Senin, 24 Mei 2004

Janji-janji yang Tertulis

Laporan : run

Dokumen visi, misi, dan program yang ditawarkan kelima pasangan calon presiden (capres)/calon wakil presiden (cawapres) telah diserahkan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ada yang menuliskannya secara panjang lebar dengan struktur mirip buku dan skripsi. Ada pula yang menuliskannya dengan ringkas bak makalah.

Pasangan Wiranto-Solahuddin Wahid dalam karya tulisnya menawarkan lima agenda. Kelimanya adalah: melaksanakan penegakan hukum, perlindungan HAM, dan jaminan keamanan; mewujudkan pemerintahan yang baik; melaksanakan pembangunan ekonomi; meningkatkan kesejahteraan rakyat; memperbaiki sistem pendidikan nasional, dan mewujudkan rekonsiliasi nasional.

Calon yang diajukan Partai Golkar ini menilai pemerintah tidak efektif merancang dan mengimplementasikan program reformasi. Pengangguran dan kemiskinan tetap abadi, kualitas hidup menurun, kerusakan lingkungan berlanjut, gejala KKN meluas, penegakan hukum dan HAM mereka nilai juga lemah. ''Pemerintah kehilangan wibawa dan legitimasi, bahkan telah melenceng dari cita-cita pendiri bangsa. Gejala tersebut harus diakhiri karena sangat berbahaya bagi masa depan bangsa Indonesia,'' ungkap pasangan ini.

Sedang Megawati-Hasyim Muzadi mengawali uraiannya secara apologis. Mereka menyebutkan bahwa kondisi terpuruk saat ini merupakan warisan yang diterima Mega dari pemerintahan sebelumnya. Keduanya mengklaim sudah membuat banyak kemajuan dan mengawal reformasi pada jalur yang benar. ''Oleh karena itu, demi tercapainya kesinambungan dan hasil yang maksimal, pelaksanaan dan penuntasan penanganan agenda reformasi yang tersisa perlu tetap dilanjutkan oleh Megawati,'' tulis mereka.

Jika terpilih nanti, mereka memiliki program untuk memperkokoh negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI); mengukuhkan martabat bangsa melalui pembangunan karakter, kepribadian, dan kemampuan bangsa; mewujudkan kemakmuran dan keadilan rakyat; mewujudkan kedaulatan rakyat; dan mewujudkan persamaan warga negara.

Selanjutnya, pasangan Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, menulis bahwa pranata orde baru saat ini sudah berhasil ditinggalkan, tapi pranata baru yang diimpikan belum terwujud secara komperehensif. Kondisi saat ini dinamai keduanya sebagai `Orde X'.

Kata keduanya, keberhasilan reformasi baru menyentuh aspek politik. Itu ditandai dengan amandemen konstitusi, otonomi daerah, kebebasan pers, dan sistem pemilu yang lebih baik. Amien-Siswono bertekad ikut pemilu presiden dengan dua misi, yaitu, menyempurnakan reformasi politik dan menggelindingkan penyelesaian reformasi hukum, pertahanan keamanan ketertiban (hankamtib), kelembagaan birokrasi, sosial, juga ekonomi.

Untuk menjalankan misinya, calon yang utamanya didukung Partai Amanat Nasional (PAN) ini bertekad menegakkan supremasi hukum untuk mengadili koruptor dan pelanggar HAM, menindak tegas gerakan separatis, serta mengembangkan birokrasi yang melayani rakyat. Mereka juga memprogramkan untuk melakukan konsolidasi fiskal agar ketentuan anggaran pendidikan 20 persen terpenuhi, memperkuat sektor pertanian, dan menangani problem perburuhan secara arif.

Pasangan yang mendapat nomor undian empat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla, menulis bahwa reformasi cukup berhasil, meski beberapa hal masih menuntut perhatian lebih serius. Beberapa hal itu antara lain masih lemahnya karakter bangsa dan kegamangan dalam menghadapi masa depan. ''Penanganan yang tidak sistemik atas berbagai masalah mendasar itu melahirkan persoalan-persoalan baru.'' Untuk mengatasinya, SBY-Kalla mengajukan tiga program. Masing-masing adalah: mewujudkan Indonesia yang aman dan damai, mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis, mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

Terakhir, duet Hamzah Haz-Agum Gumelar menawarkan lima kebijakan pembangunan. Kebijakan itu adalah melaksanakan sila Ketuhanan Yang Mahaesa; menjadikan pendidikan dan iptek sebagai pilar pembangunan; membangunan ekonomi rakyat, petani, dan nelayan; memberi nilai ekonomi dan kesejahteraan terhadap pelaksanaan otonomi daerah; juga mengoptimalkan seluruh potensi nasional untuk mewujudkan kemandirian bangsa.



© 2003 Hak Cipta oleh Republika Online
Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita tanpa ijin tertulis dari Republika
Hosted by www.Geocities.ws