MANUSIA DAN STRUKTUR PSIKOLOGISNYA
Diupdated
pada: Jumat 28 September 2001
Kutipan dari
"Pengalaman Tasauf (1)"
BAGIAN ini akan menggambarkan bagaimana struktur
psikologis manusia menurut pandangan para Sufi. Seperti
telah disinggung pada bagian-bagian terdahulu, bahwa
manusia adalah mikrokosmos yang mencerminkan
keadaan makrokosmos. Maka sebagaimana makrokosmos terbagi
ke dalam tiga alam, alam makna/ruhani, alam
dunia/jasmani, dan alam misal sebagai perantaranya, maka
demikian juga alam mikrokosmos terbagi kedalam tiga
komponen: ruh, jiwa dan jasad.
Ruh adalah dimensi yang paling ilahi yang
dimiliki oleh manusia karena ia ditiupkan dari Ruh Tuhan.
Ruh berasal dari Dunia Perintah, dan seperti
dunia perintah itu sendiri ruh tidak bisa dibagi,
dikuantitaskan dan dilahirkan, sedangkan jasad berasal
dari Dunia ciptaan, dan karena itu, seperti
dunia ciptaan itu sendiri, jasad bisa dibagi,
dipilah-pilah dan dikuantitaskan. Adapun ruh adalah
prinsip kehidupan yang berperan aktif dan efektif
terhadap jasad. Tanpa ruh jasad manusia adalah benda
mati. Ruh adalah ibarat penunggang kuda yang
mengendalikan jasad kuda kearah yang dikehendakinya. Ruh
adalah tuan sedangkan badan adalah budaknya; ruh adalah
prinsip pemberi sedangkan jasad adalah prinsip penerima.
Meskipun ruh itu bisa mempengaruhi badan, tetapi
sesungguhnya kontak ruh dan badan hanya bisa dilaksanakan
melalui perantaraan jiwa (nafs). Karena itu seperti alam
misal pada tataran makrokosmik, jiwa merupakan barzakh
(perantara) dengan mana kedua substansi yang sangat
berbeda itu (ruh dan jasad) bisa mengadakan komunikasi.
Kalau tidak maka mustahil keduanya bisa menjalankan
fungsinya masing-masing. Al Quran sering merujuk
nafs sebagai diri manusia, yaitu mewakili
manusia secara keseluruhan, baik jasmaninya maupun
rohaninya, dan ini mungkin disebabkan oleh peran sentral
yang dimainkan oleh jiwa dalam menyatukan keduanya.
Berbicara tentang nafs Al-Quran menyebutkan tiga
tingkat nafs: al-nafs al-ammarah, nafsu yang mendorong
manusia ke arah yang buruk; al-nafs al-lawwamah, nafsu
yang menyalahkan dan mencela kalau kita melakukan sesuatu
dosa, dan al-nafs al-muthmainnah, yaitu jiwa yang
telah mencapai keseimbangan dan ketenangan. Sedangkan
menurut para filosof dan juga Sufi tertentu, jiwa manusia
bisa di bagi kedalam tiga bagian, yaitu al- nafs
al-syahwiyah, yaitu daya jiwa yang biasanya mewakili jiwa
tumbuh-tumbuhan, seperti makan, tumbuh dan berkembang
biak, al-nafs al-ghadlabiyah, daya marah yang biasanya
dianggap mewakili jiwa hewani, seperti
sensasi/penginderaan, dan gerak (locomotion), dan
terakhir al-nafs al-nuthqiyyah yaitu jiwa rasional yang
mewakili jiwa manusia.
Inilah tiga komponen utama yang ada pada diri manusia,
yang mendapat banyak kesepakatan dari para Sufi. Meskipun
begitu Al- Quran juga berbicara tentang daya batin
lain yang belum termasuk ke dalam trikhotomi manusia di
atas, seperti hati, akal, dan shudur (dada). Di manakah
posisi mereka dalam trilogi manusia tersebut? Para Sufi
aliran Ibn Arabi seperti Kasyani, dan lainnya,
menempatkan hati diantara ruh dan jiwa. Seperti jiwa
menjadi perantara antara ruh dan jasad, maka hati (qalb)
juga berada di antara, dan mendapat pengaruh dari, ruh
dan jiwa.
Hati (qalb) yang dalam bahasa Arabnya berarti
bolak-balik, mengisyaratkan keadaan hati yang
mudah terpengaruh. Karena itu hati dapat dipengaruhi baik
oleh ruh maupun oleh jiwa, dengan segala konsekuensinya.
Ketika hati mendapat pengaruh dari ruh, maka ia akan
tercerahkan, karena ruh akan meneranginya dengan cahaya
Ilahi, dan karena ruh berasal dari Tuhan yang Esa dan
menjadi prinsip kesatuan (tawhid) maka ruh, ketika
mempengaruhi jiwa, akan membimbingnya kepada tawhid. Dan
ketika jiwa itu telah betul-betul terbimbing kepada
tawhid, maka jiwa akan menjadi jiwa rasional (al-nafs
al-nuthqiyyah), atau dengan kata lain, jiwa menjadi
akal. Tapi ketika hati mendapat pengaruh dari
jiwa, maka ia akan terkaburkan oleh kotoran jiwa yang
bersentuhan dengan materi, dan karena jiwa mengarah ke
materi dan materi adalah sumber keanekaan, maka hati akan
terpecah-pecah dan jauh dari ketawhidan, bahkan hati
manusia bisa jadi mensekutukan Tuhan, karena pemujaannya
kepada selain diri-Nya, sehingga ia akan menodai
keikhlasan dan ketawhidannya. Jiwa yang seperti ini akan
menjadi apa yang disebut dalam al-Quan sebagai
Shudur (dada), tempat syaitan membisikkan
rayuan-rayuannya.
Sejauh ini kita telah menjabarkan struktur psikologis
Sufi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Kasyani. Meskipun
begitu kita juga punya gambaran yang lebih dinamis
tentang daya-daya jiwa tersebut karena ia menunjukkan
fungsi-fungsi dari daya-daya terebut dari Naquib
al-Attas. Menurut al-Attas, apa yang kita katakan ruh,
nafs, qalb, dan akal, sesungguhnya bukan merupakan
kecakapan yang maing-masing berdiri sendiri-sendiri,
tetapi masing-masing mereka merupakan aspek-aspek dari
substansi yang sama yang mungkin kita sebut jiwa, sebagai
antitetis dari raga dan tubuh. Daya-daya tersebut tidak
berbeda dari sudut substasinya, tetapi berbeda dari sudut
fungsinya. Ketika jiwa kita mengarahkan
dirinya kepada asalnya yang bersifat ruhani, maka ia
disebut ruh; ketika ia mengadakan penalaran rasional dan
diskursif, maka ia kita sebut akal, ketika ia
mendapatkan cahaya dari Tuhan secara langsung
(mukasyafah), ia disebut qalb, dan ketika ia
berhubungan dengan badan, maka ia disebut
nafs. Karena itu dapat disimpulkan bahwa ruh,
akal, qalb, dan nafs, sesungguhnya sama dalam esensinya,
tetapi berbeda dalam fungsinya, sehingga mereka mendapat
nama yang berbeda pula.
|