Full Gospel Indonesia

Info

 
 

Files

 

Siaran

 

 

 

Kerajaan Ku Telah Siap

Oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga.

Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam

firman kebenaran, yaitu Injil.

KOLOSE 1:5 (Tekanan Ditambahkan)

Yang dapat datang ke sini adalah mereka yang hatinya semurni air,” Yesus meyakinkan saya setelah kami tiba di surga pada dini hari 29 Pebruari. “Puteri-Ku, Choo Nam, pekerjaan yang mana engkau Kupanggil untuk melaku-kan adalah sangat penting bagiKu, dan itu perlu diselesaikan dengan segera.”

Saya berdiri di hadirat Nya yang gilang gemilang terpesona. Ia tiba di kamar tidur saya pada pukul 4.15 pagi. Kami pergi ke terowongan yang telah saya lihat sebelumnya. Kali ini lebih terang benderang dan lebih bersinar, dan dinding  terowongan berkilau-kilauan dengan berhiaskan warna warni yang hebat. Terowongan ini seperti sebuah tambang oermata yang berisi berlian, zamrud, batu nilam, dan batu delima. Terowongan yang sangat mempesona.

Perhatikan selanjutnya adalah di tepi pantai, dimana saya melihat sekali lagi air yang kotor merah darah. Tepi pasir, dimana ombak-ombak berhenti juga kotor dan berwarna darah.

“Itulah darahKu,” Tuhan memberitahuku lagi.

Tuan saya adalah seorang guru yang sangat sabar. Ia seringkali mengu-langi bagian yang paling pentung dari kata-kata Nya supaya saya betul-betul mengerti apa yang Ia sedang sediakan untukku. Setiap kali Ia memperhatikan darah yang ditumpahkan Nya untuk anak-anak Nya, termasuk saya, saya mulai menangis.

Melihat air mata saya, Yesus menghibur say dengan berkata : “Kerajaan Ku telah siap bagi anak-anak Ku. Barangsiapa telah siap dan ingin datang akan diijinkan untuk kemari.”

 

“SAYA TIDAK PATUT MENERIMANYA!”

 

Kami berjalan melewati sebuah gerbang putih yang indah seakan-akan bertahtakan gading murni dan mutiara-mutiara halus. Kemudian kami memasuki istana yang putih megah dimana seorang malaikat mengawal saya ke ruang hias dan saya mengenakan pakaian indah yang telah disediakan untuk saya.

Lalu, Yesus membawa ke sebuah sungai. Sebuah dinding batu warna kelabu tersusun sepanjang aliran sungan, dan tumbuh-tumbuhan hijau dengan megahnya melatar-belakangi. Saya melihat bagaimana jernih dan tenang airnya. Berkilauan seperti batu kristal terindah yang pernah saya lihat.

Tuhan mengulangi undangan yang disampaikan kepada semua orang yang ingin mengikuti Dia dan mendapat rumah yang abadi bersama Dia di surga, “Mereka yang dapat datang kemari adalah mereka yang hatinya telah dimurnikan semurni air.”

Saya kemudian melihat bangunan-bangunan menarik putih lainnya di dalam kawasan sungai yang indah itu, langsung di belakang pohon-pohon yang tinggi. Yesus membawa saya ke salah satu rumah kediaman itu. Sebuah rumah tinggal besar putih dengan susunan tanam-tanaman yang serba mewah dengan bunga-bungaan berwarna-warni dan pepohonan yang lebat. Bunga-bunga yang paling mempesona yang pernah saya lihat itu menyemarakkan pintu keluar masuk. Pintu-pintunya juga cantik, dihiasi dengan panel-panel kaca yang berwarna-warni.

Di dalam istana, semuanya warna-warni dan bercahaya. Ruangan besar itu dipenuhi oleh orang-orang yang memakai pakaian-pakaian yang indah dan setiap orang sedang memakai sebuah mahkota yang bertahtakan bermacam-macam permata. Saya merasa seperti puteri Cinderella dalam suatu pesta dansa.

Banyak kaum pria hadir di rungan itu, tetapi sangat sedikit wanita. Tuhan tidak menerangkan siapa orang-orang tersebut atau mengapa mereka disitu, tetapi Ia memberitahu saya, “Engkau akan seperti mereka.”

Saya menanggapi kata nubuatan ini dengan air mata. Setiap kali Tuhan memberi saya pengertian baru yang mendalam, saya akan menangis sebab saya merasa kecil sekali oleh kebaikan Nya dan kasih karunia Nya. Saya merasa begitu kecil, sehingga, saya mengatakan, “Saya tidak patut menerimanya!”

