Segala
Sesuatu Mungkin
Yesus
memandang mereka dan berkata :
“Bagi
manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan
Segala
sesuatu mungkin.”
Matius
19:26 (Tekanan Ditambahkan)
Pada tanggal 1 Pebruari Tuhan mengunjungi saya
segera setelah saya tidur sekitar jam 11 malam. Disebabkan getaran
badan saya yang selalu menyertai kunjungan Tuhan, Roger sekarang
tidur di kamar tidur tamu. Kebetulan sekali ia membuat keputusan
ini, sebab terutama pada malam ini goncangannya lebih kuat dari
sebelumnya, lagipula diikuti oleh berbagai manifestasi perwujudan
hadirat Tuhan.
Tuhan langsung berkata kepada saya : “Puteri
Ku yang Kukasihi, Aku harus memperlihatkan hadirat Ku padamu dan
berbicara denganmu sebelum pekerjaan ini dimulai.”
Gemilang hadirat Tuhan selalu bersinar
menakjubkan, tetapi kali ini Ia berpakaian putih bercahaya seperti
matahari. Bentuk Nya sangat indah untuk dipandang, dan memberi
dorongan yang kuat sekali.
Kali ini saya membalas dengan berbahasa roh dan
memuji dalam roh. Ketika saya nyayian, tangan saya terangkat ke
depan dan mulai bergerak menurut irama nyanyian. Seakan-akan saya
menari, tetapi saya tetap tinggal di tempat tidur.
Saya tidak dapat menahan gerakan tangan saya dan
melihat mereka bergoyang ke belakang dan depan sepertinya mereka
digerakkan oleh angina yang tenang. Ini adalah angina Roh Tuhan yang
membuatnya bergerak, dan setelah menyadarinya, saya diliputi oleh
kegirangan dan mulai tertawa. Meskipun saya tidak dapat melihat
wajah Tuhan, saya mendengar tertawa Nya juga.
Gejala ini dikenal sebagai “tertawa kudus”
(Holy Laughter) di beberapa kalangan. Saya mengatakan terus terang
bahwa saya mengerti inilah perwujudan hadirat Tuhan.
Alkitab mengatakan :
Bersorak-soraklah
bagi TUHAN, hai seluruh bumi ! Beribadahlah kepada TUHAN dengan
sukacita, datanglah kehadapan Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah,
bahwa TUHAN lah Allah : ialah yang menjadikan kita dan punya Dialah
kita, umat Nya dan kawanan domba gembala Nya. Masuklah melalui pintu
gerbang Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran Nya dengan
puji-pujian, bersyukurlah kepada Nya dan pujilah nama Nya! Sebab
TUHAN itu baik, kasih setia Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan
Nya tetap turun-temurun.
Mazmur 100:1-5
Kita tidak perlu heran jika terjadi kegembiraan
dan tertawa ketika waktu penyembahan dan memuji di hadirat Tuhan.
Ini sesuai dengan Alkitab, dan kita akan terus berada di hadirat
Nya, dengan menyanyi, menyembah, tertawa, merayakan dan mengalami
kesenangan Nya. Sebetulnya, inilah yang dikehendaki Nya untuk kita
karena kita adalah anak-anakNya. Nama Ishak – anak mujizat Abraham
– terjemahannya berarti “ia tertawa,” dan Tuhan menghendaki
kita menikmati hadirat Nya melalui karunia tertawa.
Meskipun banyak bagian dari Mazmur adalah
nyanyian kesedihan, ada beberapa yang menggambarkan keriangan dan
tertawa yang adalah benar warisan umat Tuhan. Contohnya, kita
membaca di Mazmur 126:1-3 “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion,
keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut
kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada
waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa : ‘TUHAN telah
melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!’ TUHAN telah
melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.”
