KERLINGAN CINTA DI BAWAH PANCARAN SINAR PETROMAKS
Cerpen F1do - Kerlingan Cinta Di Bawah Pancaran Sinar Petromaks ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi July 8th 2000 (--- Based on True Story ---) Aku melangkah ke orang jualan sate. "Bang, pesen 10 tusuk ya..." "Ya, pak..." Sambil menunggu abang yang sedang mengipas-ngipas sate, aku menatap orang-orang yang sedang makan sate di tempat itu. Suasana yang tidak begitu terang, karena hanya sebuah lampu petromaks yang menggantung di atas mejaku. Cahayanya juga berkelap-kelip tanda malas untuk memancarkan kehangatan dinginnya malam ini. Seorang perempuan datang dengan wajah kuyu dan kusam. Dengan suara pelan, dia juga memesan sate untuk makan malamnya. Ia membuang tatapan kepada sekitar kami. Mencari tempat kosong untuk duduk baginya. "Duduk di mejaku saja, nona..." ujarku. Ia menatap lama ke arahku, dan setelah berpikir panjang, dia duduk juga di mejaku. Kutatap dengan pandangan yang tajam ke arah matanya. Sedikit-sedikit dia curi pandang ke arah mataku. Namun, begitu matanya tertumbuk pada tatapan mataku, dia langsung membuang pandang. Wajahnya yang kuyu membuatku kasihan. "Anda tidak apa-apa ?" tanyaku penuh perhatian. Dia diam saja. Tidak menjawab. Oke... Aku juga diam saja. Mungkin salahku juga ya, terlalu banyak mau tahu urusan orang. Aku melirik ke arah arlojiku, lama bener nih abang sate membikin sateku. Lalu aku membuang waktu dengan kembali menatap orang-orang yang sedang makan sate di tempat itu. "Tidak, saya ada masalah..." Aku terperanjat kaget, ternyata dia berbicara juga. Aku menoleh padanya. "Well..." aku kehabisan kata-kata. Tidak siap menghadapi balasan pembicaraannya. "Anda bisa menolong saya ?" "Ok, baik... Apa masalahmu ?" "Temani saya menghabiskan malam minggu ini bersamamu." Aku sangat kaget sekali. Tumben-tumbennya cewek yang berinisiatif duluan. "Maksud nona ?" "Saya sangat kesepian sekali... Saya baru saja diputus oleh cowok saya..." katanya lirih. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menggaruk-garuk kepalaku walaupun tidak gatal. Suasana menjadi kaku. "Apa yang bisa saya lakukan ?" tanyaku polos. "Dengerin ya curhat saya sepanjang malam ini. Mau nggak ?" mohonnya. Aku tersenyum kecut. Dalam hatiku, aku dibisiki, kapan lagi kamu diminta tolong seorang perempuan. "Boleh saja..." jawabku. Malam itu, sambil makan sate, cinta kami bertumbuh satu sama lain. Dia tertarik akan ajakan aku untuk duduk di mejaku, aku juga tertarik akan ajakan dia untuk mendengar curahan hatinya. Akhirnya terjalin suatu kisah cinta di tempat makan itu. Sebuah kerlingan cinta di bawah pancaran sinar petromaks yang menyala agak temaram. -----(END)-----