|
MAKANAN SURGAWI
KENIKMATAN SURGAWI
Berbahagialah
mereka yang diundang ke
Perjamuan
kawin Anak Domba
WAHYU
19:9 (TEKANAN
DITAMBAHKAN)
Seluruh badan saya bergetar dengan kuat selama
tiga puluh menit sebelum kedatangan Tuhan pada tanggal 27 Maret. Saya dapat
bersama Nya dari jam 06.30 pagi sampai 08.45 pagi. Setelah bergoncang
setengah jam, Tuhan datang dan memegang tangan saya.
Di dalam badan transformasi saya, saya berjalan
dengan Tuhan di pantai dan kemudian Ia mengiringi saya ke surga. Kami
berjalan melalui gerbang-gerbang mutiara dan pergi ke gedung putih untuk
mengganti pakaian kami. Setelah berganti, kami berjalan menyeberang jembatan
emas.
Semuanya menjadi begitu biasa untuk saya. Setiap
orang percaya, saya yakin, akan mengalami prosedur yang sama waktu ia pergi
ke surga. Saya berbagi kesempatan yang istimewa mengunjungi surga sebelum
mati. Rasul Paulus menulis mengenai salah satu daripada jiwa-jiwa yang
beruntung di pasal ke dua belas dari 2 Korintus.
Aku
tahu tentang seorang Korintus; empat belas yang lampau – entah di dalam
tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Tuhan yang
mengetahuinya – orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari
sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, - entah di dalam tubuh entah di luar
tubuh, aku tidak tahu, Tuhan yang mengetahuinya – ia tiba-tiba diangkat ke
Firdaus, dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tak boleh
diucapkan manusia.
2 Korintus 12:2-4
Saya tahu dengan tepat apa yang dialami rasul
itu, sebab banyak hal yang saya lihat dan dengar di surga, dilarang untuk
saya beritahukan kepada orang lain.
KUNJUNGAN-KUNJUNGAN
KE
SURGA SESUAI ALKITAB
Rasul Yohanes, seperti yang telah ditulis di
dalam kitab Wahyu, juga pergi ke surga. Kunjungannya di dahului oleh
kunjungan pribadi Tuhan Yesus, yang mengatakan : “Aku adalah Alfa dan
Omega, firman Tuhan, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang
Mahakuasa” (Wahyu 1:8). Seperti Yohanes, kunjungan-kunjungan saya ke surga
selalu di dahului dengan kunjungan Tuhan.
Nabi Elia pergi ke surga juga. Bagian yang
mencatat tentang pertemuan surgawinya mengatakan : “Sedang mereka berjalan
terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi denga kuda
berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angina badai”
(2 Raja-raja 2:11). Elia terbang ke surga dengan jalan melalui angina badai,
dan saya percaya penerbangan-penerbangan saya ke surga dapat digambarkan
dengan cara yang sama.
Tuhan telah bermurah hati kepada banyak yang
lain sebelum saya – orang-orang yang diangkat Nya ke surga sebelum mati.
Dalam setiap kejadian, ada maksud tertentu yang berhubungan dengan waktu itu
untuk kunjungan-kunjungan ke surga. Selalu, Tuhan prihatin mengenai
menyadarkan orang-orangNya, bahwa Ia mau mereka hidup bersama Dia
selama-lamanya.
Betapa istimewanya saya ada di antara sedikit
orang-orang yang terpilih yang mendapat kehormatan dengan cara ini. Semakin
saya memikirkan mengenai-nya, ini bukan karena saya sangat istimewa tetapi
hanya karena saya mau mengikuti dan melayani Tuhan saja selama-lamanya. Hati
saya berdebar ingin memberitahukan orang lain untuk mengetahui tentang
kunjungan-kunjungan saya ke surga.
MAKANAN
UNTUK KERAJAAN
Tuhan dan saya berjalan sepanjang jalan lama
sekali, kemudian kami membelok ke kanan, berjalan ke sisi bukit turun ke
tangga dari batu. Saya melihat sebuah danau yang kelihatan seperti sebuah
sungai yang sempit dan sangat panjang.
