MEMUSATKAN KEPADA
TUHAN TERLEBIH DAHULU
Dan
Daud menari-nari di hadapan
TUHAN
dengan sekuat tenaga
2
SAMUEL 6:14
Ketika saya menari dalam Roh
dalam kebaktian gereja pada 4 Juni 2000, saya mengharapkan suatu kejutan
besar dari Tuhan-ku, tetapi tidak ada hal yang luar biasa terjadi. Namun,
saya sangat gembira di gereja bukannya merasa kecil hati seperti yang saya
alami pada waktu-waktu lain seperti ini.
Nyatanya, saya merasa kecil hati
begitu banyak kali sebelumnya dengan tarian saya sebab saya mengharapkan
mujizat untuk gereja. Jikalau mujizat tidak terjadi saya mengeluh tentang
hal ini kepada tuhan. Pada bulan Mei 2000, walau bagaimanapun, saya
berjanji kepada Tuhan bahwa apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah
mengeluh lagi mengenai tarian saya.
Setelah saya meninggalkan
kebaktian gereja hari ini dalam bulan Juni, saya mulai berkecil hati lagi.
Ketika saya sampai rumah, saya mulau berdoa seperti yang biasa saya
lakukan setelah gereja. Kali ini, bagaimanapun, saya merasa bertambah
buruk. Meskipun perasaan saya seperti itu, saya berdoa. Ketika
bercakap-cakap dengan Tuhan, saya menahan perasaan saya. Saya tahu Tuhan
mengetahui bagaimana perasaan saya, tetapi Ia seakan-akan tidak
mengacuhkan perasaan saya.
Saya percaya Ia sedang menunggu
untuk melihat apakah saya dapat menepati janji saya kepadaNya dulu. Kami
melanjutkan berbicara tentang hal-hal biasa dan Ia melepaskan saya.
Setelah saya dilepaskan, saya merasa kian bertambah buruk, jadi saya
memarahi musuh. Bahkan ini juga tidak menolong, jadi ini berarti bahwa
perasaan-perasaan saya bukan berasal dari iblis.
Beberapa jam kemudian, sewaktu
jam doa saya, saya duduk dan mencoba untuk berdoa, tetapi saya tidak mau
berdoa untuk janji-janjiNya kali ini. (Biasanya saya berdoa empat kali
sehari kira-kira pada waktu-wakyu yang sama). Saya berkata kepada Tuhan
saya tidak mau berdoa untuk janji-janji kali ini. Itu adalah pertama
kalinya saya menolak Tuhan, tetapi jawabNya sederhana dan tegas : “Engkau
harus patuh”.
Meskipun saya mengerti
perintahNya, pikiran saya terlalu bingung untuk tunduk, dan menyebabkan
usaha doa saya menjadi tidak jujur. Saya berkata kepada Tuhan, “Aku
tidak mau karunia-karunia pekerjaanMu sebab ini menye-babkan saya berdosa
terhadap Engkau. Aku tidak minta karunia-karunia ini yang Engkau tawarkan
padaku. Apa yang ingin aku lakukan seumur hidupku adalah menyembahMu,
menyenangkanMu, dan membuatMu gembira.
“Segala janji-janjiMu
menyebabkan aku berdosa terhadapMu, sebab aku berharap terlalu banyak dan
hasratku adalah agar semua saudara laki-laki dan perempuan diberkati oleh
tarian ini. Aku tidak dapat memusatkan perhatian padaMu pada waktu
menyembahMu sejak aku harus melakukan tarian ini”.
“Pada waktu setiap tarian aku
risau tentang mukjizat yang akan terjadi atas gereja. Saya begitu ingin
supaya gereja ini diberkati oleh tarian ini, dan kebanyakan kali saya
malahan lupa untuk memujiMu”
Setelah semua kata-kata ini,
pikiran baru datang pada saya. Ingat, walau bagaimanapun, saya sedang
berbicara melalui hati saya, tidak dengan mulut saya. Ketika saya berada
dalam hadirat Tuhan, saya tidak dapat bercakap-cakap dengan mulut saya.
