4. Berdoalah Dengan Doa Syafaat
yang Penuh Kuasa
Unsur Tim Doa Syafaat dan
Prinsip Persekutuan Doa yang Mempunyai Kuasa
Sekarang kita akan mempelajari unsure-unsur tim doa syafaat dan
prinsip-prinsip persekutuan doa yang penuh kuasa. Unsur-unsur dalam tim
doa syafaat ada 5 bagian yaitu: (1) Pemimpin, (2) Orang yang berdoa, (3)
Topik doa, (4) Waktu, dan (5) Tempat.
UNSUR TIM DOA SYAFAAT
Pemimpin
Syarat pertama adalah pemimpin yang mempunyai visi yang sama
dengan visi Gembala Sidang. Di gereja, Gembala Sidang adalah seseorang
yang bertanggung jawab atas semua persekutuan doa syafaat. Pokok-pokok
doa dan visi yang diberikan oleh Tuhan kepada Gembala Sidang harus
diberikan kepada pemimpin persekutuan doa syafaat. Jadi, pelaksanaan doa
syafaat dan semua tanggung jawab terletak pada Gembala Sidang.
Mengetahui Secara Menyeluruh
Falsafah Pelayanan Gembala Sidang
Jika Gembala Sidang hanya menyuruh, “Berdoalah!”, tetapi
tidak memberitahu bagaimana cara berdoa dan kepada tim pendoa syafaat
hanya ditekankan tentang berdoa, maka tim itu tidak bisa berdoa dengan
baik. Pedoman nyata tentang pelayanan itu harus diprakarsai oleh Gembala
Sidang yang harus dimulai sejak awal pembangunan gereja. Pemimpin
persekutuan doa syafaat harus mengetahui bagaimana menjangkau lingkungan
sekitar yang diberikan Tuhan kepada Gembala Sidang. Pemimpin doa syafaat
harus bisa membagikan visi dan pokok doa gembala itu kepada anggota
timnya.
Visi yang Tuhan berikan kepada Gembala Sidang masuk dalam pokok
doa tim doa syafaat, kemudian di dalam hati tim doa syafaat harus ada
pernyataan bahwa, “Visi Gembala Sidang adalah visi saya juga yang akan
saya doakan selama hidup saya.”
Jika tim doa syafaat tidak mempunyai visi yang jelas, maka tidak
akan ada orang baru yang akan masuk di dalam tim tersebut. Tetapi jika
tim doa syafaat mempunyai visi yang jelas walaupun suatu saat perjalanan
doa mengalami keletihan, seseorang yang mempunyai visi dapat mengatasi
hal iu, karena dia mempunyai kuasa dan kekuatan yang bisa membangkitkan
tim. Oleh karena itu, jelaslah bahwa pokok doa yang diberikan Gembala
Sidang merupakan pokok doa utama, di antara pokok-pokok doa yang lain
yang diberikan kepada tim.
Gereja Willow Creek dan Gereja Saddleback di Amerika berkembang
sebagai gereja yang sangat terkenal di seluruh dunia. Sejak gereja
tersebut dibuka, Gembala Sidang selalu membangkitkan semangat sampai
sekarang sehingga gereja terus-menerus berkembang. Ciri utama pelayanan
yang mereka miliki adalah memegang visi yang benar berdasarkanAlkitab
yang diberika oleh Tuhan. Visi ini diungkapkan kepada seluruh jemaat dan
seluruh jemaat menanggapi visi Tuhan tersebut. Sampai sekarang seluruh
jemaat terus berdoa. Pertama, berdoa untuk membuka Gereja yang giat
berdoa dan berdoa untuk mendapatkan visi yang sama.
Visi yang diberikan oleh Tuhan kepada Pendeta Rick Warren di
gereja Saddleback adalah melakukan hal semacam itu. Pendeta Bill Hybels
dari Gereja Willow Creek, menyampaikan visi semacam itu ke seluruh
jemaat dan mereka terus-menerus menggumulinya. Dalam keadaan demikian
visi Gembala Sidang dan pendoa syafaat harus menjadi satu. Walaupun kita
sudah berdoa tentang suatu topik yang besar, tetapi tidak langsung
dijawab maka selama hidup kita harus berdoa dengan visi yang besar itu.
Visi orang itu bisa menjadi besar atau kecil tergantung seberapa besar
atau kecilnya suatu topik doa.
Orang yang mendoakan gereja, lingkungan tempat tinggalnya, negara
atau dunia bisa melihat kemuliaan dan mujizat Tuhan yang dahsyat.
