The Effect of Used Waste Methyl Ester as Suplement Fuel to Durability of Diesel Engine

Pengaruh Penggunaan Jelantah Methyl Ester Sebagai Bahan Bakar Supelemen Terhadap Ketahanan Motor Diesel

 

by:

Aguk Zuhdi MF and Wisnu Hakiki

Department of Marine Engineering

Faculty of Ocean of Technology

Institute of Technology of (Sepuluh November) Surabaya - ITS

INDONESIA

Contact Person: Aguk Zuhdi MF( [email protected] )

Published on  March 2005

ABSTRACT

The use of diesel engines are increasing at the moment, the other hand suplies of petrolium base diesel oil in the market decreasing. There for we need alternative fuels to use as suplement fuel for diesel engines.  Many research  alternative fuel including waste methyl ester have been developed and being promoted as suplement for diesel oil. Engine manufacture did not test their engine product with alternative fuel . For that reason we need to conduct durability test of engines with alternative fuel. This test due to know the effect of using alternative fuel toward component of diesel engine.

There are two ways of durability test, with on the road durability test and laboratory test. On the road durability test is engine being  runing in a real condition with certain distances,  as  a result is exactly same in the real. Laboratory test usually conducting in engine test bed or chasis dynamometer. This test is following engine manufacturing (EMA) standard. However, the engine have to operate with variable speed and variable load for certain times.

This research was used laboratory test. Engine was run about 200 hours with 15 hours run and 9 hours over night as a cycle. The result are: The engine was passed of 200 hours test wethout eny problems with 4 steps EMA standard. Performance of diesel engine was not significantly decreased. Acording to engine component inspections, there was more carbon deposit at injector. From lubrication test, only Fe was greather comparing if we used diesel oil as fuel. This indication introduce that cylinder liner was more wear if using waste methyl ester as fuel suplement. From lubrication test olso indicated that water content was greather than used diesel oil as fuel.

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

      Motor diesel masih menjadi pilihan dalam hal pengerak mula dengan alasan adalah mempunyai durability (ketahanan) dan Reliability (keandalan) yang tinggi. Tentu dengan adanya alasan tersebut durability (ketahanan) dan Reliability (keandalan) yang dimiliki mesin diesel sedapat mungkin dapat dipertahankan atau diharapkan menjadi lebih baik ketika dicoba dengan menggunakan bahan bakar lain. Terutama ketika dicoba dengan jelantah methyl ester yang mempunyai nilai viskositas lebih tinggi.

       Pemakaian Campuran Jelantah Methyl Esther (JME) dan solar dengan perbandingan 10:90 menaikkan daya efektif motor diesel jika dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar solar murni pada rpm dan pembebanan tertentu. Kenaikan terjadi pula pada campuran 20:80 dan 30:70. Bahkan dengan komposisi bahan bakar JME 100%  pada putaran 2000 rpm terjadi peningkatan daya efektif sebesar 30.34% jika dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar solar. (Fara, 2002). JME akan dipromosikan sebagai bahan bakar pengganti solar dan kemudian akan luas digunakan sebagai bahan bakar dimasa mendatang.

      Pilihan motor diesel sebagai objek penelitian didasarkan pada keyakinan bahwa jenis motor ini masih memiliki daya saing yang baik dengan jenis penggerak mula lainnya secara komersial bahkan pada masa mendatang, motor diesel merupakan jenis penggerak yang perlu diperhitungkan. Dengan makin langkanya bahan bakar konvensional, maka perlu dipikirkan bahan bakar pengganti yang tepat sasaran.

      Sudah beberapa peneliti yang menggunakan jelantah sebagai bahan pembuat methyl esther. Reed TB menggunakan minyak jelantah kedelai, biodiesel ini dipergunakan sebagai pencampur minyak solar sebagai bahan bakar diesel engine pada bus kota didenver dan Perubahan power tidak terjadi secara signifikan. Mittelback telah mengoleksi minyak jelantah dari restoran-restoran dan beberapa tempat lainnya untuk dibuat biodiesel serta peneliti lainnya telah mempelajari pengaruh physical dan chemical properties biodiesel pada kinerja mesin diesel tipe direct injection

      JME mempunyai viskositas dan berat jenis yang masih dalam batas yang diijinkan sebagai bahan bakar motor diesel, pada suhu kamar viskositas kinematisnya 7.5 cst (lebih tinggi 27.11%dari minyak solar) dan berat jenisnya 800 kg/m3 (lebih kecil 3.75% dari minyak solar) serta memiliki cetane number yang lebih tinggi dari solar sehingga mempengaruhi proses pembakaran. Pencampuran minyak solar dengan JME berpengaruh terhadap daya yang dihasilkan dan konsumsi bahan bakar spesifik motor diesel jika dibandingkan dengan menggunakan minyak solar. Daya yang dihasilkan unutk JME 10, JME 20, JME 30 cenderung mengalami peningkatan pada putaran 2000 dan 2400 (Fara, 2002).

 Setiap Engine Manufaktur tidak mengetes ketahanan (durability) enginenya dengan bahan bakar alternatif, oleh sebab itu apabila ada bahan bakar alternatif maka perlu adanya pengujian ketahanan engine (uji durability). Ada dua cara yang lazim digunakan dalam pengujian ketahanan engine yaitu pengujian laboratory dengan menggunakan engine test bed atau chasis dinamometer. Pengujian laboratory dengan menggunakan engine test bed atau chasis dinamometer mengikuti prosedur yang diberikan oleh Engine Manufaktur Association (EMA). Peneliti yang memproduksi (membuat) bahan bakar alternatif dianjurkan untuk menguji ketahanan engine selama 200 jam dengan variasi dan waktu pembebanan yang telah ditentukan dan onroad durability test. Onroad durability test bukan pengujian yang dilakukan oleh engine manufaktur. Kelebihan dari pengujian semacam ini adalah kita dapat mengetahui ketahanan secara real dari engine (Zuhdi, 2003).

1.2. Perumusan Masalah

JME telah sukses diproduksi di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, selain itu juga telah sukses digunakan pada motor diesel dan performancenya tidak jauh berbeda dengan motor diesel yang menggunakan bahan bakar solar. Tetapi pengaruh penggunaan JME terhadap komponen-komponen mesin belum diketahui karena Engine manufaktur tidak pernah menguji produknya dengan menggunakan bahan bakar JME untuk itu perlu uji ketahanan motor diesel dengan bahan bakar JME. Banyak metode pengujian ketahanan motor diesel, EMA menganjurkan untuk menguji ketahanan engine selama 200 jam dengan variasi dan waktu pembebanan yang telah ditentukan.

Dalam uji durability kemungkinan terbentuk kerak pada injektor, silinder head serta komponen-komponen lain dan terjadi engine wear yang terlihat dalam kandungan logam di minyak pelumasnya sehingga seberapa besar efek dari pembentukan deposit atau kerak terhadap kekuatan komponen mesin harus diketahui.

Penelitian ini dinilai penting karena akan memberikan informasi pengaruh penggunaan JME sebagai bahan bakar terhadap komponen-komponen motor diesel.

1.3. Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui tingkat durability motor diesel dengan menggunakan bahan bakar solar.

  2. Mengetahui tingkat durability pada motor diesel yang menggunakan bahan bakar jelantah methyl ester

  3. Membandingkan durability pada motor diesel akibat menggunakan bahan bakar jelantah methyl ester dengan durability yang menggunakan bahan bakar solar.

1.4. Manfaat Penulisan

  1. Memberikan informasi kepada masyarakat pengguna motor diesel tentang penggunaan dan efek pemakaian jelantah methyl ester sebagai bahan bakar  alternatif.

  2. Memberikan alternatif bahan bakar yang renewable.

1.5. Batasan Masalah

  1. Bahan bakar solar yang dipakai dalam percobaan adalah solar yang dijual dipasaran Indonesia (SPBU) yang merupakan produksi PERTAMINA.

  2. Minyak goreng bekas yang dipakai berasal dari pabrik krupuk industri rumah tangga.

  3. Metode esterifikasi yang dipakai adalah metode Aguk Zuhdi yang dipakai pada Laporan Riset RUT VIII bidang teknologi Industri

  4. Hasil percobaan berlaku pada mesin DONG FENG 8 HP TYPE R 180 yang dipakai sebagai mesin uji coba.

BAB II

TELAAH PUSTAKA

 

2.1 Umum

Motor diesel masih menjadi pilihan dalam hal penggerak mula dengan alasan adalah mempunyai durability (ketahanan) dan Reliability (keandalan) yang tinggi (Zuhdi dkk,1996). Tentu dengan adanya alasan tersebut durability (ketahanan) dan Reliability (keandalan) yang dimiliki mesin diesel sedapat mungkin dapat dipertahankan atau diharapkan menjadi lebih baik ketika dicoba dengan menggunakan bahan bakar lain. Terutama ketika dicoba dengan jelantah methyl ester yang mempunyai nilai viskositas lebih tinggi.

Motor diesel banyak diaplikasikan pada berbagai area karena efisiensinya yang tinggi serta memiliki ketahanan (Durability), kepercayaan (reliability) yang lebih baik bila dibandingkan dengan beberapa penggerak mula yang lain (Zuhdi dkk, 1996).

Pilihan motor diesel sebagai objek penelitian didasarkan pada keyakinan bahwa jenis motor ini masih memiliki daya saing yang baik dengan jenis penggerak mula lainnya secara komersial bahkan pada masa mendatang, motor diesel merupakan jenis penggerak yang perlu diperhitungkan. Dengan makin langkanya bahan bakar konvensional, maka perlu dipikirkan bahan bakar pengganti yang tepat sasaran.

2.2 Jelantah Methyl Ester

Jelantah sisa penggorengan yang tidak bisa dipergunakan harus dibuang. Sisa penggorengan ini akan berdampak kepada lingkungan apabila tidak diolah secara benar. Sisa penggorengan yang tidak berguna ini bisa dimanfaatkan sebagai bio-diesel. Biodiesel tsb dapat dipakai sebagai kompelemen minyak solar (gas oil) sebagai penggerak motor diesel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai campuran methyl esther dari jelantah dengan minyak solar tidak menurunkan kinerja mesin secara signifikan (Zuhdi,2002).

