JANGAN MENCINTAI DIRIKU
Cerpen F1do - Jangan Mencintai Diriku ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi June 11th 2000 Seperti Dikisahkan kembali oleh someone... (---Based on a True Story---) Hujan yang deras di luar sana, seketika itu juga berhenti. Malam itu, dengan nafas terengah-engah, aku memandang ke luar jendela. Mencari sumber suara ketukan pintu yang diketuk berulang kali terus dan terus serta tidak berirama itu. Aku membuka pintu. Kupandang wajahnya yang basah kuyup. Wajah pucat kedinginan yang telah menembus hujan begitu derasnya itu. "Mari masuk...", kataku. "Kakak......." Dia langsung merangkul diriku. Kesedihan wajahnya dibenamkan ke dalam dadaku. Dia tumpakan semua tangisannya dalam diriku. Aku hanya bisa mengelus rambutnya yang panjang dan basah itu. "Kau bertengkar lagi ?" Kuusapkan wajahnya yang pucat itu dengan sapu tanganku. Dia hanya mengangguk dan menangis tersedu-sedu. "Sebentar ya, Mira... Akan kuambilkan air, biar kau tenang sebentar." Dia duduk sambil meratapi dirinya di ranjangku. Kuberikan secangkir air hangat dan handuk untuk dirinya. Dia mengeringkan rambutnya yang basah itu, sambil memandangku dengan pandangan hampa. "Kak, aku tak tahu lagi bagaimana...", tangisnya. "Tolong aku, kak...", ibanya. Aku menarik sebuah kursi mendekat kepadanya. Kupandangi wajah yang polos itu. Aku hanya tersenyum. "Mira, Mira... Yang sudah berlalu, biarkan berlalu..." "Dia kasar, kak... Memukul pinggangku dengan sepotong besi" "APA ?" tanyaku dan segera bangkit dari tempat dudukku. Dia lalu membuka bajunya dan menunjukkan memar lukanya kepadaku. "Sebentar, kuambilkan arak..." Aku menuangkan arak pada sebuah kapas dan menyentuhkannya ke luka memarnya. "Ouch... sakit, kak..." "Tahan, Mira... Ini hanya sebentar... Mengapa dia lakukan semuanya ini ? Kurang ajar sekali si Lutfi itu... " Hatiku menahan geram dan tidak tahu apakah marah dalam diriku harus kuledakkan saat itu juga, atau bagaimana, aku tak tahu. Lalu dia memeluk tubuhku erat dan tak ingin melepaskannya. "Kakak, aku tidak tahan semua ini... Aku mau tidur... aku lelah..." Dia menghempaskan tubuhnya dalam-dalam sambil memeluk diriku ke ranjangku. Aku hanya diam beberapa saat, tidak tahu harus berbuat apa. Pagi itu, saat kuterbangun, aku terkejut dia sudah tidak ada lagi di sisiku. Aku hanya kaget, memikirkan apa yang telah terjadi semalam. Oh, Tuhan... Aku meniduri adikku sendiri... Aku hanya bisa menyesal, mengapa nafsu iblis menguasai diriku. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dengan tergesa, aku mandi dalam waktu kurang lebih 10 menit saja. Di meja depan, aku menemukan sepucuk surat. Ternyata, surat darinya. "Kakak... Terima kasih atas malam yang indah. Malam yang indah yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku ingin menggantikan tempat Lutfi dengan kakak. Kakak tidak keberatan, kan ? Kakak adalah orang yang kukenal sangat baik, dan halus terhadap wanita, lain dengan Lutfi... Salam, Adikmu, Mira..." Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa hari itu. Aku hanya membuang waktuku dengan memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal. Tuhan, apa yang harus kulakukan ? Malam itu, dia datang lagi ke rumahku. Dan kali ini, dia sangat bergembira sekali, lain dari malam sebelumnya. "Kakak, mari kita lakukan lagi..." serunya. "Mira... Jangan, mir..." Aku mengelak. "Maafkan, kakak... Kakak mengkhianati arti persaudaraan kita. Kumohon Mira mau mengampuni kesalahan kakak..." "Kakak tidak bersalah... Kak, saat itu Mira berkeinginan juga. Kakak tidak salah kok..." "Tidak, Mira. Kakak telah berbuat sesuatu yang salah. Sesuatu yang melanggar ajaran Tuhan..." "Kakak... Kakak mencintai Mira kan ?" "Iya, tapi tidak dengan cara begini... Kakak minta maaf atas kejadian semalam. Dan kakak berjanji tidak akan mengulanginya lagi..." "Kakak..." Dia lalu mulai menangis. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku hanya bisa mengutuki diriku sebagai kakak yang tidak bertanggung jawab. Sebagai kakak yang telah mengkhianati arti persaudaraan. Kesokan harinya, aku hanya menitipkan surat dariku. Aku meninggalkan dirinya. Aku bermaksud pergi dari semuanya ini. Melupakan masa yang telah menyakiti dirinya. Membuang segala pikiran dan nafsu jahatku. Tidak ingin, aku mengingat kejadian yang telah merusakkan mentalku itu. "Mira, suatu kesalahan telah aku lakukan padamu... Tidak sepantasnya sebagai seorang kakak berbuat begitu kepada adiknya... Mira, maafkan kesalahan kakak... Jangan mencintai diriku... Aku akan pergi untuk membuang jauh rasa bersalah ini... Dari kakakmu..." Tiga tahun telah berlalu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Rasa kangen itu terus menghantui diriku. Tapi aku hanya bisa menahan segala rasa rinduku ini. Menahan segala rasa bersalah yang telah kulakukan. Mengkhianati adik sendiri. Untuk menebus semua kesalahan ini, aku telah menjadi hamba Tuhan di dalam pelosok desa. Jauh dari dirinya... agar kami sadar jangan mencintai diriku. Mungkin ini jalan yang terbaik yang telah kulakukan. -----(END)-----