Suara Tuhan mengandung nada marah ketia Ia menegur saya, “Jangan mengatakan begitu lagi, puteri.”

 


SUMBER KEBAHAGIAAN

 

Setelah mengganti jubah dan mahkota surgawi kami, Tuhan dan saya berjalan dan bercakap-cakap dekat kolam yang tenang yang saya lihat sebe-lumnya. Ini adalah kunjungan saya yang ketiga ke tempat istimewa berhubungan akrab dengan Dia.

Saya memegang lengan Tuan saya dan berkata : “Aku tak mau meninggal-kan tempat ini. Aku ingin tinggal selamanya bersamaMu di sini.”

“Belum, puteriKu. Engkau mempunyai banyak pekerjaan untukKu dahulu. Aku harus menunjukkan kepadamu banyak tentang surga, dan Aku akan membawa kemari lebih banyak kali. Aku ingin engkau bahagia, puteri kesa-yanganKu.”

Kami kembali ke istana dan ganti pakaian biasa kami. Kemudian kami pulang ke pantai di bumi dan duduk di tepi laut. Tuhan memegang tangan saya dan berkata : “Aku memberikanmu kuasa penyembuhan dan karunia rohani yang lain. Dimanapun engkau berada, Aku akan berada di situ untuk membimbingmu. Engkau akan melayani Ku ke seluruh dunia.”

Pesan seperti itu sepatutnya memenuhi saya dengan hasrat ingin tahu sekali, tetapi sebelumnya membuat saya tergagap. “Tuhan, saya tidak tahu apa-apa.”

“Engkau tidak perlu tahu apa-apa. Aku akan melakukan semuanya untuk- mu. Juga, suamimu akan besertamu. Ia akan melayani bersamamu.”

Bagian pernyataanNya tadi membawa suatu kelegaan pada saya. Mele-gakan sekali mengetahui Roger akan menjadi sebagian dari pelayanan yang Tuhan sediakan untuk saya. Saya sering bersandar kepada suami saya untuk kekuatan dan dorongan, dan sangat menghibur hati sekali mengetahui, bahwa ia akan menjadi pasangan saya di dalam pelayanan. Paad waktu yang bersama, bagaimanapun, saya merasa Tuhan memanggil saya untuk bergantung sepenuhnya kepada Dia – bukan kepada Roger atau saya sendiri atau orang lain kecuali Dia.

Satu bagian Alkitab terlintas dalam pikiran saya : “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6). Saya memutuskan, bahwa untuk selanjutnya saya akan memegang janji ini. Aya juga tahu, bahwa Tuhan akan menuntun setiap langkah yang saya jalani. Saya juga tahu kebenaran Firman Nya : “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105). Saya menyerahkan diri saya untuk berjalan di dalam cahaya Firman Tuhan selalu.

Saya percaya, bahwa Yesus akan selalu bersamaku. Sebab itu, saya tidak perlu takut lagi akan siapapun atau apapun. Ia telah berkata pada saya. Ia telah memegang tangan saya. Ia telah menghibur saya. Ia telah berjanji sendiri kepada saya. Bagaimana mungkin saya dapat ragu-ragu akan hadirat Nya, kenyataan Nya, atau kebenaran Nya ?

Saya sudah bukan seperti dulu lagi. Yesus, Tuhan, dan Juruselamat saya, telah membawa saya ke surga untuk mempersiapkan saya bagi suatu pelayanan yang akan memberitakan kebenaran abadi kepada orang lain. Ia memanggil saya, dan menugaskan saya untuk pekerjaan yang penting ini.

Sewaktu saya membayangkan hal-hal yang menakjubkan ini, saya menyadari bahwa saya sungguh-sungguh bahagia untuk pertama kalinya selama hidup saya. Saya telah menemukan tujuan saya dan kesempurnaan saya di dalam Dia, dan segala yang ada pada Nya indah bagi saya.

Walaupun kepercayaan dan iman saya bertumbuh, saya masih menanggapi kata-kata Tuhan dengan merendah.

“Tuhan, saya sangat pemalu, dan saya tidak begitu tahu bagaimana berdoa untuk orang lain di depan umum.”

“Aku akan melakukan segalanya,” Ia menjawab. “Aku akan selalu bersa-mamu. Aku mau engkau memberitahukan setiap orang apa yang Aku perlihatkan dan ceritakan padamu. Seluruh dunia akan tahu akan hal-hal ini dengan segera.”