“Apa
yang akan Aku perlihatkan padamu, puteri Ku, akan menjadi sangat berharga
bagi anak-anak Ku.”
Ada pohon buah-buahan yang bagus sekali pada
kedua tepi sungai. Pada satu tepi, pohon-pohonnya menghasilkan buah berwarna
ungu; pada tepi yang lain, pohon-pohonnya sarat denga buah berwarna merah
indah. Buah-buahan ini begitu menarik, dan saya ingin sekali mencobanya.
Buah yang merah berbentuk seperti titik-titik air mata yang besar.
Tuhan tentu tahu keinginan saya untuk mencoba
buah-buahan ini, jadi Ia mengulurkan tangahn, memetik satu dan memberikannya
kepada saya untuk dimakan. Ini tidak seperti buah yang pernah saya makan.
Sedemikian lezatnya sehingga dari mulut badan jasmani saya keluar air liur
turun ke sisi wajah saya.
“Mengapa Engkau tidak makan, Tuhan ?”
“Aku
tidak lapar, tetapi aku girang melihat engkau menikmatinya.”
Kami berjalan lama sekali, kemudian saya elihat
sebuah jembatan yang sangat indah berbuat dari kayu merah. Ketika kami
melaluinya, saya melihat ke bawah dan kelihatan airnya dipenuhi dengan
banyak sekali jenis ikan yang berlainan.
“Apa gunanya ikan-ikan ini ?” saya bertanya
“Inilah
makanan untuk kerajaan,” Tuhan menjawab.
Saya girang mengetahui, bahwa kita akan makan
buah dan ikan di surga. Kenyataan, bahwa ini adalah makanan utama kerajaan
memberi kesan, bahwa kita harus memakannya lebih banyak di bumi. Saya selalu
berpendapat, bahwa ikan dan buah adalah makanan sehat yang sangat
berkhasiat, dan kunjungan ke surga menguatkan pendapat saya.
Melihat ikan berenang dengan leluasanya di dalam
air selalu membuat saya tertawa. Saya mulai tertawa kecil dan kemudian saya
bertanya, “Tuhan, dimana kita dapat memasaknya ?” Sebelum Ia menjawab
saya teringat akan suara yang mengiringi penglihatan-penglihatan ajaib saya
timbul. Sebab itu saya tahu Tuhan ingin memperlihatkan sesuatu kepada saya.
Saya melihat ke sebelah kanan air, dan saya
melihat dinding batu yang besar dan tinggi sekali terbentang sangat jauh
sehingga tak kelihatan oleh saya ujungnya. Begitu tingginya saya tidak dapat
melihat puncaknya. Saya dapat melihat pasir putih muri terbentang dari jalan
sampai jauh ke dinding batu. Tidak ada pohon di sekitar tempat yang khusus
ini, tetapi pasirnya begitu putih dan bersih. Pemandangan yang diberikan
kepada saya melalui penglihatan ajaib ini sangat cantik.
Segera Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya
dengan masuk ke dalam air dan menangkap seekor ikan yang berwarna putih
besar dan datar. Ukurannya sebesar kedua belah tangan saya. Saya senang
melihat Tuhan melakukan ini untuk saya, dan saya merasa adega ini sangat
menggirangkan. Saya mulai ketawa kecil smabail mengamati Nya.
Selanjutnya, saya berjalan dengan Nya melampaui
batu-batu, dimana saya melihat banyak tempat-tempat untuk memasak yang
mempunyai kompor-kompor berwarna perak di pasang pada batu. Diatas kompor
adalah tempat memanggang dengan piring-piring berbentuk bujur telur dan
garpu-garpu perak. Tuhan hanya menekan sebuah tombol pada sisi salah satu
kompor dan api mulai menyala.
Ia kemudian mengambil peraan sebagai seorang
tukang masak, tepat di depan saya. Ia memanggang ikan itu sehingga kedua
sisinya berwarna coklat. Ia kelihatan sangat gembira mengerjakan ini untuk
saya.
