kunci

Dering alarm menyadarkanku dari mimpi yang tak ku mengerti, tanpa menghiraukannya aku langsung turun dari kasurku dan membuka korden, dari dalam kamar yang hangat aku merasakan dingin ketika melihat hujan deras yang datang diwarnai gelap sangat tidak cocok untuk menemaniku awali hari ini. Aku teringat akan pengalamanku yang aneh tapi nyata. 

Aku telah rapi dengan blus putih ditutupi rompi dan rok selutut dengan warna yang senada, lalu aku keluar dari kamar dan menge- check air yang ku panaskan sebelum mandi tadi. Segera ku padamkan kompor dan ku tuangkan air itu ke satu gelas dan satu mangkuk, gelas tadi untuk membuat kopi dan mangkuk untuk membuat bubur instant. Aku hidup sendirian di sebuah apartement yang medium, tidak terlalu besar tidak juga kecil.

Aku telah berada di dalam mobil tetapi aku merasa ketika di dapur ada sesuatu yang terus mengamatiku, dan hingga sekarang seperti ada yang mengintip dari balik gelapnya jendela apartement ku tetapi aku tetap memutar kunciku dan berjalan dengan rasa bimbang menuju kantorku. Aku bekerja sebagai manager di perusahaan desain, setiap hari aku pulang hingga larut karena jadwalku yang padat.

Ramdan, sahabatku yang bekerja sebagai designer setiap hari ke kantorku karena memang dia adalah salah satu client kami. Menggunakan kemeja rapi dengan rambut gondrong yang ditambah codet di pipinya, banyak orang menyangka bahwa dia adalah preman dengan suaraBass.

�Pagi bu Shinta, bagaimana dengan  laporan saya kemarin? Memuaskan?� Begitulah dia menyapaku setiap hari, lalu kami akan ngobrol tentang masalah apapun itu.

�Wah, pak Dadan. Laporannya sudah saya terima laporan wajib lapor 24jam kan?�  Sahutku pula.

�Gimana? Masih ngerasa ada yang aneh di apartement mu?� Tanyanya.

�Iya, tadi pagi ngerasa gak enak banget. Takut tapi penasaran� Jawabku

�Tapi udah aku bilangin-kan gak ada yang kayak gitu-gituan. Percaya deh� Katanya

�Iya emang aku percaya kamu, tapi maksud aku..� belum selesai ku berkata ramdan telah memotong.

�Apa? Nanti sore kita pulang bareng, aku ke apartement mu dulu.� Katanya lagi.

�Jangan, gak perlu deh kayaknya. Makasih banget udah mau bantu.� Jawabku segera.

�Loh? Kok mau ditolonginn gak mau? Jangan bilang takut lagi ya, kalo gitu.� Gerutu Ramdan kesal.

Jam dinding kantor telah berdentang sembilan kali, aku segera mematikan komputer ku dan beranjak pulang. Kunci apartement ku putar dan ketika aku melihat ke sofa disana terletak handukku, tetapi ketika aku ingat-ingat tadi pagi handuk itu aku gantung di kamar mandi. Aku lapar jadi aku buka kulkasku untuk mencari beberapa sayur yang akan ku buat menjadi salad, dan aku melihat tidak ada lagi sayur-sayuran yang tersisa hanya beberapa bongkah kentang padahal semalam aku membeli beberapa sayur dan tadi pagi pun aku tidak memasak sayuran itu tetapi kini yang tersisa hanya kentang. Aku bingung kenapa ini bisa terjadi, akhirnya aku menelepon Ramdan.

Tok, tok-tok. Bunyi seseorang mengetuk pintu, aku segera membukakannya dan ternyata itu Ramdan.

�Mana yang aneh? Sini aku lihat.� Sergah  Ramdan tiba-tiba.

Langsung ku jawab. � Sayur dikulkas ku habis.�

�Terus kalo habis kenapa? Beli aja.� Ramdan terus membuat ku panik.

�Tapi semalam, aku baru beli dan tadi pagi pun aku gak masak.� Sahutku.

�Jadi?� Ramdan membalikkan badannya ke hadapanku.

�Aku bingung, kok bisa hilang sih?� Aku makin kebingungan.

Ramdan pun mengambil keputusan.  �Ya udah, aku cek semua isi rumahmu.�

Selesai menggeledah semua isi rumahku, dia berkata. �Gak ada apa-apa tuh.�

Ramdan pun terduduk, dan aku tak kuasa menahan genangan air di mataku. Takut dan cemas karena bingung akan apa yang terjadi, menghantuiku. Siapakah yang melakukan itu? Bagaimana bisa? Pertanyaan yang selalu membayangiku. Akhirnya, Ramdan mengambil keputusan yang cukup melegakan  hatiku.

�Reka, kamu mau gak nemenin Shinta malem ini di apartementnya?� Ramdan berkata, dan yang di seberang sana sepertinya menyahut.

�Ntar aku ceritain deh. Ya udah, dateng aja kesini, sekarang.� Jawab Ramdan.

