Freedi's Nightmare
Freedi's Nightmare - Nightmare On Gaz-Millenium Street ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi July 30th 2000 --- Sinopsis --- Uh... Uh... Aku berlari dari bayangan malam itu. Nafasku terengah-engah. Aku pikir aku telah jauh lari darinya. Aku menengok ke belakang. Ke arah pintu yang menuju ruang tamu ini. Tidak ada siapa-siapa. Aku berlutut dengan kedua tangan menumpu pada dengkulku. Mengatur nafas kembali. Letih sekali... Aku menengadahkan kepalaku. Aku tersentak ketika menyadari dia telah berada di depanku. Sambil memegang sebuah pisau yang berkilat-kilat, ia mengangkat tinggi tangannya dan siap menghujam pisau itu ke arahku ! ~~~%%% Freedi's Nightmare %%%~~~ Aku dan Olive sedang asik membuka album photo kami ketika Pak Pos datang memencet bel pintu rumahku berkali-kali. Mom yang sedang memasak di dapur belakang memanggil namaku berkali-kali. "Airin !!! Airin !!! Surat tuh !!!" "Iya, mommm !!!" seruku. "Sebentar ya, Olive..." kataku kepadanya. Ia menggangguk. Olive teman baikku, walau usianya beberapa bulan lebih tua dariku, nampaknya ia bisa dipercaya. Aku berlari menuruni tangga dengan lincahnya. Membuka pintu depan dan menemui Pak Pos yang kurasa telah menunggui dengan lama. Untung saja, dia orang yang sabaran. Senyum yang tipis menghiasi wajahnya ketika melihatku datang. Usianya yang sudah uzur tak menghapus ketuaan wajahnya karena senyumnya itu. "Makasih, pak..." kataku sambil menerima surat-surat yang diantarkannya. Sambil bersenandung kecil, kubaca sampul surat itu. Ah, kebanyakan cuma surat iklan saja yang isinya nggak karuan, umpatku. Tapi mataku menatap heran akan sebuah surat yang kelihatannya cukup atraktif sekali dibuat pada depan sampulnya. "Pesta Halloween on Gaz-Millenium Street" begitu isi sampul surat itu. Dari siapa ya ? tanyaku heran. Mom menghampiriku meninggalkan masakannya di dapur. "Ada surat buat mom nggak ?" tanyanya antusias. "Ada, mom. Ini satu buat mami. Kebanyakan surat promosi, voucher lah ! Tetek bengek nggak karuan !" sahutku kesal. Mom membuka suratnya dan memberitahukan kepadaku bahwa ada saudaranya yang meninggal tinggal di luar kota dan mami ama papi diharapkan kedatangannya besok malam. Tapi pandangan mami tertuju pada tangan kiriku yang memegang surat yang aneh itu. "Apa itu, Ai ?" Aku memberikan Mom surat itu. "Nggak tahu, mom. Aneh sekali... Nggak jelas pengirimnya siapa..." "Mom buka ya ?" ijinnya. Aku mengangguk singkat. Mom membuka rapi surat itu, menyobek dari pinggir. Kelihatannya dia sangat hati-hati sekali kalau membuka surat, lain denganku yang asal saja menyobek surat. Mom membacakan isi surat itu untukku. "Pesta Halloween buat Airin. Di Gaz-Millenium Street no. 13 pukul 19.00 hari Rabu malam. Hadir yaaa !!! Tertanda, Franky." "Franky ?" tanyaku lagi. Mom mengangguk mengiyakan. "Siapa dia ? Kau kenal ?" tanya Mom. Aku menghela nafas panjang. "Kenal sih... Dia anak yang misterius, mom." "Oh ya ?" tanya mom sekali lagi. Aku mengangguk. "Aneh anaknya, mom. Dia satu sekolah dengan Airin. Tapi anaknya hobi mengumpulkan serangga. Dia juga suka cerita-cerita