Sehingga sangat penting bagi Gembala Sidang untuk memiliki visi yang
jelas tentang pelayanan. Selanjutnya hal yang penting adalah apakah
hatinya siap untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dengan mengikuti topik
doa berdasarkan visi itu. Keduanya akan menjadi penggerak.
Walaupun visi Gembala Sidang sangat jelas, hidup dan mati tim
pendoa tergantung pada tim itu sendiri untuk memegang peranan penting
atau tidak sama sekali. Pemimpin tim doa harus menjadi pemimpin yang “berdoa”,
bukan hanya menekankan doa dan firman Tuhan, tetapi pemimpin yang
menghidupi firman Tuhan itu dalam praktek. Jika pemimpin yang menjalani
hidup itu dibimbing oleh Roh Kudus, maka persekutuan doa tersebut akan
hidup di hadirat Tuhan. Hal seperti itulah yang akan membawa domba-domba
masuk ke dalam kumpulan jemaat, sehingga pekerjaan Tuhan digenapi.
Orang-orang yang Berdoa
Dalam sebuah gereja, jumlah orang yang berdoa paling sedikit
25 orang. Secara pribadi saya berpikir, jika jumlah orang yang berdoa
hanya 25 orang dalam persekutuan doa, maka hal itu dapat disebut
“batas minimum”.
Batas minimum diambil dari “dasar massa atom” yang
menyebabkan bom nuklir bisa meledak. Pertama-tama hanya dibutuhkan
percikan kecil. Doa adalah unit terkecil yang dapat mengubah suatu
kondisi daerah dan perkembangan gereja. Jika perkembangan jemaat gereja
hanya mencapai tingkat tertentu saja, lambat laun akan mengalami krisis.
Sebagai contoh, akan disebut kondisi genting bila hanya ada 300 orang
jemaat di Korea dan hanya 200 orang jemaat di negara Amerika.
Perbandingan jumlah jemaat ini sangat jauh berbeda, karena tidak
sebanding dengan kepadatan penduduk di masing-masing negara di mana
kepadatan penduduk di Korea lebih tinggi. Perlu diketahui bahwa di
Korea, jemaat yang hadir hanya anggota jemaat yang terdaftar.
Pada Desember 1998, jemaat gereja yang saya layani adalah jemaat
perintisan. Semua yang terdaftar adalah anggota jemaat baru. Sebagai
jemaat baru mereka masing-masing menerima pendidikan, antara lain
pelajaran tentang hidup baru. Melalui pendidikan ini jemaat dapat
mengambil kesempatan untuk menyatukan atau menyamakan visi jemaat dengan
visi Gembala Sidang, serta menginstropeksi keadaan imannya sendiri.
Melalui proses, visi yang Tuhan beri dapat diwujudkan bersama melalui
gereja. Hal ini seperti cara kerja Gereja Saddleback di Amerika. Setiap
ibadah di gereja Saddleback jemaat yang hadir selalu lebih banyak dari
pada jemaat terdaftar yaitu sekitar 25%. Dengan asumsi, jika jemaat
terdaftar sekitar 100 orang maka kehadiran anggota jemaat adalah 125-150
orang. Jika jemaat yang terdaftar adalah 100 orang, maka sisanya adalah
simpatisan yang memiliki kemungkinan menjadi jemaat tetap.
Kembali pada contoh 200 orang jemaat di Amerika. 300 orang jemaat
di Korea. Gereja ingin bertumbuh sampai jumlah 300 orang di Korea dan
200 orang di Amerika, tetapi mengalami stagnasi sehingga tidak dapat
mencapai jumlah tersebut di atas walaupun mereka berupaya keras. Dalam
situasi ini kita berdalih bahwa angka-angka tersebut sudah cukup bagus
dan merupakan angka aman. Tetapi bagaimana pun juga kita harus mampu
melampaui dan jangan berhenti pada angka itu. Karena ketika jumlah
jemaat di gereja lebih dari pada 200 orang, gereja dapat lebih
berkonsentrasi pada pelayanan tanpa memusingkan bagaimana mendukung
kehidupan hamba Tuhan. Selain itu gereja mampu mendukung seorang misi
yang diutus oleh gereja apabila jumlah jemaat melebihi 200 orang. Oleh
sebab itu, kita perlu “batas minimum” yang dapat malampaui jumlah
200 orang.