�Mpuss, sini mpuss..� Aku memanggil kucing kesayangan ku, tetapi  suara seorang wanita terdengar dari dalam belukar itu. �Shinta, bangun Shin udah pagi ni.�

�hm? Ternyata kamu Rek, ku kira siapa. Hehe.� Tanpa sadar aku berkata seperti itu, rasa mengantuk masih menyelimuti ku.

Jawaban Reka sangat mengejutkanku. �Udah, bangun gih, sekarang udah jam 6.30 tau. Kau gak liat aku sudah pakai baju serapi ini? Kau masih mau molor lagi? Ckck.�

Aku langsung melompat dan �Reka, kenapa gak bilang dari tadi sih? Bangunin aku jam 5.30 kek ato 6 jangan jam  segini, aku bakal telat nih.�

�Ya udah, jangan ngomong aja cepetan mandi sana.� Reka menyanggah.

�Gimana? Masih takut?� pertanyaan yang telah diketahui jawabannya masih saja ditanyakan Ramdan.

            �Semalam sih, enggak tapi hari ini..� Kata-kata ku tergantung. Bingung apa yang harus aku katakan.

Dari kejauhan aku memandangi sepasang jendela yang gelap. Seperti tak ada orang disana tetapi hati dan mata terpisah, hatiku merasakannya walau begitu ia juga berkata beranilah Shinta, berani. Aku berjalan menyusuri apartementku dengan rasa waspada, akhirnya aku berpikir tidak ada apa-apa.

�Dimana ya, aku meletakkan dokumen itu?� Aku sedang mencari dokumen penting.

�Oh, di lemari putih itu!� Batinku.

Aku segara membukanya dan �Aaaaaaaaaargh.� Teriakan seorang lelaki terdengar, laki-laki dengan tubuh pendek, berkemeja rapi serta dasi, air mukanya seperti baru bangun tidur dengan tipe wajah ke-Chinaan. Segera ku telepon kantor polisi.

�Saya bisa masuk ke apartmentnya mbak Shinta karena ketika saya pulang dari apartement teman saya, saya melihat kunci kamar dan itu terletak di depan apartmentnya mbak Shinta. Saya coba, dan ternyata cocok lalu saya masuk ke apartementnya mbak Shinta dan saya memutuskan untuk tinggal disana.� Cerita laki-laki yang bernama Nugi itu.

Aku segera menyelidik dengan bergidik ngeri. �Jadi selama ini kamu tinggal bersamaku? Apa yang kamu lakukan?�

�Karena apa kamu ingin tinggal di apartement mbak Shinta?� Tanya pak Polisi

�Mbak Shinta saya gak lakukan apa-apa di apartementnya Mbak, saya cuma numpang tidur di lemari mbak dan kalau mbak telah pergi saya keluar, melakukan aktivitas seperti nonton TV, mandi dan masak. Gini-gini saya bisa masak loh, mbak.� Nugi terdiam sambil menarik nafas panjang.

�Jadi handuk yang di sofa itu, terus sayur yang habis itu karena kamu? Tapi gimana caranya kamu habisin semua sayur di kulkasku?� Shinta tak mengerti.

�Saya bawa itu ke rumah Orang tua saya mbak, karena itulah saya ingin tinggal di  apartementnya mbak  Shinta.� Jawab Nugi, membingungkan.

�Karena apa?� Tanya pak Polisi.

�Karena saya tidak nyaman tinggal di rumah susun bersama orang tua saya, saya juga tidak bekerja. Jadi saya tinggal di apartmentnya mbak Shinta, pura-pura telah bekerja dan membuktikan kepada orang tua, saya telah bisa membelikan mereka sayur dan buah yang mahal.� Jawab Nugi polos. Nugi baru tamat SMA, tetapi telah terbebani untuk bekerja oleh keluarganya yang dulu hidupnya cukup kini harus kekurangan karena toko ayahnya bangkrut. Nugi sebagai anak tertua menjadi merasa bertanggung jawab.

Melihat kunci yang tergantung itu, aku jadi ingat Nugi. Nugi sekarang telah kuliah dan kerja paruh waktu membuka restoran yang difasilitasi toko pernak-pernik.

Di kantor polisi, �Ya sudah, jadi Nugi akan kami penjarakan selama tiga bulan karena telah memasuki rumah orang lain tanpa izin.� Pak polisi berkata.

�Pak, kalau saya merasa tidak dirugikan apakah Nugi akan tetap dipenjarakan?� Aku bertanya, karena aku tidak ingin masa depan Nugi tertunda hanya karena semua ini.

�Tidak bisa mbak, karena ini telah melanggar Norma Kesopanan, Norma Kesusilaan, norma Agama dan juga Norma Hukum.� Pak polisi menegaskan.

Tiga bulan selama itu aku selalu mengunjungi Nugi, dia telah ku anggap sebagai adikku dan ketika dia keluar dari penjara aku menguliahkannya dan memberi modal untuk membuka usaha. Hari ini adalah hari ulang tahun Nugi. Aku telah menyiapkan hadiah yang menarik untuknya. Semoga dia akan suka, karena aku tidak akan pernah melupakan jasanya walau aku melupakan kunci apartementku.