Kala hati tak sehat  

Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta dan benda. Tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kaya hati. (Bukhari, Muslim)

Ternyata suasana hati atau psikis mempengaruhi kerja fisik manusia. Ketika hati itu sehat maka kegembiraan, keriangan serta kelapangan kerja tampak di wajah masing-masing orang. Sebaliknya muka `kusut`, murung dan pekerjaan serba berantakan salah satu tanda hatinya sedang tidak `mood`.

Sebuah jurnal di Amerika telah mengadakan jejak pendapat, hasilnya bahwa biaya pengobatan psikis dalam suatu perusahaan menempati posisi yang tinggi. Hal ini dilaporkan oleh Journal of Occupational and Environmental Medicine, jurnal yang diterbitkan oleh American College of occupational and Environmental Medicine, edisi Oktober 1998. (Kompas Cyber Media/ Health Edition)

Kenyataan tersebut menurut para manager perusahaan, hasil pantauan mereka, bahwa biaya kesehatan itu untuk pegawainya yang mengalami stres dan depresi. Ternyata dari mereka dibutuhkan biaya pemeliharaan kesehatan lebih tinggi. Dari beberapa alasan, pegawai yang depresi atau stres mencari pengobatan untuk keluhan fisik yang tidak jelas, persoalan psikologis atau sosial bisa membawa ke keadaan kesehatan yang lebih serius mungkin mengarah pada timbulnya penyakit serius.

Kenyataan di atas berasal pengamatan lebih dari 46.000 pegawai dalam enam organisasi tingkat nasional yang dipantau selama tiga tahun. Hal ini dalam rangka evalusi risiko kesehatan dan hubungannya pada biaya kesehatan.

Biaya kesehatan pekerja bagi mereka yang mengalami depresi 70 persen lebih tinggi dibanding pekerja yang tidak depresi. Hal ini melebihi biaya kesehatan yang disebabkan oleh kegemukan, merokok atau tekanan darah tinggi.

Jadi hati atau psikis seseorang itu sehat maka akan mendorong kerjanya. Didalam Alquran himbauan bagi seorang muslim untuk selalu bekerja bukan sesuatu yang muluk. Pekerjaannya bukan untuk kelangsungan hidup hari ini tapi terus berlanjut sampai nilai-nilai Islam dapat menjadi pelindung manusia.

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya serta orang-orang mu`min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan

Etos Kerja muslim

Begitu banyak ayat dan hadist yang menggambarkan sikap seorang muslim dalam menjalani aktifitasnya sehari-hari. Maka Qonaah bukan suatu yang asing lagi bagi seorang muslim. Karena Qonaah adalah etos kerja yang membawa pada keadaan positif.

Dalam Alquran, Allah berfirman:

Sedekah itu hanya pada mereka orang-orang miskin yang tertahan diri mereka dalam perjuangan untuk menegakkan agama Allah, sehingga tidak dapat bepergian di bumi ini untuk menuntut rizqi. Hinggga disangka oleh orang yang tidak mengetahui, seolah-olah mereka kaya, karena tidak pernah minta-minta. Kau dapat mengenali mereka dengan tanda-tanda mereka. Mereka tidak suka minta kepada orang-orang sampai merendah-rendah. (QS. Al Baqarah:273)

Mempertahankan harga diri bagi seorang muslim lebih baik. Seorang muslim akan merasa cukup terhadap apa-apa pemberian Allah kepadanya. Kebutuhan hidup dipenuhi dari hasil usahanya sendiri, tidak ada istilah meminta- minta hingga menjatuhkan harga dirinya.

Abdullah bin Amru r.a berkata: Bersabda Rasulullah S.A.W: Sungguh untung orang yang masuk Islam dan rizqinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa pemberian Allah kepadanya. (muslim)

Bila kita menyelami dunia maka harta terlihat begitu indah dan manis. Jika menerimanya dengan keadan kerakusan maka tidak berkah baginya seperti orang makan yang tak kunjung kenyang. Sebagaimana teguran Rasulullah kepada Hakim bin Hizam, (Hadist Bukhari dan Muslim).

Demikianlah mutiara Islam yang diperkenalkan Rasulullah S.A.W pada ummat nya agar memiliki sense kerja keras tanpa minta-minta dengan tidak boros dan kikir. Diantara keduanyalah kondisi seorang muslim.

Ketika kekeringan hati menyergap seorang maka langkahpun menjadi tidak kokoh. Hingga jalan pintas ditempuh untuk menghalalkan maksudnya. Maka fenomena meminta-minta ini terjadi disekitar kita. Hal ini dipertajam juga dengan krisis ekonomi yang melanda negara-negara yang tergantung dengan negara lain termasuk Indonesia.

Jika kita melihat potret Indonesia sekarang, suatu negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara sekitar 200 juta penduduk, saat ini masih dilanda resesi ekonomi. Pembangunan yang tidak merata semakin memperburuk keadaan.