Dr. Peter Wagner memiliki konsep 50 orang sebagai “batas
minimum”. Jika “batas minimum” 50 orang sudah dicapai maka akan
lebih mudah melampaui jumlah 200 orang jemaat yang hadir. Jadi kita
perlu mewujudkan 25 orang pendoa syafaat yang berdoa sesuai dengan visi
gembala dari pada membuat strategi untuk mengatasi jumlah angka tersebut.
Kita perlu doa yang bergelora bersama tim doa yang sehati. Kita juga
memiliki iman dan keyakinan bahwa Allah akan melakukan pekerjaan-Nya.
Jika pendoa syafaat berdoa untuk memperlebar kerajaan Allah
dengan kuasa-Nya melalui gereja, maka kita dapat mengalami lawatan Allah
yang dahsyat. Jika doa para pendoa syafaat yang berkomitmen sebagai
“batas minimum” mulai bergelora di dalam gereja itu, maka orang yang
masuk ke dalam gereja dapat merasakan jamahan Tuhan yang menghibur
mereka, dan kuasa serta pekerjaan yang dinyatakan dalam pujian dan
penyembahan.
Jika kita mempertahankan 25 orang pendoa syafaat , maka harus
berdoa untuk mendapatkan 50 orang. Jika sudah mendapatkan 50 orang
pendoa syafaat, sekali lagi harus berdoa untuk mendapatkan 75 orang.
Berdoalah seperti itu supaya jumlahnya ditambahkan terus-menerus.
Banyaknya orang yang berdoa di dalam gereja adalah penting sekali,
karena hal itu menunjukkan bahwa mereka mengasihi jiwa-jiwa. Dengan
demikian mereka saling mendoakan kelemahan jemaat-jemaat. Kasih Tuhan
dilimpahkan di dalam gereja melalui pekerjaan-Nya yang lebih besar dan
dahsyat.
Topik Doa
Di dalam persekutuan, tidak diperlukan topik doa yang umum.
Kenyataan yang harus kita ketahui adalah bahwa topik doa umum tidaklah
efisien. Masalah kecil dan masalah pribadi didoakan bersama. Doa umum
seperti itu tidak dapat diharapkan, walaupun didoakan tidak akan
menimbulkan efek apa pun. Satu contoh tentang topik doa pribadi yang
diusulkan, pemimpin doa berkata, “Pagi ini saya menerima telpon dari
teman saya. Dikatakan bahwa ibu teman saya sakit, mari kita berdoa untuk
dia. “Anda tahu nama ibunya?” Tanya pendeta yang lain, namun
pemimpin doa itu hanya bisa menggelengkan kepala tanda tidak tahu sambil
berkata, “Tidak tahu, tetapi kita berdoa saja!” Kita pernah
mengalami doa dengan topik semacam itu. Saya tidak mau berbicara tentang
topik doa yang salah. Tetapi saya mau menyatakan bahwa topik itu tidak
terlalu jelas. Kita tidak tahu nama ibunya, sakit apa dan bagaimana
keadaan yang terakhir. Kita perlu doa yang mendesak Tuhan, berdasarkan
permasalahan yang nyata bukan hanya satu kali berdoa dan
menyelesaikannya secara formal begitu saja.
Memang orang yang mempunyai iman yang penuh di dalam pekerjaan
Tuhan akan dapat dilihat, tetapi karena tidak mempunyai visi maka topik
doanya menjadi sangat umum. Topik doa yang mempunyai visi dapat
memberikan kekuatan yang membangkitkan iman, harapan dan semangat,
sehingga dapat mencapai tujuan persekutuan doa itu. Berdoa yang tidak
mempunyai tujuan dan topik doa yang jelas, hanya berkumpul secara formal
saja dan semakin lama semakin tidak kehilangan visi. Kondisi seperti itu
dapat bertahan sementara. Pada saat menghadapi keadaan yang agak sulit,
maka doa yang dinaikkan tidak memperdulikan visi yang ada. Walaupun
tampak dari luar kita seperti memohon dengan sungguh-sungguh dan dengan
berteriak di hadapan Tuhan, kenyataannya hanya mengikuti pola orang yang
di sekitarnya saja. Berdoa bukan dengan iman dan tidak dengan semangat
yang membara. Oleh sebab itu persekutuan doa syafaat yang berkumpul
secara formal, perlu membuat visi dan kemudian topik doa yang jelas
secara rinci, satu demi satu.
