SUAMI
ISTRI
Teman2,
Saya diberkati luar biasa
ungkapan teman2 yang banyak pengalaman dibawah ini.
persiapan
perkawinan
"Untuk
memahami konflik keluarga, salah satunya harus dilihat bagaimana
sebenarnya persiapan perkawinan mereka kata
sebagai diaken di Gereja Bethany Indonesia di Surabaya.
Persiapan
itu meliputi persiapan aspek fisik, yaitu kesehatan jasmani. Hal ini
dilihat dari kematangan kronologis atau umur kelahiran. Bagi wanita,
umur 20 sampai 25 tahun adalah umur terbaik atau matang untuk melakukan
pernikahan. Sedangkan untuk pria usia 25 sampai 30 tahun adalah usia
siap menikah. Konflik dalam pasangan atau keluarga kalau ditelusuri
mempunyai dimensi yang amat luas.
Perbedaan
usia antar pasangan sangat mempengaruhi perjalanan rumah tangga ke
depan. Kalau usia berbeda jauh maka keharmonisan dalam rumah tangga bisa
terganggu. Misalkan jika si prianya jauh lebih muda, maka pada usia
perkawinan tertentu bisa jadi si pria masih bergairah tetapi si isteri
kurang bergairah. Ini bisa menjadi pemicu masalah.
aspek
kejiwaan.
Ini
lebih menyangkut pada kepribadian pasangan. Pribadinya merupakan pribadi
yang matarig / dewasa atau pribadi yang psikopat dalam artian maunya
menang sendiri, menghalalkan segala cara, melanggar aturan dan
sebagainya. Kepribadian yang demikian sangat potensial untuk memicu
konflik.
Pasangan
yang mempunyai kematangan kepribadian, akan lebih siap dalam mengarungi
kehidupan rumah tangga. Perbedaan dalam kematangan kepribadian kalau
tidak disadari oleh pasangannya turut menjadi pemicu konflik keluarga
aspek
spiritual.
Aspek
ini menekankan kepada permasalahan agama atau iman. Menurut dokter
spesialis kejiwaan ini, kalau membangun rumah tangga harus satu iman.
"Menurut beberapa penelitian, perkawinan dengan iman yang sama
lebih langgeng dibandingkan kalau berbeda iman," tambahnya.
aspek
psikososial.
Latar
belakang budaya, sosial dan ekonomi ikut mempengaruhi hubungan dalam
membangun rumah tangga. Dalam perjalanan sebuah rumah tangga, latar
belakang ini punya andil yang besar. Karena pola pikir seseorang turut
dibangun (dimasa pertumbuhannya) oleh lingkungan seperti kondisi sosial,
budaya dan ekonomi. Perbedaan ini akan menyebabkan perbedaan berpikir
dan bersikap dalam rumah tangganya.
"Kalau
orang berkonflik yang tergores pertama kali adalah perasaan kemudian
pikiran dan akhirnya akan mempengaruhi jiwanya. Maka yang pertama kali
harus dilakukan adalah menenangkan diri."
"Kalau
mampu mengusai diri, maka baru bisa berpikir dan mampu mengkomunikasikan
apa yang menyebabkari konflik terjadi:"
"Pada
kondisi di puncak konflik, sebaiknya sikap yang diambil isteri adalah
menga!ah. Mengalah itu indah:: Karena ketika konflik terjadi, pendirian
atau pendapat pribadi dianggap sebagai kebenaran rnutlak. Masing-masing
bertahan pada pendiriannya. Kalau dibiarkan begini akan semakin panas.
Maka sebaiknya salah satu yaitu si isteri mengalah dulu,"
Kebanyakan
kaum laki-laki punya harga diri yang tinggi. Sehingga kalau harus
meminta maaf dahulu, harga dirinya merasa disepelekan atau direndahkan.
