Romance - Piano Gereja
Romance - Piano Gereja ------------------------------------------ Illustrated by : Freedi Djajadi On : 15th September '2000 at night listening the sound of piano... --- Catatan Margaretha --- Piano gereja itu tampak berdebu. Bagian atasnya nampak sarang laba-laba. Aku mengibaskannya dengan tangannku, mengusir binatang yang tidak pada tempatnya itu. Aku memijit tuts-tuts yang tergeletak beraturan di sana. Nampak sedenting nada memantulkan bunyinya. Ting... ting... suaranya terdengar sumbang sekali. Sama sumbangnya dengan keadaan hatiku saat ini. Sama sumbangnya dengan jeritan tangis yang pilu yang dikeluarkan dari alam bawah pikiranku. Samar-samar, pikiranku melayang entah kemana. Mengingat di hari itu, dimana kami telah menghabiskan waktu bersama... _________________________ --- Catatan Freedi --- Seperti biasa, persekutuan pemahaman Alkitab dimulai pukul tujuh malam. Sejam sebelumnya, ruangan persekutuan itu masih sepi. Tidak nampak orang lalu lalang. Apalagi ruangan itu terletak di pojok belakang gereja yang sedang dibangun akibat kerusuhan massa yang membabi buta membakar gereja itu. Dan, sebagaimana adanya aku bertugas sebagai pengurus, harus datang lebih awal. Aku melangkah ke ruangan itu. Masih kosong, sepi. Bangku-bangku juga belum disiapkan. Lalu aku berinisiatif mengatur bangku-bangku, ya, seenggak-enggaknya, aku bisa melayani sesama dengan cara begini. Daripada menghabiskan waktu yang terbuang secara percuma, aku membuka buku nyanyian yang biasa kami nyanyikan setiap persekutuan. Aku mulai bernyanyi-nyanyi sendiri. Meski aku sadar, suaraku sangat tidak enak didengar, tapi aku cuek saja, sebab saat itu tidak ada orang sama sekali. Sampai mataku memandang piano yang terdapat di pojokan ruangan. Aku menghampiri dan memperhatikan piano itu. Nampak kesepian... Sama, seperti diriku, dia sepertinya butuh nyanyian. Kubuka tutup piano itu dan kupandang tuts-tuts yang terdapat di sana. Aku memandang sekeliling, tiada orang. Jadi kuputuskan untuk mencoba piano ini. Walau aku tidak bisa main piano, tapi aku belajar menekan tuts-tuts piano itu. Do... do... do... Spontanitas nada mengalir sendiri, dan aku mulai mencoba nada-nada yang kumainkan, sehingga kuciptakan lagu yang sangat enak didengar. Kuulang lagi untuk memainkannya. Begitu terus, mungkin sampai ada orang yang datang. Tak kurasa, ada seorang perempuan memandangiku bermain piano sambil bernyanyi-nyanyi sendiri dari balik pintu ruang persekutuan itu. "Halo..." sapanya. Aku tersentak dan buru-buru menutup kembali piano itu. Dia memberikan senyumnya yang termanis, "Kok udahan mainnya ?" "Eh, nggak... cuma iseng-iseng aja..." kataku terbata-bata. "Enak kok mainnya," katanya coba berusaha akrab. "Masak sih ? Saya nggak bisa mainnya kok..." potongku tapi ada perasaan bangga sedikit. "Beneran kok. Itu lagu apa sih ?" "Bukan lagu apa-apa..." kataku. "Masak ? Kok bukan lagu apa-apa, tapi enak sih ?" "Iya, bukan lagu apa-apa. Cuma main iseng-iseng doang." "Boleh dong saya tahu judul lagunya ?" "Tuhan Telah Menghibur Jiwa." "Oh ya ? Baru pernah denger tuh judulnya," katanya antusias. "Iya.... Saya karang sendiri." tuturku. "Wah, hebat juga ya kamu. Bisa ngarang lagu..." "Eh... Nggak juga. Eh, ngomong-ngomong kita belum kenalan. Siapa sih namanya ?" tanyaku sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Margaretha," katanya, juga sambil mengulurkan tangannya. "Fido..." kataku mengenalkan diri. "Fido ? Nama kamu ? Masak sih ?" tanyanya sambil tergelak. "Hihi... Iya, temen-temen manggil saya Fido. Kamu panggil aja nama saya itu." "Nama asli kamu dong !" pintanya. "Freedi," jawabku. "Kamu ikut pemahaman alkitab juga, Mar ?" "Enggak, Fid... eh, Fred... Saya Budha." "Oh Budha ya... Hmmm... Tumben ke gereja kemari ?" "Iya, Fred. Saya ada janjian ama temen saya, namanya Joice. Kamu kenal ?" "Joice ? Oh kenal..." "Nah, saya mau balikin buku catatan dia yang saya pinjam tuh. Tapi nggak tahu, kok orangnya belum dateng..." "Ya udah, duduk aja dulu, Mar." "Oke deh..." Lalu dia mengambil tempat duduk tak jauh dari piano. Aku mulai memainkan lagu lagi sambil sesekali melirik dan tersenyum ke arah dia. Nampaknya dia menikmati permainan pianoku. Dia sedang meresapi. Tak terasa, di hatiku ada rasa suka padanya. Aku meledeknya, "Aduh, kok diresapi begitu amat sih, Mar ? Kayak lagi main orkestra aja." Dia tertawa, "Enak, Fred. Lagu kamu... Tapi ada yang kurang cocok ya kuncinya..." "Nah itu, Mar. Saya nggak bisa main alat musik, cuma bisa sedikit-dikit. Kamu bisa ?" Dia mengangguk. "Oke, aku catatin nada-nadanya ya... Nanti kamu cariin kuncinya dan cocokin, gimana ?" Dia mengedipkan mata tanda setuju. Lalu dia memainkan piano itu dengan merdunya. Lebih merdu dari permainanku, kukira. Dan lagu itu sungguh-sungguh menjadi gugahan hati. