Full Gospel Indonesia

Info

 
 

Files

 

Siaran

 

 

PERSIAPAN UNTUK IBADAH

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Tuhan aku menasihatkan

 kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai pesembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan dan yang sempurna.

ROMA 12:1-2

Pengalaman-pengalaman saya yang luar biasa sangat menggairahkan tetapi di samping itu juga sedikit meletihkan, dan Tuhan tahu pengaruhnya pada badan dan kesehatan saya. Goncangan-goncangan yang harus dialami adalah bagian dari persiapan saya untuk beribadah. Perwujudan jasmani dari pekerjaan Tuhan yang ajaib dalam hidup saya, begitu juga keluhan-keluhan yang dalam yang keluar dari roh saya, mempengaruhi badan saya.

            Sesudah badan saya tergetar begitu kuat selama dua atau tiga jam, saya menjadi terhuyung-huyung. Kepala saya merasa seakan-akan berputar, dan saya menjadi sangat pusing. Kadang-kadang perasaan ini begitu kuat sehingga saya hampir tak dapat berjalan.

            Kuasa urapan Tuhan dalam hidup saya membuat saya kurang nafsu makan selama beberapa hari setiap kali. Terjaga pada waktu-waktu tidur dan kurang makan menyebabkan saya merasa lemah dan menjadi kurus. Kenyataannya, saya telah kehilangan dua setengah kilo. Saya sering merasa hendak muntah, dan saya sering mengalami sakit di perut dan sendi-sendi saya. Walau bagaimanapun, sebelum kembali setiap hari, Tuhan menyembuhkan saya dari sakit saya.

            Ia akan memeluk saya, dan satu sentuhan saja dari tanganNya akan mengangkat derita saya dan menyebabkan goncangan berhenti. Biasanya Ia akan mengucapkan kata-kata lembuh penuh perhatian dan kepedulian sehingga menolong saya mengetahui, bahwa Ia benar-benar mengerti bagaimana letihnya saya. Sangat menggembirakan sekali mengetahui bahwa Allah peduli tentang segala sesuatu yang menyangkut anak-anakNya – hasrat-hasrat kita, sakit penyakit kita, kekuatiran kita, kelelahan kita, pengharapan-pengharapan kita, serta impian-impian kita.

            Penulis kitab Ibrani menerangkan bagaimana ini mungkin:

Karena kita sekarang mempunyai Imam Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Tuhan, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Ibrani 4:14-16

 

Yesus menangis. Ia mengerti sakitnya kesepian dan penolakan. Ia menghadapi percobaan. Ia bergumul dengan kehendak Bapa. Ia mengalami rasa marah dan takut. Apapun yang kita hadapi, Ia juga pernah. Yang lebih penting, Imam Besar kita yang mulia ada di sana bersama kita. Ia berdoa untuk kita. Ia memikul beban-beban kita. Yesus sungguh-sungguh mengerti.

Ia tahu, bahwa banyak hal harus disembuhkan di dalam hidup saya yang paling dalam sebelum saya dapat dipakai dalam pelayanan yang saya telah dipanggil olehNya secara efektif. Ia telah menerangkan kepada saya, bahwa Ia mengulangi berkali-kali sehingga saya betul-betul mengerti. Ia membawa saya ke beberapa tempat surgawi yang sama lebih dari sekali supaya saya dapat mengalami kenyataannya dengan sepenuhnya – dan mengingatnya. Ia menekan-kan penyebab badan saya tergoncang begitu kuat setiap kali saya berada di hadiratNya adalah karena Ia sedang melimpahkan kuasaNya atas saya.

Singkatnya, sebab itulah, saya sedang dipersiapkan untuk satu pelayanan mengabarkan Injil dan kesembuhan seluruh dunia yang akan mulai dengan buku yang sedang Saudara pegang di tangan Saudara.

 

KITAB INJIL HITAM YANG BESAR

 

Pada tanggal 5 Maret, Tuhan membuat saya bangun dari pukul 1.50 pagi sampai 4.20 pagi. Di dalam proses, badan saya tergoncang selama duapuluh lima menit. Kemudian Tuhan membawa saya ke pantai dalam menyiapkan perjalanan seterusnya ke surga.

