Spiritual
Leadership-26 :
The
Patient Heart
(Hati yang
Sabar)
Oleh David
Yonggi Cho
www.davidcho.com
Ketika para
hamba Tuhan memulai pelayanannya, mereka mungkin sering
kali mendapati diri mereka berada dalam situasi yang
memerlukan kesabaran. Hal ini wajar saja, karena di dalam
setiap jemaat tidak hanya ada orang-orang yang taat saja,
namun juga ada orang-orang yang tidak taat.
Tidak peduli
distrik atau area mana yang kita layani, selalu ada saja
para pembuat masalah. Bahkan di antara para murid yang
telah dipilih oleh Yesus, ada saja yang membuat masalah.
Jadi wajar saja bila ada pembuat masalah di antara jemaat
kita. Kebanyakan dari mereka mengomentari hal-hal sepele.
Mereka mengajukan komplain kepada saya, "Ketua home
cell kami mendapat masalah ini dan itu. Berani sekali ia
menyebut dirinya hamba Tuhan. Saya tidak dapat bekerja
dengan orang semacam itu. Tolong berikan kami ketua yang
lain saja."
Ketika saya
mendengar lebih jauh tentang apa yang mereka katakan
kepada saya, saya menemukan bahwa kebanyakan dari apa yang
mereka omongkan itu tidak beralasan. Yang lebih buruk
lagi, itu adalah fitnah. Bagaimana kita mengatasi
orang-orang semacam ini di dalam jemaat kita?
Pertama-tama
kita harus memiliki kesabaran yang tanpa akhir dan kita
harus memperlakukan semua orang sama. Apabila kita
berpikir, "Saya tidak menyukai dia karena ia tidak
menyukai saya, atau saya tidak akan mengunjungi rumahnya
ataupun berdoa untuknya lagi," ini bukanlah pikiran
seorang hamba Tuhan yang sabar.
Kita mungkin
memiliki banyak anggota jemaat yang karena beberapa alasan
memandang rendah terhadap kita. Kita harus bersabar dan
memperlakukan mereka seperti kita memperlakukan
orang-orang yang mengasihi kita. Ini bukanlah hal yang
mudah untuk dilakukan. Namun, apabila kita melakukannya,
kita akan mampu menolong mereka untuk melenyapkan
kebencian mereka.
Para hamba
Tuhan tidak boleh berlaku diskriminasi terhadap
orang-orang berdasarkan kekayaan, pendidikan ataupun
kondisi lainnya. Selain itu, bahkan kita tidak boleh
berlaku diskriminasi terhadap orang-orang yang membuat
masalah di gereja. Ini merupakan panggilan bagi para hamba
Tuhan untuk berdoa dan menunggu dengan sabar, bahkan bagi
mereka yang mengatakan hal yang tidak benar mengenai
gereja. Sebenarnya ini adalah rahasia menuju sukses bagi
para hamba Tuhan. Kita telah dipanggil dan dikirim oleh
Tuhan bukan untuk membunuh dan menghakimi jemaat kita,
namun untuk menyelamatkan dan memberikan kehidupan kepada
mereka.
Kadang-kadang
ada orang-orang yang percaya bahwa semua orang yang pergi
ke gereja itu hebat dan kudus. Hal ini benar-benar suatu
kekeliruan yang besar. Di sisi lain, gereja merupakan
tempat dimana orang-orang dengan masalahnya berkumpul,
yaitu orang-orang yang miskin, sakit, mereka yang telah
merasakan beban hidup yang berat dan mereka yang telah
dibuang oleh dunia yang datang ke gereja. Gereja merupakan
tempat dimana orang-orang yang sangat hina datang dan
berkumpul. Bukankah itu juga yang terjadi pada zamannya
Yesus? Mereka yang berzinah, para penjahat dan para
pemungut cukai merupakan orang-orang yang berkumpul di
sekitar Yesus. Karena Gereja dipenuhi dengan orang-orang
semacam ini yang membutuhkan kesembuhan dan perlindungan,
maka para hamba Tuhan harus memiliki kesabaran di dalam
diri mereka.
