UNTUK AIRIN...
Cerpen F1do - Untuk Airin... ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi August 21st 2000 (Dipersembahkan untuk Airin...) To : Airin Kristiani Slamet, met ultah ... Anak muda di sebelah rumahku itu kukenal dekat. Dia dan aku telah lama bertetangga. Dari sejak aku kecil, kukira... Kami berangkat sekolah bersama-sama, ke gereja bersama-sama. Segala aktifitas, kami habiskan bersama-sama. Namanya Freddie. "Airin ! Airin !" Dia memanggilku riang, mengetuk-ngetuk pintu rumahku. Aku membukakan pintu. "Ada apa, Fred ?" "Aku punya adik baru, Ai ! Mamaku baru saja pulang dari rumah sakit !" katanya dengan mata berbinar-binar. Ia memberikan senyumnya, riang. Aku juga turut tersenyum. "Yuk, ke rumahku !!!" ajaknya sambil menarik lenganku. Aku mengikutinya berlarian ke dalam rumahnya. Menyaksikan mama Freddie yang sedang membobokan adik barunya. "Hallo, Airin..." sapa mama Freddie padaku. "Hallo, tante... Selamat ya tante..." kataku. Mama Freddie tersenyum. Freddie juga riang, dia sangat menantikan adik barunya dengan penuh harap. Walaupun Freddie telah berumur kurang lebih tujuh belasan, dua tahun lebih tua dariku, nampaknya dia sangat senang dengan kehadiran manusia yang baru di rumahnya. Dia lalu mengajakku ke taman di depan rumahnya. "Kita rayakan pesta minggu depan, Ai !" serunya dengan wajah riang yang tak lepas. "Oh ya ?" kataku. "Ya ! Tapi.. sayang ya... papaku tak bisa menyaksikan adikku lahir. Aku kecewa sekali..." "Sudahlah, Fred. Toh kamu kan dapat juga adik baru..." Dia tersenyum. "Kau akan datang ke pesta itu ?" tanyanya penuh harap. Aku menggeleng. "Fred, aku harus mengurus kuliahku dulu di luar kota. Maaf ya, Fred ?" Tampak kekecewaan terlukis di wajahnya, dan aku menangkap isyarat itu. "Fred, aku minta maaf..." kataku sekali lagi. "Eh, nggak papa, Ai... Semoga berhasil ya ? Aku doakan semoga sukses..." Dia lalu berusaha memberikan senyumnya padaku, walau kelihatannya sangat dipaksa sekali. "Trims, Fred. Sering-sering kirim surat ya ?" kataku. Ia mengangguk. Sepuluh tahun berlalu, ketika aku menyusuri jalan yang panjang ini, dihimpiti oleh pohon-pohon cemara di sepinggir jalan. Aku tidak tahu lagi bagaimana keadaan Freddie. Walau pada musim pertama, dia rajin mengirim surat, memberitakan bagaimana keadaan adiknya. Dia sangat sedih... Dia rindu aku... Selain itu, dia kecewa, adiknya mengalami cacat mental dalam pertumbuhan fisiknya. Terakhir kali, dia menulis surat padaku, mamanya mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal. Hubungan kita terputus begitu saja... Katanya sih, dia telah pindah ke pinggiran kota, karena kesulitan uang. Maka dari itu, aku memutuskan, setelah selesai menempuh kuliah, menemuinya. Mencari alamat rumahnya... Dan berencana menikah dengannya... Siang yang dingin itu, karena baru diguyur hujan sebelumnya, aku melangkahkan kakiku pada jalan setapak yang menuju rumah kayu yang sangat sederhana sekali. Kata orang-orang sekitar, di situlah Freddie sekarang tinggal. Rumah yang pas sekali dengan aroma perdesaan, dikelilingi oleh rumput-rumput hijau. Aku mengetuk pintu. "A..u...i..." Aku heran mendengar suara aneh itu. Aku membuka pintu sedikit demi sedikit. Terlihat seorang anak yang duduk dalam posisi yang aneh di kursi yang kelihatannya dibuatkan