
<rss version="2.0">
<channel>

<title><![CDATA[Mesa Lara - BLOG]]></title>
<link>http://www.geocities.com/forevernikn/index.html?cq=1</link>
<description><![CDATA[Indonesian women learning to be herself.]]></description>
<language>en-us</language>
<lastBuildDate>Wed, 14 Feb 2007 05:30:21 GMT</lastBuildDate>

<item>
<title><![CDATA[Perempuan Eksperimen - February 13, 2007]]></title>
<link>http://www.geocities.com/forevernikn/index.html?cq=1&amp;p=1</link>
<description><![CDATA[<span style="">Homoseksual adalah konsep yang asing bagi saya sampai pada akhir tahun kuliah di FIB-UI saya mulai digelitik untuk mengetahui sedikit mengenai hal itu. Pemicunya adalah pemikiran saya sendiri yang sedang tertarik denga isu seksualitas. Setahu saya, seksualitas tidak hanya mengenai heteroseksual melainkan ada seksualitas lain yang sangat jarang dibincangkan tetapi ada.</span>    <p style="text-align:justify; "><span style="">Tahunnya adalah 2000 sampai 2001. Pencarian pertama adalah melalui internet. Saya menemukan website mengenai kehidupan dan pemikiran kaum gay muslim di luar negeri dan Indonesia. Saya membaca dan menganalisis isi website mereka. Sempat berkirim email dengan satu, dua orang. Mengenai lesbian, saya tidak mendapat informasi sebanyak seperti gay. Itu sendiri menjadi fenomena. </span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Waktu itu, saya memiliki sikap menentang dan tidak setuju dengan pemikiran mereka. Saya pikir, tidak mungkin Tuhan menciptakan perempuan berpasangan dengan perempuan dan begitu juga dengan laki-laki. Kedengarannya saja aneh. Terbayang oleh saya sederet konsep hukuman, dosa, dan penyakit. It all started from simple thought.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Saya juga mencari buku dan artikel majalah mengenai isu itu. Tetapi kemudian saya mengamati sikap diri sendiri yang agak aneh, karena ketika membaca artikel tersebut, saya tidak ingin orang lain tahu sehingga berpikiran “negatif” mengenai saya.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Setelah ada informasi, saya mulai bertanya, “Bagaimana saya tahu kalau saya heteroseksual atau tidak?” “Bagaimana sikap orang atau teman dekat ketika saya beritahukan bahwa saya adalah lesbian?” Artinya, saya bukan lesbian tetapi saya ingin tahu reaksi mereka ketika saya mengatakan hal itu.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Saya belum berani melakukan hal yang terakhir karena dari diskusi dengan beberapa teman, saya sudah dapat menduga respon yang akan mereka berikan. Saya mencoba menginformasikan ke beberapa teman mengenai perjalanan dan temuan saya di internet mengenai homoseksualitas. Oke, seperti biasa, nikn dianggap makhluk aneh dan lebih aneh karena dia tidak berasal dari planet di luar bumi. Mungkin seperti itu juga anggapan masyarakat terhadap kaum homoseksual.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Kadang tidak nyaman ketika orang lain melihat diri kita sebagai suatu keanehan. Saya rasa itu juga yang dirasakan kaum homoseksual. Namun, baru pada tahun kedua di Kajian Wanita UI saya mengetahui bahwa isu seksualitas yang berhubungan dengan homoseksual tidak sederhana.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Pada tahun 2004 – 2006 saya mulai mencari informasi lagi mengenai lesbian. Sebuah tulisan dari seorang lesbian di AS yang separuh baya cukup memuaskan rasa ingin tahu. Perasaan manusiawi seperti bingung, marah, kecewa, putus asa, bahagia, dan tertekan ikut mewarnai bianglala kehidupannya. </span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Hasil utama dari pencarian saya adalah bahwa isu homoseksual tidak lagi sesederhana surga atau neraka, dosa atau pahala, Tuhan atau iblis. Homoseksual mungkin banyak memberi citra kebebasan seksual yang tampil dalam Mardi Grass tetapi ternyata hal itu barulah permukaan. Mereka juga bergulat dengan isu-isu sosial yang dihadapi oleh masyarakat umumnya. </span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Saya juga belajar mengenai stigma terhadap lesbian yang dianggap sebagai pembenci laki-laki. Apakah hal yang sama juga dilekatkan pada kaum gay, apakah gay dianggap sebagai pembenci perempuan? Seksualitas lalu disandingkan sebagai akibat rasa benci berlebihan pada gender yang berlawanan. Kebencian ini perlu diuraikan.