Full Gospel Indonesia

Info

 
 

Files

 

Siaran

 

 

 

 

 

Suatu Tempat Yang

Dinamakan Neraka

Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu

ia berseru, katanya : Bapak Abraham, kasihailah aku. Suruhlah Lazarus,

supaya  ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam api ini.

LUKAS 16:23-24 (Tekanan Ditambahkan)

 

Pada tanggal 2 Maret, Tuhan membangunkan saya pada pukul 3 pagi. Kunjungan Nya berlangsung selama tiga jam. Seperti biasa, kami mulai perja-lanan kami dari tepi laut. Kali ini Tuhan dan saya berjalan sebentar. Saya ingin tahu ke mana Ia akan membawa saya.

Saya menyaksikan, bahwa bukit dengan banyak sekali pohon-pohonan serta semak-semak aad di sebelah kanan kami. Di kaki bukit, dekat dengan pasir, ada banyak batu karang yang besar dan kecil. Kami duduk di atas sebuah batu karang yang besar, dan terlihat oleh saya air yang jernih tiba-tiba berubah menjadi darah. Ingatan akan pengorbanan Tuhan selalu menggelisahkan hati saya, saya jadi mulai melihat ke atas, memalingkan kepala saya dari laut.

Barulah saya melihat bahwa gunung-gunung di dekat laut ini sedang menyala dengan nyala erang. Saya sangat terkejut dengan pemandangan ini. Terangnya nyala diganti oleh kabut asap yang tebal yang menutupi seluruh pemandangan.

Manusia melarikan diri dari tempat yang tang diketahui dan menuju kea rah pantai. Saya memperhatikan, bahwa beberapa di antara mereka telanjang, seolah-olah mereka telah meninggalkan tempat tidur mereka begitu tergesa-gesanya sehingga tidak punya waktu berganti baju. Rasa ketakutan nampak pada wajah-wajah mereka, dan mereka sedang lari secepat mungkin. Beberapa di antara mereka tersandung, dan gerombolan orang-orang yang berlarian melanggar dan menginjak mereka. Mereka seakan-akan sedang melarikan diri dari makhluk yang sangat mengerikan.

Sebentar saja pantai sekeliling kami dipenuhi oleh orang-orag yang keta-kutan ini. Api yang menyebabkan mereka melarikan diri sekarang telah memenuhi daerah sekitarnya. Yang paling mengejutkan adalah nyala api itu mulai menyala dari lautan darah. Seolah-olah dunia sedang kiaman di depan saya.

Semburan nyala api meletup dari lautan seakan-akan dari gunung berapi miniature, dan nyala api mulai menjalar menuju ke batas pantai. Sangat mena-kutkan sekali, dan saya mulai menangis ketika saya mendengar jerit kesakitan gerombolan orang di sekeliling saya.

Sebelumnya, saya masih duduk dengan tenteram di atas pasir di pantai ini. Adegan yang sedang berlaku di depan saya sangat mengerikan dan menakutkan. Saya tahu Tuhan mempunyai maksud dengan menunjukkan kejadian-kejadian ini kepada saya. Tiba-tiba adegannya kembali menjadi normal.

“Mengapa Engkau memperlihatkan ini kepada saya, Tuhan ?” saya ber-tanya.

“Segala yang engkau lihat akan segera terjadi. Begitu banyak orang tidak percaya firman Ku, jadi Aku memilihmu untuk menolong mereka melihat kebe-naran. Apa yang Aku tunjukkan kepadamu, Aku ingin engkau menceritakannyak kepada dunia.”

Ada nada kesal pada suara Tuhan.

Kami meninggalkan batu karang tempat kami sedang duduk dan berjalan di atas pasir. Yesus berkata sekali lagi.

“Aku harus menunjukkan lebih banyak tentang kerajaan padamu,” Ia berkata.

Kami melalui proses yang biasa untuk ke sana. Saya mendapat kehormatan sekali lagi berdiri di hadapan takhta Tuhan dengan banyak sekali orang lain yang merendahkan diri mereka di hadirat Nya. Saya ikut serta dalam penyembahan yang kami semua sedang alami, dan sungguh waktu-waktu yang tenteran, sujud menyembah, sukacita, dam penuh berkat.