Entah mengapa, saya ingin makan bagian ekor ikan
itu, jadi saya menun-juk padanya dan Tuhan memberikan saya setengah dari
ikan itu. Ia makan yang setengahnya lagi sambil saya melahap habis bagian
yang diberikan Nya pada saya. Ia sangat lezat. Sesungguhnya, saya tidak
pernah mengecap ikan yang begitu empuk dan lezat sebelumnya. Tuhan mengawasi
ketika saya menikmati makanan surgawi saya.
Ketika kami habis makan, Ia mengambil piring dan
garpu saya dan menyimpannya ke dalam sebuah wadah perak. Lalu Ia berkata, “PuteriKu, seperti yang dapat engkau lihat, Aku telah menyediakan
segalanya untuk anak-anakKu.”
Saya tersenyum dengan girang sekali.
Kemudian kami kembali ke jalan dan ke gedung
putih dimana kami selalu berganti. Seorang malaikat mengiringi saya ke kamar
rias, dan sesudah saya memakai jubah dan mahkota yang indah, Tuhan sedang
menanti saya.
Ia memegang tangan saya, dan kami keluar ke
kolam. Di sana, saya istimewa sekali, dipenuhi kerendahan hati mengenai apa
yang telah dilakukan oleh Tuhan ke atas saya; jauh lebih daripada hari-hari
lainnya sejak Ia mulai membawa saya ke surga.
Tapi ini bukan karena saya makan itu; ini adalah
karena Tuhan dan Juru Selamatku memasak ikan itu dan kami memakannya
bersama. Ia menunjukkan kasih saying Nya seperti yang dilakukan Nya kepada
rasul-rasul Nya sebelum Ia naik ke surga. Semua pikiran ini timbul ketika
sata sedang menari.
Kemudian Tuhan memanggil saya untuk duduk di
sebelah Nya. Saya menyisipkan tangan saya di bawah lengan Nya, dan wajah
saya di atas bahu Nya, lalu saya mulai menangis. “Biarlah aku tinggal di
sini bersama Mu, Tuhan. Aku tidak mau meninggalkan Mu. Ini adalah saat yang
terbahagia dalam hidupku.”
“Puteri,
engkau harus melakukan pekerjaan ini untuk Ku. Aku tidak mau engkau
kehilangan sedikitpun apa yang telah Kutunjukkan atau beritahukan padamu.
Aku tahu engkau tidak mempunyai waktu untuk dirimu sendiri, tetapi setelah
semuanya selesai, engkau akan diberkati.”
“Tuhan, hanya Roger yang dapat membantuku
menulis, dan ia telah berbuat banyak untukku.”
“Beritahu
dia, bahwa Aku mencintainya. Aku akan memberkati dia lebih dari apa yang
diharapkannya. Beritahu dia juga untuk meluangkan waktu lebih banyak bersama
Mu. Setiap orang yang mencintai Ku harus meluangkan banyak waktu bersama
Ku.”
Saat-saat yang indah berhubunga dengan Tuhan
secara intim. Ketika percakapan kami selesai, kami kembali ke gedung putih
dan berganti dengan jubah putih kami . lalu kami kembali ke bumi dan
berjalan sepanjang pantai. Kami duduk di tepi laut, dan saya meletakkan
lengan saya di bawah lengan Nya dan berkata, “Aku mencintai Mu, Tuhan.”
“Aku
mencintaimu, anak Ku saying,” Ia membalas dengan suara yang penuh
dengan kegembiraan. “Beritahu setiap orang, bahwa ada banyak sekali makanan di kerajaan
Ku. Apapun yang ada di sini akan terasa lebih lezat sangat lebih baik
daripada makanan duniawi. Sukakah engkau akan ikan itu ?”
Saya mengangguk tanda menyetujui. Waktu kami
berdiri, Tuha merangkul saya lalu berangkat.
Tuhan lebih ramah dan mengasihi setiap kali saya
bertemu Dia. Saya ingat pertama kali, Ia tidak memeluk atau memanggil saya
puteri Nya atau mengguna-kan kata-kata manis yang lain. Sekarang Ia
memanggil saya dengan banyak nama-nama yang manis. Saya piker Ia sangat
akrab dengan saya.
