Romance - Kencan
Romance - Kencan ------------------------------------------ Illustrated by : Freedi Djajadi On : 8th September '2000 late at night "Vid ! Vid !" panggil Rosmala ketika kuarahkan kakiku keluar kampus. Sambil menenteng tas pada punggungnya, dia berlari-lari kecil menyusul langkahku. Rosmala menatapku berbinar-binar. Tatapan matanya yang tajam langsung menusuk tepat di dalam hatiku. "Wow...! Wow...! Ada apa, Ros ?" tanyaku penuh rasa antusias menyapa nama panggilannya. "Vid, gua suka loe..." tuturnya. "Hua...!!!!" pekikku antara kaget bercampur senang. Lalu aku tertawa terbahak-bahak. Dia langsung melotot. Mulutku secara otomatis langsung kututup, menjaga agar tawaku tidak dibiarkan keluar lagi begitu rupa. "Loe, loe suka gua ?" tanyaku heran. Dia mengangguk. "So, apa sih yang loe suka ?" tanyaku lagi penasaran. "Ya, loe lah..." katanya, tapi kali ini pipinya bersemu merah. "Tumben aja, Ros." "Tumben napa ?" "Kok bisa-bisanya ada cewek yang mengutarakannya duluan ?" "Emang nggak boleh ?!!!" omelnya sambil menjulurkan lidah. Aku hanya terkekeh, "Hehe... Tapi kan..." Belum sempat hilang rasa heranku, dia udah memotong lagi. "Eh, Vid. Makasih ya. Loe udah kasih gua gebetan tadi pas ujian. Gua beneran nggak bisa sih, Vid. Ya, maklum aja deh, Vid. Otak gua kan suka tulalit apalagi kalo ngerjain soal-soal kayak gituan, Vid," katanya mengalihkan pembicaraan. Aku baru ngeh dan meledeknya, "Oh, itu toh... Suka gua ya, gara-gara gua kasih loe contekan ya ?" "Yee.... Itu nggak lah, Vid ! Eh, iya juga sih, maksud gua, itu salah satunya lah, Vid." "Haha, jujur juga loe ye ?" Dia meninju lenganku. "Ya udah deh, Vid. Loe itu gimana sih ? Cewek suka loe, bukannya seneng." "Ya, bukan gitulah, Ros. Seneng sih seneng, tapi... ya, gimana ya ? Gua kan..." Dia memotong pembicaraanku lagi, "Denger ya, Vid. Sebagai rasa simpatik gua ama loe, gimana kalo loe ngajak gua keluar malam minggu ?" "Huh ?" aku cuma bisa melongo. Dengan tangannya, dia buru-buru menaikkan daguku yang melongo. "Ini loe yang ngajak gua kencan, tapinya kok nyuruh gua kencanin loe sih ? Gimana atuh, hahaha !" aku tergelak terbahak-bahak. "Yee... mau nggak nih ? Kalo nggak, gua ajak Sheene aja deh yang nemenin gua keluar, biar loe nyesel deh !" ancamnya. "Eh, iya iya.... Mau ! Mau, Ros !" kataku buru-buru. Gantian kali ini dia yang ngakak. _________________________ Malam minggu kunanti-nanti penuh harap. Rasanya menunggu hari itu seperti sudah berbulan-bulan saja. Apalagi harus melewati masa-masa kuliah di kampus yang menyebalkan itu. Segala tetek bengek pelajaran benar-benar harus dihadapi. Dan rasanya ingin segera melewatinya saja. Tapi untungnya, hari yang kunanti itu segera datang juga. Aku yang sudah berdandan necis dan rapi, tersenyum-senyum sendiri mengagumi penampilanku di depan cermin. Andrea, dedeku yang terkenal usil kebetulan keluar dari kamarnya. Begitu melihatku, dia langsung meledek. "Huehuehue... Udah ganteng kok, mas..." "Iya dong ! So pasti !" balasku. "Cuma sayang tuh. Jerawatnya masih ada !" "Dasar ! Jelek loe !" kataku menjitak kepalanya. Dea, panggilan akrabnya, tidak kalah isengnya. Dia menorehkan Brylcreemku pada segenggam tangannya dan mengusap-usapnya pada rambutku sehingga jadi berantakan tak karuan lagi. "Eh, gila loe ya... Jangan banyak-banyak ! Entar rambut gua kagak turun-turun !" gerutuku tapi sambil tertawa. "Tahu deh... yang mau malam mingguan. Maunya tampil perfect, hahaha... Eh, Vid. Jadi orang jangan pelit, entar pacar loe kabur loh !" "Bukan pelit, dodol ! Buat apa sih lagian banyak-banyak. Dasar loe usil aja. Sirik ya enggak bisa malam mingguan ! Weekkkk !" balasku. Dea menjulurkan lidahnya dan masuk kembali ke kamar. Ada rasa menyesal terbesit di hatiku sekilas karena aku menyindirnya barusan. Soalnya dia baru putus dari cowoknya. Ah, tapi apa peduliku. Siapa suruh pacaran diputus-putus, batinku. Dengan langkah ringan, aku keluar pintu rumah, menuju sepeda motorku yang terparkir di pekarangan rumah dan menstarternya. Sambil bersiul-siul senang, sepeda motorku melaju ke rumah Rosmala. _________________________ Kencan dengan Rosmala, memang menyenangkan. Ya, mulanya sih... Anaknya asyik aja diajak ngocol, blak-blakan, ngomong apa adanya. Pokoknya funky cool punya deh. Tapi sehabis nonton dan makan bersama, kebiasaan jeleknya