Yang kedua,
seorang hamba Tuhan harus memperlakukan jemaatnya dengan
kesabaran dan kelemahlembutan. Jika seorang hamba Tuhan
mudah marah, maka ia tidak bisa menjadi seorang hamba
Tuhan. Jika seorang pendeta mengeluarkan kata-kata kasar
atau menjadi cepat marah, maka pelayanannya berakhir.
Perkataan akan menyebar dan tak seorangpun dari jemaatnya
yang akan mempercayai pendeta tersebut. Bahkan Tuhanpun
tidak berkenan dengan hamba Tuhan yang seperti itu.
Saya dulunya
pemarah. Namun, apabila kemarahan saya reda, saya merenung
dan menemukan betapa rendahnya dan tidak manusiawinya saya
ketika marah. Setelah sebuah perjuangan panjang dalam
pencarian cara untuk mengendalikan amarah saya, akhirnya
saya menemukan solusinya. Kapanpun saya merasa kemarahan
saya mulai memuncak, saya duduk dan menunggu selama 30
menit. Menunggu selama 30 menit di tengah kemarahan
bukanlah hal yang mudah. Tetapi, setelah melihat jam
selama 30 menit, saya menemukan kemarahan saya sudah reda.
Kemudian saya berpikir tentang mengapa saya sampai marah
dan saya mendapati bahwa itu hanya masalah sepele dan
tidak ada gunanya saya marah karena hal tersebut. Kemudian
saya menepuk punggung saya. Jika saya selalu marah kepada
setiap anggota gereja yang membuat masalah, mereka semua
akan meninggalkan gereja.
Seorang hamba
Tuhan harus selalu ingat untuk bersabar tidak peduli
siapapun orang ia jumpai, dan memperlakukan mereka dengan
kasih Yesus Kristus yang hangat.
Yang ketiga,
seorang hamba Tuhan harus memiliki kesabaran dan
memperlakukan jemaatnya dengan rendah hati. Kita tidak
dipanggil untuk tujuan agar dihargai dan dipuji oleh
jemaat kita. Jika kita memuliakan Tuhan dan Ia menemukan
kegembiraan di dalam pelayanan kita, maka itu sudah
merupakan suatu penghargaan bagi kita.
Apabila
seseorang mengkritik kita, kita perlu menguji diri kita
untuk menentukan apakah kritik tersebut memiliki kebenaran
di dalamnya atau tidak. Jika benar, maka kita harus
mengubah cara kita. Jika tidak benar, maka kita harus
membiarkannya. Apabila seseorang memuji kita, jika kita
berhak untuk menerimanya, maka kita harus memuliakan Tuhan
yang telah membuatnya segalanya menjadi mungkin. Jika
tidak, maka kita harus bertobat.
Ketika para
penatua berdoa selama kebaktian di Yoido Full Gospel
Church, kadang-kadang saya terpaksa bertobat. Sebagai
contoh, kapanpun seseorang memanggil saya "Pendeta
besar kami Yonggi Cho," saya berdoa, "Bapa, saya
bukanlah seorang hamba yang besar. Tolonglah saya."
Tidak ada orang yang lebih besar di dunia ini selain Yesus
Kristus sendiri. Saya merasa malu ketika seseorang
menyebut saya "besar." Saya bukanlah apa-apa
selain alat yang Tuhan pakai.
Kita tidak
boleh lupa untuk merendahkan diri kita di hadapan Tuhan.
Selain itu, kita harus selalu menunjukkan sikap rendah
hati terhadap jemaat yang kita pimpin.
Hati yang
sabar merupakan hal yang sungguh-sungguh diperlukan oleh
semua hamba Tuhan. Apabila seorang hamba Tuhan tidak
memiliki kualitas ini, maka ia akan menghadapi hambatan di
dalam pelayanannya.
Fakta bahwa
kita adalah hamba Tuhan tidak berarti bahwa kita
dilahirkan dengan hati yang sabar. Kita harus selalu
menguji diri kita dengan bertanya "Sudahkah saya
memperlakukan semua anggota jemaat saya dengan sama?
Apakah saya memperlakukan mereka dengan kesabaran dan
kelemahlembutan? Apakah saya memiliki kesabaran dan
memperlakukan mereka dengan rendah hati?"
Apabila kita
melakukannya, maka Tuhan akan terus memakai kita.