"Terlebih
lagi kaum laki-laki berjalan dengan pikiran atau logikanya. Sehingga
permintaan maaf itu tidak berwujud ucapan tetapi lebih pada perubahan
sikap,"
Sedangkan
isteri atau wanita, kebanyakan berjalan dengan perasaan. Kalau terjadi
konflik, inginnya segera diselesaikan agar perasaannya tenang. Tetapi
kalau si wanita tetap bersikap menuntut penyelesaian segera maka
hasilnya hanya merana saja. Karena harapannya itu tidak akan terpenuhi.
Bagi
pasangan muda atau keluarga baru, ancaman dan potensi konflik sangat
besar. Pada fase ini, pasangan baru memasuki tahapan saling mengenal dan
memahami satu dengan yang lainnya. Ini adalah fase adaptasi yang sangat
krusial. Dua orang yang berbeda menjadi satu, baik dalam pikiran maupun
sikap dalam mengendalikan rumah tangganya.
"Ini
adalah saat yang penting, karena saatnya memberikan pengertian kepada
pasangan untuk beradaptasi dan menyesuaikan satu dengan yang
lainnya,"
Menikah
adalah bersatunya dua individu dengan latar belakang yang berbeda serta
dibesarkan dengan nilai yang berbeda pula.
"Meski
merupakan pasangan muda tetapi mereka harus berpikir dewasa. Kalau
mereka memahaminya maka perbedaan sebenarnya sangat indah,"
Tantangan
yang muncul secara eksternal biasanya adalah turut campur tangan
orangtua dari kedua pihak. Baik
itu orangtua isteri maupun orangtua suami. Menurut Melly, campur tangan
orangtua terhadap rumah tangga anaknya sangat tidak efektif bagi
perkembangan rumah tangga anak. "Secara
psikologis, orangtua akan membela anaknya masing-masing, ini yang malah
membuat persoalan baru,"
"Sebaiknya
orangtua masing-masing mengerem diri untuk tidak terlalu campur tangan.
Berikan kesempatan mereka untuk menyelesaikan persoalannya,"
"Pasangan
yang baru menikah harus sadar, mereka tumbuh dalam keluarga yang berbeda
dengan nilai yang berbeda. Ketika
bersatu, mereka punya kesepakatan bersama,"
Konflik
bisa berakibat buruk,
tetapi
disisi yang lain konflik juga bermanfaat. Dengan konflik-konflik
keluarga yang terjadi maka satu dengan yang lainnya bisa lebih saling
mengenal dan memaharni sifat serta keinginan Masing-masing. Ini sangat
berguna dalam proses adaptasi bagi pasangan rumah tangga. Terlebih itu
merupakan pasangan baru.
Tetapi
sisi buruk dari konflik akan muncul seiring dengan ketidakmampuan
mengendalikan dan menyelesaikan sebuah konflik. Rasa tidak
puas bahkan sakit hati akan menyelimuti pihak yang berkonflik. Ini
bisa mengganggu hubungan pasangan tersebut.
Tetapi
dengan konflik, sebuah rumah tangga bisa dibangun dan bertumbuh dengan
sehat. Dengan konflik, pasangan atau rumah tangga akan diproses kearah
kedewasaan. Ini bisa diwujudkan jikalau mampu memahami esensi dari
sebuah komitmen pernikahan dan membangun rumah tangga.
Saling
menjaga kesatuan
Pernikahan
bukan hanya puncak dari sebuah kisah cinta. Bukan pula sekedar
perwujudan dari cinta dua anak manusia. Esensi pernikahan melampaui itu
semua. Seperti yang dikatakan Pdt. Dr. Judianto Winoto,
Pernikahan
atau perkawinan adalah wujud dari misi Allah bagi manusia. Pernikahan
ini digagas sendiri oleh Allah. Dalam Keiadian 1:27-28 jelas tertulis
disitu; Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut
gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya
mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka
"Beranak
cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu,
berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan
burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di
bumi."
jika
dua orang berkomitmen menikah, maka ada berkat Allah disana. Berkat itu
macam-macam. Bukan saja materi tetapi juga sukacita, bahagia dan
sebagainya. Ada damai sejahtera dari Allah. Kalau sampai tidak merasakan
berkat atau damai sejahtera ini dalam sebuah keluarga berarti ada
sesuatu yang salah.