Pemusatan roda ekomomi di kota-kota besar mengundang penduduk desa berbondong-bondong pergi ke kota untuk mengadu nasib. Jakarta adalah pusat pertumbuhan, tempat terkonsentrasinya lebih 67 persen persebaran uang secara nasional. Dengan kondisi ini, Jakarta menjadi seperti lampu neon bersinar terang sehingga menarik rayap atau laron untuk mendekat. Kegemerlapannya fasilitas di kota besar membuat penduduk desa berangan-angan, keberuntungan menghampiri kehidupan mereka.

Kemegahan itu ternyata fatamorgana karena tidak ramah terhadap pendatang baru. Lahan pekerjaan di kota yang tersedia lebih sedikit dibanding jumlah peminat. Sementara itu, seperti dikemukakan ahli kependudukan Tadjuddin Noer Effendi, Kompas Online,di sektor tradisional hampir tak ada penambahan lapangan kerja. Produktivitas tanah mengalami kenaikan, tapi tidak menaikkan produktivitas kerja. Penambahan tenaga kerja akibat pertambahan penduduk hanya diserap oleh sektor tradisional yang akhirnya menimbulkan apa yang oleh Clifford Geertz, involusi di daerah pedesaan.

Di desa, daya dukung alam mulai terbatas. Pemilikan lahan garapan mengalami penciutan dan dikuasai sekelompok orang. Kalau 20 tahun lalu jumlah petani yang memiliki lahan 0,5 - 1 ha, masih lebih dari 50 persen, kini lebih 75 persen petani memiliki lahan pertanian sendiri di bawah 0,25 ha. Selain itu, perubahan iklim dan menurunnya kualitas tanah membuat kekeringan dan kebanjiran sering terjadi dan menyebabkan buruh tani kehilangan pekerjaan.

Kehidupan kota menjadi semakin menggiurkan karena upah yang relatif lebih tinggi dan pekerjaan yang mudah didapatkan. Motto mereka, asal mau kerja tak akan kelaparan, menjadi pegangan orang-orang desa dengan tingkat pendidikan rendah, yang memutuskan bermigrasi ke kota.

Mereka tak ragu masuk ke sektor informal, bahkan menjadi bagian dari kelompok marjinal dan memasuki sektor informal yang "tidak sah", seperti mengumpulkan barang bekas, puntung rokok, mengemis dan lain-lain. Namun keberadaan mereka ternyata menumbuhkan hubungan saling menguntungkan antara gelandangan dan sektor-sektor di luarnya di kota.

Mereka hidup menggelandang atau di pemukiman-pemukiman kumuh yang sebenarnya tidak layak huni dengan diatur oleh jaringan sebagai pengguna jasa.

Maka tidak dapat dihindari menjamurlah pemukiman-pemukiman kumur dan pemandangan di sekitar lampu lalu lintas, yaitu bergerombol para penanti rezeki dengan menadahkan tangan mengharapkan belah kasih orang-orang yang lewat merupakan sisi lain dari kota besar megapolitan.

Dari fenomena urbanisasi ini yang akhirnya menejerumuskan mereka menjadi pengemis bagi yang sekedar memenuhi kebutuhannya atau dalam rangka memperkaya diri, hal ini membawa kita pada kesimpulan, bahwa masalah para urban itu sebaiknya diselesaikan dengan tindakan yang mengangkat harga dirinya. Penanaman dalam diri mereka bahwa kerja hasil usaha sendiri lebih mulia atau qonaah dibanding meminta-minta pada orang.

Abu Abdullah (Azzubair) bin Al-Awwaam r.a, berkata:Rasulullah SAW bersabda: Demi sekiranya salah atu kamu membawa tali dan pergi ke bukit, untuk mencari kayu kemudian dipikul ke pasar untuk dijual, dan dapat dengan itu menutup air mukanya. Maka yang demikian itu lebih baik daripada meminta-minta pada orang -orang, baik mereka memberi atau menolak padanya. (Bukhary)

Pengharapan kita terhadap mereka, para pengemis itu, akan menjadi kenyataan bukan hanya slogan atau tindakan singkat dengan memulangkan ke asal masing-masing, yaitu desa. Tapi dengan cara mendermakan apa yang kita miliki untuk usaha mereka serta menumbuhkan fasilitas pendorong sektor-sektor ekonomi pedesaan seperti listrik, perbaikan dan pembuatan jalan-jalan serta kelancaran telekomunikasi.

Sudah pasti bahwa usaha ini bukan hanya menggandeng segelintar orang untuk bergerak membantu para urban tersebut tapi berbagai kalangan yaitu pemerintah, pelaku bisnis maupun pemerhati lingkungan.

Wallahu`alam bish shawab*


 

1