---------Mimbar
Gereja
FULL GOSPEL
INDONESIA
------
Siaran
minggu ke – 9 : Tanggal :
27 Nopember 2005
Subject:
YESUS KRISTUS MATI BUAT KITA
Teman2
se iman,
Menjelang
akhir tahun, teman2 yang beragama Katolik selalu disibukkan dengan
menyambut NATAL dengan berbagai cara, antara lain “ Terbang Dengan
Sinterklas “ ramai2 pesan tiket pesawat berlibur keluar negeri, atau
ramai2 merayakan kelahiran Kristus digerejanya .
Gereja2
Katolik merayakan kelahiran Kristus ditandai dengan hiasan pohon
natal, dari tahun ke tahun merayakan pesta dan drama Natal , sebagai
tradisi teman2 yang beragama Katolik
Orang
Kristen menjelang akhir tahun punya kebiasaan merenungkan “ kematian
“ dan “ kebangkitanNya “ bukan merayakan “ kelahiranNya “
ini adalah perbedaan yang nyata dikalangan umat beragama Katolik dan
umat Kristen baik di Indonesia maupun diluar negeri.
Di
Indonesia pada tanggal 25 Maret dinyatakan sebagai
Hari Libur Resmi untuk memperingati wafatnya Isa Almasih dan
tanggal 5 Mei sebagai hari peringatan kenaikkan Isa Almasih, sedangkan
orang2 yang beragama Katolik merayakan kelahiran Isa Almasih pada
tanggal 25 Desember, di Indonesia maupun diseluruh dunia.
Setiap
hari Minggu saya punya kesibukan mengantar teman2 pengusaha atau
keluarga2 yang mau kegereja, mereka ingin mendapatkan berita2 tentang
kristus, ingin tahu siapa tokoh legendaris Alkitab Yesus Kristus itu,
mereka ingin dengar sendiri kotbah para pendeta tentang kristus.
Geraja Tuhan memberitakan
kematian dan kebangkitan Kristus
Inilah
sebabnya mengapa setiap pendeta harus dapat memberitakan kabar
kematian dan kebangkitanNya kepada umatNya yang datang kegereja.
Setiap
pendeta wajib memberi gambaran yang Alkitabiah tentang kematianNya
yang membawa manusia mengenal Allah dengan benar, menjelaskan, bahwa
yang mati dikayu salib itu manusia juga adalah Allah, mengapa Allah
mau jadi manusia Yesus yang di-olok2, di-aniaya, bahkan disiksa dikayu
salib ?
Dia
menderita, Dia miskin, masa Allah begitu hina ? begitu tidak berdaya
menghadapi kematian ? menghadapi siksaan ? ……ini adalah pelajaran
rohani yang harus dibawakan pendeta diatas mimbar gereja Tuhan, harus
hati2 dan berdoa sungguh2 sebelum kotbah tentang hal ini, minta Roh
Kudus yang bicara dalam jalan pikiran anda!
Jangan
jadikan mimbar Gereja Tuhan hanya memberitakan atau mengajar filsafat
menurut Alkitab!
Orang
datang kegereja kita ingin mendengarkan Firman Tuhan, ingin tahu siapa
Kristus itu?
Kalau
gereja Katolik bikin drama Natal tentang kelahiranNya, kita seharusnya
membuat drama kematian dan kebangkitanNya,kita dapat membuat
sepertiyang ditulis dalam Alkitab :
-Yesus dihadapan Pilatus
(Mat 27: 11-26 )
buat
adegan2 yang memukau penonton : apa yang diminta orang2Yahudi dari
Pontius Pilatus
-Yesus di olok2 ( Mat
27:27-31 )
tampilkan
kekejaman serdadu2 pada waktu itu.
-Yesus disalibkan ( Mat 27
: 32-56 )
Tuduhan
apa yang diletakkan diatas kepalaNya pada waktu Yesus tergantung di
kayu salib itu ? usahakan hal ini diketahui penonton dengan jelas!
Dimana Dia digantung ?
Apa
yang diucapkan Yesus sebelum menghembuskan napasNya?