Kunjungan-kunjungan saya ke ruangan takhta Tuhan telah membuka mata saya betapa pentingnya penyambahan di dalam hidup kita. Untuk inilah kita diciptakan – untuk menyembah Tuhan dan menikmati hubungan bersama Nya selamanya. Inilah cara kita akan menghabiskan waktu di alam kekal.

Pemandangan di depan saya tepat sekali seperti yang digambarkn di dalam buku Wahyu, dimana Yohanes menulis : “Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta berdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang gemilang bagaikan zamrud rupanya” (Wahyu 4:2-3).

Betapa riangnya hati saya tahu bahwa saya sedang mengalami pengalaman yang sama dengan yang diberitakan oleh rosul Yohanes di alam buku terakhir dari Kitab Injil. “Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini” (Wahyu 4:1).

Saya tahu dari apa yang Tuhan telah beritahukan saya, bahwa manusia tidak mengindahkan kata-kata dari Wahyu, dan sekarang Ia mau saya mengulangi pesannya agar supaya sebanyak mungkin orang akan benar-benar percaya.

 

BUNGA-BUNGA, RUMAH-RUMAH BESAR,

DAN ISTANA-ISTANA

 

Yesus memegang tangan saya dan membimbing saya keluar dari ruangan takhta ke dalam sebuah kebun bunga yang luas dan indah. Ada perbedaan yang begitu menyolok dengan kengerian yang telah saya lihat di tepi pantai, ketenteraman kebun yang sangat besar ini memenuhi saya dengan perasaan cinta. Saya mulai menyanyi dengan girang, dan sebuah senyuman ikut terukir pada wajah saya. Tuhan memetik sekuntum bunga, seperti sekuntum mawar, dan memberikannya kepada saya. Saya memegang terus bungan itu selama kunjungan ke kerajaan Surga ini berlangsung.

Kebun itu luas sehingga saya tidak dapat melihat di mana batasnya berakhir. Betul-betul suatu taman Firdaus keindahan, kasih, kegembiraan, dan ketenteraman. Baunya lebih harus dari apapun yang saya ketahui. Jadi inilah surga, dan surga lebih indah daripada sebagaimana yang pernah saya bayangkan.

Kami berjalan keluar dari kebun melalui suatu jalan yang sempit dan berliku-liku sampai ke suatu pemandangan gunung di bawah mana ada sebuah lembah hijau yang subur. Saya dapat melihat segala jenis binatang berlari-lari dan bermain di antara pohon-pohon. Saya terutama sekali melihat seekor rusa yang menakjubkan kelihatannya begitu kuat dan sehat.

Saya lihat bahwa hewan-hewan ini, yang biasanya dianggap sebagai hewan liar, sedang bermain dengan yang lain. Keadannya seperti sebuah adegan dari film produksi Disney yang berjudul Bambi.

Pada saat saya menoleh kea rah lain. Saya melihat sebuah sungai yang bagus sekali. Ada dinding batu sepanjang sungai itu dan ada rumah-rumah yang hebat terletak di sebelah kiri sungai. Kebanyakan rumah itu kelihatan seperti istana di mana hanya orang-orang yang sangat kaya sekali dapat tinggal.

Tuhan berkata, “Ini adalah rumah-rumah untuk anak-anak Ku yang istimewa.”

Saya ingin tahu benar tentang tempat ini, tetapu Tuhan tidak membawa saya untuk lebih dekat kepadanya. Ia hanya memperlihatkan kepada saya dari atas puncak bukit dan dalam jarak yang sangat jauh.

Setelah menikmati pemandangan itu, saya menyadri kebenaran firman-Nya : “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu. Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ” (Yohanes 14:2-4).

Ada suatu waktu saya berpikir kalau-kalau ini hanya kiasan, simbolis dari hal-hal surgawi saja. Sekarang baru saya tahu rumah-rumah besar itu dan istana-istana adalah nyata, dan Tuhan telah menyediakannya untuk kita. Lebih penting lagi, Ia ingin kita bersama Nya di sana untuk selamanya.

 

LUBANG NERAKA

 

Selanjutnya, tuhan membawa saya ke daerah yang lain di luar gerbang kerajaan. Kami meneruskan dengan menaiki gunung, dan pada waktu kami naik lebih tinggi dan lebih tinggi lagi jalannya menjadi lebih kasar dan tidak rata. Kami naik melalui jalan yang sempit ini lama sekali, dan akhirnya membawa kami melalui sebuah terowongan yang gelap. Ketika kami muncul dari terowongan itu, saya menyadari, bahwa kami telah naik lebih tinggi dari tepi bukit. Agak aneh bagi saya bahwa surga mempunyai sebuah terowongan yang gelap dan sebuah jalan yang berbelok-belok dan tidak rata.