horror." "Oooo... Terus kamu bakalan dateng ke pesta ini ?" tanya ibu mengangkat surat itu ke hadapan mukaku. "Nggak ah... males..." "Lho kok ?" tanya mom. "Nggak ah..." "Datang aja, Ai..." usul mom. "Lagian kan kamu nggak kemana-mana kan malam lusa ?" "Lihat aja deh, mom..." sahutku males-malesan. Mom hanya menggelengkan kepala mengikuti pandangannya melihatku masuk kembali ke kamar di atas menemui Olive. Roy menelponku sesampai di kamar atas. Mom memanggilku untuk turun mengangkat telpon. Dengan malas, aku turun ke ruang tamu mengangkat telpon. "Halo, Airin..." "Ya... siapa nih ?" "Roy. Eh kamu ikut ke pesta halloween itu ?" "Nggak tahu deh, Roy... Kenapa ?" "Nggak papa. Cuma nanya aja. Eh... ntar aku bell lagi... ada yang dateng..." Klik ! Roy mematikan telponnya. Aku menemui Olive di kamar atas yang ternyata siap-siap hendak pulang. "Loh kok udah pengen pulang, Oli ?" tanyaku heran. "Sorry ya, Ai... Udah kesorean sih..." "Ya udah deh... sorry ya... kelamaan, soalnya tadi ada telpon sih..." kataku. Ia cuma tersenyum singkat aja. Setengah jam setelah Olive pulang ternyata bunyi dering telpon lagi. Kring !!! Kupikir Roy menelpon lagi. Ternyata Felix yang menelpon. "Eh, Airin... Aku ketinggalan pelajaran fisika kemarin. Aku ketiduran di kelas. Boleh pinjam besok ?" "Iya, boleh... Dasar jangan suka tidur terus !" ledekku. "Hehehe... trims yaa..." serunya lalu mematikan telponnya. Kutunggu-tunggu telpon dari Roy lagi, ternyata dia tidak mengebell lagi. Dengan suntuk, aku kembali ke kamar atas membereskan photo album yang kami lihat tadi bersama Olive. Aku memasukkan buku catatan fisikaku yang terletak di meja ke dalam tasku untuk kuberikan besok kepada Felix. ~~~%%% Freedi's Nightmare %%%~~~ Keesokan harinya, ketika aku menenteng tasku menuju sekolah. Sekolahku terletak satu blok dari rumah. Ya... tidak begitu jauh. Daerah kota Gaz-Millenium juga tidak begitu besar. Tetangga-tetangga pada tinggal seharmonis karena jarak-jarak rumah yang begitu berdekatan. Aku memandang ke arah sebuah gereja mungil yang berjarak tiga rumah dari sekolahku. Nampak Pendeta Stephen Jr. Lee sedang membersihkan pekarangan gereja. "Pagi, Pak Stephen..." tegurku sopan. Ia menoleh ke arahku dan melemparkan senyumnya. Lalu melanjutkan pekerjaannya lagi. "Airin !" Aku menoleh ke arah belakang. Tampak seorang anak kurus jangkung menghampiriku dengan nafas terengah-engah. "Hi, Felix !" sapaku. Ia membetulkan gagang kacamatanya yang nampaknya tidak sesuai dengan keadaan wajahnya yang oval. Ia menagih janji buku catatan fisika. Segera aku memberikannya. "Kau ikutan ke pesta Halloween juga ?" tanyanya berseri-seri. "Sebenarnya aku males..." jawabku singkat. "Lho ? Ikut donk... Itu undangan atas prakarsa cowokmu ini juga !" serunya. "Ih.. ngaku-ngaku. Dasar !" Aku meninju lengannya pelan. Dia terkekeh-kekeh sambil membetulkan kembali letak gagang kacamatanya yang naik turun itu. "Jadi ikutan nggak ?" tanyanya lagi. "Lihat aja deh..." seruku. "Pokoknya nanti aku jemput !" serunya meninggalkan aku lalu berlari kencang menaiki tangga sekolah. "Heiiii..." teriakku ingin