Saya ingin meminta satu hal lagi pada pemimpin doa syafaat,
jangan berdoa dengan tergesa-gesa tentang peristiwa yang diberitakan
oleh media, tanpa melihat topik doa yang dimiliki tim doa. Pernyataan
ini bukan nerarti menghalang-halangi, tetapi maksudnya adalah jangan
berdoa hanya untuk suatu peristiwa yang terjadi dengan tergesa-gesa.
Peristiwa yang sudah terjadi pada masa lalu, telah dituntaskan oleh
peristiwa yang terjadi sekarang, bukan berarti bahwa kita lebih fokus
pada peristiwa yang sudah terjadi pada masa lalu, tetapi kita harus
berdoa untuk fokus pada masa depan bersama dengan Tuhan. Jika kita
memfokuskan hal yang terjadi pada masa lalu dan terus-menerus berdoa
untuk hal itu, maka kita kembali pada peristiwa masa lalu. Kita harus
lebih berdoa untuk masa depan, dan masa kini yang merupakan “batu
pijakan.” Itulah “doa syafaat.”
Jangan lupa berdoa terus-menerus dengan topik doa yang lebih
jelas. Pada waktu doa pribadi, saya pernah berdoa dengan hanya
mengucapkan kata, “Aku cinta padaMu, Tuhan”, semalam-malaman. Coba
Anda juga berdoa dengan cara pengucapan seperti itu, saya harap Anda
akan mengalami suatu peristiwa dan bagaimana Tuhan menjawab doa Anda.
Pada saat saya berdoa seperti itu, saya mendengar suara Tuhan di dalam
hati saya, “Aku juga mengasihi kamu.”
Saya tidak bisa mengungkapkan tentang kebanggaan, penghiburan dan
kasih Tuhan. Walaupun hanya satu topik doa, saya tetap mengadakan
persekutuan dengan satu topik doa yang nyata itu di hadapan Tuhan. Kuasa
Tuhan melakukan karya-Nya dimulai dari hal yang sederhana.
Waktu yang Berkala
Unsur yang keempat adalah waktu. Kita harus memberikan waktu
berkala yang dijadwalkan untuk Tuhan. Pendoa syafaat harus memberikan
waktu doa yang dimulai dengan doa syafaat pada waktu yang ditentukan
minimal 1 jam. Jika ingin lebih, bisa diperpanjang 2-3 jam. Saya pernah
berbicara tentang lama waktu doa syafaat kepada jemaat Gereja New Life
di Amerika. Gereja itu berdoa minimal selama 3 jam dan maksimal selama 6
jam yang didasarkan pada firman Tuhan. Saya berharap, jangan menghemat
waktu untuk berdoa.
Tempat yang Tetap dan Berkala
Unsur kelima, yaitu tempat untuk berdoa syafaat. Lebih baik
ada tempat yang tetap. Gedung gereja harus menjadi fondasi tempat
berdoa. Pada waktu saya mulai merintis gereja, saat itu saya mempunyai
pengalaman menggunakan gedung gereja bersama-sama dengan pendeta dari
Amerika. Setelah beberapa waktu berlalu, saya mengetahui bahwa jemaat
gereja di Amerika, tidak bisa berdoa di gereja. Bila dilihat secara
rohani, situasi lingkungan gereja tersebut tidak begitu baik; namun
secara fisik, baik. Saya menyadari selama berpuluh-puluh tahun, bahwa
belum pernah satu jam pun saya berdoa di ruang gereja itu. Kemudian
selang beberapa saat saya dan jemaat terus-menerus berdoa pada malam
maupun siang hari di gereja itu. Kami berdoa agar kegerakan doa terjadi,
baik gereja kami maupun gereja-gereja Amerika. Setelah lewat 6 bulan
pendeta gereja Amerika konseling kepada saya tentang hal aneh yang
terjadi pada gereja itu. Hal yang mengherankan adalah bahwa ada 7 orang
jemaat perempuan ingin berdoa bersama setiap minggu di gereja. Gembala
Sidang gereja Amerika itu meminta pertolongan bagaimana hal itu dapat
dia lakukan. Saya berkata kepadanya, “Lakukanlah!” Pendeta itu
menjawab, “Saya belum pernah melakukan hal-hal seperti itu.”