Ketika kami mencapai puncaknya dan saya memandang dari puncak gunung itu, saya melihat uap dan asap yang hitam keluar dari sebuah lubang yang dalam. Bentuknya seperti kawah sebuah gunung berapi, dan di dalamnya saya dapat melihat nyala api sedang membakar banyak orang yang menjerit-jerit dan menangis seperti dalam kesakitan yang amat sangat. Hanya yang merasakan terbakar hangus sendiri dapat mengekuarkan jeritan dan tangisan seperti itu.

Orang-orang itu telanjang, tanpa rambut, dan berdiri berdekatan satu sama lainnya, bergeliat-geliat seperti cacing, sementara nyala api sedang membakar tubuh mereka. Tidak ada jalan keluar bagi mereka yang terperangkap di dalam lubang itu – dinding-dindingnya terlalu tinggi untuk dipanjat, dan bara api yang panas mengelilingi tepinya.

Walaupun Tuhan tidak memberitahu saya api, saya tahu sedang berdiri di pinggir neraka. Keadaannya lebih mengerikan dari pada yang diberikan Kitab Injil: “Maka laut menyerahkan orang-orang mati di dalamnya, dan mereka diha-kimi masing-masing menurut perbuatannya. Lalu maut dan kerajaan maut itu di-lemparkanlah ke dalam lautan api. Inilah kematian yang kedua : lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu” (Wahyu 20:13-15). Sepanjang kitab Injil dan kitab Wahyu, Yesus tidak lupa memberitahu kita tentang kengerian neraka.

Nyala api akan memercik keluar dengan tak terduga dari semua jurusan. Orang-orang itu mencoba menghindar diri, an pada saat mereka mengira bahwa mereka selamat, nyala api lain tiba-tiba muncul. Tidak ada istirahat sama sekali bagi korban dosa yang malang ini, mereka dihukum untuk menghabiskan waktu mereka dengan dibakar dan hangus ketika mencoba menyelamatkan diri dari api neraka untuk selama-lamanya.

“Siapakah orang-orang ini ?” tanyaku.

“PuteriKu, orang-orang ini tidak mengenal Ku.”

Ia membuat pernyataan ini dengan suara yang pedih. Saya yakin, bahwa Tuhan tidak suka melihat pemandangan di depan kami; hal itu sangat menyusah-kan ia. Saya tahu, bahwa Ia tidak boleh memaksakan nasib orang-orang yang dengan sengaja memilik untuk menolah Dia. Mereka orang-orang yang merintih dan menggeliat kesakitan dan menderita di dalam lubang neraka.

Saya tahu dua hal yang sama pentingnya yang harus saya ceritakan kepada orang lain. Yang satu adalah surga itu nyata; yang lainnya adalah neraka tidak kurang nyatanya. Saya tahu banyak orang yang tidak percaya kedua-duanya, dan saya tahu ini mejadi tugas saya untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana nyatanya hidup yang aka datang.

Saya tahu orang tua saya tak pernah memberikan hati mereka kepada Yesus, jadi saya mulai bertanya-tanya tentang mereka.

“Tuhan, bagaimana tentang orang tua saya ?” saya bertanya. “Saya tahu mereka tidak diselamatkan, tetapi mereka orang yang baik.”

“Maaf, puteri Ku. Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa untuk mereka yang tidak mengenal Aku.” Suara Tuhan Yesus saya begitu sedih saat Ia menga-takan ini.

Pernyataan Nya menusuk hati saya ketika saya teringat ibu dan ayah saya tentunya di antara orang-orang hukuman yang saya lihat d lubang neraka. Saya menangis terus ketika Ia menunjukkan adegan-adegan ini.

Tuhan menyentuh kepala saya, dan memegang tangan saya, memimpin saya turun ke sebuah terowongan yang gelap, dan kami muncul pada jalan lain yang tidak rata yang sangat panjang dan sampai ke pinggir lubang. Jalan gunung ini melalui pohon-pohon yang tinggi dan batu-batu yang besar sekali. Ketika kami sampai kepuncaknya, saya memandang sebuah lembah berwarna coklat dan mati. Semuanya serba coklat. Seluruh kawasan seolah-olah dipenuhi oleh rumput mati.