Tiba-tiba saya sadar akan begitu banyaknya perkara-perkara salah yang
telah saya lakukan untuk sekian lamanya. Juga saya telah mengeluh begitu
banyak tentang saya berkecil hati. Menyadari akan semua ini, saya mulai
merencahkan hai saya dihadapan Tuhan dan minta ampun padaNya.
Ia dengan lembut menjawab, “Aku telah melupakan semua itu, Sayang”. Kemudian Tuhan mulai
berbicara kepada saya. Ia berkata : “Aku
telah berkata padamu bahwa engkau harus memusatkan kepada Tuhanmu terlebih
dahulu, kemudian baru pekerjaanmu. Engkau tidak melakukan itu. Selama
setiap tarian engkau hanya cemas mengenai mujizat untuk orang-orang dan
engkau melupakan kemuliaan Tuhanmu. Tarian ini Aku ciptakan untuk
kesenanganKu, bukan supaya engkau menjadi cemas tentang mujizat-mujizat.
“Jikalau
Aku girang, maka mujizat-mujizat akan berlaku. Itu adalah
mujizat-mujizatKu, bukan milikmu. Engkau harus selalu ingat bagaimana
pentingnya tarian ini untuk Tuhanmu”.
Sesudah Ia mengatakan hal ini,
saya merasa sangat malu. Saya lalu sadar bagaimana berartinya tarian ini
bagi TuhanKu. Hanya untuk latihan tangan saja telah memakan waktu enam
belas bulan, dan semua latihan-latihan lainnya serta membangun kuasa Roh
Kudus dalam tubuh saya telah mengambil waktu hampir tiga tahun sebelum
saya mulai menari di gereja.
MENARI
DI PANTAI
Dalam bab-bab sebelumnya saya
telah menyebutkan tentang beberapa hari kami dipantai. Setiap hari Senin
pagi Tuhan membangunkan saya setelah pukul 12 dinihari, dan Ia menggoncang
badan saya tepat selama tiga puluh menit. Ia tidak pernah semenit pun
terlambat atau terlalu pagi. Jikalau saya tertidur meski hanya untuk lima
menit, goncangan harus dimulai lagi.
Setelah goncangan selama tiga
puluh menit, hadirat Tuhan muncul pada saya, dan Ia memberitahu saya, “Puteri,
kita harus pergi ke pantai.” Pada saat Ia mengatakan ini, badan saya
bergoncang lebih keras dan urapan yang terlebih kuat pun datang, kemudian
saya dapat melihat badan transformasi saya berjalan dengan Tuhan Yesus di
pantai, dan kami bergandengan tangan. Kami berjalan di pantai dipinggir
pasir sebentar, kemudian kami naik ke bukit dan duduk diatas batu yang
panjang besar. Pantai dan batu inilah yang biasa digunakanNya untuk
pengungkapan mengenai surga.
Ketika kami sampai disana, waktu
kami duduk, saya meletakkan lengan kanan saya dibawah lenganNya, kemudian
Tuhan memberitahu saya, “Engkau
harus melihat airnya.” Pada waktu Ia mengucapkan kata-kata ini, saya
dapat melihat air di pantai di depan kami.
Skenario yang sama dimainkan
pada waktu kunjungan saya bersama Dia setelah Ia menerangkan banyak hal
mengenai tarian saya dan tujuannya yang sebenarnya. Sesudah kami
bercakap-cakap sebentar. Ia berkata, “Engkau
harus menyanyi.” Kemudian saya menyanyi. Setelah saya menyanyi, kami
berbicara sebentar, dan Ia berkata, “Sekarang
engkau harus menari.” Langsung, saya berlutut di depan Tuhan dan
memulai menyanyi dan menari.
