RENUNGAN PANTAI
Cerpen F1do - Renungan Pantai ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi May 28th 2000 Lama kutermenung di pinggir pantai siang ini. Sesekali kurasakan hembusan angin panas menerpa wajahku. Kudengar desah ombak memuntahkan buih-buih nya. Terik matahari yang menusuk kulit ini tidak kurasakan lagi. Ingin aku rasanya berabad-abad berdiri di pantai ini. Semua nostalgia yang kulalui bersamanya di tepi pantai ini tidak dapat terhapus begitu saja dalam memori ingatanku. Ingin kuulangi lagi semuanya itu saat ini. Namun, tidak dapat. Ya,... tidak dapat. Tidak dapat terulang lagi. Matahari akhirnya menutup masanya. Pemandangan matahari yang sedang terbenam semakin membenamkan diriku dalam nostalgia saat itu. Kulirik arloji pada pergelangan tanganku. Saat itu sore telah tiba dan waktu menunjukkan pukul 17.58. Kuputuskan untuk meninggalkan kenangan nostalgia ini dan esok aku akan kembali lagi untuk merasakan nostalgia yang sama. Aku tertegun ketika hendak membalikkan badanku, seseorang memanggilku. Seorang bapak dengan wajah penuh kerutan dan raut yang tidak dapat disembunyikan. Ia menyapaku sopan dan mengajakku ke dalam percakapan yang dalam. "Nak, siapa namamu ?" tanyanya. "Mmm.... Darren, pak." "Bapak perhatikan dari tadi bahwa kau sangat tidak ingin meninggalkan tempat ini. Adakah sesuatu yang indah yang engkau dapatkan dari tadi ?" Wah, kupikir bapak ini penuh rasa ingin tahu dan penuh perhatian kepadaku. Sebab orang-orang di pantai ini berlalu dan dengan penuh rasa individunya pasti tidak ada yang memperhatikanku. Lalu aku menjelaskan kepada bapak itu bahwa aku merindukan saat-saat indah bersama pacarku yang kita telah lalui dengan segala keromantisannya di tepi pantai ini. "Well.... tapi sayang sekali, pak. Sekarang ia telah milik orang lain, dan itu membikin hatiku hancur, pak." Seketika itu juga aku kaget dengan perkataanku sendiri. Yah... biasanya segala hal-hal pribadi ini kusimpan sendiri, tapi kali ini meluncur dengan deras begitu saja kepada bapak ini. Kupikir sudah terlanjur, ya sudah kulanjutkan saja. Lanjutku, "Aku sangat merindukan masa-masa romantis itu. Aku ingin melakukannya lagi dan lagi. Impian itu terus menggangguku. Maka aku membayangkan sendiri dengan berdiri di tepi pantai ini." Bapak itu menjawab, "Sudah saatnya kau lupakan itu, nak Darren... Kau harus tinggalkan semua itu. Kau tahu, nak. Kau harus membuka lembaran baru lagi. Bapak memiliki kenangan sama sepertimu, namun bapak tidak ingin mengingat nostalgia itu...." "Hmm... bapak itu pasti diputus pacarnya juga," pikirku. Tetapi bapak itu mengetahui pikiranku. "Kau salah, nak. Di pantai ini, memang banyak yang kulalui bersama anak lelakiku yang satu-satunya. Segala keriangan dia menjadi keriangan bagi bapak juga. Segala kesenangan dia membuat hati bapak ceria. Teriakan gembira dia dan istana pasir yang dia bangun di tepi pantai ini membakar semangat bapak ( :D ) Tetapi di pantai ini juga, ombak telah menelan nyawanya. Tetapi bapak tegar, dan tidak ingin mengingat nostalgia yang indah itu, karena akan menambah kesedihan bapak lagi... Bapak ingin melupakan semuanya itu. Bapak harap nak Darren juga akan melakukan hal yang sama dengan bapak. Kita harus membuka lembaran baru..." Seketika itu juga, aku tersentak. Yah... untuk apa aku mengingat nostalgia-nostalgia seperti itu lagi apabila menyakitkan hati sendiri. Dengan mata berkaca-kaca, kusalami dengan erat tangannya dan membisikkan kata terima kasih. Aku menuju langkahku ke mobil dengan tegar. Dan tidak akan kembali lagi ke tempat nostalgia itu. Menatap masa depan yang lebih pasti, itu janjiku dalam hati. Sementara aku memacu mobilku, derau ombak yang menderu memanggil-manggilku untuk kembali ke tempat nostalgia itu......... -----(END)-----