Waktu orang menanyakan tentang goncangan,
nyanyian dalam Roh dan tertawa kudus, saya tunjukkan Firman Tuhan
kepada mereka. Salomo, penulis kitab Pengkhotbah, berkata kepada
kita bahwa “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa”
(Pengkhotbah 3:4). Sungguh memalukan, kalau ada orang percaya
mengira kekristenan harus kaku dan formal, padahal Tuhan menghendaki
kita mengalami kegirangan yang amat sangat. Nabi Nehemia menyatakan,
“sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu” (Nehemia 8:11),
dan kitab Amsal mengatakan, “Hati yang gembira adalah obat yang
manjur” (Amsal 17:22). Sekarang saya tahu arti sebenarnya
kata-kata yang mengobati ini.
Sungguh saya diberi semangat oleh tertawa
Tuhanku ketika kunjungan Nya bersama saya malam itu. Ia kelihatan
begitu puas hati dengan saya. Waktu saya menyanyi dalam Roh, suara
saya sendiripun berubah menjadi lain. Betul suara saya – saya tahu
– tetapi kedengarannya begitu berbeda, begitu indah, jernih dan
berkumandang.
Sekitar tengah malam Tuhan berkata, “Aku
mengasihi Mu, puteri Ku, dan Aku akan terus mengunjungi.”
Ketika Ia pergi saya merasa ringan dan bebas lebih daripada yang
pernah saya rasakan sebelumnya, dan hati saya bergairah dengan
mengetahui bahwa Ia akan segera mengunjungi saya lagi.
MENGHARAPKAN
BANYAK HAL DI LUAR DUGAAN
Keesokan harinya, tanggal 2 Pebruari, dimulai
dengan satu kunjungan istimewa dari Tuhan. Ia mulai membagikan
banyak hal dengan saya, seperti yang telah dijanjikan Nya, “Aku
sedang melepaskan semua kuasa yang akan engkau perlukan untuk
melakukan pekerjaan yang mana kau telah Kupilih untuk
mengerjakannya.” Seperti yang telah saya lakukan malam
sebelumnya, saya gemetar dan menyanyi dalam roh.
Tuhan meneruskan pesan pribadi Nya kepada saya :
“Puteri, cara Ku memakai engkau akan berbeda sekali. Banyak anak-anak
Ku akan tercengang. Aku mempunyai karunia-karunia untuk semua
anak-anakKu, tetapi Aku akan memberi setiap anak sebuah karunia yang
berbeda. Puteri, Aku ingin engkau bersukaria dengan apa yang akan
kau terima.”
Suatu janji yang menggembirakan. Tuhan
meyakinkan saya, bahwa Ia sedang mempersiapkan saya untuk suatu
pelayanan yang istimewa. Saya hanya ingin menyenangkan Nya.
Dari pukul 2.20 sampai 4.18 pagi keesokan
harinya Ia kembali ke kamar tidur saya untuk memberitahu saua lebih
banyak tentang kuasa doa. Ia berdiri di depan saya dalam pakaian
yang putih bercahaya.
“PuteriKu,
jangan takut untuk berdoa bagi orang lain, sebab engkau sedang
menerima karunia kesembuhan dan semua karunia roh lainnya,” Ia
berkata. “Aku tahu bahwa
engkau selalu ingin berdoa untuk orang lain dan membuat mereka
berbahagia. Sebab itu, Aku memberikan engkau karunia-karunia roh
ini.”
Mula-mula, kata-kata Nya sukar untuk didengar.
Saya merasa sangat tak berharga untuk menerima begitu banyak dari
Tuhan dan Tuan saya.
Ia melanjutkan : “Engkau
mempunyaihati yang istimewa, dan sebab itulah Aku menjawab
doa-doamua. Aku melihat hatimu murni, dan engkau seorang puteri yang
patuh. Aku mempercayaimu dengan banyak hal. Inilah sebabnya Aku
memilihmu untuk melakukan pekerjaan yang penting ini. Imanmu telah
membuat Ku sangat bersuka, demikian juga keinginanmu yang kuat.
Hatimu kuat dan merdeka, dan Aku sangat menyukainya.”
Taat kepada Tuhan menjadi hal yang sangat
penting bagi saya sebagai seorang percaya. Tujuan utama saya adalah
untuk selalu menyenangkan Nya. Begitu menakjubkan mendengar Dia
memberitahu saya, bahwa saya menyenangkan Dia dan bahwa Ia telah
menyucikan hati saya dan telah melihat ketaatan saya. pesanNya
kepada saya malam itu membuat saya lebih yakin untuk mengikuti Dia
di dalam segala-galanya.
