Metodologi Falsifikasi Popper dan Perubahan

Paradigma Pemasaran

 

 

Bobby Reza, S.Kom,MM

Dosen FE - UBL

Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Manajemen UPI - YAI

 

Pemasaran merupakan suatu proses merencanakan dan menjalankan serangkaian konsep mengenai harga,promosi,dan konsep distribusi terhadap suatu ide-ide,barang,dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan individu,organisasi,dan masyarakat (Dalrymple : 1995). Pemasaran memiliki fokus bagaimana agar kita dapat merubah suatu kebutuhan menjadi suatu keinginan,........keinginan untuk memiliki, keinginan untuk mencicipi,keinginan untuk menggunakan dan keinginan untuk memuaskan diri.

Menerapkan pemasaran berarti melakukan usaha-usaha untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh seorang  individu,dan  berusaha membuat suatu produk atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut serta melakukan usaha-usaha untuk meyakinkan individu tersebut bahwa produk atau jasa yang kita hasilkan sesuai dengan yang dia butuhkan. Merubah kebutuhan menjadi keinginan merupakan pekerjaan yang berat dimana disini terjadi “battle of mind”, dimana seorang pemasar harus jeli dan cermat untuk memberikan afeksi kepada seseorang seseorang. Pemasaran merupakan hal yang dinamis sama seperti seorang manusia yang dinamis, memahami manusia yang cepat berubah merupakan tantangan bagi konsep-konsep pemasaran agar cepat mengkondisikan konsepnya dengan perubahan yang terjadi pada seorang manusia.

Pada tulisan ini,penulis ingin menghubungkan perubahan paradigma ilmu pemasaran dengan konsep-konsep metodologi falsifikasi Popper,dimana paradigma pemasaran bersifat dinamis dan bila dihubungkan dengan metoda falsifikasi yang diciptakan oleh Karl Raymund Popper, maka hubungannya akan terlihat jelas bahwa paradigma yang tetap bertahan terhadap falsifikasi  dapat digunakan sebagai metode atau teori sementara. Karl Raimund Popper seorang ahli filsafat yang lahir di Wina pada tahun 1902, karyanya yang pertama adalah The Logic of scientific discovery.

 

Definisi Ilmu

Pengetahuan atau ilmu adalah bagian yang esensial –aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari berpikir. Dan berpikir adalah differentia yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya yaitu hewan, Adalah sangat bijaksana apabila manusia-manusia di muka bumi ini dapat memanfaatkan ilmunya untuk mempelajari berbagai gejala atau peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan ilmu hendaknya dibatasi pada hal yang asasi dan ilmu itu dikembangkan karena ia mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan  manusia. Bila ilmu dikendalikan oleh manusia yang tak bermoral akan membawa maut dan penderitaan yang begitu dahsyat kepada umat manusia, sehingga umat manusia sampai hari ini tetap mendambakan penemuan-penemuan ilmu yang canggih dan modern untuk menciptakan kedamaian dan cinta kasih.

Jika seorang individu mempunyai keinginan untuk mengadakan kontak dengan sumber-sumber pengetahuan yang beragam maka ia harus menggunakan alat pengetahuan yaitu :

1.      Alam fisik

2.      Alam Akal

3.      Analogi

4.      Hati dan ilham

Tanpa indra, soerang manusia tidak akan dapat mengetahui alam fisik, Disebutkan bahwa, barang siapa yang tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah pengetahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksiomatis. Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan syarat yang cukup. Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan untuk menggeneralisasikan –nya dibutuhkan akal. Dalam kajian filsafat Islam yang terakhir, pengetahuan diperoleh melalui indra sebenarnya bukanlah lewat indra. Obyek pengetahuan ada dua macam, yaitu (1) obyek pengetahuan yang substansial, dan (2) obyek pengetahuan yang aksidental. Yang diketahui secara substansial oleh manusia adalah obyek yang ada didalam benaknya, sedangkan realita di luar diketahui olehnya hanya bersifat aksidental. Menurut kajian ini, indra hanya merespon saja dari realita luar ke realita dalam.