Saya melihat banyak orang yang memakai jubah berwarna pasir berjalan-jalan tak tentu arah dekat dengan lubang neraja yang menganga. Kepala mereka tertunduk, dan mereka kelihatan sedih dan tiada pengharapan.

“Siapakah orang-orang ini, Tuhan ?” saya bertanya

“Mereka adalah orang-orang Kristen yang tidak taat.”

“Beberapa lama lagi mereka harus tinggak di tempat yang tandus dan mati ini ?”

“Selamanya, puteri Ku. Mereka yang akan masuk kerajaan Ku adalah yang murni hati – anak-anak Ku yang taat”

Ia terus menerangkan : “Banyak yang menamakan diri mereka ‘Kristen’ tidak hidup menurut firman Ku, dan beberapa di antaranya mengira bahwa perdi ke gereja seminggu sekali sudah cukup. Mereka tidak pernah membaca Firman Ku, dan mereka mengejar hal-hal duniawi. Beberapa yang meskipun tahu Firman Ku hati mereka tidak pernah bersama Ku.”

Seluruh rencana dan maksud Tuhan mulai menerangi pikiran saya. Saya ingat bagaimana Yesus memperingatkan bahwa adalah sukar untuk masuk kera-jaanNya, dan sekarang saya baru sadar apa artinya.

“Puteri Ku, FirmanKu mengatakan bahwa adalah susah untuk masuk kerajaan surga, tetapi sedikit sekali yang mempercayainya dan mengerti betapa pentingnya ini. Aku memperlihatkan ini kepadamu supaya engkau dapat memperingatkan mereka.” Ia menerangkan.

Agaknya untuk mengulangi pentingnya pernyataan Nya, Tuhan membawa saya ke istana-istana yang indah yang telah saya lihat sebelumnya. Ketika kami lebih dekat dengan rumah-rumah ini, saya dapat melihat jalan-jalan yang dirata-kan denga emas yang berkilauan dan bahwa setiap istana dihiasi mewah dengan permata-permata yang terindah. Sungguh-jalnan surga dialasi dengan emas tulen !

Saya ingin masuk ke dalam salah satu istana itu, tetapi tuhan melarang saya dengan berkata, “Aku akan membawamy nanti.” Saya kecewa, tetapi saya merasa mendapat keistimewaan telah dapat melihat kota ini di mana orang-orang kudus dari segala zaman akan tinggal bersama.

 

BARANGSIAPA MAU

 

Tuhan dan saya kembali ke ruangan ganti, mengenakan jubah dan mahkota yang terindah, lalu pergi ke kolam dan duduk di atas batu. Saya tidak dapat menikmati suasana ketenteraman di depan saya sepenuhnya sebab pikiran saya terganggu oleh ingatan tentang neraka.

Saya tidak dapat menghapuskan pikiran tentang orang tua saya – amat sangat memedihkan hati saya untuk mengetahui bahwa ibu dan ayah berasa di neraka. Saya diliputi oleh kedukaan. Saya tahu dengan pasti bahwa orang tua saya tidak pernah tahu mengenai Yesus sebab tidak ada seorangpun yang pernah mengajar mereka.

Yesus melihat hati saya dan berkata, “Engkau tidak gembira.”

“Ya, Tuhan,” saya menjawab, ambil menyadari bahwa Is tahu penyebab kemurungan saya.

Saat kediaman penuh suasana keprihatinan menyelimuti kami. Lalu saya berkata, “Tuhan, saya tidak akan pernah meninggalkan Engkau.” Hadirat Nya merupakan satu-satunya jaminan yang pernah sata ketahui.

“Puteri Ku, ada banyak pekerjaan yang harus engkau lakukan. Aku mau engkau menulis sebuah buku. Ini adalah sebuah buku yang penting untuk hari-hari terakhir dan buku ini akan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.”

“Aku memilihmu untuk pekerjaan ini sebelum engkau dilahirkan, dan karena inilah Roh KudusKu selalu menggoncangkan tubuhmu – untuk mencurah-kan kuasaKu ke dalamnya. Jikalau engkau tidak mempunyai kuasa Roh Kudus, Aku tidak dapat mempergunakanmu.”

