Full Gospel Indonesia

Info

 
 

Files

 

Siaran

 

 

 

 

 

Spiritual Leadership - 18

 

The Necessity of Rest

(Perlunya Beristirahat)

Oleh David Yonggi Cho

 

 

            Beberapa hamba Tuhan bekerja 7 hari seminggu di dalam pelayanan mereka tanpa beristirahat seharipun.  Tentu saja sikap yang seperti ini patut dipuji.  Namun, hamba Tuhan pun harus mengambil waktu untuk beristirahat.  Jika kita terus bekerja 7 hari seminggu, kita akan sangat kelelahan. 

 

Istirahat digunakan berkaitan dengan rekreasi (recreation).  Kata recreation terdiri dari “re” dan “creation”.  Kata imbuhan “re” mempunyai arti “sekali lagi” atau “kembali”, sedangkan “creation” berarti tindakan atau proses menciptakan sesuatu. Jadi, kata creation sebenarnya mempunyai arti menciptakan kembali. Dengan kata lain, ketika kita beristirahat, kita sedang menciptakan kembali diri kita; ketika kita beristirahat, kita sedang mengisi kembali diri kita.  Oleh karena itu, penting diketahui agar para hamba Tuhan mempunyai waktu untuk beristirahat.

 

Dulu saya membiarkan diri saya bekerja siang dan malam tanpa beristirahat seharipun.  Hal tersebut mengakibatkan gangguan fisik.  Setelah gangguan fisik tersebut, saya tidak hanya menderita secara fisik, namun juga secara mental.  Saya menyadari kebodohan saya setelah saya mendapat nasehat dari dua orang.

 

Seorang pria bertanya kepada saya, “Pendeta Cho, apakah anda lebih kuat dari Tuhan yang Maha Besar? 

 

Saya terkejut dengan pertanyaannya dan menjawab, “Kapan saya pernah berkata bahwa saya lebih kuat atau lebih hebat dari Tuhan?”

 

Ia kemudian menjawab, “Tidak, anda tidak mungkin mengatakan hal tersebut, tetapi anda berpikir bahwa diri anda demikian.  Tuhan saja beristirahat pada hari yang ketujuh setelah bekerja selama enam hari.  Tidakkah jelas bahwa anda berpikir bahwa diri anda lebih kuat dari Tuhan karena anda bekerja 7 hari seminggu tanpa ada istirahat?”

 

Saya syok.  Saya berpikir, “Ah, mungkin dia benar.”

 

Pria yang lain adalah dokter saya.  Pada suatu hari ia memberitahu saya, “Pendeta Cho, anda perlu beristirahat.”

 

“Istirahat?  Saya tidak punya waktu untuk hal seperti itu.”

 

“Beristirahat merupakan bagian dari bekerja.  Anda perlu mengisi kembali diri anda agar dapat bekerja lebih efektif di hari berikutnya.  Anda tidak dapat menggunakan baterai selamanya tanpa mengisinya kembali.  Baterai perlu diisi kembali.  Manusia perlu mengisi dirinya kembali secara berulang.”

 

Tuhan benar-benar beristirahat pada hari yang ketujuh.  Ini tertulis dalam Kejadian 2:3, “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya itu.”  Tuhan juga berfirman bahwa kita seharusnya beristirahat pada hari yang ketujuh.  Tuhan menginginkan agar kita menikmati kehidupan dan kebahagiaan dengan beristirahat secara fisik, mental dan spiritual selama satu hari.  Meskipun demikian, ada banyak orang yang mengabaikan firman ini dan menyia-nyiakan hari untuk beristirahat tersebut. Pengabaian tersebut akan mengakibatkan gangguan fisik, mental dan spiritual. Beristirahat secara periodik merupakan bagian dari rencana Allah.  Sebenarnya hal ini merupakan bentuk ketaatan terhadap perintah Tuhan.