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, ketika Joice muncul. "Hai, Fred... Hai, Margareth..." Aku menganggukan kepala. Margaretha bangkit dari tempat duduk dan membuka tasnya, memberikan buku catatan Joice. Lalu dia pamit kepada kami. "Fred, lagu kamu enak. Catatan ini buat saya ya ?" "Ok," kataku. Dia menghilang dalam pandangan sekejap mata. Joice mendapatkanku yang masih dalam lamunanku akan permainan pianonya. "Hayo nih... mikirin apa ?" tanyanya sambil mengibaskan tangannya di depan mukaku. Aku tersenyum kecut. _________________________ --- Catatan Freedi --- Lama waktu berlalu, hari-hari kulalui sangat membosankan. Tidak kedengaran kabar lagi dari pemain piano handal itu. Sampai akhirnya, malam sekitar jam sebelas, ketika aku sedang menghabiskan waktuku di depan komputer untuk membuat cerpen, dia meneleponku. Kring.... "Halo ?" sapaku. "Halo... Freedi Fido ya ?" tanyanya dengan suara serak. "Iya, siapa nih ?" "Margaretha..." "Margaretha ? Yang mana ya ?" "Yang waktu itu main piano..." "Oooo..." aku baru ingat lagi, soalnya kejadian itu sudah lama sekali. "Kenapa, Mar ? Kayaknya ada yang tidak beres ya ?" "Tadinya, Fred. Aku mengalami suatu tragedi yang pahit, Fred..." "Tragedi ?" "Eh, nggak juga..." tutupnya malu-malu. Aku langsung menembak, "Diputus pacarmu ya ?" Dia terdiam. Hening... "Halooo ? Haloooo?" sapaku. "Mar, masih disitu ?" "Iya, Fred." "Eh, maaf... aku enggak bermaksud menyinggungmu, Mar... Sorry..." kataku sambil mengumpat dalam hati, kenapa aku kalau bercanda suka kelewatan. "Enggak apa-apa, Fred. Malahan aku mau berterima kasih sama kamu." "Ha ? Berterima kasih apaan nih ?" "Iya, setelah kejadian itu, aku merasa jatuh sekali. Aku merasa dunia begitu sempit. Tolol ya, Fred ? Nah, selagi aku termenung, aku melihat secarik kertas di atas meja belajarku. Aku menemukan syair yang indah, Fred... Lagu yang pernah kita mainkan, yang menguatkan diriku lagi, Fred..." "Lagu Tuhan Telah Menghibur Jiwa itu ?" tanyaku. "Iya... Aku benar-benar dikuatkan oleh lagumu, Fred... Aneh ya, Fred ? Padahal aku ini Budha. Kenal Yesusmu aja cuma dari sekolahku yang kristen." "Oh, bagus deh... Kalau laguku menjadi berkat bagimu..." kataku. "Makasih, Fred..." Aku tersenyum, "Sama-sama. Tapi ingat loh, Mar... Yang menguatkanmu Roh Kudus lewat perantaraan laguku. Aku sih bukan siapa-siapa." "Terimakasih..." katanya menghabiskan pembicaraan di ujung telepon. _________________________ --- Catatan Margaretha --- Aku melangkah ke ruangan persekutuan pemahaman Alkitab pukul enam sore itu. Kucari Freedi yang telah menguatkan diriku lewat gubahan lagunya. Ingin menemuinya lagi, untuk mendapatkan lagu-lagunya yang lain. Tapi dia tidak ada. Kutanyakan orang yang sedang menyapu di ruangan itu. "Maaf, pak... Kenal Freedi ?" "Oh iya, kenal... Dia kan sering ikut persekutuan disini," jelasnya. "Dia belum datang, pak ?" "Oh, adik belum tahu ya ?" "Apaan, pak ?" "Dia mengalami kecelakaan lalu lintas minggu kemarin. Dia sudah meninggal, dik..." "Apaaaaa ???" aku kaget dan tersentak sekali. "Iya. Maaf ya, dik... Saya harus melanjutkan pekerjaan saya kembali..." "Oh iya, pak. Makasih pak..." Air mataku menitik mendengar kabar buruk itu. Aku memandang ke arah piano yang terletak di pojokan ruangan itu. Tampak beberapa kertas. Aku mendekatinya. Itu... itu... lagu-lagu gubahan Freedi semuanya. Dia telah tiada, tapi meninggalkan berkat dan kekuatan yang menghiburkan lewat lagu-lagunya. Oh, Tuhan... Terimakasih Engkau telah mempertemukan aku dengan Freedi, sehingga aku telah menerima Yesus sebagai Penolong Hidupku. Terima kasih Freedi... Kau selalu hadir dalam kenangan... dan hadir dalam setiap gubahan lagumu... _________________________ TUHAN TELAH MENGHIBUR JIWA ---------------------------------------- Kala hujan telah reda Menangisi hati yang duka Sinar mentari di balik mega Terangi secercah harapan Begitulah kasih Tuhan Yesus Yang menyinari langkah hidupmu Apapun yang engkau alami kini Jalan terjal dan jurang kelam Tiada seorangpun bersamamu Namun Tuhan selalu sertamu Angin malam menusuk kalbu Sesaki nafas hidup ini Percaya saja pada Tuhan Yesus Serahkan semua kekuatiranmu Tuhan telah menghibur jiwa Setiap hati yang terluka Walau beban berat kau panggul Tuhan punya rencana indah Di balik setiap masalah Tuhan telah menghibur jiwa Nov 7th '99 (freedattaq@yahoo.com)