Diyakini bahwa alam akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Akal –lah sebenarnya yang menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yang berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolahnya adalah akal. Analogi termasuk alat pengetahuan manusia,analogi ialah menetapkan hukum atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu. Analogi dibagi menjadi dua macam yaitu analogi interpretatif yaitu ketika sebuah kasus yang sudah jelas hukumnya  namun tidak diketahui sebab penetapannya dan analogi yang dijelaskan yaitu kasus yang sudah jelas hukum dan sebab penetapannya. Hati dan Ilham , kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang immateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang im -materi tidak mungkin ada. Sebaiknya kaum ilahi yang meyakini bahwa ada yang lebih luas dari materi,mereka meyakini keberadaan hal-hal yang im materi. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal dan hati, yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati adalah pengetahuan tentang realitas. Ilmu adalah sekelompok pengetahuan yang bercorak tertentu. Tetapi pengetahuan itu sesungguhnya hanyalah hasil dari sejenis aktifitas yang tertentu pula,yakni kegiatan dari manusia dengan mempergunakan budinya untuk memperoleh pemahaman yang benar mengenai alam atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Ilmu dapat berarti aktivitas, metode, pengetahuan dan salah satu cara untuk mendapat ilmu pengetahuan adalah dengan metodologi penelitian.

Ilmu Pemasaran adalah salah satu dari sekian banyak cabang dari ilmu-ilmu sosial yang mana ilmu sosial ini mempunyai dimensi-dimensi sebagai berikut :

1.      Ontologi (sifat dari realitas)

Dunia sosial dan strukturnya ada secara empiris dan nyata serta terpisah dari individu yang ingin mempelajarinya. Dalam mengembangkan suatu ilmu perlu disadari apa substansi  atau hakekat keberadaan ilmu tersebut.

2.      Epistemologi (sifat dari ilmu pengetahuan)

Ilmu pengetahuan diperoleh lewat observasi dan disusun secara sepotong-potong serta ilmu pengetahuan bersifat subyektif dan personal. Dunia sosial hanya dapat dipahami dengan cara mendapatkan pengetahuan dari subyek yang menginvestigasi.

3.      Sifat Manusia (hubungan antara manusia dengan lingkungannya)

Perilaku manusia dan pengalaman-pengalamannya ditentukan dan dibatasi oleh lingkungannya serta manusia memiliki otonomi dan kebebasan serta mampu menciptakan lingkungan yang dikehendakinya.

Sebagai suatu ilmu, pemasaran sudah memenuhi beberapa kriteria yaitu adanya aktifitas,adanya metode-metode, dan adanya pengetahuan.Pemasaran juga dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalam pemasaran terdapat pengembangan-pengembangan dari konsepsinya.Dimana didalam pengem-bangan ilmu pemasaran juga memperhatikan aspek-aspek ontologis yaitu hakekat atau substansi ilmu,epistemologis yaitu arah dari filsafat ilmu yang berbicara bagaimana memperoleh ilmu itu sendiri dan didalam pengembangan ilmu pemasaran juga memperhatikan aspek aksiologi yaitu tujuan atau nilai kegunaan bagi kehidupan masyarakat.

 

 

Ilmu pemasaran alat dan tujuannya.

 

Metode Falsifikasi

Pendekatan falsifikasi dikembangkan oleh Karl Raymund Popper yang tidak puas dengan pendekatan induktif.Menurut Popper, tujuan dari suatu penelitian ilmiah adalah untuk membuktikan kesalahan (falsify) hipotesa, bukannya untuk membuktkan kebnaran hipotesa tersebut. Oleh karena itulah pendekatan ini dinamakan pendekatan falsifikasionisme. Untuk mengatasi masalah empirisme logis, Karl Raymund Popper menawarkan suatu metode alternatif untuk menjustifikasi suatu teori.Popper menerima kenyataan bahwa observasi selalu diawali oleh suatu sistem yang diharapkan. Proses ilmu pengetahuan berawal dari observasi yang berbenturan dengan teori yang ada atau prakonsepsi.

Jika masalah ini terjadi maka kita dihadapkan kepada masalah ilmu pengetahuan,teori kemudian diajukan untuk memecahkan masalah dan hipotesa diuji secara empiris yang tujuannya menolak hipotesa.Jika peramalan teori itu disalahkan (falsify),maka teori tersebut ditolak. Teori yang tahan uji dari falsifikasi dikatakan bahwa teori tersebut kuat dan dapat diterima sementara sebagai teori yang benar. Menurut falsifikasionis ilmu berkembang secara pendugaan dan penolakan (conjencture and refutation) atau secara trial and error, tujuan ilmu adalah memecahkan masalah dan pemecahan masalah tadi diwujudkan dalam yeori yang mungkin akan disalahkan secara tes empiris. Teori yang bertahan dan tidak dapat disalahkan akan diterima secara tentatif untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, teori menurut pendekatan falsifikasi adalah hipotesa yang belum dibuktikan kesalahannya. Teori bukanlah sesuatu yang benar atau faktual tetapi sesuatu yang belum terbukti salah. Proses dari falsifikasi Popper, dapat dilihat pada gambar berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah-langkah Pengujian Falsifikasi Popper