Sejak saat itu, saya berdoa untuk gereja tersebut agar menjadi
mujizat dan penggenapan pekerjaan-Nya lebih banyak lagi. Saya mendengar
kabar tentang orang sakit yang datang ke gereja dan mengalami
kesembuhan. Kemudian pendeta Amerika itu mengunjungi saya. Dia
menganggap peristiwa itu aneh. Saya menjawab, “Pendeta, itu bukanlah
hal yang aneh. Sampai sekarang gedung gereja itu bukan hanya tempat
untuk berdoa, tetapi kami terus-menerus berdoa untuk tempat itu supaya
menjadi tempat di mana Tuhan hadir.” Saya berharap, lebih baik
memutuskan tempat doa yang tetap dan berkala; lebih baik berdoa di ruang
bait Allah. Tempat seperti itu adalah suatu tempat kebaktian yang dapat
dipakai untuk berdoa dengan segenap hati dan dengan semangat membara
mencintai Tuhan. Tuhan hanya akan mendengar doa dengan iman, “Maju
terus!”
PRINSIP PERSEKUTUAN DOA YANG
MEMPUNYAI KUASA
Kita sudah mempelajari unsur-unsur apa saja yang diperlukan untuk
tim doa syafaat. Sekarang kita akan mempelajari syarat apa yang
diperlukan untuk dapat memiliki sebuah persekutuan doa yang mempunyai
kuasa, serta bagaimana supaya bisa menjadi pemimpin persekutuan doa yang
mempunyai kuasa. Agar menjadi seperti itu hal yang terpenting adalah
mempelajari enam prinsip penting, sebagai berikut.
Pertama, harus berdoa dengan
kuasa Roh Kudus
Yaitu bahwa persekutuan doa harus dipimpin oleh kuasa Roh Kudus.
Pada saat berdoa, yang terpenting adalah Roh Kudus bersama dengan kita.
Roh Kudus menolong kita dalam berdoa. Tuhan hadir di dalam pujian. Oleh
karena itu, harus ada pemimpin pujian yang memimpin persekutuan doa
tersebut. Urapan Roh Kudus dapat dilihat setelah lawatan Roh Kudus. Yang
terpenting pada saat menunggu lawatan Roh Kudus harus berdoa meminta
darah Yesus Kristus agar menyucikan. Perhatian Tuhan tergabtung pada
kebersamaan dan kuasa darah Yesus. Pada saat seperti itu, Roh Kudus akan
melawat dan mencurahkan kuasa dan Tuhan menggenapi karya-Nya.
Kedua, harus berdoa berdasarkan
firman Tuhan
Persekutuan doa, berdoa dengan topik doa, tetapi jawaban
Tuhan lebih banyak terlihat melalui firman Tuhan. Oleh karena itu, saya
mangharapkah Anda untuk membaca firman Tuhan pada persekutuan doa.
Setelah memuji, menyembah Tuhan, kemudian membaca Alkitab sekitar 10
pasal maka firman Tuhan itu akan terukir di dalam hati dan tidak akan
hilang begitu saja. Saat masuk dalam doa dengan melalui pujian kepada
Tuhan dan firman Tuhan, maka anugerah Tuhan dimulai. Jika persekutuan
doa dilakukan setiap hari, sebaliknya harus membuat tujuan utama selama
6 bulan membaca seluruh Alkitab. Kemudian membaca Alkitab sekali lagi
selama 3 bulan. Jika dilakukan seperti itu, maka kita bisa berdiri
dengan teguh di dalam firman Tuhan.
Ketiga, harus berdoa dengan
iman
Kita harus berdoa dengan iman, bukan berdoa dengan
berulang-ulang. Doa dengan iman adalah percaya kepada Tuhan bahwa Dia
akan mendengar doa kita. Doa dengan iman adalah doa yang digenapi.
Keempat, berdoalah dengan tidak
henti
Kali ini, jika kita mulai berdoa dengan topik doa, jangan
berhenti di tengah jalan, karena jawaban doa mungkin saja dapat
diperlambat atau ditunda. Oleh sebab itu kita harus berdoa secara
terus-menerus.
Syarat kelima adalah berdoa
dengan permasalahan yang jelas
Hal itu sudah dijelaskan dengan contoh tadi secara singkat,
jangan lupa berdoa dengan informasi yang jelas dan benar. Jauhkan doa
kita dari topik doa yang umum dan abstrak.
Syarat yang terakhir adalah
mendengar suara Tuhan
Di sini, mendengar suara Tuhan berarti mendengar suara Tuhan
melalui hati kita dalam doa dan melalui firman Tuhan, bukan seperti
nabi-nabi pada zaman Perjanjian Lama yang berhadapan muka dengan muka,
saat berhadapan dengan Tuhan.
( berlanjut )
Prepared by:
Bambang Wiyono