Kami mengunjungi lagi gedung putih dan kamar berhias. Kami berdua berganti jubah surgawi dan mahkota kami. Kemudian kami pergi ke ruangan takhta di mana Tuhan duduk di atas kursiNya dan menyuruh saya untuk duduk di kursi sebelahNya. Ada beberapa orang laki-laki di depan kami yang memakai mahkota mirip kepunyaan saya.

“Siapakah orang-orang ini?” saya bertanya.

Tuhan menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang menulis FirmanKu.”

Saya memandang kepada setiap muka yang bercahaya dan saya mencoba menerka satu persatu. Duduk di hadapan saya adalah rasul-rasul Yohanes, Matius, Lukas, Markus, Yakobus, Petrus, dan Paulus. Para nabi ada juga di sana, laki-laki, seperti Yesaya, Yeremia, Yoel, Mikha, Maleakhi, Daniel, Obaja, Hosea dan banyak lainnya.

Saya memperkirakan, Musa dan Yosua pasti ada dalam kelompok ini juga: dan Nehemia, Ayub, Daud, Salomo, Yehezkiel, Nahum, Yunus, dan Zakharia. Saya berharap saya ada waktu untuk berbicara dengan mereka semua. Saya akan bertanya Yunus bagaimana rasanya berada di dalam perut ikan paus. Saya ingin Daniel menceritakan kepada saya bagaimana rasanya berada di dalam gua singa. Saya ingin mendengar Daud menggambarkan pengalamannya dengan Goliat.

Lalu saya menduga: Suatu hari, dengan segera, saya akan mengambil rumah kediaman surgawi yang telah ditunjukkan Yesus kepada saya, dan saya akan dapat bergaul lama sekali dengan orang-orang kudus dari segala zaman! Kemudian saya dapat menanyai mereka. Lalu saya akan mengetahui. Lalu saya akan mengerti. Bukankah itu akan menggembirakan?

Paulus menulis: “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samara-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1 Korintus 13:12). Masih di luar pengertian saya, bagaimana saya telah dipilih untuk menerima jauh lebih dahulu hari besarnya Tuhan bila kita akan tahu, meskipun waktu kita dikenal, tetapi saya betul mengerti bahwa saya telah dianugerahi suatu kasih karunia istimewa yang hebat untuk melihat banyak hal. Saya tahu, bahwa kehormatan ini adalah untuk setiap orang, sehingga sebanyak yang mau melakukan demikian akan percaya dan diselamatkan.

Kitab Injil hitam besar yang saya lihat pada kunjungan sebelumnya ada tepat di depan saya. Ia bercahaya dengan kuasa Roh Kudus yang berbicara kepada hati saya: “Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17).

Saya melihat, bahwa para penulis yang diilhami untuk menulis Kitan Injil membawa buku catatan di tangan mereka, dan kemudian saya sadar, bahwa Tuhan sedang menunjukkan adegan ini kepada saya untuk kedua kalinya supaya saya akan mengerti dengan sungguh-sungguh bagaimana pentingnya Firman Tuhan di dalam hidup saya. Saya tahu Ia mau saya membaca dan belajar dan mencatat semasa daya mendalami FirmanNya.

Tuhan dan Tuan saya menghendaki supaya saya “menerima ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Tuhan, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh” (Efesus 6:17-18). Besarnya Kitab Injil di depanku menjadi peringatan bagiku bahwa Kitab Injil harus bertumbuh lebih besar di dalam hidup saya – ia harus menjadi dasar di mana pelayanan saya akan didirikan dan dilancarkan.

 

SEBUAH TUBUH YANG DIUBAH

 

Seorang malaikat menemani saya kembali ke ruangan ganti di mana saya dapat melihat bayangan saya di dalam kaca yang besar dan jernih. Saya telah berubah! Tubuh baru saya adalah seperti waktu remaja saya. Saya masih muda, cantik, dan penuh semangat. Setiap kali saya melihat perubahan ini saya sangat terkejut! Akan tetapi ini adalah suatu peringatan bahwa waktu saya naik ke surga saya akan mendapat satu tubuh yang baru.