- kebangkitan Yesus ( Mark
16: 1-20 )
tampilkan
Yesus mati dalam 40 hari apa yang dilakukan ? Dia menampakkan
diri beberapa kali dan mengutus murid2Nya memberitakan injil keseluruh
dunia, ini adalah pesan Kristus yang perlu ditonjolkan dalam adegan2
drama ini. Ini adalah Amanat Agung Tuhan Yesus! Yang harus dilakukan
semua orang Kristen diseluruh dunia!
Kalau
ada diantara kalian yang ahli dalam hal dekorasi panggung, dan ahli
dalam tehnik lampu dan suara pementasan sebuah drama, boleh dicoba
buatlah drama yang lain dari pada yang lain, sehingga penonton
memahami arti kematian dan kebangkitanNya bagi manusia. Hal ini adalah
pendidikan rohani Gereja Tuhan, bukan kelahiranNya yang diutamakan!
Dia adalah Allah, Dia adalah Sang Pencipta, Dia punya otoritas
tertinggi, Dia berhak menyembunyikan tanggal kelahiranNya, Dia berhak
tidak menjawab pertanyaan2 kita yang konyol!
Apa yang dikotbahkan para
pendeta ?
Penderitaan
Yesus mencapai klimaksnya sewaktu kematian-Nya. Ia tidak menolak cawan
pahit itu, tetapi Ia memilih untukmeminumnya. Ia. bertahan menanggung
penderitaan dan siksaan salib kasar itu sehingga pembayaran harga
keselamatan umat manusia itu dilunasiNya. Para imam kepala dan ahli
Taurat mengejek Dia, yaitu bahwa la dapat menyelamatkan orang-orang
lain, namun tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Mengapa Yesus yang
adalah Allah dan juga Manusia itu mengijinkan kehidupan-Nya berakhir
dengan sangat mengerikan ?. Kita akan mengkaji alasan-alasan itu. Kita
juga akan mempelajari makna dahsyat dari kematian-Nya, serta kuasa
besar yang terkandung di dalamnya.
Untuk
Menggenapi Kehendak Bapa
Alasan
mengapa Yesus tidak mau turun dari atas kayu salib ialah : sebab Ia
bertekad menggenapi Firman Allah. Dalam kejadian 3:15 telah
dinubuatkan;
“Aku
akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara
keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu,
dan engkau akan meremukkan tumitnya."
Yesus
adalah benih perempuan itu sebab la bukan dilahirkan sebagai hasil
hubungan badani antara pria dan wanita. Dia juga benar-benar telah
menderita sengsara dan mati disalib, meremukkan dan menaklukkan Setan.
Dengan
jelas Mazmur pasal 22 menggambarkan kematian Yesus yang penuh dengan
penderitaan itu. Pasal itu dimulai dengan ayat yang terbaca demikian;
"Allahku,
Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"
Yesaya
juga menulis secara jelas sekali tentang kematian Yesus di atas kayu
salib, seolah-olah ia memang menyaksikan pandangan mengerikan itu
dengan mata-kepalanya sendiri,
"Tetapi dia tertikam oleh
karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,
dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian seperti
domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN
telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”. (Yesaya
53:5,6)
Buku-buku
Perjanjian Lama yang lain juga menubuatkan bahwa Yesus akan mati bagi
dosa umat manusia.
Melalui
semua itu kita melihat bahwa kematian Yesus adalah rencana Allah untuk
menebus dosa kita.
Pada
malam sebelum penyaliban-Nya, tentara Romawi, hamba para imam kepala,
dan ahli Tauratlah yang beramai-ramai menangkap Yesus. Pada saat itu
juga Yesus memberitahu Petrus,
“Atau
kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya la
segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”(Matius
26:53).
Sebagaimana
yang diwahyukan Firman Allah, tujuan utama Yesus adalah untuk
menggenapi Firman Allah. Ia sama sekali tidak mempedulikan nyawa-Nya
sendiri pada saat itu. Tuhan kita Yesus patuh kepada Bapa Surgawi
sampai pada titik kematian-Nya. Ia sengaja tidak menyelamatkan
kehidupan-Nya sendiri, sebab hanya kematian-Nyalah yang akan
menggenapi kehendak Bapa.