memprotes tapi dia berlari sangat kencang seperti ditelan angin. Aku menemui Freedi yang sedang berboncengan sepeda motor dengan ceweknya yang dua tingkat kelas di bawahnya sampai di pekarangan sekolah. Dia melirik ke arahku yang dari tadi memperhatikannya. "Pagi, Airin..." sapanya. "Pagi, Fred..." balasku. Ia lalu memarkirkan sepeda motornya sambil memperhatikan ceweknya hilang di balik koridor sekolah. "Kamu dapat undangan juga ?" tanyanya seraya mengambil tasnya yang diikat di atas dashboard motornya. Aku mengangguk. Lalu kami berjalan bersama-sama ke dalam kelas. Sebetulnya aku sudah lama naksir dia, tapi dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja. Ternyata dia sudah lama menaksir cewek yang tadi sehingga perhatianku yang berlebihan tidak dianggapnya. "Oh iya... Pestanya dibatalkan, Ai..." bisiknya. "Hah ? Kenapa ?" tanyaku penasaran. "Jadi surat yang kemarin gimana ?" "Luci ditemukan tewas terbunuh pagi ini di taman Gaz..." katanya. "Hah ? Kok ? Anak-anak belum ada yang tahu ?" tanyaku. "Gini, Ai... Tadi pagi aku dan Franky datang ke taman Gaz setelah ditelpon oleh orang tua Luci. Franky sebagai teman baikku menelponku selagi masih mandi. Lalu buru-buru aku bergegas bersamanya ke taman. Aku juga nggak tahu, padahal Luci baru malam minggu kemaren masih hidup diantarkan cowoknya, si Franky " ceritanya. "Lalu gimana si Franky ?" tanyaku penasaran. "Dia diminta datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan..." jawabnya. "Dia dijadikan tersangka ?" tanyaku lagi. "Untuk sementara sih iya..." Begitu kami sampai ke tempat duduk masing-masing, Freedi mengabarkan kejadian yang pahit itu ke anak-anak sekelas. "Oiii... Pesta halloweennya batalll !!!" Ruth menghampiri Freedi, "Kenapa ? Kenapa ?" Freedi lalu menceritakan hal yang sama seperti yang diceritakannya kepadaku. ~~~%%% Freedi's Nightmare %%%~~~ Hari itu yang seharusnya menjadi pesta halloween, akhirnya batal total. Sehingga sore itu, aku yang tadinya pengen ikutan juga, cuma termangu aja di rumah. Aku kembali mengingat kapan saatnya aku melihat Luci. Aku ingat-ingat kembali saat itu tidak ada kejadian yang ganjil antara perpisahanku dengan Luci. Terakhir kali kami bertemu, ia saat itu mengembalikan buku catatanku yang dipinjamnya ketika kami sama-sama bertemu di gereja. Dia lumayan aktif juga di gereja. Kadang-kadang dia menjadi usher atau sering juga menjadi kolektan. Belum habis lamunanku, tiba-tiba pintu kamarku diketok. Aku membukakan pintu. Ternyata papi yang mengetok. "Airin... jaga rumah baik-baik yaaa... Papi ama mami berangkat dulu ke luar kota" "Oke deh, pap." seruku. "Hati-hati di rumah. Kunci pintunya. Inget, jangan keluyuran kemana-mana... " pesen papi was-was. Aku mengangguk. Beberapa saat kemudian, ketika aku membaringkan tubuh di ranjang, terdengar bunyi mesin mobil papi meninggalkan rumah. Papi ama mami pergi keluar kota untuk menghadiri penguburan saudara mami yang meninggal. Kring...!!! Kring...!!! Bunyi telpon mengagetkanku. Dengan malas-malasan, aku turun ke bawah, ke ruang tamu, mengangkat dering telpon. "Halooo..." sapaku. Tidak