“Inilah
sebabnya imanmu tumbuh begitu kuat dan engkau membuang hal-hal
duniawi untuk Aku.” Yesus melanjutkan. “Jikalau
engkau bukan engkau yang sekarang ini, Aku tidak dapat memakaimu
untuk pekerjaan yang telah Kusediakan. Apa yang akan kulakukan
denganmu akan mengherankanmu. Puteriku, Aku Tuhanmu. Ingat, segala
sesuatu mungkin bagiKu di bumi atau di surga. Aku akan melepaskan
kuasa Ku ke atasmu sehingga Aku dapat memakaimu.”
Cara Tuhan memanggil saya sebagai “Puteriku”
berulang-ulang selalu memuat saya menghapus air mata kasih. Ia
sangat berbeda dengan ayah saya yang di dunia ini. Tuhan
lemah-lembut, hormat, memberi semangat, dan peka dalam segala
perlakuan Nya terhadap saya. Saya tahu, bahwa Ia tahu keperluan saya
sebelum saya mengucapkan kepada Dia. Saya tahu, bahwa Dia adalah
Tempat Keselamatanku – Batu perlindunganku – dan apapun jika
dibandingkan dengan Nya, maka “perlindungan” yang lain itu
adalah pasir yang tenggelam.
Kemudian Ia menerangkan tentang goncangan badan
saya. “Badanmu bergoncang
lama sebab engkau memerlukan kuasa bagi kerja ini. Aku mau supaya
engkau mengharapkan banyak hal yang di luar dugaan.”
Lebih
banyak yang mengherankan ? Saya terpekur, dengan gembira. Saya
merasa seperti telah mengalami banyak dan sudah cukup untuk seumur
hidup. Kunjungan-kunjunganNya, waktu doa saya, dan Firman, saat-saat
berharga dalam penyembahan di gereja saya – semuanya ini memberi
pengaruh dalam yang drastic dalam hidup saya.
Iman saya di dalam Tuhan bertumbuh pesat sekali.
Saya tahu, tanpa ragu, bahwa Ia sanggup “melakukan jauh lebih
banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang
ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita” (Efesus 3:20).
Goncangan badan saya adalah kuasa Nya yang sedang bekerja di dalam
saya. Ia sedang mempersiapkan saya supaya pada waktunya Ia dapat
membuktikan kesanggupan Nya melakukan jauh lebih banyak melalui
saya.
TIDAK
TAKUT
Pada tanggal 12 Pebruari malam, badan saya
bergerak lebih kuat dari pada sebelumnya. Saking kuatnya goncangan,
saya hamper terpelanting keluar dari tempat tidur. Saya mencoba
menarik seprei untuk menahan badan saya, tetapi tidak dapat sebab
saya tidak dapat mengendalikan diri saya sendiri. Goncangan-nya
begitu kuat tak terkendalikan sehingga saya menjadi takut. Pikiran
saya mulai menguasai saya. Apakah
semua ini hanya tipuan setan belaka ? Apa yang terjadi pada diri
saya ? Apakah saya sudah gila ? saya
bertanya-tanya dalam hati.
Kemudian saya ingat akan hal yang telah
diberitahukan seseorang kepada saya suatu waktu dulu : “Ketika
engkau sebentar lagi menerima anugerah, Setan berusaha
menghancurkannya.” Apakah goncangan hebat ini pekerjaan setan atau
pekerjaan Tuhan ? Saya piker mungkin dari setan yang mencoba
menyakiti saya. Saya menjadi marah sambil menengking setan, ketika
Tuhan memanggil saua, “Puteri,
jangan takut; Aku Tuhanmu.”
Ini sudah cukup bagi saya. Suara Nya yang lembut
mengubah ketakutan saya menjadi tertawa. Terdengar pantulan tawa Nya
yang lemah lembut dekat jendela. Dengan suara yang sangat merdu dan
tenang, Ia berkata : “Tidak ada seorangpun akan menyakitimu sebab Aku akan selalu bersamamu
akan melin-dungimu dari yang jahat di dunia ini. Engkau adalah
puteriKu yang terkasih.”