SEBUAH
TEMPAT KENIKMATAN
Alkitab mengatakan: “Engkau memberitahukan
kepadaku jalan kehidupan; di hadapan Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di
tangan kanan Mu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11). Kunjungan saya ke
surga telah menunjukkan kepada saya kebenaran ayat ini. Surga adalah suatu
tempat kenikmatan abadi. Tuhan suka menyenangkan anak-anak Nya. Ia ingin
kita gembira.
Pada 29 Maret saya bersama Tuhan dari jam 06.40
pagi sampai 08.45 pagi. Badan saya bergetar selama dua puluh lima menit
padapagi itu, kemudian saya mendengar suara Tuhan dan melihat kehadiranNya.
Ia memegang tangan saya, dan saya melihat badan transformasi saya sedang
berjalan sepanjang pantai bersama Dia. Kami berjalan sepanjang tepi laut
untuk beberapa menit lamanya dan kemudian kami pergi ke surga.
Kami mengganti pakaian kami di dalam bangunan
putih seperti biasa. Kemudian kami berjalan di jalan jembatan emas,
sepanjang sebuah jalan yang lebar yang belum kami lalui sebelumnya. Jalan
ini menuju ke sebuah tempat yang sangat tandus di mana tidak ada rumput,
pohon maupun gunung-gunung. Seluruh pemandangan putih, seperti kami masuk ke
gurun Kutub Utara. Kami terus berjalan sehingga kami smapai ke ujung jalan.
Sebuah sungai yang luas sekali muncul di depan
kami, dan saya melihat gunung-gunung pada kedua sisi airnya. Satu gunung
yang ada di sebalah kanan sangat tinggi sekali. Kami berjalan sangat dekat
dengan sungai yang tanahnya seperti kerikil. Batu kerikil kecil-kecil
berbunyi kli! Di bawah kaki kami ketika kami berjalan.
Sungainya dipenuhi oleh perahu-perahu kecil.
Saya telah melihat peman-dangan yang hampir serupa di bumi – danau-danau
dimana orang-orang pergi memancing, berenang, berski air, atau hanya untuk
menikmati naik perahu.
“Maukah
engkau naik salah satu perahu-perahu itu ?” Tuhan bertanya.
“Ya,” saya cepat-cepat menjawab, “Saya
mau.”
Kami naik ke dalam salah satu perahu kecil, dan
Tuhan mendayung dengan tangan Nya. Ia membawa kami dengan cekatan. Ketika
saya menengok melalui pinggir perahu, saya melihat sekelompok besar ikan
berlainan warnanya sedang bermain-main dalam air.
Pandangan saya tertumpu pada air yang luar biasa
beningnya. Saya dapat melihat kedalamnya dengan jelas sekali. Seperti
kristal yang terbening yang pernah saya lihat. Ikannya, seperti biasa,
menyebabkan saya ketawa.
Mereka adalah ikan-ikan yang cemerlang
menakjubkan dan indah. Mereka menyerupai ikan-ikan hias yang besar yang
digunakan untuk menghias kolam belakang halan orang-orang di bumi.
“Ikan-ikan
ini, puteri-Ku, adalah untuk kenikmatan. Seperti engkau, Aku suka mengawasi
ikan-ikan berenang kian-kemari dalam air.”
Begitu damai dan tenteram di atas air yang
tenang. Ketika saya memper-hatikan sekeliling, saya merasa seperti kami
sedang duduk di atas sebuah kaca raksasa. Kami meninggalkan perahu dan
berjalan sepanjang jalan yang sama yang telah kami lalui untuk sampai ke
gunung yang kecil dan sempit. Pemandangan yang bagus sekali di ujung jalan
kecil menampakkan sebuah lembah yang rendah dan subur dipenuhi oleh
rumput-rumput yang tinggi. Sebuah aliran air kecil meliuk-liuk melalui
padang rumput yang terbuka luas.