 

Pada gambar langkah-langkah pengujian falsifikasi, terlihat bahwa fakta yang didapat dari pengalaman pada saat berbenturan dengan teori bila ia konsisten, maka ia akan diterima sebagai teori yang digunakan saat ini. Bila tidak kita membuat suatu teori dimana suatu hipotesis dimunculkan dan diuji secara empiris.Pada saat teori tersebut tidak sesuai dengan kebenaran atau falsified maka teori tersebut ditolak lalu kita kembali membuat suatu teori. Bila teori tersebut lolos dari falsifikasi maka  teori tersebut diterima sebagai teori yang digunakan sementara.

 

Perubahan Paradigma Pemasaran

 

Marketing Mix

Definisi pemasaran , seperti yang kita ketahui bersama bahwa pemasaran  menurut Phillip Kottler adalah kegiatan manusia (para individu dan organisasi) yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan melalui proses pertukaran. Peter Drucker mengatakan bahwa dunia usaha dalam aktivitas usahanya hanya memiliki dua fungsi dasar yaitu fungsi pemasaran dan fungsi inovasi terhadap produk atau jasa yang ditawarkan suatu perusahaan. Dengan selalu menghasilkan inovasi terhadap produk atau jasa yang ditawarkan maka perusahaan sudah memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh perusahaan yang lain atau dalam kalimat lain telah melakukan diferensiasi terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Dengan bantuan fungsi pemasaran, produk atau jasa yang ditawarkan diolah sedemikian rupa dengan menggunakan konsep bauran pemasaran atau yang lebih dikenal dengan marketing mix.

            Lewat konsep bauran pemasaran, mulai dipikirkan bagaimana produk atau    jasa tersebut dikemas, diberikan merek,memiliki karakteristik,berapa tingkat harga yang akan ditawarkan,berapa tingkat diskon yang akan diberikan,bagaimana produk atau jasa tersebut didistribusikan dan yang terakhir dipikirkan melalui media apa produk atau jasa tersebut akan dikenal. Konsep ini lebih dikenal dengan 4Ps (The Four P’s) yaitu product, price, place, dan promotion, lewat konsep inilah kita dihujani berbagai macam produk atau jasa dengan kostum yang berbeda-beda dan cara untuk mendapatinya pun berbeda pula.

            Hujan merk,hujan diskon dari berbagai macam produk atau jasa yang ditawarkan kepada kita merupakan akibat yang timbul dari polesan konsep-konsep pemasaran yang diterapkan suatu perusahaan untuk memenangkan persaingan bisnisnya. Letak kelemahan konsep ini adalah mengabaikan kepuasan pelanggan yang seharusnya ditempat pada posisi teratas.

 

Customer Satisfaction

Paradigma perubahan dari konsep pemasaran yang berorientasi produk,produksi dan penjualan mulai bergeser dengan menempatkan kepuasan pelanggan atau customer satisfaction sebagai salah satu kunci sukses memenangkan persaingan.Kepuasan adalah perasaan seseorang yang dapat berupa senang atau tidak senang sebagai hasil perbandingan antara kinerja atau kegunaan suatu produk atau jasa yang dihubungkan dengan pengharapannya, dalam padanan lain sebaik apapun,sebagus apapun,dan semurah berapapun suatu produk atau jasa yang ditawarkan ke pasar tidak akan pernah memenangkan persaingan bila kepuasan pelanggan tidak terjadi. Hal ini dibuktikan pada saat booming –nya transportasi udara kita, banyak perusahan penerbangan domestik kita yang menawarkan harga termurah dengan fasilitas yang relatif hampir sama, ternyata hanya  dalam waktu beberapa bulan saja perusahaan-perusahaan  tersebut  mulai berguguran satu persatu karena masalah-masalah mulai dari tempat duduk yang sempit,penerbangan yang terlambat bahkan penerbangan yang batal semua itu membawa pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan atau customer satisfaction.

