SEBUAH PERMINTAAN
Cerpen F1do - Sebuah Permintaan ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi August 31st 2000 Seperti dikisahkan kembali oleh seseorang (--- Based on True Story ---) Entah berapa lama, aku membisu dalam ruangan yang kecil dan sumpek ini. Papa juga terdiam, tidak banyak bicara. Aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku sudah letih... Sudah capek... Jenuh... menyelimuti diri ini... Tapi mengapa papa tidak menjawab-jawab juga... Aku mengingat hari-hari itu... Dimana aku bisa bercanda mesra dengan papa. Bergumul riang dalam sebuah taman. Aku mengarang lagu untuk papa. Untuk dia dengar... Untuk dia hayati bahwa aku sayang padanya. Aku sudah melakukan banyak hal untuk papa, kurasa... Aku main drama untuk nama papa, melayani pekerjaan papa, melakukan semua hal untuknya. Aku juga selalu mempelajari tulisan papa, mengikuti pelajaran untuk memperdalami tulisan papa... Hingga suatu saat... "Pa, aku ada sebuah permintaan..." kataku menghampiri papa. Papa menoleh kepadaku dan tersenyum. "Aku ingin pasangan untuk diriku, pa..." Papa terdiam. Aku tak mengerti mengapa dia tidak memberikan jawaban. Hal ini kusimpan dalam hati. Kadang aku bertanya, apa maksudnya. Suatu hari, aku tak tahu, apakah ini pasangan yang diberikan dari papa atau bukan, tapi aku membicarakannya pada papa. "Pa, aku tidak tahu apakah perempuan ini dari engkau atau bukan. Tapi kalau memang dari engkau, semuanya berpulang kepada papa saja..." Papa tidak menjawab. Aku bingung bagaimana harus bersikap. Begitu, begitu terus... Tiap hari aku bicarakan pada papa, tapi papa tidak menjawab sepatah kata pun. Dalam hatiku, ia mungkin setuju dengan pasangan yang ini. Kuteruskan saja hidup ini bersama perempuan itu, namun kandas di tengah jalan. Sakit ! Memang sakit ! Aku menemui papa lagi, "Pa, kalau perempuan itu memang bukan untukku, ya, semuanya terserah padamu... Mungkin papa akan memberikan yang terbaik menurut papa..." Papa tidak menjawab. Begitu terus... Berulang kali, dimana aku ingin melakukan suatu hubungan yang indah dan selalu kubicarakan kepada papa dahulu, selalu kandas, kandas dan kandas lagi. Aku tidak mengerti lagi, harus apa yang kulakukan lagiiiiiiii ??? Papa hanya diam saja, tidak menjawab sepatah kata pun. Aku heran apa yang terjadi dengan diriku, kadang kudengar atau hanya perasaanku saja, aku tidak tahu, katanya, aku sedang dibentuk ? Tapi semua itu cuma omong kosong, kurasa... Semua hal kubicarakan kepada papa sampai aku mungkin capek sendiri... Kepahitan hati yang kurasakan membuat hubunganku dengan papa menjadi renggang. Aku tak tahu lagi, mengapa sebuah permintaan yang sederhana saja dari seorang anak kepada papanya tidak pernah ditanggapi. Aku juga tidak ingin jatuh ke dalam dosa perzinahan dan pergi ke tempat pelacuran. Aku hanya ingin mengikuti jalan yang telah papa ajarkan... Tapi... Aku tak mengerti apa yang telah terjadi ? Aku letih sekali menghadapi semua hal ini... Beberapa teman menghampiri dan mencoba menghiburku. Namun, karena semua kemarahan yang telah terpendam sekian lama dan menjadi akar kepahitan begitu rupa, aku menolak semua omong kosong tentang hal-hal penghiburan teman-temanku itu. Aku hanya bisa merenung malam ini... Malam dimana usiaku bertambah satu, apa yang terjadi pada diriku dan papa... Ada suka dan duka dalam mengikut papa. Mungkin kupikir banyak duka lagi yang kurasakan dalam mengikut papa. Aku tidak mengerti semua rencananya... Aku hanyalah seorang anak yang tidak tahu apa rencana papa saat ini. Atau mungkin aku terlalu memaksakan segala sesuatunya kepada papa, aku tidak tahu. Bukankah sebuah permintaanku sederhana saja... ? Tidak tahu lah... Aku sudah tidak mengerti lagi... Mungkin papa tidak mau memberikan secuil saja dari seluruh dunia ini, begitu pikiranku yang selalu melintas dalam hati kecilku... Aku tidak tahu lagi... Papa selalu diam saja, mengapa ??? Aku tidak tahu... kesepian selalu menghantui diriku... Bukankah papa sendiri yang menciptakan pasangan karena dia melihat tidak baik aku sendiri saja ? Tapi mengapa aku bernasib buruk begini ? Aku tidak mengerti... Malam ini... Di kamar yang kecil yang diterangi oleh sebatang lilin kecil dan dibarengi turunnya hujan, aku berhadap-hadapan dengan papa. Aku sudah tidak bisa berbicara lagi, berkata-kata lagi, hanya tangis isak seorang anak yang keluar... Kupikir dia mengerti masalahku... Dan akan memberiku jalan keluar dari masalahku... Meluluskan permintaanku yang sederhana yang kapan saatnya aku tidak tahu... Aku hanya bisa berharap saja... Pengharapan yang sia-sia atau tidak, aku tidak tahu... Curhat seseorang untuk kalian yang mengalami nasib yang serupa.... Aku tidak tahu apakah hal ini menjadi kekuatan bagi kalian atau tidak, tapi percayalah, aku mengalami hal yang serupa... -----(END)-----