Cerpen F1do - Kesaksian Pribadi ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi October 1st 2000 Kisah Nyata ini dialami oleh seseorang yang menghadapi dilema dalam menghadapi kuliahnya. Semoga apa yang dialaminya bisa menjadi berkat bagi kalian, dan pada akhirnya nama Tuhan juga dimuliakan. Whatta Amazing Graze !!! - Imanku kepada Kristus Dalam menghadapi cobaan Kisah nyata yang saya alami ini terjadi pada 4 tahun yang lalu yaitu pada tahun 1996. Pada saat itu saya sedang menjalankan studi saya di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta yang cukup terkenal. Kala itu saya sedang duduk di Semester V program DIII Manajemen Pemasaran, dimana tinggal satu semester lagi, dan saya akan menyelesaikan studi saya di Program DIII tersebut. Pada semester V tersebut, salah satu mata kuliah yang saya ambil adalah Teori Organisasi. Cobaan yang saya alami di semester V ini pernah saya hadapi di semester sebelumnya yaitu di semester IV. Iman Kristen saya diuji sungguh-sungguh dan sangat berat bagi diri saya. Sebelumnya di semester IV, saya mengambil mata kuliah Manajemen Operasi. Dalam kelas Manajemen Operasi ini, saya diajar oleh seorang dosen yang sudah cukup senior. Usianya kurang lebih diatas 50 tahunan. Pelajaran Manajemen Operasi ini menurut saya dan teman-teman cukup sulit. Satu kelas diikuti kurang lebih 50-an siswa. Kesulitan pelajaran ini nampak nyata, dimana ketika kita menghadapi Ujian Tengah Semester. Sebagian besar siswa mendapatkan angka yang tidak baik. Saya pun hanya mendapatkan nilai 50. Nilai-nilai yang tidak memuaskan yang diperoleh oleh mahasiswa, membuat mereka khawatir dan gelisah apabila tidak lulus. Hal ini pun juga dialami oleh siswa senior. Ada beberapa siswa senior yang mengulang kembali pelajaran tersebut di kelas kami. Ternyata pengulangan mereka di kelas kami juga sama, dimana mereka juga mendapatkan hasil UTS yang mengecewakan. Namun rupanya mereka sebagai kakak kelas tidak memberikan contoh yang baik, malahan mereka mengusulkan untuk memberikan sesuatu kepada dosen tersebut agar nilai kita akan lebih baik di Ujian Akhir Semester. Usulan ini tentu saja ditanggapi dengan antusias oleh teman-teman yang sedang merenungi akan hasil UTS-nya. Mereka bersepakat untuk memberikan uang tersebut dengan cara membelikan sesuatu barang/bingkisan. Apalagi, terdengar rumor-rumor di kalangan mahasiswa, bahwa dosen tersebut dapat disuap oleh mahasiswa. Tentu saja hati saya tidak menyetujui akan usulan tersebut. Menurut saya hal itu secara tidak langsung adalah penyogokan secara halus. Saya akan mendukung usulan tersebut apabila hadiah/bingkisan diberikan apabila kita sudah mengikuti UAS dan mendapatkan nilai akhir dari hasil UAS tersebut. Hal ini merupakan suatu ucapan terima kasih kita kepada seseorang yang telah berjasa bagi pendidikan kita. Bukannya pada saat sebelum ujian, dimana ini secara tidak langsung mempunyai harapan (pemberian yang berpengharapan dan tidak tulus serta tidak ada unsur kasih yang sesungguhnya). Roh kudus mengingatkan saya terus, dan saya tidak mau mengikuti kehendak teman-teman. Saya berusaha memberikan dorongan kepada teman-teman bahwa hal itu tidak baik, dan alangkah baiknya bila saat ini kita belajar lebih sungguh-sungguh lagi. Pada awalnya banyak teman-teman yang berpihak pada kehendak saya. Sekitar 15-an orang mendukung untuk tidak memberikan hadiah tersebut. Namun ketakutan yang timbul