Tubuh-tubuh baru surgawi kita tidak akan menjadi tua. Tubuh ini tidak akan sakit. Tidak akan ada keriput pada wajah kita. Gigi kita akan putih dan rata. Rambut putih tidak akan ditemukan di dalam rambut kita. Cahaya remaja akan bersinar dari dalam mata kita. Perawakan kita akan tegak dan lurus. Segala kekurangan yang kita alami di bumi akan hilang. Kita akan menjadi baru sama sekali, dan ia akan sangat menggembirakan!

 

AIR KEHIDUPAN YANG MENGALIR

 

Kami berganti pakaian, lalu berjalan menyeberang jembatan emas, melalui lembah yang hijau. Kami mengikuti sebuah jalan yang bagus sekali dibatasi oleh sebuah pagar emas yang mempunyai banyak pintu gerbang. Di sepanjang perjalanan saya melihat pohon-pohon buah yang pernah saya lihat dan bunga-bungaan berwarna kuning indah. Batu-batu yang bagus-bagus bertebaran di seluruh lembah dan sungai yang airnya mengalir cepat dan jernih bagai kristal di dekatnya.

Air itu air kehidupan,” Tuhan menunjuk. Ini kedua kalinya saya melihat sungai yang luar biasa ini. Waktu sebelumnya, saya bahkan telah merasa airnya yang murni dan manis.

Saya melihat sungai kehidupan ini sempit, tetapi seakan-akan tidak ada ujungnya. Ketika kami berjalan menuju gerbang yang terdekat, Tuhan bertanya apakah saya ingin minum air dari sungai kehidupan lagi, tetapi saya menggelengkan kepala saya sebab saya tidak mau memaksakan kebaikanNya pada saya, lagipula saya tak sabar ingin melihat pemandangan selanjutnya, yang saya harapkan adalah rumah saya – yang telah disediakanNya untuk saya.

Kami berjalan ke arah istana saya, dan ketika kami tiba di sana, kami masuk. Tuhan duduk di atas kursi yang telah didudukiNya pada kunjungan sebelumnya dan seakan-akan berhasrat sekali supaya saya memeriksa rumah masa depan saya.

Saya pergi ke ruangan-ruangan yang saya kunjungi sebelumnya, dan saya membayangkan bagaimana rasanya hidup di sana. Kamar tidur perak dihias dengan batu permata dan kamar berhias yang indah, tirai, dan permadani yang cantik, dinding-dinding yang berkilau-kilau – semuanya mengingatkan apa yang telah Yesus lakukan untuk saya.

Ia menunjukkan semua ini lagi supaya pengalaman ini melekat dalam ingatan saya – supaya saya sungguh-sungguh percaya. Saya bertambah dipenuhi oleh ketakjuban dan harapan tinggi lebih daripada kunjungan sebelumnya.

Kami meninggalkan rumah saya dan kembali ke gedung yang putih di mana kami berganti pakaian kami sekali lagi. Kemudian kamu pergi ke kolam yang tenang di mana Tuhan mengambil tempat biasaNya di atas batu yang kokoh.

Ia duduk, tetapi saya tidak dapat menahan diri saya. Saya mulai menari dan menyanyi dengan perasaan yang luar biasa gembiranya yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Dari tempat saya di surga, saya dapat melihat tubuh jasmani saya, masih terbaring di atas tempat tidur saya, sedang bergerak dan tangan saya sedang melambai-lambai. Kelihatannya Tuhan begitu senang dengan saya, dan Ia memberi isyarat kepada saya untuk datang dan duduk di sebelah Dia.

 

PEMULIHAN DAN KESEMBUHAN

 

Saya tahu, bahwa Tuhan masih mempunyai banyak hal untuk dikerjakan di dalam hidup saya sebelum saya siap untuk memenuhi panggilan yang telah diberikanNya kepada saya. Hal-hal masa lampau saya menyebabkan saya merasa rendah diri dan tidak berharga. Ia kelihatannya mengutamakan membantu saya memperoleh keyakinan, pertama di dalam Dia dan kemudian di dalam diri saya sendiri.