terdengar bunyi sahutan. Aku pikir orang salah sambung atau orang iseng. Kuletakkan kembali gagang telpon. Belum beberapa langkah aku melangkah, tiba-tiba telpon berbunyi lagi. "Haloooo..." sapaku lagi. Tidak terdengar bunyi sahutan lagi. Kuulangi lagi perkataanku, "HALLOOOOO !!!" "Setan ! Kau berikutnya setelah Luci !" terdengar ancaman dari ujung sana. Aku tersentak kaget dan buru-buru menutup gagang telpon. Terdengar bunyi kaca pecah di dapur belakang. Aku menjerit. Langsung kuangkat telpon ingin menghubungi polisi, tapi tidak ada nada. Kabel telponnya mungkin telah diputus. Aku panik buru-buru naik ke atas, ke kamarku, dan buru-buru mengunci pintu. Kugeledah isi tasku untuk mengambil handphoneku. Sial, baterainya habis, umpatku. Terdengar bunyi langkah kaki menaiki tangga. Keringatku bercucuran. Kubuka sedikit pintu kamarku sambil mengintip keluar. Terlihat sesosok bayangan hitam yang langsung berlari siap menerjang ke arah pintu kamarku ! Buru-buru aku menutup kembali pintu dan BRAK ! Tubuhnya menghantam pintu kamarku dengan keras. Lalu ia mulai menendang-nendang pintu kamarku. BRAK ! BRAK ! Aku menahannya dengan tubuhku. Ternyata pintu itu tidak kuat menahan amarah orang gila itu. Aku terpental jatuh. Aku membalikkan badan. Dia memakai topeng hitam ditutupi oleh helm hockey sementara tubuhnya berbalutkan sweater tebal bergaris merah dan hitam. Di tangan kanannya memegang pisau. Aku melemparkan bangku ke arahnya hingga dia terpental jatuh. Aku buru-buru lari keluar menuruni tangga. Uh... Uh... Aku berlari dari bayangan malam itu. Nafasku terengah-engah. Aku pikir aku telah jauh lari darinya. Aku menengok ke belakang. Ke arah pintu yang menuju ruang tamu ini. Tidak ada siapa-siapa. Aku berlutut dengan kedua tangan menumpu pada dengkulku. Mengatur nafas kembali. Letih sekali... Aku menengadahkan kepalaku. Aku tersentak ketika menyadari dia telah berada di depanku. Sambil memegang sebuah pisau yang berkilat-kilat, ia mengangkat tinggi tangannya dan siap menghujam pisau itu ke arahku ! Secepat kilat aku menendang perutnya dan berlari ke arah pintu keluar. Sial... pintu ini terkunci. Aku pecahkan kaca dengan bangku yang terletak di pinggiran pintu. Ia lari mengejarku. Sepertinya larinya dia lebih kencang. Aku berlari menuju jalan raya. Sebuah mobil hampir menabrakku ketika bunyi derit rem berdecit kencang. Citttt !!! Kumenoleh ke arah belakang, ternyata sosok bayangan seram itu berlari menjauhiku. Menuju ke semak-semak dan hutan yang terletak di bagian selatan Gaz-Millenium street. Roy membuka pintu mobilnya. Menemuiku dalam keadaan shock berat. "Airin !!! Airin !!! Kau tidak apa-apa ? Airin !!!" "Orang itu..." kata-kataku mengalir begitu saja. "Kau hampir mati, Airin. Apa yang terjadi ?" "Orang itu..." "Airin !!!" Ia mengguncang-guncangkan tubuhku dengan keras. "Orang itu... Orang itu..." seruku shock. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi, semuanya menjadi gelap dan kurasa aku pingsan. Aku mulai membuka mataku perlahan-lahan. Roy, Freedi, Franky, Ruth dan teman baikku, Olive serta cowoknya Felix, memperhatikanku dengan cemas. "Kau sudah sadar ? Ceritakan apa yang terjadi !!!" seru Franky. Dokter Jerry yang merawatku memberi tanda diam pada Franky. "Biarkan dia istirahat dengan tenang..." kata Dokter Jerry bijak. Lalu mereka disuruh keluar meninggalkan aku berbaring istirahat di kamar mengatur irama nafasku yang benar-benar dipaksa berpacu dari tadi. ~~~%%% Freedi's Nightmare %%%~~~ Keesokan harinya, kulihat cuaca sangat cerah sekali. Aku masih belum yakin apakah setan yang ingin membunuhku itu masih akan mengejar-ngejarku lagi atau tidak. Tapi papi dan mami akan mengawasiku dengan ketat sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sesampai di sekolah, aku bertemu dengan teman-temanku. Teman-temanku kelihatannya sangat antusias akan kejadian yang menimpaku semalam. Mereka bertanya-tanya dalam hati ada kejadian apa. Yang pasti Franky yang ingin tahu. Ia menghampiriku. "Airin... Jangan-jangan orang itu juga yang telah membunuh Luci..." "Hah ? Aku tidak tahu, Frank... Tolong... jangan ganggu aku..." pintaku ketakutan. Freedi menarik Franky ke belakang. "Frank... jangan gitu donk. Dia kan baru shock. Kamu terlalu memaksanya..." seru Freedi. Kelihatannya Franky masih penasaran. Aku diam saja dan duduk di bangkuku. Olive, teman baikku menghampiriku, dan memelukku erat. Aku minta dengan sangat agar Olive tinggal menemaniku untuk semalaman saja sementara papi dan mamiku balik dari luar kota besok. Ternyata ia menyanggupi. Olive benar-benar sahabat baik. Pelajaran sekolah hari itu benar-benar tidak masuk di otak. Orang berbaju sweater yang siap membunuhku semalam terus merasuki pikiranku. Siang itu, pintu kukunci rapat-rapat. Jendela kupastikan tertutup rapat. Jendela yang kupecahkan kemarin dan pintu kamarku yang rusak sudah dibetulkan oleh Freedi. Dia datang siang itu, untuk memperbaikinya. Dia memang sangat perduli pada keadaan diriku. Dan keahliannya menurun sekali dari ayahnya yang seorang tukang. Freedi juga menyambung kabel telpon yang telah diputus kemarin. "Makasih, Fred..." kataku basa-basi. Freedi tersenyum. Sekitar jam 3 sore, Olive menepati janjinya. Dia datang untuk bermalam di rumahku. Dia membawa kaset VCD yang lumayan banyak untuk menghabiskan waktu. Ketika matahari sudah benar-benar terbenam... "Kau sudah yakin pintu dan jendela telah terkunci, Ai ?" tanya Olive padaku untuk memastikan. "Iya... iya..." "Aku periksa lagi yaaa ?" usulnya. "Terserah kamu deh..." Lalu ia turun ke bawah dan memastikan bahwa semuanya telah terkunci rapat. Setelah itu kami nonton kaset VCD bersama-sama. Film Shanghai Noon yang kocak itu seakan membuatku melupakan peristiwa seram kemarin. Saking serunya, kami menjerit histeris ketika ada bunyi sesuatu pecah di lantai dapur. Prang !!! "Ahhh... !!!" jeritku. "Apa itu ?" tanya Olive padaku. Aku cuma bisa mengangkat bahu. Aku dan Olive mengintip dari balik pintu. Dan kulihat bayangan hitam yang sama seperti kemarin ! Hantu yang sama yang siap membunuhku ! Aku menjerit histeris !!! Olive buru-buru mengangkat telpon untuk menelpon polisi. BRAK !!! Dia mendobrak pintu sementara aku menahan pintu itu. Tapi kali