Customer is the king, pelanggan adalah raja bila pelanggan sudah melakukan penilaian atas suatu produk atau jasa yang ditawarkan maka hanya ada dua kata yaitu menang dalam persaingan atau kalah dalam persaingan, menang dalam persaingan berarti keuntungan besar dan kalah dalam persaingan berarti Out of business.

            Pengaruh teknologi, ilmu pengetahuan dan globalisasi membawa perubahan kedalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif dimana jarak dan batasan negara bukan merupakan suatu masalah,dimana teknologi dan ilmu pengetahuan mengubah cara dan proses dalam berbisnis, dan dimana masyarakat di suatu negara dapat menikmati suatu produk atau jasa tanpa perlu menemui kesulitan untuk mencari produk atau jasa tersebut ke negara asalnya. Dibuktikan dengan begitu banyaknya perusahaan asing yang menyerbu negara kita untuk menawarkan produk atau jasa yang dimilikinya dan pada akhirnya mereka membuka fasilitas produksi di negara kita, ada beberapa motif yang melatar belakangi berdirinya perusahaan-perusahaan asing tersebut ke Indonesia, yaitu :

1.      Motif pasar atau market motives

2.      Motif strategis atau strategic motives

3.      Motif ekonomi atau economics motives

Adanya paradigma perubahan lingkungan bisnis yang semakin kompetitif membawa pengaruh yang besar, organisasi dituntut untuk mempunyai kekuatan bersaing atau mempunyai keunggulan  yang berbeda dari organisasi yang lain,untuk itulah organisasi harus mempunyai core competency dan core capability, dengan mempunyai kedua elemen tersebut organisasi akan lebih banyak memusatkan perhatian dan memantapkan setiap langkah aktifitas bisnisnya sesuai core competency dan core capability nya. Dengan memiliki core compentency dan core capability, individu-individu yang berada didalam suatu organisasi dapat memahami kekuatan yang dimiliki oleh organisasinya untuk menanggapi peluang yang timbul dan mempunyai jawaban atas segala threats.  

 

Relationship Marketing

Paradigma perubahan berikutnya adalah pergeseran transactional marketing menjadi relationship marketing.Dimana transactional marketing berfokus kepada transaksi-transaksi yang timbul sebagai imbas dari program-program pemasaran yang dijalankan organisasi. Setelah transaksi terjadi maka putuslah hubungan antara organisasi penghasil produk atau jasa dengan konsumennya. Relationship marketing adalah suatu kiat untuk membangun  hubungan jangka panjang yang memuaskan dengan semua partai terkait yaitu pelanggan,supplier dengan distributor. Kiat ini ditempuh untuk menumbuhkan company- consumer loyality dan meninggikan switching barrier (batasan untuk pelanggan dengan mudah berubah ke produk lain).

Meningkatnya kompetisi dan kompleksitas produk atau jasa di pasar memberi tekanan yang kuat jauh dari segala macam transaksi, menuntut adanya hubungan yang sangat kuat antara penjual dan pembeli. Tenaga penjualan merupakan individu yang langsung berhadapan dengan pelanggan, dimana tenaga penjualan ini dituntut untuk dapat membuat hubungan mutualisme yang berkelanjutan dengan terus mengedukasi pelanggan terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Ada tiga faktor utama yang penting mengapa relationship marketing ini harus dibangun dan diwujudkan suatu organisasi, faktor –faktor tersebut antara lain

1.       Dengan adanya relationship marketing, pelanggan akan mendapatkan edukasi yang cukup terhadap barang atau jasa yang ditawarkan ditengah derasnya kompetisi dan kompleksitas produk atau jasa di pasar.

2.       Dengan adanya relationship marketing, pembeli dan penjual akan dapat  saling bertukar informasi mengenai suatu produk atau jasa yang ditawarkan atau yang akan dibangun. Sehingga produk atau jasa yang dijual akan mudah beradaptasi dengan pelanggan yang lain.

3.       Dengan adanya relationship marketing, mempertahankan pelanggan bukan hal yang sulit lagi karena disini telah tercipta hubungan yang dekat dan saling menguntungkan. Organisasi akan lebih mengerti budaya pelanggan dan keinginan-keinginan yang dipunyai oleh pelanggan terhadap produk atau jasa yang dijual, dengan demikian pasar pun akan lebih terproteksi.