PuteriKu, Aku telah memperlihatkan kepadamu bagian-bagian yang penting dari kerajaan Tuhan, dan Aku mau engkau menceritakan setiap orang apa yang telah kau lihat. Aku tahu Aku telah menunjukkan lebih banyak hal padamu hari ini daripada yang sebelumnya. Apabila engkau melakukan pekerjaan yang engkau telah Kupanggil untuk melakukannya banyak jiwa-jiwa akan diselamatkan. Buku ini akan dibaca oleh seluruh dunia.”

“Tetapi, Tuhan, saya ini bukan siapa-siapa. Mengapa Engkau memilih saya? Mengapa bukan seseorang yang sudah terkenal?”

Choo Nam, Aku menciptakan engkau untuk pekerjaan akhir zaman. Aku akan membuatmu terkenal. Aku tahu engkau sedang belajar apa yang Aku ajarkan padamu. Aku tahu engkau akan setia padaKu.”

“Siapa yang akan menulis buku itu?” saya bertanya. “Aku mencoba mencatat segala sesuatu yang Engkau katakan dan menggambarkan hal-hal yang Engkau perlihatkan padaku, tetapi aku tidak tahu betul bagaimana menulis sebuah buku.” (Sebenarnya, saya merasa sangat takut atas semua gagasan ini!) “Tuhan, aku tidak mempunyai cukup pengalaman untuk menulis sebuah buku.”

Engkau tidak perlu tahu bagaimana menulis buku itu. Catat saja apa yang Kuperlihatkan dan ceritakan padamu, dan seorang penulis akan menulis buku itu untukmu. Puteri, jangan khawatir. Aku akan membimbing seseorang untuk menulis kembali apa yang telah engkau catat. Seorang penulis yang diurapi oleh Roh akan melakukan kerja ini untukmu.”

Pernyataan sedikit yang baru ini telah meringankan pikiran saya. Perlahan-lahan, dan selangkah demi selangkah, saya mulai belajar untuk bersandar kepada Tuhan daripada kepada pengertian saya sendiri. Sebuah ayat masuk ke pikiran saya : “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Masalah saya bukan dalam mempercayai Tuhan. Ia telah membuktikan keyakinanNya pada saya dalam banyak sekali cara yang sangat luar biasa. Masalah saya adalah percaya pada diri saya sendiri. Sejak kecil saya selalu takut untuk maju ke depan, mengambil pimpinan – dan sekarang saya dipanggil untuk menulis sebuah buku dan melancarkan suatu pelayanan ke seluruh dunia! Sebetul-nya saya takut.

Kemudian Tuhan menambahkan satu pikiran baru dengan berkata “Engkau akan mendapat kekayaan yang besar, dan Aku ingin engkau menggunakannya untuk membangun sebuah gereja bagiKu.”

“Tetapi aku tidak dapat berkhotbah, Tuhan.”

Engkau tidak perlu berkhotbah.”

Rintihan yang dalam mulai timbul dalam roh saya, dan saya tahu suatu urapan istimewa ada pada saya. Kemudian sesuatu yang lebih terang daripada pemandangan alamiah muncul di depan saya.

Itu adalah penglihatan dari sebuah gereja – sebuah bentuk gedung gereja yang putih dengan sebuah menara yang sangat tinggi. Pintu-pintu masuknya adalah pintu-pintu berganda yang sangat bagus. Ruangan utama di mana altar berada dipenuhi oleh manusia, dan saya melihat, bahwa beberapa dari mereka masuk gereja dengan kursi-kursi roda, tetapi keluar dengan berjalan kaki. Wajah-wajah mereka memantulkan kegembiraan luar biasa karena mereka telah disembuhkan sama sekali. Hanya dengan melihat adegan ini telah membawa kesembuhan atas semua kepedihan hati maupun ketakutan saya. Seperti mereka, Tuhan ingin saya menjadi utuh, dan Ia sedang melengkapi saya untuk pelayanan yang mana saya telah di panggil.