“Engkau harus ingat bahwa kuasaKu mulai bekerja pada saat engkau membuka hatimu untuk Ku. Engkau adalah puteri yang Kupercaya untuk mela-kukan pekerjaan ini untuk Ku.”

“Tuhan, saya tidak tahu apapun.”

“Engkau tak perlu tahu. Aku akan mengajar dan membimbingmu di dalam segala hal. Beritahu semua orang bahwa Aku siap untuk siapapun yang telah siap dan menantikan Aku. Aku mencintaimu, puteri Ku.”

Saya mulai menangis, dan Tuhan memegang tanganku dan berkata, “Akuakan membawamu pulang.”

Setelah kami menggantikan pakaian kami, kami kembali ke pantai dan duduk bersama sejenak. Tuhan berkata kepadaku, “Masih banyak yang akan Kuperlihatkan padamu, dan Aku ingin engkau menunggu Ku.”

“Tetapi kami merencanakan untuk pergi ke tempat anak perempuanku minggu depan.”

“Jangan kemana-mana, puteri Ku. Aku tidak ingin engkau pergi kemana- pun untuk sementara waktu. Apa yang akan Aku kerjakan bersamamu terlalu penting untuk Ku dan semua anak-anak Ku, jadi Aku mau engkau memusatkan perhatianmu kepada segala sesuatu yang Aku tunjukkan dan beritahukan padamu sehingga semuanya selesai. Sabarlah.”

“Saya akan melakukan apapun yang Engkau perintahkan padaku,” saya berkata. “Tiada sesuatupun yang lebih penting daripada pekerjaanMu.”

“Terima kasih, puteriKu. Aku masih ada banyak pekerjaan untuk engkau lakukan. Aku tahu engkau lelah, jadi beristirahatlah.”

Ia meninggalkan saya, dan badanku berhenti bergoncang. Kemudian, seperti biasa, saya menuliskan semuanya yang telah saya lihat dan dengar.

Sesungguhnya, kekristenan itu terlalu sederhana untuk dihindarkan oleh banyak orang. Manusia mempunyai kecenderungan untuk mempersuli segalanya, termasuk perkara-perkara yang menyangkut iman. Yesus hanya ingin orang datang kepada Nya dengan iman supaya Ia dapat membimbing dan menolong mereka.

Sekarang saya mengerti lebih dari yang pernah saya ketahui, bahwa barang siapa mau dapat datang kepada Nya dan menerima hidup yang kekal. Firman Nya dengan jelas menyatakan : “Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

 

SEBUAH LUBANG BERASAP

 

Keesokan harinya – tanggak 3 Maret – penuh dengan banyak pengalaman-pengalaman pemberian Tuhan yang baru. Dari pukul 2.30 sampai 4.50 pagi Tuhan beserta saya. Ia memulai kunjungan Nya dengan berkata : “Puteri Ku, inilah Tuhanmu. Aku tahu engkau lelah, tetapi Aku harus menunjukkan lebih banyak perkara padamu.” Selama lima belas menit sebelum kedatangan Nya, badan saya bergoncang tak terkendalikan.

Ia meraih tangan saya dan kami berjalan sepanjang pantai bumi. Ini adalah suatu tempat yang baru dari kunjungan-kunjungan kami di tepi laut. Ada banyak pohon-pohon dan semak belukar. Kami naik melalui sebuah jalan yang sempit dan didereti oleh pohon-pohon dan semak-semak. Kami berjalan sepanjang jalur ini yang memutari sebuah gunung sehingga kami mendaki dengan cepat. Dekat puncaknya kami beristirahat di atas sebuah batu yang besar yang bentuknya menyerupai seekor beruang besar.

Saya memandang kea rah lautan. Kembali saya lihat manusia berlarian di pantai menjadi darah sekali lagi. Kembali saya melihat manusia berlarian di pantai. Mereka bukan pejalan kaki biasa; mereka lari ketakutan dan panic. Pemandangan yang luas di depan kami membantu saya untuk mengerti mereka ini lari dari apa.

Di sebelah kiri saya gunung-gunung dan bangunan-bangunan yang terletak pada setiap sis gunung sedang terbakar semuanya. Suatu lautan api jauh lebih buruk dari kebakaran hukan belukar yang terjadi setiap tahun yang menggunggu penduduk California Selatan.