Sudah beberapa peneliti yang menggunakan jelantah sebagai bahan pembuat methyl esther. Reed TB menggunakan minyak jelantah kedelai, biodiesel ini dipergunakan sebagai pencampur minyak solar sebagai bahan bakar diesel engine pada bus kota didenver dan Perubahan power tidak terjadi secara signifikan. Mittelback telah mengoleksi minyak jelantah dari restoran-restoran dan beberapa tempat lainnya untuk dibuat biodiesel serta peneliti lainnya telah mempelajari pengaruh physical dan chemical properties biodiesel pada kinerja mesin diesel tipe direct injection

Pemakaian Campuran Jelantah Methyl Esther (JME) dan solar dengan perbandingan 10:90 menaikkan daya efektif motor diesel jika dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar solar murni pada rpm dan pembebanan tertentu. Kenaikan terjadi pula pada campuran 20:80 dan 30:70. Bahkan dengan komposisi bahan bakar JME 100%  pada putaran 2000 rpm terjadi peningkatan daya efektif sebesar 30.34% jika dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar solar. (Fara, 2002). JME akan dipromosikan sebagai bahan bakar pengganti solar dan kemudian akan luas digunakan sebagai bahan bakar dimasa mendatang.

JME mempunyai viskositas dan berat jenis yang masih dalam batas yang diijinkan sebagai bahan bakar motor diesel, pada suhu kamar viskositas kinematisnya 9.48 cst lebih tinggi dari minyak solar dan berat jenisnya 895.3 kg/m3 lebih besar dari minyak solar serta memiliki cetane number yang lebih tinggi dari solar sehingga mempengaruhi proses pembakaran. Pencampuran minyak solar dengan JME berpengaruh terhadap daya yang dihasilkan dan konsumsi bahan bakar spesifik motor diesel jika dibandingkan dengan menggunakan minyak solar. Daya yang dihasilkan unutk JME 10, JME 20, JME 30 cenderung mengalami peningkatan pada putaran 2000 dan 2400. (Fara, 2002).

2.3 Uji Ketahanan

Setiap Engine Manufaktur tidak mengetes ketahanan (durability) enginenya dengan bahan bakar alternatif, oleh sebab itu apabila ada bahan bakar alternatif maka perlu adanya pengujian ketahanan engine (uji durability). Ada dua cara yang lazim digunakan dalam pengujian ketahanan engine yaitu pengujian laboratory dengan menggunakan engine test bed atau chasis dinamometer. Pengujian laboratory dengan menggunakan engine test bed atau chasis dinamometer mengikuti prosedur yang diberikan oleh Engine Manufaktur Association (EMA) (Zuhdi 2003)

Penelitian yang memproduksi (membuat) bahan bakar alternatif dianjurkan untuk menguji ketahanan engine selama 200 jam dengan variasi dan waktu pembebanan yang telah ditentukan dan onroad durability test. Onroad durability test bukan pengujian yang dilakukan oleh engine manufaktur. Kelebihan dari pengujian semacam ini adalah kita dapat mengetahui ketahanan secara real dari engine (Zuhdi, 2004).

Pengujian durability (ketahanan) motor diesel dilakukan selama 200 jam untuk mengevaluasi pengaruh jangka panjang pengoperasian campuran biodisel-solar pada performance, durability dan sistem injeksi. Campuran 50:50 dipilih karena, mempertimbangkan pilihan optimum antara penggantian substansial dari diesel fuel dan aplikasi praktis dilapangan.

Cara pengujian yang direkomendasikan EMA adalah :

Ø            Low idle yaitu motor diesel dioperasikan tanpa beban dimana kecepatannya adalah kecepatan minimum motor dapat hidup langkah ini dilakukan selama 30 menit.

Ø            High idle yaitu motor diesel dioperasikan dengan besarnya beban 25
% dari maksimum torsi dan kecepatan diatur sebesar 90% dari rated power speed. Langkah ini dilakukan selama 30 menit.

Ø            Rated power speed yaitu pengoperasian mesin diesel pada kecepatan maksimum sesuai dengan spesifikasi motor tersebut kemudian beban diatur pada beban maksimum. langkah ini dilakukan selama 60 menit.

Ø            Peak torque speed yaitu pengoperasian kecepatan dan beban motor diesel pada  saat mengalami torsi maksimum langkah ini dilakukan selama 60 menit.

Siklus diatas diulangi lima kali (15 jam) kemudian diistirahatkan selama semalam. Ulangi siklus diatas secara penuh sampai pengoperasian selama 200 jam terpenuhi. Kemudian sample minyak pelumas diambil setelah motor diesel dijalankan selama 200 jam. (Baranescu and Lusco, 1982).

Engine Wear dievaluasi berdasarkan konsentrasi dari kandungan logam yang terdapat pada minyak pelumas. Kandungan logam yang terdapat pada minyak pelumas setelah engine dioperasikan selama 200 jam adalah Tembaga (CU), besi (FE), Cromium (CR), Timah (Pb), Almunium (Al), Silicon (Si) dan Sodium (Na). Sumber utama dari kandungan logam ini yang berhasil di identifikasi adalah bantalan (bearing), ring, silinder piston, bagian-bagian mesin yang bergerak lainnya yang terbuat dari besi tuang. ( Ali and  Hannah, 1996).

Fort dan Blumberg (1982) dengan menggunakan bahan bakar cotton seed oil blends untuk mengoperasikan engine inline 6 silinder yang mengikuti standart uji EMA mengalami semua part seperti liner, rings, piston dlltelah diamati. Dalam pengetesan setelah 189 jam, engine sangat bising ketika dioperasikan pada mode idle, setelah diinspeksi ternyata semua permukaan top ring terdapat karbon deposityang sangat berat, selain itu minyak pelumas mengalami peningkatan viskositas yang sagat signifikan.

Kaufman and Ziejewski (1984) dengan menggunakan sun flower methyl esther digunakan untuk mengoperasikan allis Charmers diesel engine 4331, turbocahrge andf intercooled 4 silinder. Sama seperti peneliti yang lainnya menggunakan prosedur yang dianjurkan oleh EMA . hasil pengetesan yang kurang menguntungkan adalah kesulitan terhadap engine start, konsumsi bahan bakar sedikit boros dan karbon depositlebih banyak menempel pada piton ring nomer 3 dan 4.

Ali dan Hannah (1997) dengan menggunakan Cummins N14-410 diesel engine dengan bahab bakar diesel fuel, methyl tallowate dan ethanol blend. Ketahanan engine diuji dengan prosedur EMA selama 200 jam seperti peneliti lainnya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada perubahan power torsi. Pelumas juga tidak mengalami perubahan viskositas selama 100 jam. 3 macam injektor mengalami gangguan pada periode waktu yang berbeda.

Dengan pengoperasian Mesin selama 200 jam, komponen-komponen diesel yang mengalami keausan dapat ditelusuri dari hasil pengujian secara laboratorium terhadap logam-logam yang berada dalam minyak lumas bekasnya. Dengan diketahui jenis logam yang berada di dalam minyak lumas bekas maka dapat diperkirakan pula komponen mesin yang mengalami keausan atau dapat diperkirakan seberapa jauh mesin itu dapat beroperasi (Subiyanto, 1990)

Masih terdapat Keterbatasan informasi tentang efek dari penggunaan Biodiesel secara 100% atau campuran biodiesel dan solar dalam Engine durability (ketahanan mesin) dengan pengoperasian pada kondisi lingkungan yang bermacam-macam. Lebih banyak informasi dibutuhkan untuk menilai continuitas penggunaan bahan bakar ini dalam jarak tempuh dan periode operasi dari heavy duty engine. (Engine Manufacturers Association 2003).

 

BAB III

METODOLOGI  

3.1 Detail Pelaksanaan Penelitian.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental. Penelitian ini dimulai dengan pembuatan Jelantah Methyl ester melalui proses esterifikasi. Untuk mengetahui karakteristiknya maka perlu diadakannya uji properti esyang dilakukan di Lab Kimia MIPA. Pelaksanaan penelitian dapat dilihat padfa flow chart no 1. detail pelaksanaan penelitian dapat dijelaskan pada langkah-langkah berikut ini.

1. Uji karakteristik Jelantah Methyl Esther.

Jelantah Methyl Ester yang dihasilkan melalui esterifikasi dengan unit esterifikasi telah siap diuji karakteristiknya. Karakteristiknya diuji yaitu : Viskositas, Flash Point, Total Acid Number, Ash content, Densitas, Sulfur, Kadar air dan Cetane Number. Pengujian ini mutlak perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses esterifikasi dan juga untuk keperluan analisa data yang akan dihasilkan dari percobaan motor.

2. Pra Eksperimen.

Pra Eksperimen dilakukan untuk mengetahui unjuk kerja dari motor diesel itu sendiri.  Dengan demikian, dapat dianggap bahwa unjuk kerja engine pada saat ini, merupakan unjuk kerja mula-mula engine. Untuk keperluan ini digunakan sebuah motor diesel empat langkah dengan satu silinder.  Motor diesel dikopel pada sebuah generator untuk mengukur besarnya daya efektif dari engine. Pada pelaksanaan pengujian tidak dilakukan penyetelan khusus, sehingga kondisi operasi motor diesel pada saat pengujian sama seperti motor diesel yang beroperasi sehari-hari.

3. Komposisi Bahan Bakar.

Jelantah Methyl Ester (JME) sekarang ini sedang dipromosikan sebagai suplemen bahan bakar motor diesel, selain itu juga uji ketahanan atau durability test dari kebanyakan eksperimen yang dilakukan memakai komposisi bahan bakar 50 : 50 artinya dalam 1 liter bahan bakar terdapat 500 mL minyak solar dan 500 mL JME.

