SHARING DI SEBUAH RUMAH SAKIT JIWA
Cerpen F1do : Sharing Di Sebuah Rumah Sakit Jiwa ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi June 3rd 2000 Namaku Imelda, tetapi orang-orang memanggilku suster ANG1EE, karena begitulah nama panggilanku dari kecil. Aku sudah berumah tangga, namun tidak dikaruniai Tuhan seorang anak pun. Usiaku belum lanjut-lanjut benar sih.... Bulan depan usiaku akan bertambah satu tahun menjadi 45 tahun. Tetapi dalam seusia itu aku masih merindukan mujizat Tuhan agar Ia memberiku seorang anak, sama seperti Sara merindukan anak. Aku berpegang teguh pada janjiNya... Pekerjaanku sehari-hari mengurus segala keperluan orang-orang yang sakit. Bukan sembarangan sakit, tentunya. Tapi orang-orang yang mentalnya sudah terganggu. Dalam istilah yang lebih gampang, orang gila... Mungkin di antara kalian ada yang bertanya, apa enaknya kerja begitu ? Tapi bagiku, adalah suatu kesenangan sendiri apabila ada beberapa dari sekian banyak orang yang masuk ke rumah sakit itu bisa sembuh. Melihat mereka bisa kembali lagi pada keluarganya. Betapa bahagianya hati ini. Suatu ketika rumah sakit kami menerima seorang pasien yang aneh sama sekali. Seorang lelaki. Ia lain dari orang-orang yang kami terima sebelum-sebelumnya. Nampaknya ia cukup waras, namun ia mengajukan dirinya sendiri dan atas kemauannya sendiri untuk masuk ke rumah sakit kami. Walau semula pihak administrasi dari rumah sakit kami mengajukan keberatan, dia memaksanya. Dan akhirnya kami terima juga dia. Dia minta kamar yang sendiri, dan tiap hari hanya memandang ke luar jendela merenungi nasibnya. Aku yang bertugas merapikan kamarnya, hanya bisa menerka-nerka apa yang dia renungi selama ini. Sebab jikalau aku menanyakan tentang masalah dia, dia hanya berdiam seribu bahasa. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Hal-hal yang sama telah kutanyakan pada pengurus rumah sakit dan teman-teman sekerjaku tentang masalahnya, tapi semuanya tidak ada yang tahu. Aku terka bahwa dia sudah cukup menderita banyak, jadi aku tidak ingin lagi mengungkit-ungkit masalahnya lagi. Sudah tiga bulan, kejadian itu berjalan terus. Kehidupan rumah tanggaku mulai di ambang perpecahan, sebab aku memegorki suamiku telah menyeleweng dengan perempuan lain. Ia tidak bisa menerima keadaan bahwa kita memang belum dianugerahi anak. Betapa hancur hatiku. Dikhianati oleh suamiku sendiri. Tetapi urusan rumah tangga tidak kucampur adukkan dengan urusan pekerjaan. Aku bekerja sebagaimana biasanya. Aku tidak menceritakan hal ini kepada siapa-siapa, hal ini kupendam dalam hati saja. Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan mengangkat semuanya ini. Tidak tahu mengapa, tiba-tiba aku tidak bisa menahan semua kependaman yang kulakukan selama ini. Aku menceritakan juga, ingin mensharingkan masalahku. Aku menceritakan pada orang yang diam seribu baasa itu. Tetapi dia tidak bereaksi apa-apa. Hanya diam mendengarkan. Aku pikir dia ini cuek atau apa, aku tidak tahu. Tetapi suatu saat, kulihat dia menitikkan air matanya saat kuceritakan bahwa suamiku meninggalkanku. Sejak saat itu, aku mulai sadar, dia memperhatikan ceritaku. Begitu sepanjang hari, aku menyempatkan diri sharing bersamanya. Walau dia diam seribu bahasa, tapi dia menjadi pendengar yang baik. Walau dia hanya diam seperti patung batu saja, aku mengerti dia sebetulnya ingin ditemani dan mendengarkan sharing-sharingku. Hari itu aku tidak masuk kerja sebab aku harus mengurus surat perceraian yang diajukan suamiku. Walau aku sangat keberatan, tetapi dia bersikeras. Dia ingin menikah lagi. Hatiku benar-benar hancur. Aku tidak dapat memaksanya mempertahankan keutuhan rumah tanggaku. Hingga keesokan harinya... Aku mendapatkan kamar teman sharingku yang terkunci. Aku heran, sebab dia tidak pernah mengunci kamarnya, karena dia tahu aku selalu datang pagi untuk membersihkan kamarnya. Aku mengetuknya pelan. Tetapi 15 menit berlalu. Tidak ada jawaban. Teman susterku, namanya Yohana Immanuel, memberi tahuku bahwa dia telah meninggal kemarin. Lalu ia memberiku kunci kamarnya agar segala sesuatu kurapikan. Hatiku yang sudah hancur, makin hancur mendengar teman sharingku sudah tiada. Dengan menahan tangis, aku merapikan kamarnya. Kupandang kursi yang kosong tempat dimana dia duduk. Dia tidak berada lagi disana... Aku membuka laci untuk merapikan semuanya. Tiba-tiba mataku tertuju pada sepucuk surat. Eh, rupanya surat dari dia. ' Dear, suster ANG1EE... Terima kasih apabila selama ini engkau menceritakan masalahmu. Masalahku dengan masalahmu tidak jauh beda. Aku juga ditinggalkan istriku. Dia meninggalkanku sebab aku berpenyakitan. Dia tidak mau merawat aku yang berpenyakitan ini. Dia telah berselingkuh juga. Aku sangat kecewa dan hancur, tidak bisa menerima kenyataan ini. Hingga aku melarikan diri ke tempat ini. Aku jatuh frustasi, aku tidak ada semangat hidup lagi. Tetapi bertemu engkau, kita memiliki masalah yang sama,... masalah dimana dunia tidak mau mengerti lagi keadaan kita. Dunia benar-benar tidak mau memberi kita jalan keluar. Semenjak itu aku diam membisu. Biar kupendam saja masalah ini selamanya. Tapi ketika engkau mensharingkan kisahmu. Tidak jauh beda dengan masalahku. Tetapi aku biarkan saja. Karena percuma saja untuk sembuh. Walau aku tidak pernah berdoa, tetapi begitu mendengar sharingmu, aku menyempatkan diri untuk berdoa bagimu tiap malam. Tetapi mengapa seringkali harapan kita tidak sesuai dengan rencana Tuhan yaa ? Aku tidak mengerti... Tuhan malah memisahkan engkau dengan suamimu lewat perceraian. Hal ini kudengar dari temanmu, suster Yoan, bahwa kau minta ijin tidak masuk mengurus surat perceraian ketika kutanyakan kemana engkau gerangan hari ini ? Lalu kutulis surat ini. Sebab aku tidak bisa mendengar sharingmu hari ini. Jadi aku saja yang sharing lewat surat ini... Terima kasih atas waktumu, suster ANG1EE,... Aku mau tidur dulu. Mungkin tidur yang sangat panjang, menantikan hari esok engkau datang lagi membawakan sharingmu. Salam, Luther....' Aku terguncang membaca suratnya dan menangis. Yohana datang menghampiriku. Dia tahu bahwa aku telah kehilangan segala-segalanya. Suamiku...., rumah tanggaku...., teman sharingku.... Selamat jalan, Luther, teman sharingku... -----(END)-----