Tuhan lalu duduk di depan saya
dengan kaki-kakiNya menyilang sementara saya melakukan tarian ini. Saya
tidak dapat melihat paras-Nya, tetapi saya tahu kapan Ia bergembira atau
sedih. Dengan tarian ini, Ia selalu kelihatan gembira, dan saya tahu Ia
sedang tersenyum. Saya terus menerus tersenyum kepadaNya ketika saya
menari.
Setiap kali saya bersama Tuhan
di pantai, saya merasa sama seperti pada waktu Ia membawa saya ke Surga.
Pada waktu-waktu seperti ini saya memperhatikan sepenuhnya kepada Tuhan.
Saya tidak dapat memikirkan hal-hal yang lain. Tidak ada kata-kata tepat
yang dapat menyatakan kegembiraan yang saya alami ketika saya bersama Dia.
Bagaimana saya mendambakan saat-saat pergaulan yang manis ini dapat
berlangsung selama-lamanya.
Setiap kali saya bersama Dia di
pantai saya memberitahu Tuhan saya tidak mau ini berakhir. Tarian pada
pagi hari Senin ini berlangsung selama lebih dari empat puluh menit setiap
kali. Setelah tarian selesai, Tuhan memberi begitu banyak kata-kata pujian
yang indah-indah kepadaku sehingga saya selalu merasa sangat malu, sebab
apa yang dikatakanNya seolah-olah terlalu baik untuk dipercayai.
Sesudah saat-saat penghargaan
ini, ia berkata, “Engkau harus
melihat ini !” Kemudian saya mulai menyanyi lagi, dan saya melihat
seluruh lautan sejenak. Segera pemandangan berganti kepada seluruh dunia.
Setelah ini, kami bercakap-cakap lagi, dan Ia berkata, “Aku
harus membawamu kembali, supaya engkau dapat tidur.” Dengan setiap
kata yang Ia ucap, badan kami bergerak seakan-akan mereka adalah bentuk
badan di video.
Semuanya ini terjadi antara dua
dan dua setengah jam. Pada akhir waktu bersama kami, Tuhan selalu memberi
saya pelukan erat, kemudian saya melihat Dia berjalan di tepi air. Saya
selalu dapat melihat belakangNya dengan jelas ketika Ia sedang berjalan.
Semua yang terjadi di pantai
melibatkan badan transformasi saya. Badanku yang sebenarnya sedang
terbaring diatas tempat tidur, ikut serta dalam tarian dan nyanyian. Ingat,
Tuhan memakai badan roh saya, tetapi segala pemikiran dan perasaan terjadi
dalam badan jasmani saya. Ini berarti bahwa tubuh rohani Yesus dan tubuh
rohani saya menjadi sama. Jikalau saya mendapat sakit di badan saya
sebelum kunjungan, kebanyakan ia disembuhkan sesudah kunjungan-kunjungan
ini bersama Tuhan-ku di pantai.
Saya ingin menerangkan segala
sesuatu tentang pengalaman-pengalaman ini sejelas yang saya bisa, sehingga
jikalau anak-anak membacanya, mereka akan mengerti sepenuhnya. Anak-anak
mempunyai daya yang hebat untuk mengerti mengapa buku ini sangat penting
sekali bagi Tuhan, sebab mereka tidak berdosa, percaya, dan terbuka kepada
Tuhan.
Pada hari Senin, 27 Mei 1996,
ketika Tuhan membawaku ke pantai ini dan memberitahu saya, “Aku
akan membawamu ke pantai ini setiap hari Senin.” Sehingga kini, Ia
tidak pernah luput sekalipun. Ia berkata ini akan terus terjadi hingga
hari terakhir.
Saya akhirnya menyadari bahwa
iman saya telah lemah, dan itulah sebabnya saya menjadi begitu kecil hati
dan mengeluh kepada Tuhan yang mahakuasa. Sejak timbulnya kesadaran itu,
selama setiap tarian, saya hanya mencari wajah Tuhan dan tidak pernah
peduli akan diri saya sendiri tentang apapun atau siapapun juga ketika
saya sedang menari.