Kemudian, saya melihat api-api besar muncul di mana-mana. Orang-orang sedang terbakar. Beberaoa terjun ke dalam lautan untuk menyelamatkan diri, tetapi begitu mereka menginjak air, mereka akan jatuh karena api itu. Semua orang menjadi obor. Saya mulai menjerit kengerian dan kasihan kepada mereka yang saya lihat.

Lautan darah telah berubah menjadi sebuah lauitan kawah api belerang yang menyala. Pasirnya terdiri atas alas batu bara yang panas menyala. Orang-orang itu berlari dari api yang mengejar mereka, mengelilingi mereka dan menjilat badan mereka dengan rakusnya. Beberapa di antaranya tidak berpakaian dan tidak berdaya sama sekali terhadap api itu.

Bagaimanapun, sia-sia saja sebab tidak ada jalan keluar dari musuh yang membakar itu yang mengancam untuk melahap mereka. Mereka tidak dapat lari ke gunung-gunung karena mereka di selubungi api. Tidak ada tempat yang selamat.

Saya menjerit terus, dan saya mulai tersedu-sedu : “Tuhan, apa yang terjadi ?”

“Engkau harus ingat, PuteriKu, bahwa Aku memperlihatkan hal-hal ini kepadamu supaya engkau akan dapat memberitahukan kepada setiap orang yang akan segera terjadi.”

“Kapan ini akan terjadi, Tuhan ?”

“Sesudah Aku membawa anak-anak Ku pulang. Banyak orang tidak percaya Firman Ku. Itulah sebabnya Aku mau engkau menulis sebuah buku yang menerangkan pengalaman-pengalaman bersama Aku. Aku ingin seluruh dunia melihat buku ini, dan Aku mau mereka sadar bahwa Aku telah siap untuk mereka.

“Aku mencintai anak-anak Ku, tetapi Aku tak dapat membawa mereka ke dalam kerajaan Ku jika mereka belum siap untuk Aku. Aku tidak akan pernah memaksa anak-anak Ku untuk melakukan sesuatu jika mereka tidak mencintaiKu. Sudah lama Aku merencanakan bagimu untuk mengerjakan pekerjaan ini sebab kerajaan Ku betul-betul siap sekarang.”

Tuhan harus terus mengingatkan saya dan meyakinkan saya akan rencana Nya sebab saya masih tertegun bahwa Ia memilih saya untuk tugas yang begitu pentingnya. Adalh di luar kemampuan saya untuk mengerti luar biasanya semua ini.

Maksud kata-kata Tuhan kepada saya sangat penting sekali. Ada bagian pada diri saya yang ingin mundur dari tugas yang sangat berat ini, tetapi janji saya untuk taat kepada Tuhan di dalam segala hal menyebabkan saya pantang muncur. Saya tahu Ia sedang mempersiapkan saya untuk satu karya akhir zaman yang hebat, dan hati saya sangat tergerak meskipun agak tahut. Saya tahu Ia amsih mempunyai banyak pekerjaan untuk dilakukan dalam hidup saya.

“Aku akan membawamu ke surga lagi.”

Sesampainya kami di surga, kami tidak mengambil waktu melalui cara yang biasa. Tuhan langsung membawa kami ke lubang yang telah kami lihat kemarin di luar gerbang kerajaan. Kali ini kami tidak mengganti pakaian kami. Untuk sampai ke sana, kami harus berjalan di sisi gunung, melalui sebuah terowongan yang gelap dan terus sampai ke puncak gunung. Ketika kami tiba di puncak, kami melihat ke bawah ke dalam lubang yang menganga begitu lebar dan dalam sehingga kelihatan seperti tak ada akhirnya.

Pemandangan yang menakutkan dan menggelisahkan. Tuhan berkata, “Aku ingin engkau melihat lagi.”

Sangat sulit untuk melihat ke dalam lubang neraja, tetapi segera perhatian saya tertuju kepada sesosok yang sedang melambai kepada saya. Melalui kabut asap, saya dapat memastikan bahwa orang itu seorang wanita. Lalu saya mendengar suaranya. Ia sedang bercakap dalam bahasa ibu saya Korea, dan ia mulai menjerit : “Panas ! Panas !”

