Romance - Kisah Supir Bajaj
Romance - Kisah Supir Bajaj ------------------------------------------ Illustrated by : Freedi Djajadi On : 8th September '2000 on day until last weekend Bajaj merah itu melaju kencang. Tapi sekencang-kencangnya bajaj, lebih kencang larinya becak, hehe... Ya, tahu sendiri lah bajaj larinya paling kencang berapa sih. Udin, supir bajaj itu dengan setia mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuannya. Sambil menghisap rokok kreteknya, sesekali matanya melirik ke arah kaca spion. Maklumlah, yang naik cewek lumayan kece. Tapi sayang, di sebelahnya duduk anjing herdernya. Iya, cowoknya. Lagian, pikir Udin, mana ada sih cewek kece sekarang yang belum punya cowok. Semua udah dibooking duluan ! Hotel kali, hihi... Selain itu, mana ada sih cewek yang tertarik ama supir bajaj. Cewek jaman sekarang kan maunya punya cowok yang cool, pake berdasi, naik mobil mewah, kalo bisa punya deposito segudang. Udin udah ngebayangin dirinya sedang menyetir mobil BMW yang dicat merah, serupa dengan bajajnya. Hehe... "Eh, bang ! Awas ada kucing lewat !" seru anjing herder cewek itu mengagetkan Udin yang lagi terbengong-bengong memikirkan fantasi yang indah. "Eh, kucing... kucing..." latah Udin. Spontan Udin membanting setirnya ke kanan. Bajaj itu nyelonong seenak udelnya menerjang batas trotoar. Penumpang di belakan jungkir balik nggak karuan ! "Aduhhhhhh... Gimana sihhhh ?!!!" teriak cewek itu. "Hoiiii.. gua kegencet nih... Keluarin donkkkk.!!!" seru cowoknya. Udin pun benjol-benjol kepalanya. Dia keluar dan segera membalikkan bajajnya yang udah terguling. Cowok dan cewek itu ngomel-ngomel nggak karuan. Pake acara minta biaya pengobatan segala sama si Udin. Udin terpaksa nurutin kemauan mereka. Ya, namanya juga orang kecil. Mau menang, nggak bisa. Apalagi nanti kalo urusannya ama polisi. Berabe. Ujung-ujungnya keluar duit juga. Ya, terpaksa deh. Tuh cowok ama cewek masih sambil ngomel-ngomel menyetopkan taksi untuk melanjutkan perjalanan mereka. Sementara Udin cuma bisa menatapi roda depan bajajnya yang ringsek menghantam trotoar. "Ah, sial... Belum dapat setoran, udah nombok duluan..." batin Udin lalu duduk termenung di pinggir jalan memperhatikan bajajnya. Enggak berapa lama kemudian, datang tukang derek untuk mengangkut bajajnya yang udah dianggap mengganggu kelancaran lalu lintas. Udin cuma bisa diam aja tuh bajaj diderek. Dan, tahu sendiri. Abis diderek, musti keluar duit lagi ! Buat bayar ongkos derek. Gimana nggak kesel coba ! Udin kembali ke pangkalan dengan wajah suntuk habis. "Halo, Din ! Pakabar loe !" seru Uchok yang lagi mojok di warung kopi Mpok Ina. "Ah, suntuk, Chok..." "Napa pula lah kau ?" tanya Uchok sambil menyeruput kopi hitamnya. "Nabrak. Bajaj gua nabrak..." "Matamu meleng kali lah, Din. Makanya, jangan bengong aja. Kau ini kebanyakan minum pil koplo kali lah ya kau ?" "Hus, enak aja..." Udin nggak nghirauin lagi si Uchok, dia memesan secangkir kopi dan menyalakan rokok kreteknya. Lima belas menit, Udin menghembuskan asap rokoknya. Setengah jam... Lama menunggu, Udin keheranan kopinya nggak dateng-dateng. "Mpok, mana atuh kopi saya ?" "Ah bang Udin... Maaflah bang... Kayaknya aye nggak bisa ngeladenin abang lagi." "Loh napa ?" tanya Udin keheranan. "Utang abang belum dilunasin. Udah banyak nomboknya, bang. Kalo gitu, aye bisa bangkrut kalo abang utang mulu." "Ya, mpok... Gimana atuh... Namanya juga belum ada uang. Nanti kalo udah ada, saya lunasi deh..." "Enggak bisa ah, bang. Dari kemaren janji abang begitu mulu..." tukas Mpok Ina. Dengan perasaan kesal, Udin keluar dari warung itu. _________________________ Ah, sial ! Napa sih hari ini apes mulu ! Hati Udin membatin kesel. Sambil menjalankan bajaj cadangan yang sudah diwanti-wanti oleh Baba Hong, bossnya, agar tidak nabrak lagi, Udin melajukan bajajnya di sepanjang jalan protokol kota. Belum habis kekesalannya, Udin sudah dibuat kesal lagi oleh kemacetan jalan itu. Dari bus, motor, mobil, semuanya pada ngantri ! Macet ! Gila ! Udin membunyikan klaksonnya kencang-kencang untuk membuang rasa suntuknya. Karuan aja pengemudi sepeda motor di depannya menoleh dan memelototinya. Udin langsung tertunduk takut. Hihi... Udin makin stress ketika sudah setengah jam, antrian tidak bergerak juga barang seinchi pun. Cari-cari akal, Udin mendapat