Naik Tingkat dan Terhapus Dosa Lewat Cobaan


Semua kejadian di muka bumi adalah atas kehendak dan kuasaAllah. Tak satupun kejadian yang terlepas dari kendali-Nya. Daunkering yang tertiup angin, kemudian jatuh entah di mana, adalahatas kuasa dan dalam pantauan-Nya. Angin bertiup, awan berarak-arak, ombak berdebur, matahari bersinar, semuanya atas perintah dan kemauan-Nya. Anjing menggonggong, ayam berkokok, dansi bayi menangis, adalah taqdir dan iradah-Nya. 

Kendati demikian, Allah swt menciptakan segala sesuatu denganhukum sebab-akibat. Dengan demikian manusia bisa belajar darihukum alam, yang tidak lain adalah ketentuan-Nya. Melalui proses belajar ini diharapkan manusia dapat mengambil manfaat yangsebesar-besarnya dari semua peristiwa dan menghindarkan diri dari semua bencana. Sayang, bahwa pengetahuan manusia sangatlah terbatas, sehingga tidak mampu menjangkau semua rahasia alam berikut hukum sebab-akibatnya. Ditambah lagi bahwa nafsu serakah manusia sering mengabaikan hukum-hukum-Nya. Akibatnya bisadiduga, mereka selalu mengulangi kesalahan yang sama. 

Sebagai makhluk yang dibekali akal pikiran dan hati nurani,semestinya kita bisa membedakan antara hukuman dan cobaan. Jika kita menerima akibat dari perbuatan kita yang melanggar hukumAllah, baik yang tertulis dalam al-Qur'an maupun yang terdapat pada hukum alam, maka yang demikian itu adalah hukuman, bukan cobaan. Jika kita jatuh miskin karena malas bekerja atau tidak paham kaidah-kaidah bisnis, maka kemiskinan itu merupakan hukuman dari perbuatan kita sendiri. Jangan katakan bahwa kemiskinan seperti itu merupakan cobaan, apalagi ujian dari Allah swt. Supaya bisa lepas dari kemiskinan model ini, hendaknya kita bekerja keras dan berusah dengan sungguh sungguh mempelajari, memahami, dan menerapkan kaidah-kaidah bisnis yang berlaku. 

Adapun cobaan atau ujian adalah rekayasa Ilahiyah untuk menyeleksi hamba-hamba-Nya. Cobaan diberikan oleh Allah denganmaksud untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Bagi yang lulus akan naik pangkat. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak lulus adadua alternatif pilihan, yaitu tetap di tempat atau justru melorot jatuh ke derajat yang lebih rendah. 

Dengan kata lain, tidak ada satupun manusia di muka bumi inidibiarkan oleh Allah berlalu tanpa mendapatkan ujian. Apalagi bagi mereka yang telah mengaku sebagai orang yang beriman, maka pengakuan itu perlu pembuktian. Hanya melalui ujian yang datang silih berganti, seseorang dapat membuktikan keimanannya. Allah swt menegaskan dalam firman-Nya: 

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkanmengatakan, `Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diujilagi?” (QS al-Ankabuut: 2) 

Ujian yang diberikan kepada manusia itu beragam. Ada yanglangsung, tapi tak sedikit yang tidak langsung. Ada yang mengenai dirinya, keluarganya, atau harta bendanya. Ada yang terasa berat,tapi ada pula yang ringan-ringan saja. Ada yang berupakesengsaraan, tapi tak sedikit yang berupa kenikmatan. Tergantungpada siapa yang akan diuji, dan tentu saja kemauan Allah sendiri.

Yang penting bagi kita adalah perasaan dalam menjalani ujian.Seseorang yang merasa dalam ujian tentu akan selalu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Seorang pelajar SMU yang akan mengakhiri masa belajarnya, akan bersungguh-sungguh agar bisalulus Ebta. Terbayang olehnya akan duduk di Perguruan Tinggi,menjadi mahasiswa di salah satu PTN yang ternama. Tiada hari tanpa belajar dan belajar, sebagai persiapan untuk meraih masadepan yang lebih baik. 

