TURN BACK TIME
Cerpen F1do - Turn Back Time ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi June 1st 2000 Dengan menahan kantuk, aku mendengarkan khotbah di hari minggu yang cerah itu. Hoaemmmm... bosan banget sih khotbah pendeta ini. Kapan sih selesainya ? pikirku. Cerita itu lagi, cerita itu lagi. Iya, cerita murid-murid Yesus yang mengecewakan hati Tuhan, seperti si Petrus itu yang menyangkal sampai tiga kali. Emang brengsek tuh si Petrus, pengecut ! umpatku dalam hati sambil tersenyum. Aku mengkhayal apabila aku dalam keadaan si Petrus, pasti aku tidak akan menyangkal. Aku akan membela Yesus seketika itu juga, biarin deh disalib berduaan ama Yesus, kan bisa masuk dalam sejarah sebagai murid yang paling setia, sombongku dalam hati. Dalam lamunan itu, aku sangat ngantuk sekali dan tidak terasa aku tertidur. Tiba-tiba orang di sebelahku mengguncang bahuku dengan keras untuk membangunkanku yang sedang tertidur lelap. Aku buru-buru bangun, pikirku kebaktian sudah usai. "Ada apa sih ?" tanyaku sambil mengucek-ucek mataku yang masih sepet. "Pengadilan akan segera mulai !" serunya antusias. "Pengadilan ? Pengadilan apa ?" Aku tersentak kaget karena sekarang berada dalam sebuah halaman istana yang megah dan besar. Dan sebelumnya aku tertidur di lapangan yang besar itu . Aku menengok kiri dan kanan, nampak ada keramaian orang yang sedang berdiskusi atau berdebat antara satu sama lain. Lalu aku menatap orang yang membangunkanku. Dia berpakaian seperti biasanya pakaian orang Timur Tengah. "Apa-apaan sih ini ?" tanyaku dalam hati. "Apakah aku bermimpi ?" "Kau tidak tahu ? Lalu buat apa kau datang kemari, dungu !" Loh ? Aku hanya tersenyum kecut saja mendengar hardikannya. Lalu untuk menutupi perasaan maluku karena tidak tahu apa-apa, aku berujar, "Maaf, aku ketiduran tadi" Belum lama aku ingin menjelaskan, tiba-tiba aku menatap ada ribut-ribut di halaman istana itu. Dan seorang berjubah putih digiring ke halaman itu dengan ditatapi mata kebencian orang-orang yang memandangnya. Seorang Imam Besar keluar dari dalam istana dan menanyakan Dia tentang ajaranNya. Tetapi Dia menjawab Imam Besar itu dengan perkataan sebagai berikut ,"Aku berbicara terus terang kepada dunia. Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi." Aku terkejut mendengar jawabanNya, sombong benar dalam pikiran dan hatiku. Lagaknya... Berbicara pada dunia ? Apa sih maksud orang ini ? Aku semakin tidak mengerti. Lalu lanjutNya lagi, " Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan." Wah ! Hatiku mulai geram mendengar jawaban Dia, apa-apaan sih ini orang, ini mah ngeledek, orang ditanya kok bisa-bisanya jawabanNya gitu. Tidak berselang lama kemudian, seorang penjaga yang berdiri di situ menghampiriNya dan mulai menampar mukaNya sambil berkata," Begitukah jawabMu kepada Imam Besar ?" Dalam hatiku juga setuju Dia ditampar. Rasain deh, habis ditanyanya malah nyolot, dalam hatiku berkata. Sebab kulihat Imam Besar itu orang yang sangat dihormati oleh orang-orang di sekitar situ. Namun jawabNya lagi kepada penjaga itu : "Jikalau kataKu itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kataKu itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?" Ckckckck... ini orang tidak takut sama sekali, pikirku. Cari mati aja nih orang. Maka mereka akan membawa orang itu ke pengadilan. Aku mengikuti kerumunan orang yang membawa si terdakwa dari belakang. Tetapi orang-orang tidak masuk ke gedung pengadilan. Hanya terdakwa itu saja dan beberapa penjaga saja. Aku heran. Dan kebetulan orang yang membangunkanku juga ikut serta, lalu aku memberanikan diri menanyakan pada dia ," Eh, kenapa kita nggak masuk ke dalam ?" "Engkau ini orang asing atau orang dungu ?" Dia menatapku heran dan melanjutkan," Ini hari Paskah, tahu ! Kita tidak masuk ke gedung pengadilan itu supaya jangan menajiskan diri !" Ya ampun, aku tidak tahu apa-apa sama sekali, bagaikan orang tersesat. Lalu seorang keluar dari dalam gedung pengadilan dan menemui kami yang membawa terdakwa itu. "Itu Pilatus, wali negeri sini... " orang yang membangunkanku itu menjelaskan. Aku mengangguk-angguk tapi tidak mengerti. Orang yang bernama Pilatus itu menanyakan kami "Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?" Lalu ada seorang wakil berkata,"Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkanNya kepadamu!" Oh, dalam hatiku, orang ini penjahat kali... Lalu kata orang yang disebut Pilatus itu kepada kami, "Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu." Beberapa di antara kami berkata, "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang." Maka kembalilah orang yang disebut Pilatus itu ke dalam gedung pengadilan, dan beberapa saat kemudian keluar lagi dan berkata, " orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka, "Aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya. " Aku semakin bingung, sebab banyak di antara kami menuntut Dia agar dihukum, tetapi orang yang disebut Pilatus ini berkata tidak ada kesalahan pada diriNya. Aku menanyakan kepada orang yang membangunkanku tadi, "Maaf, orang ini salah apa sih ?" "Dia menganggap diriNya sebagai Anak Allah !" Hatiku tersentak, wah ini sih sudah keterlaluan. Apa-apaan ini orang menganggap diriNya sebagai Anak Allah. Pantas deh Dia dihukum kalau perlu dihukum