4. Uji Ketahanan Motor Diesel.

Eksperimen ini dilakukan untuk mengetahui ketahanan motor diesel dengan pemakaian jelantah methyl ester sebagai bahan bakar dengan variasi bahan bakar yang telah ditentukan sebelumnya. Percobaan dilakukan pada variable speed. Data yang dihasilkan kemudian akan dicatat untuk dianalisa.

Untuk memperoleh data-data, prosedur pengujian engine sama akan mengikuti standart EMA (Engine Manufacture Assosiation) selama 200 jam

5. Engine check Up.

Langkah engine check up dilakukan setelah uji ketahanan selama 200 jam selesai. Pada langkah ini dilakukan engine tear down and inspecsion yaitu pembongkaran mesin dan melakukan inspeksi terhadap komponen-komponen yang berhubungan dengan ruang pembakaran. Pada engine check up ini dilakukan visualisasi komponen serta pengambilan sample minyak lumas untuk diujikan di Laboratorium.

Dari uraian diatas, secara garis besar pelaksanaan penelitian ini menggunakan metodologi yang data digambarkan sbb

3.1. Diagram alir penelitian

3.2 Analisa  data dan pembahasan

Data hasil yang ingin diketahui adalah sebagai berikut :                

    1. Ketahanan mesin diesel
    2. Unjuk kerja mesin diesel
    3. Tingkat kerusakan
    4. Analisa kualitas pelumas

Untuk lebih rincinya penyajian masing-masing data dapat disampaikan seperti dibawah ini :

1.      Ketahanan mesin diesel

Dalam melaporkan ketahanan mesin diesel ini dilakukan dengan memberikan catatan-catatan selama pengujian di laboratorium. Selama penggunaan bahan bakar solar, mesin diesel sama sekali tidak mengalami hambatan pada saat mengikuti siklus uji ketahanan dengan aturan Engine Manufactur Association (EMA). Seperti diketahui bahwa siklus pengujian durability menurut standart EMA dibagi menjadi 4 tahapan dengan kecepatan, waktu dan pembebanan yang berbeda ditiap-tiap tahapannya.

2. Unjuk Kerja Mesin Diesel

Untuk mengetahui unjuk kerja mesin diesel maka diperlukan analisa data dan pembahasan data-data mengenai Daya, torsi dan konsumsi bahan bakar (SFOC) dari mesin diesel ketika menggunakan bahan bakar solar murni (JME 00) dan percampurannya dengan Jelantah Methyl Esther (JME 50).

3. Tingkat Kerusakan                                                         

Untuk mengevalusai tingkat kerusakan motor diesel,  diamati dengan secara visual serta uji laboratorium. Engine check up dilakukan dengan pembongkaran mesin dan memeriksa komponen-komponen utama pada sistem pembakaran. Data-data visual komponen-komponen utama seperti pada piston, cylinder head, intake dan exhaust valve serta nozzel dibandingkan. Dari sini kita melihat perbedaannya. Pelumas juga merupakan pembanding dalam menguji tingkat kerusakan mesin dengan melihat sifat fisika dan kimia serta unsur-unsur logam yang terkandung didalamnya maka kita bisa membandingkan tingkat kerusakan mesin.

4. Analisa kualitas pelumas

Dari hasil pengujian kimia pada laboratorium yang dapat diihat pada tabel  Analisa akan dilakukan pada setiap karakteristik dari minyak pelumas tersebut antara lain : viskositas 40°C dan 100°C, Total Base Number (TBN) dan Flash point, kemudian dilakukan juga analisa dari kontaminan antara lain : kadar air, sediment kandungan abu (ash kontent) dan kandungan sulfur dan melakukan juga analisa Sebagai parameter untuk mengetahui kalitas pelumas bekas maka digunakan batasan dari Mesran  SAE 40B. Mesran  SAE 40B dijadikan sebagai acuan karena merupakan minyak pelumas yang dianjurkan untuk dipakai pada motor diesel yang digunakan untuk eksperiment ini.

3.3 Mengambil kesimpulan

Kesimpulan yang diharapkan penelitian ini adalah berupa informasi ketahanan motor diesel terhadap pemakaian JME 50, unjuk kerja motor diesel dalam memakai JME 50, tingkat kerusakan pada komponen motor diesel akibat pnggunaan JME 50 serta kualitas pelumas bekas pada motor diesel

 

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dianalisa data-data hasil eksperimen yang kebanyakan dalam bentuk tabel, grafik dan gambar. Analisa akan dibagi menjadi 4 sub-bab yaitu :

Pertama Ketahanan motor diesel. Dimana dalam melaporkan ketahanan motor diesel ini dilakukan dengan memberikan catatan-catatan selama pengujian di laboratorium. Yang kedua adalah Unjuk kerja motor diesel. Dalam sub bab ini akan melakukan perbandingan daya, torsi dan SFOC dengan menggunakan 2 tipe bahan bakar yaitu solar murni dan biodiesel. Biodiesel merupakan campuran antara solar dan Jelantah Methyl Esther (JME) dengan perbandingan 50:50. Yang ke tiga adalah Tingkat kerusakan. Dalam sub-bab ini akan dilakukan analisa logam yang terkandung dalam minyak pelumas seperti : Fe, Na, Cu, Cr, Si, Al, Sn, Pb. Kemudian dianalisa dengan cara membandingkan jumlah logam diantara kedua pelumas serta melacak sumber dari logam-logam tersebut. Kemudian analisa dilakukan dengan didukung pengamatan visual. Yang keempat adalah Kualitas minyak pelumas. Dalam sub-bab ini akan dibahas properties minyak pelumas bekas dengan  2 bahan bakar yang berbeda yaitu solar murni dan solar plus biodiesel, properties itu antara lain Viskositas 40 C dan 100 C, flash point dan TBN serta membahas pula kontaminan dalam minyak pelumas antara lain: kadar air, sediment, ash content dan kandungan sulfur.

Selain itu ada satu sub bab tambahan lagi yaitu pembahasan, dimana dalam sub-bab ini akan membahas keseluruhan dari 4 bagian secara umum.

4.1 Ketahanan Motor Diesel

Dalam melaporkan ketahanan motor diesel ini dilakukan dengan memberikan catatan-catatan selama pengujian di laboratorium. Selama penggunaan bahan bakar solar, motor diesel sama sekali tidak mengalami hambatan pada saat mengikuti siklus uji ketahanan dengan aturan Engine Manufactur Association (EMA). Seperti diketahui bahwa siklus pengujian durability menurut standart EMA dibagi menjadi 4 tahapan dengan kecepatan, waktu dan pembebanan yang berbeda ditiap-tiap tahapannya yaitu :

Ø      Low idle yaitu motor diesel dioperasikan tanpa beban dimana kecepatannya adalah kecepatan minimum motor dapat hidup langkah ini dilakukan selama 30 menit.

Ø      High idle yaitu motor diesel dioperasikan dengan besarnya beban 25
% dari maksimum torsi dan kecepatan diatur sebesar 90% dari rated power speed. Langkah ini dilakukan selama 30 menit.

Ø      Rated power speed yaitu pengoperasian mesin diesel pada kecepatan maksimum sesuai dengan spesifikasi motor tersebut kemudian beban diatur pada beban maksimum. langkah ini dilakukan selama 60 menit.

Ø      Peak torque speed yaitu pengoperasian kecepatan dan beban motor diesel pada  saat mengalami torsi maksimum langkah ini dilakukan selama 60 menit.

 motor diesel dioperasikan selama 6 jam sehari dengan jangka waktu 1,5 bulan. Selama pengoperasian ditemukan tidak adanya kesulitan untuk mencapai rated condition dengan beban dan kecepatan yang telah ditentukan. Selama pengoperasian tidak ditemukan adanya perubahan daya yang cukup signifikan selama pengujian 200 jam. Pada saat peak torque speed, motor juga tidak mengalami kesulitan untuk beroperasi dan juga torsi yang dihasilkan tidak mengalami perubahan yang banyak selama pengujian 200 jam. Pada saat idle speed waktu konsumsi bahan bakar/20 ml adalah 255 detik hal ini dipandang wajar berdasarkan eksperimen terdahulu. Sistem start motor dengan cara di engkol juga tidak mengalami kesulitan start tidak perlu berkali-kali distart cukup dengan sekali start saja motor sudah mau berputar. Motor diesel dijaga agar tidak mengalami over heat dengan cara air pendingin di water hopper jika mencapai 85 C akan disirkulasikan. Suhu air pendingin dalam tangki sirkulasi pendingin cenderung stabil berkisar antara 65-78 C karena sistem sirkulasi pendingin dinilai cukup baik karena didukung oleh pompa sirkulasi.

Sedangkan untuk pemakaian motor diesel dengan dioperasikan selama 6 jam sehari dengan jangka waktu 1,5 bulan dengan bahan bakar JME pada umumnya juga tidak mengalami hambatan yang berarti memang ada penurunan power output dan torsi yang dihasilkan dibanding dengan menggunakan bahan bakar solar tetapi penurunan tersebut tidak terlalu banyak dalam jangka waktu pengujian 200 jam, pada saat idle speed waktu konsumsi bahan bakar menjadi sedikit lebih cepat dibanding ketika mesin memakai bahan bakar solar yaitu sekitar 248 detik/20 mL,  air pendingin mengalami sedikit peningkatan suhu dimana suhu air pendingin dalam water hopper lebih cepat mencapai suhu 85 C sehingga perlu dilakukan sirkulasi air pendingin yang lebih sering untuk menurunkan suhunya daripada sewaktu menggunakan solar. Suhu air pendingin dalam tangki sirkulasi pendingin yang akan disirkulasikan ke dalam motor naik berkisar antara 70-78 C. Kesulitan starter motor juga mulai dirasakan ketika waktu operasi mencapai 150 jam keatas dimana start  motor membutuhkan 2-3 kali lebih banyak putaran engkol.