Demikian halnya dengan orang yang beriman. Karena dirinyamerasa selalu dalam ujian, secara mental ia telah menyiapkandiri. Jika sewaktu-waktu ada ujian kenaikan tingkat yang biasanyadatang tanpa pemberitahuan dan tidak disangka-sangka sebelumnya,mereka telah siap menerimanya. Ujian itu akan dijalaninya denganpenuh semangat. Tidak ada keluh-kesah, karena ia telah menyadaribahwa tiada ujian yang ringan, apalagi untuk sebuah kenaikan tingkat. 

Seorang pesilat yang hendak naik tingkat selalu menyadaribahwa kenaikannya sangat ditentukan oleh seberapa banyak kesuksesannya dalam menjalani ujian. Ia rela badannya ditendang,dipukuli, bahkan dilukai oleh lawan tandingnya atau oleh gurunya sendiri, demi untuk kenaikan tingkat. Bahkan untuk itu semua, iarela membayar mahal. Padahal isi ujian itu sangat menyakitkan,minimal sangat melelahkan. 

Apa rahasianya seorang pesilat bersemangat ketika mengikuti ujian, sebaliknya sangat bersedih hati di saat tidak ikut terpanggil mengikuti ujian? Satu hal yang pasti, tanpa melalui tahapan menyakitkan itu tingkatannya tidak akan pernah berubah.Jurus yang akan diajarkan gurunya hanya itu-itu saja. 

Mengikuti jejak pesilat ini, maka seharusnya kita bersemangat dan bergembira manakala menerima ujian dari Allah swt. Hanya melalui ujian itu tingkatan iman kita bisa meningkat. Semakin banyak ujian yang bisa kita lewati, berarti kesempatan untuk naik tingkat semakin besar. Itu artinya bahwa Allah mencintai kita,menginginkan agar kita naik secara cepat. Tentang hal ini,Rasulullah bersabda: 

“Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmindan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah swt dalam keadaan bersih daridosa.” (HR Tirmidzi) 

Hadits Hasan Shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa orang yang dicintai oleh Allah akan lebih banyak menerima ujian. Bahkan jika Allah rindu kepada hamba yang dicintai-Nya, maka Dia akan memerintahkan kepada malaikat untuk mengirimkan sebuah paket hadiah berupa ujian. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: 

“Pergilah kepada hamba-Ku, lalu timpakanlah berbagai ujian kepadanya, karena Aku ingin mendengarkan rintihannya.”(HR Thabrani dari Abu Umamah) 

Rintihan hamba Allah yang mencintai dan dicintai Allah itutentu saja bukan berupa keluh-kesah, histeria, apalagi berupa umpatan. Rintihannya tidak lain berupa doa, dzikir, wirid,munajat, dan taqarrub ilallah. Rintihan semacam inilah yangselalu dirindukan oleh Allah swt. 

Mengikuti alur berfikir seperti ini, maka cobaan atau ujianitu tentu saja bertingkat sesuai dengan kualitas iman seseorang.Semakin tinggi tingkatannya, semakin berat pula ujiannya.Sebaliknya, bagi mereka yang imannya masih rendahan, tentu saja materi yang diujikan juga ringan. Dalam hal ini Rasulullah pernah menggambarkan tingkatan ujian itu sebagai berikut: 

“Tingkat berat ringannya ujian disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri. Orang yang paling berat menerimaujian adalah para nabi, kemudian orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatan kepada agamanya. Jika ia sangat kukuh kuat dalam agamanya, diuji pula oleh Allah sesuai dengan tingkatketaatan kepada agamanya. Demikian bala dan ujian itu senantiasaditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apapun.” (HR Tirmidzi) 

Salah seorang nabi yang paling dikenal telah mendapatkan ujianberat dari Allah swt adalah Nabi Ayyub. Bukan berarti nabi-nabiyang lain menerima ujian lebih ringan dari padanya. Akan tetapikarena ujian yang ditimpakan kepada Nabi Ayyub ini bersifatfisik, maka dengan mudah kita bisa menghayati betapa beratnyacobaan itu. 