Meskipun
perkawinan adalah menyatukan dua pribadi dengan dua latar belakang dan
nilai yang berbeda, perkawinan tetap merupakan komitmen di hadapan
Allah. Sebuah komitmen yang membutuhkan ketaatan untuk menjaganya.
Konsekuensinya
apapun konflik yang dialami dan seberat apapun konflik itu, ada ketaatan
untuk menaga kesatuan. Pdt. Dr. Judianto menyebutkan
3
kesatuan yang harus dijaga oleh pasangan suami istri:
(
1 ) Kesatuan fisik
Kesatuan
ini pada pasangan suami istri terwujudkan dalam hubungan seksual. Dalam
hubungan suami isteri, seks itu penting tetapi bukan segalanya. Konflik
akan muncul jikalau umur perkawinan semakin tua sehingga intensitas
hubungan seks tidak lagi menjadi hal penting. Banyak pasangan yang
merasa hambar karena merasa sama-sama sudah tua. Bisa jadi salah satu
(baik suami atau isteri) masih mau melakukan hubungan seks tetapi
pasangannya malas dengan berbagai macam alasan. Ini berbahaya.
hubungan
seks
mempunyai
banyak fungsi. Ada bersifat prokreasi, dimana Dengan
semakin hubungan
seks dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan anak atau keturunan.
Rekreasi, hubungan seks dilakukan untuk memperoleh kesenangan atau
kenikmatan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah fungsi relasi. Dimana pasangan
seks
dilakukan untuk meningkatkan hubungan suami dengan isteri agar lebih seharusnya
mendalam.
Seks dilakukan untuk membentuk dan memperkokoh lembaga perkawinan atau
disebut fungsi institusi.
(
2 ) Kesatuan secara jiwa
Meskipun
pernikahan itu yang
bersifat pada
dasarnya adalah menjadi satu tetapi masing-masing tetap mempunyai latar
belakang dan nilai yang berbeda. Disinilah pasangan harus menjaga
kesatuan jiwa agar jangan muncul konflik. Pdt. Judianto memberikan kunci
permasalahan ini.
"Intinya,
suami dan isteri harus saling menyenangkan. Seperti yang tertulis dihindarkan.
dalam
I Korintus 7:4,33-34. Lakukan apa yang suami atau isterimu senangi dan
jangan melakukan apa yang suami atau isterimu tidak senangi!"
(
3 ) Kesatuan secara Roh .
Ini
agak komplek sebab berhubungan memahami
sifat dengan
Allah. Disinilah alasan
mengapa perkawinan dengan perbedaan iman atau
karakter akan menemui masalah
kelak. Karena cara memahami Allah dan berpikir serta bersikap dalam
kehidupan sehari-hari sangat berkaitan. jika amat berbeda maka
konflikpun cepat tersulut.
“
dari penelitian, perkawinan
dengan iman atau agama yang sama lebih langgeng dibandingkan perkawinan
pasangan yang berbeda iman “
Bagi
pasangan yang berbeda gereja juga harus segera menetapkan dimana mereka
akan bergereja. Boleh
mereka beda gereja tetapi pasca pernikahan, mereka harus menentukan satu
gereja dimana mereka akan bertumbuh Ketidakmampuan
menjaga ketiga kesatuan ini akan menjadi pemicu sebuah konflik. Jika
mampu menjaga kesatuan fisik, jiwa dan roh, dalam kehidupan rumah tangga
maka sisi konflik yang buruk bisa dikendalikan.
Komunikasi
adalah kunci utama
Banyak
pertengkaran atau konflik dalam rumah tangga yang penyebab utamanya
adalah masalah komunikasi. Karena ketidak mampuan dalam
mengkomunikasikan permasalahan dengan baik, ujung-ujungnya berakhir
dalam sebuah konflik. Akhirnya bukannya mencari jalan keluar malah bisa
saling menyakiti satu dengan lainnya.