Saya melihat sesuatu sedang bergerak melalui
seperti lading gandum itu. Kemudian saya memperhatikan gerakan-gerakan lain
di seluruh ladangnya. Lembah itu dipenuhi oleh ternak yang kelihatan sangat
menyerupai sapi-sapi di bumi.
“Catat
ini, Choo Nam. Aku ingin semua anak-anak Ku mengetahui apa yang sedang
menanti mereka di surga. Aku tahu banyak anak-anakKu mempunyai pertanyaan
tentang surga. Ada yang ingin tahu apakah akan ada makanan untuk dimakan di
surga.”
Saya tahu jawaban atas pertanyaan itu, dan satu
perasaan yang sangat menyenangkan memenuhi saya ketika memandang jauh
pemandangan yang sangat bagus didepanku. Saya hamper tak dapat menahan
semuanya itu.
Bagaimanapun, kami tidak dapat tinggal lama di
sana. Segera Tuhan membawa saya kembali ke gedung yang putih di mana kami
berganti pakaian kami kemudian pergi ke kolam. Saya mulai menyanyi karena
girang. Lalu saya duduk di sebalah Tuha.
“Apakah
engkau menikmati pesiar dengan perahu, puteriKu ?” Ia bertanya.
“Oh, ya, Tuhan.”
“Ketika
Aku membawa anak-anakKu kemari, Aku ingin mereka mendapat kesenangan. Mereka
dapat melakukan banyak hal yang sama yang mereka lakukan doi bumi. Aku ingin
mereka bahagia. Engkau mesti ingat segala hal yang Kuperlihatkan dan
Kuberitahu padamu.”
“Aku tak
mau engkau menjadi bingung mengenai apapun. Inilah sebabnya Aku memberitahu
sangat banyak hal-hal yang penting berulang kali dan memperlihatkan hal yang
sama lebih dari sekalipun kepadamu.”
Kami kembali ke gedung putih, berganti baju dan
kembali ke pantai di bumi. Tuhan kelihatannya tergesa-gesa, jadi kami tidak
duduk dan bercakap kali ini. Ia hanya memeluk saya dan pergi. Seperti
biasanya, badan saya berhenti bergoncang sesegera Ia berangkat.
AIR
UNTUK BUMI
Ketika permainya bulan April diawali, Tuhan
muncul di kamar tidur saya pada 1 April pagi, pukul 06.20. Saya bersama Nya
sampai pukul 08.35 pagi. Badan saya bergoncang selama tiga puluh menit, lalu
Ia datang dan bercakap pada saya. Ia mengulurkan tangan Nya, dan saya
melihat badan surgawi saya sudah di pantai, kemudian Ia membawa saya ke
surga.
Setelah mengganti pakaian kami, kami berjalan
menyeberangi jembatan emas. Perjalanan kami membawa kami sepanjang sebuah
jalan yang lebar dengan batu-batu sangat besar pada kedua sisinya.
Perjalanan ini lebih lama daripada biasanya, dan membawa kami ke ujung jalan
dimana sebuah batu gunung yang tinggi berdiri. Sangat tinggi sehingga saya
tidak dapat melihat puncaknya, tetapi saya melihat ada batu-batu hitam yang
besar sekali menonjol keluar dari dasarnya. Di antara batu-batu, ombak-ombak
besar mengalir naik turun dalam keadaan hamper seperti badai. Airnya
kelihatan sangat dalam.
Tidak ada jalan turun ke air, jadi km hanya
memandangnya dari sisi gunung. Danau air itu kelihatan seperti mengisi
sebuah lubang yang besar sekali. Tuhan menerangkan, “Air
ini adalah untuk bumi.”
Seperti yang sering sekali terjadi, Tuhan tidak
menerangkan selengkapnya arti kata-kata Nya. Sering, Ia hanya memberitahu
saya apa itu dan apa gunanya. Walaupun, apabila saya menanyakan
pertanyaan-pertanyaan secara langsung kepada Nya, Ia biasanya akan memberi
saya jawaban.