mulai keluar. Hobinya yang windows shopping bikin semua cowok di dunia menjadi suntuk forever ! Ya, tahu sendiri lah gimana kalo cewek udah shopping. Bisa bikin orang kram ! "Vid, baju ini bagus nggak ?" tanyanya sambil menunjukkan pakaian yang ditaksirnya. "Iya, bagus..." "Kalo yang ini, Vid ?" tanyanya lagi menunjukkan pakaian yang lain. "Bagus juga." "Yang ini, Vid ?" "Boleh.." "Ini, Vid ?" "Bagus." "Loh kok semua bagus sih, Vid ? Gimana sih loe ?" ujarnya. "Hehe..." aku tertawa kecut. "Loe suntuk ya kencan ama gua, suruh nemenin gua shopping ?" tanyanya serius. "Enggak kok..." kataku menutupi perasaan yang sesungguhnya. "Ya udah deh.. Gua kan cuma sebentaran, Vid. Bentar lagi selesai kok belanjanya," janjinya melegakan hatiku. Tapi sebentar yang dia maksud itu, sebentarnya cewek yang hobi shopping ! Dengan wajah bete habis, dia menemuiku di depan mall yang duduk sendirian di bangku panjang. "Yo, balik, Vid... Udah selesai kok..." katanya sambil memberikan semua belanjaannya kepadaku. Aku dipaksa terbenam dalam semua belanjaannya itu. Nggak kira-kira, ini mah ngeborong satu mall ! Ada-ada aja sih si Ros ini. Sambil menuju ke tempat parkir motor, Ros yang sedang menjilati es krim menyenggolku dan bertanya, "Gimana, Vid ? Kencan kita ? Berkesan ?" "Eh, jangan nyenggol gitu, Ros. Entar barang loe jatuh semua nih... Eh, iya berkesan..." kataku sambil tergopoh-gopoh menyusul langkahnya. "Jangan cepet-cepet gitu napa !" kataku. "Loe kan nggak bawa apa-apa, jadi cepet... Gua kan musti bawa barang belanjaan yang seabrek begini." "Buruan, Vid ! Kayaknya sebentar lagi hujan !" katanya cemas melihat langit yang dari tadi memperlihatkan guntur menggelegar di udara. Reseh, kata hatiku. Coba, dari tadi enggak pake acara belanja, jadi kan udah nggak kemaleman dan pasti udah nyampe di rumah dan udah bisa mantengin liga inggris di teve, dan... begitu pikirku. Harapan cuma tinggal harapan, ketika hujan segera membasahi kami berdua ketika kami dalam perjalanan pulang dengan sepeda motorku. Kami segera berhenti di halte bus yang juga sudah penuh sesak oleh orang-orang yang berteduh. Rasanya, kami berdua paling norak sejagad gara-gara barang belanjaan Ros yang seabrek-abrek itu. "Sorry ya, Ros. Kita kehujanan," kataku. "Kok sorry ?" tanyanya heran. "Ya, kan seharusnya nggak Ros ? Tapi gua pikir kencan kita direstui Tuhan kali ye ? Diturunin hujan begini," kataku renyah. Dia menyikutku pelan. "Sstt... jangan kenceng-kenceng !" bisiknya dengan wajah tersipu. Aku diam saja, ketika ada beberapa orang yang berteduh di situ tersenyum menguping pembicaraan kami. _________________________ Kring ! Telepon di ruang tengah berdering. Aku malas mengangkatnya. Maklum, lagu favoritku lagi mejeng di depan televisi. "Vido !!! Telepon !" suara Dea terdengar di ujung ruangan. "Oiiii !!! Siapa ???" kataku cuek membalak teriakannya. "Enggak tahu !!! Cewek loe kali !!!" katanya asal. Dengan malas-malasan, aku menuju ke pesawat telpon. Tadinya kupikir Dea cuma boong aja. "Vid !!!" seru suara dari sebelah sana. "Ros ?" tanyaku. "Yoi !" "Napa, Ros ?" "Malam minggu entar ada acara ?" "Napa ? Loe suruh gua kencanin loe lagi ?" tebakku. "Iya. Mau kan ?" "Errmm... gimana ya ?" tanyaku ragu. Bukannya apa-apa, tapi kebiasaan shoppingnya sepulang kencan bisa bikin cowok-cowok di seluruh dunia jadi eneg. Dia menangkap nada raguku. "Hehe.. Kali ini gua janji deh, Vid. Enggak pake acara shopping lagi," janjinya. "Nah kalo gitu gua mau !" kataku bersemangat. "Eh, tapi tunggu, Vid..." serunya. "Napa ? Napa ?" tanyaku heran. "Loe mau kemari jemput gua ?" "Lah iyalah..." "Jangan deh... Gua yang kesitu aja. Kencannya naik mobil gua aja ya... Gua takut kehujanan lagi naik motor loe ! Nggak papa kan, Vid ?" "Hahaha... Dasar loe ya !!!" gelakku mematikan hubungan telepon. To : Rosmalasari Sluiter Conteraz Pate, jangan bete lagi ya... Hehe... :) _________________________ Ya, beginilah nasib Vido, orang tak punya, cuma ada sepeda motor gembel aja, boro-boro naik mobil, kehujanan, berdebu, kepanasan juga udah biasa, haha... So, kalo ada tanggapan loe-loe orang atas cerpen gua yang bermodel baru ini, jangan ragu kirimin aja ke freedattaq@yahoo.com Gua juga udah coba-coba ngirimin cerpen gua ke majalah remaja, kayak Anita, Hai, Kawanku. Kali aja dimuat, hehe... So, stay coolin !