Pasang Surut Keberanian
"Rasa takut terhadap manusia jangan sampai menghalangi kamu untuk menyatakan apa yang sebenarnya jika memang benar kamu melihatnya, menyaksikan atau mendengarnya." (HR Ahmad)
Pesan Rasulullah dalam hadits di atas seolah ingin menegaskan kepada kita bahwa tidak selamanya manusia itu dalam kondisi prima baik segi fisik maupun mentalnya. Ada masanya seseorang tampil dengan sehat kuat. Tidak tergambar darinya tanda-tanda loyo dan tak bersemangat. Begitupun pada saatnya manusia tampil begitu pemberani, gentleman, sehingga nampak seakan tidak ada rintangan apapun juga yang tidak dihadapi. Semuanya hendak diladeni, dan bahkan dilawan. Terkadang didapati seseorang yang secara fisik nampak lemah akan tetapi kelemahannya itu tertutupi oleh keberaniannya yang begitu besar.
Nabiyullah Musa as adalah seorang yang dikenal memiliki tenaga yang sangat besar, kuat, dan pemberani. Karena kekuatannya, seorang intelijen Fir'aun pernah ditinjunya dengan sekali pukulan hingga mati. Kepada Fir'aun, ayah angkatnya yang lalim itu, Musa as berkata, "Hai Fir'aun sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam." (QS 7: 104)
Seorang Musa berkata seperti itu, tentu dilakukan dengan semangat keberanian yang sangat besar. Musa tidak asal bicara tanpa ada motor penggeraknya yang sangat kuat, dalam hal ini kebenaran wahyu Ilahi. Sebab taruhan dari ucapannya adalah nyawanya. Para algojo Fir'aun yang haus darah sudah siap melaksanakan perintah setiap saat.
Namun pada kesempatan yang lain, Musa juga adalah manusia biasa yang memiliki rasa takut. Ketika tongkat Paranormal Fir'aun dilempar di hadapan Musa dan secara serentak menggeliat-geliat dan dengan cepat merayap menjadi ular, Musa pun ketakutan. (20: 67)
Begitu juga Musa sudah ditemani saudaranya, Harun, yang dimintanya untuk menemani menghadap Fir'aun, ketakutan itu masih tidak kunjung sirna juga. "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia (Fir'aun) akan menyiksa kami..." (20: 45)
Dari kisah di atas jelas, tidak selamanya manusia memiliki kekuatan atau keberanian yang tetap. Ada masanya pasang ada pula saatnya surut. Keduanya datang secara silih berganti. Para aktivis mahasiswa yang nampak gigih terus maju ke garis depan menentang ketidakadilan, mempunyai saat-saat takut kepada aparat polisi di jalan, apalagi bila sendiri, tidak melengkapi surat-surat pula.
Lima puluh lima tahun yang lalu pada saat Bung Tomo mengumandangkan gema takbir "Allahu Akbar" melalui corong radio di Surabaya untuk menghadapi kekuatan pasukan Sekutu, segenap kaum Muslimin, para santri dan masyarakat bergerak maju menyabung nyawa. Tidak ada rasa takut di dalam hati mereka, yang ada adalah "keindahan" perjuangan. Bagi kaum Muslimin bila panggilan jiwa untuk berjihad dan menegakkan kebenaran ini telah dikumandangkan maka semua akan dijalaninya dengan enak, nikmat, enjoy dan penuh semangat. Di pelupuk matanya, kebebasan belenggu dari kaum kuffar, kejayaan Islam, atau berkalang di tanah, gugur sebagai syuhada. Dan, itu yang menjadi penawar dari rasa sakit yang dihadirkan oleh ketajaman peluru.
'Azimat' yang mereka memiliki sebagai penggerak yakni kalimat takbir Allahu Akbar. Takbir yang meletup dari kisi-kisi ruhaninya yang terdalam ini berfungsi sebagai turbin yang memiliki kekuatan sangat besar. Tentu saja, karena kalimat itu mengandung junjungan atas Kebesaran Allah dan sekaligus menafikan kekuatan lain selain kekuatan-Nya.
Sebuah revolusi peradaban, tidak akan berjalan efektif tanpa mempergunakan kalimat ini. Apalagi di negeri yang mayoritas penduduknya muslim.
Para penegak kebenaran dianjurkan untuk tidak boleh takut dihalangi oleh para penentangnya, juga terhadap celaan orang yang mencela. Apalagi bila yang hendak ditegakkan itu adalah nilai-nilai Islam. Rasa takut terhadap fasilitas yang mereka miliki, keusilannya, kekuatan, kerapian organisasi, kesolidan dan besarnya sumber dana dan sumber daya yang mereka miliki, jangan sampai membuat kita berkecil hati hingga menjadi lemah.
Kepada salah seorang sahabat Rasulullah bersabda, "Janganlah takut berada di jalan Allah terhadap celaan orang yang suka mencela." Sahabat tadi berkata, "Tambah lagi ya Rasulullah." Beliau menjawab:" Katakanlah yang hak meskipun akibatnya terasa pahit." (HR Ibnu Hiban)*