Dokumen visi, misi, dan program yang ditawarkan kelima
pasangan calon presiden (capres)/calon wakil presiden
(cawapres) telah diserahkan kepada Komisi Pemilihan Umum
(KPU). Ada yang menuliskannya secara panjang lebar dengan
struktur mirip buku dan skripsi. Ada pula yang menuliskannya
dengan ringkas bak makalah.
Pasangan Wiranto-Solahuddin Wahid dalam karya tulisnya
menawarkan lima agenda. Kelimanya adalah: melaksanakan
penegakan hukum, perlindungan HAM, dan jaminan keamanan;
mewujudkan pemerintahan yang baik; melaksanakan pembangunan
ekonomi; meningkatkan kesejahteraan rakyat; memperbaiki sistem
pendidikan nasional, dan mewujudkan rekonsiliasi nasional.
Calon yang diajukan Partai Golkar ini menilai pemerintah
tidak efektif merancang dan mengimplementasikan program
reformasi. Pengangguran dan kemiskinan tetap abadi, kualitas
hidup menurun, kerusakan lingkungan berlanjut, gejala KKN
meluas, penegakan hukum dan HAM mereka nilai juga lemah.
''Pemerintah kehilangan wibawa dan legitimasi, bahkan telah
melenceng dari cita-cita pendiri bangsa. Gejala tersebut harus
diakhiri karena sangat berbahaya bagi masa depan bangsa
Indonesia,'' ungkap pasangan ini.
Sedang Megawati-Hasyim Muzadi mengawali uraiannya secara
apologis. Mereka menyebutkan bahwa kondisi terpuruk saat ini
merupakan warisan yang diterima Mega dari pemerintahan
sebelumnya. Keduanya mengklaim sudah membuat banyak kemajuan
dan mengawal reformasi pada jalur yang benar. ''Oleh karena
itu, demi tercapainya kesinambungan dan hasil yang maksimal,
pelaksanaan dan penuntasan penanganan agenda reformasi yang
tersisa perlu tetap dilanjutkan oleh Megawati,'' tulis
mereka.
Jika terpilih nanti, mereka memiliki program untuk
memperkokoh negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI);
mengukuhkan martabat bangsa melalui pembangunan karakter,
kepribadian, dan kemampuan bangsa; mewujudkan kemakmuran dan
keadilan rakyat; mewujudkan kedaulatan rakyat; dan mewujudkan
persamaan warga negara.
Selanjutnya, pasangan Amien Rais-Siswono Yudo Husodo,
menulis bahwa pranata orde baru saat ini sudah berhasil
ditinggalkan, tapi pranata baru yang diimpikan belum terwujud
secara komperehensif. Kondisi saat ini dinamai keduanya
sebagai `Orde X'.
Kata keduanya, keberhasilan reformasi baru menyentuh aspek
politik. Itu ditandai dengan amandemen konstitusi, otonomi
daerah, kebebasan pers, dan sistem pemilu yang lebih baik.
Amien-Siswono bertekad ikut pemilu presiden dengan dua misi,
yaitu, menyempurnakan reformasi politik dan menggelindingkan
penyelesaian reformasi hukum, pertahanan keamanan ketertiban
(hankamtib), kelembagaan birokrasi, sosial, juga ekonomi.
Untuk menjalankan misinya, calon yang utamanya didukung
Partai Amanat Nasional (PAN) ini bertekad menegakkan supremasi
hukum untuk mengadili koruptor dan pelanggar HAM, menindak
tegas gerakan separatis, serta mengembangkan birokrasi yang
melayani rakyat. Mereka juga memprogramkan untuk melakukan
konsolidasi fiskal agar ketentuan anggaran pendidikan 20
persen terpenuhi, memperkuat sektor pertanian, dan menangani
problem perburuhan secara arif.
Pasangan yang mendapat nomor undian empat, Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla, menulis bahwa reformasi cukup
berhasil, meski beberapa hal masih menuntut perhatian lebih
serius. Beberapa hal itu antara lain masih lemahnya karakter
bangsa dan kegamangan dalam menghadapi masa depan.
''Penanganan yang tidak sistemik atas berbagai masalah
mendasar itu melahirkan persoalan-persoalan baru.'' Untuk
mengatasinya, SBY-Kalla mengajukan tiga program. Masing-masing
adalah: mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, mewujudkan
Indonesia yang adil dan demokratis, mewujudkan Indonesia yang
sejahtera.
Terakhir, duet Hamzah Haz-Agum Gumelar menawarkan lima
kebijakan pembangunan. Kebijakan itu adalah melaksanakan sila
Ketuhanan Yang Mahaesa; menjadikan pendidikan dan iptek
sebagai pilar pembangunan; membangunan ekonomi rakyat, petani,
dan nelayan; memberi nilai ekonomi dan kesejahteraan terhadap
pelaksanaan otonomi daerah; juga mengoptimalkan seluruh
potensi nasional untuk mewujudkan kemandirian
bangsa.