KERINDUAN HATI
Cerpen F1do - Kerinduan Hati ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi May 31st 2000 Malam itu, aku pulang ke dalam rumah dengan tergesa-gesa karena salju sudah mulai turun lebat. Kubuka pintu dengan anak kunci yang kuselipkan di bawah keset kaki. Tapi tidak ada sambutan kehangatan dari dia lagi. Tidak ada lagi hangatnya secangkir kopi dari buatan tangannya. Tidak ada lagi kecupan hangat di pipiku sebagai rasa sayang darinya. Semua telah lenyap, dia telah tiada. Dia telah milik lelaki lain kini. Namun hatiku masih menantikan kehadirannya. Walau itu nampak sia-sia saja sekarang. Kini hanya bisa kusesali saja semuanya ini. Memang, ini semua salahku sendiri. Dia tidak bersalah, dia hanya ingin seorang suami yang baik. Tidak seperti diriku, sebagaimana seorang bajingan. Lelaki biadab yang sangat kejam. Dimana aku sering ringan tangan saja menggunakan kedua tangan ini untuk menampar mukanya. Membiarkan dia menangis tersedu-sedu di pojok tembok dengan muka berdarah setelah puas kuhajar. Kadang tangisannya sepanjang malam menghantui tidurku. Dia hadir dalam setiap tidurku, dia menangis, menjerit-jerit ketakutan karena perlakuan kasarku. Seringkali dalam keadaan mabuk, aku meninju wajahnya. Tuhan.... apa yang telah kulakukan ? Aku menyesal telah melakukan ini,... aku menyesal tidak minta maaf selagi dia ada. Aku menyesal membiarkan dia pergi. Gengsi diriku terlalu tinggi untuk meminta maaf dahulu. Yang ada kini hanya rasa penyesalan yang mendalam. Yang ada kini hanya rasa kerinduan hati menantikan dia kembali, walaupun hal itu tidak mungkin. Itu memang telah berlalu selama hampir setengah tahun, tetapi aku tidak dapat melupakan kenangan itu. Kini aku mencoba membina hubungan yang baru dengan perempuan yang lain. Tetapi aku tidak bisa melupakan dia dimanapun. Sampai kapanpun... Ya, sampai kapanpun aku tidak bisa memaafkan diriku yang terus menyakiti hatinya. Kalau saja, ya kalau saja ada kesempatan lagi, aku akan menjaga dirinya baik-baik. Aku akan merawatnya seperti sebuah vas bunga yang mudah pecah. Aku akan... Hmmm semuanya hanyalah andai-andai. Sudah berlalu... Kini memang sudah hadir pengganti bagi dirinya, tapi aku tidak dapat menghapus ingatanku akan perempuan yang baik hati itu, yang mana telah kusiksa hampir setiap saat. Tapi aku tidak bisa menerima dia, wanita pasangan baruku kini. Karena aku selalu merindukanmu. Jane, dimanapun kau berada, apabila engkau mendengar seruan hatiku, tolong maafkan aku... Memang semuanya sudah terlambat, mungkin tidak ada kesempatan kedua lagi bagiku. Tapi tolong beri aku kekecualian untuk menebus segala dosaku. Karena aku tidak sanggup untuk hidup menanggung dosa-dosa penganiayaan ini terus. Apabila engkau tidak menerima permintaan maaf itu, aku tetap mengucapkan terima kasih karena engkau telah mendengar permintaan maafku. Terserah, apabila engkau menganggap aku lelaki gombal atau biadab atau yang lebih keji sekalipun, seorang bangsat sejati, aku tetap menerimanya... Bagi anda, kaum pria, perlakukan pasanganmu dengan sebaik-baiknya. Dan hatiku tetap merindukanmu dimana kau berada... Sebuah kerinduan hati yang sia-sia... -----(END)-----