Apakah engkau suka dengan apa yang engkau lihat?” Tuhan bertanya.

Saya melepaskan senyuman yang berseri-seri kepadaNya dan membalas, “Ya!” Saya lebih bergairah daripada yang pernah saya alami dalam hidup saya.

Kemudian Ia mengulangi sesuatu yang amat penting bagi Dia, “Sebelum Aku datang untuk orang-orangKu, separuh dari orang-orang yang tidak percaya akan diselamatkan.”

“Kapan Engkau akan datang untuk kami?” saya bertanya lagi, dengan harapan mendapat jawaban yang lebih tepat dan pasti.

Aku telah mengatakan padamu bahwa ini akan terjadi segera. Bukankah engkau melihat bahwa segalanya telah disiapkan untuk semua orang di sini?

dengan itu, saya lalu mengerti, mengapa Tuhan telah banyak kali membawa saya ke surga – supaya saya menyaksikan, bahwa Ia hampir menye-lesaikan tugasNya. Ini adalah pesan membara yang harus diberitakan. Inilah tema buku dan kehidupan saya.

Yesus ingin semua orang tahu bahwa saat-saat terakhir sudah tiba. Ia telah menyediakan satu rumah abadi untuk semua orang yang percaya akan Dia. Tidak tepat lagi untuk mengatakan, bahwa Ia sedang menyiapkan suatu tempat bagi kita karena tempat itu sudah siap!

Bukankah menggairahkan sekali mengetahui bahwa setengah dari orang-orang yang tidak percaya di dunia akan diselamatkan sebelum Tuhan segera kembali? Berjuta-juta orang akan dihantar ke dalam gereja Yesus Kristus, dan gereja harus siap untuk menyambut mereka.

Saya sudah tidak sabar untuk mulai membangun gereja impian saya. Saya telah memeluk erat-erat penglihatan yang diberikan Tuhan kepada saya, dan saya mulai bergerak bersamanya. Keyakinan saya dibina, dan semua perasaan tidak aman, khawatir dan ketakutan di dalam saya sedang ditampung oleh kasih Tuhan. Saya sadar, dan pasti sekali tanpa ada keraguan sedikitpun, bahwa kasih Tuhan adalah kekal. KerajaanNya adalah nyata dan Ia akan memenuhi firmanNya.

Melalui pengalaman-pengalaman yang saya alami di surga, saya belajar, bahwa Tuhan memberi kemampuan kepada mereka yang dipanggilNya. Ia memperlengkapi bagian-bagian yang kurang dan memberi kekuatan di dalam kelemahan kita. Seperti halnya orang-orang yang cacat yang saya saksikan dalam penglihatan saya tentang gereja, kita semua terbatas atau cacat dalam satu atau lain hal.

Tetapi Tuhan dapat memberi kekuatan baru kepada kaki-kaki yang lumpuh, dan sedang Ia menyembuhkan kekurangan-kekurangan kita, kita dapat berjalan di dalam pembaharuan hidup – di dalam kekuatan dan kuasa Roh KudusNya. Pada pagi hari permulaan bulan Maret itu saya belajar satu kebenaran baru yang menyeluruh: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).

 

ISTIRAHAT YANG DIPERLUKAN

 

Selama satu setengah bulan Tuhan telah kerapkali membangunkan daya dari tidur saya pagi-pagi sekali untuk membawa saya ke surga, sehingga Ia dapat menyiapkan saya untuk pekerjaan mana saya telah dipanggil untuk melakukannya. Saya lelah, tubuh saya lemah. Menyadari keperluan saya untuk tidur lebih banyak, Tuhan berkata, “Ini adalah kali terakhir Aku membawamu ke kerajaan, dan Aku tidak akan membangunkanmu lagi.”

Saya mulai menangis. Hati saya dipenuhi kesedihan. Saya ingin bersama Tuhan selamanya. Saya memprotes, “Tuhan, aku tak ingin meninggalkanMu.”