Seringkali, bagaimanapun, saya tidak ingin
bertanya pada Nya apa yang diperlihatkanNya kepada saya, sebab saya tahu
sekarang hanyalah menjadi juru tulis yang menulis apa yang ditunjukkan Nya
kepada saya dan apa yang di beritahukan Nya kepada saya, dam saya tahu Ia
akan memberikan penjelasan sepenuhnya apabila Ia menganggapnya perlu.
Kami berpaling dari adegan ini dan berjalan lagi
di atas jalanan yang panjang. Ketika kami sampai di sebuah persimpangan,
kami mengambil sebuah sisi jalan yang berbelok-belok sangat dekat dengan
jembatan emas yang menuju ke sebuah pantai. Ketika kami menyusuri jalanan
ini, saya memperhatikan banyak rumah-rumah sekeliling air.
Di belakang rumah-rumah itu ada banyak jenis
pohon buah-buahan. Sebuah kebun buah-buahan yang sangat teratur rapi.
Deretan pertama terdiri dari pohon-pohon berwarna hijau pucat yang penuh
dengan buah-buahan berwarna ungu. Kelompok selanjutnya adalah pohon-pohon
yang lebih bsar berdaun merah. Warna-warnanya beraneka ragam dan berpadu
cocok sekali dalam cara yang sangat mengagumkan. Susunan warnanya begitu
luar biasa sehingga saya tidak dapat bernapas.
Tidak ada satu gunungpun di daerah yang khusus
ini di surga-hanya air, pasir, rumah-rumah dan pohon-pohonan. Begitu luasnya
daerah ini sehingga saya tidak dapat melihat di mana ujungnya berakhir.
Tuhan membawa saya ke salah satu rumahnya. Rumah
ini sangat berlainan dari rumah-rumah besar dan istana-istana yang telah
kami kunjungi sebelumnya. Bagian dalamnya sederhana saja, dan warna-warnanya
kelihatan tidak begitu terang.
“Ini
adalah rumah-rumah tepi pantai untuk anak-anakKu,” Tuhan mene-gaskan.
Menakjubkan sekali ! Kita akan memilih rumah
untuk belibur di surga ! Sungguh, Tuhan betul-betul ingin anak-anakNya
bersuka cita dan menikmati kesenangan-kesenanganNya selama-lamanya.
Setelah kunjungan yang menggirangkan ini, Tuhan
dan saya mengganti jubah kami dan kembali ke kolam yang tenang dimana saya
menyanyi dan menari di depan Nya. Saya tahu Tuha sedang tersenyum dengan
gembira sekali meskipun saya tidak dapat melihat wajahNya dengan jelas.
Ia memanggil saya untuk duduk di dekat Nya, dan
sekali lagi saya mulai menangis, sebab saya tahu kunjungan kami sudah hamper
habis. Apabila saya bersama Nya, saya tidak mau pulang. Hadirat Nya penuh
dengan suka cita.
Saya duduk di sebelah Nya, dan Ia berkata : “Aku telah menyiapkan banyak hal dalam kerajaanKu yang dinikmati oleh
anak-anakKu di bumi. Banyak kegiatan. Aku memastikan, bahwa tidak ada yang
merasa bosan. Setiap orang akan mendapat tugas yang berlainan.”
“Mengapa
engkau piker Aku memilih nabi-nabi untuk bekerja bagu Ku di bumi ? Seperti
engkau, Aku telah mengirim mereka untuk melakukan pekerjaan Ku. Tanpa
nabi-nabiKu, AKu tidak ada jalan untuk menyampaikan keinginan-keinginanKu
kepada anak-anakKu.”
“Karena
itu, anakKu, jangan ada yang luput dalam menulis tentang segala hal yang Aku
tunjukkan dan AKu beritahukan padamu. Ceritakan semuanya. Sebab engkau
adalah puteri yang sangat taat sehingga Aku dapat memakaimu.”
“Kita
harus kembali sekarang.”
Ia memegang tangan saya, dan kami berganti dan
kembali ke pantai di bumi. Lalu, kami tidak duduk dan bercakap-cakap. Tuhan
hanya memeluk saya dan pergi. Kembali badan jasmani saya berhenti bergoncang
segera setelah Ia pergi.
|