KISAH CINTA VERCHIEL & VERCHY (2)
Cerpen F1do - Kisah Cinta Verchiel & Verchy (2) ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi July 30th 2000 --- Gue suka ama cerita yang sebelumnya, so gua bikin sequelnya, met mbaca ! --- To : Verchy in anytime, i'll do anything for you... Verchiel memandang ke tanah yang basah itu. Basah disiram hujan semalaman. Tetapi Verchiel tidak beranjak dan tetap pada tempatnya. Dia tidak bisa merelakan kepergian kekasih hatinya, Verchy. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Verchiel berlutut dan membelai nisan makam kekasih hatinya. Belaian kasih sayang bagaikan membelai kekasih jiwa, Verchy... "Maafkan aku, Verchy..." tangis Verchiel. Petir membelah awan dan hujan kembali turun. Ikut menangisi kematian Verchy. Sahabat karib Verchiel, The_Evangelist datang memayungi Verchiel. Ia menepuk pundak Verchiel. "Sudahlah, Verchiel... Semuanya sudah berlalu..." hibur The_Evangelist. "Tidak, kawan. Kalau saja aku tidak meninggalkan Verchy barang semenit pun, hal ini tidak akan terjadi..." Verchiel merebakan mukanya ke makam Verchy. Lalu ia menjerit tinggi dan memukul-mukul tanah di sekitar situ. "TUHAN !!!!! MENGAPA INI TERJADI !!! KAU SUNGGUH TIDAK ADIL !!!" teriaknya memekakkan alam surya. Serentak guruh mulai menyambar-nyambar. Angin berhempas kencang karena teriakan Verchiel yang sungguh menggetarkan hati itu. The_Evangelist menarik jubah Verchiel. "Verchiel ! Berani-beraninya kau berkata begitu !" Verchiel yang dari tadi berlutut segera bangkit dan memandang wajah The_Evangelist dengan tatapan wajah dingin dan beku. "Demi semesta alam, aku bersumpah ! Aku akan melakukan apa saja bila Verchy bangkit !" "Verchiel ! Kau begitu bodoh !" bentak The_Evangelist. "Kau sahabatku kan ? Lakukan sesuatu !" kelihatannya Verchiel tidak bisa menerima semua yang sudah terjadi. "Sobat... Nanti kau berada dalam kesulitan... Jadi lupakan saja..." sanggah The_Evangelist. "Tidak, kawan... Sumpahku benar apa adanya..." The_Evangelist hanya khawatir saja melihat tingkah laku Verchiel yang mulai tak terkendali. "Sudahlah... kita pulang saja..." kata The_Evangelist bijak. "Aku tunggu kau di rumah..." Tubuh The_Evangelist serentak berubah menjadi molekul-molekul kecil dan hilang dari pandangan mata. Verchiel terus meratapi kepergian Verchy. Ia mengoyakkan jubahnya tanda berduka dan mengiris pergelangan tangannya dengan sebuah pisau sebagai tanda sumpahnya. Tiga hari tiga malam dia berpuasa dan menangis seharian. Hingga... Hujan telah berhenti... Matahari telah memancarkan kesegaran yang abadi, namun Verchiel masih saja tidak beranjak dari makam Verchy. "Hai anakku, Verchiel... Bangunlah..." Verchiel tersentak kaget tapi mukanya terus direbakan ke makam Verchy. "Pergi saja engkau, The_Evangelist..." "Hohoho... Aku bukan The_Evangelist yang seperti kau sangka. Dia bukan sahabatku. Aku ini yang sahabat sejatimu..." Verchiel menengok ke arah suara itu. Dia tersentak melihat kehadiran Evil. "Kau...? Kau...? Mau apa kau disini...?" seru Verchiel. Evil tertawa mengerikan seakan-akan mendirikan bulu roma setiap mahluk bumi ini. "Kau sangka The_Evangelist sahabat sejatimu ? Tidak, kawan... Dia bukan sahabatmu." "Diam kau, Evil !" bentak Verchiel kesal. Evil menatap tajam Verchiel sambil berkata, "Kau mau melakukan apa saja bukan asalkan Verchy, kekasih hatimu bangkit ?" Verchiel tercengang tapi dia ingat Evil adalah musuh Tuan Besarnya. Ia jadi ragu. "Tapi kau musuh besar hambaku !" "Sudahlah, Verchiel... Itu kan hanya urusanku dengan dia saja. Tidak ada urusannya denganmu. Permusuhan itu hanyalah urusan pribadiku saja dengan dia." "Tapi... Dia telah memberiku kehidupan... Aku berhutang budi padanya..." "Aku juga bisa memberi setiap insan kehidupan !" suara Evil begitu