Aku akan bersamamu di manapun engkau berada. Engkau akan melihat Aku dan mendengar suaraKu.”

Ia kemudian memegang dan merangkul saya sambil berkata, “Choo Nam, Aku tahu engkau perlu istirahat.”

Saya mengakui bahwa saya perlu istirahat, tetapi hasrat saya untuk bersama Dia melebihi keperluan jasmani saya. Saya melihat keperluan rohani saya teramat lebih penting daripada kebutuhan keperluan tubuh saya. Kami meninggalkan kolam dan kembali ke gedung yang putih untuk berganti jubah kami yang biasanya. Kemudian kami diangkut kembali ke pantai di mana kami duduk dan bercakap sebentar.

“Aku tahu bagaimana letihnya engkau sekarang ini, jadi Aku tidak akan membangunkan engkau dari tidurmu. Engkau harus istirahat sebentar.”

Rasa patah hati menyelinap untuk menguasai saya ketika Tuhan menga-takan kata-kata yang tidak ingin saya dengar ini, tetapi kemudian Ia menjelaskan apa yang dimaksudkanNya, “Aku ingin membawamu ke kerajaan lagi, tetapi sekarang ini engkau perlu istirahat.”

Meskipun mendapat janji ini, saya tidak dapat menahan tangis saya. Benar, perasaan saya hancur oleh kenyataan bahwa Yesus akan pergi, dan bahwa Ia mungkin pergi untuk waktu yang lama. Saya begitu cinta padaNya, dan pikiran tentang kepergianNya menyebabkan saya merasa sangat kosong dan agak tidak tenteram.

Saya bayangkan bagaimana perasaan rasul-rasul dahulu ketika harus mengucapkan selamat tinggal kepada Tuhan dan Tuan mereka. Bagaimana perasaan ibundaNya, Maria, ketika ia melihat Dia disalibkan, mati dan dima-kamkan. Bagaimana perasaannya ketika Ia naik ke surga? Suatu perasaan yang paling sepi di dunia.

Pada waktu ini setiap saat terjaga saya, hidup saya dipenuhi dengan pikiran tentang Yesus dan surga. Saya telah bersama Tuhan setiap hari selama lebih dari satu setengah bulan. Saya telah ke surga dan melihat jalanan dari emas, rumah-rumah kediaman di atas bukit, Sungai Kehidupan. Saya betul-betul telah merasakan air hidup yang manis.

Saya telah diiringi oleh para malaikat dan telah bergaul mesra dan saling memuji dengan para orang kudus, martir, rasul, dan nabi. Saya telah masuk ke tempat tinggal kekal yang telah disediakan oleh Yesus bagi saya. Saya tahu saya tidak akan pernah menjadi sama seperti dulu. Tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat dibandingkan dengan surga – rumah saya yang benar.

Saya telah melihat lubang neraka – api yang membara karena kekejaman, korupsi, dan dosa yang memalukan. Saya telah menyaksikan tanda-tanda akhir zaman terbuka di depan saya seperti sebuah video hidup tentang hal-hal yang akan datang. Yang terpenting, saya telah bersama Yesus – dan seluruh kehidupan telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali baru dan penuh arti.

Saya mempunyai satu tujuan, satu misi, satu panggilan. Saya telah melihat satu penglihatan atas beberapa hal yang telah direncanakan oleh Tuhan untuk saya. Memikirkan bahwa saya akan menggunakan waktu untuk tidur padahal sangat banyak hal yang harus dikerjakan membuat saya tidak paham sama sekali. Saya sangat kecewa.

Tuhan meninggalkan pantai, begitu juga dengan badan transformasi saya, dan goncangan badan saya pun berhenti. Tangisan saya berhenti ketika saya menyadari apa yang telah dikatakanNya. “Aku akan membawamu ke kerajaan lagi.” Itu sudah cukup. Itupun baik.

Lalu timbul dalam pikiran saya, bahwa istirahat yang Dia inginkan untuk saya lakukan adalah sebagian dari persiapan yang sedang dikerjakanNya dalam hidup saya. Tentu saja saya tahu saya perlu istirahat, sebab adakalanya saya merasa bingung.