Saya kenal suara itu. Asap hilang, dan saya menatap mata wanita yang tersiksa itu. Saya langsung mengenali ibu saya ! Ia mengulurkan tangan kanannya dan melambaikannya kepadaku, katanya, “Sangat panas, sangat panas!” Saya ingat begitu jelas matanya dan mata saya bertemu, dan cara matanya memohon saya utuk menolongnya.

Ibu kandung saya sendiri sedang menjerit minta tolong dari lubang neraka yang menganga. Jantung saya berhenti. Seperti sebilah pisau yang dingin tiada pengharaoan menusuk hati saya. Ibu saya di neraka! Saya merasa seakan-akan batu besar yang sedang saya duduki menindih saya. Saya berusaha dengan mati-matian untuk mencapai dan memegang tangan ibu saya supaya saya dapat mengangkat dari jilatan-jilatan lidah api yang melingkarinya. Ini adala saat yang paling buruk dalam hidup saya.

Tidak ada kata-kata dalam kamus yang dapat menerangkan dengan tepat perasaan saya pada saat itu. Campuran perasaan takut, putus asa, kesakitan, kengerian, kesedihan dan tiada pengharapan. Lalu saya sadar bahwa emosi-emosi seperti inilah yang harus dialami ibu saya sampai kekal.

Ibu saya meninggal ketika ia berusia empat puluh tahun, tetapi wajahnya kelihatan sama seperti yang saya ingat. Ia seorang wanita yang cantik, tetapi ekspresi wajahnya mencerminkan penderitaan yang sedang dialaminya di dalam lubang. Saya ingin menyentuhnya, merangkulnya, mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik, tetapi saya tahu bahwa hal ini tidak mungkin karena pilihan-pilihannya dalam hidup. Saya tahu tidak dapat menolongnya – bahkan Tuhan tidak dapat menolongnya sebab ia tidak mengenal Dia.

Ia tidak tahu menahu tentang Tuhan sebab tidak ada seorangpun yang pernah mengajarnya. Tidak mengenai Tuhan-lah yang membawa seseorang ke neraka, dan inilah sebabnya mengapa saya ingin memberitakan kepada seluruh dunia tentang lubang yang saya lihat dan kerajaan surga yang indah.

Selanjutnya saya melihat ayah saya, ibu tiri saya, dan seorang sahabat yang telah meninggal ketika ia baru berusia sembilan belas tahun. Mereka semua ada di neraka! Mereka kelihatan sama sejauh ingatan saya mengenai mereka, tetapi wajah-wajah mereka berubah akita penderitaan hebat dari hukuman mereka. Saya merasa tidak tahan lagi, dan saya memalingkan muka saya dari pemandangan di depan saya yang mengerikan.

Lalu saya mendengar suara lain yang saya kenal meraung keluar dari lubang. Ia adalah seorang teman yang telah lama meninggal sepuluh tahun yang lalu. Di sebelahnya, kemenakan laki-laki saya yang meninggal ketika ia berumur dua puluh tahun. Terakhir kali saya bertemu dia, ia hanya berusia sepuluh tahun, tetapi ia kelihatan sama seperti dalam ingatan saya, hanya lebih tinggi.

Saya mulai menangis sedalam-dalamnya. Sebab saya telah menangis terus, meratap seperti seorang anak kecil. Begitu banyak orang yang saya sayangi dan teman-teman telah membuat pilihan yang menyebabkan mereka dilemparkan ke dalam api neraka untuk selama-lamanya! Terlalu pedih, saya tidak tahan !.

Beberapa dari memereka, saya yakin, telah mendengar tetang Tuhan, tetapi saya merasa pasti bahwa tak ada orang yang pernah menerangkan siapa Yesus kepada mereka. Saya pasti bahwa jikalau mereka tahu siapa Dia sebenarnya, tentu mereka tidak membuat pilihan-pilihan yang telah mereka putuskan. Bagaimana saya berharap saya dapat menceritakan kepada mereka tentang Dia yang berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepaad Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Lubang neraka jauh sekali dari kami, tetapi pada waktu itu seperti saya mempunyai sebuah lensa potret jarak jauh yang membolehkan saya melihat orang-orang ini dekat sekali. Saya tak dapat mengendalikan air mata saya, dan Tuhan dengan saying menghapus air mataku dan membelai rambutku. Waktu itulah saya baru sadar bahwa Tuhan sesedih saya, dan saya dapat merasakan bahwa Ia sedang menangis bersama saya. Ia memecahkan kesunyian.