Saya hanya mengeluh tentang
tarian sebab saya menyangka dengan setiap tarian kesembuhan dan pelepasan
yang besar sekali akan terjadi pada gereja. Saya berpikir seperti ini
sebab Ia menunjukkan kepada saya banyak kursi-kursi roda di gereja. Tuhan
Allah kita tidak pernah menerangkan secara terperinci, tetapi
bagaimanapun, kata-kataNya sangat singkat dan tepat sekali.
UJIAN-UJIAN
YANG BESAR
Tuhan mulai menguji saya dalam
setiap bidang kehidupan saya. Ujian yang terbesar adalah berkenaan dengan
orang-orang yang saya kasihi. Saya juga percaya bahwa keluhan saya
mengenai tarian telah menyebabkanNya menunda pemenuhan janji-janjiNya.
Tentu saja Tuhan dapat memberitahu saya apa yang saya perbuat salah atau
betul, tetapi ia ingin saya belajar dengan cara saya sendiri.
Persiapan-persiapanNya di dalam hidup saya untuk pekerjaan yang telah
memanggil saya untuk melakukan tidaklah mudah.
Saya telah mempelajari bahwa Ia
tidak mau kita mendapatkan sesuatu dengan jalan yang mudah. FirmanNya
memberitahu kita bahwa kita harus mengalami penderitaan untuk masuk
kerajaanNya (lihat Kisah Para Rasul 14 : 22).
MENARI
DIATAS PODIUM
Pada 17 Juni 2000, setelah doa
waktu tidur saya dan pada akhir percakapan kami, Tuhan berkata, “Engkau
harus mendengar apa yang Kukatakan tentang tarian.”
Saya menjawab : “Apa yang
engkau katakan, Tuhan. Aku berharap dan menantikannya.”
Ia berkata, “Engkau
harus menari di atas podium besok pagi. Engkau harus pergi ke gereja
pagi-pagi dan berbicara kepada pendeta dan memberitahunya engkau akan ke
atas podium untuk menari.”
Pada waktu saya mendengar ini,
hati saya kaget, sebab ini adalah satu hal yang saya tidak ingin lakukan
sebelum mujizat terjadi dengan tarianku. Walau bagaimanapun, saya berkata
kepadaNya, “Aku akan mematuhiMu, Tuhan.”
Hati saya sangat gelisah
mengenai ini, sebab saya telah melakukan tarian yang sama setiap hari
Minggu, menghadap ke arah para jemaat, sejak 9 Januari 2000. saya telah
mendengar dari salah satu pendeta bahwa anggota-anggota gereja menanyakan
mengapa saya tidak mengharap ke arah para pelayan mimbar. Saya
memberitahunya bahwa saya harus menaati Tuhan. Ini bukan karena saya ingin
melakukan ini. Yang paling menjadi pikiran saya adalah bukan karena saya
mengganggu para pelayan mimbar, tetapi saya menentang Tuhan mengenai
hal-hal ini. Satu-satunya jawaban saya, saya harus selalu taat padaNya.
Kira-kira tiga bulan yang lalu,
saya berpikir, Bagaimana jika Tuhan
menghendaki aku pergi ke atas podium untuk menari ? Jadi saya
berbicara dengan pendeta yang lebih tinggi, Pendeta Wolfson, dan bertanya
padanya apakah saya boleh menari dimana saja, sekalipun di atas podium.
Pendeta berkata bahwa saya boleh
menari dimana saja, sekalipun diatas podium. Sesudah ia mengatakan ini,
saya pikir sudah tidak ada masalah bagiku untuk menari diatas podium
apabila Tuhan memerintahkannya pada saya.