menggelegar. "Tidak... tidak... aku tidak sanggup..." Evil mengangguk, "Baiklah... kau tidak benar-benar perduli bukan pada kekasihmu, Verchy ?" "Tidak ! Aku perduli !" protes Verchiel. Evil menyilangkan tangannya dan segera pemandangan bagaimana Verchy di alam baka sekarang sungguh tersiksa. Verchy kelihatan beku dan masih terperangkap kedinginan dalam butiran salju yang telah membeku itu. Verchiel terperangah melihat kejadian itu. "Sudah !!! Cukup !!!" "Hahahaha..." Evil tertawa puas. "Baiklah... Baiklah... Apa pun kulakukan asal bisa menolong Verchy keluar dari sana..." tunduk Verchiel lemas. "BENAR ?????!!!!" tanya Evil kencang. Verchiel mengangguk lemas. "BENARRRRRRR ????!!!!" tanya Evil sekali lagi. Verchiel mengangguk lemas. Sekelebat, Evil mengeluarkan pedangnya dan pipi Verchiel bersimbah darah karena goresan pedang Evil yang sungguh-sungguh tajam itu. "Darah ini janjimu !" Evil menyodorkan pedang yang berlumuran darah itu di hadapan Verchiel. "Ya... aku bersumpah..." Verchiel tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya. Evil membacakan mantra-mantra alam gelap. Petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang. "Demi alam raya yang gelap sejagad ! Demi roh-roh dan arwah-arwah nenek moyang ! Hai engkau, Verchy keluarlah dari dalam kubur !!!!!!!!!!!" Evil menunjukkan jarinya ke arah makam Verchy. Serentak alam-alam ketakutan melihat gejala yang sungguh dashyat itu. Kubur Verchy terbelah dua. Tanah bergetar hebat. Verchy dalam kubur itu yang terpuruk dalam es dan meringkuk kedinginan, mulai terlihat jelas dan nyata. Verchiel menyaksikan heran pemandangan itu. "Verchy..." suara Verchiel tertelan deru angin yang makin keras. Bongkahan es itu lama-lama mulai retak dan akhirnya terbelah dua. Verchy bebas dari kungkungan dingin es beku itu. Verchiel menghampiri Verchy dan memeluknya dengan hangat, sehangat matahari pagi yang tadi dia rasakan. Kelopak mata Verchy mulai terbuka. "Ver...chi...el... ?" bibirnya terkatup perlahan. Verchiel mengangguk perlahan. "Maafkan aku, Verchy... aku tidak akan sekali-sekali lagi meninggalkanmu..." janji Verchiel teguh. Lalu ia mulai menciumi bibir Verchy. "Mari... kita... pulang...., aku... kedinginan... ver..." Verchy menggigil. "Baik, sayang..." Verchiel mengangguk. Evil tertawa hebat. "Sudah ! Sudah ! Kau urus dulu Verchy ! Setelah itu kau harus ikut aku menyesatkan semua bangsa ! Hahahahaha !!!" Tawa Evil menggelegar. "Baiklah. Aku sudah bersumpah." Verchiel mengepakkan sayapnya dan bergegas pulang dengan membawa Verchy dalam gendongannya. Evil terbang membuntuti. Suasana hening menimpa bekas kuburan Verchy tatkala The_Evangelist muncul dengan molekul-molekul kecil. "Ya ampun........" seru The_Evangelist melihat bongkahan es dan makam Verchy yang kini telah terbuka. Ia menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon angsoka yang terletak di samping makam Verchy yang telah kosong itu. "Angsoka... apa yang telah terjadi ? Kau telah melihat semuanya itu kan ? Ceritakan padaku..." Pohon angsoka itu mulai menggigil. "Evil telah membangkitkan Verchy dan mereka kini telah pulang..." "Apa ???" The_Evangelist tersentak. Pohon angsoka mengangguk. "Verchiel telah melanggar hukum alam. Dan tidak bisa tidak, kini dia harus menjadi musuhku. Dia harus mati di tanganku, karena telah melanggar janji setia kami kepada Tuan Besar kami." Pohon angsoka itu hanya diam seribu bahasa kembali. The_Evangelist pergi dengan pandangan sedih, kecewa bagaimana Verchiel telah mengkhianati sebuah penyelamatan besar dari Tuan Besarnya hanya demi cintanya kepada Verchy... -----(To Be Continued)----- Ok, gua minta respond, usul, pendapat ama kritik nih, gimana loe orang-orang rasanya habis mbaca cerpen kisah cinta verchiel & verchy yang ke dua ini ? Thx...