Romance - Maafkan Aku, Cherri...
Romance - Maafkan Aku, Cherri ... --------------------------------- Illustrated by : Freedi Djajadi On : 7th Oktober '2000 in any place you don't know where... "Mungkin kau akan mengingat lagu ini..." katanya datar seraya mengeraskan suara dari radio itu perlahan demi perlahan. Dari radio mungil itu terdengar suara lagu merdu yang tidak bisa kuingat lagi kapan kupernah dengar lagu itu. Dia berlutut di hadapanku. Tatapan matanya sayu. Bibirnya bergetar, tak sanggup lagi untuk berkata-kata. "Freddie, kau masih tidak ingat juga ...?" dia mengguncangkan tubuhku. Aku menggeleng. Dia tampak sedih melihatku dalam keadaan begini. Aku ikut menangis ketika dia menitikkan air mata. "Sudahlah, jangan paksa aku..." kataku perlahan. Dia meremas kedua tanganku. Katanya pelan,"Maafkan aku..." _________________________ Daya pikirku perlahan mulai berkurang. Aku tidak tahu kenapa harus begini. Padahal usiaku masih muda. Tapi seiring kondisi tubuhku yang mulai tak beres, aku tak mengerti penyakit apa yang menimpaku. Aku seperti seorang tua, seorang kakek-kakek yang berusia uzur saja. Memori di otakku perlahan mulai berkurang. Cherri datang siang itu, ketika aku sedang beristirahat di ranjang kecil, sehabis menjalani bedah otak. Kedua tangannya mengenggam sekeranjang buah lengkeng kesukaanku. "Halo, Fred ! Gimana keadaanmu ?" Aku menggeleng lemah. Dia menangkap kesedihan di hatiku. "Ceritakan saja, Fred..." "Cherri... Maafkan aku. Aku tidak bisa melawan penyakit ini. Aku kalah. Aku telah menyerah." Dia mendekatkan kursinya padaku. Sambil merapikan selimutku, ia berusaha menghiburku. "Tidak, Fred. Kau tidak kalah. Kau pasti menang." "Cher, aku berkata sejujurnya saja. Dokter sudah mengangkat tangan. Mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tumor di otakku makin membesar, dan hal itu menyempit ruang pada otak kecilku. Sehingga, otak kecilku tidak bisa berfungsi dengan benar lagi... Entahlah, apa yang bisa kuperbuat..." "Fred, jangan menyerah dengan keadaan..." "Cher... Kita harus menghadapi realita. Dan faktanya memang begini..." Dia berusaha tidak menangis, tapi tidak tahan juga. Air matanya menitik di sepanjang pipinya. Aku hanya memandangnya dengan pandangan hampa. "Cher..." kataku pelan. Dia menoleh. Dan dari sorot matanya juga tampak tidak ada lagi harapan yang tersisa, sama dengan keadaanku ini. "Tinggalkanlah aku selagi kau bisa... Lupakan saja diriku sebagaimana aku perlahan akan lupa segalanya..." "Tidak, Fred. Aku tidak bakal meninggalkanmu dalam keadaan begini..." Aku mulai tidak tahan untuk menangis juga. "Cher, aku tidak ingin hidup begini... Aku ingin mati..." kataku histeris meremas kedua tangannya. Cherri menyibakkan rambutku yang berantakan. "Freddie, aku tahu keadaanmu. Lebih baik kita berserah saja padaNya..." "Cher, kadang aku menyalahkan diriNya yang telah membuatku begini." "Jangan, Fred..." "Aku tahu, tapi terlalu berat beban yang kupanggul. Aku tidak bisa habis pikir bagaimana nanti kuisi sisa-sisa hariku apabila aku tidak bisa ingat apa-apa lagi, Cher... Apa yang bisa kulakukan untuk membahagiakan dirimu ? Aku tak tahu lagi..." Malam itu, kami hanya bisa berdoa semoga Tuhan bisa menguatkan diriku. _________________________ Esok harinya, Cherri menemuiku dalam keadaan agak parah. Aku mulai lupa sedikit demi sedikit. "Freddie..." Aku membuka mataku perlahan demi perlahan. "Siapa kau ? Dan siapa Freddie ?" tanyaku. Dia terheran melihatku, tidak tahu apakah dia bisa menerima keadaanku sekarang. "Fred, aku Cherri... Pacarmu, Fred... Kau Freddie..." "Oh, maafkan aku. Aku tak ingat lagi..." "Nah, ini buah kesukaanmu..." katanya menunjukkan buah yang bulat-bulat, dan ku tak ingat lagi buah apa itu. "Ada perlu apa menemuiku ?" tanyaku. "Ya, aku menjengukmu, Fred..." "Ah, aku tak tahu siapa anda. Anda bilang anda pacarku, begitu ?" "Fred... Kau telah lupa ?" Dia mulai tak bisa menerima keadaanku yang telah parah begini. Dia hanya tahu bahwa kemarin diriku masih mengenalnya, dan sekarang telah melupakannya. Tumor otakku sudah demikian parahnyakah ? "Lupa terhadap apa ?" Dia mengeluarkan sebuah tape recorder dan menyalakannya di meja itu. "Fred, mari kita rekam saja pembicaraan kita. Kita rekam semua kenangan kita..." Lalu ia memandangku sedemikian rupa. "Ingat, namamu Freddie. Aku Cherri, pacarmu. Kita sekarang berada di rumah sakit karena kau mengalami tumor otak. Sudah lima bulan kau menjalani pembedahan otak. Buah kesukaanmu, lengkeng. Lagu favoritmu adalah She's The One-nya Robbie Williams. Kau pernah menyanyikannya untukku di hari ulang tahunku seminggu yang lalu di rumah sakit ini. Lalu..." Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Dia tak tahan untuk menghadapi semuanya ini. "Freddieeeeee.... Tidak bisakah kau mengingat secuil pun ???" "Maafkan aku... Aku telah lupa semuanya..." kataku tertekan. Lalu dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, lalu hanya bisa menyalakan lagu, yang katanya lagu favoritku. _________________________ Cherri keesokan harinya menemui diriku dalam keadaan sudah parah sama sekali. Aku sudah tidak bisa mengingat lagi hal-hal yang bahkan hal semenit yang telah terjadi. Dia tampak bercakap-cakap dengan orang tuaku di depan kamar. "Cher, selagi bisa, kau boleh meninggalkan Freddie..." kata papaku menasihatkan. "Tidak, tidak mungkin Freddie ditinggalkan begitu rupa. Dia butuh saya, oom..." Mamaku juga berkata bijak,"Kau masih muda, Cher... Carilah pemuda lain yang bisa membahagiakanmu, selagi kau masih memiliki waktu..." Cherri menggeleng. Tampaknya dia akan terus menemaniku sepanjang hidupku. Dia lalu menghambur ke kamarku dan memelukku. "Fred, aku tidak akan meninggalkanmu..." "Siapa kau ?" tanyaku. "Aku Cherri, pacarmu.. Kau Freddie..." katanya. "Maaf, aku tidak kenal anda..." "Aku mengerti, Fred..." Dia tampak lusuh dan kuyu. Aku tak tahu apakah dia letih menghadapi semuanya ini... "Ada yang bisa kubantu, nona ?" tanyaku lagi. Dia tersenyum. Lalu menyalakan tape recorder yang dikantunginya. "Kita dengarkan lagi ya, Fred... Ini rekaman kita tentang dirimu..." Aku hanya mengikuti saja perintahnya. "Kau masih tidak mengingatnya juga kah, Fred ?" Aku menggeleng. "Aku mengerti, aku mengerti..." katanya pasrah. _________________________ Aku sudah pulang dari rumah sakit, dan dokter sudah wanti-wanti untuk menjagaku sangat ketat. Dan hal-hal yang berkaitan dengan daya ingatku, apalagi mengembalikan ingatanku, itu dilarang keras. Tapi tampaknya Cherri tidak bisa menerima keadaan ini. Dia terus berupaya mengembalikan ingatanku. Dia ingin semua kebahagiaan, semua kenangan indah, semua hal-hal yang menyenangkan kembali ke dalam otak kecilku. Aku tertekan sekali ketika dia mulai marah-marah dan memaksaku. "Freddieeeeee... Kau tidak sayangkah padakuuuu ??? Mengapa satu halpun kau tidak ingattt ?" katanya sambil memukul-mukul dadaku yang terbalut jaket. "Freddie..." Dia akhirnya berlutut di hadapanku dan mencengkeram jaketku kuat-kuat. "Apa yang harus kuperbuat lagiiii ?" Dia kecewa dan jengkel karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "Nona, maafkan aku..." kataku. "Aku tidak tahu siapa kamu..." Dia memakai mantelnya. Tampaknya dia ingin meninggalkanku tapi dari tatapan matanya, ada seberkas rasa tak tega pada diriku. "Apa lagi, Fred... apa yang harus kuperbuat... Katakan APA, Fred... Apa yang harus kulakukannnn !!!" "Aku tak tahu..." lalu aku mulai menangis seperti seorang anak yang akan kehilangan ibunya. Dia merasa bersalah. Tapi ya, bagaimana lagi. Semua harus dihadapi secara tegar... "Baiklah, Fred. Aku Cherri, pacarmu... Kau adalah Freddie... Ingat, aku Cherri, pacarmu. Kau adalah Freddie... Coba katakan hal itu berulang kali, Fred... Biar kau bisa ingat..." "Aku Freddie, kau Cherri pacarku... Aku Freddie, kau Cherri pacarku..." kataku berulang-ulang. Dia tersenyum bahagia, tapi lama kelamaan senyum di bibirnya itu sirna, karena aku hanya tampak seperti seorang robot saja. "Sudahlah, Fred... Lupakan saja..." "Maafkan aku, Cherri... Aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat..." _________________________ Kurasa dia kini telah pergi entah kemana. Ya, wanita yang menyuruhku berulang-ulang kali mengucapkan "Aku Freedi, kau Cherri pacarku." telah tiada. Mungkin dia telah meninggalkanku sendirian di sini. Sendirian, tiada siapa-siapa. Melupakan semua hal-hal yang berlalu. Hal-hal yang indah di antara kita. Kurasa juga itu hal yang terbaik bagi dirinya. Aku sudah tidak bisa membahagiakannya lagi. Masa mudaku sudah berhenti sampai disini.... Sedangkan masa mudanya masih panjang.... "Maafkan aku, Cherri..." _________________________ (freedattaq@yahoo.com)