Ketika saya bangun pada tanggal
18 pagi, saya merasa gembira akan melakukan apa saja yang Tuhan minta saya
untuk berbuat. Saya pergi ke gereja pagi-pagi pada pagi itu, tetapi saya
tidak dapat menemukan Pendeta Wolfson. Sementara mencari dia, saya
berjumpa dengan pendeta lain, dan saya menceritakan padanya apa yang telah
Tuhan katakan kepada saya tentang menari diatas podium.
Pendeta itu berkata, “Itu sama
sekali tidak mungkin.”
Saya lalu berkata kepadanya,
“Pendeta, Saudara mendahulukan manusia daripada Firman Tuhan. Tuhan
telah minta saya supaya menari diatas podium untuk berkat gereja.”
Kemudian Tuhan berkata kepadaku,
“Jangan risau tentang hal ini, Aku akan mengaturnya.”
Selama saya berdoa sebelum
tarian mulai, hati saya berkata, biarpun pendeta menolak, saya berniat
untuk naik ke podium dan menari, sebab saya harus mentaati Tuhan, dan saya
tidak peduli jika saya dikeluarkan dari gereja. Jikalau tidak cukup tempat
di depan, saya akan pergi ke belakang para pelayan mimbar, sekiranya Roh
Kudus membawa saya kesana. Apapun akibatnya, saya tidak mau melawan
kehendak Tuhan.
Tuhan selalu mengetahui pikiran
saya. SuaraNya yang yakin menyenangkan berkata : “Puteri,
engkau tidak perlu pergi ke podium sampai pada waktunya Aku siap untukmu.
Aku sangat senang sekali dengan ketaatanmu. Berbahagialah, apabila engkau
ke sana, engkau akan berdiri di depan sekali, jangan berdiri di belakang
para pelayan mimbar. Seluruh podium adalah milikmu.”
Tuhan tahu betapa enggannya saya
untuk berdiri di atas podium untuk menari dengan kelompok para pelayan
mimbar. Saya percaya Ia ingin memastikan sampai berapa jauh saya akan
menuruti kehendakNya, untuk menyenangkan Dia dan untuk meletakkan Dia yang
utama. Saya mematuhi Dia, dan segalanya berjalan dengan baik.
IKUT
GEREJA UNTUK
SEBAB-SEBAB
YANG BENAR
Sesudah Pusat Puget
Sound Christian baru (Gereja dimana kami telah ikut sebelumnya)
dibangun, mereka harus menunggu untuk persembahan khusus untuk menutupi
ongkos memasang permadani. Timbul dalam pikiran saya, bahwa Roger dan saya
dapat membantu membayar permadaninya, jadi saya bertanya kepada Tuhan
mengenainya.
Dengan suara yang agak tidak
menyenangkan, Ia berkata, “Puteriku,
engkau tidak perlu risau tentang hal itu. Aku tidak mencari permadani di
rumahKu. Aku hanya mencari hati gerejanya.”
“Kebanyakan
gereja-gereja mencoba membelanjakan sangat banyak uang untuk kecantikan
gerejanya, tetapi tidak banyak di antara mereja yang mencoba untuk
menyenangkan Aku. Aku ingin setiap gereja untuk melatih orang-orang untuk
mengajar injil dan mengirim mereka keluar bertugas dalam lapangan misi.”
Pada waktu yang sama Ia juga
menyatakan tidak senangNya mengani orang yang datang ke gereja tanpa
memusatkan perhatian kepadaNya terlebih dahulu. Terutama pada pagi ini,
sementara saya sedang berdoa untuk tiga puluh menit sebelum penyembahan
dimulai, saya memperhatikan saya dapat mendengar orang bercakap-cakap
dengan keras dan tertawa-tawa; banyak yang bercerita tentang pengalaman
seluruh minggu mereka satu sama lain.
Tuhan berkata kepada saya: “Engkau lihat, PuteriKu, bukannya menunduk dan berdoa di hadapanKu,
melainkan mereka lebih suka berbicara tentang hal-hal duniawi. Engkau
dapat melihat mengapa ada gereja yang tidak pernah diberkati.”