SUATU HARI DI BANGKU GEREJA
Cerpen F1do : Suatu Hari Di Bangku Gereja ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi May 29th 2000 Saat itu kebaktian umum di pagi hari. Dengan hati kesal, aku melangkahkan kaki ini ke dalam gereja. Mengapa kesal ? Iya, jelas. Karena doaku setelah lama ini tidak dijawab-jawab oleh Tuhan. Aku hanya minta pasangan hidup. Titik ! Apakah itu salah, Tuhan ? Itu selalu yang kutanyakan kepada Tuhan. Dalam hati ini, aku menggerutu terus. Aku telah melayani Tuhan selama ini, masakan Tuhan tidak mau mengabulkan permintaanku yang satu ini. Dengan pandangan kosong, aku menghempaskan badanku ke bangku gereja yang panjang. Aku ikut kebaktian asal-asalan saja. Asal hadir saja. Titik ! Gerutuku... Namun khotbah sang pendeta menggugah hatiku. Tak terasa air mataku menitik. Buru-buru aku menghapus air mataku agar tak terlihat oleh orang. Lalu aku menoleh ke sampingku, eh ada orang... Sebelumnya aku tidak mau tahu siapa dan apa yang ada di sekitarku karena masalahku ini. Dia melemparkan senyumnya yang khas. Weksss... jangan-jangan dia tadi melihatku menangis. Hal ini kusimpan rapat-rapat dalam hati. Ketika kebaktian usai, aku bergegas ingin pulang. Namun tangan orang di sebelahku menahan tanganku. Aku kaget dan menoleh ke arahnya, dan baru sadar dia adalah orang yang cacat. Kedua kakinya buntung. Aku terperangah, sebab dari tadi aku tak memperhatikannya. Aku terlalu sibuk dengan masalahku sendiri. "Nak, tidak keberatan kan kalau kita ngobrol-ngobrol dahulu ?" tanyanya dengan wajah yang dibuat memelas agar aku menemani dia mengobrol. Aku hanya tersenyum dan mulai duduk lagi. "Kulihat kau tadi menangis mendengarkan khotbah, ada sesuatu yang terasa pahit dalam hatimu ?" tanyanya lagi sambil membalas senyumanku. "Ah, nggak kok..." aku jawab asal aja. "Jangan berdusta, nak. Bapak tidak bisa didustai. Pasti dari isi khotbah tadi, kamu pasti mengharapkan sesuatu dari Allah, namun belum diberi kan ?" Aku mulai jengkel pada sikapnya dan menjawab ketus ,"Udah tahu malah nanya..." Dia menepuk punggungku dan tidak meninggalkan senyumannya yang khas. Lanjutnya ,"Nak, ada masalah apa ?" "Baiklah kalau bapak mau tahu, aku ini sudah melayani Tuhan bertahun-tahun. Ikut pelayanan apalah, ini itulah, waktu sudah kusia-siakan buat Dia, tapi mengapa Tuhan enggak mau mengabulkan permintaanku yang satu ini ! Apa salahnya sih kalau aku minta pasangan hidup buatku ? Itu saja kok Tuhan nggak mau ngasih-ngasih. Aku malu, pak... Teman-temanku sudah jalan bawa pasangan masing-masing, sementara aku masih saja sendiri. Mana aku sering diledek tidak laku lah, apa lah. BT !" curhatku... "Dengar, nak. Memang menunggu itu tidak mengenakkan. Bapak mengerti kok perasaanmu. Bapak tahu dalam seusiamu, kamu seharusnya sudah memiliki pasangan. Bapak mengerti, nak. Memang kadang Tuhan belum memberikan segala sesuatunya. Kadang kita memaksa Tuhan agar Tuhan segera memberi. Bapak juga memiliki masalah yang sama denganmu. Bapak juga tidak memiliki pasangan sepertimu. Tetapi ingat... Kamu masih beruntung, nak. Kamu tidak dalam keadaan seperti bapak. Apa jadinya kalau kamu seperti bapak ? Kamu cacat begini ? Apakah ada seorang wanita yang mau berpasangan dengan lelaki yang cacat seperti bapak ? Tetapi bapak tetap berharap teguh kepada janji-janji Tuhan. Bapak ingat kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Seperti tertulis dalam kitab Daniel 3:17-18 : ' DAN 3:17 Jika Allah kami yang kamu puja sanggup melepaskan kami, maka ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; DAN 3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.' Bapak percaya Tuhan akan memberi pasangan kepada bapak, tetapi seandainya tidak, bapak tetap akan memegang teguh janji Tuhan sampai bagaimanapun, walau Tuhan tidak memberi...." Aku tersentak mendengar imannya yang begitu kuat dan sabar. Aku memandang ke arah bawah. Menatap kaki yang sudah tidak ada itu. Benar, pikirku... Aku masih beruntung. Masih ada orang-orang yang tidak seberuntung aku. Iya, Tuhan tidak memberiku kecacatan apapun. Umurku masih muda, masih 22 tahun. Masih punya banyak kesempatan. Tidak seperti bapak ini, mungkin umurnya sudah 50 tahunan, kukira... Tapi dia masih berpegang teguh pada janji Tuhan bahwa Tuhan akan memberi pasangan hidup baginya. Dia telah lama menunggu. Dan telah lama menunggu... Lanjutnya ,"Nak, iman memang membutuhkan kesabaran... Walaupun kamu harus menunggu sampai mati, tapi kamu tidak kalah. Kamu tetap menang... Karena kamu sabar menunggu. Itulah iman yang diharapkan oleh Tuhan kepadamu..." Wah, tidak ada iman seteguh orang ini, pikirku... Ia masih menunggu untuk pasangan hidupnya walau sampai mati sekalipun... Benar-benar tegar.... Ia menunggu dan masih tetap menunggu... Aku banyak belajar dari bapak ini. Tuhan, kuatkanlah imanku. Bentuk aku seperti iman bapak ini. Agar dapat meraih kemenangan dalam iman. Amen ! "....tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Lukas 18:8) -----(END)-----