Hidup Lapang


Siapa yang tidak menginginkanhidup lapang, bahagia, tenang, dan tenteram selamanya? Keadaanseperti itu dirindukan oleh banyak orang, tanpa kecuali. 

Tidak mengherankan kalau kemudian munculbanyak teori-teori, resep dan buku-buku, aneka hiburan, masakan,pakaian, dan musik, yang sengaja dibuat untuk mendukungterwujudnya keinginan seperti itu. Bahkan bila kita saksikan disekitar kita, praktis yang dijadikan ajang perlombaan adalahbagaimana agar dapat berpakaian sebagus-bagusnya, makan denganhidangan selezat mungkin, dan musik. Manusia berharap denganadanya kelengkapan-kelengkapan seperti itu, keinginan untukmewujudkan kelapangan, kebahagiaan, dan kesejahteraan terlaksana.

Namun, kehidupan kadang membuka mata danhati orang dari sebatas itu. Bulan lalu seorang konglomeratkenamaan negeri ini, memilih menghindarkan diri dari semua yangdisebut di atas, kemewahan dan kelezatan hidup. Bahkan perusahaandan segala hal yang berkaitan dengannya hendak ditinggalkan. Dia,katanya, akan lebih berkonsentrasi pada urusan rohani danketenangan diri. Selama ini, dia merasa hidup dalam duniakehampaan. Kaya tapi miskin kenyataannya; bahagia dalam pandanganorang, tapi sesungguhnya menderita. 

Dalam ajaran agama kita, banyak jalandibentangkan untuk dapat memperoleh ketenangan, kebahagiaan,kelapangan, dan kesejahteraan hidup dengan biaya yang cukupmurah. Silaturahim, memberi makan orang miskin, berbuat baikkepada tetangga, kepada teman, berbakti kepada orang tua,mengunjungi orang sakit, berkata jujur, menjaga hati dari dustadan maksiat, adalah di antara jalan-jalan `murah' yang dapatmendatangkan kebahagiaan. Kepada siapa saja, asalkan dilambariniat dan tekad yang kuat, insya Allah dia akan mendapatkankebahagiaan tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Tidak perlususah-susah pergi ke sana kemari. 

Hal lain, misalnya, shalat sunnah, puasasunnah, dan menegakkan shalat secara berjamaah, akan dapatmendatangkan kesenangan tanpa Anda harus pergi ke mal, berkunjungke tempat rekreasi, dan bermusik ria misalnya. Secara fitrahkebutuhan manusia akan terpenuhi setelah melakukangerakan-gerakan ketaatan yang dilakukan dengan penuh khusyuk danikhlas. 

Bahkan kepada orang yang aktif melakukanshalat berjamaah secara mudawamah (langgeng), Allahmenjamin lima perkara kepadanya: 

Selamat dari penghidupan yang sempit 
Selamat dari siksa kubur 
Menerima catatan amal dengan tangan kanan 
Masuk surga tanpa hizab. 
Sebaliknya, kepada mereka yangmenganggap ringan shalat berjamaah, kepada mereka diancam 12siksa (penderitaan), yakni masing masing 3 di dunia, saat mautmenjemput dan di dalam kubur. 

Penderitaan di dunia yang akan dilamiadalah selalu kekurangan rezeki, amalnya tertolak, bukti kebaikandi wajahnya sirna (tidak ada). 

Penderitaan saat menjelang maut: nyawakeluar (dicabut) dalam keadaan dahaga, lapar, dan mencabutnyadengan penuh kekerasan (sekerasnya). 

Penderitaan di dalam kubur: pertanyaanmalaikat (Munkar-Nakir) disertai dengan bentakan keras yangmembuatnya lupa menjawab, gelap kuburnya, dan sempit lagimenjepit badannya. (dari kitab Tanbihul Ghofilin)
*




1