4.2 Unjuk Kerja Motor Diesel.

Unjuk kerja motor diesel dipelajari setelah dilakukan pra-eksperiment, dalam pra eksperimen tersebut telah dipelajari unjuk kerja motor diesel dengan menggunakan bahan bakar solar. Hasil percobaan ini dapat menentukan performance engine secara menyeluruh terutama letak beban penuh pada masing- masing putaran. Dari hasil evaluasi dipilih putaran engine pada saat torsi maksimum dan putaran engine dengan daya maksimum. Dalam hal ini telah dipilih putaran 1900 rpm untuk torsi maksimum dan putaran 2300 rpm untuk daya maksimum. Unjuk kerja mesin inilah yang digunakan untuk membandingkan penggunaan bahan bakar yang berbeda.

Untuk mengetahui unjuk kerja motor diesel maka diperlukan analisa data dan pembahasan data-data mengenai Daya, torsi dan konsumsi bahan bakar (SFOC) dari motor diesel ketika menggunakan bahan bakar solar murni (JME 00) dan percampurannya dengan Jelantah Methyl Esther (JME 50).

Dari grafik 4.1 dapat dilihat bahwa daya yang dihasilkan oleh motor diesel dengan bahan bakar solar secara umum tidak jauh berbeda dengan daya yang dihasilkan oleh motor diesel dengan bahan bakar (JME 50). Hampir selama pengoperasian 200 jam perbedaan daya yang dihasilkan tidak jauh berbeda, ada beberapa titik dimana daya motor yang menggunakan solar murni lebih tinggi dari daya motor yang menggunakan (JME 50) tetapi adapula di beberapa titik dimana daya yang dihasilkan JME 50 justru lebih tinggi dari pada motor yang menggunakan solar murni. Perbedaan daya-daya ini cukup dimaklumi, karena bergesernya prestasi mesin sangat dipengaruhi banyak faktor yaitu karakteristik bahan bakar, desain sistem bahan bakar dan bentuk ruang bakar. Beban motor juga turut mempengaruhi prestasi engine. Kesemua itu akan mempengaruhi prestasi engine. Intisari dari unjuk kerja ini adalah terletak pada ignition delay, dimana ignition delay sangat dipengaruhi oleh phisical dan chemical delay. Phisical delay dipengaruhi oleh proses atomisasi bahan bakar. Atomisasi ini dipengaruhi oleh viscositas dan densitas bahan bakar.

 

Torsi maksimum didapatkan ketika motor running pada kecepatan 1900 rpm, torsi maksimum ini didapatkan pada saat pra eksperimen. Dari grafik 4.3 dapat dilihat bahwa torsi yang dihasilkan motor ketika menggunakan JME 50 agak sedikit dibawah torsi yang dihasilkan oleh motor ketika menggunakan solar murni, tetapi kekurangan tersebut hanya berskala kecil sehingga motor mengunakan JME 50 masih dapat menyaingi prestasi dari mesin pemakai solar hanya saja pada pemakaian motor dengan bahan bakar JME 50 dengan menempuh medan berat yang membutuhkan torsi besar, kecepatan akan dirasakan sedikit berkurang karena dalam prakteknya torsi dibutuhkan untuk meningkatkan kecepatan, untuk melawan hambatan-hambatan, untuk menerima beban berat dan sebagainya, apabila diterapkan dalam percobaan laboratorium maka motor pemakai JME 50 akan memiliki sedikit perbedaan kinerja ketika mengalami pembebanan yang besar dibandingkan dengan motor pemakai solar murni karena untuk melawan beban yang besar dibutuhkan torsi yang besar pula.

Konsumsi bahan bakar spesifik (SFOC) sangat dipengaruhi oleh daya yang dihasilkan karena SFOC merupakan fungsi daya. Penggunaan bahan bakar solar murni maupun campuran solar dan biodiesel menghasilkan perubahan yang berbeda Grafik 4.2 adalah grafik perbandingan SFOC dari motor diesel dengan menggunakan bahan bakar solar murni dan JME 50, grafik ini merupakan grafik SFOC ketika motor berputar pada kecepatan 2300 rpm untuk menghasilkan daya maksimum. Pada grafik ini dapat dilihat bahwa SFOC untuk pemakaian JME 50 berada dibawah garis SFOC solar, hal ini menandakan bahwa dengan SFOC yang lebih rendah dari solar, motor diesel mampu menghasilkan daya yang tidak kalah dari motor diesel ketika menggunakan solar tetapi apabila dilihat dari grafik 4.4 dimana grafik ini menggambarkan perbandingan SFOC solar dan JME ketika motor beroperasi pada putaran 1900 dimana putaran ini menghasilkan torsi maksimum. Dalam grafik ini dapat dilihat bahwa rata-rata SFOC untuk penggunaan bahan bakar JME 50 selalu berada diatas SFOC dari solar. Dengan melihat kenyataan ini motor yang menggunakan solar jauh lebih baik SFOC nya dari motor menggunakan JME 50 dan jika dilihat torsinya kembali maka dengan torsi yang selalu berada dibawah motor solar dan SFOC selalu berada diatas motor solar maka unjuk kerja motor JME bisa dikatakan kurang optimal.

 

4.3 Tingkat Kerusakan.

Untuk mengevalusai tingkat kerusakan motor diesel, telah diamati dengan secara visual serta uji laboratorium. Engine check up dilakukan dengan pembongkaran mesin dan memeriksa komponen-komponen utama pada sistem pembakaran. Data-data visual komponen-komponen utama seperti pada piston, cylinder head, intake dan exhaust valve serta nozzel telah pula dibandingkan. Dari sini kita melihat perbedaannya. Pelumas juga merupakan pembanding dalam menguji tingkat kerusakan mesin dengan melihat sifat fisika dan kimia serta unsur-unsur logam yang terkandung didalamnya maka kita bisa membandingkan tingkat kerusakan mesin.

4.3.1 Visualisasi Komponen.

Gambar berikut adalah gambar dari perbandingan antara komponen baru dengan kompoonen yang menggunakan bahan bakar solar murni dan bahan bakar solar plus biodiesel.

A                                  B                                    C

Gambar 4.1 Gambar Cylinder Head sebelum dipakai pengujian (A), kondisi setelah dipakai dengan menggunakan bahan bakar solar (B) kondisi setelah dipakai dengan menggunakan bahan bakar JME (C)

Pada gambar 4.1 dapat dilihat bahwa kondisi cylinder head pada saat motor menggunakan bahan bakar JME deposit lebih banyak terlihat sedangkan pada cylinder liner solar deposit lebih tipis dan cenderung lebih halus dan merta tidak seperti pada JME yang terlihat menumpuk dibagian tertentu.

A1                                                                B1

C1

A2                                                        B2                                                        C2

Gambar 4.2. kondisi intake dan exhaust valve pada saat sebelum dipakai pengujian (A), kondisi intake dan exhaust valve sesudah dipakai pengujian menggunakan bahan bakar solar (B) dan kondisi intake dan exhaust valve sesudah dipakai pengujian menggunakan bahan bakar JME (C)

Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa kondisi katup pada motor yang menggunakan bahan bakar solar lebih buruk karena tumpukan deposit terlihat sedikit tebal pada permukaan katup dan leher katup berkebalikan dengan kondisi katup ketika motor menggunakan bahan bakar JME yang cenderung tipis pemumpukan depositnya.

A                                            B                                                    C

Gambar 4.3. kondisi permukaan torak sebelum dipakai pengujian (A), kondisi permukaan torak sesudah dipakai pengujian dengan menggunakan bahan bakar solar (B) dan kondisi permukaan torak sesudak dipakai pengujian dengan menggunakan bahan bakar JME (C)

Pada gambar diatas kondisi gambar B memperlihatkan deposit yang cukup banyak dan terkonsentrasi disisi dari permukaan torak tsb sedangkan pada gambar C deposit terlihat lebih tipis dan tidak banyak terjadi penumpukan.

A                                            B                                                C

Gambar 4.4. kondisi injektor sebelum dipakai pengujian (A), kondisi injektor sesudah dipakai pengujian menggunakan bahan bakar solar (B) dan kondisi injektor sesudah dipakai pengujian menggunakan bahan bakar JME

Pada gambar diatas dapat dilihat pada injektor bahan bakar ketika motor diesel menggunakan JME mengalami banyak penumpukan deposit disekitar mulut injektor. Pada gambar (B) malah terlihat sangat jarang ada penumpukan yang terjadi bahkan cenderung bersih.

A                                                    B                                                    C

Gambar 4.5. Kondisi cylinder liner sebelum dipakai pengujian (A), kondisi cylinder liner sesudah dipakai pengujian dengan menggunakan bahan bakar solar (B), kondisi cylinder liner sesudah dipakai pengujian dengan menggunakan bahan bakar JME (C)

Pada gambar diatas kondisi liner ketika motor menggunakan bahan bakar JME secara visual tidak terlihat adanya perbedaan ketika motor menggunakan bahan bakar solar tetapi analisa tingkat kerusakan menunjukkan terjadinya keausan silinder liner ketika motor menggunakan bahan bakar JME yang ditunjukkan oleh kandungan logam Fe pada minyak pelumas bekas lebih tinggi dibanding minyak pelumas bekas ketika mesin menggunakan solar sebagai bahan bakarnya.

A1                                                    B1                                                c1

A2                                                    B2                                                C2

A3                                                B3                                        C3

Gambar 4.6. kondisi bantalan sebelum dipakai pengujian (A), kondisi bantalan setelah dipakai pengujian dengan menggunkan bahan bakar solar (B) dan kondisi bantalan sesudah dipakai pengujian dengan menggunakan bahan bakar JME (C).

Pada gambar diatas terlihat bahwa kondisi bantalan lebih banyak mengalami pengikisan ketika motor menggunakan bahan bakar solar. Terlihat pada ganbar (B)2 kondisi bantalan banyak terkikis terbukti dari lapisan logam yang mengkilap telah pudar berganti dengan bintik – bintik hitam yang cenderung merata pada seluruh bagian bantalan.