khusus. Aku terperangah, bertanya-tanya dalam hati, apakah ini adik Freddie. Freddie datang dari dapur dan menatapku. "Airin ?" tanyanya. Aku mengangguk. Dia berlari dan memeluk erat diriku. Aku juga melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam di dirinya. "Kau kelihatan berubah, Ai... Dewasa sekali..." "Sedangkan kau ? Kelihatan pucat..." balasku sambil tersenyum. "Airin... Kenalkan ini adikku, Robbie..." katanya sambil menghampiri Robbie. "Robbie, kenalkan... Ini teman kakak, Airin..." Robbie kelihatan termangu dan tidak bisa berkata apa-apa kecuali suara-suara yang aneh, yang tak kumengerti. Aku menyalami lengan Robbie. "Ya, beginilah Robbie..." jelas Freddie sambil menyuapi mulut Robbie dengan sesendok bubur sedikit demi sedikit. "Ai.." "Ya ?" "Maafkan aku tidak mengirim surat lagi padamu... Aku terlalu sibuk, Ai..." "Sibuk kenapa ?" tanyaku. "Maafkan aku, Ai... Aku tidak bisa kemana-mana. Aku harus mengurus Robbie sendirian semenjak ibu meninggal. Ke pasar saja membeli kebutuhan sehari-hari, aku harus menggendong Robbie. Sebetulnya aku malu dengan keadaan Robbie. Tapi ya... apa boleh buat ? Tiap malam saja, aku tidak bisa tidur apabila Robbie butuh sesuatu..." Aku menepuk pundak Freddie dan kami sama-sama menatap Robbie yang sangat mengenaskan begitu keadaannya. "Oh ya... Ada keperluan apa kau datang kemari ?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Freddie... Aku berencana menikah denganmu..." "Apa ?" tanyanya setengah tak percaya. Aku mengganggguk. "Kau serius ?" Aku mengganggguk lagi. "Ai... aku tidak bisa membahagiakanmu... Aku harus terus mengurus Robbie. Aku tak tahu sampai kapan lagi aku terus begini... Apakah kau nanti tak malu dengan keadaan Robbie ?" Aku mulai marah akan pernyataannya yang memojokkan Robbie terus. "Freddie ! Kau keterlaluan !!! Mengapa kau menganggap Robbie sampah !!!" "Ai..." Dia kaget sekali aku bereaksi begitu. "Sudah ! Aku pulang saja !!!" Dia menatapku kecewa. "Ai, aku tak tahu apa yang kauharapkan dariku... Aku sudah muak hidup begini, Ai... Aku kecewa... Menghabiskan waktuku hanya untuk dia... Kadang kuingin meninggalkan Robbie selamanya... Tapi aku juga punya perasaan, Ai..." Aku menyesal jadinya... Tidak bisa memahami perasaan Freddie sesungguhnya. Lalu aku memeluk erat dirinya. "Aku ingin hidup bersamamu, Freddie..." Freddie merebahkan wajahnya di pundakku. "Aku juga..." Sore itu, ketika kami jalan-jalan di jalan setapak, Freddie bernyanyi kecil, hatinya sangat riang. Aku memutuskan mengajak Robbie. Aku menggendongnya. "Ya, beginilah suasana perdesaan, Ai... Kuharap engkau tidak bosan..." katanya sambil memetikki bunga-bunga di sepanjang jalan yang kita lalui. "Aku suka suasana ini, Fred..." "Kau serius ? Disini kita sangat ketinggalan teknologi, Ai... Tidak ada televisi, radio, bila malam tiba, suasana sangat sepi sekali..." "Iya, aku serius..." kataku. Dia lalu menghindari debat denganku. Dia mendekatkan dirinya ke telingaku. Lalu berbisik... "Ini untukmu..." Dia memberikan beberapa tangkai bunga yang tadi dipetiknya di sepanjang jalan. "Terima kasih, Fred..." Freddie memeluk erat aku dan Robbie. Ia sangat gembira malam itu. Sementara mentari mulai tenggelam di ufuk fajar mempersilakan bulan menerangi kegelapan malam perdesaan itu. -----(END)-----