Mengendalikan Perut

Perut manusia hanya berukuran sejengkal. Itulah yang mereka bawa ke mana-mana. Perut menjadi kawan ke manapun mereka pergi, dengan aneka rupa isi.

Jika tidak berkaitan dengan kehidupan dan perjuangan kaum muslimin, tentu tidak perlu banyak hadits Rasulullah saw yang berkaitan dengan perut dan isinya ini. Dengan perut seseorang bisa terantar untuk tetap semangat beraktifitas, begitupun sebaliknya. Malas.

Ummul Mu'minin Aisyah berkata. “Musibah pertama yang akan menimpa ummat ini sepeninggalan Nabinya adalah rasa kenyang. Sesungguhnya sesuatu kaum manakala perutnya kenyang maka akan gemuk badannya, lemah kemauannya, dan syahwatnya akan sukar dikendalikan." ( at-Tharhiib wa at-tarhiib, al-Munziri)

Tidaklah Aisyah mengatakan hal itu, melainkan Aisyah telah menyaksikan bahwa, pada masa kejayaan Islam di zaman Rasulullah, para sahabat sangat terkontrol dalam hal urusan isi perut. Alhasil, setiap panggilan jihad di medan peperangan, tidak ada di antara mereka yang merasa keberatan untuk turun ke gelanggang. Semuanya menyambutnya dengan penuh riang gembira dan rasa suka cita.

Selepas shiyam Ramadhan, perut kita siap kembali menampung berbagai jenis makanan apa saja. Bagaimana kita mengaturnya? Kita mengharapkan berkah dari makanan yang kita makan dengan mendahului membaca basmalah, membagi perut menjadi tiga bagian ;untuk makanan, minuman dan udara, dan menghindari makan-minum dengan tangan kiri atau sambil berdiri, ada beberapa hal yang bisa ditulis di sini:

Menikmati makanan, kunyah pelan-pelan
Berselera menyaksikan hidangan boleh-boleh saja, tapi bila disertai dengan nafsu santap yang tak terkendali, itu yang tidak baik. Kadang dijumpai seseorang yang menghabiskan sepiring nasi hanya dalam hitungan detik. Setelah itu kita saksikan padanya rasa susah dan capek. Badan terasa berat, dibawa sangat angel pula, serba sesak dan susah. Disamping kurang enak dipandang, keadaan seperti itu dan cara makan yang seperti itu lebih banyak menyusahkan diri sendiri.

Nikmatlah makanan secara pelan dengan penuh rasa syukur atas nikmat-Nya. “Sesungguhnya termasuk pemborosan bila kamu makan apa saja yang kamu bernafsu memakannya.” (HR. Ibnu Majah).

Tidak langsung tidur
Biasanya orang merasa sangat enak (nyaman) apabila selesai makan lantas pergi ke pembaringan. Mungkin saja hal itu dimaksudkan untuk menenangkan segalanya, termasuk memberikan kesempatan pada perut untuk bekerja mengolah makanan. Akan tetapi Rasulullah melarang dengan keras hal yang seperti ini. Selain akan mendatangkan rasa malas —makan lantas tidur—juga membuat tubuh mudah dipenuhi lemak. Tidak ada proses pembakaran.

Dinginkan makanan (panas tidak ada berkahnya)
Bila hidangan masih panas jangan dipaksakan masuk ke mulut. Tundalah barang beberapa waktu. Makanan yang masih dalam kondisi panas seperti itu tidak didapati berkah di dalamnya. Rasulullah menjelaskan, “Dinginkan makanan, sesungguhnya yang panas-panas tidak ada berkahnya.” ( HR. Al-Hakim dan Adailami).

Tunggulah beberapa saat agar dingin. Atau bila Anda bermaksud mendinginkannya, janganlah meniupnya dengan mulut. “Rasulullah saw melarang orang meniup-niup makanan atau minuman.” (HR. Abu Dawud)

Mengkokop Kendi
Sekalipun mungkin rasa haus tidak lagi tertahankan, hindari meminum dengan cara mengkokop mulut teko, kendi, mulut dispenser dsb. Carilah gelas atau yang lainnya. Hal itu akan lebih baik.

Meminum dengan cara mengkokop selain tidak indah dipandang, juga menjadi cermin dari kepribadian seseorang yang tidak srantahan (sabar) dan kurang bertiket. “Rasulullah saw melarang orang yang minum dengan membalik mulut kendi langsung ke mulutnya.” (HR.Bukhari dan Muslim).*

 

 


1