Satu bagian Alkitab muncul dalam pikiran saya
dan melengkapi kata-kata Nya. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan
: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan
mengandung hukuman dan barang siapa takut : ia tidak sempurna di
dalam kasih. Kita mengasihi, karena TUHAN lebih dahulu mengasihi
kita.” (1Yohanes 4:18-19).
Kasih Tuhan di dalam hidup saya bertambah nyata
dari pada sebelumnya. Saya tahu Ia mengasihi saya. Dalam sinar kasih
yang begitu mengagumkan, bagaimana saya takut ? Pengalaman malam itu
mengajar saya untuk tidal perlu takut akan setan, hal-hal yang
jahat, atau saya sendiri lagi, sebab Tuhan telah menjanjikan bahwa
Ia akan bersama saya untuk selamanya.
Firman Nya menyokong janji ini : “Aku
sekali-kali tidak akan membiar-kan engkau dan Aku sekali-kali tidak
akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5).
Saya tahu bahwa Ia memanggil saya untuk membantu
memenuhi amanat agung Nya : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua
bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Napa dan Anak dan Roh
Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu,
senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20).
Ayat sebelum ini menyatakan kepada kita bahwa
hal ini mungkin : “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga
dan di bumi” (Matius 28:18). Kuasa, otoritas, kekuatan, dan
kehebatan Nya akan berlaku dalam setiap keadaan jikalau kita
menyerahkan diri sepenuhnya kepada Nya.
Tuhan memberi jaminan tambahan atas kehendakNya
dan kasihNya ketika Ia berkata : “Aku
memberimu segala karunia yang akan engkau perlukan untuk
memampukanmu memulai pelayanan yang Kuberikan padamu. Catatlah waktu
dan hari saat Aku bertemu denganmu …”
“Suamimu,
Roger, akan mendapat karunia pelayanan juga. Engkau tidak perlu
kuatir akan apapun juga sebab Aku berjanji padamu bahwa Aku akan
menjagamu selama engkau di bumi.”
Di dalam hati saya, saya tahu saya tidak perlu
kuatir tentang apapun juga. Ia akan menjaga segala sesuatu bukan
hanya dalam kehidupan ini saja tetapi juga di dalam kehidupan yang
akan datang. Janji Nya yang memerdekakan mengingat-kan saya kepada
Mazmur 23, dan saya menekankan terutama dalam ayat terakhir dari
Mazmur yang membangkitkan semangat : “Kebajikan dan kemurahan
belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam
rumah TUHAN sepanjang masa” (Mazmur 23:6).
Dengan pikiran yang begitu tenteran saya
mengantuk dan Tuhan berkata : “Aku
tahu engkau lelah. Tidurlah.”
Betul juga, Tuhan memberi kekasih Nya tidur.
SATU
TUMBUH BARU
Dari pukul 11 malam sampai 1.08 pagi pada
tanggal 19 dan 20 Pebruari, Tuhan membawa saya berjalan-jalan dengan
Nya. Sekali lagi, goncangan kuat badan saya seperti biasanya dan
hawa panas urapan Nya memberi saya tanda akan kedatang Nya sesaat
lagi. Hadirat Nya lebih kuat daripada sebelumnya, kemudian terdengar
suara Nya : “Aku adalah
Tuhanmu, puteri yang Kukasihi, dan Aku akan segera menyerahkan
segala pekerjaan yang telah Kusediakan untukmu.” Saya dapat
melihat Nya berdiri dekat jendela, dan bentuk tubuh Nya yang mulai
lebih jelas daripada yang telah saya alami sebelumnya.
“Puteri,
Aku harus memperlihatkan beberapa hal kepadamu,” Ia berkata
sambil mengulurkan tangan Nya kea rah saya. Seterusnya, saya
mengalami perasaan yang aneh seakan-akan badan saya terangkat dari
tempat tidur. Tak mengetahui apa yang sedang terjadi, saya mulai
berteriak dan mengebaskan tangan saya dengan tak tentu arah.
