TANGKAI MAWAR YANG PATAH
Cerpen F1do - Tangkai Mawar Yang Patah ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi August 26th 2000 Aku duduk di atas kursi roda ini sambil melemparkan pandangan ke luar jendela. Dalam hatiku, aku mengutuki diriku yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Akibat kecelakaan lalu lintas yang kualami, diriku lumpuh total. Kakiku sudah tidak bisa digerakkan lagi. Dokter juga menyarankan untuk mengamputasi kedua kakiku akibat parahnya luka yang kualami. Hari-hari kulalui dengan hanya duduk di kursi roda saja. Aku juga sudah mengundurkan diri dari pekerjaanku. Tidak tahu harus berbuat apa, aku membunuh waktuku dalam lamunanku saja. Sementara itu, istriku, juga sudah tidak menganggapku lagi. Dia tidak rela suaminya invalid... Dia tidak tahu harus bagaimana lagi... Walau di hari pernikahan kami, kami berjanji satu sama lain, saling setia dalam segala hal, tapi setelah kejadian ini, dia sangat berat menerimanya... Hal ini terlihat dia sering pulang malam, meninggalkanku terduduk kesepian malam ini. Aku hanya bisa menunggu malam itu sambil menahan kantuk. "Mon, kau baru pulang ?" tanyaku ketika dia datang dalam keadaan mabuk, kurasa... Pakaiannya berantakan, aku tidak tahu darimana dia. "Hmmm..." katanya singkat lalu masuk ke ruang tengah. Aku melajukan kursi rodaku menyusulnya. Dia mencuci mukanya di wastafel. "Mon, aku sangat mengkhawatirkanmu..." kataku dengan wajah kecemasan. "Sudahlah, Fred... jangan berlebihan... aku tidak apa-apa..." katanya lalu duduk di sofa. Aku terdiam. Mungkin kurasa aku berlebihan, aku tidak tahu... Aku hanya ingin menunjukkan dirinya bahwa aku sangat sayang padanya. "Kau yang seharusnya mengkhawatirkan dirimu, Fred..." ujarnya sambil menyalakan TV. "Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu, Mon..." kataku. "Aku sudah makan di luar, Fred..." jawabnya. "Oh, ya sudah... Aku akan buang makanan itu..." kataku kecewa. Dia bukannya tidak menangkap kekecewaan pada nada suaraku... Dia menoleh ke arahku. Tapi tak sepatah kata dia ucapkan. "Kau masih belum mau tidur ?" tanyaku. Dia menggeleng. "Baiklah kalau begitu... Aku tidur dulu..." Sejam berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga malam. Tapi dia tidak menyusulku tidur. Aku menoleh ke sampingku yang masih kosong. Aku meraih kursi rodaku, dan naik ke atasnya. Keluar ke ruang tengah. Terlihat dia tidur di sofa, sementara TV masih menyala terus. Kuselimutkan tubuhnya yang ternyenyak letih itu. Aku tidak tahu mengapa dia bersikap dingin kepadaku semenjak kecelakaan itu. Aku tahu aku sudah tidak bisa membahagiakan dia lagi dalam segala hal. Tekanan-tekanan itu kadang membuatku sedih sekali. Aku hanya bisa memperhatikan dirinya lebih dari sebelumnya. Aku mengingat kejadian-kejadian dengannya sebelum kecelakaan itu. Kalau saja ada mesin waktu, aku ingin balik ke masa yang lalu. Kehilangan kasih dan perhatian dari Monika adalah suatu pukulan berat... Ia sudah tidak menanggapiku, begitu pikirku minder. Aku tidak tahu apakah ini perasaanku saja, atau benar-benar terjadi... Begitu... tiap malam selalu begitu... Dia pulang larut malam... Padahal setahuku dia pulang dari kantornya paling lambat pukul sembilan malam. Aku ingin mengecek kemana dia berada. Selama ini perasaan curigaku, selalu kependam saja... Aku masih mempercayainya, tapi lama kelamaan aku sudah tidak tahan lagi. Kutelpon ke handphonenya. "Halo..." "Halo, Mon... Kau baik-baik saja ?" "Ermmmm ya... Kenapa, Fred ?" "Hanya mengkhawatirkan dirimu..." "Kalau kau sudah ngantuk, tidur saja, Fred... Tidak usah menungguiku..." katanya buru-buru mematikan handphonenya. Aku heran akan sikapnya yang dingin begitu. Aku memutuskan menelepon Linda, teman dekatnya. Akhirnya dari Linda, aku tahu dia telah pindah ke lain hati. Dia telah berpacaran dengan lelaki lain, teman sekantornya. Hatiku remuk redam. Sakit... Sakit telah dikhianati... Hanya karena aku lumpuh, dia tidak bisa menerima keadaanku... Oh, Tuhan... Mengapa ini semua terjadi pada diriku ? Aku menangis sedih... Malam itu, sekitar pukul jam dua, aku masih sabar menunggunya malam-malam ketika dia pulang. "Mon..." tegurku. Dia hanya berlalu begitu saja. "Aku telah tahu semua yang terjadi..." "Tahu apa ?" "Aku tahu semua dari Linda..." "Oh ya ? Kau jangan mempercayai dia... Aku tidak mungkin berbuat seperti itu padamu..." "Mon, sudahlah... Kau jangan berdusta terus kepadaku... Kalau memang kau sulit menerimaku lagi dalam keadaan begini, kalau kau sudah tidak suka lagi padaku, tidak apa-apa... Memang aku tidak dapat membahagiakanmu lagi... Aku hanya menjadi beban bagi dirimu... Kalau kau memang berniat meninggalkan diriku demi kebahagiaanmu semata, aku sudah siap menerimanya, Mon..." Setitik air matanya mengalir dari pipinya mendengar ucapanku. Ia berlutut di depan kursi rodaku. "Terima kasih, Fred atas pengertianmu... Maafkan diriku..." katanya. Dengan berat hati, dia meninggalkan diriku dan pergi ke lelaki lain. Mungkin itu lebih baik baginya, aku tidak tahu... Yang pasti aku sudah pasrah saja menerima semua keadaan gila seperti ini. Akibat depresi yang kualami begitu hebat, keluargaku memasukkanku dalam sebuah rumah sakit jiwa. Malam itu, masih di atas kursi rodaku... Aku masih melemparkan pandanganku ke luar jendela. Masih bertemankan kesepian yang dalam... Kesepian jiwa dari diriku.... Hatiku bagaikan tangkai mawar yang patah ke atas tanah. Dan terinjak-injak oleh orang yang lalu lalang yang sudah tidak ada yang memperhatikanku lagi... Tidak memperhatikan ada mawar yang tidak berguna lagi di antara sekian banyak mawar... -----(END)-----