 

“ENGKAU AKAN MENULIS SEBUAH BUKU”

 

Meskipun kadang saya ragu-ragu, Yesus selalu setia. Ia dengan sabar dan penuh saying mengingatkan saya akan kuasa hadirat Nya yang telah saya alami sendiri.

“Puteri Ku, Choo Nam, Aku ingin engkau bersabar,” Ia melanjutkan, “sebab akan mengambil banyak waktu untuk menunjukkan dan mengatakan kepadamu semua yang akan Aku nyatakan. Banyak yang harus dikerjakan karena engkau akan menulis sebuah buku untuk Ku.”

Pernyataan ini betul-betul berita yang mengejutkan. Saya tidak menjawab dengan keras, tetapi saya berpikir, Bagaimana aku dapat menulis sebuah buku, sedangkan aku tidak tahu apa-apa ?

Sekarang saya tahu lebih baik dan tidak membantah Nya. Saya belajar bahwa jika Ia menyuruh saya mengerjakan sesuatu, Ia akan memberi kecakapan kepada saya untuk melaksanakannya. Saya tidak pernah meminta karunia-karunia. Ia dengan murah hatinya melimpahi karunia-karunia itu ke atas saya, tetapi saya ingat saya memang berdoa untuk karunia penyembuhan dan pelayanan yang akan memampukan saya memimpin orang lain kepada Nya. Sekarang Ia sedang menjawab doa-doa itu dengan cara yang lebih dari pada yang saya harapkan! Begitulah Tuhan yang kita layani.

Nabi Yeremia menulis, “Berserulah kepada Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui” (Yeremia 33:3). Inilah salah satu doa janji yang membuktikan sendiri kebenaran dan dapat dipercaya di dalam hidup saya. Berulang-ulang Tuhan menghargai saya dengan berkat rohani yang melimpah yang tidak patut saya terima.

“Aku tidak mau engkau tertinggal sesuatupun yang Aku tunjukkan atau beritahukan padamu,” Ia memerintahkan. “Tidak lebih;  tidak kurang. Semuanya harus tepat seperti yang Aku nyatakan padamu.”

 


SEBUAH JEMBATAN EMAS

 

Menjelang semarak musim semi tiba, saya menyadari, bahwa tiada suatu apapun di bumi ini dapat dibandingkan dengan kemuliaan keindahan surga. Pagi-pagi tanggal 1 Maret, Tuhan mengunjungi saya sekali lagi, seperti biasa, berkata, “Puteri yang Kusayangi, kita punya pekerjaan yang harus dilakukan.” Ia meng-ingatkan saya akan beberapa hal yang harus dikatakanNya : “Aku memilihmu, puteri Ku, karena ketatanmu kepada Ku. Aku suka akan kehendakmu yang kuat dan imanmu.”

Sejak menjadi orang percata, saya belum pernah sekalipun meragukan Tuhan saya. Malahan, rasa takut karena menghormati Dia, bercampur dengan cinta saya yang dalam pada Nya, telah memberi saya kesimpulan, bahwa jangan sampai saya mendukakan Nya. Pendirian ini menjaga saya terus pada jalan ketaatan bersama Tuhan.

Tuhan berkata, “Aku harus menunjukkan lebih tentang kerajaan.” Ia memegang tangan saya dan kami kembali ke tepi laut. Kemudian badan saya mulai naik ke surga. Saya sadar kali ini perjalanan menuju ke aats lebih menyerupai terapung daripada terbang. Say diangkat ke atas perlahan-lahan dari bumi.

Saya sering heran mengapa kami berangkat dari pantai, bukan dari tempat lain, dan saya menyimpulkan, bahwa tentunya disebabkan daerah itu biasanua sepi pada pagi-pagi sekali. Saya tertawa kecil waktu saya membayangkan apa yang akan terjadi sekiranya seseorang melihat kami ke surga. Kemungkinan besar mereka akan berpikir mereka sedang melihat suatu pendulikan mahluk asing atau suatu mimpi. Mereka mungkin tidak akan mengatakannya kepada siapapun; takut dikatai gila.