 

 

 

 

Customer Relationship

Dengan sentuhan managemen, konsep relationship marketing ini dikenal dengan nama Customer Relationship Management atau CRM. Sentuhan manajemen diperlukan didalam relationship marketing agar hubungan  antara semua unsur yang terkait dapat bertahan lama (long term relationship). Agar dapat secara efektif mengelola hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan, perlu dibangun pondasi dasar customer relationship management dimana pondasi tersebut antara lain adalah :

1.             Mengidentifikasikan pelanggan dan calon pelanggan berdasarkan nama dan alamatnya, maksudnya disini adalah memotivasi pelanggan untuk menuliskan secara jelas identitas mereka agar organisasi dapat dengan mudah berkomunikasi secara langsung.

2.             Membuat database relationship management, seluruh informasi mengenai pelanggan disimpan didalam media penyimpanan komputer agar dapat mempermudah akses terhadap informasi tersebut.

3.             Menyimpan segala interaksi dan penggunaan produk atau jasa,  pada tahap ini seluruh pembelian atau penggunaan atas suatu  produk/jasa oleh pelanggan disimpan agar dapat mempermudah manajemen untuk dapat selalu memenuhi kebutuhan pelanggan.

4.             Mengumpulkan informasi terhadap perencanaan kebutuhan pelanggan dimasa yang akan datang.

Seiring dengan perkembangan jaman yang begitu cepat berubah dan mobilitas penduduk yang semakin cepat berubah pula.Konsep Customer Relatinship Management dengan memberikan sentuhan teknologi timbulah konsep baru yang dinamakan E-CRM dimana secara elektronis pelanggan dapat memiliki akses yang cepat kepada perusahaan melalui jaringan elektronis.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan agar pelanggan mau melakukan pembelian ulang atau re-purchase ditelurkanlah konsep loyalitas pelanggan dimana pelanggan selalu setia untuk mengkonsumsi atau menggunakan produk atau jasa yang ada, Agar konsep ini dapat terwujud maka konsep brand equity menjadi sangat relevan.Equity merupakan  merupakan persepsi dalam tahap kualitas dimana didalamnya mengandung hubungan emosional. Ekuitas terhadap merek dapat menghasilkan sikap pelanggan dari yang akan mengganti merek karena alasan harga sampai pelanggan yang terikat pada merek tersebut dan tidak memperdulikan berapapun harga untuk mendapatkannya. Dalam perkembangannya Ekuitas Merk dirasa tidak cukup karena banyak functional dependent dapat mudah untuk ditiru. Fitur dan benefit dari sebuah produk atau jasa saja tidak akan berdaya untuk membujuk konsumen ditengah supremasi merek,komunikasi dan teknologi informasi serta kebutuhan masyarakat terhadap hiburan dan rekreasi.

 

Emotional Branding & Experential Marketing

Untuk itulah paradigma pemasaran sudah bergeser dengan konsep Emotional Branding, dalam bukunya Mare Gobe menerangkan bahwa Emotional Branding adalah upaya mengembangkan merek dengan menonjolkan benefit emosional daripada menonjolkan benefit fungsional (fitur-fitur) dan rasional (harga).

Merek harus dapat merasakan denyut emosi dan keinginan konsumen supaya menciptakan suatu hubungan jangka panjang yang kokoh, dengan adanya koneksi emosional inilah merek bisa dibedakan dengan merek yang lain. Dengan menggali sisi emosional produk, pemasar dapat mengembangkan keunikan-keunikan intangible mereknya ditengah-tengah merek pesaing, sehingga mereknya tidak dapat ditiru atau ditandingi merek lain. Dengan menerapkan Emotional Branding pemasar juga bisa menaikkan produk atau jasanya ke level premium sehinga bisa mendongkrak harga dan meraih margin yang lebih tinggi.

Untuk terjadinya Emotional Branding diperlukan konsep Experential Marketing yang ditawarkan Bernd Schmitt, pada dasarnya dengan konsep ini mengajak kita keluar dari pendekatan tradisional yang terlalu bertumpu pada produk (fitur) dan benefit dengan menambahkan unsur emosi kedalam bauran pemasaran untuk membujuk konsumen. Pada konsep ini mengandung pendekatan-pendekatan yang holistik menyentuh sisi panca indra,emosi dan tingkah laku seorang manusia dengan unsur-unsur Sense (indra), Feel (perasaan/afeksi), Think (kognitif), Act (fisik dan gaya hidup), dan Relate (hubungan kultur).

 

Hosted by www.Geocities.ws

1