 

Di dalam Alkitab ada kisah dimana Allah membuat hambaNya beristirahat.  Nabi Elia berdiri dengan tegang karena ia sendirian dalam pertikaian dengan 450 nabi-nabi Baal dalam sebuah kontes di Gunung Karmel. Elia diangkat oleh Tuhan ketika api turun ke atas altarnya dan menyebabkan kematian bagi setiap nabi Baal.  Kontes tersebut telah menghabiskan seluruh kekuatan Elia, baik fisik, mental dan spiritual.  Namun, dalam keadaan lelah, Elia menerima ancaman Isabel, “Besok kamu juga akan mati.” Mendapat pesan tersebut, Elia menjadi takut dan melarikan diri ke gurun.  Karena sangat kelelahan dan tidak mampu lagi untuk berjalan selangkahpun, maka Elia memanggil Allah dan meminta kepada Tuhan agar mengambil hidupnya.

 

Apa yang Tuhan lakukan dengan Elia?  Kita membaca dalam I Raja Raja 19:3-8 bahwa Tuhan tidak menguliahi Elia, malahan Tuhan membuatnya tertidur lelap.  Ketika Elia bangun, Tuhan mengirimkan seorang malaikat untuk menyediakan roti dan air baginya, kemudian Tuhan kembali menidurkannya.  Setelah Elia cukup beristirahat dan dikuatkan dengan makanan dan tidur yang lelap, Tuhan memanggilnya ke Gunung Horeb.  Tuhan membuat Elia beristirahat ketika Elia benar-benar kehabisan energi untuk hidup.

 

Di dalam Perjanjian Baru, kita dapat melihat bahwa Yesus juga beristirahat ketika tidak ada orang.  Berkali-kali Ia mengajak murid-muridNya ke hutan untuk beristirahat.  Suatu ketika, tanpa membuka identitasNya, Yesus berjalan melintasi Yudea ke perbatasan Sidon untuk beristirahat.  Bagi kita yang merupakan hamba Tuhan, beristirahat adalah suatu mandat.

 

Kata hiburan berarti melakukan sesuatu yang lain. Sebagai contoh, seseorang yang memberitakan Injil harus mencari hiburan seperti pergi memancing atau mendaki gunung.  Meskipun memancing atau mendaki gunung mungkin sepertinya lebih melelahkan dari memberitakan Injil, namun hal tersebut dapat mengistirahatkan.  Seorang atlet beristirahat dengan membaca buku, seorang pelajar beristirahat dengan bermain tenis.  Tidak peduli apapun pekerjaan seseorang, istirahat dari pekerjaan berarti melakukan sesuatu yang lain. Hiburan-hiburan semacam itu merupakan suatu bentuk istirahat, dan hiburan sangat diperlukan  untuk menjaga agar hidup kita tetap sehat. 

 

Ketika saya masih muda, seorang evangelis terkenal bernama Sam Todd datang ke Korea untuk memimpin kebaktian revival. Saya adalah penterjemahnya.  Itu merupakan kebaktian revival yang dihadiri oleh puluhan ribu orang. Setelah kebaktian, Pendeta Todd kembali ke hotelnya. Karena saya adalah penterjemahnya, saya mendapatkan kesempatan untuk masuk ke kamar hotelnya. Kemudian saya menemukannya sedang membaca buku di kamarnya.  Saya mengira buku tersebut adalah Alkitab atau buku yang berhubungan dengan Injil.  Ketika saya melihatnya dengan seksama, saya melihat bahwa itu adalah sebuah buku novel.  Saya terkejut.  Sebagai hamba Tuhan yang masih muda dan baru lulus dari sekolah seminari, saya benar-benar tidak dapat mengerti mengapa ia menghabiskan waktunya yang berharga dengan membaca novel.  Saya tidak dapat menahan rasa ingin tahu saya.

 

“Pak Pendeta, anda adalah seorang hamba Tuhan yang hebat.  Bagaimana bisa anda yang beberapa menit yang lalu memimpin puluhan ribu orang, kembali ke kamar hotel dan membaca novel?  Apakah anda baik-baik saja?”

