Khutbah Rasul SAW Menjelang Ramadhan
posted by kaderisasi, 21.05.2006, 19:08
Dari Salmân al-Fârisî ra. ia berkata bahwa Rasulullah SAW di akhir
bulan Sya`ban berkhutbah kepada kami, beliau bersabda, "Wahai manusia,
telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya
terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1. 000 bulan.
Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan
menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu`). Barangsiapa (pada
bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah
mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan
satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain.
Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga)
bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah).
Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan bukaan (ifthâr) kepada seorang yang
berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya,
penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang
berpuasa itu, tanpa menguarai pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun."
Kemudian para Sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita
memiliki makanan untuk diberikan sebagai bukaan orang yang berpuasa."
Rasulullah SAW berkata, " Allah memberikan pahala tersebut kepada orang
yang memberikan bukaan dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu.
Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan)
dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (HR Baihaqî)
Khutbah Nabi SAW yang diriwayatkan dari seorang Sahabat mulia, Salmân al-Fârisî
di atas mengandung (secara implisit) beberapa stimulan dalam menyongsong bulan
Ramadhan. Nabi SAW dalam khutbahnya tersebut menginginkan agar umat Islam
benar-benar memahami kualitas tamu agung yang akan mendatangi umat Islam ini.
Stimulan dalam khutbah di atas dapat dijabarkan dalam beberapa poin:
Pertama, bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung dan penuh keberkahan.
Keagungan dan keberkahan bulan ini dapat dilihat dari penghormatan Allah
terhadapnya. Allah menurunkan Al-Qur'an di dalamnya. Selain itu, ada sebuah
fenomena yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya,
di mana hati setiap Mukmin tergerak untuk bersedekah lebih banyak, membaca Al-Qur'an
lebih getol, dan qiyamullail. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ramadhan merupakan
'musim seminya' Al-Qur'an. Lebih dari itu semua, keagungan dan keberkahan
Ramadhan karena memiliki satu malam yang nilai ibadah di dalamnya lebih baik
dari 1.000 bulan, yakni malam Laitul Qadar. Hal ini secara gamblang dijelaskan
oleh Allah SWT: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam
Laitul Qadar. Tahukah kalian apa Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih
baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril
dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan
sampai terbitnya fajar." (Qs. Al-Qadr [97]: 1-5). Sungguh, malam Lailatul
Qadar itu merupakan bonus ibadah bagi setiap Mukmin. Secara matematis, 1.000
bulan itu sekitar 84 tahun. Padahal umur manusia (umat Islam) jarang yang
mencapai angka itu. Tapi, jika ibadah pada malam Lailatul Qadar itu benar-benar
(dilakukan) karena mengharap ridha Allah, maka nilainya lebih baik dari ibadah
yang dilakukan selama 1.000 bulan. Oleh karena itu, Nabi SAW memberikan contoh
bagaimana agar setiap Muslim bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh akhir
Ramadhan. Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra. beliau bersabda, "Carilah
malam Lailatul Qadar itu pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir pada bulan
Ramadhan." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam bab keutamaan 'Lailatul
Qadar'/2020). Oleh karenanya, beliau menganjurkan agar setiap Mukmin yang
berpuasa dapat menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan
keikhlasan (perhitungan), "…barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul
Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan (perhitungan), maka dosanya yang
telah lalu diampuni." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam bab keutamaan
Lailatul Qadar/2014).
Kedua, pelipatgandaan pahala kebaikan. Ramadhan merupakan bulan yang
menjadikan nilai seorang hamba berlipat-lipat. Pahala sunnah dinilai sebagai
pahala amal yang wajib, yang dikerjakan pada bulan lain. Bahkan, satu kebaikan
dibalas dengan 70 kebaikan. Luar biasa!
Ketiga, bulan kesabaran. Proses imsâk yang dilakukan bagi setiap orang
yang puasa, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari merupakan sebuah proses
pembentukan karakter sabar. Satu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah SWT.
Pada bulan inilah setiap Mukmin yang berpuasa digembleng untuk menjadi seorang
yang ulet dan tahan uji. Sehingga Nabi SAW menyatakan bahwa balasan sabar adalah
surga. Hal ini sangat paralel dengan firman Allah: "Jadikanlah sabar dan
shalat itu sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang
sabar." (Qs. Al-Baqarah [2]: 153).
Keempat, Ramadhan merupakan bulan 'semangat sosial'. Seorang yang
melakukan puasa merupakan orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Empati mereka benar-benar tampak nyata. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan
bersedekah dan berderma pada bulan Ramadhan sangat fenomenal. Maka tidak heran,
jika sejak awal puasa, para ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah. Ini
merupakan bentuk konkret dari 'kepekaan sosial'. Karena ternyata, seorang Mukmin
yang berpuasa diajak langsung praktek merasakan lapar dan dahaga, sebagaimana
yang dirasakan oleh para fakir-miskin. Bahkan, orang yang memberikan bukaan
kepada orang yang berpuasa akan menjadi ampunan dosa, dibebaskan dari api neraka
dan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukan puasa itu sendiri.
Lebih untung lagi, ternyata pahala yang berpuasa itu tidak berkurang sedikitpun.
Kelima, Ramadhan memiliki tiga bagian penting: rahmat, ampunan (maghfirah)
dan pembebasan dari api neraka. Tentunya, untuk memperoleh ketiga substansi
puasa tersebut, seorang Mukmin harus benar-benar memurnikan niat dan membulatkan
ikhtiarnya: untuk mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Allah. Dengan
demikian, seorang Mukmin tidak bisa bertindak pragmatis: memilah dan memilih
bagian dari ketiga substansi tersebut. Ia harus dilalui secara berurutan. Dengan
demikian, pembebasan dari api neraka tidak akan tercapai, sebelum diperolah
maghfirah Allah SWT. Dan maghfirah ini tidak akan direngkuh, sebelum mendapatkan
rahmat (kasih sayang) Allah SWT. Ketiga subtansi itu tidak bisa dipisahkan,
karena puasa merupakan hak prerogatif Allah, "Setiap amalan Anak Adam
adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan aku (sendiri) yang
akan membalasnya." (Hadits Qudsi. Hadits Qudsi ini diriwayatkan dari
Abdullah ibn Muhammad, dari Hisyâm, dari Ma`mar, dari az-Zuhrî, dari Ibnu al-Musayyab,
dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW).
Khutbah Nabi SAW adalah khutbah yang ditujukan kepada kita. Seolah-olah beliau
berdiri di hadapan kita: memberikan tuntunan dalam menyambut sang tamu agung.
Kita berharap khutbah beliau menjadi pedoman komplit sebelum 'sang tamu agung'
datang ke hadapan kita. Dengan demikian, lahir dan batin kita telah siap
menerima kehadirannya. Wallâhu a`lamu bi as-shawâb!
(siapa nich), Menyambut Romadhon itu perlu persiapan jau-jauhari, bahkan
setelah bulan SYAWAL berakhir pun kita berharap DIA mempertemukan kita lagi
dengannya. So...