4.3.2 Analisa Kadar Logam Dalam Pelumas.

Kerusakan motor juga dapat dilihat dari unsur-unsur logam yang aus. Keausan ini bisa disebabkan karena keausan adhesif, keausan karena korosif dan keausan karena debu (keuasan gesekan). Keausan adhesif disebabkan oleh lapisan minyak pelumas, keausan korosif disebabkan oleh deposit karbon,  uap air dan asam, sedangkan partikel debu menyebabkan keausan gesekan. Dalam kasus penelitian yang dikembangkan ini kerusakan logam akibat lapisan minyak pelumasan sekalipun ada tetapi tidak perlu dibandingkan, karena kedua eksperimen menggunakan jenis pelumasan yang sama (Variabel dijaga tetap). Kemunduran kualitas mesin (terutama pada ruang bakar yaitu cylinder liner, piston, piston ring, cylinder head, valve dll) yang bisa dibedakan adalah akibat korosif dan gesekan. Kedua jenis kerusakan ini bisa diakibatkan karakteristik bahan bakar dan proses pembakarannya. Berikut adalah tabel yang menjelaskan mengenai unsur logam dalam minyak pelumas bekas mesin diesel menurut sumber asalnya.

Tabel 4.1. Kadar logam dalam minyak pelumas menurut sumber asalnya.

No

Sumber Asalnya

Unsur Logam

Simbol

1

Piston

Aluminium, copper dan iron

Al, Cu, Fe.

2.

Ring Piston

Chromium, Nickel, Molybdenum

Cr, Ni, Mb

3.

Bantalan

Aluminium, Antimon, Cadmium, Cobal, Copper, Lead, Magnesium, Silver, Tin, Zinc

Al, Sb, Cd, Co, Cu, Pb, Mg, Ag, Sn, Zn.

4.

Silinder Liner

Chromium, Iron

Cr, Fe

 

No

Parameter

Solar

JME

Metode

1.

Viskositas 40 C (cst)

174.6

154.8

D-445

2.

Viskositas 100 C (cst)

29.45

24.7

D-445

3.

TBN ( mgr KOH/gr Sampel

9.7925

10.6366

D-974

4.

Flash Point (C)

267

204

D-92

5.

Kadar Air (%)

0.8711

0.9193

D-1744

6.

Sediment (%)

0.6942

0.8237

D-473

7.

Ash (%)

0.5132

0.6504

D-482

8.

Sulfur (%)

0.5633

0.3611

D-1551

9.

Na (ppm)

116.7

100.4

D-3605

10.

Fe (ppm)

10.1

10.4

D-3605

11.

Cu (ppm)

0.9

0.8

D-3605

12.

Cr (ppm)

0.4

0.3

D-3605

13.

Si (ppm)

0.2

0.2

D-3605

14.

Al (ppm)

0.8

0.7

D-3605

15.

Sn (ppm)

0.01

0.01

D-3605

16.

Pb (ppm)

0.03

0.02

D-3605

Unsur – unsur logam yang terkandung dalam minyak pelumas dapat dilihat pada tabel 4.2. Secara umum logam yang terkandung dalam pelumasan seperti Na, Cu, Cr, Al dan Pb dari bahan bakar yang mengandung biodiesel menghasilkan angka yang lebih kecil. Tetapi ada pula yang memiliki angka sama dengan pelumas bahan bakar solar yaitu : Si dan Sn yaitu untuk Si memiliki angka 0,2 dan Sn memiliki angka 0,01. hal ini menandakan bahwa bantalan, satu – satunya komponen yang mengandung Sn memiliki tingkat keausan yang sama antara motor pemakai solar murni dan mesin pemakai solar + JME. Sedangkan Si mengindikasikan kotoran (Dirt) yang terkandung dalam minyak pelumas yang bersumber dari udara yang masuk ke dalam motor tidak secara sempurna tersaring, atau kerusakan pada filter udaranya, bisa juga dari proses pengisian pelumas yang tidak bersih dan berasal dari alat atau wadah pengambilan sample tetapi kemungkinan terakhir bisa dikatakan tidak ada karena wadah yang digunakan sudah dibersihkan secara total. Satu- satunya logam yang lebih besar adalah Fe. Dalam bahan bakar minyak solar, Fe yang terkandung adalah 10,1 ppm sedangkan dalam JME, Fe yang terkandung adalah 10,4. Dari kondisi yang ada, keausan akibat korosif adalah yang paling dominan, keuasan akibat korosif diakibatkan adanya reaksi kimia, terjadi dari bahan bakar yang menghasilkan asam kepermukaan komponen peralatan dan diikuti oleh adanya korosi sebagai hasil reaksi kimia tersebut. karena adanya aksi mekanisme dari peralatan itu sendiri seperti bergesekan. Partikel logam seperti Fe juga dihasilkan oleh proses keausan tipe ini selain itu adanya uap yang ikut menyelusup pada celah – celah antara piston ring dan cylinder liner, dugaan ini diperkuat dengan adanya kandungan air yang lebih besar pada minyak pelumas pada motor diesel dengan menggunakan biodiesel sebagai bahan bakarnya. Pada tabel 4.1 dapat dilihat kandungan airnya sebesar 0.9193 %. Dalam tabel 4.1 logam Fe dihasilkan oleh komponen seperti : piston dan silinder liner. Pada uji properties bahan bakar, JME memiliki water content sekitar 0,9867 % tentu saja apabila bahan bakar memiliki water content sebesar itu pasti akan memberikan efek korosi terhadap komponen motor, kandungan air yang ada dalam JME akan terbakar menjadi uap didalam ruang pembakaran dan uap tersebut akan ikut menyelusup pada celah - celah ring piston dan silinder liner sehingga akan bersifat korosi pada silinder liner yang ditandai dengan lebih tingginya kandungan Fe dalam pelumas ketika mesin menggunakan bahan bakar JME.

4.4 Analisa Hasil Pengujian Properties Minyak Pelumas.

Dari hasil pengujian kimia pada laboratorium yang dapat diihat pada tabel  Analisa akan dilakukan pada setiap karakteristik dari minyak pelumas tersebut antara lain : viskositas 40°C dan 100°C, Total Base Number (TBN) dan Flash point, kemudian dilakukan juga analisa dari kontaminan antara lain : kadar air, sediment kandungan abu (ash kontent) dan kandungan sulfur dan melakukan juga analisa Sebagai parameter untuk mengetahui kalitas pelumas bekas maka digunakan batasan dari Mesran  SAE 40B. Mesran  SAE 40B dijadikan sebagai acuan karena merupakan minyak pelumas yang dianjurkan untuk dipakai pada motor diesel yang digunakan untuk eksperiment ini.

4.4.1 Viskositas

Viskositas minyak pelumas baru pada 40 C untuk SAE 40 adalah 140 cSt setelah dioperasikan selama 200 jam dengan menggunakan bahan bakar solar naik menjadi 174,6 cSt, sedangkan viskositas pada 100 C yang awalnya memiliki viskositas 14,34 naik menjadi 29,45 cSt.

Untuk viskositas pelumas bekas pada 40 C dengan menggunakan bahan bakar JME memiliki nilai 154,8 atau mengalami kenaikan dari viskositas awalnya yaitu 140 cSt. Sedangkan viskositas 100 C pada pelumas bekas dengan menggunakan bahan bakar JME memiliki nilai 24,7 atau dengan kata lain mengalami kenaikan dari nilai awal yaitu 14,34 cSt.

Pada Grafik 4.5 dapat dilihat bahwa Viskositas minyak pelumas bekas suhu 400 C yang menggunakan bahan bakar solar sebesar 174,6 cSt dan Viskositas minyak pelumas bekas yang menggunakan bahan bakar Jelantah Methyl Esther (JME) sebesar 154,8 cSt. Viskositas pada suhu 400 C untuk penggunaan bahan bakar solar tidak melampaui batas atas yang diijinkan oleh standart SAE yaitu maksimal sebesar 169.8 cSt. Sedangkan untuk pelumas dengan menggunakan  bahan bakar Jelantah Methyl Esther (JME) masih berada dibawah batas maksimum yang diijinkan oleh standart SAE yang karena nilai pengujian akhirnya  154,8 cSt masih dibawah angka batasan maksimum yaitu 169,8 cSt

Pada grafik 4.5 diatas dapat dilihat bahwa pelumas bekas dengan bahan bakar solar mengalami peningkatan viskositas setelah dioperasikan selama 200 jam, sebesar 34,6 cSt, sedangkan untuk pelumas bekas dengan bahan bakar JME mengalami kenaikan juga sebesar 14,8 cSt.

Pada Grafik 4.6 dapat dilihat bahwa Viskositas minyak pelumas bekas suhu 1000 C yang menggunakan bahan bakar solar sebesar 29,45 cSt dan Viskositas minyak pelumas bekas yang menggunakan bahan bakar Jelantah Methyl Esther (JME) sebesar 24,7 cSt. Viskositas pada suhu 1000 C untuk penggunaan bahan bakar solar melampaui batas atas yang diijinkan oleh standart SAE yaitu maksimal sebesar 16,3 cSt. Sedangkan untuk pelumas dengan menggunakan  bahan bakar Jelantah Methyl Esther (JME) juga melampaiu batas maksimum yang diijinkan oleh standart SAE yang karena nilai pengujian akhirnya  24,7 cSt masih diatas angka batasan maksimum yaitu 16,3 cSt

Pada Grafik 4.6 diatas dapat dilihat bahwa viskositas pelumas bekas pada 100 C dengan menggunakan bahan bakar solar mengalami peningkatan viskositas sebesar 15,11 cSt. Sedangkan pelumas bekas dengan bahan bakar JME juga mengalami peningkatan viskositas sebesar 10,36 cSt. Kedua pelumas bekas tidak memenuhi standart SAE terbukti masing-masing pelumas memiliki viskositas yang lebih besar dari batas yang diijinkan SAE yaitu 16,3 cSt.

Kenaikan viskositas dari masing-masing pelumas disebabkan oleh penguapan minyak pelumas yang berlebihan pada mesin.