mati, umpatku. "Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?" orang yang bernama Pilatus itu menawarkan. Apa-apaan ini, kataku dalam hati. Orang itu harus dihukum mati ! Nggak ada kata ampun deh... Ngaku-ngaku Anak Allah, konyol sekali ! "Jangan Dia, melainkan Barabas!" teriak beberapa di antara kami. Orang yang membangunkanku tadi itu menjelaskanku sebelum sempat ku bertanya siapa Barnabas, rupanya dia tahu aku akan bertanya lagi, hahaha.... katanya, "Barnabas itu seorang penyamun, melakukan pemberontakan dan pembunuhan." Lalu orang yang bernama Pilatus itu masuk kembali ke dalam dan aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Tak lama lagi, dia keluar sambil berkata, "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya." Beberapa saat, terdakwa itu keluar bermahkota duri di kepalanya dan berjubah ungu. Kata orang yang bernama Pilatus itu kepada kami, "Lihatlah manusia itu !" Lalu ketika kami memandang Dia, kami berteriak-teriak, "SALIBKAN DIA ! SALIBKAN DIA !" Aku juga berteriak hal yang sama. Namun orang bernama Pilatus itu akhirnya menyerah dan berkata kepada kami, "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya." Jawab beberapa orang di antara kami kepadanya, "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah." Iya, aku juga setuju akan mereka. Orang itu harus disalib ! Apa-apaan orang ini menganggap diriNya sebagai Anak Allah. Beberapa orang di antara kami berteriak, "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." Orang yang bernama Pilatus itu kembali berkata, "Inilah rajamu !" Kami berteriak-teriak seperti orang kesetanan, "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia!" Kata orang yang bernama Pilatus itu kepada kami, "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepadanya, "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" Akhirnya dia benar-benar menyerah dan menyerahkan terdakwa itu kepada kami untuk disalibkan. Sambil memikul salibNya, banyak orang yang menyaksikan dan sebagian mencemoohkanNya, termasuk aku. Namun karena keletihanNya yang sangat, Ia tidak kuat lagi memanggul salib itu, dan penjaga yang membawa orang yang memikul salib itu menahan seorang yang kuketahui belakangan bernama Simon dari Kirene. Ada beberapa perempuan yang mengikuti Dia menangisi dan meratapi Dia. Dia yang memikul salib itu, berpaling kepada mereka dan berkata, " Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu !" Aku sangat terkejut, orang ini tidak memikirkan diriNya sendiri. Siapakah orang ini ? Ketika kami tiba di sebuah bukit, aku benar-benar menyaksikan sendiri Dia dipaku tangan dan kakiNya. Tapi aku tidak merasa iba sama sekali. Dalam pikiranku, Ia layak untuk mati ! Dia disalib di antara dua penjahat yang juga disalibkan bersamaNya. Orang itu berkata, " Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Memang aku tidak tahu apa yang aku perbuat, tapi menurut akal dan pikiranku, Ia layak mati tergantung di sana. Orang-orang di bawah kayu salib itu mulai mengolok-olokNya. "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diriNya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Orang yang membangunkanku tadi dari tidur berteriak, "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diriMu !" Ketika itu tengah hari, dan tiba-tiba kegelapan meliputi daerah itu hampir tiga jam lamanya. Sebab matahari tidak bersinar. Dan tiba-tiba terdengar kabar bahwa tabir Bait Suci terbelah dua. Lalu orang yang belakangan kuketahui bernama Yesus yang sedang disalib itu, berseru dengan suara nyaring ," Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu " Dan sesudah berkata demikian Ia mati. Kemudian terjadi gempa bumi yang dahsyat, dan ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia berseru, "Sungguh, orang ini adalah orang benar !" Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. Aku hanya tertegun saja di situ, tidak tahu apa yang kuperbuat. Aku tidak tahu harus melakukan apa, sebab segala sesuatu membuat aku heran. Tiba-tiba orang di sebelahku mengguncang-guncangkan bahuku dengan keras. Aku menoleh kepadanya, dan aku heran sedang dalam ruang gereja yang sekarang kosong. "Kau ketiduran ya, nak ? Khotbah sudah selesai sejam yang lalu, dan jemaat-jemaat sudah pulang. Aku pelayan gereja di sini. Anda tidak apa-apa, nak ?" Aku terkejut sekali akan apa yang kualami tadi sepertinya bukan sebuah mimpi. Aku mengingat-ingat kejadian tadi hampir sedetail yang kualami. Mengapa aku ikut menyalibkan Yesus? Tanyaku dalam hati. Kalau saja, aku hidup pada masa itu, aku mungkin ikut menyalibkan Dia, aku mungkin juga akan melakukan apa yang telah muridNya, si Petrus lakukan yaitu ikut menyangkal Dia. Betapa sombongnya aku selama ini. Tapi Tuhan telah menyadarkanku lewat kejadian yang aneh tadi itu, bahwa aku baru saja menyalibkan Dia. Oh... Tuhan... ampuni kesalahanku... Boro-boro aku mau disalibkan berdua dengan Yesus, nggak tahunya aku malah menyalibkan Dia sendiri. Kepada para pembaca, jangan takabur dahulu bahwa iman kalian melebihi tokoh-tokoh di sekitar Yesus saat itu. Kita sekarang akan menghadapi akhir jaman, yang sama dahsyatnya dengan penganiayaan orang-orang Kristen waktu itu ? Apakah anda telah siap ? Atau jangan-jangan, anda juga turut menyalibkan Dia di akhir jaman nanti ? Who knows ..... ? Ya, siapa yang tahu ? -----(END)-----