ini pintunya benar-benar telah diperbaiki, sehingga dia kelihatannya tidak sanggup mendobraknya. "Bagaimana iniiiiiiii ???" jeritku panik. "Polisi telah kutelpon, Airin... Kita tunggu saja..." Olive berusaha menenangkan. Kelihatannya hantu itu tidak bisa mendobrak pintu kamarku. Dia menakut-nakuti kami dengan cara menggesekkan pisaunya pada daun pintu sehingga suara ngilu terdengar sekali. Aku mundur ke pojok ranjang. Sementara kelihatannya Olive sangat menguasai keadaan. Dia sangat tenang sekali. Dan menuju ke gagang pintu. "Olive... Hati-hati... !" seruku. Tapi dia malah membuka pintu yang terkunci itu dan membuatku sangat terheran-heran. Bayangan itu bergerak masuk dan menatap tajam ke arahku dari balik topeng hockeynya. "Hah ?" aku keheranan menyaksikan Olive tidak diserang olehnya yang jaraknya sangat dekat sekali. "Bunuh dia, Felix !" seru Olive. "Felix ??? Olive... apa-apaan ini ?" tanyaku tidak lepas-lepasnya masih keheranan. "Hayo... tunggu apalagi !" seru Olive. Felix membuka topeng hockeynya dan dengan senyum iblisnya ia siap menghujamkan pisaunya ke arahku. "Olive... apa yang terjadiiiii ?" jeritku. "Baiklah... sebelum kau mati penasaran. Aku beri tahu. Luci memergokiku mencuri uang kolekte di gereja. Dan dia ingin menyebarluaskan hal ini ke seluruh kota Gaz-Millenium. Ia memerasku. Setiap hari ia memerasku dengan uang. Hal ini kuberitahukan kepada Felix. Aku tidak ingin perbuatan jahatku diketahui oleh orang sekota. Jadi aku dan Felix bersepakat membunuh dia !" "Olive... kau teman baikku... Mengapa kau ingin membunuhku juga ?" tanyaku keheranan dan tak henti-hentinya aku menangis mengapa seorang sahabat baikku ingin membunuh diriku. "Luci telah menuliskan kejadian ini di buku catatanmu ! Maka dari itu Felix meminjam buku catatanmu untuk memastikan apakah benar Luci melakukannya. Ternyata benar ! Dan oleh sebab itu kejadian ini tidak harus ada saksi mata seorang pun !" "Tapi aku belum melihat catatannya, Olive..." sanggahku. "Aku tak peduli ! Hayo, Felix ! Bunuh dia ! Tunggu apa lagi !" teriaknya seperti orang kerasukan saja. Ketika Felix melompat ke arah depanku, sekonyong-konyong dia rebah jatuh ke belakang berbarengan dengan bunyi senapan api meletus. Franky dan Freedi serta beberapa polisi tiba di depan kamarku. Aku menghambur ke arah Franky dan Freedi memeluk erat mereka. Membenamkan mukaku ke tubuh mereka. "Tenang, Airin... Aku disini... Kamu nggak usah takut..." hibur Freedi. Tapi aku masih sangat shock. Gemetaran. "Aku sudah sangka pembunuh yang ingin membunuhmu itulah yang telah membunuh Luci." jelas Franky. Sementara Olive digiring menuju ke mobil polisi, dia bersumpah serapah, "Awas kau, Airin ! Kau akan membayar semuanya nanti !" Freedi dan Franky memegang bahuku erat. Kami bertiga di pekarangan halaman depan rumahku memperhatikan dia dibawa oleh mobil polisi yang sirenenya memekakkan telinga. ~~~%%% Freedi's Nightmare %%%~~~ Sementara itu di kamar atas... Tangan Felix bergerak-gerak... Pisau yang berkilat-kilat itu bergerak mengikuti gemetarannya tangan Felix... ~~~%%% Freedi's Nightmare %%%~~~ -----(END)-----