Satu ayat indah dari Alkitab timbul dalam pikiran saya dan membuat saya tenang: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku” (Mazmur 23:1-3).

Tuhan, Gembala saya, telah mengizinkan saya berbaring di atas padang yang berumput hijau supaya jiwa saya dapat disegarkan-persiapan lebih lanjut untuk pelayanan yang akan datang!

 

“SETIAP ORANG AKAN MENGENALMU”

 

Keesokan paginya, 6 Maret, sukar sekali sebab saya bangun pada jam 02.30 pagi, setelah mengharapkan Tuhan ada di situ. Saya percaya akan apa yang dikatakanNya padaku, tetapi sebagian daripada saya masih mengharapkan kalau-kalau Ia akan datang. Saya menunggu Dia dari 02.30 hingga 06.30 pagi, lalu saya kembali tidur. Ketika saya terbangun lagi pada jam 09.30 pagi, saya sadar Tuhan tidak ada di sana. Saya merindukan Dia, dan saya mulai menangis.

Segera seluruh badan saya mulai bergoncang, disertai dengan panasnya urapan. Saya mengeluh dalam roh untuk lima belas menit lamanya. Kemudian, seperti yang telah seringkali terjadi sebelumnya, Tuhan muncul. Ia sedang duduk dekat jendela tempat tidur.

Ia berkata: “PuteriKu terkasih, Choo Nam, Aku berkata padamu Aku akan besertamu selalu. Engkau akan melihatKu setiap waktu engkau mau, dan engkau akan mendengar suaraKu. Aku mengunjungimu sekarang sebab Aku tahu engkau menantikan Aku sepanjang pagi.”

“Tuhan,” kata saya, “Saya ingin melakukan apapun yang Engkau perintahkan padaku. Saya masih merasa saya tidak tahu apa-apa.”

“Tepat sekali. Itulah sebabnya Aku memilihmu. Jangan lupa, bahwa Aku akan menjagamu. Aku memberikanmu karunia istimewa ini sebab tiada seorangpun mengenalmu. Segera, bagaimanapun juha, setiap orang akan mengenalmu.”

Saya merasa sangat susah menerima kata-kata itu. Setiap orang akan mengenal aku? Seolah-olah mustahil, tetapi Tuhan, dalam kemurahan serta kesabaranNya merasa patut untuk mengunjungi saya lagi untuk memberi jaminan janji ini kepada saya. Ia mengakhiri kunjunganNya sambil berkata, “Puteri, Aku mau engkau istirahat.” Lalu Ia pergi dan goncangan badan saya pun berhenti.

Selama sepuluh hari selanjutnya saya menikmati tidur yang paling lelap dan istirahat yang paling tenang yang pernah saya alami. Sekali lagi, Tuhan setia akan janjiNya:

 

Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentianNya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaanNya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga. Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk ama dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertim-bangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu mahlukpun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Ibrani 4:9-13

 

Tuhan ingin saya beristirahat sebab Ia sedang mempersiapkan saya untuk suatu pelayanan yang akan menghantar tak terhingga banyaknya orang yang tak percaya ke dalam kerajaan Tuhan. Tahu bahwa Ia akan kembali untuk mengiringi saya ke surga lagi telah membawa kedamaian kepada jiwa saya sehingga saya benar-benar dapat menikmati tempat perhentianNya.

Saya akhirnya mulai mengerti, bahwa buku yang akan saya tulis, gereja yang akan saya bangun, pelayanan yang akan saya mulai adalah pekerjaanNya, bukan milik saya. Ini menyegarkan jiwa saya, menghapuskan kekhawatiran saya dan membawa keyakinan mutlak di hati saya.

Kebenaran yang disampaikan oleh si pemazmur berabad-abad yang lalu menggema di dalam saya: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mazmur 127:1).

Yesus mengingatkan saya akan undanganNya yang mulia kepada yang letih lesu dan berbeban berat, dari Matius 11:28-30: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan.”

 
 
1
Hosted by www.Geocities.ws