Untuk
Menyelamatkan Kita
Yesus
mati untuk menyelamatkan kita. Di Taman Getsemani Ia berdoa;
"Ya
BapaKu jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu"
(Matius 26:39).
Cawan
yang harus diminum-Nya itu berisi racun maut semua dosa yang keji,
kotor, dan segala perbudakannya yang telah mengikat umat manusia. Pada
waktu la meminumnya, Allah sendiri memalingkan wajah-Nya dari Yesus,
dan Yesus berteriak keras,
"Allah-Ku,
Allah-Ku, mengapa Engkau
meninggalkan
Aku?" (Matius 27:46).
Mengapakah
Allah sampai memalingkan wajah-Nya?, Karena Allah tidak dapat
memandang dosa. Pada waktu harga dosa itu dibayar, Yesus mengumumkan
kepada dunia, "Sudah
genap!" atau,
lebih tepatnya, "Sudah terbayar lunas!" Tekanan dosadosa
dunia itu begitu berat sehingga akhirnya tubuh Yesus menjadi
remuk-redam.
Kata
Yunani sozo berarti ‘keselamatan’. Sozo berarti ,
‘keselamatan’ dari bahaya, dukacita, dan luka-luka kita yang parah;
keselamatan dari penyakit dan pemulihan kesehatan; keselamatan dari
kesakitan rohani kita yang bukan lain adalah hukuman kekal di neraka.
Yesus yang kita percayai adalah yang mati disalib supaya tubuh kita
menjadi sehat-walafiat, dan penghidupan kita makmur, sebagaimana
keadaan roh kita yang telah dibangkitkan (bacalah III Yohanes 2)
Untuk
Mengasihi Kita
Alasan lain kematian Yesus di kayu
salib adalah karena kasih-Nya terhadap kita jauh lebih kuat daripada
kasih-Nya terhadap nyawa-Nya sendiri. Bahkan sementara Ia menanggung
rasa sakit yang amat nyeri karena disalib, dan mengalami kegelapan
yang pekat karena dipisahkan dari Allah, la tetap menolak turun dari
atas salib kasar itu. Kalau seandainya Ia sampai memutuskan untuk
turun, berarti kita masih harus mati karena dosa-dosa kita sendiri.
Pendorong terbesar kasih dan kesediaan-Nya tetap tinggal di atas salib
itu adalah supaya kita tidak perlu mati untuk dosa-dosa kita sendiri.
Walaupun ada banyak orang yang mengejek, mencerca, dan meludahi-Nya,
namun Dia tetap tertawan oleh kasih-Nya sendiri terhadap kita. Kasih
yang seperti itu harus membuat kita berdiritegak menyelidiki hati
sendiri untuk mengetahui tingkatan kasih kita terhadap diri-Nya.
Penderitaan
itu tak terelakkan
untuk mematuhi Allah, dan untuk menyelamatkan kita. Ia mengasihi kita,
Ia tetap tidak mau menghukum kita karena dosa-dosa kita, karena
kejahatan dan kekejian kita. Kasih-Nya itu nyata, karena Ia telah
menanggung dan membayar harga dosa-dosa itu.
Dengan
sabar la menantikan kedatangan kita kepada-Nya.
Itulah
sebabnya kita harus kembali kepada-Nya, mengakui dosa-dosa kita dan
menerima darah-Nya yang telah ditumpahkan itu. Kita harus mengakui
karya-Nya di kayu saIib dan bersyukur untuk penderitaan-Nya, yaitu
bahwa Dia telah memikul kesakitan, kepedihan, dan dukacita kita, serta
menyediakan keselamatan yang sepenuhnya.
Ada
sebagian orang menjadi kandas pada waktu ditimpa kesulitan. Tetapi
sebagian yang lain justru mendapatkan kemuliaan dan kemenangan sesudah
menembus kesukaran. Di manakah letak perbedaannya?. Benarkah
penderitaan itu sendiri dapat mengakibatkan kekandasan atau kemenangan?
Tentu saja tidak. Penderitaan itu sendiri tidak mempunyai kuasa atau
hak untuk menjadikan kita gagal maupun berhasil. Jawabannya terletak
pada sikap kita dalam menghadapi kesukaran itu.
