bataviase.co.id/node/89775 bandungcreativecityblog.files.wordpress.com/…/perkembangan_ind Diakses 15 November 2011 http://ernirismayana.blogspot.com/2011/11/definisi-ekonomi-kreatif-konsep-ekonomi.html Diakses 15 November 2011 Syarofie, Yudha. 2009. Songket Palembang. Palembang: Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Pendidikan, Kegiatan Pengelolaan kelestarian Nilai Budaya Sumatera Selatan. Yasa, Murjana. www.denpasarkota.go.id/…/file/?EKONOMI%20KREATIF%202009. Diakses 15 November 2011. |
|