Selama tujuh tahun Nabi Ayyub mengalami penderitaan yangpanjang. Kulitnya digerogoti ulat hingga dagingnya terkelupas.Dalam keadaan seperti ini, istrinya datang dengan membawa saranagar ia berdoa kepada Allah atas kesembuhannya. Akan tetapi Ayyubmenjawab dengan lugas, “Wahai istriku, selama tujuh puluh tahun aku hidup dalam keadaan sehat dan bugar. Jika dibandingkan dengan tujuh tahun sungguh hal itu tak sebanding.” 

Iblis datang juga untuk membujuk dua saudara Ayyub agar iamembawakan minuman arak. Dengan minuman itu Ayyub akan sembuh. 

Kedua sahabat itu kemudian mendatangi Ayyub. Selagi ia bertemudan melihat keadaannya, mereka berdua menangis. Nabi Ayyub yang mengetahui kedatangan tamunya, ia bertanya, “Saudara-saudaraini siapa?” 

Keduanya menjawab bahwa ia adalah saudaranya. Nabi Ayyub berterima kasih, sebab dalam keadaan seperti ini masih ada yang mau menjenguknya. Kedua sahabat tadi kemudian bertanya:“Wahai Ayyub, adakah engkau menyembunyikan sesuatu sehinggaAllah memberi cobaan kepadamu?” 

“Dia Maha Mengetahui bahwa aku tidak merahasiakan sesuatu dengan mengatakan yang lain. Tetapi Allah mencobaku, apakah akumampu bersabar atau tidak.” 

Tak lama kemudian kedua sahabat itu menawarkan minuman arakuntuk kesembuhannya. Kali ini Ayyub marah dan menghardik keduasahabatnya. 

Dalam keadaan yang sangat mengenaskan Nabi Ayyub tetapbersabar, tidak tergoda untuk meminum atau memakan barang haram.Baginya, lebih baik sakit daripada melanggar ketentuan Allah. Ia bersabar walaupun harus menderita dalam tempo yang amat panjang. 

Para nabi dan rasul menerima cobaan yang beraneka ragam. Taksedikit di antara mereka yang mati secara mengenaskan di bawah penyiksaan orang-orang kafir. Ada yang digergaji anggota badannya. Ada yang dibelah menjadi dua, dan aneka macam cobaanyang ditimpakan kepadanya. Cobaan tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan kemarahan Allah, bahkan sebaliknya merupakan kecintaan-Nya kepada mereka. Jika bukan karena itu tentu saja Nabi Muhammad dapat menyiarkan ajaran Islam tanpa harus menghadapi kaum kuffar. Tanpa perang, tanpa baikot, tanpapengasingan, tanpa pengejaran, tanpa ancaman pembunuhan, tanpa pengusiran. Akan tetapi semua bentuk ujian itu diterimaRasulullah justru untuk mematangkan jiwanya dan mendewasakan kepemimpinannya. 

Semakin tinggi kita memanjat pohon, semakin banyak angin yangmenerpa. Jika tak hati-hati, bisa terjengkang, jatuh lagi ketanah, dan lebih sakit. Sama halnya dengan tingkat keimanan kita.Semakin tinggi tingkatnya, maka semakin banyak tantangan, cobaan.Dan ujian yang datang silih berganti. Jika kita sanggupmenyelesaikannya, maka kedudukan kita menjadi lebih tinggi lagi,sampai pada akhirnya kita merayap mendekati Allah walaupun tak mungkin bisa sampai. 

Adakah kini Allah telah menguji dan memberikan cobaan kepadakita? Jika ya, maka bersyukurlah. Jadikanlah cobaan itu sebagai batu loncatan untuk meraih kesuksesan yang jauh lebih baik lagi.Jadikanlah ujian dan cobaan itu sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas iman. Jadikan cobaan itu sebagai alat untuk melebur dosa-dosa kita, sebab setiap cobaan yang diterima dengan lapang dada akan mendatangkan pahala dan menbus dosa. Rasulullah bersabda: 

“Tak seorang muslimpun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya melainkan denganujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
.*



1