Seolah-olah apa yang di dalam badan saya semuanya melepaskan diri
dari diri saya. Suatu pengalaman yang tak dapat di-gambarkan, bahkan
saya meraba-raba badan saya untuk melihat apakah keadaan-nya masih
sama. Saya bertanya-tanya kalau-kalau saya sudah mati.
Pikiran saya jernih, dan saya sedang merintih
dalam roh saya. Tiba-tiba saya sadar bahwa saya sedang bersama
Tuhan, memakai jubah putih seperti Dia. Tubuh saya baru. Baru
seperti seorang gadis muda lagi. Bahkan rambut saya panjang dan
lurus.
Saya menyadari saya sedang berjalan sepanjang
pantai yang sepi dengan Tuhan. Mungkin Saudara dapat membayangkan
betapa herannya saya. Ia meng-angkat saya dari tempat tidur, rumah,
dan badan saya terbang dan berjalan dengan Dia. Tuhan surga dan bumi
telah menghentikan hokum daya-tarik bumi, hidup, dan ruang untuk
menunjukkan kepada saya beberapa hal yang tidak akan dapat saya
lupakan.
Alkitab berkata : “Daging dan darah tidak
mendapat bagian dalam Kera-jaan TUHAN dan bahwa yang binasa tidak
mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa” (1 Korintus 15:50).
Saya hamper menemukan arti harafiah dari kata-kata Rasul Paulus ini.
Saat saya mulai sadar akan tubuh baru saya, saya
merasa menyerupai saya, tetapi juga bukan saya. Saya pernah
mendengar tentang pengalaman di luar jasma-niah saya dan di
tempatkan ke satu tubuh yang bukan saya – tetapi itu adalah saya.
Inilah saya seperti ketika saya seorang gadis
muda remaja. Saya mempu-nyai rambut sama seperti yang saya miliki
waktu saya remaja. Saya tak dapat melihat wajah saya dengan jelas,
tetapi saya merasa pasti wajah itu paras muka remaja yang bingun
yang tanpa Tuhan dan tanpa pengharapan. Walau bagaimanapun, saat
ini, gadis muda ini telah mengenal Tuhan, dan ia penuh dengan
pengharapan. Begitu mempesonakan. Apa arti semua itu ?
SEBUAH
TEROWONGAN YANG BERCAHAYA
DAN
TEMBOK BATU
Ke mana Tuhan telah membawa saya ? Mengapa Ia
membawa saya bersama Nya ? Saya tak sabar mendengar jawaban-jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan ini, karena saya tahu semuanya baik untuk
saya, yang akan dipakai Nya untuk memimpin saya.
Mula-mula kami langsung pergi ke samping suatu
bukit yang hidup, penuh dengan tumbuh-tumbuhan hijau. Saya dapat
melihat sebuah jalan sempit berliku menelusuri sampai ke puncaknya.
Lalu kami berjalan sepanjang sebuah sungai kecil yang mengalir
dengan airnya yang terjernih sekali yang pernah saya lihat. Kami
mengikuti sungai ke jalan masuk sebuah terowongan yang tinggi dan
lebar, dan bila dibandingkan, Tuhan dan saya sangat kecil. Kami
berjalan melewati terowongan yang penuh teka-teki, dan ketika kami
muncul di bagian lainnya, kami berjalan di tepi pantai lagi.
“Kita
akan pergi ke satu tempat yang sangat tinggi.” Tuhan berkata.
Saat Ia berkata demikian, Ia memegang tangan
saya, dan badan saya mulai terangkat ke atas permukaan pantai. Waktu
itu, badan jasmaniah saya di tempat tidur bergoyang dengan kuat
sekali. Tangan dan lengan saya mulai bergerak ke segala arah
seakan-akan saya sedang berenang mati-matian berusaha agar tidak
tenggelam. Keluhan yang keluar dari roh saya bertambah keras dan
lebih kuat.
Kami benar-benar sedang terbang di udara. Kami
mendarat pada satu tempat yang dipenuhi oleh pohon-pohon dan rumput,
dan kaki kami menginjak di atas jalan berliku yang sempit.
