JANGAN MENANGIS LAGI, MAMA...
Cerpen F1do - Jangan Menangis Lagi, Mama... ------------------------------------------------------------------------------------------------- Created by : Freedi Djajadi August 2nd 2000 (--- Based on True Story ---) Mama menyeka air matanya. Namun mama tidak dapat menahan derasnya air mata yang terus jatuh bergulingan di pipi mama yang lembut itu. Aku yang dari tadi hanya mengintip dari balik kamar, jadi kasihan. Akhirnya, dengan hati bulat, aku memberanikan diri menemui mama. "Ma..." seruku pelan. Mama menoleh dengan tatapan mata yang sayu. Lalu ia menghambur ke diriku. Memeluk erat diriku, seakan-akan tidak ingin melepaskan tubuhku. "Ma..." seruku lagi. "Apa yang terjadi ?" Mama menggeleng pelan. Lalu ia buru-buru menghapus semua air mata yang masih tampak di kelopak matanya. Tampaknya dia tidak ingin membuatku sedih juga. Aku mengeluarkan sapu tangan dari saku celanaku dan ikut membantu mama menyeka air matanya. "Terima kasih, De..." katanya dengan suara yang serak. "Mama... apa yang telah terjadi ?" tanyaku lagi. "Nggak papa kok, De... Itu cuma masalah biasa saja..." tampak mama berusaha menyembunyikan semua keluh kesahnya. Aku memegang erat kedua tangan mama dan memberikan senyuman. "Ma..." kataku dengan nada seakan ingin tahu semua permasalahan mama. Mama menyandarkan kepalanya pada bahuku. Sepertinya mama ingin semua persoalan lepas darinya. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap mataku tajam. "De... Apabila engkau sudah menikah, jangan pernah mengecewakan istrimu ya..." Aku tersenyum mendengar nasihat mama. "Dede mau berjanji kan ?" Aku mengangguk dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahku sebagai tanda janji di hadapan mama. "Kenapa dengan papa, ma ?" tanyaku. "Papa menduakan hati mama..." bibir itu tidak sanggup lagi berkata-kata. Dan air mata mama kembali berderai. Aku menjadi menyesal menanyakan hal yang terakhir itu tadi. Aku rangkul mama erat dan membelai rambut mama. "Dede ngerti perasaan mama..." bisikku pelan. Mama terus menangis. "Maafkan papa ya, ma..." bisikku kembali. Malam itu... menjadi malam yang kelam dan panjang nampaknya bagi hati mama. Aku tak tahu apakah mama sudah menghentikan tangisnya atau belum. Saat kuantar mama tidur di kamarnya, aku mengajak mama untuk berdoa bersama. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya bersama mama. Tapi aku yakin Tuhan akan membukakan jalan bagi permasalahan mama. Sebelum aku keluar dari kamar mama, aku mengecup kening mama. "Mama istirahat saja ya... Hal itu tidak usah dipikirkan lagi... Biar serahkan saja kepada Tuhan Yesus, ma..." "Mama usahain, de. Makasih ya..." Mama berusaha tersenyum dan memejamkan mata untuk tidur. Kupandang ke ranjang mama. Mama berbaring sendiri. Tanpa papa yang kini pergi entah kemana. Meninggalkan hati mama yang sedih karena telah dikhianati. Aku tidak tahu apakah aku bisa mengampuni papa atau tidak. Aku juga turut bersedih karena aku berusaha menghibur mama agar mama bisa mengampuni papa, padahal dalam hati kecilku mungkin aku tidak bisa mengampuni kesalahan papa. Mama sangat kusayang... Mama yang baik, menyayangi papa dan anak-anaknya setulus hati. Aku tidak tahu sampai kapan mama akan terus begini. Setelah merenung sekian lama, kututup pintu kamar mama perlahan-lahan. Kulihat lampu kamar adikku, Shella masih menyala. Kuketuk pintunya perlahan. Tidak ada jawaban. Kuintip ke dalam, ternyata Shella sedang berdoa khidmat. Dia juga sedang menangis sesegukan dalam doanya. Kututup kembali pintu kamar Shella. Semua orang menangis malam ini... Hanya aku saja yang dapat menahan rasa tangisku. Aku tidak tahu kenapa. Apakah aku orang yang tegar ? Well... Tidak tahu... Yang kuharap hanyalah agar besok mama jangan menangis lagi. Semuanya telah berlalu. Walau papa tidak tahu sekarang ada di mana, aku yakin mama akan baik kembali besok hari. Agar semuanya bisa melihat mama yang selalu ceria, menebarkan senyum tanpa air mata kepada anak-anak yang dikasihi dan mengasihinya. Jangan menangis lagi, mama... To : Mama who I loved to... Dede... -----(END)-----