Lalu saya berpikir bahwa beberapa orang bisa berpikir yang sama tentang saya waktu saya mulai menceritakan cerita saya. Namun demikian, pikiran itu begitu cepat hilang oleh perasaan tenteram yang dalam meliputi saya ketika saya sadar kecemasan begitu tak ada gunanya. Sebab saya tahu, bahwa Yesus telah menerima saya dengan sepenuhnya. Jadi, mengapa saya harus khawatir tentang apa yang dipikirkan oleh orang lain ?

 

SEBUAH TAKHTA EMAS

 

Yesus memegang tangan saya ketika kami sedang terangkat dari planet ini. Kami mendarat di tempat yang sama seperti biasa, dan Ia memimpin saya ke kebun buah-buahan yang sedang berbuah banyak. Kebun itu sangat luas, dan setiap baris pohon buah-buahan teratur rapi sekali. Setiap pohon dipenuhi dengan buah-buahan yang masak dan lezat. Semuanya menghasilkan macam-macam buah-buahan. Kebun itu begitu luasnya seolah-olah tak ada batasnya.

Tuhan mengambil sebuah buah yang berwarna ungu dan berbentuk bujur telur dan memberikannya kepada saya. Lalu Ia berbuat yang sama dengan sebuah buah yang bulat dan berwarna merah tua. Saya memakannya, tetapi saya tidak dapat merasakannya dengan baik.

Saya membalas dengan memetik sebuah buah yang kecil, bulat, dan berwarna merah muda untuk dimakan oleh Tuhan. Meskipun saya tidak dapat melihat dengan jelas wajah Nya, saya merasa, bahwa Ia tersenyum dan saya tahu Ia sangat senang dengan perbuatan saya.

Seterusnya, kami pergi ke istana putih yang sekarang sudah biasa kami kunjungi di mana kami berganti pakaian surgawi. Tuhan mengambil tempat di atas takhta emas Nya. Sekali lagi, ruangan itu dipenuhi dengan orang yang memakai pakaian cantik dan mahkota seperti kepunyaan saya.

Suasana di dalam ruangan adalam tenteram dan menyembah. Orang-orang merendahkan diri mereka di hadapan Tuhan. Saya mencoba ikut serta, tetapi pera-saan kagum dan takjub saya ketika telah menyebabkan saya tidak sadar untuk langsung ikut menyembah.

Sebelum saya sadari apa yang telah berlangsung, Tuhan telah kembali mmakai pakaian Nya yang biasa. Ia mengulurkan tangan memegang saya dan memimpin saya keluar. Pengalaman-pengalaman saya di kerajaan Tuhan berlangsung begitu cepat sehingga kadang-kadang hidup saya seperti pita video yang dimajukan cepat ke depan.

Tuhan membawa saya melewati sebuah jembatan emas yang bertapak di atas sebuah sungai yang deras alirannya. Kedua tepi sungai itu sangat subur, dan pohon-pohonan serta bunga-bungaan yang indah tumbuh di kedua sisinya. Pohon-pohon dan bunga-bunga di surga banyak berbeda dari yang kita lihat di bumi. Lebih banyak jenisnya, ukurannya lebih besar, lebih sehat, lebih berwarna-warni, dan lebih indah dari tanaman yang pernah saya lihat.

Saya merasa seakan-akan saya ada di dalam dunia cerita dongen seperti yang dilukiskan dalam buku-buku gambar yang saya bacakan kepada anak-anak saya – kecuali yang ini bukanlah khayalan.

 

“AKU AKAN MEMELIHARA BAYI-BAYI MEREKA!”

 

Setelah berjalan melalui jembatan emas yang bagus, Tuhan membawa saya ke sebuah tempat di mana bayi-bayi dan kanak-kanak yang masih kecil – banyak di antaranya yang kelihatan seperti mereka baru saja dilahirkan – dipeli-hara. Suatu ruangan yang sangat besar sekali, seperti sebuah gudang dan tidak menarik atau bagus. Ruangan ini dipenuhi oleh bayi-bayi yang telanjang dan berbaring dekat satu sama lainnya.

“Mengapa ada banyak sekali bayi di sini ?” saya bertanya.

“Ini adalah bayi-bayi dari ibu-ibu yang tidak menghendaki mereka. Aku akan memelihara bayi-bayi mereka!” Tuhan menjawab.

“Apa yang akan Kau perbuat dengan mereka, Tuhan ?”

“Jikalau ibu-ibu mereka diselamatkan, mereka dapat memilikinya kembali.”

“Apa yang terjadi kalau ibu-ibu mereka tidak diselamatkan ? Lalu apa yang akan Kau perbuat ?”