4.4.2 Total Base Number (TBN)

Pengujian angka Total Base Number (TBN) sangat penting pada analisa umur pakai minyak pelumas. TBN merupakan nilai yang menunjukkan jumlah miligram potassium hidroksida yang mampu untuk menetralisir keasaman yang terjadi pada satu gram minyak pelumas. Minyak pelumas baru SAE B 40 mempunyai nilai TBN sebesar 10,26 mg.Koh/g. Angka TBN pada minyak pelumas dengan bahan bakar solar adalah 9,7925 sedangkan pelumas dengan bahan bakar JME 10.6369

Kenaikan nilai TBN pada minyak pelumas bekas yang telah dioperasikan akibat reaksi awal zat aditif terhadap oksidasi hasil pembakaran pada motor diesel, reaksi ini nantinya akan menurunkan nilai dari TBN karena bereaksi untuk menetralisir sifat asam dari oksidasi, penurunan nilai TBN tidak boleh kurang dari setengah jumlah nilai awal. Jumlah TBN yang tinggi pada proses treatment akan menimbulkan timbulnya kerak hitam dinding sebelah dalam frame/crank case, karena senyawa calsium / barium / magnesium akan menempel pada dinding sebelah dalam frame/crank case. TBN  yang besar pada minyak pelumas bekas karena sifat bahan bakarnya yang basa sehingga sifat ini menambah kebasaan dari TBN yang terkandung dalam minyak pelumas bekas ketika mesin menggunakan bahan bakar JME.

4.4.3 Flash Point

Titik nyala (flash point) pelumas SAE B 40 adalah 244 C setelah dioperasikan dengan bahan bakar solar flash pointnya naik menjadi 267 C atau naik sekitar  23 C, sedangkan setelah diopersikan dengan bahan bakar JME turun menjadi  204 C atau turun sekitar 40 C. Penurunan titik nyala tercampurnya minyak pelumas oleh bahan bakar. Penurunan tersebut masih berada diatas batas SAE yang diijinkan, jadi jika dilihat titik nyala pada kedua sample maka kedua pelumas masih layak untuk dipakai lebih lama.

4.4.4 Water Content (Kadar Air)

Kadar air pada minyak pelumas bekas dengan bahan bakar solar adalah sebesar 0,8711 sedangkan dengan bahan bakar JME sebesar 0,9193. Data ini sangat jauh diatas batas yang diijinkan yaitu 0,2 %.

Kadar air dalam pelumasan disebabkan antara lain oleh pengembunan uap air dalam karter, kebocoran air pendingin dan dapat juga disebabkan lamanya waktu pengambilan sample minyak pelumas dari karter. Jika sample terlalu lama didiamkan didalam karter sebelum diambil, maka terjadi pengembunan air pada saat mesin mengalami pendinginan setelah dioperasikan. Lamanya waktu yang diijinkan untuk pengambilan sample adalah maksimal 6 jam setelah mesin dioperasikan. Jika dilihat dari data diatas dapat disimpulkan terjadi kebocoran pada sistem pendingin selain itu kadar air dari Jelantah Methyl Esther (JME) yang tinggi yaitu sekitar 0,9867 % menjadi salah satu penyebab tingginya kadar air dalam minyak elumas bekas ketika mesin diesel menggunakan bahan bakar JME. Tingginya kadar air yang ada pada minyak pelumas dapat mengakibatkan emulsi, sehingga air susah dipisahkan dan akan membentuk endapan lumpur. Tingginya kadar air bisa menyebabkan komponen motor diesel  mengalami kerusakan, kerusakan ini diakibatkan komponen mengalami proses korosi yang disebabkan pengaruh tingginya kadar air dalam minyak pelumas. Sehingga apabila tidak segera dilakukan penggantian minyak pelumas komponen motor diesel bisa mengalami kerusakan

4.4.5 Kadar Abu

Kadar abu pada miyak pelumas dengan bahan bakar solar adalah 0,5132 dan kadar abu pada minyak pelumas bahan bakar JME adalah 0,6504 kedua hasil tersebut masih berada dibawah batas yang diijinkan oleh SAE yaitu 1.

Kandungan abu merupakan kontaminan yang larut dalam minyak pelumas sehingga pada pengujian laboratorium proses pemisahannya dengan jalan dibakar sampai menjadi abu, maka dari itu disebut kandungan abu. Abu yang terbentuk tsb kemudian dihitung prosentasenya dari sample yang diambil. Beberapa kontaminan yang larut dalam dalam minyak pelumas dapat meningkatkan viskositas minyak dan dapat membentuk deposit/kotoran pada piston. Deposit yang ada pada piston tersebut dapat mengeras akibat temperatur yang tinggi dalam waktu yang relative lama sehingga untuk mermbersihkannya harus dengan cara mekanik atau digosok.

4.4.6 Zat Tak Larut Benzena (Sedimen)

Kandungan zat tak larut benzena adalah kontaminan yang tidak larut dalam minyak pelumas.

Jika dilihat hasil pengujian dari kedua minyak pelumas dimana pelumas dengan bahan bakar solar memiliki nilai sedimen 0,6942 dan pelumas dengan bahan bakar JME 0,8237. Kontaminan berasal dari hasil oksidasi pembakaran yang tidak  bisa larut dalam minyak pelumas, debu dan kikis dan karat. Kadar air yang terkandung dalam pelumas bahan bakar JME cukup besar hal ini menyebabkan karat yang terjadi lebih banyak yang menyebabkan pelumas tersebut tidak memiliki ketahan terhadap oksidasi (oksidasi stability) yang baik. Proses oksidasi dalam minyak pelumas dimana oksigen bereaksi dengan minyak pelumas pada suhu tinggi akan menimbulkan kotoran. Dari analisa ini maka diduga kotoran yang terjadi pada pelumas dengan bahan bakar JME lebih banyak sehingga pada pemeriksaaan laboratorium zat tidak larut benzena lebih banyak. Kandungan zat tak larut benzena yang tinggi akan menggangu kerja dari minyak pelumas disebabkan karena banyaknya kandungan kontaminan dalam minyak pelumas tersebut. Kandungan zat tak larut benzena juga dapat menyebabkan keausan pada komponen yang akan dilumasi.

 

4.4.7 Kandungan Sulfur

Kandungan sulfur dalam minyak pelumas bekas karena adanya keausan yang menyebabkan bahan bakar ikut tercampur dalam minyak pelumas. Kandungan sulfur dalam minyak pelumas bekas dengan bahan bakar solar adalah 0,5633 sedangkan kandungan sulfur dalam minyak pelumas bekas dengan bahan bakar JME adalah 0,3677 hal ini menandakan bahwa kebocoran yang terjadi pada pemakaian bahan bakar solar lebih besar dari pada pemakaian bahan bakar JME. Analisa ini didukung oleh data kandungan logam dalam pelumas solar rata-rata lebih besar dari kandungan logam pada minyak pelumas ketika mesin menggunakan JME.

4.5 Pembahasan.

4.5.1        Uji Ketahanan Mesin Diesel.

Uji Ketahanan ini dilakukan pada mesin standart yaitu Mesin Diesel Merk Dong Feng tipe R-180. Sebelum dilakukan pengujian ketahanan terlebih dahulu teknik pencampuran dipelajari dimana didapatkan hasil bahwa pencampuran antara JME dan solar adalah campuran yang homogen dan dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel dengan komposisi pencampuran yang beragam. Sistem start mesin diesel sedikit mengalami perubahan dimana ketika menggunakan bahan bakar solar mesin sangat mudah untuk di start tetapi hal agak sedikit berbeda dengan ketika mesin menggunakan campuran JME dan solar. proses start mesin diesel agak sedikit mengalami kesulitan ketika waktu operasi mencapai 150 jam keatas dimana mesin diesel memerlukan 2-3 kali proses start. Hal ini juga dialami Baranescu dan Lusco (1982), Kauman dan Ziejewski (1984). Kedua peneliti diatas menggunakan sun flower sebagai pembuat methyl esthernya, kedua peneliti tersebut mengalami kesulitan pada saat start dingin.  Sun flower methyl esther memilik angka setana indek yang lebih rendah dari pada minyak solar sama dengan bahan bakar yang digunakan dalam uji ketahanan ini yaitu Jelantah Methyl Esther (JME) yang memiliki angka setana index relatif lebih rendah dari solar yaitu sekitar 53. Kesulitan pada saat proses start mesin diesel dikarenakan pada injektor terdapat banyak karbon deposit sehingga bahan bakar yang masuk dalam ruang pembakaran tidak mengalami proses pengabutan secara sempurna. Hal ini dapat dijelaskan ketika dilakukan pembongkaran mesin kemudian dilakukan pemeriksaan didapati dengan banyaknya deposit yang terbentuk pada injektor nozzle lihat gambar 4.4 (C), hal ini juga terjadi pada Baranescu dan Lusco (1982), dimana kedua peneliti ini mengalami heavy deposit ( kandungan deposit yang banyak) pada semua nozzle bahan bakarnya, deposit yang terbentuk sifatnya sangat keras dan memerlukan proses scrap untuk membersihkannya.

Daya tahan mesin sangat bagus, engine dapat durable dalam kondisi berbagi macam, dimana pengkondisian tersebut menurut standart EMA yang terdiri dari 4 tahapan. Low idle yaitu mesin diesel dioperasikan tanpa beban dimana kecepatannya adalah kecepatan minimum mesin dapat hidup langkah ini dilakukan selama 30 menit.High idle yaitu mesin diesel dioperasikan dengan besarnya beban 25% dari maksimum torsi dan kecepatan diatur sebesar 90% dari rated power speed. Langkah ini dilakukan selama 30 menit.Rated power speed yaitu pengoperasian mesin diesel pada kecepatan maksimum sesuai dengan spesifikasi motor tersebut kemudian beban diatur pada beban maksimum. langkah ini dilakukan selama 60 menit. Peak torque speed yaitu pengoperasian kecepatan dan beban mesin diesel pada  saat mengalami torsi maksimum langkah ini dilakukan selama 60 menit. Dengan mengikuti 4 tahapan diatas Mesin tidak mengalami kesulitan untuk mencapai tahapan rated condition dan  tahapan peak torsi dan juga konsumsi bahan bakar dari kedua tahapan ini tidak jauh berbeda dengan mesin diesel yang menggunakan bahan bakar solar. Hal ini juga dialami oleh Zuhdi (2003), dimana mesin diesel yang digunakan untuk uji durability  sangat durable dan tidak mengalami kesulitan untuk menempuh berbagai kondisi jalan meskipun ada sedikit perbedaan konsumsi bahan bakar. Metode pengujian yang digunakan oleh Zuhdi (2003) adalah on-road durability test.