Walau
terjadi konflik tetapi masih ada komunikasi, maka konflik akan lebih
mudah diselesaikan. Ada pasangan yang kalau berkonflik itu diam alias
tidak saling berbicara, ini yang merepotkan. Separah apapun
permasalahannya, sebaiknya jangan memutus komunikasi," tandas Melly
lagi.
Dengan
semakin memahami pasangan seharusnya konflik-konflik yang bersifat buruk
(distruktif) bisa dihindarkan. Saling memahami sifat atau karakter
pasangan sangat membantu dalam mengelola konflik. Laki-laki
memahami kalau wanita lebih mengutamakan perasaannya. Maka kalau ada
konflik yang pertama dilakukan adalah menyembuhkan dahulu perasaan si
perempuan. Sebaliknya, perempuan juga harus memahami kalau laki-laki itu
lebih mengandalkan logikanya. Jadi kalau menyelesaikan konflik dengan
tindakan lebih dahulu. Dr. Soetjipto menegaskan bahwa ada kelemahan
dalam budaya timur. Yaitu kurang mampu mengekspresikan perasaannya.
Padahal ini sangat penting dalam membangun komunikasi yang sehat dalam
sebuah rumah tangga. Bagaimana mungkin pasangan bisa memahami kalau
pasangannya capek, marah atau sedih kalau hanya diam saja. Akibatnya
kalau konflik semakin bertambah parah. Ini berbeda kalau pasangan itu
bisa saling mengungkapkan perasaannya. Pasangan
bisa lebih mengerti dan saling menimbang serta merubah sikapnya.
Konflik
pasti bisa diselesaikan
Secara
tegas Pdt. Judianto mengatakan bahwa tidak ada konflik yang tidak bisa
diselesaikan. Setiap konflik pasti bisa diselesaikan. Semua itu
tergantung dari pasangan yang berkonflik itu sendiri. Mudah diselesaikan
kalau mereka tidak keras kepala dan mau tunduk di bawah Firman Tuhan.
Tetapi kalau pasangan ini keras kepala maka konflik ini akan sulit
diselesaikan.
Waktu
dan kata-kata yang tepat termasuk hal yang bisa mempercepat penyelesaian
sebuah konflik. Ibu Melly menyoroti kalau terjadi konflik jangan sampai
berperang kata-kata. Karena ini biasa terjadi dalam sebuah pertengkaran
atau konflik. Ini tidak sehat dan bisa berbahaya. Karena saat konflik
terjadi, emosi seseorang tidak terkontrol, sehingga kata-kata yang
keluar dari mulutpun bisa tidak terkontrol. Ini bisa melukai perasaan
satu dengan yang lain. Bahkan bisa berakhir dengan kekerasan fisik
karena kata-kata yang tak terkontrol tadi.
"Kita
harus selalu ingat apa yang ditulis di Amsal 25:11 yaitu Perkataan yang
diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan
perak," tegasnya.
"Yang
harus diperhatikan adalah menjaga hubungan dengan Allah. Karena kalau
hubungan denaan Allah lancar, maka konflik bisa diminimalkan karena ada
kontrol. Sehingga kalaupun berkonflik masih ada kemampuan untuk
mengelolanya," jelas
dr. Soetjipto.
Konflik
memang tidak mungkin dihindari. Terlebih sebagai manusia biasa yang
sering dikuasai oleh kedagingan.
"Kalau
sebagai keluarga Kristen yang normal maka muncul kerinduan akan Kerajaan
Allah dalam rumah tangganya. Tidak ada yang mau bubar. Karena pada
dasarnya berumah tangga itu mudah sekali. Cuma
masalah komitmen," tegas
Pdt. Judianto.
Nara
sumber :
dr.Soetjipto,
SpKJ spesialis jiwa,
Pdt.
Judianto konselor
rumah tangga Dra. Lisa Nathalia,
MS., Ph.D konselor anak Gereja
Bethany Indonesia di Surabaya
Pdt.
Dra. Melly
Riva
,
MA
,
konselor, acara keluarga
di radio Sangkakala
Bambang
Wiyono
HP
0812 327 3886