dari diri mereka dan atas peringatan-peringatan dari teman-teman senior yang menakut-nakutkan akan ketidak lulusan, maka hati mereka mulai goyah. Satu demi satu mulai ikut menyetor uang kepada sang koordinator. Jumlah yang ditarik sebesar Rp 50.000/orang. Akhirnya, tinggallah 5 orang termasuk saya yang tetap berdiri teguh untuk tidak ikut memberi. Permah di satu kesempatan saya mengajak salah satu teman untuk berdoa secara khusus untuk pergumulan ini. Namun rupanya ia lebih percaya akan kemampuan dirinya sendiri. Ia bilang yang penting belajar mati-matian saja. Tibalah saatnya ujian akhir. Hasil ujian akhir benar-benar mengagetkan saya. Semua mahasiswa di dalam kelas lulus. Walaupun sebelumnya nilai UTS mereka di bawah angka 60. Apa yang terjadi pada kelima orang tersebut ? Ternyata, dari kelima orang tersebut. Hanya saya yang lulus. Saya pun terkejut heran dan mengucap syukur kepada Tuhan atas anugerah tersebut. Keempat teman saya tidak lulus. Benar seperti yang diduga sebelumnya, bahwa bila tidak memberi, maka dosen tidak akan memberikan kelulusan. Keempat teman saya mengalami kekecewaan kembali. Bahkan dari mereka ada yang secara tidak langsung menyalahkan saya. Namun saya tetap memberikan dorongan kepada mereka bahwa Tuhan akan mempunyai rencana yang terbaik dari semua ini. Setelah melewati semester IV tersebut, akhirnya saya memasuki semester V bersama teman-teman. Teman-teman yang gagal akan kuliah tersebut, terpaksa harus mengulang di semester VI.Di semester V ini, salah satu mata kuliah yang saya ikuti adalah Teori Organisasi. Dosen saya tersebut masih belum terlalu tua. Usianya sekitar 38 s/d 42 an. Di kelas ini, saya juga bertemu dengan beberapa kakak-kakak senior. Karena ini merupakan tahun terakhir bagi angkatan saya, maka saya banyak bertemu dengan kakak-kakak kelas yang mengulang. Mata kuliah ini juga menurut saya cukup rumit. Ujian Tengah Semester pun tiba. Ternyata hasil yang saya peroleh juga mengecewakan. Saya mendapat nilai 48. Teman-teman di kelas pun juga mendapat hasil yang tidak baik, termasuk kakak-kakak senior. Ternyata apa yang saya pernah hadapi di semester sebelumnya yaitu semester di IV, timbul lagi di semester ini. Namun yang lebih parahnya, usulan sogok itu terlebih dahulu ditawarkan oleh sang dosen kepada kakak-kakak senior. Sang dosen meminta secara langsung kepada seseorang kakak senior yang ia kenal. Saya sendiri tidak tahu akan apa yang diminta oleh sang dosen melalui si kakak senior tersebut. Namun intinya si senior menarik uang dari setiap mahasiswa sebesar Rp 100.000,- Jumlah siswa di kelas pada saat itu sebanyak kurang lebih 60 orang. Astaga ! Besar sekali kalau dijumlahkan ! Pada awalnya teman-teman satu angkatan ragu, karena nilai uang yang dikeluarkan cukup besar pada saat itu. Namun ketakutan akan ketidak lulusan yang dialami mereka lebih besar dari pada apa yang akan dikeluarkan dari dompet mereka. Yang lebih menyedihkan, mereka lebih takut tidak lulus dari pada takut dengan dosa ! Saya coba memberikan mereka pengertian untuk tidak melakukan hal itu. Namun teman-teman trauma akan apa yang pernah mereka alami. Apalagi keempat teman yang pada semester sebelumnya gagal. Mereka tentu saja tidak mau gagal yang kedua kalinya. Maka mereka ikut pula menyetor uang kepada kakak senior. Nasehat saya tidak sedikit pun digubris, bahkan mereka pun meminta saya supaya juga ikut bergabung. Mereka terus