 

Ia tertawa dan berkata, “Anda masih muda. Ketika anda berdiri di depan jemaat yang begitu banyak untuk mengajarkan Injil, hal tersebut akan mengurasmu sepenuhnya.  Ketika anda selesai mengadakan kebaktian, anda perlu beristirahat.  Lalu, dengan hiburan seperti membaca novel, anda akan diisi kembali agar dapat melakukan pekerjaan Tuhan pada keesokan harinya.  Saya mendengarkan pesan Tuhan dan saya mengajarkannya kepada jemaat.  Sekarang saya perlu hiburan.  Apabila saya sudah beristirahat, saya dapat membaca Alkitab dan mengajarkan Injil lagi.”

 

Saya berkata kepada diri saya sendiri, “Pendeta itu pasti sedang memberikan alasan.  Meskipun ia penampilan luarnya seperti orang suci, tapi ternyata ia tidak sepenuhnya suci.”

 

Namun, sekarang ini saya merasa bahwa Pendeta Sam Todd itu benar.  Kapanpun saya pergi ke luar negeri untuk suatu misi, saya membawa majalah Reader`s Digest atau bacaan ringan seperti novel.  Saya tidak melakukannya karena saya sangat ingin membacanya. Namun, ketika saya selesai berkhotbah setelah kebaktian, saraf saya menjadi sangat tegang, dan ketegangan meregang tubuh fisik saya hingga hampir titik puncaknya.

 

Berkali-kali ketegangan tersebut membuat saya kehilangan nafsu makan atau susah tidur.  Saya telah menemukan bahwa ketegangan ini tidak bisa diselesaikan dengan membaca Alkitab atau berdoa.  Ketegangan semacam ini memerlukan hiburan seperti membaca buku sastra.  Hiburan seperti itu membaca banyak kelegaan seperti kawat mlungker yang kembali ke bentuk asalnya. Di antara banyak hamba Tuhan yang terkenal, beberapa dari mereka dihancurkan oleh ketegangan tersebut karena mereka tidak mampu untuk melepaskannya.  Oleh karena itu, kita perlu beristirahat karena istirahat dapat melepaskan stress dan ketegangan.

 

Sebelum saya berdiri di atas mimbar untuk membawakan khotbah, saya beristirahat dulu. Ketika saya beristirahat, saya menjadi mampu berjalan ke atas mimbar dengan keadaan yang benar-benar segar, dan saya siap untuk membawakan pesan Tuhan. Namun, apabila roh dan tubuh kelelahan karena stress dan ketegangan, maka saya menjadi tidak bisa memfokuskan diri pada pesan yang Tuhan sampaikan kepada saya, dan saya tidak bisa menjadi alat bagi Tuhan untuk melepaskan mujizatNya.  Ketika saya pulang ke rumah, saya mendapati diri saya tidak bisa tidur hingga larut malam.

 

            Tidak peduli seberapa sibuk para hamba Tuhan, kita harus mengambil waktu untuk rekreasi dan istirahat untuk mengisi kembali diri kita.  Lagipula, apabila kita terlalu lelah, Tuhan tidak akan memakai kita untuk pekerjaanNya.  Ini dikarenakan orang yang seperti itu akan mudah berpikiran negatif dan mudah mengalami kegagalan.  Apabila kita merasa diri kita menjadi negatif dan merasa gagal dalam hidup ini, itu merupakan tanda bahaya bahwa kita mengalami kelelahan.  Ini waktunya bagi kita untuk mengesampingkan segala sesuatunya dan beristirahat.

 

            Mengambil waktu untuk beristirahat merupakan hal yang sangat penting bagi para hamba Tuhan.  Melalui istirahat, kita dapat menciptakan dan mengisi diri kita kembali agar menjadi antusias terhadap pelayanan kita.  Kita harus selalu waspada agar kita tidak kelelahan karena bekerja yang berlebihan, karena itu beristirahatlah sebelum hal itu terjadi.  Hanya dengan begitu kita dapat menjadi alat yang efektif bagi Tuhan untuk dipakai.  Tidak peduli seberapa sibuk pelayanan anda, saya berdoa agar anda mengambil waktu untuk beristirahat agar bisa menjadi alat yang dapat digunakan Tuhan dengan baik.

 

           

 
 
1
Hosted by www.Geocities.ws