Tuhan dan saya berjalan sepanjang jalan yang
turun dari puncak bukit. Akhirnya kami sampai pada sebuah pintu
gerbang putih yang berdiri di depan sebuah bangunan putih yang
besar. Kami melalui pintu gerbang itu dan terus ke bangunan yang
putih.
Kami masuk dan berjalan sepanjang gang yang
panjang menuju kepada sebuah ruangan yang sangat luas, di mana kami
masuk. Ketika saya melihat ke bawah, saya baru sadar bahwa saya
sedang memakai jubah yang lain dari pada yang saya pakai di pantai,
dan saya dapat merasakan sesuatu yang berat sedang terletak di atas
kepala saya. Saya meraihnya dan menemukan sebuah mahkota yang indah
telah di letakkan di sana tanpa saya sadari.
Kemudian saya langsung memandang Tuhan. Ia
sedang duduk diatas takhta, dan Ia memakai pakaian yang bercahaya
dan mahkota meas. Yang lainnya bersama dengan saya, bersujud di atas
lantai dan meniarap di hadapan Nya.
Dinding rungan itu terbuat dari batu-batu besar
yang bersinar dan gemilang. Batu-batu yang beraneka warna
mengakibatkan ruangan itu hangat dan gembira, meskipun penuh
misteri.
KE
TEMPAT DI MANA HANYA YANG
BERHATI
MURNI BOLEH PERGI
Lalu, secepat saya diangkat ke gunung dan ke
dalam bangunan putih, saya menemukan diri saya di pantai lagi.
Seperti yang telah saya lakukan selama ini, saya menemukan diri saya
sebentar tertawa, berteriak, menangis, gemetar, mengebaskan lengan
saya tak tentu arah, dan berkeringat. Rasa gembira begitu padat,
saya merasa seolah-olah saya dapat menyentuhnya. Saya tahu saya
telah diangkut ke suatu dunia yang lain, tetapi dimana itu ? Mengapa
ini terjadi ? Apa maksud semua ini ?
Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan jelas dan
tegas. “Puteri Ku, tadi kita
pergi ke kerajaan.”
Ia segera tahu pertanyaan yang sedang terkumpul
di hati saya : Bagaimana kami
sampai ke sana ?
“Mereka
yang akan pergi ke sana adalah anak-anak yang taat dan berhati
murni.”
Tuan saya berhenti sebentar lalu melanjutkan, “Beritahukan anak-anak Ku untuk memberitakan injil. Aku datang segera
untuk mereka yang menanti dan siap untuk Aku.”
Sekarang saya tahu tugas saya yang terutama.
Saya telah melihat kerajaan surga, dan ini begitu nyata sekali. Saya
tak akan pernah lupa segala keajaiban yang saya lihat.
Tuhan menambahkan, “Mereka
yang tidak memberikan perpuluhan adalah anak-anak yang tidak
patuh.”
“Apakah saya harus menceritakannya kepada
siapapun, tuhan ?”
“Aku mau
engkau memberitahukannya kepada setiap orang.”
Kemudian Ia mengulangi sesuatu yang pernah
diperintahkan Nya kepada saya untuk mengerjakannya beberapa kali
sebelum ini : “Tuliskan segala sesuatu yang Kuperlihatkan dan Kuceritakan padamu.”
“Beritahu saya ;ebih, Tuhan.”
“Lain
kali, puteri Ku. Aku tahu engkau lelah. Tidurlah.”
Ketika Ia pergi, demikian jugalah dengan badan
transformasi saya. Saya menyalakan lampu, mengambil buku catatan dan
pena saya, serta mulai menulis segala sesuatu yang telah saya alami
selama perjalanan yang menggairahkan ke karajaan Tuhan. Saya merasa
terpesona dan rendah hati. Tiada kata-kata yang dapat menggambarkan
perasaan saya. Saya merasa seakan-akan saya bukan milik dunia ini
lagi.
Sejak itu, yang dapat saya pikirkan hanya
tentang Tuhan dan Surga. Saya ingin sekali kembali ke kerajaan.
Kerinduan itu rupanya terdengar Tuhan sebagai suatu doa, sebab
seperti yang akan Saudara lihat nanti, Tuhan membawa saya beserta
Nya berulang kali setelah itu.