menerus menasihati saya. Teman-teman bilang bahwa pada saat itu saya hanya kebetulan saja. Pengaruh teman-teman cukup kuat juga bagi diri saya. Sampai-sampai saya begumul terus di dalam doa dan mencoba meminta pendapat dari orang tua saya . Namun mereka berkata bahwa saya harus tetap memegang iman saya. Dalam hati saya, saya mengucap syukur bahwa teman-teman sangat baik dan perhatian kepada saya. Mereka tidak mau saya gagal. Mereka mau agar saya tetap bersama dengan mereka. Namun perhatian dan kasih mereka, menurut saya adalah salah. Hingga akhirnya sampai pada waktu penutupan penyetoran. Di dalam kelas, hanya saya yang tidak ikut bayar. Saya mendengar secara samar dari beberapa teman, bahwa telah terkumpul uang sebesar Rp 6,5 an juta. Dan barang yang diberikan kepada si dosen salah satunya adalah jam tangan. Saya tidak perduli barang apa yang dibelikan. Pada saat itu, pikiran saya hanya belajar sungguh-sungguh untuk mencapai hasil yang maksimal. Selain belajar, saya terus berdoa meminta pertolongan dari Tuhan Tibalah Ujian Akhir Semester. Soal-soal yang diberikan menuntut jawaban akan pendapat masing-masing siswa. Saya melewatinya bersama teman-teman. Saya berpikir bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik kepada saya. Apalagi saya mengingat janjinya di dalam Ulangan 28 : 13, bahwa Tuhan akan menjadikan umatNya sebagai kepala dan bukan menjadi ekor. 2 minggu kemudian, hasil akhir terpampang di papan. Bagaikan petir menyambar di siang bolong. Dari seluruh mahasiswa, hanya saya yang mendapatkan nilai D. Ada yang memperoleh C, B, bahkan A. Saya berpikir bahwa ini pasti benar, bahwa si dosen itu benar-benar komitmen akan rencananya. Saya yakin bahwa saya bisa mengerjakan soal itu. Minimal nilai yang saya peroleh adalah C. Teman saya saja yang memperoleh nilai 40 di UTS, mendapatkan nilai C. Saya mencoba mencari dosen tersebut untuk melihat hasil ujian akhir saya. Namun dosen itu sangat sulit sekali dicari. Teman-teman berkata bahwa apa yang dikatakan oleh mereka adalah benar. Menurut mereka saya keras kepala dan tidak mau mendengar apa yang diucapkan oleh mereka. Saya kecewa sekali dengan apa yang saya peroleh saat itu. Saya harus mengulang mata kuliah tersebut di semester VII. Tidak bisa diambil di semester VI, karena tidak ditawarkan (seperti di UI). Berarti saya harus membayar satu semester lagi hanya untuk mengambil satu mata kuliah. Hal itu merugikan baik dari sisi biaya maupun waktu serta juga tenaga yang terbuang hanya untuk mengikuti satu mata kuliah dalam satu semester. Tapi apa mau dikata, saya harus menjalaninya. Dalam diri saya, saya terus bertanya kepada Tuhan, mengapa hal ini harus terjadi. Bukankah ini saatnya untuk memberikan kesaksian hidup kepada teman-teman akan kebenaran iman Kristen ? Bukankah Tuhan itu Maha Kuasa ? Pertanyaan dan kekecawaan ini terus timbul dalam diri saya walaupun saya sudah memasuki semester VI. Untunglah di semester VI ini saya tidak menemukan kembali dosen-dosen seperti itu. Saya coba bangkit dari kekecewaan. Saya yakin, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umatNya. Saya belajar lebih sungguh di semester VI tersebut. Apalagi di semester VI ini, saya mengambil "Karya Tulis Ilmiah" sebagai syarat kelulusan. Bersama teman-teman saya menjalani semester VI. Akhirnya saya berhasil menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dan mata kuliah yang lain di Semester akhir tersebut bersama teman-teman. Teman-teman gembira bahwa mereka sudah bisa diwisuda. Namun saya belum dapat, karena saya masih menghutang 3 SKS lagi untuk dapat diwisuda. 