Celaka Akibat Pura-pura


Bersikap wajar ternyata tidak mudah. Banyak orang telah melakukan persiapan berbagai hal, plus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk bisa bersikap atau tampil secara wajar.

Satu sisi sederhana, misalnya, seseorang yang berotak cerdas, telah bertindak wajar menurutnya, akan tetapi pada saat yang sama, orang lain telah merasa "diwajari", dalam pengertian dikecilkan peran sosialnya.

"Sungguh saya ini orang bodoh!" tuturnya. Orang kemudian menangkap tidak lain yang dimaksudkan atau diinginkannya adalah: "Lihatlah, betapa pintar aku ini!"

Kenyataannya kemudian --katakanlah, sebagai akibat-- memperkeruh cuaca persahabatan. Bahkan dengan tindakan-tindakan 'aneh' yang lainnya (lagi) menjadikan orang lain sumpek ada di sampingnya. Lingkungan menjadi tercemar.

Orang secara naluriah merasa, bahwa orang yang sungguh-sungguh cerdas dan pintar, tak perlu menggembar-gemborkan kepintarannya, sekalipun lingkungan memberinya respon secara pasif; tidak memujinya. Adakah itu sebuah kesalahan? Secara aklamasi: kecerdasan, kepandaian sudah diukur oleh lingkungannya. Tidak perlu proklamasi. Begitupun sebaliknya orang yang bodoh kemudian menghias-hias diri agar dapat dilihat sebagai pintar, tentu pada saatnya fitrah kediriannya itu akan terbuka yang sebenarnya. Jadi, kita memang tidak perlu memaksakan sesuatu yang fitrah atau menguburnya. 

Termasuk mengubur nilai fitrah bila kewajiban shalat, menjaga aurat (menghindari bersentuhan dengan lawan jenis), menebarkan salam, memakai busana muslimah, atau bersilaturrahmi terganggu atau dihentikan oleh karena perubahan status sosial kita dalam masyarakat. Kaum muslimah yang para suaminya masuk jajaran tokoh atau politisi, sering menderita "demam" seperti ini sehingga harus tampil "pura-pura". Wajah Dharma Wanita umumnya, atau sosok pribadi wanita shalihah dengan mengedepankan pakaian muslimah yang akan ditampilkan? 

Betapa kadang kita dipermainkan oleh diri kita sendiri dengan menambal sulam karakteristik untuk sebuah sukses "wajah" yang diinginkan. Sebuah peringatan keras disampaikan Oleh Rasulullah dalam Hadits shahih Muslim. Tiga orang dari kelompok yang berbeda telah digambarkan telah mampu menyimpan keberpura-puraannya yang selalu nampak wajar di hadapan banyak orang, hingga kemudian maut menjemputnya. Allah pun menggiringnya masuk ke dalam neraka seperti yang dituturkan hadits berikut ini:

Seorang penduduk Syam bertanya kepada Abu Hurairah ra, " Wahai Tuan Guru! Ajarkanlah kepada kami hadits yang anda dengar dari Rasulullah saw." Jawab Abu Hurairah," Baik! Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Orang yang pertama diadili kelak di hari kiamat, ialah orang yang mati syahid. Orang itu dihadapkan ke pengadilan, lalu diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya, maka ia mengakuinya. Tanya," Apakah yang telah engkau perbuat dengan nikmat itu?" Jawab," Aku berperang untuk agama Allah hingga aku mati syahid," Firman Allah," Engkau dusta! Sesungguhnya engkau berperang supaya dikatakan gagah berani. Dan gelar itu telah engkau peroleh." Kemudian dia diseret dengan muka telungkup lalu dilemparkan ke neraka. Kemudian di hadapkan pula orang alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta membaca Al-Qur'an. Di hadapkannya kepadanya nikmat yang telah diperolehnya, semua diakuinya. Tanya," Apa yang engkau perbuat dengan nikmat itu?" Jawab,: Aku belajar dan mengajar supaya disebut orang alim, dan engkau membaca Al-Qur'an supaya dikatakan sebagai Qari (ahli baca). Semua itu telah dipanggilkan orang kepadamu," 

Kemudian dia disuruh diseret dengan muka menghadap ke tanah lalu dilemparkannya ke neraka. Sesudah itu diundang pula orang yang diberi kekayaan berlimpah. Semua kekayaan dihadapkannya lalu diingatkan segala nikmat yang telah diperolehnya, ia pun mengakui. Tanya, " Apa yang telah engkau perbuat dengan harta sebanyak itu?"Jawab, " Setiap bidang yang engkau sukai tidak ada yang kutinggalkan, melainkan aku sumbang semuanya karena Engkau." Allah berfirman," Engkau dusta. Sesungguhnya engkau melakukan semuanya itu supaya disebut dermawan, pemurah dan gelar itu sudah engkau peroleh." Kemudian dia disuruh diseret dengan muka menghadap ke tanah lalu dilemparkan ke neraka. 

Kita berlindung kepada Allah SWT agar dijauhkan dari "mampu" bersikap pura-pura seperti dalam kisah di atas.
*



1