4.5.2        Unjuk Kerja Mesin Diesel

Pada putaran mesin yang menghasilkan  daya maksimum hampir tidak ada perbedaan daya yang dikeluarkan antara kedua jenis bahan bakar seperti pada grafik 4.1. Tetapi terjadi sedikit peningkatan daya yang dikeluarkan oleh mesin diesel ketika menggunakan 50/50 JME + solar dan peningkatan daya tersebut tidaklah besar yaitu sekitar 0.21% dari daya solar. Sedangkan konsumsi bahan bakarnya  ketika mesin menggunakanan solar mengalami penurunan sekitar 3.9 % ketika mesin menggunakan JME. Tetapi jika secara keseluruhan konsumsi bahan bakar antara keduanya tidaklah jauh berbeda. Dapat dilihat di grafik 4.2 bahwa rata-rata konsumsi bahan bakar ketika mesin menggunakan JME lebih bagus karena selalu berada dibawah garis rata – rata ketika mesin menggunakan bahan bakar solar. karena injeksi bahan bakar dilakukan dalam jumlah tertentu, maka perbedaan berqt jenis akan mempengaruhi daya yang dihasilkanoleh suatu mesin dieselyang disebabkan perbedaan massa bahan bakar yang diinjeksikan Ahadiat(1994).

 Pada torsi maksimum, mesin menghasilkan torsi lebih bagus ketika menggunakan solar sebagai bahan bakarnya. Tetapi pada saat menggunakan bahan bakar JME, mesin mengalami penurunan torsi yang dihasilkan yaitu sebesar 8.8%. dapat dilihat pada grafik 4.3 memang rata-rata pada garis hitam yang mewakili Peak Torsi JME selalu berada dibawah garis merah yang mewakili peak torsi solar.  sedangkan  untuk konsumsi bahan bakarnya, ketika mesin menggunakan bahan bakar JME justru  mengalami peningkatan sebesar 9% dibanding konsumsi bahan bakar ketika mesin menggunakan solar murni. Dapat dilihat pada grafik 4.4 dimana garis hitam yang mewakili SFOC  bahan bakar JME selalu berada diatas rata-rata SFOC ketika mesin menggunakan bahan bakar solar. peningkatan konsumsi bahan bakar disebabkan viskositas dari JME dan campurannya yaitu solar lebih tinggi dari viskositas solar murni. Viskositas bahan bakar yang relatif tinggi membuat bahan bakar tidak mudah mengalir melalui sistem pompa dan injeksi yang memasukkan bahan bakar kedalam ruang pembakara, dengan demikian akan berpengaruh pada durasi injeksi dan spray atomisasi Fort (1997), La pupung (1986) selain itu meningkatnya konsumsi ini diperkirakan banyaknya unburn dari bahan bakar. Viskositas yang tinggi memberikan ketidaksempurnaan dalam proses atomisasi bahan bakar dan juga evaporasi. Ketidaksempunaan dalam pembakaran   juga menurunkan temperatur pembakaran sehingga untuk melawan beban yang dihadapai diperlukan bahan bkar yang lebih banyak Zuhdi (2003).

Unjuk kerja mesin diesel berhubungan langsung dengan jumlah kalor yang diberikan selama pembakaran yaitu nilai panas dari pembakaran bahan bakar atau nilai kalori. Untuk bahan bakar yang memiliki nilai panas rendah dibutuhkan bahan bakar yang lebih banyak untuk menghasilkan tenaga sebesar satu daya kuda dibanding dengan bahan bakar yang memiliki nilai panas yang lebih tinggi, atau dengan kata lain bahan bakar yang memiliki nilai panas yang rendah konsumsi bahan bakarnya akan lebih tinggi dari pada bahan bakar yang memiliki nilai panas yang tinggi. La pupung (1986).

4.5.3        Tingkat Kerusakan

Untuk mengevalusai tingkat kerusakan motor diesel, telah diamati dengan secara visual serta uji laboratorium. Engine check up dilakukan dengan pembongkaran mesin dan memeriksa komponen-komponen utama pada sistem pembakaran. Data-data visual komponen-komponen utama seperti pada piston, cylinder head, intake dan exhaust valve serta nozzel telah pula dibandingkan. Dari sini kita melihat perbedaannya. Pelumas juga merupakan pembanding dalam menguji tingkat kerusakan mesin dengan melihat sifat fisika dan kimia serta unsur-unsur logam yang terkandung didalamnya maka kita bisa membandingkan tingkat kerusakan mesin.

Setelah dilakukan engine check up dari komponen, pada waktu uji durability dengan bahan bakar biodiesel tidak sama sekali memberi permasalahan pada komponen. Injektor dalam keadaan baik sekalipun pada nozzle ada penumpukan deposit karbon namun injektor dapat berfungsi dengan baik. Ali dan Hanna (1996) misalnya dalam uji durability dengan menggunakan tallowate methyl esther telah mengalami kerusakan tiga injektor pada jam ke 148, 159 dan 197. Ali dan Hanna dalam uji ketahanan dengan teknik pengujian standart 200 jam Engine Manufaktur Association (EMA).

Deposit karbon juga menjadi ukuran sebagai parameter kerusakan komponen sekalipun komposit karbon ini dapat dibersihkan dalam periode waktu tertentu. Penumpukan karbon ini dapat dilihat dalam visualisasi atau pengamatan pada nozzle, piston, cylinder liner serta inlet dan exhaust valve. Foto-foto dari deposit di piston nozzle, intake dan exhaust valve dapat dilihat dalam sub-bab 4.3.

Pada piston, kedua permukaan piston menunjukkan adanya deposit yang terbentuk deposit pada gambar 4.3 (C) yaitu deposit pada permukaan piston ketika mesin menggunakan bahan bakar JME 50 terlihat bersifat ‘basah’ dan kelihatan sedikit berminyak tidak seperti pada gambar 4.3 (B) yang menunjukkan timbunan deposit ketika mesin menggunakan bahan bakar solar murni yang kelihatan lebih ‘kering’. Diduga karakteristik bahan bakarnya lah yang mempengaruhi penampakan deposit pada permukaan piston tersebut. Unburn bahan bakar selama pembebanan yang rendah kemungkinan besar yang membentuk deposit tersebut. Hal ini juga terjadi pada Baranescu dan Lusco (1987), dimana semua pistonnya menunjukkan heavy deposit pada permukaan piston, semua deposit tersebut menunjukkan sifat basah dan lebih berminyak ketika mereka menggunakan bahan bakar biodiesel.

Silinder liner mesin tidak menunjukkan tanda-tanda keausan secara visual tetapi anailsa pelumas menunjukkan bahwa silinder liner ketika menggunakan JME 50 sedikit mengalami korosi dan aus terbukti pada kandungan logan Fe yang terbentuk, besar nilainya.

Pada silinder head penumpukan deposit yang cukup banyak terlihat pada exhaust valve dan area penyemprotan bahan bakar, gambar 4.1 (C) adalah gambar silinder head ketika menggunakan bahan bakar JME 50, terlihat bahwa deposit yang terbentuk lebih berminyak dan basah seperti pada permukaan piston. Berbeda dengan gambar 4.1 (B) deposit yang terbentuk terlihat lebih kering dan deposit terlihat sedikit lebih keras. Hal ini juga dialami Baranescu dan Lusco (1987). Penampakan basah dan berminyak tersebut diduga berasal dari bahan bakar JME yang memiliki water content yang tinggi sehingga mempengaruhi sifat deposit yang terbentuk pada komponen-komponen yang berhubungann dengan ruang bakar.

Tingkat kerusakan mesin diesel juga dapat dilihat dari unsur-unsur logam yang aus.  Ada tiga macam keausan yaitu keausan adhesif, keausan karena korosif dan keausan karena debu (keuasan gesekan) Sunarto dan Furuhama (1985). Keausan adhesif disebabkan oleh lapisan minyak pelumas, keausan korosif disebabkan oleh deposit karbon, uap air dan asam, sedangkan partikel debu menyebabkan keausan gesekan. Dalam kasus penelitian yang dikembangkan ini kerusakan logam akibat lapisan minyak pelumasan sekalipun ada tetapi tidak perlu dibandingkan, karena kedua eksperimen menggunakan jenis pelumasan yang sama (Variabel dijaga tetap). Kemunduran kualitas mesin (terutama pada ruang bakar yaitu cylinder liner, piston, piston ring, cylinder head, valve dll) yang bisa dibedakan adalah akibat korosif dan gesekan. Kedua jenis kerusakan ini bisa diakibatkan karakteristik bahan bakar dan proses pembakarannya Zuhdi (2003).

Unsur – unsur logam yang terkandung dalam minyak pelumas dapat dilihat pada tabel 4.1. Secara umum logam yang terkandung dalam pelumasan seperti Na, Cu, Cr, Al dan Pb dari bahan bakar yang mengandung biodiesel menghasilkan angka yang lebih kecil. Tetapi ada pula yang memiliki angka sama dengan pelumas bahan bakar solar yaitu : Si dan Sn yaitu untuk Si memiliki angka 0,2 dan Sn memiliki angka 0,01. Satu- satunya logam yang lebih besar adalah Fe. Dalam bahan bakar minyak solar, Fe yang terkandung adalah 10,1 ppm sedangkan dalam JME, Fe yang terkandung adalah 10,4. Dari kondisi yang ada, keausan akibat korosif adalah yang paling dominan, keuasan akibat korosif diakibatkan uap yang ikut menyelusup pada celah – celah antara piston ring dan cylinder liner, dugaan ini diperkuat dengan adanya kandungan air yang lebih besar pada minyak pelumas pada mesin diesel dengan menggunakan biodiesel sebagai bahan bakarnya. Pada tabel 4.2 dapat dilihat kandungan airnya sebesar 0.9193 %.