3 SKS tersebut adalah mata kuliah Teori Organisasi tersebut akan saya ambil kembali di semester VII. Ingin rasanya lulus bareng teman-teman. Ah sudahlah pikir saya ! 3 hari menjelang saatnya wisuda, teman-teman sudah mempersiapkan diri, bahkan mempersiapkan acara perpisahan. Sewaktu saya bekerja di kantor, Seketariat kampus menelepon saya, katanya saya sudah dianggap lulus dan ikut wisuda pada tahun tersebut, karena rupanya saya telah mengambil 3 mata kuliah pilihan, dimana sebenarnya cukup 2 mata kuliah pilihan saja sebagai syarat kelulusan. Ternyata mata kuliah Teori Organisasi tersebut adalah salah satu dari ketiga mata kuliah pilihan yang saya ambil. Luar biasa gembiranya saya pada saat itu. Saya sangat mengucap syukur kepada Tuhan. 3 hari kemudian sampailah saat wisuda. Saya hadir di sana dan teman-teman begitu kagetnya melihat saya hadir. Mereka bertanya kepada saya, mengapa saya bisa ikut wisuda. Saya menerangkan ketentuan yang dari kampus yang berlaku tersebut. Mereka juga merasa turut senang dan mereka bilang bahwa saya hoki/beruntung besar. Berulang kali mereka mengatakan bahwa saya benar-benar hoki. Tapi saya berkata bahwa itulah indahnya mengikuti jalan Tuhan. Setelah wisuda itu, saya coba merenungkan apa yang saya alami. Saya kembali mencoba melihat begitu luar biasanya rencana Tuhan di dalam kehidupan studi saya ini. Banyak hal yang tidak saya ketahui dalam rencanaNya. Dimana kegagalan yang saya alami sebelumnya, secara manusia/lahiriah, diri saya tidak dapat menerimanya. Beruntunglah saya tidak larut dalam kegagalan tersebut dan berusaha untuk mencoba kembali bangkit. Setelah 1 bulan wisuda, saya mendengar bahwa dosen tersebut ketahuan oleh para Dekan dan Rektor bahwa beliau sering menerima sogokan dari mahasiswa, bahkan meminta. Hal ini terbongkar karena ada beberapa mahasiswa yang mengadukan tindakan beliau tersebut. Karena perbuatannya tersebut, beliau dikeluarkan dari kampus. Saya mengucapkan syukur bahwa Tuhan telah memberikan pelajaran kepada dirinya, dan saya mendoakan beliau agar ia dapat menyadari akan kesalahannya dan mau kembali memohon ampun kepada Tuhan dan kembali kepada jalan yang benar. Ternyata Allah telah mempunyai suatu rencana yang indah, yang tidak dapat kita pikirkan dan kita jangkau. Melalui peristiwa tersebut, saya kembali dikuatkan dan saya semakin percaya dan lebih merasakan betapa besarnya pemeliharaan Tuhan dalam hidup saya. Saya juga semakin berusaha untuk selalu mendengar suara Tuhan di dalam kehidupan saya. Sekarang ini, apapun yang saya rencanakan dan pikirkan selalu saya serahkan kepada Tuhan. Ayat pegangan saya adalah Mat 6 : 23, dimana selalu di dalam kehidupan saya ini, saya mencoba selalu berusaha untuk mencari Kerajaan Allah, dan saya yakin, bahwa segalanya akan ditambahkan oleh Allah dalam kehidupan saya termasuk kesuksesan di dalam studi. Amin. ------------------------------------------------ Bersyukurlah untuk kamu yang telah mengalami masa indahnya dimana taat kepada Tuhan. Dimana kamu bisa mengingatkan kita untuk selalu setia kepadaNya. Akhir kata, kita mengucapkan terima kasih kepada kamu atas kesaksiannya yang bisa jadi berkat bagi setiap orang yang membacanya. Terpujilah nama Tuhan ! -----(END)-----