Menjaga lidah
 

Dalam sebuah perjalanan ke suatu daerah, para sahabat diatur agar setiap dua orang yang mampu, membantu seorang yang tak mampu (tentang makan-minum). Kebetulan Salman Al Farisi diikutkan pada dua orang, tetapi ketika itu ia lupa tidak melayani keperluan keduanya. Ia disuruh minta lauk pauk kepada Rasulullah saw. Dan setelah ia berangkat, keduanya berkata, "Seandainya ia pergi ke sumur, pasti surutlah sumurnya."

Sewaktu Salman menghadap, beliau bersabda, "Sampaikan kepada kedua temanmu bahwa kalian sudah makan lauk pauknya." Setelah ia menyampaikan kepada mereka berdua, lalu keduanya menghadap kepada Nabi saw dan katanya, "Kami tidak makan lauk pauk dan seharian kami tidak makan daging." Kemudian Rasulullah bersabda, "Kalian telah mengatakan saudaramu (Salman) begini-begitu. Maukan kalian memakan daging orang mati?" Mereka menjawab, "Tidak!" "Jika kalian tidak mau makan daging orang mati, maka janganlah kalian ghibah mengatakan kejelekan orang lain, sebab yang demikian itu berarti memakan daging saudaranya sendiri."

Menurut Ibnu Abbas, kisah tersebut yang melatarbelakangi diturunkannya surat Al-Hujarat: 12. "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (buruk), karena setengahnya itu dosa, dan janganlah menyelidiki kesalahan orang lain, dan jangan pula setengah kamu menggunjing (ghibah) atas sebagian yang lainnya. Maukah seseorang di antara kamu makan daging saudaranya yang mati? Pasti kamu jijik (tidak mau). Bertaqwalah kepada Allah, bahwasannya Allah menerima taubat lagi Penyayang."

Ngomongin orang memang enak, lain dengan sebaliknya &emdash;tentu bukan dalam arti positif lagi membawa manfaat. Tabiat manusia bila diomongin jadi sesak dada, apalagi dijelek-jelekkan orang lain, pasti emosi, marah-marah, atau setidaknya muncul rasa benci kepada yang menjelekkan.

Perkecualian barangkali berlaku pada seorang ulama saleh yang arif bijaksana seperti Hasan Basri. Konon ia pernah diberitahu oleh seseorang bahwa dirinya dijelek-jelekkan (si Fulan), lalu ia melakukan pembalasan pula. Harap jangan salah praduga, sebab pembalasan Hasan Basri bukan dengan omelan, apalagi tindakan fisik.

Tak seorang pun tahu. Secara diam-diam dia menghadiahkan makanan lezat kesukaan si Fulan yang nakal tadi berupa kurma dengan kualitas paling istimewa (ruthab) seraya berkata, "Aku dengar Engkau telah memberikan amal baikmu kepadaku, lalu aku pun ingin membalas pemberianmu itu, sekalipun mungkin terlalu sedikit dan tidak sesuai dengan apa yang Engkau berikan," ujarnya tulus. Akhlak mulia Hasan Basri menjadi teladan bagi si Fulan. Ia lantas bertobat kepada Allah atas kekhilafannya tersebut.

Terkadang keadaan menjadi segar, bila seseorang menyodorkan gosip 'baru'. Terlebih bila yang bersangkutan pernah merasa dirugikan oleh 'sang calon' pesakitan. Yang ini bisa jadi akan tambah seru. Dia pernah disakiti, disinggung, dipermalukan, dijahili, ataupun yang serupa dengan itu. Maka rem lidah benar-benar sering blong.

Lidah tak bertulang, kata pepatah menggambarkan betapa sulit mengatur lidah ini. Bila menghadapi kondisi 'menarik' seperti ini ungkapan cucu Rasulullah saw, Al-Husain ra mungkin bisa menjadi mizan (pertimbangan) bagi Anda, "Seseorang yang menceritakan keburukan orang lain di hadapanmu, boleh jadi dia akan menceritakan keburukanmu (juga) pada orang lain."

Dan, Anda pun tidak perlu kehilangan pundi-pundi amal oleh karena 'ulah' lidah, bukan? Wallahu 'alam.*

 

 

1