4.5.1        Properties Minyak Pelumas

Viskositas dari masing-masing pelumas dengan menggunakan bahan bakar yang berbeda sama-sama mengalami kenaikan untuk pelumas bekas dengan bahan bakar solar pada suhu 40 C mengalami kenaikan sebesar 34,6 cst sedangkan pada suhu 100 C mengalami kenaikan sebesar 15,11 cst, sedangkan untuk pelumas bekas dengan bahan bakar JME 50 pada suhu 40 C mengalami kenaikan sebesar 14,8 cst sedangkan pada suhu 100 C mengalami kenaikan sebesar 10,36 cst. Kenaikan viskositas minyak pelumas ini disebabkan oleh banyaknya penguapan minyak pelumas yang terjadi. Selain itu adanya aditif yang bersifat mempertahankan viskositas juga memiliki andil dalam peningkatan viskositas. (Garnida, www.plnkc.or.id)

TBN dari pelumas bekas menunjukkan hasil yang bertentangan. Ketika mesin menggunakan solar murni TBN dari pelumas mengalami penurunan sebesar 0,4675 mg.Koh/g sedangkan ketika menggunakan bahan bakar JME 50 nilai TBN justru mengalami kenaikan sekitar 0,3769 mg.Koh/g. Penurunan TBN disebabkan oleh pelumas bereaksi untuk menetralisir sifat asam dari hasil oksidasi, batas penurunan TBN adalah 60% dari angka awalnya, jika sudah melampaui batasan tersebut minyak pelumas disarankan untuk diganti (Garnida, www.plnkc.or.id). Sedangkan kenaikan nilai TBN pada pelumas dengan bahan bakar JME 50 diduga disebabkan oleh sifat basa yang berlebihan dari bahan bakar itu sendiri karena dalam proses pembuatan JME tersebut ada penambahan KOH yang bersifat basa kuat, sehingga sifat tersebut memiliki andil untuk meningkatkan nilai TBNnya.

Flash point dari masing-masing minyak pelumas berbeda, ketika menggunakan solar flash pointnya justru naik sekitar 23 C sedangkan ketika menggunakan JME 50 flash pointnya turun sekitar 40 C, penurunan ini dikarenakan adanya fuel dilution yang efeknya menurunkan flash point dari pelumas sedangkan kenaikan FlashPoint mengindikasikan adanya air pendingin yang tercampur dalam minyak pelumas sehingga efeknya menaikkan flash Point minyak pelumas. Jika melihat kadar air yang cukup tinggi dari masing-masing pelumas, maka hasil test titik nyala tersebut tidak menunjukkan angka yang sebenarnya, dimana batas kandungan air untuk pengujian titik nyala yang layak adalah 0,5%. Kandungan air atau water content pada masing-masing minyak pelumas menunjukkan angka yang sangat besar, dimana pada grafik 4.9 melebihi batasan yang diijinkan, hal ini disebabkan oleh Kadar air dalam pelumasan disebabkan antara lain oleh pengembunan uap air dalam karter, kebocoran air pendingin dan dapat juga disebabkan lamanya waktu pengambilan sample minyak pelumas dari karter. Jika sample terlalu lama didiamkan didalam karter sebelum diambil, maka terjadi pengembunan air pada saat mesin mengalami pendinginan setelah dioperasikan. Lamanya waktu yang diijinkan untuk pengambilan sample adalah maksimal 6 jam setelah mesin dioperasikan (Garnida, www.plnkc.or.id)

Kadar sulfur pada pelumas bekas ketika motor menggunakan bahan bakar solar disebabkan oleh terjadinya blow-by yaitu masuknya bahan bakar kedalam karter minyak pelumas. Karakteristik solar itu sendiri mengandung yang sulfur lah  yang menyebabkan kandungan sulfur lebih banyak dari pelumas bekas ketika menggunakana bahan bakar JME. Karakteristik JME  memiliki kandungan sulfurnya sangat rendah.

Kadar abu, kandungan sedimen dari masing-masing pelumas rata rata masih dibawah standart maksimum yang diijinkan, sehingga kualitas pelumas untuk dua parameter ini dinilai masih layak untuk digunakan lebih lama.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari uji ketahanan motor diesel, analisa unjuk kerja, analisa tingkat kerusakan yang ditunjukkan oleh kandungan logam dalam pelumas serta uji properties dari masing-masing pelumas bekas maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Ketahanan motor diesel tidak mengalami perubahan meskipun menggunakan bahan bakar JME 50. Motor diesel mampu mengatasi 4 tahapan dari EMA dimana disetiap tahapan memiliki beban dan putaran yang berbeda.

  2. Motor diesel tidak mengalami penurunan prestasi kerja yang signifikan mulai dari daya maksimum, torsi maksimum serta SFOCnya, pada daya maksimum motor diesel ketika menggunakan JME 50 justru mengalami peningkatan daya sebesar 0.21%, sedangkan SFOC pada daya maksimum ketika motor menggunakan JME 50 lebih rendah sebesar 3.9%. Torsi yang dihasilkan oleh motor ketika menggunakan JME 50 lebih rendah 8.8% tetapi SFOCnya lebih tinggi sekitar 9%.

  3. Tingkat kerusakan motor diesel tidak terlalu tinggi karena tumpukan deposit yang tinggi hanya ditemukan pada injektor serta dari hasil uji pelumas hanya kandungan logam Fe saja yang lebih tinggi dari pelumas bekas yang menggunakan bahan bakar solar. logam Fe mengindikasikan silinder liner sedikit mengalami keausan.

  4. Dari hasil pengujian properties minyak pelumas, kualitas pelumas bagus hanya terjadinya kebocoran disistem pendingin mesin yang perlu diperbaiki karena pelumas bekas yang memiliki kadar air yang tinggi yang tidak baik untuk pengoperasian mesin lebih lanjut.

5.2 Saran

  1. Sering melakukan pembersihan injektor apabila menggunakan bahan bakar JME 50 karena dalam waktu 200 jam sudah terbentuk deposit.

  2. Melakukan perbaikan pada sistem pendingin motor agar tidak mempengaruhi sifat kimia dari minyak pelumas.

 

DAFTAR PUSTAKA  

Ahadiat N, [1994], “Pengaruh Kualitas Minyak Solar pada Proses Pembakaran, Lembaga Publikasi Lemigas No.1. pp 69-73

Adryan FT, [2002], “Unjuk Kerja Motor Diesel Dengan Bahan Bakar Jelatah Methyl Ester, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Sistem Perkapalan – Fakultas Teknologi Kelautan ITS.

ArisMunandar, W dan Tsuda, K [1997], “Motor Diesel Putaran Tinggi”, Cetakan Ke 8, Pradnya Paramitha, Jakarta.

Baranescu R A., dan Lusco J J., [1997], “Performance, Durability, And Low Temperature Evaluation Of Sun Flower Oil As Diesel Fuel Extender, American Society of Agricultural Engineer Publication, pp.312-328.

Engine Manufacturers Association, “Technical Statement On The Use  Of Biodiesel  Fuel In Compression Ignition Engines”, www.enginemanufacturers.org Dikunjungi Tahun 2003.  

Fort E F., dan Blumberg. P M. [1997], “Performance And Durability Of A Turbocharged Diesel Fuelled With Cottonseed Oil Blend, American Society of Agricultural Engineer Publication.  

Fahruri, S [2003], “Studi Eksperimen Unjuk Kerja Motor Diesel Menggunakan Bahan Bakar Jelantah Ethyl Esther”, Tugas Akhir  Jurusan Teknik Sistem Perkapalan – Fakultas Teknologi Kelautan  ITS.

Garnida, “ Pelumas dan Pelumasan Mesin Diesel ”, www.plnkc.or.id, dikunjungi tahun 2004

La Puppung P, [1986], “Penggunaan Minyak Kelapa Sebagai Bahan Bakar Motor Diesel , Lembaga Publikasi Lemigas No. 1, pp 39-54

Subiyanto [1989], “Jenis-Jenis Logam Yang Terdapat Minysk Lumas Bekas dan Sumber Asalnya”, Lembaran Publikasi LEMIGAS No. 1, pp 32-37

Trianto, N [2004], “Studi Pengujian Secara Kimia Terhadap Minyak Jarak Dengan Penambahan Zat Aditif Polimer Sebagai Pelumas Pada Motor Diesel”, Tugas Akhir Jurusan Teknik Sistem Perkapalan – Fakultas Teknologi Kelautan ITS.

Wartawan, Anton L [1985], “Teknologi Pelumas”, Lembaran Publikasi LEMIGAS No. 2, pp 3-52

 Wartawan, Anton L [1985], “Fungsi Minyak Lumas Pada Mesin”, Lembaran Publikasi LEMIGAS No. 4, pp 73-81

Zuhdi A., Asianto, Tjoek, S.,[1996] "Reduksi NOx dengan metode Perlambalan penginjeksian pada motor diesel putaran tinggi”., Jurnal IPTEK‑ITS Vol. 7 No.2 November 1996 Hal.164‑173

Zuhdi A. [2002], “Aplikasi Penggunaan Waste Methyl Ester Pada High Speed Marine Diesel Engine”, Seminar Nasional Teori Aplikasi Teknologi Kelautan 2002 FTK ITS.

 Zuhdi A. [2003], “Biodiesel Sebagai Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pada Motor Diesel”, Laporan Riset, Riset Unggulan Terpadu VIII bidang teknologi Industri, Kementrian Riset dan Teknologi RI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Zuhdi A [2004], “Uji Ketahanan Motor Diesel Dengan Bahan Bakar Komposisi Castor Methyl Esther, Palm Methyl Esther dan Minyak Solar”, Prosiding Seminar Nasional Pasca Sarjana IV, Program Pasca Sarjana ITS

Hosted by www.Geocities.ws

1