“Sebabnya Aku menunjukkan ini kepadamu, puteri Ku, agar supaya engkau mengerti sepenuhnya bahwa bagaimanapun baiknya orang, mereka akan masuk neraka jika mereka tidak menerima Aku.”

Saya menganggukkan kepalaku.

“Saya tahu orang tua dan teman-temanmu adalah orang yang baik dalam banyak hal, tetapi mereka tidak diselamatkan. Sebab itulah ini adalah satu-satunya tempat bagi mereka. Di sinilah mereka harus menghabiskan waktu mereka selama-lamanya.”

“Puteri, saya tahu sangat menyakitkan hatimu melihat mereka, tetapi engkau harus memasukkan pengalaman ini ke dalam buku yang akan kau tulis untukKu. Inilah sebabnya Aku menunjukkan orang tuamu dan yang lain seperti dalam ingatanmu. Engkau harus memperingatkan orang-orang di dunia tentang kenyataan mereka. Aku ingin melihat sebanyak mungkin jiwa diselamatkan sebelum Aku kembali untuk mengumpulkan gereja Ku bagi Ku.”

“BapaKu mencintai semua anak-anakNya, tetapi Ia telah memberi mereka hokum-hukum tertentu yang Ia harapkan mereka menaatinya. Ketika Aku melihat semua orang-orang yang kaukasihi, Aku merasakan kepedihan yang lebih dalam dari pada yang engkau rasakan, tetapi Aku harus hidup menurut Firman BapaKu. Sekali seseorang masuk ke neraka, tidak ada jalan lain bagi mereka untuk pernah dapat keluar lagi. Aku ingin yang belum diselamatkan mengetahui ini – kenyataan bahwa neraka adalah kekal.”

“Aku mencintai semua anak-anakKu, tetapi Aku tak dapat memaksa siapa-pun untuk mengasihiKu atau menaatiKu. Apabila mereka mau membuka hati mereka kepada Ku, Aku dapat membantu mereka untuk mempercayaiKu dan mencintaiKu. Aku ingin menyelamatkan jiwa-jiwa sebanyak mungkin. Saya mau orang-orang percaya di manapun mereka berada untuk memberitakan Injil. Inilah yang paling penting bagi Ku.”

Udah cukup. Sudah cukup yang saya lihat, dan sudah cukup yang saya dengar untuk mendorong saya ke dalam satu semangat pelayanan memberitakan Injil yang tak pernah padam. Bagaimana mungkin saya dapat berdiam diri setelah semuanya yang saya lihat dan dengar ?

Saya akan bercerita kepada semua orang, bahwa saya melihat Yesus sehingga mereka dapat menerima kehidupan kekal di surga. Tak ada sesuatupun di dunia yang lebih penting daripada ini. Orang tua saya sendiri dan begitu banyak anggota keluarga lain dan teman-teman berada di neraka. Saya tidak dapat berdiam diri dan melihat siapapun masuk ke sana. Saya sangat gembira mengetahui, bahwa buku saya akan menemukan jalan sampai ke tangan banyak orang yang harus tahu bahwa neraka itu nyata sama nyatanya dengan surga

Walaupun hal-hal yang saya lihat di neraka telah membuat saya sangat lemas, mereka telah menanamkan suatu keputusan di dalm roh saya, bahwa tiada sesuatupun yang akan dapat menghapuskannya. Saya memutuskan, bahwa tiada seorangpun dalam jangkauan saya akan dapat menyangkal kenyataan ke sana bersamaku. Saya tahu bahwa ini adalah keingian Tuhan juga. Ia mengatakan di dalam firman Nya :

Tuhan tidak lalai menepati janji Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsure-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.

2 Petrus 3:9-10

Hari-hari akhir sungguh sedang berlaku dalam hidup kita sekarang. Kesabaran Tuhan tiada taranya sampai sekarang, tetapi Ia sudah siap untuk datang lagi bagi menerima anak-anak Nya bagi Dia. Kemudian orang-orang yang tetap tinggal di bumi akan mengalami neraka di bumi sebelym mereka berakhir dalam kebinasaan kekal nyala api yang mengerikan. Tugas saya adalah untuk memper- ingatkan seluruh dunia tentang kejadian-kejadian ini yang sudah sangat dekat.

 
 
1
Hosted by www.Geocities.ws