ide cemerlang ketika melihat beberapa sepeda motor menerjang pinggir trotoar. Nggak mau kalah, Udin merangsekkan bajajnya naik trotoar itu. Karuan aja pengendara sepeda motor jadi gondok, bajajnya Udin tidak bisa memberi kesempatan buat menyusul. Apalagi di trotoar itu, ada tukang rokok yang mangkal lagi ! Bajaj Udin nggak bisa bergerak kemana-mana lagi. Pengendara sepeda motor di belakang bajaj itu mulai membesarkan gasnya gede-gede, jengkel atas kelakuan Udin. Udin makin kecut ketika ada seorang polisi lalu lintas dengan wajah garang menghampiri bajaj Udin. "Eh, apa-apaan ini !" omelnya. Udin cuma bisa terdiam seribu bahasa. "Udah gila kau ya ? SIM ! SIM ! Mana SIM kamu ?" Udin pura-pura merogoh kantongnya. Alamak !!! Udin baru sadar dia dalam keadaan terjepit. Udin nggak punya SIM sama sekali. Bajaj dibawanya cuma dengan modal nekat ! SIM nembak aja nggak lulus. "Enggak ada, pak !" "Ha ? Kamu saya tilang ya ?!!!" hardik polisi itu. Udin cuma bisa pasrah. _________________________ Sore itu, Udin kembali melajukan bajajnya. Bener-bener apes deh. Belum dapet uang setoran, malah udah dapet surat tilang duluan. Pengemudi bajaj juga makin sepi aja. Sekarang orang-orang udah semakin kaya, maunya naik taksi aja. Alamak... Kalo bisa, kayak di India aja deh... Banyakan bajajnya, daripada taksinya. Kalo di Jakarta mah, boro-boro... Naik bajaj sering ditodong, mana panas lagi. Apalagi berdebu. Reseh... Udin menggerutu kesal. Tapi kekesalannya sirna beberapa saat, ketika ada seorang perempuan cantik melambaikan tangannya. "Bang ! Bajaj !" "Iya..." Udin melambatkan laju bajajnya. "Gang Buncis berapa bang ?" "Ya, lima ribu lah, neng." "Aduh mahal banget sih bang ? Dua ribu aja ya ?" Setelah tawar menawar berlangsung alot, akhirnya Udin nyerah juga. Daripada kagak dapet uang sama sekali, lebih baik iya aja deh. Entar kalo nggak dapet setoran, bisa dimarahin ama boss. Perempuan itu lumayan cantik. Tapi Udin nggak mau lama-lama melirik ke kaca spion terus, takut nanti nabrak lagi. Cuma sekilas-kilas aja. Perempuan itu bukannya nggak tahu kalo dilirik dari kaca spion. Dia memberikan senyumnya ketika Udin curi-curi pandang. Udin jadi salah tingkah sendiri. "Napa bang ?" tanyanya membuka pembicaraan. "Enggg... enggak, neng..." "Naksir ya ?" tanyanya lagi. Udin tergelak. Spontan banget nih cewek ! "Namanya siapa, neng ?" tanya Udin. "Saya Dewinta..." "Dewinta ? Ih, kayak nama mantan istri abang aja di kampung, neng." "Oh..." "Lengkapnya Dewinta apa, neng ?" "Dewinta Sari Puspa" "Oh, bagus juga namanya. Mantan istri abang, namanya Dewintiyem, alias Iyem tuh neng." "Haha... abang bisa aja !" gelaknya. Udin tersenyum kecut. "Ya, beginilah abang. Hehe..." "Jadi, mantan istri abang kemana sekarang ?" "Minggat dibawa kabur orang." "Aduh, kok bisa gitu ya, bang ?" "Enggak tahu. Abang juga nggak ngerti. Tapi apa mau dikata lah, neng. Abang emang orang tak mampu, neng. Bisanya cuma nyupir bajaj doang. Ya, gimanalah neng. Laki yang dia pilih juga orang kaya di kampung abang tuh neng." Perempuan itu jadi simpatik ama si Udin. "Terus perasaan abang gimana ? Ada rasa dendam nggak ?" "Abang sih nggak dendam atau gimana, neng. Ya, udah jalan hidup abang begini neng." Enggak terasa, hati perempuan itu tersentuh. "Abang enggak kepingin mencari perempuan yang lain ?" Udin menggeleng. "Kayaknya udah cukup, neng. Hati abang udah cukup disakiti sekali aja. Nggak lagi-lagi lah, neng. Paling abang cuma mengagumi aja perempuan cantik kaya eneng kalo ada yang naik bajaj. Gitu loh neng." "Aduh, sampe serius gitu amat sih, bang ?" "Hehe... Iya. Nah udah sampe tuh di rumah neng." "Makasih ya, bang..." kata perempuan itu memberikan dua lembar uang ribuan yang disambut Udin. Baru saja Udin ingin menjalankan bajajnya, perempuan itu berkata, "Bang, kalo ada sempet, main aja ke rumah saya..." "Eh, iya... Makasih ya, neng..." sahut Udin menjalankan bajajnya. Bajaj Udin berlalu meninggalkan kepulan asap dari knalpotnya. Dan tampaknya emoh datang ke rumah perempuan itu. Sudah cukup kenangan bersama Iyem, bininya itu. _________________________ Masih seperti biasanya, Jakarta macet. Tampak bajaj yang dikemudikan Udin di antara hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang. _________________________ Freedi Djajadi(freedattaq@yahoo.com) Dalam kenangan naik bajaj...