THE SERVANT OF GOD - Natal Terindah Dalam Hidupku ------------------------------------------------- Disajikan oleh : Freedi Djajadi (December 26th '2000) Korespodensi Email : freedattaq@yahoo.com ----------------------------------------- Prolog : THE SERVANT OF GOD adalah kisah cerita seorang pelayan di dalam sebuah gereja. Sesuai nama jabatannya, "THE SERVANT", maka pelayan ini benar-benarlah seorang pelayan yang tidak mencari popularitas. Kerjaannya benar-benar mengabdi pada pelayanan Tuhan. Dimana Tuhan membentuknya dan menginginkannya, ia siap melaksanakannya. Sifatnya low profile dan tidak ada seorang jemaat pun menganggapnya. Ia memang tidak layak di hadapan manusia. Namun, hasil jerih payahnya justru berharga sekali di mata Tuhan. Semakin THE SERVANT ini dipakai oleh pelayanan pekerjaan Tuhan, semakin juga THE SERVANT harus menjadi tidak layak di hadapan manusia. Biarlah Tuhan yang menilai... Upahmu besar di surga... (Lukas 6:23) + [THE SERVANT OF GOD] + Mendengar lagu-lagu natal di radio tua yang terletak di pojokan mejaku dan berdebu itu, aku jadi mengingat kejadian yang betul-betul mengharukan. Kejadian ini telah terjadi setahun yang lalu. Aku pulang sehabis berbelanja untuk keperluan gereja di toko, ketika malam natal yang ceria itu dibungkusi oleh angin yang dingin ditambah hujan salju yang rintik-rintik. Orang-orang yang berlalu lalang di tengah gigilan dan gemeretak dinginnya angin bulan Desember itu, mempercepat langkahnya. Siapa pun takkan tahan akan cuaca seperti itu. Begitu juga diriku, walau sudah terbalutkan mantel yang tebal, tetap saja angin dinginnya terasa menusuk tulang-tulang dalam tubuhku. Beberapa langkah berjalan, aku melihat seorang anak muda yang sedang mengintip dari balik jendela ke dalam rumah dimana ada sekumpulan keluarga yang merayakan natal. "Met natal, nak.." sapaku. Dia menolehku. Tapi tidak membalas sapaanku. Tatapan matanya kosong. Seakan hidupnya jauh dari arti dan makna hidup itu sendiri. Aku tersenyum dan berlalu darinya. Baru tiga langkah aku berlalu darinya, perasaan hatiku ada yang mengganjal. Kumenoleh ke belakang, menatap anak muda yang masih berdiri di balik jendela yang makin lama makin tertutup salju itu. Dia berlutut dan kelihatannya bersedih sekali. Aku mencoba menghampiri untuk menghiburnya. "Nak, kau tidak apa-apa ?" tanyaku. Air matanya yang kelihatannya ditahan dari tadi sudah tak terbendung lagi. Bercucuran deras. Aku merangkulnya. "Apa yang bisa kubantu, nak ?" "...aku malu..." rintihnya. "Bisa kau bagikan kesedihanmu denganku ? Barangkali kita bisa cari jalan keluarnya," usulku. "Aku sudah lama meninggalkan rumah... Pertengkaran hebat antaraku dengan orangtuaku membuat aku lari meninggalkan keluargaku. Tapi aku masih tidak bisa meninggalkan mereka... Aku masih rindu pada mereka... Aku rindu pada mereka... Aku rindu apabila aku bisa merayakan natal tahun ini seperti keluarga ini. Saling berbagi rasa, sehati dan riang bersama-sama..." "Puji Tuhan kalau kamu masih mengingat keluargamu..." kataku. "Iya..." sahutnya pelan. "Ngomong-ngomong dimana keluargamu tinggal ? Tidakkah kau ingin merayakan natal bersama mereka ? Tidakkah kau ingin pulang ?" tanyaku sedikit penasaran. "Keluargaku... nnn... tidak jauh dari mataku memandang... Mereka sedang merayakan natalnya. Mereka yang kulihat di balik jendela, inilah keluargaku..." jelasnya. "Lalu mengapa kamu tidak masuk dan menemui mereka ?" Dia menggeleng pelan. "Tidak... aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka. Aku lihat mereka sudah cukup bahagia bisa merayakan natal mereka tanpa diriku. Anda bisa lihat sendiri dari wajah-wajah mereka." "Tidak, nak. Kau salah besar. Wajah lain dengan hati. Mereka masih merindukanmu untuk pulang... Hati mereka masih terpaut dan takkan melupakanmu. Percayalah padaku." "Tapi aku takut... aku malu..." "Walau mereka telah dilukai hatinya olehmu, percayalah... mereka masih menerima kamu... Orang tua manapun akan menerima anaknya yang hilang untuk kembali kepadanya, apalagi Bapamu di sorga..." "Tapi..." "Aku temanin ya masuk kedalam..." paksaku. Aku mengenggam erat tangannya dan mengetuk pintu. Ketika pintu dibukakan, suasana natal yang riang itu berubah menjadi hening dan sunyi. Mereka yang melihat anaknya yang hilang telah kembali seakan tak percaya. Mereka menghambur untuk menyambutnya. Memeluknya. Derai tangis mulai membahana. "Alex, tak kusangka engkau telah kembali... Kami merindukanmu..." Papanya memeluk erat dan tak ingin melepaskannya. Mamanya juga larut dalam suasana haru. "Walaupun kami telah kehilanganmu selama ini, kami merayakan natal dengan ucapan syukur pada Tuhan.... Apalagi kini kau telah balik, kami terlebih lagi mengucap syukur..." "Maafkan Alex, pa, ma... Berterima kasihlah pada bapak ini yang telah menyadarkanku.." kata Alex menoleh ke arah belakang. Tapi aku sudah tiada, sudah berlalu dari pintu rumah itu. Dengan air mata yang bercucuran di mataku karena tak dapat menahan haru, aku mengintip dari balik jendela tempat anak itu tadi kutemukan. Kulihat mereka sangat berbahagia. Ah... senangnya bisa menolong mereka... Di tengah derasnya hujan salju itu, aku merasakan natal yang terindah dalam hidupku. + [THE SERVANT OF GOD] + Tuhan Yesus juga mengundang anda sekalian untuk ikut dalam pestaNya yang lebih megah dan meriah... Seperti ada tertulis dalam kitab Yohanes 7:37 -> Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!" Maukah anda datang pada pesta Yesus ? Terimalah Yesus dalam hatimu, jadikan Dia Juruselamatmu... + [END] + freedattaq@yahoo.com