“Ibu-ibu yang lain akan memiliki mereka ketika semua anak-anak Ku datang ke dalam kerajaan.”

Saya lalu mengerti bahwa bayi-bayi ini telah digugurkan dari kandungan ibu mereka, dan saya mulai menangis. Yesus berteriak, “Aku tidak suka abortus!” Suara Nya dan dikap Nya menjadi keras dan marah, dan saya mengerti, seketika itu juga, bahwa ini adalah sebuah berita yang akan segera saya bagikan dengan smua orang yang mau mendengarnya.

Tuhan tidak suka pengguguran kandungan. Itu adalah salah satu dosa yang terburuk bagi Nya. Yesus sendiri berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Tuhan” (Markus 10:14). Yesus menyayangi anak-anak, dan saya dapat melihat kasih Nya yang lemah lembut akan bayi-bayi yang digugurkan pada waktu saya memperhatikan Dia dan mendengarkan Dia.

Hamper satu daripada setiap empat kehamilan di Amerika Serikat hari ini berakhir dengan pengguguran. Bagaimana ini tidak menyedihkan Tuhan ? Amerika serikat memilih hokum abortus yang paling lemah dari semua demokrasi lain, dan jumlah pengguguran terus meningkat. Saya tak akan pernah melupakan apa yang saya lihat pagi itu di surga, dan saya tak akan pernah dapat tinggal diam tentang dosa pengguguran yang mengerikan lagi.

Sejak saat itu saya telah berdoa bagi kaum wanita bangsa kami, memohon kepada Tuhan untuk membuka mata-mata mereka akan kebenaran tentang peng-guguran, menjaga mereka dari membuat pilihan yang salah. Saya sekarang tahu, bahwa memilih pengguguran mempunyai akibat yang kekal, dan saya berdoa bahwa pengerasan hati nurani Amerika terhadap pembunuhan seperti ini supaya dihapuskan.

Saya masih terdengar suara Tuhan yang marah dan gemetar karena emosi ketika Ia berkata, “Aku tidak suka abortus!” Surga lebih baik dari ini / Puji Tuhan / Alangkah gembira dan bahagia / Menyusuri jalan-jalan dari emas murni / Engkau akan masuk ke sebuah negeri dimana engkau tak akan pernah menjadi tua.”

 


SEBUAH TEMPAT UNTUK YANG SETIA

 

Tuhan membawa saya ke suatu tempat yang tandus di luar gerbang kerajaan dan memperlihatkan kepadaku banyak orang yang memakai jubah berwana piran pasir di kawasan ini, berdiri berdekatan satu dengan yang lain, dan kelihatan mereka sedih dan kesepian walaupun mereka berada di antara banyak sekali yang lain.

Saya tidak mengetahui siapa orang-orang ini, tetapi saya tahu Tuhan akan menjawab pertanyaan saya tentang mereka jika Ia memutuskan bahwa saya telah siap. Ia membawa saya ke atas suatu bukit kecil yang ditandai dengan bangunan-bangunan putih pada kedua sisinya. Sebuah aliran air memisahkan sis yang satu dari yang lainnya, dan pohon-pohonan mengelilingi airnya.

Di depan bangunan-bangunan itu saya melihat banyak orang dewasa dan akan-anak memakai pakaian putih dan beberapa di antaranya gembira terpantul pada wajah-wajah mereka. Saya merasa Tuhan sedang menunjukkan kepada saya perbedaan yang begitu menyolok antara mereka yang gembira dan mereka yang sedih. Saya menyimpulkan yang gembira adalah orang-orang yang telah memberikan hati dan jiwa mereka kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kata-kata Nya begitu lembut dan memberi semangat, membuka sumber air mata jauh di dalam jiwaku. “Jangan menangis, puteri Ku.” Ia melanjutkan. “Aku ingin engkau selalu ingat betapa berharganya engkau bagi Ku. Aku akan bercakap-cakap denganmu lagi.”

Selanjutnya sejak hari itu saya merasa seperti saya lebih hidup di surga daripada di bumi. Kunjungan-kunjungan saya ke surga telah membuat perubahan-perubahan tetap di dalam kehidupan saya. Saya tidak memerlukan tidur sebanyak yang saya biasa, sebab saya merasakan diberi kekuatan ilahi oleh kuasa yang dari atas. Sungguh, saya tahu bahwa surga itu sangat nyata, dan inilah yang mempe-ngaruhi segalanya di dunia ini.

 
 
 
1
Hosted by www.Geocities.ws