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Salah jika masyarakat menganggap bahwa kaum homoseksual merasa nyaman dan senang dengan kondisi mereka. Banyak dari mereka yang cenderung melakukan bunuh diri karena putus asa. Tidak mengherankan karena masyarakat sudah menanamkan pada jiwa yang muda untuk membenci konsep homoseksual sehingga kaum homoseksual kemudian belajar untuk membenci diri mereka sendiri.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Masyarakat diajarkan untuk memanggil orang lain dengan atribut gender Pak, Mas, Mbak, Ibu sehingga ketika mereka menghadapi orang dengan gender yang tidak termasuk dalam dualitas kenormalan maka mereka gamang. Dunia selalu dilihat terang dan gelap tanpa maghrib. Tidak ada<span style="">&nbsp; </span>memori pranata sosial yang dapat dirujuk untuk menyikapi hal di luar dualistik kecuali dengan kebencian. Adalah sangat mudah untuk membenci seseorang atau sesuatu yang belum pernah Anda kenal.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Kaum homoseksual mengalami kegamangan itu. Mereka tidak mengenal dan tidak dapat memberi nama bagi diri mereka sendiri. Bagaimana mereka dapat hidup dengan nyaman bila mereka termasuk dalam “kelompok tanpa nama”? Mereka mencari identitas dalam masyarakat heteroseksual yang meyakini pakem gender dualistik. Mereka tidak punya tempat. Jika ada yang dibenci dari kaum homoseksual maka itu adalah kebencian pada diri sendiri, pada tubuh dan jiwa yang mereka miliki, dan pada Tuhan yang telah menciptakan mereka dengan perasaan. </span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Berdamai dengan seluruh perasaan yang berkecamuk dalam pikiran mereka bukan perkara mudah. Menjadi abnormal bagi sebagian orang bukan pilihan melainkan takdir. Membenci kaum homoseksual hanya akan menuangkan cuka di atas luka kebencian yang sudah banyak tercetak dalam jiwa fana pemuja kebenaran absolut. Tuhan bukan Maha Pembenci.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Dapatkah dibayangkan bagaimana seseorang dapat merasa nyaman menjadi dirinya sendiri, ketika semua orang di sekelilingnya membenci dan melihatnya sebagai noda dan calon penghuni neraka? Perlu usaha sangat keras untuk mengonstruksi identitas sebagai manusia yang berbeda.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Pertanyaan saya mengenai “Bagaimana orientasi seksual saya sebenarnya?” dianggap terlalu nyeleneh sehingga menjadi tidak perlu. Mempertanyakannya sudah dianggap sebagai pernyataan bahwa “saya bukan heteroseksual” sehingga melahirkan kecurigaan. Dengan tidak pernah berpacaran, saya semakin terpojokkan. Pengakuan bahwa saya pernah membenci kaum lelaki semakin memperkuat dugaan. Indikasinya jelas, saya mungkin lesbian.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Jika saya jatuh cinta pada laki-laki maka dianggap sebagai penyangkalan. Kesendirian menjadi jalan keluar. Karena cinta telah dibakukan fungsinya sebagai hak milik kaum beda gender. Kaum homoseksual bukan ingin memaksa kelompok lain untuk berada dalam satu aliran dengan mereka. Mereka ingin dikenali, dipahami dan dihargai sebagai suatu identitas sosial yang setara. Memahami realitas berbeda tidak pernah mudah terutama jika kebencian sudah menutup mata. </span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Kenormalan dilanggengkan sehingga cinta dan kasih sayang pasangan heteroseksual wajib dilaporkan, dicatat, dan diresmikan oleh negara. Demi kestabilan politik dan ekonomi, saya menuliskan esai ini dalam halaman web yang memberi saya ruang untuk menjadi perempuan eksperimen.</span></p><br />
<p style="text-align:justify; "><span style="">Yogyakarta</span><span style="">, 12 February 2007</span></p><br />
<p><span>&nbsp;</span></p>]]></description>
<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 05:30:21 GMT</pubDate>
</item>


</channel>
</rss>