Ada
orang yang selalu mempunyai sikap yang negatif bila menghadapi
permasalahan. Bila dilanda kesukaran, mereka selalu mengomel tentang
situasi hidup yang menimpanya. Mereka selalu mempersalahkan orang lain
untuk masalah yang sedang dihadapi itu. Sebagai akibatnya, mereka
membiarkan kesukaran menghancurkan diri mereka.
Tetapi
sebagian yang lain mengambil sikap yang berbeda dalam menghadapi
kesulitan. Bila duka cita dan penderitaan yang menyakitkan datang
menerpa bertubi-tubi, mereka membentengi diri dengan iman. Dalam
keyakinannya yang mantap itu mereka percaya bahwa entah bagaimana
caranya, Allah pasti akan mengubahkan kesukaran itu menjadi berkat.
Dengan berbekalkan iman mereka melangkah maju terus ke kehidupan yang
lebih kaya dan mulia.
Kitab
Suci memberitahu kita bahwa Rasul Paulus selalu disusahkan oleh duri
didalam tubuhnya. Namun dengan penuh kemantapan ia senantiasa
bersandar dan percaya kepada Tuhan Yesus. Akhirnya ia membuat
pengakuan,
"Karena
itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam
kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus.
Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (II
Korintus 12:10).
la
mengalahkan kesukarannya dan tetap menjadi seorang rasul besar untuk
memberitakan kabar baik kepada dunia.
Bila
kita mau mengambil sikap yang positif dalam Tuhan Yesus dan juga
mengatasi penderitaan yang kita alami, kita pun akan menjadi lebih
kuat.
Ada
satu hal yang secara jelas harus kita bedakan. Satu-satunya
kesukaran yang dapat kita golongkan "penderitaan" apakah
itu secara fisik ataukah secara mental-adalah “penderitaan” yang
kita derita demi Yesus Kristus dan InjilNya. Kalau yang kita alami
ini bukan demi Dia dan Injil-Nya, maka semua itu bukanlah "penderitaan"
yang ditentukan Allah bagi kita. Misalnya kalau Anda sampai kekurangan
makan atau rumah Anda digusur karena kecerobohan sendiri, itu bukanlah
"penderitaan" karena Dia. Bukankah Yesus Kristus menebus
kita dari semua kutuk itu, yaitu kutuk rohani maupun jasmani, yang di
dalamnya termasuk kemelaratan? Sebaliknya, kalau kita menderita
kesukaran dalam memberitakan Injil untuk menghancur-leburkan
pekerjaan Setan, itu dapat digolongkan sebagai hal ikut mengambil
bagian dalam penderitaan Yesus. Hal semacam itu pada suatu hari kelak
akan diberi pahala yang besar, bila nanti kita berjumpa dengan Yesus (Matius
5:11. 12).
Pemazmur
mengakui bahwa baginya mengalami penindasan
itu
baik. Keuntungan apakah yang dapat kita terima dari
penindasan
yang kita alami?
(Mazmur
119:71)
Mengapa
kita sanggup bersukacita bila kita ikut mengambil
bagian
dalam penderitaan Kristus?
(I
Petrus 4:13)
Pelajaran
apakah yang diajarkan kepada kita
melalui
penderitaan Yesus itu?
(Ibrani
2:18; 12:3)
Renungan
:
Puji
syukur kepada Kristus yang mati dikayu salib itu untuk penebusan dosa2
kita.
Oleh
karuniaNya kita dapat menikmati berkat2 keselamatan yang dari Allah
sendiri.
Kita
selalu mengingat penderitaanNya dalam proses penebusan tersebut.
Bila
kesukaran menimpa, marilah kita menimba kekuatan dari Tuhan dan
membentengi
diri dengan kuasa Ilahi yang bersumberkan pada iman kita.
Marilah
kita mengingat bahwa setiap ujian atau pencobaan yang kita hadapi
telah
disaring lebih dahulu oleh Allah
Bapa yang penuh kasih.
Kalau
la telah menyetujuinya, berarti kita pasti akan diberi kesanggupan
Untuk
hidup benar dihadapanNya dan hidup berkemenangan didalam Dia.
Bambang Wiyono
Gembala
Gereja FULL GOSPEL INDONESIA di internet.
HP:0812
327 3886
alamat
Gereja :